Naruto © Masashi Kishimoto
Maydaysignal © White Apple Clock
Elements © EXO's Song: Mama
Rate: T
Chapter: 4, Witness in Pink
Genre: Supernatural, Sci-Fi, Drama (a lil'bit)
Main Character: Temari, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, Haruno Sakura Slight!ShikaTema Slight!NaruHina (a lil' bit)
Warning:AU, OoC, typo, gaje, dll.
DLDR!
Temari's PoV
Sore menjelang. Lembayung menghantarkan Sang Surya ke peraduan. Diikuti dengan segerombolan burung gereja yang bermigrasi membelah cakrawala. Disertai angin sepoi yang menyapu suasana menjadi tenang. Menghujaniku yang tengah menikmati sore di bawah pohon dengan daun yang berguguran.
Teal-ku mengarungi langit dengan bebas. Suasana kali ini cukup menenangkan. Cuacapun nampaknya bersahabat kali ini. Menghanyutkan beban-beban yang sempat memberatkan pikiran. Masalah-masalah yang timbul belakangan ini mampu menguras kekuatan batinku. Entah itu permasalahan kecil di sekolah, markas Die sechs, ataupun misi yang sedang aku tangani.
"Athena!"
Seseorang menginterupsi sesi istirahatku. Terlihat dari jarak pandang sejauh dua meter, sosok bersurai indigo sebahu tengah melambai hangat dari pinggir gedung markas. Kemudian dia berlari, membuat jas kebangsaan kami yang ia gunakan melambai-lambai melawan arah angin.
"Ada apa, Archimedes?" tanyaku setelah gadis name code Archimedes itu melambatkan irama larinya. Ia mengambil posisi duduk di sebelahku dengan wajahnya yang merona. Amethyst-nya menatapku sumringah, membuat senyumnya merekah seketika.
"Bantu aku, Athena," ia menggantungkan kalimatnya dan mengeluarkan ponsel hitam dari kantung jas, "aku diajak makan dengan Naruto-kun malam ini!"
Netraku membaca sesuatu yang terketik di layar ponsel Hinata–Archimedes. Benar, Naruto mengajaknya ke sebuah restoran malam ini. Namun, apa yang membuat Hinata begitu bahagia?
Ah, benar.
Hyuuga Hinata menyukai–tidak, mencintai–Namikaze Naruto. Seketika aku mengukir sebuah seringaian yang membuat Hinata semakin merona malu. Aku menatapnya dengan tatapan hey-kau-menyukai-si-bodoh-itu-huh-? Dan disambut dengan anggukan manis dari Hinata.
"Baiklah, kau mau aku membantumu dengan apa?" Hinata mendekatkan dirinya, mencoba untuk berbisik. "Bantuin aku milih dress, Temari-senpai."
Aku manggut-manggut mengerti. "Tunggu aku di rumahmu selesai shift di markas, aku akan membantumu." Dan aku mengedipkan sebelah mataku bersama senyuman lebar–ah, aku sudah tertular Lee teman sekelasku itu. Hinatapun melebarkan senyumannya, hingga membentuk eyesmile di wajahnya. Sebagai penutup, ia pergi meninggalkanku sendirian setelah berterimakasih.
Melihat suasana hati Hinata membuatku menggeleng-geleng maklum. Yah, semua perempuan pasti mengalaminya. Rasa cinta yang bermuluk-muluk kebahagiaan abadi. Hal manis yang akan menjadi candu bagi semua umat manusia. Yang pada akhirnya, akan hancur jika kita menjalaninya dengan salah–mengakhirinya dengan buruk.
Aku mendecih, kemudian mengeluarkan ponsel warna silver yang semula tersimpan manis di kantung jas dokter. Jari ini bergemelutuk, beradu pada layar. Kemudian terpampang kedua insan berbeda gender yang tengah tersenyum berlatar greenhouse–tempat pariwisata favorite Shikamaru. Aku, masih menyimpannya.
