Dear para readers, ogenkidesuka? Finally kita akan memasuki bagian akhir dari chapter 6! Apakah kalian suka dengan part pertamanya? Hehe. Apa ada yang bingung? Kayaknya banyak ya hoho maaf kalau author kurang pandai dalam memainkan kata-kata (apasih, mulai ngelantur). Atau ada yang tersentuh dengan scene ShinShi kemarin? Author sepertinya mencurahkan hampir seluruh kemampuan author untuk bikin chapter 6 ini dan maaf kalau belum bisa memenuhi ekspektasi readers soal scene ShinShi yang wow banget huhu...

Arigatou untuk semua review yang masuk baik di kolom review maupun PM hehe. We are all ShinShi lovers, that's why kita baca fanfic dengan pairing ini dan bikin fanfic tentang pairing ini juga di fandom DC. Buat author, ShinShi/CoAi itu sesuatu banget. Salah satu scene yang paling author suka di movie Quarters of Silence pas Haibara marahin shonen meitantei waktu mereka dikejar dan ditembakin pelakunya. Abis Haibara selesai marahin, Conan dateng dan marahin mereka juga dengan kata-kata yang udah diucapin Haibara sebelumnya. Dari situ, author ngebayangin gimana mereka kalau udah balik jd ShinShi dan sama2 ngebesarin anak... Jd punya gambarannya gitu kalo mereka bisa jd ortu yang baik buat anak2 mereka nanti haha..

Oke, balik ke fic ini! Jadi, apakah readers sudah bisa menebak siapa Irene Adler dalam kisah ini? Shiho atau Ran? Hahahaha, atau masih bingung? Tenang saja, di part kedua ini kita akan mendapat pengakuan siapa sebenarnya Irene Adler itu. Lho? Pengakuan? Iya, salah satu dari Ran dan Shiho akhirnya akan ngaku kalau dialah Irene Adler-nya dalam kisah dengan Shinichi. Kenapa gitu?

Terus, kalau kemarin readers udah dapet clue siapa yang kira-kira bakal dipilih Shinichi, sesuai janji author pada chapter ini akan dibahas tentang kebenaran yang tertunda di S1. Udah ada yang inget kebenaran apa yang tertunda? Bagian mana yang sengaja author gantung di Ch. 4 season 1 waktu itu? Hehe... Dan, apakah ada readers yang penasaran suara aneh apa yang didengar Shinichi di rumah Hakase? Apakah jangan-jangan ada yang menguping pembicaraan mereka?

Daripada penasaran, langsung aja check it out! Chapter 6B of Akhir Penantian(?) S2. Enjoy it and please review!


I don't own Detective Conan

All characters belong to © Gosho, Aoyama

CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series

AKHIR PENANTIAN(?) S2


CHAPTER 6B

The Truth is ... – 2

Relationship (love) is about give and give, not give and take.

Unknown

Ran's POV

Aku pulang ke rumah tanpa bisa melepaskan pikiranku tentang Shinichi. Mengapa ia tidak masuk ke rumah juga? Untuk apa dia tetap di luar berdua dengan Miyano-san?

"Okaa-san, bagaimana kalau aku berbelanja saja untuk bahan makan malam?" tanyaku pada Okaa-san. Aku sedang berusaha mencari alasan untuk keluar rumah dalam jangka waktu lama. Aku penasaran sekaligus khawatir –kalau bisa dibilang– dengan Shinichi. "Benarkah tidak apa-apa? Mau kutemani?" tanya Okaa-san. "Tidak perlu, aku bukan gadis kecil lagi," jawabku dengan nada riang.

Aku bergegas menuju ke rumah Shinichi. Ya, rumah Shinichi, aku akan berpura-pura ingin mengambil barangku yang masih tertinggal di mobilnya–itupun jika ia tidak sedang bersama Miyano-san. Aku menekan bel beberapa kali, tidak ada jawaban. Pintu rumah terkunci dan tidak terlihat lampu yang menyala di bagian dalam rumah. "Apa dia sudah tidur?" pikirku. Kemudian aku melirik ke rumah Hakase, segala hal yang tidak-tidak melintasi pikiranku. "Apa mungkin?" Aku melangkahkan kakiku ke rumah sebelah. "Maafkan aku, Hakase. Aku tidak bermaksud berpikiran negatif tentang rumahmu."

