Konnichiwa! Author terharu ngeliat traffic sm review fanfic ini ternyata udah ngalahin musim pertamanya! Thank you so so so much utk semua readers dan reviewers yang setia sampai sejauh ini, sampai dua chapter terakhir di musim kedua ini. Terima kasih utk segala supportnya, doakan saja stlh ini selesai author bs menghasilkan story-story lain hehe
Anyway, di chapter selanjutnya nanti seperti yg pernah author bilang, mungkin secara rating harusnya sedikit naik, tp karena setelah author intip fic2 lain ternyata author masih bisa tolerir utk pertahanin ratingnya (lholho kok bikin standar sendiri?) Jadi, kalau yg gasuka scene2 lemon dikit gitu ya chapter ini bakal jd chapter terakhir hoho. Jangan khawatir, chapter selanjutnya cuma epilog kok karena di chapter ini sebenernya udah bisa dibilang ending hehe. Tenang saja, saya janjikan happy ending bahkan untuk pihak yg ditolak Shinichi(?), tapi happy ending utk pihak yg ditolak baru akan author munculkan di chapter epilog ahahahaha. Yah, di chapter ini author kasih clue-clue pasangannya siapa deh hohoho
Oke, saya mnt maaf kalo berasa OOC di chapter sebelumnya utk bbrp karakter tapii... people changes right? (ngeles wkwk) Siapa tau kalo Shiho jd lebih terbuka ttg perasaannya, Shinichi atau Heiji bs jd lebih peka? Wkwk... Di sini, Shinichi jg sebenernya author coba sedikit kurangin kesombongannya karena apa yg udah dia laluin sebagai Conan banyak mengubah dia hehe. Buktinya? Shinichi setuju utk ngajak bicara Ran duluan walau mereka lg berantem, pdhl Shinichi kan mana mau ngakuin klo dia salah (sotoy)
Yah, di chapter kemarin author sengaja bikin dua2nya sedih, baik Ran atau Shiho. Author mencoba adil karena setelah ini msg2 akan mendapat kebahagiaannya, walau kebahagiaan itu tidak selalu seperti yang mereka bayangkan. Rasanya, Gosho-sensei jg pasti akan ngasih kebahagiaan utk semua karakter di DC, ya toh? Dan lagi, walaupun author emg kurang suka sm Ran yg 'begitu' tp pd dasarnya dia pny lebih banyak hal2 baik dibanding kejelekan karakternya itu hoho. Jd, gaada salahnya memberi kebahagiaan utk keduanya kan?
Di chapter ini, akan ada titik balik dari apa yg terjadi di chapter sebelumnya. Titik balik seperti apa? Pokoknya ini tentang perasaan Shinichi deh. Dan! Tidak akan ada lagi rahasia antara Shinichi dan Ran. Maksudnya? Penasaran? Yosh, langsung aja ke TKP! Happy reading and please review!
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 8
The Turningpoint
Once you make a decision, the universe conspires to make it happen.
Ralph W. Emerson
Markas Tokyo Metropolitan Police Department hari ini tidak seramai biasanya, termasuk ruang Divisi Kejahatan Kekerasan. Semuanya sedang bertugas di lapangan menangani kasus. Hanya saja hari ini ada sedikit yang berbeda, seorang sersan muda hanya duduk seharian di mejanya, meskipun banyak yang mengajaknya keluar menangani kasus atau sekadar makan siang, ia selalu menolak.
Kepala Shiho rasanya mau pecah. Ia tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya sejak bangun tadi pagi. Ia juga tidak tahu mengapa ini bisa merusak moodnya seharian. Shiho bahkan menolak beberapa ajakan rekan-rekannya dengan nada tinggi, termasuk saat Takagi tadi langsung menjauh dengan wajah pucat setelah ia bentak. "Huuh...," Shiho menghela nafas memikirkan semua itu. Tidak seharusnya seperti ini, bukankah dulu menyembunyikan apa yang ia rasakan begitu mudah? Mengapa sekarang semua terasa lebih sulit?
Shiho memandang ke meja Shinichi yang kosong. Ya, sejak datang tadi pagi dia belum bertemu Shinichi atau lebih tepatnya... sengaja menghindari? Setidaknya tadi ia sempat melihat Shinichi masuk kantor dengan wajah bahagia. "Rupanya rencana itu berhasil eh?" pikirnya sambil tersenyum getir.
