Terima kasih kepada para readers yang sudah setia membaca sampai sejauh ini! Terima kasih juga untuk segala masukan, kritik, dan saran yg masuk utk fanfic ini :) Maaf kalau sampai sejauh ini masih banyak kesalahan dan kekurangan di sana-sini.

Author kali ini pengen ngejelasin kalau di S1 itu hanya semacam pengantar karena fokusnya ada di S2 ini, yaitu hubungan Shi-Shin-Ran J Jadi di season ini konfliknya mulai mengalami eskalasi (author harap ,) Doakan semoga hasilnya sesuai ekspektasi para readers ya J

Oke, chapter ini adalah chapter terakhir yang menjadi pengantar menuju inti dari cerita Akhir Penantian(?). Ada bagian yang sengaja dibuat menggantung dan akan dijawab di chapter-chapter selanjutnya. Jadi, dipantengin terus yaa ceritanya *maksa*

So, this is the new chapter. Please read and review! Enjoy it!


I don't own Detective Conan

All characters belong to © Gosho, Aoyama

CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series

AKHIR PENANTIAN(?) S2


CHAPTER 2B

Bridge to Destiny – 2

Don't confuse poor decision-making with destiny. Own your mistakes. It's okay; we all make them. Learn from them so they can empower you!

Steve Maraboli

Ruangan itu dingin. Dengan hanya sebuah jendela kecil di pintu ruangan, ia bahkan bisa merasakan angin musim dingin menusuk hingga ke dalam tulangnya. "Kalau kami hancur, kau juga hancur bersama kami." Ucapan Gin yang lebih dingin dari angin musim dingin saat itu terus-menerus terngiang di telinganya. Benar. Kini, ia hanya menunggu kehancurannya saja. Mendekam selamanya di sel yang terisolir dari kehidupan ini.

"Apakah ini keputusan yang salah?" tanyanya terduduk di dipan yang tipis itu.

"Apakah seharusnya aku tetap diam?" Ia menyeka air mata di pipinya yang bahkan sudah mengering. Tidak ada seorangpun yang akan melihat dia menangis kan? Jadi dia rasa tidak menjadi masalah menangis sepuasnya di ruang yang cahayanya remang ini.

Shiho's POV

"Tidak ada lagi dirinya," pikirku. Membayangkan ia yang kini tidak ada lagi bersamaku hanya menambah kepahitan dalam hidupku. Tapi ini sudah keputusanku, "Maafkan aku, Kudo-kun. Aku hanya ingin menebus semua kesalahanku," Tetapi, aku di luar sana atau di dalam sini tetap sama saja. Ia tetap akan meninggalkanku. "Bahkan di dalam sini lebih baik karena aku tidak perlu melihatnya lagi, setidaknya aku tahu kalau ia sudah bahagia," hiburku. "Dan aku tidak perlu merepotkan siapa-siapa lagi," tambahku.

Am I wrong?

For thinking out the box from where I stay?

For saying that I'll choose another way?

Huh. Terlihat cengeng ya? Ke mana sosok Ai Haibara yang dingin, tsundere, dan memiliki tatapan kejam itu. Apa ketegaranku juga luluh bersama dengan lenyapnya tekanan dari organisasi itu?

Kudengar bunyi seseorang memutar anak kunci di pintu dan tak lama seberkas cahaya muncul dari sana. "Miyano-san, ada yang ingin bertemu," ucap suara pria itu. Aku tetap diam terpaku. "Mungkinkah itu dia? Mungkinkah itu Kudo-kun?" Kugelengkan kepalaku keras-keras, untuk pria itu dan untuk pertanyaan yang muncul di kepalaku.

"Miyano-san," polisi itu kemudian menghampiriku. Inspektur Megure rupanya, tapi kini aku merasakan simpati dari dirinya terhadapku. Ia membangunkanku dan menuntunku berjalan keluar, menuju ke ruang interogasi. Di depan ruangan itu, aku melihat Jodie-sensei dan James menatapku cemas. "Hei, aku baik-baik saja," batinku dan aku mencoba memberikan senyumku kepada mereka. Mungkinkah mereka yang ingin bertemu?