Aku dan Shikamaru tengah terperangkap dalam layar ponselku saat kencan pertama kami dulu. Ingat, dulu. Hal itu sudah terjadi tujuh bulan yang lalu. Dan aku masih belum mengerti perasaan apa yang sedang berkecamuk selama empat bulan belakangan. Perasaan masih mencintainya atau betah membencinya? Entahlah, yang jelas aku lelah dengan pertengkaran hebat yang tak kunjung final di dalam diriku.
Yah, daripada menggalau tidak jelas, lebih baik aku melanjutkan tugasku. Memecahkan misi yang belum terselesaikan. Aku menekan tombol hitam pada jam tangan yang masih saja melingkar di pergelangan tangan. Sebuah layar berwarna hijau toska menyapa pandangan. Jemariku mengudara kemudian menyentuh benda canggih itu. Menghantarkanku pada sebuah panel yang muncul.
Netraku mengamati kata demi kata yang tertorehkan dengan tinta putih itu–catatan clues yang kudapatkan semalam. Tak sengaja tertangkap olehku nama Nara Shikamaru di sana. Oh man, bahkan misiku pun menyeret namanya. Kalau begini mana bisa move on? Aku menampar pipiku keras. Tidak, Temari. Jangan pikirkan dia du–argh, dia menggangguku, enyahlah dari pikiranku Nara sialan!
Sekali lagi, aku mengacak surai keemasan ini dengan frustasi. Membuatnya menjadi terlihat sedikit kusut. Sialan, inilah efeknya kharisma yang begitu kuat membuatku terperangkap. Menangkapku dan mengurungnya pada ruangan imajiner yang tak bersudut. Apa-apaan itu, ini benar-benar membunuhku.
Well, it's time to focus on. Sub-poin pertama, tentang cherry. Centang, obviously clear. Dan kini atensiku berpaling pada sub-poin kedua, menangkapmu untuk yang kedua kalinya. Lagi, pikiranku terbuntu di sini. Jika kata Neji menunjukkan sesuatu seperti benda milikku yang dipinjam ataupun sesuatu yang tak kasat mata telah tertangkap dariku, aku rasa tidak ada. Kalau ada, benda apa itu? Hal apa yang tak kasat mata?
Perasaan.
Aku menyunggingkan senyuman tipis. Ya, perasaan adalah hal yang tak kasat mata. Kau tak bisa menunjukkannya dalam wujud asli. Jika kau mau, kau hanya bisa mengungkapkannya lewat sesuatu yang mampu mengekspresikannya. Tapi perasaan apa?
Haduh, lagi-lagi aku harus berpikir. Belakangan ini aku lelah berpikir sampai-sampai pelipisku selalu berkedut-kedut. Seperti biasa, aku hanya bisa memijitnya pelan sebagai bentuk relaksasi.
Listen, mood-ku selalu di garis kestabilan. Tidak sedang menyukai sesuatu atau seseorang. Tidak sedang marah pada siapapun–yah sebenarnya tadi di kelas aku sedikit marah karena Kiba mengganggu belajarku. Tapi bukanlah sebuah amarah yang begitu ketara. Terlebih aku tidak membenci siap–
–tunggu, aku baru ingat.
Aku kembali merogoh saku jas berwarna putih ini. Mengambil ponsel silver yang beberapa menit yang lalu aku raih. Layarnya masih terpampang wajah sumringahku dengan Sang Mantan yang menyebalkan. Dan seketika aku tertawa miris.
Gila, perasaan apa yang telah ditangkap Shikamaru dariku? Kami benar-benar sudah lost contact. Bahkan aku tak melihat batang hidungnya semenjak ia menginjakkan kakinya di sekolah sebulan yang lalu. Menurutku, Shikamaru takkan pernah perduli sebenci apapun diriku padanya. Toh, dia tidak mengetahui kenyataan bahwa aku mencaci mentah-mentah di belakangnya ataupun ekhem–masih mencintainya.
Menghela napas dan menyandarkan punggungku pada batang pohon adalah gerakan sementara untuk saat ini. Sungguh, aku lelah. Sialan Si Hatake itu. Seharusnya misi ini diberikan pada anggota setingkat dengan Neji. Dia lebih bisa diandalkan dalam urusan seperti ini. Untung saja si Hyuuga itu mau membantuku.