"Hari ini benar-benar merepotkan...," kata Sato membuyarkan lamunan Shiho. Shiho menatap ke arah atasannya itu yang kini sudah membanting diri ke tempat duduknya. Ia melihat pakaian Sato yang kini terlihat banyak bercak lumpur dan sangat lusuh. "Apa yang terjadi?" tanyanya kini penasaran. "Kau tahu, selama aku bertugas, ini kali pertama mengejar tersangka hingga saluran limbah bawah tanah," jawab Sato sambil menyapu kotoran dari pakaiannya.
"Kenapa kau terlihat murung, Shiho-kun?" tanya Sato kini menyelidik. Shiho langsung membuang muka mendengar pertanyaan itu, wajahnya kini berubah datar kembali. "Apa aku terlihat seperti itu?"
"Ha-ah... Kenapa jadi seperti ini...," keluh Shinichi yang tiba-tiba masuk sambil memandangi pakaiannya yang basah dan berlumpur. "Itu kan karena kau melepaskan tersangkanya, Shinichi-kun," gerutu Sato kesal. Shinichi hanya menggaruk-garuk kepalanya mendengar perkataan Sato. Shinichi melihat Shiho yang sedang menyibukkan diri dengan komputernya. "Seharusnya tadi kau ikut, Miyano-san. Aku yakin kau juga belum pernah melihat saluran air sekotor itu," goda Shinichi. Shiho hanya melirik sekilas ke arah Shinichi sebelum melanjutkan kesibukannya.
"Omong-omong, apa kau sudah punya rencana malam ini?" Shinichi masih berusaha mengajak Shiho berbicara. Sato memang memintanya untuk mengajak bicara Shiho karena Sato menyadari ada yang aneh sejak Shiho datang tadi pagi. "Kau masih mogok bicara?" kini Shinichi mulai menggerutu. Ups. Kata-kata yang salah.
"Siapa yang bilang aku mogok bicara, Kudo-sama?" jawab Shiho kini dengan death glare ke arahnya. Shinichi mencoba mencari-cari jawaban yang baik, tapi kini Shiho sudah berdiri dari bangkunya dan akan meninggalkan mereka. "Ah, Miyano-san," Shinichi menarik tangan Shiho sebelum ia melangkah pergi. "Aku benar-benar serius soal nanti malam. Ada yang ingin kubicarakan tentang kemarin," bujuk Shinichi lagi.
"Jangan mengotori bajuku, Kudo-kun! Lagipula apalagi yang perlu dibicarakan?" nada bicara Shiho kembali meninggi sambil mencoba menarik tangannya. "Baiklah, aku tidak memaksa, tapi aku serius. Ini tidak seperti yang kita bayangkan." Shinichi melepaskan tangan Shiho dan sedikit mendekatinya untuk membisikkan sesuatu sebelum pergi, "Beika Center Building, restoran di puncak gedung. Jam 8 malam ini."
"Kau pikir aku mau datang, bodoh?" jawab Shiho ketus meninggalkan Shinichi.
xxx
Shinichi tersenyum memandangi sebuah kotak kecil berwarna putih yang kini terbuka di tangannya. Ditutupnya kemudian kotak itu dan ia memperhatikan penampilannya di cermin, ia kembali tersenyum puas. Tetapi sesaat kemudian senyuman itu hilang dari wajahnya, "Apakah dia akan datang?"
Kini ia melihat jam yang melingkar di tangannya, pukul 19.58. Ia melangkahkan kaki keluar dari toilet itu menuju meja yang sudah ia pesan. Sebuah meja untuk dua orang dengan sebuah lilin yang menghiasi bagian tengah meja itu. Tempat itu bersisian dengan jendela yang dapat melihat kerlap-kerlip lampu perumahan dan kendaraan yang ada di Kota Beika. Shinichi kini menumpukan tangannya di meja untuk menyangga kepalanya dan menatap ke arah pemandangan malam itu
"Permisi, tantei-sama." Seorang gadis berambut pirang stroberi, masih dengan pakaian yang sama saat dilihatnya di markas tadi, menghampirinya. "Ah...," Shinichi mencoba merangkai kata-kata untuk dikeluarkan. "Apa yang mau kau bicarakan, Kudo-kun? Aku berniat mengambil lembur hari ini jadi mungkin tidak bisa lama," jawab Shiho dengan nada dingin tapi matanya menjelajahi tiap jengkal dari apa yang dilihat di depannya. Meja bundar dengan lilin yang menyala di tengahnya, beberapa tangkai mawar merah di sebuah vas dari kaca kontras dengan taplak putih yang membungkus meja itu, serta dua set peralatan makan yang sangat mewah dan elegan. Tak lupa ia melihat Shinichi yang duduk di salah satu sisi dengan stelan jas yang sangat cocok dengannya dan sisi yang lain... Kosong. "Apa Mouri-san belum datang?" tanya Shiho menyadari bangku yang kosong.
