Naruto © Masashi Kishimoto
Maydaysignal © White Apple Clock
Elements © EXO's Song: Mama
Rate: T
Chapter: 3, Impossible
Genre: Supernatural, Sci-Fi
Main Character: Temari, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, Haruno Sakura Slight!ShikaTema
Warning:AU, OoC, typo, gaje, dll.
DLDR!
Temari's PoV
"Sial."
Aku mengacak surai keemasan ini dengan frustasi. Mengabaikan tatapan heran dari seseorang yang tengah duduk di seberang sana. Membiarkan berkas-berkas yang tergeletak tak bernyawa di meja ruang tamu berkibar karena angin sore yang berasal dari pintu yang tengah terbuka.
"Santai saja, Athena. Ini baru sebulan," ujar pemuda tersebut–yang duduk di seberang. Kemudian ia menyeruput teh panasnya dengan kalem.
"Tenang apanya, Neji? Memang sudah sebulan. Dan aku tidak akan sefrustasi ini jika hanya ini saja yang kudapatkan," keluhku sembari menghentakkan berkas-bekas tersebut.
Manik perak Neji mengamati lembar demi lembar dokumen tersebut. Profil Haruno Sakura dan Black Crows. Menyebalkan, tidak ada satupun dari kedua informasi tersebut yang mampu menyambung tali kriminalitas ini. Bahkan, sampai saat ini aku belum tahu apa motif Black Crows mengincar gadis musim semi itu. Apalagi, informasi Black Crows masih minim di sini. Hanya bermodalkan catatan kejahatan.
Who's the leader? Apik sekali menyimpan rahasia pergerakan mereka.
"Berbicaralah dengan Haruno-san. Dekati dia, akrabkan dirimu. Kulihat dari wajahnya, dia orang yang mudah terbuka dengan orang lain." Benar, yang dikatakan Neji ini patut untuk di coba. Siapa tahu aku tahu masal–
–Tunggu!
Astaga, dia sahabat si Tukang Tidur itu. Mendengus pelan dan memijat pelipisku yang mulai berdenyut. Sungguh, aku tak mau meskipun itu hanya sahabatnya. Aku sudah bertekad untuk tidak ikut campur dalam segala hal yang berhubungan dengannya.
"Kau tak mau? Kalau gitu berbicaralah dengan Shikamaru." Sialan, Neji kembali menampakkan seringai andalannya.
CTAK!
"Kau mau mati, hah? Tidak, aku tidak mau. Baiklah, aku akan mendekati Haruno-san," ucapku sembari mendengus pasrah. Sementara Si Pengendali Api di depanku tengah mengelus kepala coklatnya dengan pelan, kesakitan atas jitakanku.
"Sakit, Temari-baka!"
Siapa suruh kau berbicara sembarangan, huh? Dasar, gumamku dalam hati.
Dan sore itu ditutup dengan perbincangan ringan kami tentang kehidupan baru Neji di dunia perkuliahan.
Pada saat ini, kelas tengah kosong. Mengingat jam istirahat sedang berlangsung dan tiga per empat dari seisi kelas tengah menikmati makan siang mereka di kantin. Aku meninggalkan buku Matematika yang tengah terbuka di atas meja. Melangkah mendekati lokerku yang terdapat di luar kelas. Hendak mengambil buku tulis untuk menyalin rumus-rumus yang ada.
Teal ini seketika menyiratkan pancaran yang kebingungan. Terpampang sebuah sticky notes berwarna kuning yang melekat di pintu lokerku. Dengan cekatan aku menariknya untuk lepas dari pintu biru yang terbuat dari alumunium itu. Kemudian membaca rentetan kalimat semi kalimat yang tertulis dengan tinta pena berwarna hitam.
Coba saja menangkapku. Takkan kubiarkan kau menghalangi jalanku pada cherry. Jangan sampai aku yang akan menangkapmu untuk yang kedua kalinya.
P.
Seketika netra ini membola. Ya ampun, Kami-sama!Apakah ini surat teror? Tidak mungkin, sejauh ini aku bersikap biasa saja dan tidak berbuat masalah. Dan apa-apaan ini? Menangkapmu untuk yang kedua kalinya? Sungguh, demi apapun, aku tak pernah mengalami penculikan ataupun menjadi sandera dalam sebuah perampokan.