"Jadi, bagaimana, Archimedes? Kau siap jalan denganku malam ini?"
Sebuah suara menginterupsiku lagi. Tapi kini suaranya sedikit berat. Bola mataku mencari sumber suara, menyebarluaskan atensi. Dan kudapati sepasang lovebird tak lebih dari satu meter. Pemuda bersurai jabrik kuning itu bergelayut manja pada pundak Archimedes. Ketika aku disuguhi pemandangan seperti itu, aku memutar mataku bosan.
"N-ne, jam delapan kan? P-pa-pastikan kau tidak telat, Wright." Gadis Hyuuga itu sedikit mengancam Wright–name code untuk Namikaze Naruto. Setelah mengangguk, Wright menghilang di balik terpaan angin. Disusul Hinata, hanya saja di balik deburan air.
Hah, payahlah sama yang sedang jatuh cinta.
Aku kembali pada layar yang masih mengudara di depanku. Mengembalikan fokus, masih berkutat pada sub-poin yang kedua. Jujur, perasaan yang baru kurasakan secara gamblang yang hanya pada Shikamaru. Dan kalian tahu itu, kebencian–atau cinta, eh? Tak ada orang lain. Jadi, untuk saat ini, Shikamaru memungkinkan untuk dipertimbangkan.
Sebentar, jika dia sudah menangkapku untuk yang pertama kalinya, berarti dia telah mengetahui perasaanku kan? Dulu itu, aku sempat mati-matian mengaguminya sebagai senior tercerdas di sekolahan. Hingga akhirnya dia mendekatiku dan mendapatkan hatiku. Ya, benar. Dan kemungkinan besar dia menangkapku lagi. Hanya saja, ini masih sedikit berkabut.
Kalimat yang hampir terpecahkan itu, bermakna denotasi ataukah konotasi?
Sepertinya, Neji harus membantuku untuk yang kesekian kalinya.
"Arigatou. Temari-senpai. Tolong doakan aku semoga malam ini berjalan lancar," ucap Hinata sebelum dirinya menghilang dari pandangan. Aku hanya terkekeh pelan sebagai balasan kemudian mengangguk pasti dengan senyuman terukir di wajahku. Kemudian aku dan Neji melangkah mendekati pintu teras. Melihat siluet Hinata dalam balutan dress biru donker yang perlahan menghilang, tak lupa aku melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Hingga akhirnya sosok bungsu Hyuuga itu benar-benar menghilang.
Melihat diriku yang begitu sumringah, Neji sejenak berdeham kemudian berujar, "aku tahu sebenarnya kau kemari tak hanya membantu Hinata memilih dress untuk kencannya bersama Naruto-baka itu. Benar?"
Ini yang kusuka dari Neji, dia selalu mengetahui maksud terselubungku. Dengan seringaian tipis aku membenarkan perkataannya. "Tentu. Seperti biasa, misi sialan itu yang selalu membawaku kemari."
"Kali ini apa lagi?" tanya Neji. Ho, sedikit jenuh dia ternyata. Baiklah, aku mendudukkan diriku kembali di atas sofa di ruangan tamu ini. "Sudah kubilang, ini masih tentang misi Black Crows yang mengincar Haruno Sakura."
Akupun melanjutkan penjelasanku, "yah, kau tahu, berhubung hanya Shikamaru saja yang dicurigai maka aku akan mengungkit Nara sialan itu. Kau masih ingat menangkapmu untuk yang kedua kalinya, Neji? Terima kasih, kalimatmu hari itu menyadarkanku akan celah yang hampir kulewati."
Dan Neji hanya membalasku dengan tatapan kalimatku-yang-mana-? dari netra amethyst-nya. Sontak membuatku rasanya ingin menghantam kepala pada tembok. Oh, astaga. Aku lupa Hyuuga Neji itu memiliki ingatan yang sangat baik–saking baiknya ia mampu melupakan semuanya dalam sekejap.
