Ogenkidesuka? Chapter terbaru Akhir Penantian(?) S2 kembali lagi! Sepertinya chapter kemarin sedikit mengecewakan readers ya? Gomen... L
Kali ini, author ingin membawa readers masuk lebih dalam ke kisah Shiho dan Shinichi yang harus kembali bersama karena takdir yang tak bisa terelakkan. Mereka kembali jadi partner dalam memecahkan berbagai kasus kejahatan! Kebersamaan mereka sebagai partner inilah yang akan menimbulkan konflik ShinRan nantinya. Latar waktu dalam chapter ini terjadi 3 tahun setelah Shiho keluar dari penjara atas bantuan orangtua Shinichi dan Shinichi sama sekali ngga tau soal kejadian itu!
Chapter ini cukup singkat, tapi author akan pikir-pikir dulu untuk mengeluarkan 2 chapter sekaligus. Hahahahahaha. Kalau makin banyak chapter yang dikeluarin sekali update nanti cepet selesai dong kebersamaannya ShinShi hehe *ngeles*
Oke sekian spoilernya, langsung saja dinikmati 3rd chapter of this fanfic. Please RnR!
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 3
Partner by Destiny
For I am bringing you someone that wants to travel your trail. Someone you already met when you passed through heaven's veil. A warrior, a friend that whispers your heart's song. Someone that will run with you and pull your spirit along. ... Because I put you both there, to help one another grow.
Shannon L. Arder
Langit cerah dengan awan-awan tipis menghiasi kota Tokyo siang itu. Angin yang bertiup semilir membawa ketenangan. Setidaknya ketenangan itu turut dirasakan oleh para personel MPD yang sedang istirahat. Tapi itu tidak berlaku untuk seorang ahli forensik muda yang jarinya tidak pernah berhenti mengetik sebuah laporan dari tadi pagi. "Miyano-san, istirahatlah sebentar, bukankah Inspektur Sato baru membutuhkannya minggu depan?" tanya Yuki, asistennya.
"Jangan menunda-nunda pekerjaan, Kazagawa-kun. Kita tidak tahu berapa banyak jenazah dan berapa racun mematikan lagi yang harus kita periksa nanti," ucapnya dingin sambil terus berkutat dengan laporannya.
"Dengan karakternya yang seperti itu, aku bisa mengerti kenapa dia sudah menjadi kepala lab hanya dalam waktu setahun," pikir Yuki.
"Konichiwa, calon sersan!" Shiho terkejut dengan panggilan itu, tapi ia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. "Apakah kau sudah membutuhkan laporan ini, Inspektur?" tanyanya tanpa mengalihkan mata dari layar komputer.
"Kupikir ini sedang waktunya istirahat, Shiho-kun," jawab Sato.
"Kalau kau mau mengajakku makan siang sepertinya itu percuma. Aku masih belum lapar, Inspektur,"
"Aku hanya mau mengajakmu berkenalan dengan anggota baru, kupikir kau akan menyukainya," kini Sato sudah menarik Shiho dari bangkunya sambil mengedipkan mata kepada Yuki. Yuki membalas dengan senyuman.
"Hu-uh, kenapa sih kau selalu memaksaku untuk datang tiap kali ada anak baru," ujar Shiho kesal.
"Agar mereka bisa tahu dengan siapa saja mereka akan bekerjasama nantinya," kata Sato tersenyum. Padahal, Sato sedang berusaha mencarikan teman bagi Shiho. Ya, sejak tahun lalu bergabung dengan Divisi Forensik dan Biokimia MPD, Shiho selalu menyendiri dan sangat workaholic. Kali ini Shiho setuju, sepertinya berkenalan dengan banyak orang tidak menjadi masalah, toh hitung-hitung ia bisa sedikit melupakan detektif itu, pikir Shiho.
Ketika Shiho masuk ke ruang Divisi Kejahatan Kekerasan dan mendengar suara bariton yang sangat ia kenal itu, ia langsung berbalik hendak keluar. "Tunggu dulu, Shiho-kun, kau harus menemuinya seperti biasa kau menemui anak baru," tahan Sato. "Tapi dia bukan anak baru, Sato-san, aku sudah mengenalnya," bantah Shiho sambil tetap berusaha melepaskan pegangan Sato. "Tapi tidak sebagai opsir polisi senior kan?" senyum Sato. "Huh, dia selalu punya cara untuk membujukku," pikir Shiho.
