Dearest


4th Memory : Menginap

"Selamat datang." ujar Ino-chan selaku Kepala Pelayan di rumah ini. Dia dan semua pelayan tunduk kepada sosok pria berkulit pucat. Kenapa tidak ada suara anak kecil yang berisik? Karena Ecchan sedang mengikuti camping yang diadakan di sekolahnya.

Sai melangkah pelan, yah, dia menjaga santunnya. Dan dengan perlahan, dia berjalan ke arahku yang memakai dress berwarna lavender, dengan poncho indigo.

Sai berlari kearahku, dan tiba-tiba memelukku, "HEI, HINATA-CHAAN!"

Aku tersenyum kecil diantara pelukan eratnya, "Hei, Sai-niikun!"

"Haha. Kau kelihatannya sudah sehat." ujarnya sambil mengelus-elus rambutku. Aku membalas dengan senyuman.

"Ayo, silahkan duduk dulu." ujar Ino-chan sambil memasang senyuman termanisnya. Yah, wajarlah. Dia 'kan tersenyum padaku dan Sai-niikun. Ihihi…

"Hinata-chan? Ada apa tersenyum-senyum seperti itu?" Sai-niikun memandangku dengan keheranan. Wah. Ahaha.

"Tidak, tidak apa." aku masih tersenyum kecil. "Ah, itu. Kapan kita kerja lagi?"

"Wow. Tenanglah, tidak usah secepat itu. Kau baru keluar dari Rumah Sakit—"

"Hei, baru keluar dari Rumah Sakit katamu? Enak saja! Sudah dua bulan aku berdiam disini! Bayangkan! Tak ada kegiatan yang bisa kulakukan disini! Aku hanya makan, mandi, dan lain-lain. Membosankan sekali…" aku menghela nafas.

"Hahaha! Seperti biasa, kau cepat sekali bosan. Yah, tunggu saja sekitar tiga bulan lagi, baru aku akan mengajakmu."

Kami terus mengobrol sedari tadi. Uuh, aku benar-benar ingin menanyakan sesuatu pada Sai-niikun.

"Hei, mana cookies yang kuminta?" tanya Sai-niikun sambil cengar-cengir. Cookies? Ah, iya!

"Erm.. ah, Ino-chan, bisa tolong ambilkan?"

"Baik, Hinata-sama." apa? Hinata-sama? Wow. Terlalu formal. Terlalu kaku.

Saat Ino-chan pergi, aku mengambil kesempatan bertanya tentang sesuatu.

"Hei, Sai-niikun, siapa yang akan kau lamar itu? Dimana dia sekarang?" bisikku. Oh Tuhan, jangan sampai Ino-chan dengar ini.

"Ehm.. rahasia." Sai-niikun tersenyum dan menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya.

"Apa?! Rahasia?!" Aku menunjukkan raut kesalku. Yah, aku tidak kesal, sih, sebenarnya. Tapi.. bagaimanapun juga, aku penasaran. Ukh.

"He-hei. Jangan memajukan bibirmu seperti itu, dong." Lalu? Harus bagaimana lagi supaya Sai-niikun memberitahu?

"Yah.. pokoknya, bagaimanapun usahamu, aku takkan memberitahumu." Sai-niikun mengedipkan sebelah matanya, tersenyum jahil. Waw. Tidak enak.

Aku menoleh ke belakang, menyadari akan datangnya kehadiran seseorang. Rambut pirangnya membelai angin yang berhembus, bola mata birunya menunjukkan kejernihan samudra yang luas. Jemari lentiknya menyangga tangannya yang membawa setoples cookies, yang dibuat menggunakan tangan itu sendiri. Bau udara tercampur wangi mulberry, unik, sejuk, manis, dan membuat nyaman yang berasal dari tubuh si pembawa setoples kue. Waw, tapi kalau hidungku bisa lebih jeli lagi, aku bisa mencium bau madu dari rambut pirangnya, manis. Sepatu hak tingginya digunakannya untuk melangkah, perlahan, tapi cepat, dan hati-hati, anggun sekali.

Wow. Andaikan aku ini laki-laki, aku pasti langsung jatuh cinta padanya. Ahahaa. Yah, bagaimanapun juga dia memang cantik, sih.

"Ini, silahkan, cookies-nya, Hinata-sama…" Ujarnya, menyerahkan setoples kecil dengan rumbai-rumbai emas di pinggir tutupnya. Toples itu toples kaca yang sangat bening dan tipis, dengan ukiran buah strawberry. Cantik, tapi sangat rapuh, mudah rusak… Aku menerimanya dengan perlahan, perasaan khawatir menghantuiku kalau-kalau toples itu terjatuh karena kecerobohanku dan pecah.

"Ini, silahkan, bawalah pulang." ujarku seraya menyerahkan toples itu.

"Wah. Terima kasih, ya! Hehehe." Sai-niikun terlihat senang sekali. Hihi.

"Sai-niikun, mau berapa lama tinggal di Jepang sementara ini? Atau mau langsung kembali ke Prancis?"

"Yah, entahlah. Rencana awal itu sekitar.. 3 hari, tapi aku masih belum menemukan hotel yang kosong. Mungkin kedatanganku kesini tidak tepat, sekarang sedang masa-masa liburan, sih, kebanyakan hotel sudah penuh. Dan rencana yang tersisa adalah.. kembali ke Prancis."

"Wah. Yang benar saja semua hotel se-kota penuh?" Sai-niikun mengangguk pasrah. "Yah, begitulah yang ada."