"Duduklah dulu," kata Shinichi tersenyum memandangi Shiho. Shiho menggelengkan kepala, "Bukankah tadi sudah kujelaskan?" Shinichi kini berdiri dan berjalan ke sisi yang lain, menarik kursi yang tadinya kosong itu. "Kubilang, duduklah dulu, ada yang ingin kubicarakan," jawab Shinichi tetap tersenyum.
Shiho masih tetap berdiri, mematung, tidak mengerti maksud tindakan Shinichi barusan. "Aku tidak bisa–" jawabnya kini dengan suara yang mulai bergetar, sepertinya pertahanannya mulai runtuh. "–Aku tidak mau ada salah paham dengan Mouri-san," terdengar nada yang dipaksakan dari kalimat itu.
Shinichi tetap tersenyum mendengar itu, "Tidak akan, Miyano-san, aku bisa menjaminnya," katanya mencoba meyakinkan rekannya itu. Sepertinya memang sulit menyatukan dua orang yang sama-sama keras kepala ini. Akhirnya Shiho mengalah, ia mengambil tempat di kursi yang kosong, "Kau harus memastikan kalau aku tidak akan merasakan karate gadismu itu, Kudo-kun. Atau kau akan merasakan yang lebih menyakitkan sebagai gantinya."
Kini Shinichi kembali ke tempat duduknya, "Jadi, kau mau mendengarkanku atau makan lebih dulu?" Shiho kembali dibuat bingung dan ia hampir kembali menolak sebelum Shinichi kembali membuka mulut, "Kau tidak penasaran dengan hasil dari rencanamu kemarin?"
"Apa maksudmu? Kini kalian kan sudah tinggal beberapa langkah menuju pernikahan, apa kau masih membutuhkanku untuk membantu merancang pernikahan kalian juga?" kembali nada Shiho meninggi. Ia benar-benar tidak ingin mendengar tentang apa yang terjadi antara Shinichi dan Ran kemarin.
"Apa kau tahu itu tidak berhasil, Miyano-san?" kata Shinichi dengan wajah muram saat ini. Ekspresi Shiho langsung berubah 180 derajat mendapati hal tersebut. "A-apa maksudmu, Kudo-kun?" tanya Shiho kini gelagapan, rencana itu seharusnya berhasil! "Ran menolaknya, Miyano-san. Seharusnya kau tahu itu sejak awal, seharusnya kau tahu bahwa ini tidak akan berhasil," kata Shinichi lagi. Shiho berusaha untuk menguasai pikirannya yang kini melayang-layang, ia tidak tahu harus berbuat apa melihat Shinichi yang tampak sedih di depannya. "A-a-aku akan membantumu, Kudo-kun! Aku akan merancang rencana lain, Mouri-san pasti akan menerimanya kali ini!" Shiho coba meyakinkan.
Shinichi menghela nafas kemudian menggelengkan kepala, "Kau benar-benar tidak mengerti ya?" Shiho mengernyitkan alis, mencoba menangkap maksud kata-kata detektif itu. Apa yang tidak ia mengerti? Ia tahu persis bagaimana sosok orang di depannya ini. Seorang detektif polisi mantan detektif SMA yang pernah mengecil bersama-sama dia dulu. Seorang teman, partner in crime, rekan sesama detektif polisi yang sangat mencintai seorang gadis yang bagaikan malaikat. Ya, gadis itu juga mencintainya, sangat setia pada rekannya ini, oleh karena itu ia tetap menunggu hingga detektif itu kembali. Kini mereka berdua sudah kembali bersama dan hanya tinggal sedikit lagi mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan dan banyak orang. Bagian mana yang tidak ia mengerti? Bahkan tiap orang di pelosok manapun pasti tahu tentang kisah mereka.
xxx
Di saat bersamaan di kantor Detektif Mouri, seorang gadis sedang memandang layar handphonenya, membuka kembali semua pesan teks lama yang tersimpan di sana. Membaca detail demi detail kata-kata dari si pengirim pesan, tersenyum getir membacanya.