"Saya Shinichi Kudo, nggg sepertinya kalian sudah mengenal saya sebelumnya. Mulai hari ini saya akan bergabung sebagai detektif polisi di Divisi ini. Jadi, mohon bantuannya," katanya sambil membungkukkan kepala.
xxx
"Oi oi, apa kau tidak senang aku bergabung di sini?" tanya Shinichi sambil menaruh kedua tangan di kepalanya.
"Tidak, hanya saja kau akan merepotkanku pastinya," jawab Shiho sinis.
"Haaah?" Kali ini Shinichi sudah memasang wajah bingungnya. "Kau kan murder magnet, tentu saja itu akan menambah pekerjaanku di kamar mayat," kali ini sambil melayangkan senyum dan tatapan mematikannya.
"Shinichi-kun! Ada pembunuhan di Blok 3 Haido, kau mau ikut?" teriak Inspektur Sato dan Takagi. "Hhhhh...," Shiho menghela nafas mendengar itu. "Maaf deh kalau aku murder magnet," kata Shinichi yang kini berjalan meninggalkannya. Shiho berbelok ke arah labnya, diam-diam sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
xxx
Beberapa bulan telah berlalu sejak Shinichi bergabung dengan MPD. Dengan kepandaiannya, ia sudah berhasil merebut kepercayaan dari para petinggi MPD. Berbagai kasus ia pecahkan dengan mudah seperti biasanya. Dua bulan lalu, kasus pembunuhan berantai yang mengincar ahli waris mantan Perdana Menteri Jepang yang menghebohkan Tokyo berhasil ia selesaikan. Sejak saat itu namanya kembali menghiasi koran seperti dulu, tetapi kali ini sebagai seorang detektif polisi.
"Wah, kau benar-benar hebat, Shinichi-kun!" kata Inspektur Megure sambil menepuk-nepuk punggung Shinichi. Shinichi hanya tertawa dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Tentu saja itu berkat kerjasama tim yang baik, Inspektur," sergahnya. "Ah ya, ngomong-ngomong soal tim. Adakah masukan darimu soal metode penyelidikan tim kita?" tanya Inspektur Shiratori.
"Hmm, aku agak kesulitan mengenai metode forensik. Entah, aku merasa sedikit terhambat jika pengolahan bukti-bukti forensik harus dibawa ke kantor dulu," jawab Shinichi. "Maksudmu seharusnya itu dilakukan di TKP, begitu?" selidik Sato.
"Ya, kalau bisa sih. Jadi, kasusnya bisa terselesaikan lebih cepat kan?" tawa Shinichi.
"Shinichi," sebuah suara yang sangat dikenal Shinichi memanggilnya.
"Ah, Ran, sedang apa kau di sini?" tanya Shinichi. "Konichiwa, Inspektur, Sato-sama, Shiratori-sama–," jawab Ran, "–aku membawakan makan siang untukmu, Shinichi."
"Wah wah, aku jadi rindu masa muda kalau begini," kata Megure. "Kalau begitu kami duluan, Shinichi. Oyasumi."
"Nggg, kau tidak kuliah hari ini?" tanya Shinichi sambil mengintip kotak bekal yang diberikan Ran. "Kau lupa kalau hari ini kelasku baru mulai nanti sore?" tanya Ran sedikit kesal. "Ah iya! Betapa bodohnya aku!" batin Shinichi. "Huh, kau kan hanya memikirkan kasus, tak pernah sedikitpun memikirkan yang lain," kata Ran lagi.
"Oi oi, aku selalu memikirkanmu kok," kata Shinichi malu-malu. Pipi Ran memerah mendengar perkataan itu. "Be-benarkah?" tanyanya juga malu-malu. "Ya, aku selalu memikirkan alasan mengapa kau rasanya terlihat semakin gemuk setiap harinya," kata Shinichi menggoda. "Huuh," balas Ran kesal dan bersiap memberikan Shinichi jurus karatenya.