Aku masuk ke pekarangan dan pintu rumah itu terkunci. "Tidak mungkin tidak dikunci, Ran. Cobalah berpikir!" Aku teringat dengan pintu rahasia di bawah tanah. Aku menuju ke jalan masuknya, berharap aku bisa masuk melalui pintu itu. Gelap memang, tapi aku harus mengalahkan rasa takutku ini untuk mengalahkan ketakutanku yang lain tentang Shinichi. Pintu ini tidak terkunci, sepertinya ini memang hari keberuntunganku. "Tapi jika dugaanku salah, aku benar-benar akan merasa bersalah padanya."

Tanganku memutar kenop pintu itu dan aku masuk ke dalamnya. Beruntung ada beberapa lampu kecil yang menerangi lorong itu. Aku melangkahkan kakiku perlahan, tidak ingin seorangpun yang ada di dalam tahu keberadaanku.

Tidak ada orang saat aku tiba di ruang utama. Saat aku hendak melangkah lebih jauh, suara langkah seseorang mengagetkanku. Aku segera bersembunyi di deretan rak buku, memudahkanku untuk lari juga nantinya karena dekat dengan tangga ruang bawah tanah.

"Siapapun dia, semoga ia tidak menyadariku" sambil berharap bahwa sosok yang kulihat selanjutnya bukan Shinichi. Tapi siapa lagi kalau bukan Shinichi? Suara langkah itu terlalu berat untuk Miyano-san. Leherku bergidik membayangkan jika itu suara arwah, roh, hantu atau semacamnya. Sial! Aku lupa kalau hari ini Hakase baru saja dimakamkan. Aku menundukkan kepalaku serendah yang aku bisa, aku tidak mau melihat ke arah sumber suara langkah kaki itu. Sialnya siku tanganku membentur rak. Duk!

"Ng, Haibara-san?" kata si empunya langkah kaki itu. Aku sangat mengenal suaranya! Itu Shinichi! Sedang apa ia di sini? Tapi, tunggu dulu! Haibara-san? Bukankah itu teman Conan-kun? Segala bentuk analisis – kalau bisa disebut – berserakan di otakku. Aku mencoba merangkainya menjadi satu, tapi itu bukan kemampuanku. Aku memutuskan untuk mengamati keadaan lebih dulu.

For months on end, I've had my doubts

Denying every tear

I wish this would be over now

xxx

Memata-matai memang bukan kegiatan menyenangkan. Sudah hampir 3 jam Shinichi hanya duduk menonton TV, aku sudah mengirim e-mail ke Okaa-san dan Otou-san untuk tidak menungguku dengan alasan Sonoko mengajakku makan malam. Aku hampir saja tertidur saat kudengar suara langkah kaki dari atas, kali ini suaranya tidak seberat milik Shinichi.

"Kenapa kau masih di sini, Kudo-kun?" tanya seorang wanita. "Itu pasti Miyano-san!"

"Ng, apa tidak boleh?" jawab Shinichi. "Apa Shinichi memaksa tinggal?"

"Seingatku, aku tidak meminta kau ke sini," jawab Miyano-san dengan nada sarkastiknya, seperti biasa. Aku merasa sedikit lega karena Miyano-san bersikap begitu ke Shinichi. Tapi, apa alasan Shinichi untuk tetap di sini?

Miyano-san terus menuruni tangga. Aku khawatir ia akan mengarah ke tempatku, tapi ternyata tidak. Ia mengarah ke pantry, mengambil cangkir sepertinya. "Dan seingatku, aku sudah mengusirmu lebih dari lima kali sejak kau masuk seenaknya ke sini," kata Miyano-san lagi, ketus. "Shinichi menyelinap masuk?" Emosiku hampir mengalahkan logika, aku harus menahannya kalau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

"Biasanya kau tidak pernah mempertanyakan kalau aku tiba-tiba sudah di rumah Hakase," jawab Shinichi ringan. "Aku hanya mengkhawatirkanmu," tambahnya lagi. "Apa?" UH, rasanya aku benar-benar ingin menghajarnya.

"Manis sekali, Kudo-kun, tapi aku tidak membutuhkannya," jawab Miyano-san masih dengan nada ketusnya. "Kenapa panggilan itu terasa tidak asing di telingaku?"

"Kenapa kau seperti itu?" tanya Shinichi sambil beranjak dari tempat duduknya. "Satu meter lagi lebih dekat kau akan mati, Shinichi."

