Naruto © Masashi Kishimoto

Maydaysignal © White Apple Clock

Elements © EXO's song: Mama

Rate: T

Chapter: 2, The Tree

Genre: Supernatural, Sci-Fi, Mystery

Main Character: Temari, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, Haruno Sakura Slight!ShikaTema

Warning: AU, OoC, typo, gaje, dll.

DLDR!


Temari's PoV

Aneh, ini benar-benar aneh.

Aku memundurkan posisiku sejenak. Membiarkan punggung ini menghantam kepala kursi yang empuk dan nyaman. Tanganku bergerak pelan memijat pelipis yang mulai berdenyut sejak setengah jam yang lalu. Teal ini tak berhenti memfokuskan sesuatu di depan. Memaksa otak untuk mencernanya.

"Oh ayolah, tak ada sedikitpun sisa elemen telekinase di diriku? Ini benar-benar membunuhku." Aku menggumam kesal.

Atensi kini mulai berpaling pada jam hias berbentuk apel yang setia berdiri di meja belajar–yang kini kugunakan untuk menyelesaikan masalah kerja. Waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Berarti, sudah empat jam aku berpikir keras untuk gambar sialan ini.

Ya, gambar.

Di depanku, terpampang sebuah layar hijau toska dari jam tangan yang selalu kugunakan. Tercetak sebuah gambar jam tangan hijau yang melingkar, mengudara. Aku sudah menjejalkan pikiranku di seluruh sisi jam tersebut. Nihil, tak ada hasil yang kudapatkan.

Sebenarnya ada, hanya saja aku ragu. Aku mengambil sudut pandang dari minat yang mampu membuatnya menarik perhatian sehingga membeli jam ini. Mungkin warna, tapi apa yang disukainya pada warna hijau?

"Simbol alam. Ketenangan, keberuntungan, kesejukan, dan kesehatan."

Rentetan kata-kata tersebut membuatku harus membalikkan badan, menghadap ke pintu kamarku yang tengah terbuka. Menampakkan sosok pemuda berambut merah dengan tato bermakna cinta di keningnya. Menatapku dengan tajam sekaligus meremehkan. Senyuman sinis terpatri di wajahnya yang selalu nihil akan ekspresi. Hah, sungguh, aku akan membencinya jika saja dia bukan adik kesayanganku.

"Kau menyerahkan elemenmu padaku, wajar saja jika kau kehilangan kekuatannya." Dia tertawa sinis, begitu pelan tetapi aku bisa mendengarnya. Terlihat olehku dia menyeruput sesuatu yang tertampung di gelas keramik putih yang melayang di depannya–mungkinkah kopi?

"Kau selalu saja menggangguku, Gaara," ucapku datar.

Dia melangkah, mendekatiku. Mempertipis jarak yang semula satu meter. "Kau tidak memerlukan bantuan adik tampanmu ini?"

Aku kembali memfokuskan diri pada kasus yang harus kuselesaikan disini. "Kau memang pintar, Gaara. Tanpa kuminta kau menawarkan bantuanmu. Bantu kakakmu ini terhindar dari masalah si Hatake tua itu jika aku tak menyelesaikannya hari ini," ucapku sedikit kesal. Sementara yang diajak bicara hanya mengangguk paham.

"Let's see, setahuku warna hijau memiliki sifat menyegarkan sesuatu/seseorang. Bisa juga sebagai keseimbangan emosi. Rasa bangga dan rasa percaya diri. Dan mungkin beberapa sifat lainnya bisa kau tangkap dari arti warna hijau yang kujelaskan barusan." Jade milik Asakof–code name Gaara–terus menggeliat melihat objek jam tangan tersebut. Kemudian mendesis pelan.

"Well, dari sudut pandang warna saja tak cukup kan? Bagaimana dengan bentuk?" Gaara menatapku.

"Berdasarkan bentuk, aku sudah mengetahuinya. Hanya saja aku ragu."

Gaara tertawa mendengar penuturanku. "Seorang Sabaku Temari ragu dengan opininya sendiri? Oh Kami-sama, sejak kapan kau seperti ini, nee-chan?"

