Dearest


SUMMARY: Chapter 3: Ino-chan. Karena semua tahu, semua cookies yang ada di dalam banyak toples yang bisa ditemukan disini, itu semua buatan Ino-chan. Hinata's POV. TITLE CHANGED.

A Naruto fic, presented by LIL-ECCHAN


DISCLAIMER: Naruto is not mine. But this fic's mine.

MAIN CHARACTER: Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata.

PAIRINGS: NarutoHinata, SasukeSakura, Saino, etc (I'll add more pairings soon).

RATING: T

GENRE: Romance/Tragedy

LANGUAGE: Indonesian


3rd Memory: Ino-chan


Sudah 2 bulan aku berada di kediaman Uzumaki, dan belum diperbolehkan pulang oleh Otoosan. Kini aku tahu, umurku 23 tahun. Aku sudah menyelesaikan studiku di Prancis, di bidang seni. Pekerjaanku sebagai pelukis hanya pekerjaan sampingan, hanya bila aku ingin melukis saja. Dan rekan kerjaku, adalah Sai. Dia temanku sewaktu di Prancis, dan pergi ke Jepang tiga bulan sekali. Sebagian besar pembantu disini bilang, Ino-san jatuh cinta padanya. Setelah aku mengetahuinya, aku ingat berbagai usahaku untuk menjodohkan mereka. Umur mereka hanya berbeda tiga tahun, Sai berumur 25 tahun, dan Ino-san sama sepertiku, 23 tahun. Lalu, aku ingat juga, Sasuke-san itu tunangan Sakura-chan yang selalu didambakan oleh Sakura-chan.

Dan kini, aku hanya terbengong di taman belakang, dekat dapur.

"Hinata-neechan, mau hot chocolate? Ini hot chocolate pertama buatan Ecchan, loh! Tapi, kalau ada sesuatu yang kurang, jangan protes padaku, proteslah pada Ino-neesan! Karena dia yang mengajariku." tawar Ecchan. Aku terkikik mendengar celotehnya.

"Ecchan! Enak saja salahkan aku! Hot chocolate itu 'kan, kau yang membuatnya!" Ino-san mengelak.

"Tapi, tapi, Ino-neesan yang mengatur takarannya untukku!" elak Ecchan.

"Ta—"

"Sudah, sudah, biar aku coba dulu." ujarku terkikik.

Glek.

"Erm… terlalu manis," ujarku. Ino-san menghela nafas.

"Dasar Hinata-chan, sejak dulu tidak berubah, aku menyiapkan yang manis, katamu terlalu manis. Aku menyiapkan yang tidak terlalu manis, katamu kurang manis. Sama saja seperti Naruto." Ino-san tersenyum lebar.

Sama seperti Naruto-san? Apa iya?

Oh ya, Naruto-san sedang pergi kerja, katanya, dia mewarisi perusahaan ayahnya yang telah meninggal yang bekerja di bidang teknologi komputer. Pantas saja, kadang-kadang Naruto memakai kacamata. Dia benar-benar berusaha keras melanjutkan usaha ayahnya.

"Ino-chan," ujarku, mengganti panggilanku padanya dari Ino-san ke Ino-chan.

"He? Hinata-chan? Tumben kau memanggilku dengan Ino-chan? Biasanya kau panggil aku Ino-san, 'kan?" tanyanya.

"Dulu, aku juga memanggilmu dengan Ino-chan, ya 'kan?" ujarku pelan sambil terkikik geli.

"Hee? Kau sudah ingat, ya?!" ujarnya riang sambil berjalan ke arahku. Aku mengangguk pelan dengan senyum kecil.

"Syukurlah!" ujarnya riang sambil memelukku, dan kemudian melepaskannya setelah mengetahui bahwa leherku tercekik oleh pelukannya.

"Go—gomen ne!" ujarnya.

"Tak apa." ujarku.

"Hehe." Ino-san tertawa kecil.

"Oh ya, Ino-chan,"

"Hm?"

"Aku juga ingat tentang Sai, loh." godaku sambil mengedipkan mata kananku. Wajah Ino-chan merah padam seketika.

"Sst! Hinata-chan! Diamlah! Kalau tidak, Ecchan akan menjahiliku!" ujarnya sambil menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk. Ino menengok ke arah dapur. "Untunglah, dia sedang konsentrasi."

"Konsentrasi untuk…?" tanyaku.

"Membuat hot chocolate untuk kalian." Ino cengar-cengir.

"Kalian? Siapa itu kalian? Aku dan siapa?"

"Naruto," ujarnya. Naruto-san?

"Kenapa Naruto-san?"

"Karena—ups! Hampir saja aku mengatakannya padamu." apa? Dirahasiakan?

"Hei, katakanlah padaku! Jangan merahasiakan alasannya dariku!" ujarku kesal.

"Hei, Hinata-chan, jangan marah padaku, kalau mau marah, marahlah pada Naruto, dia yang menyuruhku tutup mulut." ujar Ino-chan sambil mengedipkan matanya. Tutup mulut? Tutup mulut untuk apa? Ingin aku teriak 'MENYEBALKAN!'.

Ino-chan, kau menyebalkan! Padahal aku dulu selalu berusaha untuk menjodohkanmu dengan Sai. Ah, itu dia, alasan yang bagus!

"Ino-chan, kau menyebalkan! Padahal dulu aku selalu berusaha untuk menjodohkanmu dengan Sai." ujarku mengulang kata-kata yang tadi kuucapkan dalam hati. "Atau jangan-jangan… mungkin sebaiknya aku tidak perlu menjodohkan kalian lagi, ya?" godaku. Ino-chan terdiam.

