Readers! Author kembali lagi ke fanfic ini setelah beberapa hari ga update hehe. Yah, author ngikutin kalender yang dua hari lalu tanggal merah hahahaha. Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi para readers yang merayakan! Mohon dimaafkan kesalahan author yaa hehe...
Oke! Sekarang kembali ke fanfic. Gimana chapter terakhir kemarin? Yaa itu awalan dari cerita yang mulai masuk serius ini (jd dr kmrn ngapain?). Terima kasih untuk review, follow, dan favoritenya yaa. Author terharu karena banyak yang baca dan ngerespon fanfic ini padahal ceritanya ga jelas gini huhu...
Di chapter terbaru ini akan membawa para readers menyelami lebih dalam tragedi kisah ShinShi demi mencapai takdir (apasih). Dari judulnya, udah tau kira-kira bakal kayak gimana ceritanya? Hehe. Jadi ya mudah2an permintaan readers supaya ShinShi semakin banyak scenenya bisa dipenuhi... Tapi mungkin baru dalam chapter berikutnya hehe... bercanda.. v^,^v Tapi beneran, author udah menyiapkan sebuah kasus yang akan membawa readers utk ngeliat kecenderungan Shinichi dalam memilih di akhir nanti (pdhl udah jelas ini pairingnya siapa HAHA)
Oh ya, ada flashback di chapter terbaru ini yang akan membahas sedikit kisah yang menggantung di chapter 2B. Ada yg masih ingat di chapter itu bagian apa yang menggantung? ^_^
Yap! Bener! (anggep aja ada yang jawab, hehe) Jadi, di chapter ini akan ada flashback tentang bagian yang sengaja author potong di scene ITU. Iya, bagian yang ITU. Ini sekaligus menjawab salah satu komentar dari reader soal orangtua Shinichi yang juga menyukai(?) Shiho. Udah tau kira-kira flashback bagian mana yang author masukkin? Yuk langsung aja dicaritau, kalau yang udah tau ya dibuktiin bener ga dugaannya hehe. Don't forget to review guys! Arigatou~
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 4A
Holmes and Watson - 1
Love is not really a mystery. It is a process like anything else. A process that requires trust, effort, focus and commitment by two willing partners.
Elizabeth Bourgeret
Inspektur Sato sukses memasangkan Shinichi dan Shiho sebagai detektif dan ahli forensik dalam menangani kasus. Kasus pertama mereka terpecahkan hanya dalam waktu kurang dari setengah jam! Shiho bukan hanya seorang ahli forensik dalam penyelidikan Shinichi, tapi dia benar-benar bisa menjadi seorang partner yang baik bagi Shinichi. Sejak saat itu, Inspektur Megure pun setuju untuk memasangkan mereka berdua dan selalu mengutus mereka berdua ke lapangan.
Hingga pada suatu hari terjadi sebuah kasus pembunuhan di apartemen. Kasus itu sudah hampir selesai karena Shinichi kini sedang melakukan pertunjukan analisisnya dengan dibantu oleh Shiho. "Benar kan, orang yang saat ini sudah memegang kembali senjata pembunuhnya? Kyomuri Danbe!" Tangan seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar itu kini bergetar memegang saku jas tempatnya menaruh pistol yang tadi digunakannya untuk membunuh. "Huh, tepat sekali apa yang kau katakan–" jawab pria itu, "–wanita itu memang pantas mendapatkan ini semua. Ia sudah menghancurkan karierku." "Lanjutkan sisanya di kantor polisi," kata Takagi sambil mencoba memasangkan borgol dan mengambil senjata pembunuhnya.
"Tidak ada penyesalan bagiku membunuhnya! Ia telah mematikan perasaanku!" teriak orang itu tiba-tiba dan mencabut pistol yang disembunyikannya itu. Ia menembak secara tiba-tiba ke arah Shinichi yang tepat berada di depannya tanpa bisa dicegah oleh Takagi! "Kudo-kun!" teriak Shiho sambil berlari ke arah Shinichi.