Seems like just yesterday
You were a part of me
I used to stand so tall, to be so strong
Unbreakable, like nothin' could go wrong
Cahaya bulan yang bersinar dengan sangat eloknya menembus masuk ke dalam ruangan, menyinari wajah gadis itu yang sangat tidak cocok dengan air mata yang mulai berlinang di wajahnya. "Shinichi..." kata gadis itu lirih. Jemarinya kini berusaha sekuat tenaga untuk menekan tombol 'Delete' yang ada di handphonenya. Hanya sebuah tombol kecil yang tidak memerlukan tenaga besar, tapi mengapa rasanya begitu berat? Tangisannya semakin menjadi... Air mata itu semakin membasahi wajahnya.
Now I can't breathe, can't sleep
I'm barely hanging on
I'm torn into pieces
Just thought you were the one
xxx
Shiho mendorong kursinya dan bergegas berdiri, "Tidak seperti ini, Kudo-kun! Apa kau tidak percaya kalau aku bisa meyakinkan Mouri-san untuk menerima lamaranmu?" Wajahnya memerah, entah karena amarah atau perkataan Shinichi sebelumnya, ia tidak bisa dan tidak mau mencaritahu sebabnya.
Shinichi tetap tenang mendapatkan respon seperti itu, ia sudah memperkirakan sebelumnya karena Shiho adalah orang yang keras kepala. Sama sepertinya, kini ia telah memutuskan dan tidak akan mengubah pendiriannya. "Aku serius, Miyano-san. Aku serius memintamu untuk menikah denganku." Shiho masih tidak percaya mendengar itu. Menikah? Bagian mana yang dapat mengantarkan ia dan Shinichi ke dalam pernikahan? Selama ini ia mengamati secara logis dan tidak pernah menemukan sedikitpun celah di mana mereka bisa bersatu lebih dari sepasang teman, sahabat, dan partner dalam pekerjaan. Kesimpulannya tidak mungkin salah, ia tidak pernah salah dalam mengambil kesimpulan.
"Aku tahu kau selalu menggunakan logika berpikir dan mengamati berbagai variabel sebelum mengambil kesimpulan, tapi sudahkah kau memperhitungkan variabel lain yang sengaja kau kesampingkan? Seperti... Takdir?" kata Shinichi masih dengan tenangnya.
Flashback, Hotel New Beika
"Apakah kau percaya takdir, Shinichi?" kata Ran yang kini sudah selesai menghabiskan makanannya. "Ng?" tanya Shinichi bingung sambil mengunyah suapan terakhirnya. "Aku tanya, apakah kau percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita sudah digariskan?" ulang Ran lagi. Shinichi merapikan peralatan makannya, "Aku hanya percaya bahwa sebuah tindakan akan memberikan dampak pada tindakan lainnya. Seperti saat kau melempar sebuah batu ke satu bagian kolam, itu akan menghasilkan gelombang air yang menyebar ke seluruh bagian kolam," jawab Shinichi retoris.
"Tapi, Shinichi," lanjut Ran, "Kalau menurutmu seperti itu, bagaimana jika di tengah kolam ada penghalang? Bukankah gelombang itu tidak akan sampai ke seluruh bagian kolam?" Shinichi memasang wajah bingung karena deduksi Ran. "Kalau kau? Apa takdir menurutmu?" tanya Shinichi balik. "Sesuatu yang hanya bisa kita jalani, tanpa bisa kita mengubahnya walaupun keinginan untuk itu sangat besar kita miliki," jawab Ran memainkan garpu di piringnya yang kosong. "Kenapa kau tiba-tiba ingin membahas hal seperti ini?" tanya Shinichi mengernyitkan alis. Ran hanya menggelengkan kepalanya.
"Daripada itu, bagaimana menurutmu baju yang kupakai ini?" tanya Ran mendadak ceria. Shinichi mengamati Ran dan dress yang ia pakai, entah kenapa Shinichi sangat menyukainya, tapi... "Emm... Dress itu cantik, tapi... Apa kau yang membelinya? Itu sama sekali tidak terlihat seperti seleramu," jawab Shinichi. "Tapi, kau menyukainya kan?" tanya Ran lagi, kini ekspresinya kembali biasa bahkan sedikit aneh. Shinichi menganggukkan kepala, tidak mengerti. "Baju ini sudah lama dibelikan ibumu, 2 atau 3 tahun lalu. Miyano-san yang memilihkannya saat aku berbelanja dengan mereka," jawab Ran. "Kau tahu, ia dan ibumu sangat dekat. Mereka cocok satu sama lain," tambah Ran lagi.