Aku masuk ke ruangan sambil tertunduk, duduk di kursi yang tersedia di depan meja. "Shiho-chan," ucap seorang wanita yang baru kusadari duduk di depanku lirih. Tampilanku pasti sangat buruk hingga suara wanita itu tercekat di tenggorokannya. Tapi, suara itu...

"Shiho-chan, kenapa kau melakukan ini?" Kini tangannya sudah menggenggam tanganku hangat. Kuangkat kepalaku dan kulihat wajah cemas Yukiko-sama di depanku. Mendadak aku panik. Aku tidak mau ia juga ada di sini. Mataku langsung menjelajah ke seluruh ruangan, mencoba menangkap sosok lain yang tidak kuharapkan berada di sini. "Tenanglah, aku tidak memberitahu Shin-chan tentang hal ini," Yukiko-sama menenangkan seolah mengetahui apa yang kupikirkan.

"Apa yang kau pikirkan, Shiho-chan? Kau membuat Agasa-san dan kami khawatir,"

Ia mengelus kedua tanganku lembut. Saat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kembali kehangatan dan kasih sayang seorang ibu walaupun dia bukan ibuku.

"Apa kau bermaksud menebus semua kesalahanmu?" tanyanya lagi. Aku tetap mengatupkan kedua bibirku rapat-rapat. Tidak seharusnya dia ada di sini.

"Tidak apa, Shiho-chan. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau Shin-chan mengetahuinya?" Kini ia meremas kedua tanganku.

"Tidak," jawabku. "Dia tidak perlu tahu apa-apa," lanjutku lagi.

"Menurutmu dia tidak akan tahu?" tanyanya lagi. "Uh, kenapa dia jadi seperti polisi yang terus-menerus menanyaiku?"

"Ia pasti akan mencarimu, Shiho-chan. Ia sudah berjanji untuk melindungimu," lanjutnya.

"Itu tidak perlu Yukiko-san. Janjinya sudah terpenuhi sejak aku kembali ke wujudku seperti saat ini. Lagipula, aku tidak mau lagi..." Kata-kataku terpotong di sana, seperti tidak ada kekuatan untuk melanjutkannya. Dan kini air mata itu mengalir lagi membasahi wajahku, kupikir sudah tidak ada lagi air mata. Tangannya kembali mengelus lembut kedua tanganku.

"Tidak mau apa, sayang?" tanyanya lembut.

"Aku tidak mau lagi... Merusak kehidupan dan kebahagiaannya," jawabku.

Lama ia memelukku dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya. Menangis. Entah kenapa rasanya aku tidak mampu membendung semua air mata ini. Untuk semua kepahitan hidup, penderitaan yang kulalui, dan harapan-harapan yang berbalik menyakitiku. Setiap belaiannya di rambutku, aku merasa seolah ia mengerti apa yang kurasakan. Tetapi benarkah? Bukankah tidak ada satupun yang mengerti diriku? Bahkan detektif cerdas itu juga tidak pernah mengerti.

xxx

Pintu ruangan itu terbuka. "Miyano-san, Yukiko-kun, duduklah dulu," Inspektur Megure masuk bersama Jodie-sensei dan Yusaku-sama. "Kami sudah membicarakannya–," lanjut Inspektur, "–dan kami menyepakati beberapa hal."

"Jodie-san dan Yusaku-kun telah menceritakan semuanya. Siapa kau sebenarnya, apa yang telah kau lalui dan apa peranmu dalam membantu penyelidikan FBI."

"Menurut kami, ini semua tidak sepatutnya kau terima," potong Jodie-san.

"Kami juga melihat kau cukup kooperatif selama ini. Juga mengingat usiamu yang masih sangat muda serta jaminan dari Yusaku-kun bahwa kau tidak akan melakukan hal yang menghambat penyelidikan kami–" kata Inspektur.

"–Kau kami perbolehkan pulang."

Aku menatap mata Inspektur, tidak percaya dengan kata-katanya.

"Tapi itu tidak berarti kau bebas dari segala tuntutan, Miyano-san," kata Yusaku-sama. Ketegasan suaranya seperti detektif itu, tapi dengan warna suara yang lebih gelap.