Darah mengalir keluar dari bahu pelaku, pistol itupun terlepas karena tembakan Inspektur Sato. Keriuhan tiba-tiba terjadi di sana, "Ambulans! Cepat panggil ambulans! Ada petugas terluka di sini!" teriak Takagi. "Bertahanlah...," kata Takagi lagi.
Shiho's POV
Huh, seperti biasanya detektif itu memecahkan kasus dengan mudahnya. Tampang sombongnya saat mendapat pengakuan dari si pelaku benar-benar menyebalkan. Pasti sepanjang jalan pulang nanti dia akan membanggakan analisisnya kembali seperti biasa, menyebalkan.
Tu-tunggu dulu. Apa yang akan pria itu lakukan? Pria itu mencabut pistolnya dan... "Kudo-kun!" teriakku sambil berlari ke arah Shinichi. Aku mendorongnya saat suara letusan itu kudengar dan kini aku memejamkan mataku, menjatuhkan diriku tepat di atasnya. "Haibara-san? Kau baik-baik saja?" tanya Shinichi setengah berbisik, tapi kurasakan nada cemas di suaranya. Kurasakan setiap bagian dari tubuhku, tidak ada rasa sakit. Ya, sepertinya aku baik-baik saja, begitupun dia. "Apakah peluru itu meleset?" pikirku saat kudengar teriakan Takagi-san, "Ambulans! Cepat panggil ambulans! Ada petugas terluka di sini!"
Kulihat Takagi-san sedang menekankan tangannya di luka seorang petugas yang menganga karena tembakan. Wajah petugas itu yang kini sudah berpeluh menahan rasa sakit. "Bertahanlah... Bertahanlah, Sanada-san. Ambulans sedang dalam perjalanan," Takagi-san berusaha menenangkan. Percuma. Ucapan itu tidak mampu membendung darah yang terus menerus mengalir keluar dari lukanya. Tidak juga mengurangi rasa sakit yang dialami oleh petugas itu.
Aku teringat saat mendapat kabar bahwa kakakku telah tewas. Ditembak... Melihat bagaimana petugas itu mencoba bertahan dari efek peluru yang menembus tubuhnya. Terbayang di benakku sosok kakak yang merasakan hal yang sama saat peluru Gin merobek tubuhnya. Membayangkan bagaimana kakak mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tetap bertahan agar bisa melindungiku. Membayangkan pengorbanannya.
Pengorbanan. Ya, pengorbanan orang-orang yang berusaha melindungiku. Kedua orangtuaku, kakak, dan... Kudo-kun. Aku menoleh ke arahnya. Bagaimana jika tadi aku terlambat? Bagaimana jika tadi aku gagal? Padahal aku sudah berjanji untuk melindunginya juga.
xxx
"Miyano-san! Hei, Miyano-san!" Teriakan Kazagawa-kun menyadarkanku dari lamunan. Aku menoleh ke arahnya, "Sejak pulang dari kasus tadi, Anda melamun terus. Ada apa?" Aku hanya bisa menatapnya. Benar juga, aku memandang ke arah monitor di depanku dan bahkan aku belum mengetikkan satu hal pun pada laporanku. "Apa Anda memikirkan petugas yang tertembak tadi? Tenang saja, Miyano-san, kudengar operasinya berhasil dan ia sudah siuman," ujarnya lagi.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," jawabku.
xxx
Seperti biasa saat aku lembur, Inspektur Sato akan setia menemaniku dengan beberapa kaleng kopi dingin. "Kali ini aku membawakan biskuit kalau kau lapar," katanya sambil meletakkan beberapa bungkusan di meja. "Arigatou, Sato-san."
