Naruto © Masashi Kishimoto

Maydaysignal © White Apple Clock

Elements © EXO's Song: Mama

Rate: T

Chapter: 5, Catching The Apologize

Genre: Supernatural, Sci-Fi

Main Character: Temari, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, Haruno Sakura Slight!ShikaTema

Warning:AU, OoC, typo, gaje, dll.

DLDR!


Temari's PoV

Malam masih berjalan, seakan waktu melambat. Rembulan penuh setia bertengger di cakrawala malam yang jelaga. Bersama bintang yang bersinar, melewati malam menuju pagi. Tak perduli dengan sunyi-senyap kehidupan di bumi, perihal semua umat manusia telah terlelap menjelajahi dunia mimpi.

Tapi tidak denganku–juga Neji. Kami masih terjaga melewati suasana koridor rumah sakit yang semakin kosong, tak ada yang berkeliaran. Persetan dengan itu, besok adalah hari Jum'at. Hanya ada Bahasa Jepang dan Olahraga–tak begitu penting. Neji juga, ia bilang kalau dia baik-baik saja menetap di sini untuk sementara waktu. Toh, dosen Yakumo tidak masuk besok. Alasannya, dosen cantik itu mau melahirkan.

"Kau benar, Agenor." Suara lirihku membelah keheningan yang tercipta sejak setengah jam yang lalu. Netraku masih terpaku pada ubin Rumah Sakit yang tampaknya semakin dingin. Menatapnya dengan kekosongan yang tak berarti.

"Shikamaru adalah pelakunya," ucapku disusul dengan helaan napas yang begitu ketara. Sejenak aku memejamkan kedua mata ini, meminta relaksasi barang sedikit saja atas semua kegilaan ini.

Ya, ini gila. Shikamaru ternyata memang brengsek kepada semua orang–aku, Sakura, dan die Sechs.

Neji hanya menyandarkan punggung lebarnya pada dinding, kemudian menatap langit-langit dengan tatapan hah-akhirnya-kau-menyadarinya. Tak ada respon verbal yang terucap, hanya gerakan kecil yang dapat aku lihat dari ekor mata. Dan aku, sejujurnya, menyesal tidak mempercayainya sejak awal.

"Maafkan aku," cicitku. Kepalaku semakin tertunduk, semakin dalam pula rasa bersalahku pada sulung Hyuuga. Bukan karena apa-apa, dia sering membantuku, namun dengan halus aku menolak pendapatnya. Seandainya aku mampu menepis perasaan pribadiku mungkin aku sudah menangkap Shikamaru sebelum Sakura terluka.

PUK!

"Tidak apa, Athena. Anggap saja ini pengalamanmu. Kau masih junior, jangan terlalu merasa bersalah. Kau masih perlu belajar banyak hal sebagai anggota inti die Sechs," ujarnya dengan lembut. Tangan besarnya menepuk pucuk kepala emasku pelan, kemudian mengacaknya sedikit. Pancaran amethyst-nya begitu dalam. Melihat itu, aku mengukir sebuah senyuman sebagai balasan.

Teal dan amethyst masih bersitatap. Aku yang lega dan Neji yang menyejukkan. Benar-benar menebas dingin malam yang kejam menusuk kulit. Namun, seketika raut wajahku berubah. Tekad yang bulat tercetak. Dengan sorot mata keseriusan yang mendalam mampu membuat Neji mengernyit heran.

"Bantu aku untuk menangkap Shikamaru, Hyuuga Neji."


Jarum jam menunjukkan angka empat. Pertanda pagi mulai menjelang. Mentari siap menjalankan tugasnya. Dan kami–Hatake-sama, aku, Neji, Chouji, Gaara, Naruto, dan Hinata–tak perduli akan hal itu. Di dalam ruangan berukuran sedang dengan satu-satunya lampu yang menyala, kami menyambut subuh dengan meja lingkaran yang di kelilingi oleh kami.

"Jadi, bagaimana dengan penangkapan anggota mafia terbesar Black Crows?" Suara berat Hatake-sama menginterupsi kami berenam yang sedang berkutat dengan layar masing-masing.

Tanpa mengalihkan atensi dan jari yang setia menari di atas keyboard hijau toska, Naruto merespon, "tidak perlu khawatir dengan pasukan Black Crows. Aku sudah memantau kemampuan pasukan kita dan kesediaan persenjataan. Sembilan puluh persen pasukan kita siap untuk menghadapi mereka, Hatake-sama."

"Jangan melibatkan begitu banyak personil, Wright. Budget dan kas yang tersimpan hampir mencapai angka standar rendah. Kau harus mengontrolnya. Jika tidak kita akan bangkrut," sergah Hinata. Amethyst-nya menatap cemas grafik keuangan aliansi yang semakin menurun.

Mendengar penuturan Kepala Divisi Administrasi, Hatake-sama membelalakkan matanya terkejut. "Apa yang telah kau lakukan dengan keuangan kita, Archimedes?"

"Bukan aku yang membelanjakannya, Hatake-sama. Setahun yang lalu kita mengeluarkan banyak biaya karena kebakaran yang terjadi di Divisi Teknologi dan Komunikasi. Setelah itu kita hanya mendapatkan masukan dari kasus-kasus kecil. Jadi, tidak begitu banyak." Hinata menjelaskan dengan rinci, kemudian disambut dengan anggukan paham dari Hatake-sama.