"Kau memang tidak seharusnya menghabiskan waktumu mendekam di sel. Kami percaya kau bisa melakukan hal-hal yang lebih baik dengan kecerdasanmu, menebus semua kesalahanmu," lanjutnya.

"Oleh karena itu, kau dibebaskan dengan jaminan dan syarat–" Kini aku menatapnya bingung, "–kau harus membantu Kepolisian Jepang dengan kecerdasanmu."

"Saat usiamu cukup secara hukum, kami akan menempatkanmu di divisi forensik dan kejahatan biokimia. Apa kau bersedia, Miyano-san?" tanya Inspektur.

"Inikah takdirku, neechan? Apakah memang harus seperti ini?"

Ruangan itu masih hening. Tidak ada seorangpun yang ingin membuka suara. Aku menghela nafas pelan, aku sudah berjanji tidak akan pernah lari dari takdirku lagi. "Aku menerima," jawabku.

xxx

Salju mulai turun, tapi itu tidak menyurutkan langkah kaki kami mengitari deretan butik yang ada di Shibuya keesokan harinya. "Lihat ini, Shiho-chan, bukankah aku akan terlihat lebih muda dengan jaket ini?" ucap Yukiko ceria. "Tentu saja, Yukiko-sama. Baju apapun yang kau pakai, tetap akan membuatmu terlihat muda," jawabku.

Ia tersenyum dan merangkulku, "Kau pandai mengambil hatiku, Shiho-chan, tapi satu hal. Berapa kali kubilang, panggil saja aku nee, kan kau bilang sendiri kalau aku muda~"

"Baiklah, Yukiko-nee," ia tersenyum ceria mendengarku memanggilnya begitu. Melihat semangat dan keceriaannya, aku mendapatkan kembali alasan untuk tetap hidup seperti ini.

"Arigatou, Yukiko-nee," kataku.

"Eh, untuk apa? Jangan bilang untuk baju-baju ini," tanyanya bingung.

"Yah, untuk baju-baju ini. Dan juga untuk... Segalanya...," jawabku lagi. Ia memandangku, "Kau tidak perlu menanggung segalanya sendirian, Shiho-chan. Cukup sudah kesedihan dan kesendirian menjadi masa lalumu. Kini kau harus bahagia dalam kehidupan keduamu."

Kehidupan kedua ya? Aku tidak menyangka Tuhan mengizinkanku mengecap kehidupan kedua. "Ini semua tidak akan mungkin tanpa pertolongan Anda dan Yusaku-sama. Aku sudah merepotkan Kudo-kun dan kini kalian juga," kataku lagi. "Hei, hei, kenapa sekarang nada bicaramu jadi semakin formal sih?" tanyanya sedikit kesal. Tapi melihat keseriusan di wajahku, ia juga jadi berpikir serius.

"Baiklah, kalau kau memang memaksa," katanya. "Kau akan memberikan sesuatu kepadaku sebagai ucapan terima kasih, bagaimana?" tanyanya. Aku terdiam, menunggu kelanjutan perkataannya. "Diam itu kuanggap setuju yaa?" ujarnya kini menggodaku.

"Katakan saja, Yukiko-nee," kataku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekap kedua pipiku erat dengan tangannya. Matanya menatap ke dalam mataku lekat.

"Seperti yang kau bilang, Shinichi-chan sudah menjalankan janjinya dengan baik untuk melindungimu. Kini aku memintamu–"

xxx

Aku terkejut mendengar permintaannya. Tidak mungkin. Kenapa segalanya harus menjadi sulit? Walaupun aku sudah bisa menebaknya bahwa setelah keluar dari sel itu, aku harus kembali berhadapan dengan detektif itu. Tetap bertemu dengannya, melihat kebahagiaannya dengan Mouri-san sambil berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Tetapi kini, ditambah dengan permintaan ibunya? Oh, mengapa takdir begitu menyakitkan?

"Bagaimana Shiho-chan?" tanyanya. Aku berpikir keras sejenak sebelum memberikan jawabannya. "Huh, apa boleh buat," ia tersenyum puas mendengar jawaban tersebut dan memelukku erat.

Like a shooting star, I will go the distance

I will search the world, I will face it's harms.

I don't care how far, I can go the distance

to be continued...