Aku menjitak kepala merah itu, membuat Sang Empunya meringis menahan sakit. "Ini unik, Gaara. Mana ada jam berbentuk segitiga. Dimana-mana berbentuk lingkaran, ataupun persegi. Bentuk segitiga yang meruncing dapat menjadi suatu penunjuk arah, untuk itu kesan yang timbul adalah pencapaian tujuan."

"Jadi menurutmu, yang mempunyai jam ini orangnya idealis?" Pemuda berelemen telekinase dan cahaya itu membalikkan tubuhnya. Pinggulnya bersandar pada meja kerjaku. Ia kembali menyeruput kopi hitam yang menghangatkan atmosfer ketegangan yang tercipta di antara kami.

"Bukan idealis, tapi ambisius. Setahuku, segitiga memiliki makna stabilitas tapi terkadang hal yang sebaliknya dapat terjadi. Jadi menurutku, yang punya jam ini seorang remaja–seumuran denganku atau paling tidak seumuran denganmu." Aku membenarkan opininya. Seraya meraih sebuah pena kemudian menggoreskan beberapa kata di atas buku tulis yang terletak di sana. Mengimbuhkan kata-kata penting sebagai garis besar hasil dari opini-opini kami.

Teal dan jade akhirnya bertubrukan. Aku menatap Gaara dengan tatapan sedikit berharap. "Gaara, aku tahu kau mempunyai jaringan relasi yang luas. Apa kau mengenal seseorang yang cocok dengan clues yang kita bicarakan?"

Si Lunarkinesis-Telekinesis itu melayangkan ekspresi aku-sedang-berpikir ke sembarang arah. Menit demi menit berhargaku terbuang menunggu aktifitasnya yang tengah membongkar memori untuk mengidentifikasi orang-orang. Yah, dengan begini semoga aku menemukan pemilik jam tangan hijau tersebut.

"Sepertinya tidak ada."

APA?!

Sepertinya Gaara memintaku untuk membunuhnya secara tidak langsung.

"Baka! Kenapa tidak bilang dari tadi?" Gaara benar-benar mencari gara-gara padaku. Sepertinya dia sengaja membuat tempramenku naik. Sementara itu, aku bisa melihat lengkungan senyuman bodoh di wajahnya yang sudah bodoh.

"Senyumanku tidak bodoh, nee-chan. Tapi melambangkan ketampanan," sela Gaara. Dia memanfaatkan elemennya di waktu yang sepele seperti ini. Aku mendengus kesal.

"Kau kenapa belum tidur, hm?" tanyaku. Jade-nya masih berkilauan dengan segar. Kontras dengan sepasang netra milikku yang sudah meredup karena kelelahan berpikir.

"Tadi aku baru selesai telponan dengan Ino-chan. Setelah itu, aku melihat kamarmu masih hidup lampunya. Aku kemari hendak menanyakan alasan kenapa kau belum tidur. Ternyata sedang menyelesaikan tugas dari Direktur," jawabnya.

Aku tertawa pelan, "memangnya kau kira aku sedang apa?"

"Entahlah, mungkin melakukan hal yang sama denganku?" Aku menaikkan sebelah alis pirang ini. Merasa tak mengerti kemana pembicaraan yang Gaara bawa.

"Siapa tahu, aku akan mendengar kabar dari kakakku tercinta ini berlabuh kembali pada mantannya yang seperti nenas itu." Kemudian dia tertawa sembari meninggalkan kamarku.

Benar-benar anak ini!


Pagi menyapa. Menampakkan Sang Surya yang tengah memancarkan sinar keemasannya yang hangat. Menyinari setiap sudut kota. Langkah kakiku yang menggema di koridor sekolah menghalangi sinar yang terpantul barang sedetik saja. Sekolah masih sepi. Mengingat ini masih jam tujuh kurang lima belas.

Udara pagi yang masih saja dingin menusuk badan. Sialnya, seragam sekolahku tipis. Meskipun aku memakai tanktop sebagai pelapis di dalam, tetap saja aku sedikit meriang. Sial.

Aku memasuki kelasku yang masih kosong. Sejenak aku meletakkan tas raselku yang berwarna biru kemudian berjalan mendekati kalender. Aku menyentuh benda yang bertengger manis di sebelah lemari kelas. Netra ini menyusuri angka-angka yang berjejer melewati waktu. Hari ini, tanggal 18–hari Kamis. Oh tidak, aku tidak suka jadwal piket.

