Dearest

Naruto © Masashi Kishimoto


5th Memory: Malam Itu


Lagi. Lagi. Lagi.

Aah! Sejak tadi, aku hanya berguling-guling di atas kasur saja!

Apa karena film horor yang tadi kutonton? Yah, bukan film horor yang sadis atau semacamnya, tapi horor versi hantu. Aku tidak suka. Tapi kenapa aku tonton? Karena aku dipaksa oleh Sai-niikun dan Naruto-san untuk menontonnya.

Terus terbayang olehku, sosoknya.. wajahnya yang menunduk.. pakaian putih yang menutupi sekujur tubuhnya.. rambutnya yang berantakan, menutupi mukanya.. dan.. mukanya berwarna merah.. darah.. AAHHH!!!

Oh Tuhan, beri aku ketenangan untuk tidur. Bantu aku, 1antu aku. Hilangkan sosok hantu itu dari benakku!

Eh? Apa itu di pintu? Berwarna putih, tergantung disana.. ada warna merah di bagian atasnya.. jangan-jangan…

Aku memberanikan diri mendekatinya, ah, ternyata benar, hanya sugestiku saja. Sugesti seorang penakut. Itu hanya jaket putih yang kerahnya berwarna merah. Akupun menghela nafas panjang.

Tapi, bagaimanapun juga, mataku tak bisa menurut untuk menutup.

Aku ingat, buku pinjaman Naruto-san. Buku tentang seorang gadis berambut panjang dan dikuncir dua, yang kehilangan ingatan. Sama sepertiku.

Um.. tapi.. walaupun mataku tidak bisa menutup, kelopak mataku terlalu berat. Ya sudah, cuci muka sepertinya akan membuat segalanya baik-baik saja. Dan mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidur malam ini. Haaah…

Aku melangkah pelan, bersenandung kecil untuk menghilangkan kesunyian. Rumah ini besar, dan menyeramkan di malam hari. Aku benci rumah yang besar. Aku berharap, aku punya rumah kecil yang hangat. Yaah, sekarang memang jamannya rumah besar bagai puri. Tapi, karena hal itu semua, ada satu hal lagi yang membuat aku kesal. Aku kurang beruntung! Kamar tidurku paling ujung dan jauh dari kamar mandi! Walaupun ada kamar mandi di sebelah kamar tidurku, pintunya macet, tak bisa dibuka. Mungkin 3 hari lagi, akan selesai diperbaiki. Dan walaupun ada banyak kamar mandi disini, tapi.. kamar mandi yang sedang kutuju itulah yang paling dekat. Haaah…

Um? Ada ruangan yang terbuka pintunya, dan cahaya lampu terlihat dari dalam. Aku ingat, itu kamar sementara Sai-niikun menginap.

Aku mendekat…

"Kenapa juga kau tidak memberitahu yang sebenarnya padanya?"

"Aku takut itu akan melukai perasaannya kalau-kalau ternyata perasaannya sudah berubah berhubung ingatannya hilang." Dua orang berbicara, 2 suara yang khas bagiku, Sai-niikun dan Naruto-san.

"Ya sudah, terserah. Yang sabar sajalah, Naruto. Tapi ingat, kecelakaan itu bukan salahmu. Yang salah itu hanya takdir, bukan kau, bukan Hinata, atau siapapun."

"…Tapi… Bagaimanapun juga.. akulah…" Apa yang sedang mereka bicarakan? Tentang.. aku? Tentang kecelakaan yang menimpaku sehingga aku hilang ingatan seperti ini?

"DENGAR, BODOH!!!" Terdengar suara gebrakan, entah apa yang digebraknya, yang pasti, Sai-niikunlah yang melakukannya, "aku sudah muak dengan kau yang selalu menyalahkan dirimu sendiri! Itu semua bukan salahmu! Dia juga tidak salah! Dengarlah, Naruto Si Pecundang yang bodoh! Kalau dia tidak kehilangan ingatan seperti ini, dia.. pasti akan membencimu karena kau, si bodoh yang terus saja menyalahkan diri sendiri! Semua itu sudah terjadi!" Apa.. apa.. aku.. tak mengerti…

"Tiga kali aku mendengarmu menyebutku bodoh dan aku tidak memerlukan tarikan di bagian kerah bajuku dari tanganmu, tangan SEORANG PELUKIS! Dan kau tahu, 'kan, Sai. Sejak dulu, aku benci dibilang pecundang." Terdengar ada seseorang yang jatuh? Siapa? Apa Naruto-san? Mendengar pembicaraan mereka, tanpa melihatpun aku bisa mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi.

"Oh ya? Dan aku sangat benci tangan seorang maniak komputerisasi yang menonjokku sampai jatuh! Tangan milik seorang pecundang yang bodoh!" Terdengar lagi, suara badan manusia jatuh dengan kasar. Aku tahu, yang barusan terjatuh (atau lebih tepatnya dihajar) itu Naruto-san.

"Kau…" Sudah.. lah…

"CUKUP!!!" Spontan, aku memasuki ruangan, dan menghalangi Naruto-san yang sudah bersiap hendak menonjok (lagi) Sai-niikun.