Dan cherry. Sepertinya aku mengetahui sesuatu tentang buah manis ini. Tunngu, biar kuingat. Sebagai buah kesukaan Neji, bukan. Kue black-forest, mustahil. Warna merah, tidak cocok. Kalau menurut kamus, cherry itu Saku–
–sebentar.
Aku mengalihkan atensiku pada sosok bersurai bubble-gum yang sibuk menyalin catatan dari Yashamaru-sensei. Zamrud-nya menelisik kata demi kata yang tertulis pada tinta hitam di papan tulis. Astaga, benar-benar. Haruno-san kini berstatus maydaysignal.
"Berbicaralah dengan Haruno-san."
Aku meneguk saliva-ku dengan kasar. Pasalnya, dari pertama kali aku menjejakkan langkah kakiku di sekolah ini tak pernah sedikitpun aku dan Haruno-san menghabiskan jam istirahat kami dengan percakapan panjang. Betegur sapa pun tidak. Meskipun kami sejak kelas sepuluh telah mendiami kelas yang sama. Ugh, terkutuk sikap introvert-ku.
Sepertinya aku harus meminta pada bungsu Hyuuga–Hyuuga Hinata–untuk membantuku bergaul sesama perempuan.
Langkah ini mulai tergerak–meskipun sedikit berat. Menapaki lantai marmer sekolah yang tebal dan dingin. Bulir demi bulir peluh meluncur di pelipis di balik anak surai keemasanku. Jujur, aku takut motifku untuk mengobrol santai dengan kekasih Uchiha Sasuke itu terkuak–ingin mengetahui masalah-masalah yang terjadi padanya. Alhasil, dia mungkin akan menjauh dan aku harus menyelesaikan misiku lebih lama lagi.
"Ha-halo, Haruno-san."
Gadis bernama bunga kebangsaan Jepang itu meletakkan penanya pelan di samping buku tulisnya. Kemudian menatapku dengan lembut, "ada apa, Sabaku-san?"
Aku menggigit bibirku sebelum menjawab pertanyaannya. "Ano, kau bisa membantuku untuk memahami materi yang disampaikan Yashamaru-sensei?"
Haruno Sakura menatapku dengan tatapan sedikit tak mengerti dengan apa yang kuucapkan. Kemudian bibir tipisnya terbuka hendak melontarkan beberapa kata. "Oh? Aku kira kau sudah mengerti, Sabaku-san. Baiklah, materi mana yang tidak kau ketahui hari ini?"
Suasanapun masih berjalan dengan canggung. Sebenarnya aku berbohong dalam perihal ini. Masih tergambar dengan jelas materi tentang Statistika yang disampaikan Yashamaru-sensei beberapa momen yang lalu. Aku harus mencairkan suasana ini demi kelancaran tugas. Sebagai respon sementara aku hanya menampilkan lengkungan senyum tulus padanya.
"Mulai hari ini panggil aku Temari. Aku tak mengerti di bagian Jangkauan Semi-Kuartil, bisa kau jelaskan kembali?" tanyaku lagi.
Ia mengangguk kemudian tersenyum. "Tentu, aku rasa penjelasan Yashamaru-sensei sudah cukup jelas. Mungkin contoh soalnya saja yang membuatmu bingung. Aku akan membuat satu contoh soal untukmu. Dan panggil aku Sakura, Temari-san."
Teal ini masih menatap gerak-gerik Sakura yang tengah menuliskan beberapa angka yang akan dijelaskannya padaku. Ekspresinya, seakan tak terjadi apa-apa. Seolah tidak ada masalah-masalah berarti yang mampu mengambil seluruh atensinya dan kekuatannya. Dia terlihat biasa saja. Melihat itu aku menggeram kesal.
Sial. Kau harus tenang, Temari. Santai saja, jangan terburu-buru, batinku.
"Temari-san, duduklah di sebelahku."
Ajakan Sakura menghentakkanku dari lamunan. Tangan putihnya menepuk-nepuk bangku kosong yang ditinggal oleh pemiliknya–Tenten, teman sebangku Sakura-san. Aku hanya menyunggingkan senyuman tipis kemudian menempatkan posisi dudukku di sebelah gadis pink itu. Lalu, dengan seksama aku mendengarkan penjelasannya–yang sebenarnya sudah kupahami.