"Hear, kau pernah bilang padaku menangkapmu untuk yang kedua kalinya bisa saja bermakna sesuatu yang tak kasat mata ditangkap dariku. Sialnya, aku baru menyadarinya setelah melihat kemesraan Naruto dan Hinata sebelum shift-ku di markas selesai. Cinta, Neji. Dia pernah merampas perasaan cintaku," tuturku panjang lebar.
Kini aku mulai beranjak menuju dapur. Menuangkan air putih di gelas bening yang tertata rapi di bar dapur. Kemudian meneguknya. "But, ini bukanlah sepenuhnya Shikamaru. Bisa saja–"
"–bagaimana kalau itu benar-benar ulah Shikamaru?" Kini Si Pyrokinesis-Levitation itu menatapku tajam. "Semua sudah menjurus padanya, Athena. Jangan mengelak. Kau tidak bisa menempatkan persoalan pribadimu di sini."
"Aku tidak mengelak. Kita tidak tahu, bisa saja seseorang menyabotase Shikamaru," bantahku, kemudian meneguk setengah dari gelas air putih dalam waktu yang singkat. "Aku yakin, bukan dia dalang di balik semua ini."
Mataku melirik, melihat Neji tengah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Terserahmu saja, Athena. Dan kuperingatkan, jaga nyawamu selama kau menjalankan misi ini. Aku curiga, makna menangkapmu untuk yang kedua kalinya memiliki arti aku akan membunuhmu. Kau harus menyelamatkan nyawa Haruno-san, tapi bukan berarti kau akan meninggalkan nyawamu."
"Ya, aku akan selalu berhati-hati. Kau tahu itu." Aku menatap Neji tak acuh. Walaupun sebenarnya aku meragukan kekuatanku sendiri.
Perdebatan sengit itu ditutup oleh kegiatan Neji yang sibuk dengan tugas kuliahannya.
.
Hari semakin malam. Dan seperti biasa di jam seperti ini, aku masih berkutat dengan pekerjaanku. Tak memperdulikan jarum jam yang terus bermain dengan waktu. Angin malam yang menyusup malu-malu melalui ventilasi tak kuhiraukan. Karena, permasalahan yang kuhadapi tepat di depanku adalah hal yang selalu bisa menarik atensiku ke dalamnya.
Seakan sudah menjadi lagu lama, aku sedikit jenuh dengan misi yang kujalani ini–meskipun sudah hampir mencapai batasnya. Hanya saja, aku masih tidak percaya. Look, Haruno Sakura adalah sahabat karib dari Nara Shikamaru. Shikamaru telah menangkap perasaanku dulu, kemudian berhasrat untuk menangkapku lagi. Dan P for pineapple.
Seems legit? Kenapa ini semua mengarah kepadanya? Haha, aku masih tidak percaya. Oh ayolah, tidak mungkinkan? Jika yang dicurigai ada dua orang, pantas aku tidak percaya dengan clues ini. Bisa saja disabotase. Tapi, rasanya memang benar. Semua ini mengarah pada Shikamaru.
Aku segera mengambil ponsel yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidurku. Jariku bergerak mencari sebuah nama, kemudian memanggilnya. Cukup lama aku mendengarkan nada sambung, hingga akhirnya aku mendengar suara yang sayu dari seberang.
"Halo Athena? Ada apa menelponku jam dua seperti ini?"
"Ah, maaf Neji. Tapi ada hal yang ingin kubicarakan denganmu. Apakah aku mengganggu? Jika iya, aku akan menelponmu besok pagi."
"Jika itu tentang misi, aku akan terjaga untuk membantumu. Jika ini tentang urusan pribadimu, kau salah nomor," ucap Neji sarkastis. Hei, sejak kapan dia seperti ini, huh?
Aku membangkitkan diri kemudian menyandarkan kepalaku di kepala tempat tidur. Lalu teal ini bergulir menatap layar toska yang muncul dari jam tanganku di atas meja belajar. "Ya, ini tentang misi. Tidak sepenuhnya, sebenarnya."