"Kau ini, kau baru saja melalui hari yang berat. Tidakkah sebaiknya kau pulang dan beristirahat?" tanyanya. Aku menoleh ke arahnya, "Tidak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja katamu? Aku dengar dari Yuki-san kalau kau melamun terus sejak kembali," katanya penasaran. Aku tidak menjawab. "Yah kau harus membiasakan diri melihat hal seperti itu. Itu resiko pekerjaan. Lagipula tindakanmu melindungi Shinichi tadi sudah tepat kok, terlambat sedikit saja kini ia yang sudah terbaring di rumah sakit," jelas Sato-san lagi.
Tentu saja aku tidak akan membiarkan itu, pikirku. Aku tidak mungkin membiarkan terjadi apa-apa pada Kudo-kun. Kali ini giliranku yang melindunginya, aku sudah berjanji.
Flashback, 3 tahun lalu...
"Baiklah, kalau kau memang memaksa," katanya. "Kau akan memberikan sesuatu kepadaku sebagai ucapan terima kasih, bagaimana?" tanyanya. Aku terdiam, menunggu kelanjutan perkataannya. "Diam itu kuanggap setuju yaa?" ujarnya kini menggodaku.
"Katakan saja, Yukiko-nee," kataku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekap kedua pipiku erat dengan tangannya. Matanya menatap ke dalam mataku lekat.
"Seperti yang kau bilang, Shinichi-chan sudah menjalankan janjinya dengan baik untuk melindungimu. Kini aku memintamu–" Matanya terus memandangku penuh makna, "– untuk melakukan hal yang sama pada Shin-chan."
Aku terbelalak. Tidak percaya akan permintaan wanita itu. Aku, Shiho Miyano, seseorang yang sudah hampir menghancurkan kehidupan sempurna yang dimiliki anak laki-laki satu-satunya itu. Tidak ada hal yang bisa dipercayakan kepadaku. Aku pasti akan merusaknya lagi seperti seorang penyihir jahat yang menghancurkan kisah dongeng pangeran dan putri di suatu kerajaan.
"I begging you, Shiho-chan," katanya lagi kali ini dengan nada memohon, "Dia selalu mengikuti intuisinya tentang kebenaran, bahkan walaupun itu sangat membahayakan dirinya." Aku sangat mengerti akan hal itu, kubayangkan saat ia menyamar menjadi diriku dulu.
"Aku tidak mungkin selalu bersamanya dan melindunginya. Aku juga tidak mungkin kan menahannya menghadapi kasus-kasus berbahaya, lagipula mungkin dia tidak akan mendengarkan kata-kataku. So, please... Please take care of my son–my only son, Shiho-chan," katanya kini sambil menggenggam kedua tanganku erat.
Kenapa? Kenapa harus aku? Di saat aku berusaha melupakannya, di saat aku berusaha menghapusnya dari kehidupan keduaku.
"Why not Ran?" akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Yukiko-san sepertinya sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Kenapa bukan Mouri-san?" kuulangi pertanyaan itu, bahkan dengan nada yang lebih jelas.
"Karena kaulah partnernya. Bukankah selama ini kau selalu bersamanya saat menangani kasus-kasus? Saat bersama-sama melawan organisasi itu? Kau sudah lama bersamanya selama menjadi Ai Haibara. Kau bisa mengimbanginya dengan sangat baik, Shiho-chan. Jadi kupikir setidaknya walaupun dia tidak mendengar kata-katamu, kau bisa melindunginya di saat yang diperlukan. Sementara Ran-san, dia baru saja kembali bertemu anakku. Aku tidak bisa menjamin bahwa Shinichi adalah Shinichi yang sama seperti sebelum ia menjadi Conan. Aku khawatir Ran-san tidak bisa memahami dirinya sebaik kau memahaminya, Shiho-chan...," jawaban itu keluar dengan lancar dari mulutnya seperti sudah dipersiapkan sejak awal.