"Apa sudah mengerti, Temari-san?" tanya Sakura padaku, tangannya meninju ke atas mengudara guna menetralisir otot-otot tangannya yang menegang.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sekali lagi, kemudian bersuara. "Sepertinya kau lelah, Sakura-san. Apa ada masalah yang menganggumu? Kau terlihat memperpanjang frekuensi waktu belajarmu di sekolah seperti tengah melampiaskan sesuatu."
Sakura sejenak menatapku heran disusul dengan tawanya. "Bukankah kita setipe, Temari-san? Kulihat kau selalu membaca buku pelajaran di waktu istirahat."
"Tidak, tidak. Aku tidak memiliki masalah yang berarti sehingga aku melampiaskannya dengan waktu belajarku. Begini-begini, di rumah aku berleha-leha," kilahku dengan tangan yang mengibas-kibas. Kemudian tertawa. Kontras dengan inner-ku yang berbicara.
Sebenarnya masalahku adalah Hatake sialan itu yang memberiku misi berat seperti ini.
"Baiklah, sebenarnya aku memang memiliki masalah. Uchiha sialan itu tidak mengabariku seminggu ini," ucapnya sedikit kesal. Tersirat sedikit semburat api dipancaran manik zamrud-nya.
"Mungkin dia sibuk, Sakura-san. Yah, setahuku, mahasiswa jurusan Hukum memang memiliki tugas yang berat dan menggunung," sahutku sedikit acuh tak acuh. Kalau masalah percintaan ini, aku memang gagal dan bukan ahlinya. Buktinya saja, aku gagal mempertahankan hubunganku dengan si Nanas sialan itu.
Di sela-sela Sakura-san yang masih mengoceh tentang kehidupan romansanya yang sedikit goyah, aku mulai memikirkan masa-masa yang dulu kujalani dengan menyakitkan. Kapal yang tengah mengarungi laut itu telah karam, tenggelam jauh ke dasar laut. Nanas itu tidak membantuku untuk naik ke permukaan, melainkan meninggalkanku jauh di samudera yang luas. Dia pergi tanpa pamit, dan berani menampakkan wajahnya kembali pada saat dia datang ke sekolah ini sebagai alumni. Mengingat itu aku hanya bisa tersenyum miris.
Well, empat bulan tak cukup menghilangkan rasa cinta dan sakit sekaligus 'kan?
"Ohya, Temari-san," panggil Sakura. Dia membenarkan posisinya menghadapku dan menatapku dengan tatapan penuh selidik. Tangan putih susunya menopang dagu v-line wajahnya.
"Apa pendapatmu tentang Shikamaru-senpai?"
DEG!
Aku hanya diam. Tak tahu harus menjawabnya dengan apa. Kalimat yang intim itu membuat jantungku bergejolak kembali. Bukan, aku tahu aku membencinya, tapi entah kenapa diri ini seperti masih menginginkannya. Walau persentasinya hanya sedikit.
"Oh ayolah, jangan gugup seperti itu. Kau belum bisa move on, hm? Aku hanya ingin tahu pendapat orang-orang tentang sahabatku itu. Kali ini, aku ingin tahu dari sudut seseorang yang telah menjadi mantan kekasihnya." Dia tertawa pelan. Kemudian menepuk pundakku.
"Aku tahu, kau pasti akan menyumpahserapahi dia. Dia memang menyebalkan. Tapi aku tak tahu dia bisa berubah seperti itu." Mendadak suaranya lirih di akhir kalimat. Mendengarnya membuatku menaikkan sebelah alis pirangku. Ada yang janggal di sini.
"Berubah yang bagaimana?" tanyaku. Instingku mengatakan ada sesuatu yang salah di sini. Alih-alih aku masih peduli. Oh dude, peduli dan kekhawatiran itu adalah hal yang manusiawi. Bukan berarti aku masih mempedulikannya secara lebih 'kan?
Dan lagi–untuk yang kesekian kalinya–aku berusaha untuk tidak munafik dan berbohong pada diri sendiri.
"Ah, tidak, tidak. Hanya masalah antarsahabat, hehe." Ia menggelengkan kepalanya kaku lalu mengukir senyuman palsu. Benar, sesuatu yang tidak beres terjadi.
"Cerita saj–"
KRING! KRING!
