Chapter terbaru rilis! Bagaimana, readers? Semoga belum pada bosen ngikutin ceritanya yaa... Nggak kan ya? Nggak ada yang bosen kan kalau ngeliat pairing ShinShi? Hahaha. Author aja nggak bosen sama mereka, mereka pairing terbaik di DC bersama dengan Yusaku/Yukiko hehe. Lagipula, berita baiknya... You're halfway to finish! (apasih) Ini udah hampir setengah dari ceritanya walaupun jalan ceritanya baru nanjak. Maafin author yang payah dalam menyusun alur ini ya huhu _

Di chapter ini, author mencoba untuk membuat sebuah kasus yang perlu ditangani oleh sepasang detektif muda idola di MPD. Siapa detektif mudanya ya pasti readers udah pada bisa nebak ya... Hahahaha. Lho? Kok Shiho jadi detektif polisi juga? Terus kasus apa yang bakal mereka hadapi? Liat aja sebentar lagi hehe.

Di chapter ini juga, (semoga) readers akan mulai merasakan posisi Shiho sebenarnya di mata Shinichi. Kenapa author bilang gitu? Ya coba dibaca aja hehe... Yang pasti, author mencoba membuat yang terbaik untuk pairing ini...

Sebenernya sekarang author sedang menggarap 2 chapter terakhir di season ini yang sekaligus ending dari Akhir Penantian(?), tapi author kehabisan ide untuk Ch. 8 huhu jadi author malah nyelesain Ch. 9 alias chapter terakhirnya duluan ahahaha (spoiler dikit jumlah chapter). Author harap nanti endingnya memuaskan banyak orang ya karena ada sedikit kejutan di sana. Daan... Sebenernya author masih bingung nanti endingnya itu akan digabung di sini atau dibuat story baru karena ratingnya yang mungkin sedikit naik HAHA.

Oke sekian dulu spoiler-spoilernya, mendingan langsung dibaca aja chapter terbarunya ini. Semoga memuaskan readers. Akhir kata, please review! Arigatou~


I don't own Detective Conan

All characters belong to © Gosho, Aoyama

CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series

AKHIR PENANTIAN(?) S2


CHAPTER 4B

Holmes and Watson - 2

There are no coincidences in life. What person that wandered in and out of your life was there for some purpose, ... However, if you turn it over to God, He promises that you'll see the big picture in the hereafter. Nothing is too small to be a mistake.

Shannon L. Alder

Seminggu kemudian Yuki berlari menuju lab tepat saat Shiho baru saja meletakkan tasnya, "Miyano-san! Hinomura-san ingin menemui Anda." Shiho langsung bergegas mengenakan jas laboratoriumnya dan menuju ke ruangan Hinomura. Hinomura-san adalah seorang inspektur polisi sekaligus seorang dokter forensik andal. Ia adalah atasan langsung Shiho di Divisi Forensik dan Kejahatan Biokimia saat ini.

"Permisi, Anda mencari saya?" setelah Shiho mengetuk ke ruangan itu dengan sopan. Hinomura menengok ke arahnya, "Miyano-san, silakan masuk. Duduklah dulu." Shiho duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia takut kalau ia sudah melakukan kesalahan karena Hinomura jarang sekali memanggilnya seperti saat ini sebab atasannya itu telah mempercayakan banyak hal kepadanya.

"Aku sudah mendengar dari Megure-kun, kau sekarang lebih sering turun menyelidiki langsung di TKP dibanding menunggu di laboratorium?" tanya Hinomura tegas. "Ya benar, Pak," Shiho hampir menggigit lidahnya saat menjawab pertanyaan itu. "Katanya kau juga mengajukan diri menjadi detektif polisi?" tanyanya lagi. Shiho bingung, rasanya ia tidak pernah meminta secara langsung. Dia hanya menanyakan persyaratannya, tetapi ia tidak menolak saat Megure dan Sato memberikan serangkaian tes masuk. Ia memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan itu.