"Kalau begitu, kita harus mengambil pasukan yang benar-benar handal dan memiliki grade S-plus. Untuk perencanaan strategi menyerang, aku masih memikirkannya." Chouji bersuara, lalu mengeluh dengan hasil kerjanya. Memang belakangan ini dia selalu membandingkan dirinya sendiri dengan Kepala Divisi Strategi dan Perencanaan sebelumnya. Dan itu cukup membuatnya frustasi.

"Asakof, kau sudah menciptakan sesuatu yang baru untuk penangkapan kali ini? Terakhir aku melihat hasil karyamu dalam penangkapan penjahat kelas kakap yang kabur dari penjara." Kepala perak itu menoleh, menatap adik kembarku dengan tatapan penuh selidik. Tak perduli dengan tatapan intens direktur, jade milik Gaara masih terpaku pada layar toska dengan selipan angka biner di dalamnya.

"Sejauh ini aku baru menghasilkan satu. Pistol dengan perlengkapan peluru listrik. Sementara itu, granat debu masih dalam proses pengerjaan. Senjata listrik itu sudah siap pakai. Jadi, masukkan ke daftar persenjataan, Wright," jawab Gaara.

"Untuk tenaga medis, aku akan menyiapkan anggota khusus untuk mengantisipasi pasukan yang terluka ataupun sekarat. Seperti kata Hitler, kita harus membatasi jumlah personel. Berarti, kita harus mengoptimalkan kebutuhan kesehatan mereka. Tidak banyak, aku akan membentuknya dengan lima orang dan mengirimkan beberapa ambulans," tukasku. Sementara itu aku bisa mendengar gumaman kelegaan dari Hitler–name code Chouji.

"Baiklah, aku senang mendengarnya. Bagaimana dengan masalah transportasi?" Pria bermarga Hatake itu bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekati Neji yang masih terfokus pada panel toska yang berlapis-lapis mengudara.

"Ah, masalah itu, aku hanya meminta mobil van saja. Dua mobil van. Satu berisi pasukan khusus dan satunya lagi persenjataan."

Ruangan yang remang-remang itu kembali hening. Hanya hentakan jari-jari di atas papan berhuruf yang menguasai. Terlebih, pikiran masih memonopoli masing-masing dari individu yang berada di ruangan ini–ruangan khusus untuk rapat kepala divisi saja. Tak lama waktu berselang, suara berat dari pemuda tambun bermarga Akimichi memecahkan keheningan yang memeluk atmosfer sekitar.

"Baiklah, kita menyusup ke markas mereka sekita jam lima sore. Berhubung bukan markas pusat, aku lebih memilih untuk mengirimkan duapuluh lima anggota dari pasukan didikan divisi yang di pegang oleh Wright. Berkat bantuan seorang hacker, aku mengetahui posisi di mana Nara Shikamaru. Markas mereka memiliki enam lantai, karena dia memegang kekuasaan Kepala Cabang, bisa kupastikan dia berada di lantai teratas. Jadi, kita harus menaklukan bawahannya terlebih dahulu. Step by step itu penting." Chouji mempresentasikan strategi yang ia dapat melalu gambaran tembus pandang. Jari-jari gempalnya elok memainkan sisi-sisi gambar yang melayang itu.

"Kalau begitu, di antara kalian semua yang turun ke lapangan hanya Agenor, Athena, dan Wright. Selebihnya, bantu mereka dari belakang," perintah Hatake-sama. Kemudian ia melanjutkan kembali kalimat komandonya, "untuk Athena, gabunglah bersama anak buahmu. Biarkan Wright yang menangkap Shikamaru."

A-apa?

"Ano, Hatake-sama. Tidak bisakah saya ikut berpartisipasi?" tanyaku sedikit ragu. Jujur, aku ingin bertemu dengan Nara sialan itu dan mempertanyakannya. What the hell have you done, pineapple bastard? Bahkan tak cukup mengobrak-abrik isi hatiku, kau juga memporak-porandakan markas yang dulu membesarkan namamu?

"Tidak, Athena. Ini bukan bida–"

"Saya mohon, Hatake-sama. Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan sama pemuda itu."

Lancang. Aku telah lancang memotong perintah direktur. Bukan, aku tidak tahu mengapa seperti ini. Aku tidak bermaksud untuk mencari masalah dengannya. Aku hanya ingin memuaskan ras penasaranku, meminta alasan mengapa ia di-blacklist dan alasannya mengikuti jejak mafia Black Crows.

"Kau ingin di-skors, Athena? Barusan kau memotong perintahku," ucapnya dingin.

Astaga, benar-benar. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dalam. Netraku tak berani menatap tampangnya yang kharismatik itu. Tanganku hanya bisa mengepal, hingga memunculkan buku-buku tangan yang memutih. Menyalurkan rasa takut yang sempat terlintas dalam benak dan kini semakin berputar dalam pikiran.

"Maafkan saya, Hatake-sama. Saya tidak akan mengulanginya lagi."