"Aku sudah berjanji untuk melindungimu, bukankah sudah sewajarnya aku khawatir jika kau terlihat tidak baik-baik saja," Shinichi sedang mengelak. "Melindungi? Apa maksudnya?" Mataku mulai panas, seperti hatiku. "Siapa yang perlu dilindungi?" tanya Miyano-san lagi, sepertinya dia sedang menyeduh kopi, aku bisa mencium aromanya. "Ini bukan lagi masa lalu, Kudo-kun–" Ia menghentikan aktivitasnya dan berbalik menatap Shinichi, "–aku bukan lagi gadis yang perlu dilindungi."

"Benar, organisasi itu sudah hancur, tapi apakah mereka satu-satunya ancaman di dunia ini?" kata Shinichi lagi. "Uh, kau terlalu berlebihan. Biar kuperjelas–" kini giliran Miyano-san yang mendekat ke Shinichi. "–Conan Edogawa pernah berjanji untuk melindungi Ai Haibara apapun yang terjadi. Kini, Conan Edogawa sudah kembali menjadi Shinichi Kudo, begitupun Ai Haibara menikmati hidupnya sebagai Shiho Miyano." Aku shock. Dugaanku sejak 3 tahun lalu memang benar. Aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Ia sudah membohongiku sejak pertama kali bertemu, Ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia selalu ada di sana, dalam wujud bocah kecil itu – dan bersama Shiho Miyano, selama masa-masa itu.

You and me, we made a vow

For better or for worse

I can't believe you let me down

But the proof is in the way it hurts

"Apa maksudmu?" kini suara Shinichi mulai terdengar tidak jelas karena aku menangis. "Masih belum jelas juga? Janjimu sudah terpenuhi dan sudah usai sejak Ai Haibara kembali menjadi Shiho Miyano. Kau tidak perlu lagi melindunginya, berada di dekatnya." Aku tidak mampu lagi melihat mereka, bahkan mendengarkannya saja menyayat hatiku. "Kau masih belum paham? Atau kau memang menderita sindrom hero-complex? Kalau boleh aku sarankan, kau punya tugas lebih baik dibanding terus berusaha melindungiku. Lebih baik kau mengurus kekasihmu itu, Mouri-san," kata Miyano-san lagi.

"Kenapa kini dia membawa-bawa namaku? Huh, tapi boleh juga, kita lihat reaksi Shinichi." Shinichi masih terdiam. "Pergilah, Kudo-kun, pergilah dari sini–" seru Miyano-san. "–dan dari hidupku." Tapi sepertinya Shinichi memang keras kepala, "Kalau begitu, aku akan berusaha agar tidak semudah itu bagi kematian untuk menjemputku."

Plak! "Sebuah tamparan. Siapa?"

"Apa menurutmu kematian mereka semudah itu? Apa menurutmu itu semua tidak berarti apa-apa? Mengapa kau begitu keras kepala? Kupikir kau sudah berubah, Kudo-kun. Padahal Hakase sangat membanggakan perubahan pada dirimu, begitu pula Yukiko-nee. Berhentilah menjemput bahaya ke hidupmu, kau tidak tahu betapa orangtuamu mengkhawatirkanmu."

"Aku sudah bilang, Haibara-san, aku tidak peduli," jawab Shinichi ngotot. "Kau tidak ingin aku mati? Berhentilah berusaha mendorongku menjauh dari hidupmu dan tahu apa kau tentang orangtuaku? Berhentilah beranggapan kau tahu semua tentangku," kali ini Shinichi yang membentak.

"Yukiko-nee," kata Miyano-san, "Yukiko-nee mengkhawatirkanmu, Kudo-kun. Ia memintaku berjanji untuk melindungimu." Shinichi sama terperanjatnya dengan aku. "Yukiko-sama meminta Miyano-san melindungi Shinichi? Kenapa ia tidak pernah memintaku?"

"Kalau berada di dekatku justru membuatmu dekat dengan kematian, bagaimana aku bisa memenuhi janjiku kepada ibumu?" kali ini suara Miyano-san tercekat, menahan tangis. Hening kemudian. Tak lama aku mendengar Shinichi berbicara, "Kau akan membantuku untuk tetap hidup, Haibara. So, go on protecting me–"

"–and I'll keep protecting you like I did before."