"Anak memang tidak jauh berbeda dengan orangtuanya ya?" Ran masih menambahkan, membuat Shinichi semakin bingung, "Maksudmu?"
"Kau. Sama seperti ibumu yang merasa cocok dengannya juga, kau dan Miyano-san, eh–" gantung Ran, "–kau dan Haibara-san, ya kan–"
"–Conan-kun?"
"A-ap-apa maksudmu, Ran? Kau terdengar aneh, aku benar-benar tidak mengerti haha...," Shinichi mencoba tertawa dengan wajah polos. "Aku tahu semuanya, Conan-kun," jawab Ran dengan nada pasrah. "Apakah kau masih tidak mau mengaku? Apa kau masih belum cukup puas membohongiku selama ini?" tambahnya lagi.
"Aku mendengar semuanya. Pembicaraan kalian setelah pemakaman Hakase. Alasan kenapa kau menghilang selama ini – kalau itu bisa dibilang menghilang. Bagaimana ternyata selama ini aku salah satu orang yang tidak pernah diberitahu tentang hal ini, kupikir dulu.. kupikir aku cukup berarti untukmu," suara Ran menahan tangis. Shinichi terdiam, mengingat kembali apa yang terjadi di rumah Hakase malam setelah pemakaman itu. "Aku... Aku tidak bisa membayangkan berapa banyak kesempatan bagimu untuk mengatakan kebenarannya kepadaku, tapi kau tak pernah melakukannya. Sementara... Sementara kau membagi semuanya dengan Miyano-san," jelasnya lagi. "Siapa aku ini bagimu, Shinichi? Bahkan kau bimbang saat aku memintamu menjadi kekasihku. Padahal, padahal selama ini kau tahu bagaimana perasaanku untukmu. Selama menjadi Conan, kau tahu aku begitu menyayangimu, Shinichi," suara Ran penuh dengan emosi.
"Aku...," jawab Shinichi ragu-ragu. Ia terus berpikir keras saat ini, mencoba menyelidik hatinya, apa yang ia rasakan, apa yang ia inginkan, dan terpenting; apa yang menjadi takdirnya. "Manusia tidak pernah bisa melawan takdir, Shinichi. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan terjadi. Mungkin memang sedikit terlambat, tapi aku yakin ini keputusan yang tepat. Aku hanya ingin kau bersikap seperti seorang pria yang tahu apa yang kau inginkan dan mengatakan kebenaran itu," terang Ran lagi.
"Aku memang mencintaimu, Ran!" kata Shinichi hampir berteriak. "Tapi... Aku tidak mungkin membiarkan ia sendirian, aku tidak mau menyakitinya juga," tambahnya bahkan dengan suara yang sangat pelan. "Aku minta maaf jika selama ini tidak pernah mengatakan kebenarannya, tapi ini demi keselamatanmu juga dan aku tidak mau membahayakan lebih banyak orang. Aku membagi semuanya dengan Miyano-san karena ia partnerku, orang yang bisa membantu untuk mendapatkan kembali kehidupanku," jelas Shinichi dengan suara yang sedikit parau.
"Kini kau sudah mendapatkannya, tapi kau malah terlihat ingin melepasnya," kata Ran parau. "Kau tidak mencintaiku, kau mencintainya," kata Ran lagi. "Aku tidak...," kalimat itu dipotong Ran sebelum Shinichi sempat menyelesaikannya, "Itu bukan pertanyaan, Shinichi. Itu pernyataan," jelas Ran, "Dan ia juga mencintaimu," tambah Ran lagi. Suara Ran tercekat di bagian itu. Sungguh sakit mengatakan itu memang, tapi Ran tetaplah Ran, itu lebih baik dibanding ia harus bersama Shinichi di masa depan tanpa Shinichi tahu siapa sebenarnya yang Shinichi inginkan di hidupnya. "Aku bahkan tahu sejak kalian masih sebagai Conan dan Haibara. Lucu ya, saat itu aku berpikir kalian akan menjadi sepasang kekasih yang serasi saat kalian besar nanti," mata Ran mulai berkaca-kaca.