"Bicaralah. Aku akan membantumu dari sini."
"Um, apakah kebijakan membunuh incaran musuh dalam suatu misi adalah mutlak? Tidak bisa dihukum saja dengan menjerumuskan mereka ke jeruji besi?" tanyaku ragu.
"Sebenarnya bisa. Hanya saja aku ragu dia akan bebas dalam kurun waktu belasan tahun. Kemungkinan puluhan tahun. Karena, yah kau tahu. Mereka merugikan negara dan masyarakat. Pada hakikatnya mereka pantas untuk mati," jawab Neji dengan suara paraunya.
Mendengar itu, aku hanya bisa meneguk saliva-ku kasar. Astaga, demi apa aku tak mau membunuh Shikamaru. Juga, aku tak mau melihatnya sengsara di bui berpuluh-puluh tahun. Tapi, apa mau di kata. Dia benar-benar sudah merugikan negara dan masyarakat dengan catatan kejahatannya yang menumpuk.
Hei, Temari, bisa saja bukan Shikamaru. Itu yang kau yakini, bukan?
"Temari, kau masih di sana? Kenapa diam?"
Suara berat Neji memecahkan lamunanku dari ujung sana. "A-ah? Aku masih di sini. Aku punya satu permintaan untukmu, Neji."
"Apa itu?"
"Bantu aku untuk melindungi diriku sendiri dan segala sesuatu yang berkaitan dengan misi ini. Firasatku tiba-tiba merasa sangat buruk," kataku dengan sirat keraguan di setiap kata yang terucap.
"Tentu, mengapa tidak? Jangan cemas, Athena. Kau harus tidur. Besok kau sekolah dan kau punya shift di markas. Belum lagi misimu yang rasanya tak bermuara. Kau terlalu memaksakan dirimu. Istirahatlah. Maaf, aku harus melanjutkan tidurku, hari ini aku ada kelas pagi. Selamat mal–ah, maksudku, selamat pagi."
Konversasi jarak jauh itu diputuskan sepihak oleh si Sulung Hyuuga tanpa menghiraukan balasanku terhadap kekhawatirannya. Neji memang benar-benar sosok sahabat yang tak bisa aku lepaskan. Ah, mengapa di setiap kekhawatiran seorang Hyuuga Neji selalu ada gerakan hipnotis yang mampu membuatku menurutinya?
Ketahuilah, sekarang ini mataku mendadak berat untuk terbuka. Layaknya lampu tidur Gaara yang mengandung daya lima watt, ataupun ponsel yang baterainya tinggal satu persen. Neji benar, aku benar-benar lelah dan memaksakan diri. Salahkan misi yang begitu menarik perhatianku saat ini.
Sekarang, aku hanya bisa mengulur waktu. Yah, ini jalan satu-satunya untuk membuktikan apakah Shikamaru benar-benar bersalah atau tidak. Setidaknya, aku berharap ini adalah ulah seseorang yang berhasil menyabotasenya.
Dan seketika diri ini terlelap dalam mimpi membiarkan segala pemikiran itu menguap bersama langit yang mulai cerah.
Siang menjelang. Mentari meninggi dengan agung. Menyengat siapa saja dengan cahayanya yang mampu menusuk hingga ke kulit ari-ari. Nampaknya ia sedang murka, meskipun aku tak tahu apa sebabnya. Hiruk-pikuk siswa senior high yang seangkatan, junior, maupun senior denganku mengeluh akan implementasi Sang Surya yang seakan menghukum mereka. Peluh membanjiri seragam yang dibalut oleh seifuku coklat. Jatuh dengan bebas dari pelipis, sebagian bersembunyi dibalik surai-surai tipis masing-masing.
Atensiku bergulir. Mencari sosok yang tak asing lagi, rencananya ia ingin menjemputku pulang sekolah dengan alih-alih menjaga keselamatan. Namun nihil, teal-ku tak menangkap sosok tinggi, berkulit putih, dan bersurai coklat panjang.