Mau tak mau, aku harus menuruti perkataan Hatake-sama untuk tidak ikut andil dalam penangkapan Shikamaru. Selama ini, memang aku selalu bersyukur jika Hatake-sama menempatkanku di garis belakang dan mengobati semua anggota yang terluka. Tapi kali ini berbeda.

Meeting penting kali ini akan berlangsung lama. Dan aku hanya bisa terduduk malas di atas kursi yang sedang kududuki. Menyenderkan punggungku ogah-ogahan pada kepala kursi. Pekerjaanku sudah selesai, aku sudah mengirim data-data yang perlu ke Divisi tempat aku memimpin. Sedangkan mereka masih sibuk merundingkan apa yang harus mereka lakukan untuk penangkapan kali ini.

.

Waktu sudah berjalan selama lima jam. Langit sore yang jingga kini berganti kelam serta bintang yang menghiasi. Teal ini tak hentinya memandang sebuah gedung dari kejauhan melalui jendela ambulans. Kemudian melirik beberapa mobil ambulans yang berjejer di belakang kami–aku dan anggotaku.

Beberapa anggotaku sibuk dengan anggota didikan Naruto yang terkapar penuh luka. Aku hanya mengawasi mereka, meskipun sesekali membantu mereka yang kesulitan mengobati luka yang cukup serius dan jauh di atas pengetahuan mereka. Sebagian masih ada di dalam, bertarung demi menggagalkan kursi kekuasaan Shikamaru yang terletak di lantai teratas gedung.

Sesekali terlihat beberapa anggota memapah anak buah Black Crows yang terhuyung-huyung hampir tak sadarkan diri. Membawanya menuju mobil polisi yang sudah mengikat kontrak kerja sama dengan kami dalam urusan ini. Ya, kami meng-handle beberapa kasus yang gagal ditangani polisi. Menginterogasinya lalu memberikan data-data yang terkuak ke polisi. Masalah hukum, mereka yang mengurus.

For your information, meskipun kami masih di bawah umur, tapi kami sudah mendapat lisensi untuk menggunakan senjata dan bergelut dalam dunia ini. Aneh memang, tapi itulah yang dilakukan Hatake-sama untuk mempekerjakan kami. Dengan iming-iming akan membantu kepolisian dalam tugas negara. Meskipun, memang benar adanya.

Selang beberapa menit, atensiku berpaling. Menghanyutkan lamunan yang sempat terjalin dalam pikiranku. Dan aku melihat, Naruto mendorong punggung seseorang yang sangat kukenal dengan tangan terborgol di belakang tubuhnya.

Nara Shikamaru.

Tepat pukul sepuluh malam, kepala cabang mafia Black Crows tertangkap atas gugatan perencanaan pembunuhan dan pembunuhan terhadap beberapa petinggi negara. Dengan wajah tertunduk dan beberapa helai surai hitam menjuntai yang lolos dari ikatan nanasnya, menutupi sebagian wajahnya. Dengan wajah penuh lebam dan luka goresan, ia memasuki mobil polisi dan disusul dengan dua orang kepolisian yang akan menjaganya. Lalu, meninggalkan lokasi di bawah naungan langit malam yang semakin kelam.

Melihat itu, entah kenapa hati ini tergores miris.

DRRTTT!

Jam tanganku bergetar. Pertanda sebuah pesan masuk. Aku mengangkat lengan kiriku mengudara kemudian menekan tombolnya. Lagi, sebuah pesan tertera di layar hijau toska yang sedikit tembus pandang. Dan seperti prediksiku sepersekian detik yang lalu, pesan dari Direktur menyapaku malam ini.

"Selamat, Athena. Misimu selesai. Imbalan dari tugasmu sudah kuantar ke ruang kerjamu. Semoga kau menyukainya."

Lengkungan senyuman mengembang di wajahku. Namun, setelah itu ada sesuatu yang mengusikku baru-baru ini.

"Ano, Hatake-sama. Kenapa saya ditugaskan misi ini sementara Wright yang menangkap Shikamaru? Bukankah ini tidak adil?"

Di layar, Hatake-sama mengernyitkan alisnya heran. "Uhm, memang aku ada menugaskanmu untuk menangkapnya? Aku hanya mengatakan 'nyawa anak itu di tanganmu' dan mencari informasi pergerakan Black Crows. Kau cukup menyelamatkan Haruno Sakura, bukan menangkap pelaku yang ada."

Sial, kalau begini akhirnya aku akan menyuruh Naruto untuk menyelesaikan misiku. Meminta pada Hatake-sama untuk mengalih-tugaskan misi ini pada si Wind-Hourglass. Terkutuk kau Hatake tua!

"Maafkan aku, Athena. Tenang saja, imbalan yang kuberikan sebanding dengan kerja kerasmu untuk misi ini. Bahkan menurutku mampu melebihinya," ujar Hatake-sama sembari tertawa kecil. Ya ampun, Hatake sialan!

"Ah, jika menurutmu imbalan itu tak mampu membayar semua yang kau lakukan untuk misi ini, aku akan membuatnya seimbang–ehm, maksudku, sedikit seimbang."

Aku menyipitkan teal ini dan memajukan sedikit wajahku, menatap Hatake-sama penuh keraguan. "Apa itu, Hatake-sama?"