Dering ponsel Sakura-san memotong kalimatku yang belum tuntas. Aku meliriknya sejenak, terpampang nama si Nanas itu di layarnya. Tanpa sadar aku mendengus kesal dan mengangguk maklum permohonan maaf gadis Haruno ini karena perbincangan kami diinterupsi sama manusia sialan itu.
"Ya, pineapple? Ada apa?" ia bertanya lirih, tapi aku dapat mendengarnya. Aku mendecih pelan. Sialan, saat aku pacaran dengannya tak ada panggilan khusus seperti persahabatan mereka. Pineapple? Apa-apaan itu.
T-tu-tunggu! Tidak, aku tidak cemburu. Hanya kesal.
SAMA SAJA!
Kalau aku memanggilnya pineapple, mungkin dia akan memanggilku dengan sebutan banana. Aku tidak suka buah itu, dan Shikamaru sialan itu pasti akan selalu menggodaku dengan hal-hal yang tidak kusukai.
Pineapple?
Tiba-tiba aku tertegun, teringat akan sesuatu. Segera aku merogoh saku rok seragamku yang bermotif garis-garis. Mengeluarkan secarik sticky notes yang tadinya terpampang di pintu lokerku. Dan seketika mata ini membola tak percaya melihat dengan jeli apa yang tertulis di sama.
Lucu. Ini tidak mungkin. Bisa saja kan, pineapple sialan itu dan P adalah pribadi yang berbeda? Individu yang tak sama? Apakah hanya pineapple yang memiliki huruf awalan P?
Tapi apa salahnya jika Shikamaru dimasukkan ke daftar suspense. Toh belum ada bukti yang benar-benar menunjukkan bahwa dia pelaku di balik semua ini. Jauh di dasar hati ini, aku berharap bukan dia yang akan kubunuh di akhir misiku.
Langsung saja aku keluar dari kelas dan melangkah dengan cepat menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dariku. Dengan terburu-buru aku mengambil ponsel dan mencari sebuah nama di daftar panggilan.
"Halo, Neji. Kita harus bertemu, sekarang. Tempat di lorong kecil dekat cafe langganan kita."
Sambungan telpon terputus sepihak olehku dan tidak mengindahkan suara beratnya yang terlihat seperti menolak perintahku. Tetap saja, walau begitu dia takkan bersikap demikian. Karena dia tahu, situasi ini amat sangat genting.
POOF!
Diriku menghilang menembus dimensi ruang dan waktu menuju tempat pertemuan kami.
Di sini, aku menunggu Hyuuga barbie itu dengan kesal.
Lihatlah, sudah lima belas menit berlalu dan dia belum menampakkan wujudnya. Apa-apaan ini? Tidak biasanya dia terlambat di saat seperti ini. Jika ini mengenai kehidupan perkuliahannya aku akan mengutuk siapapun yang membuat ia tertahan di gedung Fakultas Pertanian itu.
BURST!
Semburat api besar muncul di hadapanku terpaut jarak satu meter. Sekilas lidah api itu menghilang, menampakkan pemuda perawakan tinggi dan rambut coklat panjang yang diikat rendah. Di tangannya menenteng beberapa buku yang berkaitan dengan Perkebunan yang lumayan tebal.
"Maaf aku terlambat, Athena. Apa yang terjadi?"
Aku menghela napas kasar. Mencoba menetralisir emosi yang membuncah. Jujur sebenarnya aku ingin menyumpahserapahi pemuda amethyst ini. Tapi, itu akan memakan waktuku lebih lama. "Sebaiknya kita bicarakan hal ini di cafe langganan kita, Agenor."
Sesampainya di cafe, kami lebih memilih untuk berdiskusi di lantai atas karena tak banyak orang di sana. Langsung saja kami menempati sebuah meja dan memesan minuman saja. Setelah ditinggal pelayan, aku menatap Neji dengan tatapan serius. Sementara Si Phoenix-Dragon itu mengernyitkan alisnya heran.
"Cepat katakan, Athena. Kita sama-sama dikebut oleh waktu," ujar Neji sedikit kesal.
"Baiklah, aku mendapatkan ini dari seseorang. Dari pelaku dalam kasus kita ini." Aku mengeluarkan sebuah sticky notes dan menyodorkannya ke tengah meja. Neji meraihnya dan membacanya dengan seksama.