"Benarkah?" pikirku. Aku teringat saat Hakase mengatakan bahwa beberapa hal berubah dari Shinichi. Ia tidak lagi sesombong dulu, yah walaupun senyum menyebalkannya itu tidak pernah hilang. Tapi benarkah aku bisa? Aku berpikir keras sebelum memberikan jawabannya.
"Huh, apa boleh buat," ia tersenyum puas mendengar jawaban tersebut dan memelukku erat. "Bisakah aku mendengarnya dengan lebih jelas?" tanyanya berbisik sumringah di telingaku. "Yes, I will... I will take care of your son, Yukiko-nee," jawabku juga setengah berbisik di telinganya.
"Arigatou, Shiho-chan. Aku memegang janjimu, kau memang yang terbaik." Mataku terasa panas di tengah udara dingin ini. Aku akan melakukannya untuk membayar semua hal yang telah ia lakukan bagiku, walaupun itu akan membuat luka di hatiku semakin parah.
- End of flashback
"Jadi... Ada apa, Shiho-kun?" tanya Sato-san. "Eh.. Tidak..," aku berusaha mencari-cari topik pembicaraan lain. "Ano, Sato-san," ia memandang intens ke arahku, "Apa saja syarat untuk menjadi detektif polisi?" Pertanyaanku sukses menimbulkan wajah bingung dari Sato-san. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana untuk bisa menjadi detektif polisi sepertimu? Tentu saja bukan ketajaman kemampuan analisis yang harus dimiliki 'kan? Kalau itu aku tidak memilikinya," jawabku berusaha mencairkan suasana. Sato-san tertawa kecil, "Aku mengerti.." Kini giliran aku yang dibuatnya bingung. "Apa yang ia mengerti?" Aku memiringkan kepalaku menatap ke arahnya, mencoba mendapat penjelasan darinya.
"Aku mengerti, kau ingin menjadi detektif polisi kan?" Aku hanya tersenyum mendengar perkataannya. "Kau berpikir bahwa untuk selalu berada di dekatnya dan mencegahnya melakukan hal-hal berbahaya tidaklah cukup. Kau berpikir perlu memiliki sesuatu yang bisa melindungi dirinya jika terjadi hal-hal berbahaya."
"Apa maksud Anda, Sato-san?" tanyaku. "Ini semua tentang detektif itu kan? Tentang Shinichi-kun? Pasti kau bermaksud melindunginya," katanya lagi. Kali ini aku kehabisan kata-kata untuk membantahnya. Hampir 100% perkataannya benar.
"Aku...," Sato-san kini tertawa terbahak-bahak, "Sudahlah, Shiho-kun. Kita tidak sedang di ruang interogasi, aku tidak butuh pengakuanmu. Melihat gelagatmu tiap kali menangani kasus bersamanya saja aku sudah mengerti." Wajahku memerah mendengarnya. Seburuk itukah pertahananku saat ini hingga Sato-san bisa memahaminya sebelum aku bercerita? "Tapi sepertinya bocah detektif itu tidak terlalu peka tentang hal ini," kata Sato-san lagi. Oh tentu saja, kepekaan terhadap hal-hal seperti ini adalah hal terburuk yang dimiliki Holmes tahun heisei.
"Aku akan mengusahakannya," ujar Sato-san menepuk bahuku.
"Eh?"
"Aku akan mengusahakan agar kau bisa bergabung di divisi kami," katanya lagi.
- End of Shiho's POV
Beberapa hari kemudian Shiho sedang bebas tugas saat dering handphone di pagi itu mengganggu tidurnya. "Shiho-kuuun! Bisakah kau menemuiku di kantor segera?" Suara Sato sukses mengumpulkan seluruh nyawanya dalam sekejap. "Ada apa, Sato-san? Aku bebas tugas hari ini," jawabnya malas. "Aku tahu, ini bukan tentang tugasmu sebagai petugas lab. Sudahlah, cepat ke sini. Aku hanya punya waktu sampai jam sepuluh. Jaa, Shiho-kun..," tutup Sato. "Ada apa ya?" pikir Shiho.