"Introgasi Nara Shikamaru, serahkan semua data pengakuannya pada kepolisian. Kau ingin menanyakan sesuatu dengannya, bukan? Aku akan mempermudah aksesmu untuk itu sebagai bonus. Dan ini juga bukti, kalau kau ikut serta dalam penangkapannya, kau mengerti?"

Seketika senyuman kembali terpatri, kali ini lebih lebar. "Ne, saya mengerti. Terima kasih, Hatake-sama!"

PIP!

Sebuah senyuman lagi-lagi mereka indah di wajah setelah mendengar ucapan selamat dan beberapa kalimat perintah yang membuatku merasa senang. Di satu sisi, semua usahaku berbalas manis dengan ikut berpartisipasi dalam penangkapan Nara Shikamaru–meskipun sebatas menginteogasi. Di sisi lainnya, aku menerka-nerka dengan semangat hadiah apa yang akan di berikan Hatake-sama kepadaku.

"Kau terlihat senang sekali, Athena. Apakah kabar bahagia datang padamu malam ini?" Pertanyaan yang terlontar dari si Hyuuga itu memecah lamunan singkat yang ada. Dan aku hanya menanggapinya dengan anggukan kepala cepat penuh semangat.

"Imbalan dari Hatake-sama?" Tebaknya, sementara aku hanya menyunggingkan cengiran lebar sebagai jawaban.

"Tidak hanya itu, Agenor," imbuhku. Sepersekian detik kemudian dibalas dengan kerutan samar yang tercetak di kening Neji.

"Aku akan menginterogasinya, Agenor! Oh Kami-sama, aku sempat lesu ketika mendengar alasan kenapa aku diberi misi ini oleh Hatake-sama. Kau menyadarinya bukan? Cukup ganjil aku yang menyelesaikan misi sementara Wright yang menangkapnya," tuturku panjang lebar.

Neji hanya manggut-manggut paham, kemudian menepuk pundakku lembut. "Baiklah, semoga lancar, Athena."

Kalimat itu mengakhiri konversasi ringan antara aku dan Neji. Disertai dengan punggung tegap Neji yang semakin menjauh–perlahan menghilang dari pandnagan. Manik mataku memendar, melihat situasi lokasi penangkapan yang berangsur sepi. Agaknya, semua pasukan kepolisian sudah beranjak, begitu juga beberapa ambulans. Meninggalkanku bersama dua anggota yang tersisa.

"Temari-sama, ini daftar stok obat-obatan yang tersisa dari yang kita persiapkan sebelum ke tempat ini." Seorang anggota menyodorkan sebuah papan dengan selembar kertas yang didominasi dengan tanda centang dan angka-angka.

"Baiklah, kalau begitu sudah saatnya kita kembali ke kantor divisi," titahku sembari mengembalikan papan tersebut. Kemudian memasuki ambulans diikuti dengan dua anggotaku. Dan akhirnya, ambulans bergegas membelah malam tanpa sirine yang menyertai.

.

Suara hentakan sepatu dengan hak setinggi tiga sentimeter menggema mengibas kesunyian koridor kantor kepolisian. Hanya segelintir petugas yang berlalu-lalang. Beberapa dari mereka menyapaku ramah dan aku membalasnya dengan hal yang sama. Satu kepangan yang terikat di kepala emasku mengudara, mengayun pelan mengikuti irama langkah kakiku. Begitu juga dengan jas dokterku yang terayun dalam genggaman tangan. Aku merapatkan kaus berwarna peach yang kukenakan demi menghalau dinginnya angin malam yang menusuk.

Dari kejauhan, netraku menangkap dua orang petugas yang berdiri tegap penuh pengawasan mengapit sebuah pintu yang tertutup rapat. Samar-samar terdengar sebuah bentakan-bentakan kasar yang mengeluarkan beberapa kata-kata ancaman. Sejenak aku menulikan pendengaran, mengalihkan atensi pada dua orang petugas yang sudah memberi hormat.

"Athena, anggota inti die Sechs. Saya ingin mengintrogasi Nara Shikamaru atas perintah Direktur markas besar die Sechs," kataku lembut, diakhiri dengan senyuman yang masih melekat.

Mereka mengangguk, kemudian membukakan pintu–mempersilakanku memasuki ruangan tersebut. Hal pertama yang terlihat adalah pemuda berambut nanas dengan ikat yang tidak rapi dan wajah memerah penuh emosi dari petugas wanita. Petugas itu menatapnya tajam, seolah-olah akan menguliti sosok di depannya yang tengah tertunduk lesu. Melihat itu aku hanya memasang senyuman getir dan tatapan nanar yang begitu menyedihkan.

"Ah, terima kasih sudah datang, Temari-san." Ia membungkuk hormat. Aku menjiplak gerakannya, lalu memasang senyuman ramah. Yagura namanya, nametag-nya begitu jelas meskipun disinari oleh sebuah lampu sepuluh watt.

"Jadi, bolehkah saya meminta Anda untuk meninggalkan kami?" Pintaku dengan sopan. Meskipun begitu, Yagura-san tetaplah orang yang lebih tua dariku.