"…Tak apa, kau tidak perlu menjodohkan kami, itu hanya akan membuatmu repot dan kelimpungan. Lagipula, Sai… dia tidak akan mungkin menyukaiku." ujarnya tersenyum. Tersenyum dengan paksa. Aah, Hinata, kau bodoh, kau bodoh. Mengatakan apa yang seharusnya tidak kau katakan. Itu membuatnya rendah diri. Terlalu rendah diri. Dia kehilangan kepercayadiriannya. Dan semua itu disebabkan oleh aku, aku, si bodoh yang salah. Walaupun hanya satu kalimat, itu melukai hatinya…

"Ma—" terlambat, saat aku ingin meminta maaf, Ino-chan pergi, pergi meninggalkanku. Pergi ke arah kamar mandi. Untuk apa? Mungkin… menyeka air matanya… Hinata bodoh.

.-:-.-:-.

Aku masih melamun, memikirkan kejadian tadi. Aku benar-benar takut kalau Ino-chan marah padaku. Dia adalah orang pertama yang enak untuk diajak berbicara sebelum Ecchan. Salah satu orang terpenting dalam hidupku—setidaknya, setelah aku hilang ingatan.

Cklek. "Hi.. Hinata-chan?"

Aku menoleh cepat. Aku kenal suara itu. "I-Ino-chan?!"

"Ha-hai." dia tersenyum, memaksakan dirinya untuk tersenyum.

"Hai.." kenapa dia harus memaksakan senyumnya itu? Padahal dia terlihat manis sekali kalau tersenyum, senyumannya yang biasa.

Dia duduk disebelahku, sepertinya dia sungkan.

"Ano.. aku minta maaf.. soal tadi…" Ino-chan meminta maaf?

Aku tersenyum, "Tak apa, itu bukan salahmu, tapi salahku. Akulah yang bodoh, mengatakan hal seperti itu.", dia pun membalas tersenyum.

"Ini," ujarnya menyampaikan sebuah kertas—kertas? Erm.. amplop ternyata.

Aku langsung membukanya, penasaran menghantuiku, apa isi surat itu?

"Hinata, ini aku, Sai. Maaf mendadak, tapi aku dengar kau sudah kembali dari Rumah Sakit. Dan aku akan segera kesana, aku boleh menjengukmu, 'kan? Lagipula, ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu. Seseorang yang penting bagiku, dan aku akan menjadikannya kejutan untukmu. Tapi.. apa kau ingat padaku? Semoga saja ya. Oh ya, dan juga, aku akan melamar orang itu langsung dihadapanmu, karena kau rekan kerja—tidak, lebih daripada rekan kerjaku. Kau tahu, 'kan, sewaktu semua keluargaku tewas dalam kecelakaan pesawat? Sejak itulah, aku menganggapmu keluarga, adikku. Aku akan pergi kesana, mungkin tepat disaat kau membaca ini, aku sudah dalam perjalanan kesana. Tenang saja, aku datang kesana bukan dalam rangka kerja, aku tahu kau masih perlu istirahat. Tertanda, Sai. Catatan, seperti biasa, boleh aku minta cookies? Cookies yang disajikan di rumahmu selalu enak sih. Hehe. Aku penasaran di toko mana kau membelinya? Nanti siapkan yang banyak, ya! Aku suka sekali cookies yang selalu dipajang di dalam toples di atas meja ruang tamu rumahmu! Tapi yaa, kalau kau merasa kerepotan, tak apa. Sampai jumpa nanti!" ujarku membaca surat itu. Spontan, aku melirik ke arah Ino-chan, karena dialah satu-satunya orang yang sedang bersamaku di ruangan ini. Wajahnya.. memerah??

"Coo-cookies…?" tanya Ino-chan pelan. Aku tersenyum licik.

"Ya! Cookies di rumah ini! COOKIES! C-o-o-k-i-e-s! Cookiiiiieeees!" teriakku girang. Karena semua tahu, semua cookies yang ada di dalam banyak toples yang bisa ditemukan disini, itu semua buatan Ino-chan.

"Ini kesempatan yang bagus!" aku menggenggam tangan Ino-chan erat sekali.

"Ke-kesempatan…?"

"Erm!" aku mengangguk, ikut senang. "Apa di rumah ini masih banyak cookies buatanmu?"

"Tentu saja, ada!" dia tersenyum, cantiiiiiiiiik sekali. Tapi.. aku masih penasaran, dia akan melamar siapa? Untung saja,Sepertinya Ino-chan mendengarkan aku tadi sewaktu membacakan surat dari Sai pada bagian lamaran. Ino-chan… Kasihan dia…

"Oh ya, Ino-chan, sekarang, buatlah cookies yang baru, agar terlihat lebih baru dan enak untuk dimakan Sai!"


Ne, jumpa lagi sama sayaa XD

Akhirnya apdet jugaa *sembahsujud*, oh yaa, maaf buat fic Bersamamu, belum di apdet-apdet. Habisnya.. *nyengir* nggak ada niat #digebuk#.

Oh yaaa! Ganti judul! Dulunya ini Dear, diganti jadi Dearest. Dear kan artinya sayang, saya jadi merasa aneh. Kalo Dearest itu kan yang tersayang, kyaaaa! XD *gaje*


Mind to review, anyway? :D