"Hinata-chan? Kenapa…" Tanya Naruto-san terkejut begitu melihatku, begitu pula Sai-niikun.

"Hinata?! Apa yang kau lakukan?! Biarkan dia menonjokku! Biar aku babak belur dibuatnya!" PLAK!!! Sai-niikun memegang pipinya yang baru saja kutampar.

"Naruto-san, tolong lepas dia." Naruto-san mengikuti apa yang kukatakan, Sai-niikun dilepasnya dan terduduk lemas di lantai dengan tangan kanan menyentuh pipi kanannya yang mungkin sudah memar saat ini.

Hening, aku dan Naruto-san bertatapan, tatapan kami kosong.

PLAK!!! Tamparan yang sama mendarat di pipi kanan Naruto-san.

"Kenapa…?" Tanyaku hampir menangis. Dan setelah semenit pertanyaanku tidak dijawab, aku benar-benar menangis.

Wajah Naruto-san terlihat menyesal, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Tangan kiriku sibuk menyeka air mataku, sedangkan tangan kananku kubiarkan terdiam. Aku tidak bisa menyeka air mataku dengan tangan yang sudah melukai orang lain. Tapi, tadi itu aku benar-benar terpaksa.

"Aku tak mengerti apa yang kalian ributkan, tapi… Kenapa.. kenapa? Tolong.. jangan bertengkar… Tolong… Kalian hanya kelelahan saja… Sai-niikun… Mengertilah, Naruto-san seharian bekerja di kantornya, dia pasti lelah… Begitu pula… Naruto-san… Tak bisakah kau mengerti.. Sai-niikun baru saja menempuh perjalanan jarak jauh dari Prancis… Ini sudah tengah malam… Dia butuh istirahat… Sama.. sepertimu…" ucapku disela-sela tangisku.

Terdengar suara langkah kaki, mataku tidak bisa melihat dengan jelas karena air mata yang berlinang di pelupuk mataku. Tapi, aku tahu. Naruto-san melangkah keluar.

Dan lalu, suara langkah kakinya berhenti, "Hinata-chan. Tolong, aku tidak suka kalau pembicaraanku didengar orang lain. Apalagi pembicaraan yang bersifat privasi ini. Tolong jangan pernah kau mencuri dengar lagi. Tidak baik. Dan aku tidak suka." Dia.. marah. Dia marah padaku. Suara langkah kakinya kembali terdengar, semakin kecil tanda ia semakin jauh dari sini.

Air mataku berhenti mengalir. Akhirnya setelah beberapa sekaan tangan kiriku, aku bisa melihat dengan jelas.

Satu-satunya objek yang kuperhatikan saat ini adalah Sai-niikun.

Ia mencoba berdiri, melangkah ke tempat tidurnya, dan duduk. Dia tidak mempersilahkanku melihat wajahnya.

"Hinata-chan… Pergilah… Seperti katamu.. aku butuh istirahat," cara mengusir yang halus.


Nee! Update! XD

Disini memang sengaja dibuat pendek, sebenernya awalnya mau disatuin sama chapter 4, tapi kalo dibaca ulang, "kok jadi panjang bangeeet".

Ini update-an terakhir bulan ini (mungkin), oh iya, coba cek fic Lovely Days ecchan, soalnya, fic itu sama ini di-update bareng. :D

SPECIAL THANKS PLUS REVIEW REPLIES : dilia shiraishi(hehehe iyah waktu ngetik, lagi suka ngomong 'wew' dsb. tapi kalo bukan ino yang dilamar gimana dooong? aduh. chap ini paling pendek, hehe. sipsip, tapi hiatus sebentar, ya? ulum neeh!), Chika the Deidara's Lover(hehe. makasih. hmm, keras kepala... yah, mungkin setelah hilang ingatan, sifatnya agak berubah dikit, hehe), PinkBlue Moonlight(kan gini, sai nganggep hinata adik, nah hinata nganggep sai kakak. jadinya Sai-niikun, yang dipisah jadi Sai-nii-kun, atau Sai nii-kun. hmm. yah, mungkin disini hinata ooc bagian keraskepalanyaa hehe), kakkoii-chan(hihi. iya tuh. dasar saaaai), (eeh? maaf, maaf... ehehe. oke, makasih sarannya. waktu ngetik ecchan lagi stres siiih), dark aphrodite(nggak apaa. jawaban dari pertanyaan anda akan ditemukan apabila anda terus baca fic iniii -promosi-), Ray-kun13(iya, hehe, makasi. hmm, kembalinya ingatan hinata? ikutin aja deh ceritanyaaa -promosi-), Mitsuki Luv NaruHina(makanyaa, baca teruuus -promosi-), apel gubraaakk(hihi. ini apdetannyaa), nadd(waw makasii. ini apdetannyaa), SaKuZo(woh baru denger? itu salah satu famous straight pairings loh. makasii), meL-chan toyama(hah? apa buktinya naruto suami hinata? eh enak sajaa! bikin sasuhina di fic lovelydays juga aku terpaksa habishabisaaaaan).

Mind to review? :)