Yagura-san hanya mengangguk menanggapi permintaanku kemudian berlalu. Meninggalkan kami berdua dalam kungkungan ruangan pengap bercat hitam yang hanya diisi oleh sebuah meja, lampu sepuluh watt, dan kursi yang sedang diduduki pemuda dari klan Nara di depanku.

Wajah Shikamaru masih setia menunduk. Membuat beberapa helaian surainya lolos dari ikatan nanasnya, menjuntai bebeas menutupi sebagian wajahnya. Menghalau sinar lampu menyeruak menyinari wajahnya yang kutebak sudah lelah setengah mati.

"Baiklah, Nara Shikamaru, kita ulangi sesi introgasinya. Dan kali ini aku tidak akan menghardikmu sebagaimana Yagura-san. Jadi, berkata jujurlah." Netraku menelisik gelagatnya. Sangat disayangkan, bagaikan sebuah patung dia masih di posisi awal. Tak bergerak sedikitpun.

"Kau tertangkap atas perencanaan pembunuhan dan beberapa kasus pembunuhan para petinggi negara. Katakan padaku, apa motifnya? Motif dari semua catatan kriminal yang menyangkut-pautkan namamu," tanyaku dengan tatapan mengintimidasi.

Dia masih diam. Namun, mulai ada pergerakan. Kepalanya kini mulai menengadah sembari menghela napas berat. Cahaya lampu akhirnya menerangi wajahnya yang sudah kusut dan letih. Grey-nya membalas tatapanku yang tajam, hanya saja diselingi sedikit kelembutan yang bergumul di sirat pancaran maniknya. Ia melunak, meskipun hanya sedikit.

"Tatapanmu bukanlah jawaban yang kuinginkan, Shikamaru." Aku melipat kedua tanganku di dada. Masih berdiri dan menatapnya. Setia menunggu dirinya mengungkap semua kebenaran di balik semua ini.

Selang beberapa menit, suara Shikamaru mengusir keheningan yang menjadi atmosfer di antara kami. "Pembersihan saksi mata atas identitas asli. Itu alasanku bergerak sejauh ini. Juga dengan korban yang dulu kubunuh."

"Lalu, apa yang membuatmu terdorong untuk bergabung dalam Black Crows?" Tanyaku lagi. Kali ini menyiratkan makna kekecewaan di setiap kata-kataku.

"Maaf."

Satu kata yang terlontar bukanlah jawaban yang diinginkan olehku maupun kepolisian. Namun, suaranya yang bergetar meminta maaf membuatku menarik sebuah kesimpulan. Kepala hitam itu kembali menunduk, kali ini lebih dalam dari awal aku memasuki ruangan ini. Seakan-akan ingin menyembunyikan sesuatu yang tak ingin kulihat di wajahnya.

Pasti ada alasan, yang mampu membuatnya seperti ini.

"Itu bukanlah jawabn yang kuinginkan. Sertakan alasanmu, Shika-senpai."

Shikamaru kembali bergeming. Dan itu mengisyaratkanku secara tak langsung bahwa dia akan susah diminta penjelasan untuk rentetan pertanyaan selanjutnya. Aku hanya menghela napas–membuangnya bulat-bulat. Menyerah.

Aku bukanlah anggota kepolisian, dan aku sudah mengerahkan semua tenagaku untuk mengintrogasinya. Menurutku, alasan mengapa ia melakukan perencanaan pembunuhan dan pembunuhan sebelumnya sudah cukup. Cukup untuk menjadi dasar penyelidikan kepolisian atas kasus ini.

"Terserahmu jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku tadi, Shika-senpai. Aku tidak terlalu berkepentingan dalam introgasi ini. Aku sudah mengerahkan semuanya pada tugasku di sini. Sampai jumpa," tutupku. Kemudian keheningan kembali mengikuti langkahku yang terayun menuju pintu keluar ruangan introgasi.

"Temari."

Panggilan Shikamaru menghentikan lenganku yang sudah mengudara hendak menggapai gagang pintu. Tak bersuara, bahkan sekedar menoleh menghadapnya pun tidak. Aku hanya diam di posisi sembari menunggunya melanjutkan kalimat yang akan terucap padaku.

"Meskipun ini merepotkan, jenguk aku dua bulan sekali. Tolong rawat Wolfie dan Sunny untukku. Kumohon," pesannya dengan suara lirih, namun aku dapat mendengarnya.

"Hm," gumamku tidak jelas. Kemudian dengan segera aku meninggalkan ruangan itu. Membiarkan sosok yang pernah mengisi hatiku itu terperangkap dalam ruangan yang tak berventilasi. Membiarkan dirinya yang sesak akan permohonan maaf yang tak henti-hentinya ia ucapkan dengan lirih.

.

Malam semakin kelam, mulai mempersiapkan diri menyambut Mantaru yang dalam hitungan beberapa jam muncul di ufuk timur. Ya, sekarang hampir waktunya subuh–sudah lewat tengah malam. Tak banyak orang yang berlalu-lalang. Hanya beberapa petugas keamanan yang berjaga di depan gerbang dan anggota tiap divisi yang lembur menyelesaikan berkas-berkasnya di markas besar die Sechs.