"Aku mendapatinya di pintu lokerku. Ada tiga hal yang menggangguku; cherry, menangkapmu untuk yang kedua kalinya, dan P. Menarik bukan?" racauku dengan semangat. Amethyst milik Neji–atau biasa dipanggil Agenor–masih menatapku dengan tatapan maksudmu-?-aku-masih-tidak-paham.
"Pikirlah, Neji! Cherry. It means Sakura. Korban kita. Dan kupastikan dia pasti dekat dengan Sakura-san karena memanggilnya dengan sebutan khusus. Tapi aku masih belum mengerti maksud dari kalimat menangkapmu untuk yang kedua kalinya."
Neji berdeham, kemudian mengeluarkan opininya. "Aku sependapat dengan pikiranmu tentang cherry itu. Menurutku, menangkapmu untuk yang kedua kalinya bukan berarti pelaku ini pernah menculikmu ataupun menjadikanmu sandera dalam sebuah kasus. Pasti ada sesuatu yang tak kasat mata pernah ditangkap darimu. Ataupun, sesuatu yang kau pinjamkan padanya."
Kepala keemasanku mengangguk paham, kemudian memajukan posisi dudukku. Menatap Neji dengan intens. "Bagaimana dengan inisial P?"
Sebelum menjawab, aku bersumpah melihat seringaian mesum Neji. Dan seketika menjitak kepala coklatnya berulang kali. "Oi! Berhentilah berpikiran macam-macam!"
"Hanya bercanda, Temari-baka! Hentikan itu, sakit, aho!"
Lenganku tertarik, menjauh dari kawasan Neji. Kemudian aku menghela napasku kasar. "Sebenarnya, aku menemukan seseorang yang patut kita curigai di sini. Hanya saja," kalimatku tertahan. Tak sanggup melanjutkan kenyataan yang terlihat. Hingga akhirnya dengan helaan napas yang sudah kesekian kalinya, "aku tak sanggup mengatakannya."
"Di mana sikap profesionalmu itu, Athena? Apakah ini menyangkut masalah pribadimu?" tanya Neji sedikit kebingungan akan sikapku.
Pelayan datang menghapiri dengan segelas Iced Coffee dan Mochacino Float pesanan kami. Sejenak aku meneguk Iced Coffee pesananku kemudian berkata dengan lirih, "tadi aku mengetahui sesuatu yang mengejutkan dari Sakura-san."
Neji hanya diam, hanya mendengarkan dan menunggu kalimat selanjutnya yang mampu menjelaskan semua keadaan yang ada.
"Ia memanggil Shikamaru dengan sebutan khusus. Aku sadar, itu membuatku sakit." Teal bertubrukan dengan amethyst, menatapnya dengan nanar. Sudah lebih dari enam bulan aku bersahabat dengan si Hyuuga ini, aku harap semoga Neji mengerti mengapa aku bersikap tak se-profesional tadi.
"Dan hal yang membuatku lebih tersakiti adalah–"
Neji semakin memajukan posisi duduknya. Mengumpulkan fokusnya adan melemparkan sepenuhnya padaku. Dia begitu penasaran dengan kalimatku selanjutnya.
"–Shikamaru harus kita masukkan kedalam daftar suspense. Dengan alasan nama panggilan pineapple cocok dengan inisial P."
Ia mengerjap tak percaya. Kemudian menyandarkan punggung lebarnya pada kepala kursi yang empuk. Tangannya terlipat di depan dada bidangnya, kemudian menatap langit-langit cafe tak suka.
"Jika memang benar dia pelaku ini semua, akan kuhabisi dia."
"Memangnya kenapa, Agenor?" tanyaku selidik. Neji menegakkan posisi duduknya, kemudian menatapku tajam.
"Sebenarnya, dari awal aku kurang setuju dengan hubunganmu bersama Nara itu. Kami seangkatan. Sebelum kalian datang–sebagai junior penerus elemen–dia sudah di-blacklist oleh Hatake-sama tanpa sepengetahuannya." Neji menjelaskannya panjang lebar. Sukses membuatku semakin tertarik dalam pokok pembahasan ini.