Shinichi mengambil sebuah kotak beludru dali balik saku jasnya. "Aku... Aku tadi hendak memberikanmu ini," katanya menunjukkan kotak yang terbuka dengan cincin di dalamnya kepada Ran. "Bukan kau yang menginginkan ini, ya kan? Apakah Miyano-san yang memintamu?" kata-kata Ran saat itu benar-benar mengekspresikan rasa sakit di hatinya. "Katakan padaku, Shinichi," tegas Ran lagi. "Aku tidak tahu. Aku tidak tahu, Ran. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Aku mencintaimu, tapi aku juga tidak ingin ia terus hidup dalam kesedihan dan kesendirian. Dulu aku memang sangat menginginkan ini, melamarmu dan menua bersamamu. Tapi kini, aku sadar kalau aku juga tak bisa meninggalkannya. Aku tidak ingin menyakiti salah satu dari kalian. Dan... Aku... Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sebenarnya," nada bicara Shinichi terdengar putus asa. "Aku akan membantumu memperjelas semuanya," kata Ran yang mulai menguasai emosinya. Ia tidak tahan melihat Shinichi yang biasanya sombong itu kini terlihat putus asa, bahkan saat menghadapi dirinya sendiri.
- End of flashback
"Apa kau tahu saat kau tertembak tiga tahun lalu, aku tidak pernah pulang ke rumah. Aku selalu menemani Hakase, menunggu. Menunggu hingga kau sadar," jelas Shinichi. "Terdengar seperti kau menuntut balas budi eh? Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama, bahkan lebih, jika itu adalah Mouri-san," bantah Shiho dengan nada dingin.
"Kau tahu kalau saat itu Ran juga terluka?" tanya Shinichi. "Aku yakin lukanya tidak separah itu sehingga kau merasa cukup aman untuk meninggalkannya sementara," jawab Shiho. Shinichi menghela nafas, tapi ia tidak akan menyerah kali ini. Ia sudah sangat tahu apa yang ia inginkan dan ia harus mendapatkannya.
"Apa kau tahu betapa aku khawatir saat kau menjadi detektif polisi? Khawatir kalau aku gagal melindungimu lagi seperti 3 tahun lalu?" tanya Shinichi lagi. "Bagaimana aku bisa tahu? Aku bukan cenayang, Kudo-kun. Kupikir kau bukan khawatir, tapi hanya merasa kesal karena tersaingi dengan kemampuanku," jawabnya dengan menyindir.
"Betapa aku sangat khawatir saat mendengar kau diculik oleh pelaku pemboman dan aku meninggalkan Ran di kampus yang masih terdapat bom yang belum meledak hanya untuk mencarimu dan memastikan kebenaran kabar itu, dan..." jelas Shinichi lagi. "Kau hanya khawatir akan kehilangan partner yang telah membantu mengangkat namamu kembali sebagai detektif, Kudo-kun," potong Shiho ketus.
"Aku tidak mendapat poinmu dan itu tidak akan berhasil jika maksudmu adalah agar aku menerima permintaanmu," kata Shiho. "Itu tidak akan membantu sama sekali, Kudo-kun. Kau hanya membandingkan apa yang kau lakukan kepadaku dan Mouri-san. Aku sama sekali tidak ingin mendengar hal itu, itu hanya akan membuatku marah karena itu artinya kau menyia-nyiakan orang yang selama ini telah setia menunggumu kembali," tambahnya.
"Dengar, kau tahu bahwa aku selalu menganggap Mouri-san seperti oneechan, Akemi. Semua yang kau katakan barusan membuatku semakin merasa bersalah karena itu pasti telah membuatnya sedih," jelasnya sambil tertunduk. Shiho terdiam sejenak, "Bagaimana aku bisa menerima permintaanmu kalau itu membuatku harus merasa bahagia di atas kesedihan orang lain?" Matanya kini mulai terasa panas.
"Baiklah, tapi apa kau akan menerimanya kalau aku bisa menjawab keraguanmu itu?" kata Shinichi kini dengan nada yang mulai cerah, seolah sudah memiliki jawaban pamungkas. Shiho masih terdiam dan menjawab dengan sangat pelan, "Tergantung apakah itu bisa cukup meyakinkanku."
