Sekarang waktunya chapter terbaru Akhir Penantian(?) S2 rilis! Gimana chapter kemarin, readers? Apakah kira-kira bisa ditebak siapakah Irene Adler dalam kisah Shinichi? Hahahaha (padahal udah jelas ini pairing siapa ahaha) Oya, menurut kalian kenapa Shinichi ragu pas menyetujui ajakan Ran untuk pacaran secara resmi? Wkwk... Atau jangan-jangan ada yang bingung pas bagian itu? Hmm... Jadi, ceritanya waktu di Kyoto 3 tahun lalu, ShinRan jadian tapi Shinichi sendiri nerima dengan ragu-ragu. Nah, peristiwa (halah) itu yang bikin Ran khawatir ngeliat kedeketan Shinichi sama Shiho sekarang. Ran takut kalau Shinichi udah ngga cinta sama dia lagi.

Menurut readers, apakah kekhawatiran Ran beralasan? Apakah sudah sewajarnya Ran khawatir tentang hubungan Shinichi dan Shiho? Kemarin kan readers udah liat sedikit part ShinShi di akhir chapter. Nah di chapter ini, kita akan kembali melihat kebersamaan Shinichi dan Shiho yang tentu aja akan membuat Ran makin panas. Hmm, apa Ran tahu? Entahlah, yang pasti akan jadi klimaksnya kalau Ran tahu kebersamaan ShinShi ini dan itu author pastikan belum akan readers temukan di chapter ini hehe :p

Chapter 6 yang berjudul The Truth is.. ini dibagi menjadi dua part. Chapter ini secara keseluruhan akan menjawab dua hal dalam fanfic ini. Pertama, ini akan menjawab pertanyaan yang tersirat di chapter kemarin tentang siapa yang jadi Irene Adler. Kedua, apa ada yang masih inget chapter 4 S1 Kebenaran yang Tertunda? Nah, kebenaran itu akan terungkap di chapter ini. Hayo masih inget gaa? Kebenaran apa yang ditunda di S1 yang kira-kira bakal ketauan di season ini? Coba dicek lagi Akhir Penantian(?) S1-nya biar kira-kira ada gambarannya hehe. Tapi, tenang.. Itu nanti dibahas di part 2 dari chapter ini, jadi abis baca chapter ini dibuka lagi ya S1-nya haha (maksa dikit).

So, tanpa berlama-lama lagi. This is it, Akhir Penantian(?) S2 Ch. 6A. Please enjoy and review! Arigatou!


I don't own Detective Conan

All characters belong to © Gosho, Aoyama

CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series

AKHIR PENANTIAN(?) S2


CHAPTER 6A

The Truth is ... – 1

On the death of a friend, we should consider that the fates through confidence have devolved on us the task of a double living, that we have henceforth to fulfill the promise of our friend's life also, in our own, to the world.

Henry D. Thoreau

Siang itu Shiho mendapati kondisi Hakase yang kembali menurun. Shiho pun segera memanggil dokter untuk segera mengecek kondisi Hakase. "Silakan tunggu dulu di luar, nona," kata dokter. Shiho hanya bisa melipat kedua tangannya pasrah memandang dari luar jendela.

"Bagaimana, dokter?" tanya Shiho dengan nada cemas saat dokter itu melangkah keluar dari ICU. "Miyano-san, apakah Anda sudah mendiskusikan dengan anggota keluarga yang lain?" dokter balik bertanya. Sebelumnya saat dokter memberikan pilihan penanganan Hakase kepadanya, Shiho memang meminta dokter menunggu karena ia mengatakan bahwa ia akan berdiskusi lebih dulu dengan anggota keluarga yang lain. "Apakah semakin parah?" kali ini Shiho yang kembali bertanya.

"Kelenturan aorta hanya tinggal 10%, Miyano-san, ini sangat mengkhawatirkan. Kerja jantung dan paru-parunya jadi makin berat sementara usia pasien sudah sangat lanjut," jawab dokter tersebut. Shiho terdiam mendengar itu, kemudian ia mengambil nafas dalam-dalam. "Baiklah, dokter. Lakukan saja operasi itu," katanya.

Kondisi Hakase menurun, aku memutuskan untuk menyetujui operasi itu.