"Lho, Temari belum pulang?"
Haruno Sakura merangkul pundakku dengan bersahabat. Senyuman manis terukir di wajahnya yang manis. Sirat zamrud-nya menusukku dengan hangat. Seakan tertular, aku ikut tersenyum melihatnya. "Belum. Kau kenapa belum pulang? Menunggu Uchiha-san?"
Kepala merah mudanya menggeleng. "Tidak, kami sedang bertengkar. Ah, itu dia!"
Di ujung sana tampak seseorang yang sangat tidak asing lagi. Rambut hitam yang di kucir tinggi, tubuh tinggi menjulang, dan mata malas yang sangat kukenal. Oh tidak, jangan bilang kalau itu–
"–Shikamaru-senpai! Sebelah sini!"
Ya Tuhan.
Aku melihat Sakura yang sibuk melambai-lambaikan tangannya tinggi. Shikamaru yang muncul di antara sesaknya anak sekolahan akhirnya menemukan Sakura–dan aku juga, sialnya–karena perawakan Sakura yang begitu mencolok. Selepas itu, ia menoleh padaku dan memamerkan cengiran lebar tiga jari miliknya. "Jangan ke-flashback ya, Temari," bisiknya dengan nada yang menjijikkan.
Dan aku hanya mendengus pelan sebagai respon. Shikamaru semakin mendekat. Sadar tengah ditatap intens, aku hanya memutar bola mataku bosan lalu melihat sesuatu yang pantas dilihat. Apa saja, asalkan bukan si Nenas Busuk itu.
"Ah, Sakura. Sebenarnya aku mau minta maaf," ucapnya dengan nada suara pelan, tapi aku mendengarnya. Ah, sialan. Ini suaranya yang berat atau akunya yang terlalu tajam pendengaran?
Gadis bermarga Haruno itu hanya menautkan alisnya heran. Tertangkap dalam pandangan gelagat aneh dari si Nara sialan itu. Oh, aku bukan penasaran. Mungkin saja ini mampu membuka jalan bahwa Shikamaru bukan seseorang yang salah. Jadi, tidak salah kalau aku curi-curi pendengaran kan?
"Aku tidak bisa menjemputmu hari ini, maaf. Aku mendapatkan panggilan dadakan dari dosen, sepertinya ada yang bermasalah dengan tugas Farmasi-ku semalam," tutur Shikamaru. Kemudian grey-nya menatapku dingin, "kau bisa pulang dengan si Pirang ini."
Pirang? Hei, hitam, aku punya nama, Nara no baka!
"Guys, calm down. Alright, no problem, Shikamaru-senpai. Temari, aku bisa menumpang? Jika kau keberatan, aku akan pulang naik bus. Tidak apa." Sakura menatapku teduh, membuat seketika hatiku luluh.
"Kau bisa menumpang, Sakura. Kebetulan sebentar lagi mungkin temanku akan datang. Oh, jangan lupa kalau aku mempunyai nama, Tuan Nara." Aku membalas tatapan Shikamaru yang sengit. Cih, dia kira hanya dia yang bisa melotot tajam penuh kebencian? Aku juga bisa, sialan.
Aura yang begitu kelam, kontras dengan cerahnya siang, seketika lenyap jika seseorang tidak menghentikannya. Hyuuga Neji telah berdiri di sebelahku. Menatapku ramah kemudian beralih pada Shikamaru dengan datar. "Long time no see, my childhood deer."
Shikamaru hanya membalasnya dengan kuapan mengantuk. Langkahnya beranjak meninggalkan kami bertiga; Neji dengan ekspresi datar, aku yang penuh kebencian, dan Sakura yang bergelumut dengan kebingungan. Dan sekejap saja benteng dingin yang sempat berdiri runtuh ketika Sakura menginterupsi. "Sudahlah, ayo kita pulang."
Selama perjalanan pulang, dilewati tanpa suara yang keluar dari masing-masing individu. Hanya deru mesin mobil dan alunan musik dari radio-tape menyelimuti suasana yang memang sudah canggung sejak awal. Hingga akhirnya aku berhasil menembus kesunyian yang ada.