"Kenapa tidak menginap disini saja?" tanyaku.

"Menginap? Hahaha. Tak perlu, aku tidak mau merepotkan. Tapi, terima kasih atas tawarannya," senyum. Itulah cara penolakan halus miliknya.

"Aah, biarlah! Merepotkan? Hahaha. Yang benar saja, lah! Ooh, ayolah, masih banyak kamar, ruangan kosong di rumah ini, dan tempat-tempat kosong itu membuatku merinding! Lagipula, Naruto-san 'kan orangnya baik hati, rasanya mustahil kalau dia menolak hal ini. Oh ayolah, kumohon.." aku memaksa, paksaan halus.

"…" 5 menit berselang, menanti jawaban, aku termenung tanpa berfikir apapun, sedangkan mataku merasa kalau meja kecil — dimana Sai-niikun menaruh toples cookies itu — menarik untuk ditatapi.

"Hem—" Sai-niikun mulai bersuara, "bagaimana?" Tanyaku memotong perkataannya.

"Aku—" Sai-niikun melanjutkan perkataannya yang terpotong tadi, "aku?" tanyaku.

"Tidak bisa—" terlihat jengkel di raut mukanya, "harus bisa!" Aku berdiri dan menggebrak meja dengan antusias. Wah, gawat. Sepertinya para pelayan terkejut. Apalagi Sai-niikun. Matanya.. bulat, terlihat kalau bola matanya akan keluar dari kelopak matanya. Waw, yah mungkin seperti inilah contoh orang yang terlalu banyak menonton film horor. Aku benci film horor versi hantu, tetapi kalau yang sadis-sadis semacam itu, lumayan sering. Dan parahnya, sekarang aku sedang membayangkan kalau aku sedang mencekik leher Sai-niikun. Oh, ayolah, cukup katakan ya, dan semua akan selesai, tak perlu ada gebrakan meja.

"Tapi—" Sai-niikun terlihat ketakutan. Waw. Apa aku terlihat seperti Godzilla? Hahaha, lucu, lucu sekali. Ingin aku tertawa. BRAK! Pintu ruangan tamu ini terbuka, "kau harus, Sai!" Wah, Naruto-san?

"Hei, Naruto, kau sudah pulang rupa—" Naruto-san menepuk pundak Sai-niikun, "sudahlah, Sai, tidak usah mengalihkan pembicaraan. Kau tahu sifat Hinata-chan, 'kan? Keras kepala, sulit ditolak, ya 'kan?" Naruto-san tersenyum dan menjulurkan lidahnya padaku, lalu dia berjalan membelakangi Sai-niikun.

"Lihat, Naruto-san saja memaksa," aku tersenyum bangga, ada juga yang mendukungku.

"Haha. Kalian memang pasangan yang serasi, kompak sekali." Sai-niikun tertawa kecil, serasi? Pasangan?

"Pasangan serasi?! Apa-apaan itu?" Sai-niikun terlihat.. gagap? Dia menutup mulutnya, "err.. tidak, tidak, aku hanya bercanda," terlihat cemas, ada apa ini?

"Oh.. ya sudah." Aku benar-benar tidak mau ambil pusing, aku sedang tidak ingin berdebat. Nanti, kalau saatnya tiba, aku pasti tahu. Yah, selama aku masih bisa bersabar…

"Hinata-chan?" Sai-niikun melirikku, "apa nanti aku boleh minta cookies ini lagi?" Ujarnya sambil menunjuk ke arah toples.. KOSONG?! Sebegitu enaknya, kah?

"Hahaha, boleh. Ambil saja semua cookies yang ada."


Ne, aduuh akhirnya Sai muncul. -w- *menyeruput greentea*

Hu, fic ini rawan hiatus. Doakanlah sayaa supaya nggak hiatus kayak Bersamamu. TTATT

Ehya, mau promosi, fic The Nightmare, based on true story! XD

Abisnya The Nightmare miskin review. T-T

Oke, untuk yang nge-review chapter 3, balasannya ada dibawah. :D

Dan buat yang mau nge-review, oh ayolah anda baiksekalii. Silahkan scroll langsung aja sampe bawah, til you find the 'submit feedback/review' button. :D

Dan untuk semua, tolong revieww! Kumohon, kumohoon. Anonymous ato orang yang nggak punya account juga bisa review, kook.


review replies.

PinkBlue Moonlight(hehe, mungkin bakalan dijelasin di chapter entah-yang-keberapa. wah? ecchan ganyadar tuh. ah, biarin ah haha. makasiih), Inuzumaki Helen(iya akhirnya apdet jugaa. iyadong. inget naru sekarang? gaseru tuuh haha. wah siapa itu? siapa ituu? hehe), Angel's Chocolate-Cookies(eh apa? saya gila? hahaha. kabuto sama naru beda jauh, mbak. ihihi. kita sehati doong? hahaha), Misa(ehiyadong saya gitulok hahaha. jadi adiknya naruto, sedangkan ino pembantu di rumah itu. ehehe. iya, young adult gitudeh. iyadong hebat kan sayaa ahahaa), dilia shiraishi(wow. bagian mana yang menurutmu kurang? coba beritahu. iyaiya berharap sajalah, entah siapa yang akan dilamar sai, takdir tuh haha), kakkoii-chan(makasiiih), dark aphrodite(iyaa. emm, silahkan ikuti ceritanyaa ehehe. soalnya naru lagi kerjaa. udah review, kan?), meL-chan toyama(ohyaa? apakah benaar sai mau ngelamar inoo? hahahaa).