Isi pesan dari Shiho saat Shinichi membuka e-mail masuk di handphonenya.

Baiklah, aku akan ke sana selesai tugas. Kabari aku kemajuannya.

Balas Shinichi, lalu ia melanjutkan kasus yang ia tangani.

xxx

Ran membawa sebuket bunga di tangannya sambil berjalan menyusuri koridor menuju ruang ICU bersama Shinichi. "Mohon maaf, operasi pasien belum selesai," jawab seorang suster yang berjaga. "Eh?" tanya Ran dan Shinichi bingung bersamaan. "Ini sudah lebih dari 4 jam, separah itukah?" pikir Shinichi.

"Bukankah seharusnya sudah selesai?" tanya Ran bingung. "Entahlah, Miyano-san belum memberitahuku perkembangannya lagi setelah memberitahu jam operasinya dimulai. E-mail terakhirku tidak dibalasnya," jawab Shinichi. "Oh..," jawab Ran. Ia tidak mengharapkan mendengar Shinichi yang sedekat itu dengan Shiho. "Ng, kenapa?" tanya Shinichi bingung. "Tidak," jawab Ran.

Shiho terlihat sedang berbincang dengan dokter yang masih mengenakan pakaian bedah saat mereka tiba di depan ruang operasi. "Miyano-san," panggil Shinichi.

Shiho menengok ke arah Shinichi, tersirat sebuah penyesalan sekaligus kesedihan di wajahnya. Belum sempat Shinichi meresponnya, perawat mendorong ranjang yang ditutup kain putih keluar dari ruang operasi. Shinichi hanya memandang ranjang yang terus didorong para perawat itu dengan penuh kesedihan, mengerti maksud raut wajah Shiho tadi. "Tunggu! Hentikan! Apa yang terjadi?" teriak Ran.

Tangisan Ran pecah saat petugas membuka bagian atas selubung yang menutupi ranjang itu. "Tidak mungkin. Hakase...," Shinichi mendekap Ran dan menganggukkan kepalanya meminta petugas menutup kembali jenazah Hakase. "Hakase...," ujar Ran lirih di dekapan Shinichi. Ran membenamkan wajahnya di dada Shinichi sementara Shinichi berusaha menenangkan.

Shiho hendak melangkah pergi meninggalkan mereka saat tangan Shinichi meraih lengannya. Shiho berhenti dan memandang mata pria itu, sebuah kesedihan terpancar dari manik birunya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kau pasti bisa melaluinya," kata Shinichi. Ran terus menangis sementara Shiho melepaskan tangan Shinichi dan berjalan menjauh dalam hening. "Hakase, Shinichi... Ia meninggal," Shinichi kembali memeluk Ran dan menenangkannya.

xxx

Keesokan harinya pemakaman Hakase digelar. Shinichi, Ran dan kedua orangtuanya, Shiho, dan shonen-meitantei turut hadir dalam pemakaman itu. Semua orang menangisi kepergian ilmuwan unik yang sangat baik dan ramah itu. Semua orang mengingat keceriaan dan lelucon-lelucon yang kerap keluar dari mulutnya, terutama shonen-meitantei. Ya, semua orang menangis, kecuali Shiho. Ia hanya duduk di pojok ruangan. Tidak ada air mata yang menetes sedikitpun dari gadis berambut pirang stroberi itu.

"Apakah dia baik-baik saja, Shinichi-kun?" tanya Sato saat datang melayat. "Ia bukan tipe orang yang terbiasa menunjukkan perasaannya, Inspektur," jawab Shinichi sambil kembali menyapa para tamu yang hadir. "Kedua orangtuamu tidak datang? Bukankah mereka sangat dekat?" tanya Sato lagi. "Mereka sedang mengusahakannya, cuaca di Los Angeles sangat buruk," jawab Shinichi lagi. "Aku akan menemani Shiho-kun," kata Sato meninggalkan Shinichi.

xxx

Setelah proses pemakaman selesai, Shinichi mengantarkan Shiho serta Ran dan kedua orangtuanya. "Kami turut berduka, Miyano-san," kata Eri yang duduk bertiga di belakang bersama Ran dan Shiho. Shiho hanya menatap Eri dan memberi anggukan kecil sebelum mobil itu kembali diselimuti keheningan.