Di sini aku diam membisu. Dengan punggung yang menghantam bangku taman kecil markas, aku menikmati satu kaleng kopi dingin yang kubeli di perjalanan pulang dari kantor kepolisian. Atensiku terpaku pada kaleng alumnium yang kugenggam. Sesekali menggoyangnya–mengaduk pelan isinya. Pikiranku melayang, tertuju pada tiga kalimat kalimat yang menggangguku sedari tadi.

"Meskipun ini merepotkan, jenguk aku dua bulan sekali. Tolong rawat Wolfie dan Sunny untukku. Kumohon."

Penggalan paragrap itu masih terngiang, begitu mengguncang sehingga kepalaku sedikit pusing. Suara Shikamaru yang penuh permohonan itu masih berdengung di telingaku Seakan-akan mampu memecahkan gendang telinga detik ini juga. Mengoyak luka yang masih mengaga dan kini semakin melebar–perih seperti teriris belati. Dan jantungku serta paru-paruku tak leluasa bekerja, seperti rusuk ini menyempit seiring dengan rentetan kata-kata yang terucap beberapa menit yang lalu.

"Astaga, Shikamaru. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau seperti ini?" keluhku. Kedua tanganku menangkup wajah kusutku sembari sesekali mengusapnya kasar.

"Maaf."

Oh Kami-sama, kenapa mataku mulai perih memanas seperti ini? Pandanganku juga mulai mengabur. Terbiaskan dengan kumpulan derai air mata yangsiap tumpah memenuhi wajahku yang memerah menahan segala perasaan yang ada. Kecewa, terkhianati, sesak, sakit, perih–semuanya apapun itu yang pantas mewakili keadaanku yang begitu miris hari ini. Aku berusaha menahan semuanya, hingga akhirnya satu helaan napas kasar dan genangan air mata lolos dari pertahananku yang sia-sia.

Aku tak perlu menangis–tidak ada gunanya. Meskipun darah mengalir dari pelupuk mata, tak dapat menggugat keputusan yang akan di lontarkan hakim dan beberapa kebijakan hukum dalam beberapa hari kedepan. Apapun itu, aku harus menunggu. Walau waktu dua puluh tahun itu sangatlah lama, mau tak mau aku harus menunggu.

Karena hanya itu yang bisa aku lakukan. Daripada membunuhnya untuk menebus semua kesalahannya demi selesainya sebuah misi.


Sebulan berlalu pasca penangkapan anggota Black Crows, Nara Shikamaru. Hari ini, saatnya dia duduk menghadap Sang Hakim yang tegas membacakan runtut kriminalitas yang mengatasnamakan dirinya. Duduk di kursi panas, mendengarkan perdebatan sengit para pengacara antar kedua belah pihak. Dan di akhiri ketokan palu sebanyak tiga kali seiring dengan keputusan divonisnya Shikamaru atas tuduhan pembunuhan para petinggi negara dan perencanaan pembunuhan terhadap Haruno Sakura.

Selama dua puluh tahun, dia harus menebus semua kelasahannya terhadap negara dan keluarga korban untuk mempertanggung jawabkan perilaku kriminalitasnya yang sudah merenggang banyak nyawa.

Sosoknya mulai tampak ketika keluar dari ruang sidang. Aku yang sedari tadi berjalan mondar-mandir sembari mengepal tangan gugup, akhirnya sedikit perasaan lega menyeruak ketika dia menampakkan diri di depan mataku. Shikamaru yang terborgol dan berseragam tahanan serta dikawal dengan dua orang petugas diikuti dengan wartawan yang berbondong-bondong untuk mencuri perhatiannya. Hatiku tercubit teramat sangat kuat.

Dia menatapku, kemudian tersenyum tulus. Senyuman tulus yang sering ia berikan padaku saat kami menjalin waktu bersama. Di balik pancaran mata almond sayunya yang tertuju padaku, tersirat makna aku-baik-baik-saja-jangan-khawatir. Semua dari dirinya belum berubah. Aku yakin seratus persen. Bahkan sampai sekarang aku belum percaya, Nara Shikamaru yang baru saja lewat di depanku bersama kawalan petugas adalah Nara Shikamaru yang dulu pernah mencerahkan hari-hariku.

Lagi, mataku mulai memanas. Gerombolan air mata yang tak bosan-bosannya membiaskan pandanganku mendesak keluar ingin membebaskan diri mereka. Kepalaku seakandiputar-putar dan berdenyut. Ya ampun, aku memegang kepalaku sembari memijit-mijitnya pelan. Mencoba merelaksasikan denyutan yang seperti dentuman drum dari penggebuk yang amatiran.

DRRTTT

Vibrasi samar yang seirama itu menggetarkan pahaku di balik saku dress polkadot hitam-putih yang kukenakan. Dengan penglihatan yang seadanya aku mencoba mengetahui siapa yang memanggilku di pagi hari yang kelam seperti ini. Nama Hyuuga Neji tertera menyapa. Mengandalkan tenaga yang tersisa aku mengusap layar dan menerima panggilan dari seberang sana.

"Moshi-moshi, Neji? Ada apa?" tanyaku dengan suara parau.

Sejenak di seberang sana Neji memekik perlahan, kemudian mencoba untuk tenang. "Athena, kau kenapa? Kau menangis? Aku masih di sini menunggumu untuk keluar dari area persidangan. Segeralah, Athena. Aku tidak ingin kau dimarahi Hatake-sama karena urusan individual seperti ini."