"Memegang senjata, menangkap pelaku, menggiring tersangka masuk ke sel, mendapat pujian masyarakat. Itu memang lebih menyenangkan dibanding menjadi orang di balik layar seperti kita." Kini Hinomura-san memutar bangkunya memunggungi Shiho, "Tapi apakah itu menghilangkan semua kebanggaanmu terhadap tugas di laboratorium?" Ia tidak menjawab. Kalau saja boleh memilih, ia lebih suka dengan hidupnya yang aman dan tenang di laboratorium. Tapi jika melihat seberapa besar resiko yang dapat terjadi pada Shinichi di lapangan, ia tidak mungkin bisa tetap berdiam diri tanpa berbuat suatu apapun untuk memegang janjinya.

Shiho hanya bisa menunduk. Hinomura kemudian berdiri dari bangkunya dan mengambil sesuatu dari laci. Ia meletakkan kedua barang itu di meja tepat di hadapan Shiho. Shiho memberanikan diri mengangkat kepala dan melihat kedua benda di depannya, sebuah lencana polisi berlambang bunga sakura dan revolver. "Banggalah bukan pada apa yang kau kerjakan, tetapi pada lambang yang melekat di dadamu. Dalam kondisi apapun juga, perjuangkanlah keadilan dan kebenaran di atas segalanya seiring tanggung jawab yang melekat pada lencana dan senjata ini," kata Hinomura tegas. Shiho memandang ke arahnya tidak mengerti. "Sersan Shiho Miyano, sekarang Anda bertanggungjawab kepada Divisi Kejahatan Kekerasan. Tetaplah layani masyarakat sepenuh hati dengan tanggung jawab yang baru," kata Hinomura lagi.

Shiho tertegun tidak percaya. Menangkap hal itu, Hinomura mencoba meyakinkannya dengan menyodorkan lencana dan senjata tersebut, "Ambillah, Sersan. Buatlah kami semua bangga dengan prestasimu di tempat dan tanggung jawab yang baru ini."

Shiho tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan ruangan itu. Saat ia sudah di pintu hendak melangkah keluar, suara itu menahannya. "Miyano-san–" Shiho menoleh kembali ke Hinomura. "–laboratorium itu selalu terbuka untukmu, gunakanlah kapanpun kau mau," kata Hinomura sambil tersenyum. Shiho mengangguk mengerti dan meninggalkannya menuju ke kantor barunya, Ruang Divisi Kejahatan Kekerasan.

xxx

"Kenapa kau ada di sini?" tanya Shinichi. Pagi ini tidak seperti biasanya ia melihat Shiho duduk di Divisi Kejahatan Kekerasan. Bahkan lengkap dengan pin kepolisian di kerah blazernya. Yah, dengan balutan blazer itu entah kenapa ia melihat sosok Shiho lebih kuat dan lebih... cantik? Sial, setelah beberapa kali bersama dalam kasus, baru kali ini ia mengamati Shiho dengan seksama. "Bisakah berhenti menatapku seperti itu, Asisten Inspektur?" sindiran Shiho menghentikan lamunannya. "Siapa bilang aku menatapmu? Aku hanya bingung melihat pin yang ada di kerahmu itu," kilah Shinichi.

Shiho berdiri dari kursinya dan menatap Shinichi, kali ini dengan wajah sombong. Tentu saja Shinichi bingung dengan tatapannya. "Rasanya semakin lama kau semakin sombong," sindir Shinichi. "Kupikir itu juga berlaku untukmu, meitantei-kun. Dan mungkin kali ini kau harus sedikit merendah karena bukan hanya kau yang bisa jadi detektif polisi," kata Shiho. Shinichi memasang wajah bingung. Shiho kemudian mengulurkan tangannya, mengajak Shinichi bersalaman.

"Perkenalkan, aku Shiho Miyano, Sersan Polisi baru di Divisi Kejahatan Kekerasan. Tapi sepertinya aku tidak perlu bilang bahwa aku membutuhkan bantuanmu karena justru kaulah yang membutuhkanku," jelas Shiho lagi masih dengan nada sombong. Shinichi terkejut dan mencoba mencerna kata-kata Shiho.