"Hei, naiklah lagi, aku akan mengantarkan kalian," kata Shinichi saat melihat Ran dan kedua orangtuanya menyusul Shiho turun di Blok 2. "Tidak apa-apa, nak," kata Eri. "Kami akan berjalan kaki saja dari sini," lanjutnya. Shinichi kemudian memarkirkan mobil di depan rumahnya.

"Anak itu benar-benar aneh," kata Kogoro. "Dia hanya larut dalam kesedihan, Pak," jawab Eri. "Oh ya, apa benar aku boleh menginap?" tanya Eri. "Tentu saja, Okaa-san!" jawab Ran kini riang sambil menggandeng erat ibunya. "Hari sudah agak malam dan poirot mungkin sudah tutup, bagaimana kalau kita delivery sesuatu?" tanya Ran sambil membuka tasnya hendak mengambil handphone.

"Oh, gawat," seru Ran. "Kenapa?" tanya Kogoro kesal. "Hpku hilang," Ran mulai panik dan membongkar-bongkar isi tasnya. "Benarkah? Coba cari lagi yang benar," kata Eri. "Benar, tidak ada, apa terjatuh ya?" Ran berusaha mengingat-ingat. "Kau tadi menggunakannya di mobil bocah ingusan itu, apa tidak terjatuh di sana?" kata Kogoro. "Benar juga! Tunggulah sebentar, aku akan mengambilnya mumpung masih belum jauh," kata Ran sambil berlari kembali.

Sementara Shinichi masih berada di depan rumahnya dan Shiho masih berusaha membuka kunci pagar rumah Hakase. "Perlu kubantu?" tanya Shinichi. "Tidak. Pulanglah, tantei-san," kata Shiho dingin. Shinichi menatap Shiho dengan intens. Shinichi sangat tahu bahwa walaupun sejak Hakase meninggal gadis itu tidak sedikitpun menangis, tetapi hatinya pasti diselimuti kepedihan. "Menangis tidak membuat orang terlihat lemah, Haibara-san," kata Shinichi berjalan menghampirinya.

"Shinichi!" teriak Ran. Shinichi menoleh dan menghampiri sumber suara itu, "Ada apa, Ran?" Ran melihat sedikit keanehan di sana. "Kenapa Shinichi belum masuk rumah? Kenapa dia menghampiri Miyano-san?" pikirnya. "Handphone-ku sepertinya jatuh di mobilmu," jawab Ran. "Baiklah, kita akan mengambilnya," Shinichi membukakan kunci mobil dan mulai mencarinya bersama.

xxx

Shinichi baru selesai berganti pakaian saat memandang rumah Hakase yang gelap dari kamarnya. Pikirannya kini dipenuhi pertanyaan tentang kondisi Shiho. Gadis bermata seram itu memang tidak menangis sejak Hakase meninggal kemarin, tapi ia tahu bahwa Shiho tidaklah setegar penampilan luarnya. "Ia pasti sangat sedih. Ia sangat menyayangi Hakase dan demikian sebaliknya," pikir Shinichi. Lama ia termenung hingga ia memutuskan untuk pergi ke rumah Hakase.

Ia mengetuk pintu rumah Hakase dua kali. "Haibara-san, apa kau sudah tidur?" tanyanya. Hening, tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pintu, "Tidak terkunci,"

"Haibara-san, aku masuk ya?" tanyanya kali ini sedikit berteriak. "Gelap sekali, apa dia tertidur? Kenapa dia tidak mengunci pintunya?" Ia melangkah pelan-pelan menyusuri tiap bagian rumah besar bercat putih itu. Kepanikan mulai melandanya saat ia tidak menemukan gadis berambut pirang stroberi itu di manapun. "Ruang bawah tanah!" Ruang itu memang sudah selesai diperbaiki oleh Hakase tak lama setelah hancur akibat ledakan bom. Kini Shiho kembali menggunakannya sebagai ruang kerja.

Shinichi menuruni tangga dengan perlahan, tidak ingin menimbulkan suara. Ia khawatir jika Shiho sudah tertidur dan ia malah membangunkannya. Saat mulai mendekati ruang itu, Shinichi mendengar suara isak tangis dari dalam ruangan. Ia membuka pintu yang memang terbuka sedikit dan mendapati gadis itu yang sedang bersimpuh di tengah ruangan memunggungi pintu.