Aku tak bisa berhenti menangis saat itu, bahkan aku sudah tidak peduli jika mereka menyadari keberadaanku. Aku tidak sanggup mengetahui itu semua. Mengetahui bahwa selama ini Shinichi yang kurasa jauh ternyata begitu dekat sebagai Conan Edogawa yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Mengetahui bahwa Miyano-san selama ini selalu bersamanya dalam wujud anak kecil itu. Mengetahui bagaimana ia membohongiku sementara Miyano-san mengetahui segala kebenarannya. Sebenarnya siapa aku ini untuk Shinichi?

Aku melangkahkan kakiku dengan berat menuju tangga ke bawah tanah saat aku tidak mendengar suara lagi di rumah itu, TV sudah dimatikan. Saat kulihat mereka berdua terlelap di sofa depan TV, aku segera memalingkan mukaku dan bergegas menuruni tangga itu. "Jadi jika dia adalah Holmes, akulah Irene Adler-nya ya?" senyumku pahit.

I have loved you for many years

May be I am just not enough

You've made me realise my deepest fear

- End of Ran's POV

Keesokannya Shinichi terbangun dengan Shiho berada dalam rangkulannya, di sebelahnya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Shiho saat terbangun. "Uh, tidak," kata Shinichi panik sambil menjauh. "Pulanglah, Kudo-kun," perintah Shiho. Shinichi masih tidak bergeming dari tempatnya. "Pulanglah, kau harus bersiap-siap untuk bertugas," tambahnya lagi. Shinichi mengambil langkah keluar saat Shiho kembali berseru, "Tunggu!"

"Apasih, tadi dia mengusirku," pikir Shinichi. "Jangan lupakan ini," kata Shiho seraya menyodorkan jaket Shinichi yang semalaman membungkus tubuhnya yang gemetar karena menangis. Shiho langsung membuang muka dan berbalik setelah memberikan jaket itu, tidak ingin Shinichi menatapnya. "Hei–" kata Shinichi tanpa menghiraukan Shiho yang terus melangkah. "–jangan terlalu sering menangis. Air mata itu tidak cocok untuk wajahmu yang menyeramkan," Shinichi nyengir. "Bodoh," Shiho mempercepat langkahnya sementara rona wajahnya semakin memerah.

xxx

Beberapa hari kemudian Shinichi menyadari sesuatu yang aneh. Ia memutuskan untuk mencari saran dari beberapa orang tentang apa yang ia rasakan. "Sato-san, ada waktu?" tanya Shinichi di sela-sela makan siang. "Apapun untuk anak buahku," Sato dan Shinichi sama-sama nyengir.

"Ada apa, Shinichi-kun?" kata Sato saat mereka menyusuri koridor. "Apa kau memberitahu Ran kalau waktu itu aku hampir tertembak?" tanya Shinichi. Sato hanya menengok ke Shinichi dengan ekspresi tersirat. "Kuanggap itu tidak," kata Shinichi lagi. "Memangnya kenapa, Shinichi-kun?" tanya Sato penasaran. "Tidak, aku merasa ia berubah. Belakangan aku merasa ia jadi overprotektif, memintaku untuk ini-itu dalam bertugas, mengurangi jam kerjaku–" Shinichi menatap kosong ke atas, "–tapi kadang ia bisa bersikap cuek seolah aku tidak ada."

"Hmm, wanita memang seperti itu," jawab Sato. "Kau juga wanita kan?" pikir Shinichi dengan wajah sweatdrop. "Tapi, itu aneh untuk ukuran Ran-san. Dia bukan tipe yang hiperbolis seperti itu kan?" tambah Sato. Shinichi mengangguk.

"Mungkin dia hanya khawatir kau direbut wanita lain," goda Sato. "Wanita lain mana?" Shinichi memalingkan mukanya. "Oh, ayolah, kurasa kau juga mengerti. Kalau tidak, kau tidak akan membuang muka seperti itu," goda Sato lagi. "Aku tidak mengerti," Shinichi memasang pokerface.

"Kau takut akan ada rivalitas antara Ran-san dan Shiho-kun?" tanya Sato lagi. Shinichi menatap wajah atasannya itu dengan bingung, "Kenapa dia mengaitkan dengan Haibara-san?"

"Shiho-kun bukan tipe seperti itu, Kudo-kun. Kau tidak perlu khawatir." Kata Sato. "Seharusnya kau mengkhawatirkan hatimu sendiri," tambah Sato tanpa Shinichi sempat memotongnya. Shinichi kembali memandang Sato bingung. "Kau harus mulai belajar membedakan cinta pertama dan cinta sejati," jawab Sato lagi.