"Bantuanmu? Huh, aku tidak memerlukannya, kau malah hanya akan merepotkan–," kata Shinichi menolak ajakannya untuk bersalaman. "–karena itu artinya tugasku bertambah, menyelidiki kasus sekaligus melindungimu," batin Shinichi. Shiho tersenyum geli melihat tingkah Shinichi itu, "Menyenangkan sekali bisa mengganggunya lagi."

xxx

"Jadi, kini kalian selalu bersama?" tanya Ran kepada Shinichi. "Ya begitulah, aku kan anak buahnya Inspektur Sato sementara Sato-san sendiri menjadi supervisor Miyano-san selama dia dalam masa percobaan. Jadi, apa boleh buat." Ada sedikit rasa sakit di hati Ran, dia tidak mengharapkan jawaban itu dari Shinichi. Memang saat ini Shinichi adalah miliknya, kekasihnya, setelah janji yang diucapkan Shinichi di Kyoto 3 tahun lalu. Tetapi membayangkan Shinichi selalu bersama wanita itu selama bekerja dan betapa sedikit waktu yang ia miliki bersama Shinichi karena kesibukan mereka masing-masing, terbersit kekhawatiran Ran bahwa Shinichi bisa saja berpindah ke lain hati. "Apalagi ia gadis yang hampir sempurna," batin Ran. "Dia cantik dan pintar, bahkan Megure-sama dan Sato-san menyukainya."

"Ng? Kau kenapa?" tanya Shinichi bingung melihat kekasihnya itu. "Ah aku tidak apa-apa, aku hanya teringat dengan kejadian beberapa hari lalu saat ada petugas yang tewas dalam tugas," jelas Ran. Shinichi memalingkan mukanya, "Sebentar lagi ia pasti akan melarangku melakukan hal-hal berbahaya. Apa jangan-jangan ia tahu aku hampir tertembak waktu itu? Sial, apa Sato-san memberitahunya?"

"Oh aku hampir terlambat! Usahakanlah selalu pulang tugas dengan selamat ya. Jaaa...," kata Ran sambil setengah berlari meninggalkannya.

xxx

Shinichi masuk ke ruangannya dengan bingung karena keriuhan yang tidak biasanya. Inspektur Megure, Shiratori, Sato, dan Takagi terlihat berdiskusi dengan serius di meja depan. Sementara polisi-polisi lain sibuk dengan telepon atau layar komputernya. "Tidak adakah hal berguna lain yang bisa kau kerjakan selain bengong, tantei-kun?" tanya Shiho sinis melihat gelagat Shinichi. "Apa yang bisa kulakukan sementara aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi," jawab Shinichi sedikit kesal.

"Ada ancaman bom, minta detailnya ke Chiba-san," perintah Shiho. "Ah baiklah," kata Shinichi yang kemudian sadar dan memasang wajah kesal, "Ah kenapa kau memerintahku? Pangkatku kan lebih tinggi." Shiho hanya memberikan tatapan death glare kepada Shinichi sebelum melanjutkan kesibukannya.

Bundelan kertas itu dibaca Shinichi dengan seksama. Ancaman bom kali ini ada kaitannya dengan rencana ekstradisi bos pengedar narkoba internasional yang ditangkap di Jepang baru-baru ini. Mereka meminta agar rencana ekstradisi tersebut dibatalkan atau mereka akan meledakkan bom yang dipasang di beberapa universitas di Jepang. "Tunggu, universitas?" pikir Shinichi. Ia melanjutkan membacanya.

Bom akan diledakkan secara acak mulai tengah hari nanti hingga waktu keberangkatan pesawat yang membawa buronan Interpol itu sekitar pukul 15. Mereka juga mengancam akan meledakkan bom jika polisi mengevakuasi masyarakat sipil yang ada di lokasi bom itu. Shinichi membalik ke halaman terakhir dan menemukan list universitas yang dijadikan sasaran. Terdapat nama beberapa kota dan universitas sasaran. Di Kota Tokyo: Universitas Toto dan Universitas Tokyo. "Sial! Ran...,"

xxx

Berkali-kali Shinichi mencoba menghubungi Ran tapi tidak diangkat. Ran benar-benar serius saat belajar hingga mematikan HP saat di kelas. "Sial, Ran. Angkatlah teleponnya,"

"Kupikir itu bukan tindakan yang tepat, Kudo-kun. Hanya akan menimbulkan kepanikan di masyarakat," kata Shiho sambil lalu. "Lebih baik kau ikut ke depan, sebentar lagi kita akan membagi tim," lanjutnya lagi.