"Hakase... Kenapa kau juga meninggalkanku?" ujar Shiho sambil terus terisak. "Kenapa kematian selalu mendekati kalian saat kalian di dekatku?" tambahnya lagi. Shinichi mematung di ambang pintu, dunianya terasa berputar melihat Shiho menangis. Ini bukan kali pertamanya melihat Shiho menangis, tetapi setiap kali melihatnya menangis, ia dapat merasakan kepedihannya. Bukankah sedikit banyak ia juga selalu turut menjadi penyebab tangisan Shiho?

Pertama kali ia melihat Shiho menangis saat masih sebagai Conan Edogawa dan Ai Haibara. Shiho menangis karena kematian kakaknya saat menyamar sebagai Masami Hirota. Bukankah Akemi meninggal di hadapan Shinichi? "Kalau saja aku bisa memecahkannya lebih cepat," sebuah penyesalan yang tak pernah bisa dilupakan Shinichi.

Kali ini, kematian Hakase. Shinichi memang menyerahkan semua keputusan kepada Haibara, tetapi bukankah Shinichi juga turut bertanggung jawab? Seandainya ia punya pendapat lain, tentu ada peluang Shiho untuk mengikuti pendapatnya dan tidak menyetujui operasi Hakase. Dan sekarang, Hakase tiada karena operasi itu, Shiho pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.

Baby don't cry

I hope you got your head up

"Haibara-san," kata Shinichi pelan sambil melangkah mendekati Shiho.

Shiho's POV

Aku memasuki rumah Hakase dengan berat. Aku rasanya tidak mampu memasuki rumah ini dan tinggal di dalamnya seorang diri. Rumah ini menyimpan terlalu banyak kenangan indah yang kini berbalik menyakitiku.

Hakase... Ia sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Seandainya bertahun-tahun lalu ia tidak memberikan tempat untukku, belum tentu aku bisa ada seperti sekarang ini. Seandainya dulu ia tidak mempertemukanku dengan detektif itu, belum tentu aku bisa membalaskan dendam oneechan dan kedua orangtuaku.

Aku melangkah menyusuri rumah itu, membiarkan tiap memori yang kumiliki meresap hingga ke ulu hati. Aku mencintai setiap kenangan itu, tapi aku membenci rasa sakitnya saat aku sadar bahwa segalanya telah berakhir.

Aku tersenyum memandang pintu kulkas yang penuh dengan memo berisi tulisanku. Kubaca satu-persatu isi memo itu, kubayangkan betapa bosan dan kesalnya Hakase saat melihat catatan-catatan itu. Yah, mengingatkan soal menu diet, daftar sayuran yang harus dikonsumsi, jadwal dan pola makannya. "Kau membencinya ya hingga memilih meninggalkanku?" tanyaku.

Aku melanjutkan menyusuri tiap bagian rumah itu, membuka kembali semua kenanganku sebelum menutupnya rapat-rapat. Kini kuturuni tangga menuju ruang kerjaku di bawah tanah. Tak ada sama sekali tanda-tanda bahwa bagian rumah ini pernah hancur akibat ledakan. Dulu, setiap hari Hakase selalu mengecek para pekerja yang merenovasi rumah ini. Bahkan saat ruangan ini selesai dibangun, Hakase membiarkanku untuk menatanya sesuai seleraku. Ia ingin aku merasa nyaman di rumahnya. "Kau yang pertama kali membuatku merasakan hangatnya cinta seorang ayah, Hakase."

Aku memasuki ruang bawah tanah. Kupandangi deretan foto yang ada di pinggir ruangan, kebanyakan foto-fotoku bersama shonen-meitantei dan Hakase, serta sebuah foto neechan di paling ujung. Ya, mereka semua adalah alasanku untuk tetap hidup. Kini, satu-persatu meninggalkanku, apakah aku masih punya alasan untuk tetap hidup? "Lalu, kenapa aku masih di sini?"