Ia terhenti saat melihat gadis pirang stroberi itu keluar dari ruangannya. "Ah. Konichiwa, Miyano-san," kata Ran menyapa Shiho. Gadis berambut pirang stroberi itu benar-benar cocok dengan jas lab putihnya, pikir Ran. "Konichiwa, Mouri-san," jawab Shiho sekilas tanpa senyum. Shinichi hanya melihat Shiho dengan tatapan oi-oi miliknya. "Jangan dipikirkan, dia memang seperti itu kalau sedang sibuk," Shinichi menjelaskan kepada Ran yang terlihat bingung.
"Kau benar-benar tidak mengerti ya, Kudo-kun," batin Shiho sambil terus berjalan. "Tapi aku tidak mau merebut kebahagiaan kalian lagi, neechan," batinnya lagi. Hingga saat ini, Shiho tidak bisa menghapus sosok kakaknya dari diri Ran Mouri.
It's for the best, I know it is.
But I see you.
I try to hide what I feel inside and I turn around.
Didn't think it'd be this hard.
xxx
"Pembunuhan kali ini terjadi di depan minimarket Blok 4, korbannya seorang wanita paruh baya menurut laporan sementara," jelas Opsir Chiba sambil berjalan cepat ke parkiran. "Adakah keterangan lainnya?" tanya Shinichi. "Petugas yang ada sedang mengumpulkan saksi-saksi–," kata-kata Chiba terpotong saat melihat Shinichi yang terpana. "Ngg, Shinichi-kun?" tanya Chiba.
"Hei, mau apa kau?" tanya Shinichi kepada gadis berambut pirang stroberi yang kini ikut masuk ke mobil Sato. "Lho, Inspektur Sato mengajakku. Apa kau tidak suka?" jawab Shiho sinis. "Bukankah kau meminta agar investigasi forensik berjalan lebih cepat, Shinichi? Jadi aku membawanya, tidak apa kan," jelas Sato sambil menutup pintu mobilnya.
Sesosok mayat tergeletak di pintu mini market itu, "Tolong ya, Shiho-kun," kata Sato. "Terdapat luka tusukan yang cukup dalam di ulu hatinya. Dari banyaknya darah, korban meninggal hampir seketika karena tusukan sepertinya merobek jantungnya," jelas Shiho. Shiho melanjutkan observasinya terhadap jenazah itu sementara Shinichi berkeliling di sekitar TKP.
Shinichi tersenyum usil dan bertanya, "Pelaku mencabut kembali senjatanya. Tahu kira-kira jenisnya, calon sersan?" Shiho menatap sinis kepada Shinichi, "Mungkin pisau tentara." Shinichi kembali melanjutkan penyelidikannya dan kali ini Shiho mengikutinya. Ketika melihat sebuah puing aneh dengan bercak darah di dekat mesin penjual minuman otomatis, Shiho berjongkok mengambilnya dan menunjukkan kepada Shinichi. "Kurasa tidak seharusnya ada di sini, Kudo-kun," Shiho memberikan benda itu kepada Shinichi. "Benar, kurasa kita bisa mempersempit lingkup penyelidikannya," jawab Shinichi sambil tersenyum puas.
xxx
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sato kepada Chiba. "Eh, kurasa ini kasus jambret atau semacamnya," jawab Chiba terbata. "Aku tidak bertanya itu, bagaimana mereka menurutmu?" tanya Sato lagi. Chiba menatap Shinichi dan Shiho bingung karena mendapat pertanyaan itu. "Seorang detektif cerdas dan seorang ilmuwan yang membantu dari sisi sains, mereka benar-benar cocok ya?" kata Sato.
Chiba ikut memandang ke arah sepasang polisi muda itu. "Benar juga," batinnya. Mereka berdua seperti hanyut ke dalam dunia mereka saat menyelidiki, seolah mereka memiliki dunia yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Sato melihat Shiho sebagai partner yang seimbang bagi Shinichi. Mereka seolah saling mengerti pikiran masing-masing bahkan sebelum kata-kata keluar dari mulut mereka saat bercakap. "Seperti Holmes dan Watson, ya kan?" tanya Sato lagi kali ini sambil tersenyum riang. "Akhirnya kau mendapat teman – ah bukan sekadar itu, partner ya, Shiho-chan," batin Sato.
to be continued...