"Ada sedikit masalah, Inspektur Megure. Universitas Toto memiliki 2 kompleks yang letaknya berjauhan. Fakultas Kedokteran yang di tengah kota dan gedung lain yang letaknya berbatasan dengan Perfektur Saitama. Ke mana kita akan mengirim tim?" tanya Takagi. "Keduanya! Apa lagi yang bisa kita perbuat?" jelas Megure. "Sepertinya tidak perlu, Inspektur," jawab Shinichi yang kini sudah bergabung di depan. "Kita hanya perlu mengirim tim ke Fakultas Kedokteran Univ. Toto yang ada di pusat kota. Pelaku sangat teliti dengan mengirimkan detail nama universitas dan kota." Shinichi menunjuk ke salah satu nama universitas. "Seperti universitas ini yang memiliki dua lokasi, di Kyoto dan Shizuoka, tapi ia memasukkannya di dalam daftar universitas di Shizuoka. Jadi, kurasa kalau yang ia maksud adalah Universitas Toto di Saitama, ia akan menuliskan dalam daftar di Saitama," jelas Shinichi.

"Benarkah? Kalau begitu kita hanya perlu membagi menjadi 2 tim! Baiklah, Sato. Kau memimpin Tim Narita ke Universitas Toto! Sementara kau, Shiratori, pergilah ke Universitas Tokyo! Kalian harus mencari lokasi bom di sana dan jangan sampai ketahuan!" perintah Megure.

"Haii!"

"Inspektur, bolehkah kali ini aku bergabung dengan Inspektur Shiratori?" tanya Shinichi.

"Kenapa?" tanya Megure. "Ran di sana. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," jawabnya. "Huh, baiklah, terserah kau saja! Cepat bergerak!"

Shiho memperhatikan Shinichi yang bergabung bersama Shiratori. "Kuharap kali ini kau tidak melakukan hal yang sama, satu orang sudah berkurang dari timku," kata Sato yang menyadari keinginan Shiho. "Tentu saja tidak, ayo kita bergegas," jawab Shiho mantap.

Saat melewati ruang laboratorium forensik, langkah Shiho terhenti. "Sebentar, Sato-san!" Ia bergegas masuk ke dalam ruangan dan mengambil beberapa jas laboratorium berwarna putih dari sana. "Kalau ingin menyamar, kurasa ini cara terbaik," katanya sambil tersenyum.

xxx

"Pusat, tim Narita sudah di lokasi," kata Sato dari mobil komando. "Diterima, apa rencana kalian?" tanya Megure. "Shiho-kun dan beberapa petugas lain sudah masuk dengan menyamar menggunakan jas laboratorium, mereka akan mengabarkan perkembangannya."

"Ada hal yang membingungkanku, Sato-san," kata Shiho melalui mik yang ditempelkan di kerah jas lab-nya. "Katakan," jawab Sato

"Kenapa dia mengincar universitas? Maksudku, akan lebih mudah mengincar sekolah seperti SD hingga SMA karena memiliki jumlah korban yang jelas kalau ia ingin menjadikan mereka sandera. Sementara di universitas, jumlah mahasiswanya selalu berubah tiap jam. Bahkan bukankah ada jam-jam tertentu di mana hanya ada beberapa kelas yang berkegiatan sehingga jumlah sandera berkurang?" tanya Shiho.

"Entahlah, Shiho-kun, aku tidak mengerti. Menurutmu dia punya motif lain?" tanya Sato. "Mungkin. Apa Kudo-kun menyampaikan analisis?" tanya Shiho balik. "Tidak, sepertinya dia mengkhawatirkan Ran-san. Katanya jadwal Ran-san di kampus penuh sampai jam 15 hari ini. Jadi, dia adalah salah satu sandera," jelas Sato. Shiho hanya diam mendengarnya. "Aku mengerti. Aku akan melakukan sesuatu, Sato-san," katanya kemudian.

xxx

Shiho berjalan menyusuri koridor. Matanya terpaku pada salah satu papan nama ruangan, 'RUANG ARSIP DAN INVENTARISASI'. Ia memutuskan masuk ke dalam ruangan itu dan memilih beberapa dokumen. Untuk memulai penyelidikan, ia harus mengecek beberapa dokumen terlebih dulu kan? "Apa motif lain dari pemilihan lokasi ini? Kenapa harus dua universitas ini?" pikirnya.