You got find a way to survive

'cause they win when your soul dies

Kuambil salah satu foto terakhirku dengan Hakase. Foto hasil gabungan dari 2 buah foto. Ya, Hakase memaksaku untuk berfoto bersamanya sebelum aku meminum antidot permanen dan ia mengcropnya dengan fotoku saat kembali berwujud Shiho Miyano. Di foto ini seolah ia diapit dua anak perempuan yang kemiripannya mengalahkan kembar identik. Aku tertawa kecil melihatnya, sedikit dipaksakan rasanya.

Wajahnya begitu ceria dan gemuk di foto tersebut, jauh berbeda dengan wajahnya yang terlihat kesakitan dalam memoriku saat ini. Aku memegang foto itu erat-erat dan kuambil sebuah foto lain, foto Hakase bersama shonen-meitantei memamerkan ikan besar hasil pancingan kami. Kebahagiaan terpancar dari setiap wajah yang ada di foto itu. Kebahagiaan yang tidak akan pernah dapat kurasakan lagi karena kini mereka semua meninggalkanku dengan kehidupan mereka yang bahkan tidak bisa kuraih lagi.

"Mengapa takdir begitu membenciku? Mengapa takdir tidak mengizinkanku merasakan kasih sayang lebih lama lagi?" Air mata yang kutahan entah sejak kapan kini mulai membasahi pipiku. Aku memeluk erat kedua foto itu sambil bersimpuh di lantai, aku tidak punya kekuatan lagi selain untuk meluapkan emosi ini. "Hakase... Kenapa kau juga meninggalkanku?" tanyaku terisak.

"Okaa-san, otou-san, oneechan, Hakase... Apakah kalian membenciku hingga meninggalkanku?" Suaraku tercekat. "Kenapa kematian selalu mendekati kalian saat kalian di dekatku?" tambahku lagi.

"Haibara-san," kudengar suara bariton itu mendekat di belakangku.

Tidak! Ia tidak boleh ada di sini. Ia tidak boleh ada di dekatku lagi, ia bisa mati.

"Pergi, Kudo-kun!" teriakku, langkahnya terhenti. "Haibara-san..," katanya lagi.

Aku tidak mau kematian juga merebutnya dari hidupku. Aku tidak mau berbuat kesalahan lagi sebab kini ia satu-satunya yang tersisa dari kepingan kenangan itu. Aku tidak bisa lagi kalau ia juga harus pergi dari kehidupanku. Kalau ia mati, tidak ada artinya lagi kehidupanku ini. Biarlah ia menjalani kehidupan bersama Mouri-san, yang penting aku tetap bisa melihatnya hidup.

"Kau tidak mendengar, Kudo-kun?" Aku berusaha sekuat tenaga untuk terdengar dingin, tapi sepertinya gagal karena nada suaraku bergetar. Tidak sedikitpun aku mendengar langkahnya menjauh. "Pergi dari sini, Kudo-kun!" teriakku. Aku melemparkan salah satu foto di tanganku ke lantai hingga pecah, mengancamnya.

Aku berusaha sekuat tenaga menahan tangis, mengumpulkan tenaga untuk berteriak lagi, memakinya agar segera pergi. Sia-sia... Kini aku merasakan ia begitu dekat di belakangku. "Kau sama sekali tidak salah, Haibara-san," kata detektif itu.

Baby, please stop crying

You know, I know the sun will always shine

Aku berbalik. Mendorongnya menjauh sambil berteriak-teriak, "Pergi! Pergilah, Kudo-kun! Tinggalkan aku! Pergilah dari hidupku!" Ia menahan doronganku, menahannya sekuat tenaga dengan seluruh tubuhnya. Aku terus berusaha mengusirnya sambil terus menangis dan mendorongnya keluar. "Pergilah, Kudo-kun!" Kali ini aku menamparnya sekuat tenaga sementara air mata sudah membanjiri wajahku.

Ia tetap tidak bergeming, tangannya malah menahan pundakku. Aku meronta, memukul-mukuli tubuhnya dengan kedua tanganku sambil memaki-maki. "Kau bodoh! Detektif bodoh! Tinggalkan aku sendiri! Bodoh, bodoh, bodoh! Jauhi aku!" teriakku berulang-ulang sambil terus menangis, meronta dan memukulinya hingga aku lelah.