Aku meraih gagang sapu yang bersandar di dinding pojokan kelas sembari mendengus kesal. Andai saja aku memiliki kemampuan seperti Naruto–time controller–mungkin aku sudah mengatur waktu untuk meniadakan hari Kamis di hidupku.

PIIP!

Alarm-ku berbunyi, sumbernya dari sesuatu yang tersimpan dalam tas. Mengharuskanku menghentikan aktifitas menyapu yang tengah aku lakoni. Diri ini mendekat, kemudian merogoh isi tas. Ternyata benda berbentuk lonjong itu sumbernya–compact powder. Jari ini membuka pengaitnya, seketika saja sebuah panel putih transparan menyapaku dari sana.

Jam 07.00 – Review the clues.

Aku menepuk keningku pelan. Astaga, kenapa bisa lupa? Aku meletakkan kembali sapu tersebut dan mendudukkan diriku di bangku tempatku biasa menuntut ilmu. Kembali aku merogoh tas, mencari sebuah buku tulis yang menyimpan segala hal berhubungan dengan dunia kerjaku–sebagai anggota inti Die sechs.

Setelah menemukannya, aku membuka buku bersampul kuning tersebut. Melewati lembaran demi lembaran mencari informasi yang kubuat semalaman–oh terima kasih Gaara! Bersama dengan adikku, maksudnya.

Yang kutangkap: Penyuka warna hijau, labil, dan ambisius. Jika dia seseorang yang ambisius, mungkin kapasitas tampungan otaknya setara dengan Gaara. Penyuka warna hijau, mungkin dia suka ketenangan. Labil, tentu saja memiliki stabilitas yang suka berubah-ubah. Jika dia bukan kalangan siswa sekolah Junior High School 3rd grade–angkatan Gaara tahun ini–bisa saja dia seangkatan denganku. Setahuku, tingkat labilitas seorang remaja berkisar antara 14-16 tahun.

Tapi siapa?

Netra teal ini kembali mengarungi langit pagi dengan bebas di balik kaca jendela kelas. Mencoba mengistirahatkan kembali pikirannya yang sudah mumat. Aku menundukkan sedikit kepalaku. Melihat lapangan sekolah sudah mulai ramai dilalui siswa-siswi yang seangkatan maupun senior denganku. Dan dari lantai dua ini, atensiku menangkap sebuah pohon yang menjulang tinggi agak menjauh dari lokasi sekolah.

Aku tersenyum miris. Sama seperti umurnya, sudah ratusan kenangan terpatri di sana. Sama seperti jumlah dedaunan yang tumbuh, sudah ribuan ekspresi tertorehkan di sekitar pohon rindang itu. Tangan ini perlahan mulai mencengkram baju di bagian dada. Agak nyes gitu di sini–nunjuk di tempat yang sakit. Udah tahukan di mana?

TING!

T-tu-tunggu!

Terima kasih, Nara bodoh. Kenangan kita yang manis-pahit itu menarikku pada kenyataan. Sekaligus, memecah masalah yang dihadapi olehku sekarang. Mengingat–

Dengan mata yang membola tak percaya, aku meraih ponselku dan dengan terburu-buru mencari nomor ponsel Neji–si Hyuuga barbie. Menekan tombol hijau dan menunggu nada sambung berakhir dengan suara Neji.

"Moshi-moshi? Ada apa menelpon, Temari?"

"Neji, ini gawat."

Aku bisa mendengar di seberang sana tengah bergumam heran. "Tenangkan dirimu, Athena. Apa yang terjadi?"

"Haruno Sakura dalam bahaya!"

–Haruno Sakura, sahabat karib Nara Shikamaru sialan, cocok dengan semua clues yang ada.


TBC


Balas review non-login:

Temari: Ini sudah di-update, hehe:D Neji dan Temari hanya sebatas rekan kerja kok, ga lebih, Temari-san. Terima kasih sudah me-review^^


Marhaban ya Ramadhan. Selamat menjalankan puasa penuh berkah di Ramadhan, hehe:D Sekedar ingin mengucapkan saja'-' Terimakasih untuk para reader yang sudah membaca chap pertama Well, mind to review?