"Aku akan memberikanmu sedikit petunjuk," kata Sato. Wajah Shinichi sumringah saat Sato akhirnya mulai memberi saran, "Ini tentang give and give, cinta tidak pernah menuntut selama ia tidak memberikan apa yang kau butuhkan. Love provides, dia menyediakan apa yang kau butuhkan dan melengkapi apa yang kau perlukan," Shinichi mencerna tiap kata, tetapi sepertinya sulit bagi seorang pemikir kasus untuk memecahkan misteri tentang cinta. "Cinta tidak bisa dipecahkan dengan analisis dan pendekatan ilmiah seperti yang kalian lakukan, itu membutuhkan perasaan."

Shinichi mulai memberi isyarat bahwa ia tidak mengerti. Sato hanya tersenyum, "Kuberikan contoh, bagaimana kau menyembunyikan dari Ran-san perihal dirimu yang hampir tertembak. Kau takut Ran-san akan menyuruhmu untuk menghindari bahaya, menyuruhmu berhenti mengejar kejahatan, hal yang paling kau sukai–," Sato mengambil nafas sebentar. "–sementara Shiho memintaku untuk melatihnya menjadi detektif polisi. Tanpa ia memberitahu alasannya, aku bisa menerka bahwa ia ingin mempunyai daya untuk melindungimu. Minimal membackup-mu saat kau melakukan hal yang kau suka sekalipun itu berbahaya, bukan malah mencegahmu."

Shinichi tampak tidak terkejut. "Kau tidak terkejut? Apa kau diam-diam sudah tahu soal Shiho-kun dan karena itu mengkhawatirkannya?" tanya Sato menyelidik. "Kau tidak memberi contoh, Sato-san. Kau terlihat memihak," kilah Shinichi sinis. "Aku tidak suka basa-basi, Shinichi-kun, semoga kau bisa memikirkannya matang-matang sebelum memutuskan langkah selanjutnya," jawab Sato lagi sambil mengangkat salah satu tangannya dan berjalan mendahului Shinichi.

xxx

Hari selanjutnya, Shinichi kedatangan tamu jauh. Tepukan di punggung itu mengagetkan Shinichi yang sedang menyantap makan siangnya. "Apa-apaan?" tanyanya kesal kepada yang menepuk–memukulnya mungkin lebih tepat. "Begitukah caramu menyambut teman yang sudah jauh-jauh datang?" tanya Heiji kesal. "Begitukah caramu menyapa teman?" tanya Shinichi tidak kalah kesal.

"Hahahahaha, gomen... Kau terlihat semangat sekali sih menyantap kotak bekal itu. Seenak itukah?" tanya Heiji. "Ini memang enak, coba saja," kata Shinichi sambil menyodorkannya. "Ummm. Benar sekali! Ini buatan istrimu itu?" tanya Heiji sambil terus menyuapkan ke mulutnya.

"Sudah, jangan dihabiskan, aku belum sempat sarapan tadi pagi," kata Shinichi menggerutu, "Dan itu bukan buatan Ran." Heiji sedikit kaget, "Bukan? Lalu siapa? Apa temanmu yang berwajah seram itu?"

"Maaf kalau wajahku memang seram, tapi apa itu membuatku terlihat tidak bisa memasak, bocah Osaka?" tanya Shiho yang kini sudah di belakang Heiji. Heiji hampir saja melompat ketakutan mendengar suara itu. "Si-siapa kakak ini?" tanyanya. "Jangan membuat tamuku takut, Haibara-san," kata Shinichi menenangkan.

"Di-dia?" tanya Heiji lagi. "Ya, teman Kudo-kun yang berwajah seram," jawab Shiho sinis. Heiji kini tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Shiho, memandanginya dari atas sampai bawah. Dia terpana. Gadis kecil berwajah seram itu kini telah bermetamorfosa menjadi gadis muda yang sangat cantik dengan paras blasterannya, melebihi kecantikan gadis Jepang pada umumnya. Rambut kepirangannya yang akan memerah jika terkena cahaya benar-benar cocok dengan wajah orientalnya. "Ya, dia Shiho Miyano, kakak di rumah Hakase itu," jawab Shinichi kembali menyantap kotak bekalnya. "Hei, Hattori?" panggil Shinichi karena tidak mendapat respon.