Neji melanjutkan kembali penjelasannya, "anggota inti Die sechs itu seharusnya beranggotakan enam orang. Aku, kau, Naruto, Hinata, dan Gaara adalah formasi yang baru. Sebelumnya, Shikamaru bergabung dengan kita sebagai pemegang elemen Terrakinesis-Electrokinesis–pengendali tanah dan petir. Dengan simbol ant-scorpio melekat dengan manis di jaket kebangsaan kita yang ia gunakan."
"Lalu, kenapa dia di-blacklist?" Yah, menurutku semua tentang Nara itu mampu mengambil seluruh atensiku. Katakan saja, aku memang kepo tentang fakta yang baru kuketahui ini.
"Entahlah, aku tidak tahu. Hatake-sama merahasiakannya dari semua anggota aliansi Die sechs termasuk kita–anggota intinya," jawab Neji dengan mengendikkan bahunya. Kemudian menikmati Mochacino Float sebagai akhir dari diskusi kami.
"Sebaiknya aku harus pergi, sebelum dosen Yoroi menghukumku karena telat masuk ke kelasnya," pamit Neji. Kemudian punggung lebar itu perlahan menghilang dari pandanganku.
Entah kenapa, semua hal itu memiliki benang yang sangat tipis dan bening menghubungkan segalanya.
"Tapi, apa?"
Surai teracak, wajah tak karuan, mata menatap layar frustasi. Itulah penggambaranku saat ini. Jemariku memainkan pena gadget yang mengudara. Berkali-kali aku menggigit bibirku. Jujur saja, aku merasa tak percaya setelah apa yang telah terjadi seharian ini.
Garis besar clue yang didapat hari ini/24-06-2015: Cherry, menangkapmu untuk yang kedua kalinya, dan P.
Aku menatap untaian kata yang tertulis di atas gadget setipis kertas, berlayar hijau toska, dan sekuat baja dengan tatapan yang sulit diartikan. Ujung kuku jemariku mengetuk meja belajar dengan irama teratur. Ini benar-benar menggangguku. Sudah lelah berpikir sebulan ini, kini aku harus lebih menekankan kapasitas otakku untuk berpikir.
Menggerakkan pena, kemudian menuliskan beberapa kata di sub-poin cherry. Kemudian memberikan tanda centang di sebelahnya. Clear, cherry means Sakura. Obviously, Haruno Sakura.
Lalu beralih pada sub-poin kedua, menangkapmu untuk yang kedua kalinya. Membubuhkan kalimat yang sempat terlontar dari Neji untuk menghantarkan kejelasan pada kalimat misterius tersebut, lalu memberi simbol tanda tanya. Aku masih bingung di bagian ini. Belum menemukan titik terangnya.
Terakhir, sub-poin P. Aku terhenti di sini. Seakan-akan otakku telah berhenti bekerja, paru-paru berhenti menyaring oksigen, dan jantung berhenti mengedarkan darah. Kepalaku mendadak pusing tiada dua. Dengan tangan gemetar aku mengimbuhkan sebuah panah diikuti pineapple. Mengulangi kegiatan yang sama, hanya saja menggantinya dengan Nara Shikamaru.
Aku tak tahu ini adalah titik terang atau kabut abu-abu yang menyamarkan pelaku sesungguhnya. Dan dengan perasaan gundah, aku menambahkan simbol tanda tanya di sebelahnya.
Terlintas di pikiran tentang hal baru yang diceritakan Neji tadi siang. Fakta bahwa Shikamaru adalah mantan anggota inti Die sechs tanpa kusadari memperkuat instingku yang mengatakan bahwa Shikamaru adalah pelakunya.
Aku menggeleng kepalaku kuat, sangat kuat. Hampir mau putus rasanya kepalaku ini. Tidak mungkin. Aku tahu dia brengsek karena hubunganku yang semakin digantungnya, tapi tidak mungkin dia sebrengsek itu 'kan?
Aku harus mencari bukti lain. Semoga saja, Nara sialan itu bukan pelakunya.
TBC
Bales review non-login:
Temari: Aah, terimakasih sudah menjadi penggemar fict yang tidak seberapa ini/menggarukkepalayangkutuan/? Mungkin di chapter ini bisa mengobati sedikit rasa penasaranmu tentang masalah ShikaTema, hehe:D Ini sudah di-update. Thanks for review~!
Halooo, maaf baru update T.T White sempat kena setan malas jadi mood nulis nguap:'3 Yosh, mind to review?