"Neji, aku turun di sini saja ya. Sakura, kau mau ikut aku ke minimarket?" Aku menoleh ke bangku belakang, mendapati Sakura yang awalnya memainkan ponsel chase pink miliknya. Netranya menatapku lembut, kemudian mengangguk setuju.
"Baiklah, terima kasih, Neji! Semoga jadwal kuliahmu menyenangkan," ucapku menghibur Neji sebelum akhirnya aku keluar dari sedan yang biasa dibawa oleh Neji. Disambut dengan kekehan kecil kemudian melesat meninggalkan kami yang berdiri di depan minimarket.
"Kau mau menemaniku ke dalam, atau menunggu di luar?" tanyaku.
"Di luar saja, persediaan makananku masih ada," jawabnya, kemudian merapatkan seifuku demi menghalang dinginnya air-conditioner minimarket yang sempat menyapa kulit putihnya.
"Baiklah, tunggu aku di sini dan jangan kemana-mana," perintahku.
Lalu beranjak meninggalkan si Haruno dan sibuk memilih berbagai makanan di dalam. Berhubung hanya aku dan Gaara di rumah–kaa-san dan tou-san sedang ada proyek di luar kota–sepertinya makanan instan adalah jalan yang terbaik. Ah iya, jangan lupa mana tahu aku menyeret Sakura untuk singgah di rumah–atau menginap? di rumah.
Setelah selesai memilih dan mengambil tumpukan cup ramen instan, aku segera membawanya ke kasir dan membayarnya. Sejenak aku melirik siluet Sakura yang terduduk di luar minimarket, menyandarkan dirinya pada kaca yang nampaknya terlihat kokoh. Oh, aku tidak bisa lama-lama. Melihat Sakura yang sepertinya sudah lelah menungguku berbelanja.
Perlahan aku membuka pintu kaca minimarket–meskipun kewalahan menggenggam sebungkus plastik putih besar dan dua minuman kaleng. Dengan senyum yang merekah hendak menyapa Sakura sepertinya yang sudah tertidur. Ho, selama itukah aku berbelanja? Setidaknya masih membuatnya tetap terjaga. Tetapi kenap–
–Astaga, Kami-sama!
Ti-tidak mungkin! Sakura pasti sedang menjahiliku. Ah, tidak, ini bukan April Fools. Lalu, siapa yang menikam Sakura? Ini darurat. Dengan sigap aku meletakkan barang belanjaanku dan bersimpuh di depannya. Demi Tuhan, tusukannya lumayan dalam. Aku menyingkap seifuku milik Sakura yang sudah ternodai darah kemudian merobek sedikit seragam di sekitar luka.
Cairan merah berbau anyir itu terus merembes. Seketika aku mengeluarkan pendar hijau yang selalu kugunakan untuk merawat luka-luka pasien di divisi tempat aku ditugaskan. Meletakkannya di atas luka, perlahan mengobatinya. Tangan kiriku yang bebas tergesa-gesa mencari kontak seseorang.
"Oh ayolah, Neji. Angkat telponmu," ujarku sedikit panik.
Calm down, don't be panic. Aku menyugestikan kalimat tersebut berulang kali pada diriku. Tenang, Temari. Atau semua akan berjalan dengan buruk.
"Halo, ada apa, Athena?" Akhirnya suara Neji menyahut setelah lama nada sambung sialan berbunyi.
"Segera ke tempat minimarket tempat kau menurunkanku tadi. Sakura terluka, Neji."
"Baiklah, aku akan ke sana tak lama setelah ini."
TUT!
Sambungan terputus. Oh God, keadaan semakin kritis. Sakura mulai kehabisan darah. Aku semakin menguatkan tenaga medisku untuk menyembuhkannya. Tak perduli peluh kembali menetes jatuh bersama gravitasi ke semen trotoar. Sakura harus tetap hidup. Yakinlah, pasti dia akan hidup. Pasti.
Because she's the only one witness in pink that I have.