"Pervert!" kata Shiho seraya melayangkan pukulan ke wajah Heiji dan kini meninggalkan mereka.

"Kau sih... Dia tidak suka ditatap seperti itu," kata Shinichi kepada Heiji dengan sweatdrop. Heiji hanya memegang wajahnya yang kesakitan.

"Jadi, dia membuatkanmu bekal itu?" tanya Heiji yang kini menemani Shinichi menuju ke TKP suatu kasus. "Tidak, dia membuatkan untuk Sato-san yang kemudian memberikannya kepadaku," jawab Shinichi sambil terus berkonsentrasi menyetir. "Dia terlihat berbeda," kata Heiji. "Cantik maksudmu?" tanya Shinichi tidak peduli.

"Ayolah, kau mengerti maksudku," Heiji nyengir. "Akan kulaporkan pada Kazuha," kata Shinichi. Heiji terdiam mendengar Shinichi menyebut nama Kazuha. Shinichi menyadari keanehan sahabatnya itu, "Jangan bilang kau..."

"Tidak... Hahahahahaha. Kau tertipu!" Heiji terbahak. "Jadi, apa maksudmu seperti itu?" tanya Shinichi. "Sejak kapan kau jadi pengadu? Aku kan hanya menyinggung sedikit tentang gadis itu," goda Heiji. "Kau seperti terlihat tidak suka," lanjutnya lagi.

"Kau ingin membicarakan tentang dia?" tanya Heiji serius. "Bukan, tapi Ran," jawab Shinichi. "Aku mendengarkan," Heiji menatap lurus ke depan.

xxx

"Dia cemburu?" potong Heiji. "Kurasa dia bukan tipe seperti itu," bantah Shinichi. "Tapi terdengar seperti itu, apa kau terlalu dekat dengan Miyano-san?" tanya Heiji lagi. "Pekerjaan memaksa, Hattori," kilah Shinichi. "Kau sendiri bagaimana?" tanya Heiji dengan tatapan intens ke arah Shinichi. "Kenapa kau menatapku seperti itu?" Shinichi terganggu. "Ayolah...," bujuk Heiji.

"Entahlah," jawab Shinichi setelah hening beberapa saat. "Ran memintaku menjadi kekasihnya sejak 3 tahun lalu, aku menerimanya dengan ragu. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku ragu saat itu. Kini, aku tetap kekasih Ran, aku bahagia, tapi...," jelas Shinichi. "Kudengar kau meninggalkan Ran di lokasi sasaran bom untuk mencari gadis itu," kata Heiji. "Dari mana?" tanya Shinichi penasaran.

"Inpektur Shiratori menceritakan saat ia menyapaku tadi bersama Sato-san, mereka membicarakan hubungan kalian juga. Ia juga bilang bahwa kakak itu sebelumnya pernah ditahan," jawab Heiji tenang. Shinichi terkejut dengan pernyataan sahabatnya barusan, "Ditahan?"

"3 tahun lalu, namanya ada di database organisasi itu dan hampir menjadi buronan sebelum ia menyerahkan diri. Kudengar kedua orangtuamu yang membebaskannya," Heiji menghentikan penjelasannya untuk melihat reaksi Shinichi. "Wajar saja kau tidak tahu, Sato-san bilang tadi kalau Miyano-san meminta merahasiakannya darimu. Menurutku itu tepat saat kita bertemu di Kyoto, saat kau sedang study tour dengan Ran dan teman-teman SMA-mu. Sato-san menyinggung soal tidak ingin merusak kebahagiaan seseorang. Kupikir informasi itu akan sedikit membantu kau menganalisis isi hatimu sendiri," ia melanjutkan.

"Apa yang kau rasakan?" tanya Heiji lagi. "Maksudmu?" Shinichi balik bertanya, bingung. "Selama menjalani dengan Ran-san," Heiji memperjelas pertanyaannya. "Perlukah aku menceritakannya?" Shinichi sinis. "Untuk apa lagi aku mau jauh-jauh ke sini, kecuali kalau kau bisa sendirian menganalisis hatimu," jawab Heiji mulai kesal.