Shinichi menceritakan semuanya yang terjadi kemarin. Bagaimana ia hampir merasa putus asa karena tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia menceritakan tiap bagian dengan detail saat Ran membantu menyelidiki hatinya, mencaritahu perasaannya. Bagaimana Ran membuat Shinichi mem-flashback kembali apa yang telah ia lakukan yang pada awalnya ia pikir sesuatu yang wajar sebagai seorang teman dari Shiho Miyano, tetapi sebenarnya itu menunjukkan kecenderungan hatinya dalam memilih. Menyadarkan Shinichi bagaimana sebenarnya jauh sebelum ini, ia telah lebih dulu jatuh cinta kepada gadis yang membawa warna lain dalam kehidupannya itu. Gadis yang menjadi anomali dalam kehidupannya sebagai Shinichi Kudo. Mengalihkan dirinya dari takdir yang ia rangkai sendiri jauh sebelumnya. Atau mungkin memang Shiho Miyano-lah takdirnya dan ia baru menyadari hal itu setelah Ran membantunya.
But now I know
How much it means
For you to stay right here with me
"Walaupun aku tahu itu telah menyakitinya, setidaknya aku tahu ia telah bahagia karena membantuku mengetahui perasaanku yang sebenarnya, itu yang membuatku yakin untuk melakukan ini," jelas Shinichi. "Terakhir, Ran menitipkan salam untukmu. Ia juga memintaku untuk membahagiakanmu, dan sebaliknya," tutup Shinichi.
Shiho masih terdiam, mencoba mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini benar adanya. "Jadi, apakah kau sudah bisa menjawab permintaanku?" tanya Shinichi. Shiho tersenyum kecil, menyeka kedua matanya sebelum mengangkat kepala dan memandang ke arah Shinichi, "Sepertinya aku sudah lupa isi permintaanmu tadi, apakah kau bisa mengulangnya?"
Shinichi nyengir. Ia kemudian berdiri dan mengambil tempat di sebelah Shiho, memutar bangkunya agar Shiho menghadap ke arahnya, dan ia berlutut. "Miyano Shiho. Satu-satunya gadis yang bisa membuatku memohon lebih dari satu kali, mendorongku hingga mencapai batas sebelum ia mau memberi apa yang kuinginkan. Juga satu-satunya gadis yang bisa membuatku gila saat kau tak ada di sisiku,–" kata Shinichi membuat Shiho terkekeh kecil, "–will you marry me? Be my forever?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Shiho, hanya senyuman yang menghiasi wajah orientalnya. Sebuah senyum penuh arti yang bahkan sebelumnya tidak pernah diperlihatkan oleh seorang Shiho Miyano. Senyuman terindah yang membuat Shinichi merasa bahwa ia adalah pria paling beruntung di dunia. Bukankah itu lebih dari cukup untuk menjawab permintaan Shinichi? Sebab tidak butuh kata-kata bagi mereka untuk saling mengerti isi pikiran masing-masing.
xxx
And I'm gonna miss you like a child misses their blanket
But I've got to get a move on with my life
It's time to be a big girl now
And big girl don't cry
Ran menyeka sisa air mata yang ada diwajahnya. Ia membuang sisa-sisa tissue yang ada di meja saat seseorang mengetuk pintu kantor detektif. "Siapa? Ini sudah sangat malam untuk permohonan kasus."
Ran membuka pintu dengan ragu saat ia melihat sesosok pria dengan jaket dan topi rajutan berdiri di depan pintu. Pria itu kini menatapnya dengan tajam, "Kau masih sering menangis ya." Ran menyadari sisa-sisa air mata yang belum terhapus sempurna, ia buru-buru menyekanya tapi dengan tetap menatap pria itu, "Memangnya kenapa kalau aku menangis?"
"Ah, gomen," kata pria itu menyadari kesalahannya, "Aku hanya ingin menemui Mouri-tantei, aku memerlukan bantuannya." Ran memandangnya dengan ekspresi sangat bingung. "Tapi sepertinya ini sudah terlalu larut, aku akan datang lain kali," pria itu membalik tubuhnya dan hendak menuruni anak tangga saat Ran menahannya. "Tunggu, aku akan memanggil Otou-san. Ia pasti belum tidur di atas, dan lagi... Aku ingin tahu mengapa seolah kau sudah lama mengenalku, bahkan sebelum kita bertemu pertama kali di New York."
Pria itu mengangkat alisnya dan masuk ke dalam ruangan. "Kau mirip dengan seseorang di masa laluku," kata pria itu sambil duduk di salah satu bangku dan memulai ceritanya.
##XX##