"Ngg, sedang apa kau? Bukannya hari ini bebas tugas?" tanya Shinichi saat melihat Shiho berkeliaran di markas. "Sato-san mencariku, apa itu mengganggumu?" jawab Shiho ketus. "Ssst, Shiho-kun, sini..!" Sato-san langsung menariknya ke arah lift. "Ada apa, Sato-san?" tanya Shiho saat lift itu mengarah turun. "Sudahlah ikut saja," jawabnya penuh rahasia.
Ini kali pertama Shiho kembali ke basement markas MPD. Terakhir kali ia ke sana, 3 tahun lalu, saat ia ditahan di salah satu sel dingin yang ada di sana. Tetapi kali ini ia tidak ke arah deretan sel itu. Sato mengajaknya berbelok ke bagian lain. Saat mereka membuka pintu, rentetan letusan senjata mengejutkan Shiho. "Miyano-san, aku yang akan langsung menilaimu," kata Inspektur Megure yang sudah menunggu.
"Seperti yang kubilang, aku akan mengusahakan agar kau bisa menjadi detektif polisi seperti kami. Ini salah satu tesnya. Aku akan sedikit memberi pengarahan awal," jelas Sato, "Aku akan mengizinkanmu menggunakan beberapa jenis senjata. Kau hanya perlu menembak sasaran yang diberikan. Tidak peduli berapa skor yang akan kau peroleh, menembaklah dengan rileks."
Shiho menggenggam pistol semi-otomatis yang diberikannya. "Sudah lama sekali aku tidak memegangnya. Terakhir saat aku hendak memberikannya kepada Kudo-kun," pikir Shiho. "Masihkah aku bisa menggunakannya seperti saat dulu di organisasi?"
Shiho berdiri di tempat yang telah disediakan, memandang lurus ke depan, sebuah lapangan yang memiliki panjang sekitar 50 meter. Saat lampu hijau di depannya menyala, sebuah papan bidikan muncul. Shiho memuntahkan beberapa peluru dari pistolnya. Lampu itu mati, Shiho menghentikan tembakannya. Nafasnya tersengal.
Papan bidikan itu kini bergerak ke arahnya. Terlihat bekas beberapa peluru menembusnya, tetapi tidak ada yang tepat mengenai sasaran vital. "Berusahalah untuk rileks, Miyano-san. Kita lakukan lagi," kata Inspektur Megure.
"Huuff...," Shiho menarik nafas pelan dan menghembuskannya. Lampu hijau itu kembali menyala, Shiho mengeluarkan tembakan dua kali. Lampu itu mati lagi, kali ini lebih cepat. Saat papan bidikan itu mendekat, Sato dan Megure hanya terperanjat tidak percaya. Shiho tersenyum lebar.
"Kita ulangi lagi, kali ini kita naikkan levelnya," kata Inspektur Megure. "Berusahalah, Shiho-kun," Sato tersenyum menyemangati. Lampu hijau kembali menyala, kali ini sasarannya lebih dari satu. Shiho membidikkan dan menembakkan senjatanya dengan pasti. Level terus dinaikkan dan beberapa kali jenis senjata diganti hingga akhirnya Inspektur Megure berkata, "Hari ini cukup."
Shiho tersenyum lega saat Inspektur Megure meninggalkan mereka duluan. "Kau melakukan dengan baik–tidak, bahkan sangat baik," ujar Sato tersenyum kepada Shiho lalu memandang ke papan-papan bidikan berbentuk menyerupai kepala dan tubuh manusia yang tadi dipakai Shiho. Semuanya terdapat lubang, tepat di lingkaran tengah bagian kepala dan tubuh. Polisi lain yang melihat itu hanya menggelengkan kepala saat Sato dan Shiho meninggalkan ruangan.
to be continued...