Suasana serba putih menyadarkannya. Aroma obat-obatan yang menusuk menyeruak membangunkan indera-inderanya. Zamrud-nya bertubrukan dengan cahaya putih lampu yang menyilaukan. Gelagatnya yang begitu lemah karena hemoglobin yang terkuras begitu banyak.
Seketika kami bersitatap. Teal yang menyiratkan suatu kelegaan bertemu dengan zamrud yang begitu pilu. Seulas senyum dariku kini luntur melihat ada sesuatu yang tak beres darinya. Segera aku mengeluarkan stetoskop abu-abu dari jas dokterku kemudian memeriksanya.
"Tidak ada sesuatu yang salah, kau stabil. Lalu apa yang mengganggumu?" tanyaku penuh selidik. Sementara Sakura hanya meresponnya dengan seulas senyuman tipis yang tersakiti.
"Batinku yang sakit, Dokter Temari." Sakura masih mempertahankan senyumannya, "kau akan bersikap demikian jika kau dikhianati oleh sahabatmu."
Aku mendekatkan kursi yang kududuki ke ranjang pasien tempat Sakura berbaring. Sementara si Pasien berusaha untuk mendudukkan dirinya. "Berbaring sajalah, bagian kanan perutmu pasti masih sakit meskipun sudah di perban."
Dia hanya menurut, kemudian berujar, "aku bertemu seseorang yang tidak salah kan? Semoga bertemu denganmu dapat menyadarkan Shikamaru atas kesalahan yang diperbuatnya." Sakura menatap langit-langit kamar pasien dengan sendu. "Aku bergantung padamu, bukan kepada temanku bernama Temari. Tapi, kepada anggota inti die Sechs bernama Sabaku Temari."
"Jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja. Aku di sini mendengarkanmu," racauku. Sebenarnya, ada sesuatu yan tidak enak menjalar dalam diriku. Dan bodohnya, aku menepis itu.
"Sebulan yang lalu, aku mengunjungi Shikamaru untuk menjenguk tou-sannya yang sakit. Kemudian aku sejenak singgah ke kamarnya karena disuruh oleh Yoshino-baasan untuk membangunkan Shikamaru," Sakura menjeda kalimatnya, terdengar sebuah helaan napas menyelip di sana. "Sesuatu mengganggu penglihatanku. Aku penasaran, kemudian aku mendekati benda tersebut."
Gadis merah muda itu mencengkram erat kasur pasien. "Aku menemukan sebuah buku bersampul hitam dan kertasnya seperti lapuk. Tampaknya buku itu sudah berpuluh-puluh tahun umurnya. Dengan pelan aku membukanya, dan sesuatu mengejutkan tercetak jelas di sana." Atensinya beralih, menatapku yang masih mendengarkan ceritanya.
"Kau pasti tidak asing dengan berita kematian pejabat tinggi Yamato, Namikaze Minato, Senju Tsunade, dan sebangsanya?" Aku mengangguk. Jelas saja aku tahu, salah satu di antaranya adalah ayah dari rekan kerja sesama anggota inti die Sechs, Namikaze Naruto.
"Aku menemukan catatan motif atas kematian mereka di sana–alasan kenapa mereka dibunuh, lebih tepatnya," menggantung kalimatnya dan menghela napasnya lagi, "kali ini dengan lambang Black Crows di setiap halamannya."
DEG!
A-apa?
Astaga, Tuhan.
TBC
Bales review non-login:
Temari: Haloo, semoga di chapter ini semakin memperjelas dugaanmu, hehe:D Thanks for review~!
Haloo, long time no see, readers. Sepertinya semakin jelas, ya? Tenang saja, jangan sedih. Entaran White akan menceritakan kalau sebenarnya Shikamaru ga sejahat itu. Meskipun White masih mikir alur untuk chapter depan bagaimana. Mungkin sikap Shikamaru yang sebenarnya akan White jelaskan di dua chapter selanjutnya. And by the way, alhamdulillah udah ngetik sampai 3rb-an words, hehe:D Yosh, mind to review?