"E-eh, gomennasai, Neji," aku mencecahkan langkahku meninggalkan ruang sidang yang perlahan sepi, "a-ano, Neji. Bisakah kau izinkan aku ke Hatake-sama? Aku rasa aku tidak enak badan hari ini."

"Ah, sudah kubilang padamu untuk tidak menghadiri sidang Shikamaru hari ini. Lihatlah, kau terguncang, Athena. Bagaimana bisa? Apa kau belum melupakannya? Padahal jelas-jelas kau mengumpatnya dengan brutal selama ini," gerutu Neji panjang lebar di seberang sana. Sementara aku di sini terkekeh mendengar perhatiannya yang selalu seperti ini.

"Aku tidak apa-apa, Neji. Aku tidak enak badan karena semalam aku mengerjakan berkas-berkasku hingga subuh tadi, ditambah lagi dengan tugas-tugas sekolahku yang menumpuk. Bukan karena si Nenas Busuk itu."

Satu titik air mata lolos keluar dari pelupuk mata. Aku mengigit bibirku hingga memerah bengkak–bahkan mulai berdarah–untuk menahan isakan tangis yang sewaktu-waktu bisa pecah jika aku kehilangan kontrol. Aku harus terlihat baik-baik saja. Setidaknya jika sedang berurusan dengan pemuda Hyuuga itu.

"Ya sudah kalau begitu. Aku menunggumu di parkiran, di dalam mobil."

TUT!

Konversasi jarak jauh itu diputuskan sepihak oleh Neji. Aku masih melangkah menuju parkiran, sambil mengedarkan atensi guna mencari mobil Neji yang tadi mengantarkan aku kemari. Jas dokter yang kugenggam erat di tangan mulai mengudara, meghapus jejak-jejak air mata yang menyertai jalanku. Aku haruss menghapusnya jika tidak ingin berurusan dengan omelan Neji.

Beberapa langkah lagi, tampak sebuah mobil hitam yang kukenal. Sejenak aku berhenti. Menghapus semua kekacauan yang ada dan berusaha tersenyum untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

"Lama sekali, Athena," protesnya ketika aku membuka pintu mobil dan menghempaskan diri untuk duduk di bangku sebelahnya.

"Maaf, tadi kepalaku sempat pusing," kilahku tanpa menatap amethyst-nya. Aku hanya merogoh tasku untuk mencari peralatan make-up untuk memoles wajahku yang sempat kacau.

"Padahal kau pemegang elemen teleportasi, seharusnya kau memanfaatkannya dengan baik." Racauan Neji di balik roda kemudi tidak kuindahkan.

"Entahlahm aku tidak ada niat untuk seperti itu hari ini," acuhku. Sementara Neji hanya diam, memfokuskan dirinya untuk membelah jalanan kota Konoha yang ramai di Sabtu pagi.

"Neji, bisakah kau mengantarku ke suatu tempat?"

Neji memiringkan kepalanya–setengah menoleh. Dengan pandangan yang masih terkunci pada jalan raya ia bertanya balik, "ke mana?"

"Rumah Shikamaru. Kau tahu alamatnya kan? Shikamaru sempat menitipkan pesan padaku untuk menjaga sesuatu miliknya," jawabku.

Mendadak mobil menepi. Membuatku terjungkang ke dashboard jika aku tidak memakai seatbelt. Aku mendelik tajam pada Neji. Anak ini benar-benar, dia mau membunuhku, huh?

"Kau gila? Kenapa kau menuruti permintaannya?" Tanya Neji diburu emosi. Sorot amethyst-nya menatap lurus netraku dengan tajam dan intens.

Aku hanya mengendikkan bahuku acuh seraya menjawab, "entahlah, aku saja tidak tahu."

Atensiku terkunci pada langit pagi yang mendung di balik kaca mobil. Tetes demi tetes hujan mulai menghujam bumi. Beberapa dari pengguna jalan mulai menepi, meneduhkan diri merekaㅡterutama para pejalan kaki yang menikmati perjalanan mereka.

Samar-samar aku mendengar percakapan Neji dengan seseorang di seberang sanaㅡpanggilan jarak jauh. Hanya sebentar, kemudian percakapan itu terputus. Seiring dengan ponsel Neji yang ia campakkan asal di belakang kursi mobil, aku menghela napas kasar tanpa menolehkan kepala sedikitpun. Bahkan jalanan yang mulai lenggang tidak banyak mengambil perhatianku, pandanganku kini menerawang pada awan kumulonimbus yang menumpahkan rintik-rintik hujan.

Ada apa antara aku dengan bumi? Kenapa kami sama-sama tengah merintih kesakitan yang berwujud tetesan air? Batinku pilu.

"Kita sudah sampai, Athena."

Rem yang menghentikan laju mobil dan suara berat pemuda bersurai coklat panjang itu mengibas segala rasa pilu yang menumpuk untuk sementara. Kini, di depanku terlihat sebuah rumah bergaya minimalis dengan pekarangan yang luas dihiasi dengan berbagai macam jenis kembang. Sejenak aku melempar senyuman pada Neji kemudian beranjak dari mobil. "Tunggulah di sini sebentar," pintaku. Berlari memasuki rumah Sang Mantan sekalipun harus menembus jarum-jarum bening yang menusuk bumi.