Aku berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Menyerah dengan segala kekerasan ini untuk mengusirnya. "Kumohon–," kataku pelan, "–pergilah dari sini."

Ia tidak beranjak dari tempatnya, yang kurasa kali ini malah kedua tangannya menarikku ke dalam pelukannya. "Mengapa kau berusaha mendorongku dari hidupmu?" tanyanya dengan sangat pelan. Sebelah tangannya di kepalaku, membelai rambutku.

"Aku–" Aku tidak mampu melanjutkan kata-kata itu. Aku kembali menangis, kali ini di pelukannya. "Aku tidak mau kematian juga merenggutmu, Kudo-kun," kataku terisak dan kembali menangis. Saat itu kurasakan belaiannya terhenti. Ada yang salah dengan kata-kataku? Aku tidak peduli. Aku akan menggunakan segala cara untuk mengusirnya dari sini, dari hidupku.

Kupikir kali ini ia akan benar-benar pergi saat sebelah tangannya menjauh dari kepalaku. Sebaliknya, ia malah memelukku dengan kedua tangannya. Sangat erat. "Kumohon, pergilah," kataku lagi sambil terus menangis dan kembali mencoba mendorongnya. "Mengapa kini kau mencoba mengusir takdir itu? Dengan cara apapun, kita tetap tidak bisa mengubahnya, Haibara-san," katanya di telingaku. "Kita hanya bisa menjalaninya sambil terus menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya, tanpa bisa menghindarinya," lanjutnya. Aku kembali mendorongnya menjauh, akan tetapi kurasakan dekapannya semakin erat. "Terimalah itu sebagai hal yang tak terpisahkan dari hidupmu. Jalanilah itu, sebab kau tidak pernah tahu apa yang menunggumu di ujung perjalanan hingga kau tiba di sana," tambahnya lagi.

Aku kembali memukulinya dengan sekuat tenaga yang kubisa, pelukannya malah semakin erat. Aku berhenti dan menangis sejadi-jadinya. "Aku tidak peduli, Haibara-san. Sekeras apapun kau memaki, sekuat apapun kau memukuliku, seberapa besar pun usahamu mendorongku menjauh, aku tidak peduli. Aku akan tetap bersamamu, memegang janjiku untuk melindungimu," katanya sambil terus memelukku erat. Mungkin memang sudah takdirku untuk melihat kematiannya jika ia tidak mau pergi dari sisiku. Mungkin takdirku untuk meratapi nasib seorang diri saat ia juga pergi menyusul orang-orang yang kucintai.

- End of Shiho's POV

Shinichi's POV

So baby, please stop crying

'Cause it's tearing up my mind

Even though it wasn't me, I could feel the grief

Sudah lebih dari 5 menit pukulannya berhenti. Nafasnya pun sudah mulai teratur, tanpa isak tangis. "Sepertinya ia tertidur," pikirku. Aku membopongnya hati-hati menaiki tangga dan membawanya ke kamar tidurnya. Kubaringkan ia di ranjang dan kuselimuti dengan sangat hati-hati. Aku melihat wajahnya yang tertidur pulas, kelelahan, baik secara fisik maupun mental. "Kau tidak akan sendirian, Haibara-san," kataku pelan. Aku membelai rambutnya, menyeka sisa-sisa air mata di wajahnya, dan berjalan meninggalkan kamar itu. Aku tidak mau ia terbangun dan memukuliku lagi, aku tidak bisa menghindarinya pukulannya seperti karate Ran dan rasanya sangat menyakitkan.

Aku memutuskan untuk turun dan menonton TV. Sebelumnya aku ke dapur dan mencari kalau-kalau masih ada snack tersisa. Kalau bisa dibilang beruntung, aku menemukan keripik rendah lemak sisa Hakase di lemari dan dua bungkus biskuit yang masih utuh. Aku sedang membawanya ke ruang utama saat kudengar suara benturan dari deretan rak buku dekat tangga ke ruang bawah tanah. "Ng, Haibara-san?" kataku. Aku mengurungkan niat untuk mengecek saat kudengar suara Haibara terbatuk dari kamarnya di atas. Kunyalakan TV dan kuputuskan untuk menghabiskan malam itu di depannya.

- End of Shinichi's POV

to be continued...