"Awalnya terasa begitu indah dan aku bahagia, aku merasa kembali ke masa lalu. Tetapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa tetap ada satu kekosongan di hatiku yang tidak terisi. Bukankah itu aneh? Kau ada bersama dengan gadis yang kau idamkan, yang kau pikir kau cintai, tapi kau tetap merasa hampa?" Shinichi terdiam sejenak kemudian melanjutkan, "Belakangan ini kami jadi sering bertengkar, bahkan untuk hal-hal sepele. Tapi bukan pertengkaran biasa seperti dulu, aku merasa Ran meluapkan banyak emosinya dalam tiap pertengkaran kini. Ia juga jadi overprotektif, membatasi kegiatanku dan semakin banyak menuntut,"

"Meluapkan emosi seperti mengeluarkan apa yang dipendam?"

"Ya, seperti itu," jawab Shinichi pelan. "Aku melihat banyak pemberitaanmu dengan kakak itu, mungkin dia memang cemburu," Heiji menerangkan. "Tapi, kalian memang terlihat cocok satu sama lain," masih dengan nada serius Heiji, Shinichi mengernyitkan alis memandang Heiji tidak setuju. "Hei, aku serius, bukankah kalian dijuluki Holmes dan Watson-nya Tokyo?" kata Heiji.

"Kau sama sekali tidak membantu," kata Shinichi kesal. "Bagaimana dengan Miyano-san? Kau senang melihat kondisinya sekarang? Kau sempat mengkhawatirkannya," tanya Heiji beralih. Shinichi sempat terdiam lagi, "Ya, dia jauh lebih baik sekarang walaupun tetap sinis dan masih terlihat sedih, apalagi setelah kematian Hakase."

"Bagiku ia tetap seperti sebuah kotak misteri yang sulit terungkap, ketika aku merasa tahu isinya, ia menunjukkan sisi lain yang bahkan jauh di luar dugaanku," lanjutnya. "Ia tetaplah gadis yang menjalani hidup dengan beban, Hattori. Ia benar-benar seorang diri setelah kematian Hakase, ia bahkan sempat mendorongku keluar dari hidupnya," terangnya lagi.

"Mendorongmu? Secara harafiah?" Heiji penasaran. "Ya dan tidak. Tidak karena maksudnya ia ingin aku menjauh dari kehidupannya, ya karena dia terus menerus mendorong dan memukuliku agar segera pergi, seluruh badanku sakit hingga beberapa hari setelahnya," curhat Shinichi. "Ceritakan lebih lanjut," Heiji makin penasaran.

xxx

"Aku tidak mengerti, kalau kau menyukai Ran, mengapa kau terdengar lebih peduli pada Miyano-san? Apa kau mencintai keduanya?" Heiji bingung setelah Shinichi selesai bercerita.

"Ini tidak semudah memecahkan kasus. Ran adalah teman masa kecilku, tapi Miyano-san... Ia memberikanku kehidupan kedua yang menyadarkanku tentang arti kehidupan sesungguhnya." Jawab Shinichi lagi lemah.

"Bukankah dia juga teman masa kecilmu? Selama menjadi Conan maksudku. 1-1 untuk keduanya," kata Heiji santai. Shinichi sekali lagi hanya mengernyitkan kedua alisnya melihat Heiji. "Kau pasti tahu mana yang mempunyai peran dan pengaruh lebih besar bagi hidupmu. Seseorang yang saat kau kehilangannya maka kau merasa duniamu juga ikut hancur dalam sekejap. Seseorang yang selalu ingin kau lindungi di atas segalanya, bahkan jika harus mengorbankan nyawamu sendiri," terang Heiji lagi.

"Juga seseorang yang rela melakukan hal yang sama bagiku?" sahut Shinichi. Heiji tertawa, "Kau sudah mengetahui jawabannya, Kudo," jawabnya tersenyum. Shinichi menampakkan ekspresi bingung. "Kau sudah punya jawabannya, hanya kau takut mengakuinya," jelas Heiji lagi. Shinichi masih bingung. "Kau sangat tahu bahwa kau tidak bisa mencintai keduanya di saat bersamaan," Heiji menambahkan. "Masalahnya ada di dirimu, kau hanya takut keputusanmu akan melukai salah satunya," jelasnya lagi.

Heiji memutar pad topinya ke depan. "Mari kita sudahi ini dan melakukan analisis sesungguhnya. Satu pesanku, kuharap saat waktunya tiba kau sudah bisa memutuskan dengan bijak," tutup Heiji sambil turun menuju TKP.

to be continued...