Tangannya membalik-balik halaman dokumen tersebut sampai matanya terbelalak melihat suatu hal. Ia membuka dokumen lain untuk mengecek dan memperoleh kepastian. "Sato-san, sepertinya aku menemukan sesuatu," katanya. "Apa itu, Shiho-kun?" kata Sato dari mobil komando.

"Aku membuka arsip tentang obat-obatan yang keluar dan masuk kampus ini. Ada data yang tidak sinkron. Di sini tercatat obat-obatan jenis anestasi dan morfin masuk dalam jumlah besar, tetapi tidak ada data penggunaan atau pengiriman obat-obat itu ke tempat lain," jelas Shiho. "Maksudmu? Obat-obatan itu masuk dan tidak pernah keluar?" tanya Sato lagi. "Mungkin obat-obatan itu tidak pernah digunakan di sini, Sato-san. Apakah mungkin diedarkan secara ilegal?"

"Jadi ini bukan soal sandera? Tapi pemusnahan barang bukti?" tanya Sato tidak percaya. "Bisa jadi, kalau bos pengedar itu tertangkap dan buka suara tentang jalur perdagangan narkoba di Jepang, tentu akan berbahaya bagi siapapun pemainnya," jelas Shiho lagi. "Aku akan coba melaporkan ke pusat," kata Sato. "Ya, aku akan membawa beberapa dokumen ini kepadamu. Sebelum itu, aku ingin mengecek ke gudang kimia apakah obat-obatan ini benar ada atau tidak," kata Shiho. "Tapi, di mana mereka meletakkan bomnya Shiho?" tanya Sato. Mata Shiho kini mengamati sekeliling, mencoba mencari suatu hal yang aneh. Ia membuka sebuah dus di bagian bawah rak dengan selotip yang masih baru. Cukup aneh karena dus yang lain selotipnya sudah terbuka sedikit dan berdebu. "Di ruang ini, Sato-san," jawab Shiho.

"Apa?" teriak Sato. "Ya, ada cukup banyak dus yang belum berdebu sepertinya– Maaf, ke mana lift itu mengarah?" tanyanya kepada seorang petugas. "Eh, ke parkiran basement," jawab petugas itu. "Sato-san, masukkan tim penjinak bom dari basement sebelah barat. Lift itu langsung terhubung ke ruang arsip di lantai 5 agar tidak menimbulkan kepanikan," kata Shiho.

"Baiklah, tunggulah di sana," perintah Sato. "Tidak, aku ingin ke gudang obat-obatan. Aku ingin mengecek apakah anestasi dan morfin itu benar jumlahnya," kata Shiho. "Tidak, Shiho, ini perintah!" bentak Sato. "Tenanglah, Sato-san, ini akan mempercepat kerja kita. Lalu akan membawakan dokumen ini kepadamu," katanya lagi seraya memutuskan komunikasi.

xxx

"Benarkah itu, Sato?" tanya Inspektur Megure. "Ya, tolong sampaikan itu pada Shiratori dan kepolisian di tempat lain. Ada kemungkinan seperti itu dan Shiho-kun sedang mengecek kembali kebenarannya," kata Sato. "Baiklah, aku menunggu kabar selanjutnya,"

"Baiklah, Inspektur. Shinichi-san, ayo kita mengeceknya," perintah Shiratori. Saat mereka tiba di ruang arsip, mereka kebingungan. Ruang arsip Universitas Tokyo luasnya seperti lapangan bola, terletak di basement. Lebih mirip perpustakaan dibanding dengan ruang arsip. "Kita masih punya 1,5 jam. Di mana kita harus memulai?" tanya Shiratori bingung. "Seksi Fakultas Kedokteran," jawab Shinichi.

Shiratori bergegas mengikuti Shinichi. "Sebelah sini," teriak seorang petugas. "Kenapa fakultas kedokteran?" tanya Shiratori sambil berlari. "Hanya itu yang menghubungkan Universitas Toto dan di sini. Dua universitas ini memiliki fakultas kedokteran terbesar di Tokyo, begitupun universitas lainnya yang menjadi sasaran. Wajar kalau mereka menyelundupkan obat-obatan dari sini," jelas Shinichi tersenyum. "Kami menemukannya!" kata seorang petugas.

to be continued...