Aku masih mengingatnya dengan jelas, di mana Shikamaru biasa menyimpan kunci rumahnya. Jariku menggali sedikit tanah dalam pot yang menghidupi beberapa tangkai bunga Aster yang berdiri manis di ambang pintu. Akhirnya, aku melihat benda besi dengan ukuran sedang berbentuk kunci. Kunci rumah Nara Shikamaru.

CKLEK!

Pintu terbuka. Rasa sepi yang mendalam menyambut langkahku mengayun menjelajahi isi rumah. Masih sama, rasa sepi ini tak kunjung pergi semenjak aku menginjakkan kakiku memasuki rumah ini tujuh bulan yang lalu. Hampa, seakan tak ada sesuatu yang hidup untuk mengisi kekosongan yang adaㅡsekalipun Shikamaru yang sekarang tengah mendekam di penjara.

Netraku memendar, menyebarluaskan atensi untuk mencari sesuatu yang kuyakini masih di dalam rumah ini. Sesuatu yang hidup, sebagian kecil yang hidup bahkan tak sebanding dengan kesepian yang menghantui rumah ini. Dia yang hidup dalam tempatnya, mengandalkan sinar Mentari untuk keberlangsungan hidupnya.

Sunny.

Setangkai bunga Matahari yang tertancap pada kumpulan tanah di pot merah bata yang tak pernah absen di perlakukan dengan baik oleh Shikamaru. Aku mendapatkannya, berjemur di balik jendela kamar Shikamaru yang berantakanㅡkhas kamar lelaki yang bagaikan kapal pecah. Hanya saja, berantakan karena berkas-berkas yang bertaburan di sana-sini. Bukan tumpukan baju-baju kotor yang menggunung.

Tanganku tergerak meraih pot mungil itu. Menatapnya sendu penuh kasihan. Kelopaknya yang begitu cerah dan batang yang sehat. Tidak tahu apakah ia masih seperti ini ketika dia kehilangan sosok yang selalu mengasihinya. Ya, bunga Matahari yang harus kehilangan MataharinyaㅡSang Pemilik.

Aku menggenggam pot itu erat dan mengembalikannya. Kemudian mengayunkan langkah kakiku menuju dapur yang terletak di belakang rumah ini. Tertata rapi, meskipun sedikit kotor di dekat tempat cuci piring. Beberapa piring kotor betah bersarang di sana.

Sejenak aku membesihkan piring-piring dan gelas-gelas itu. Sisa sarapan, makan siang, makan malam, kopi, dan tehㅡberdasarkan pengamatanku. Setelah selesai, tanganku yang masih basah kini berpindah ke pinggang rampingkuㅡberkacak pinggangㅡkemudian tersenyum tipis. Yah, setidaknya ketika dia pulang nanti, kerapihan dan kebersihan menyambutnya dengan hangat.

Meskipun itu dua puluh tahun mendatang.

"Grrr..."

Geraman halus menyapa pendengaran, sontak membuatku mengalihkan perhatian secara paksa. Seekor serigala tengah menatapku tajam, seolah ingin menerkamku jika aku berani mendekatinya. Ah, aku tidak takut. Mungkin dia butuh sesuatu untuk menyegarkan ingatannya.

"Hey, Wolfie! Kau tidak ingat aku?" Seruku ketus, dengan posisi masih berkacak pinggang.

"..."

Langkahku terayun mendekatinya. Tanpa sedikitpun rasa takut tanganku membelai lembut bulunya yang berwarna hitam bercampur abu-abu. Tatapannya pun mulai berubah, dan kini tidak ada geraman berat yang mampu menakuti semua orang. Ia melembut.

"Ternyata kau masih ingat."

Yah, setidaknya Wolfie dan Sunny harus kurawat di rumah. Tidak perduli dengan sorot amarah dan ketakutan orang rumah, yang penting aku melaksanakan pesan yang tertinggal dari Shikamaru selama sepeninggalannya.


TBC


Bales review non-login:

Temari: Haai, saran kamu udah White realisasikan, hanya saja tidak ada hasil. Malah sama saja. Ini udah di update, thanks for review dan sarannya~!


A/n: Halooo, it's been a long time, right? Maaf lama update, karena feelnya susah banget di sini. Maaf kalo di chapter ini feelnya masih belum terasa/ojigi Ohya, maaf juga mungkin di sini Sakura ga dapet bagianㅡmeskipun sekedar nama nyempil di beberapa paragrapㅡtapi di chapter depan dia bakalan dapet kok;D Buat review anon yang sempet nyesel karena penempatan karakter, White sekali lagi mohon maaf. Mungkin penempatan nama Sakura di awal membuat kamu salah persepsi. Sakura di sini sebagai korban. Setelah dapet review dari kamu, White udah ngubah peletakannya, dan tetap nama Sakura di awal dan Temari di urutan terakhir. Padahal Temari pemeran utama disusul dengan Neji dan Shikamaru. Sekali lagi mohon maaf/bows Satu lagi, chapter depan adalah Last Chapter. Jadi jangan bosan buat nunggu yaaa, hehe:D

Yosh mind to review?