Tasty Love
Disclaimer : Belong to Masashi Kishimotto
Story Original by my self
.
Warning : AU, Typo, OOC and many more
.
.
.
That I'm the one who understand you been here all along
So why can't you see , you belong with me
-Taylor Swift-
Don't like, Don't read !
.
.
.
"Masyarakat Konoha berbeda, saat aku menyebarkan kertas selebaran ini mereka begitu antusias". Sakura menyunggingkan senyum tipis seraya mengangguk saat sang pria berbicara.
"Antar aku untuk berkeliling ke Konoha, Yamato".
"Baik".
Sang pria yang diketahui sekertaris nona muda Haruno itu , saat ini mereka sedang berada di Konoha. Sebuah kota yang dipenuhi bangunan-bangunan serta perumahan-perumahan yang cukup padat. Jujur Sakura baru pertama kali memasuki Kota ini hingga kebagian dalamnya karena biasanya ia mengunjungi Konoha hanya sekedar memantau saja, lebih tepatnya pada Ichiraku.
"Daerah ini lumayan menarik, tempatnya strategis dengan masyarakat. Mereka mudah sekali berbaur. Dan yang terpenting jauh dari jangkauan Ichiraku". Sakura memandang hamparan jalan luas dibalik jendela kaca mobil yang dinaikinya bersama Yamato. Sepanjang jalan Sakura tidak menunjukan ekspresi seperti sebelumnya. Matanya menyimpit seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Konoha merupakan Aktiva terbaik jika dilihat dari masyarakat bahkan saya pribadi menyukainya. Namun sangat disayangkan tempat ini masih belum termasuk dalam persyaratan kita. Coba perhatikan baik-baik Yamato, disini tidak ditemukan lahan luas. Terkecuali jika melakukan planning baru untuk usaha kita".
"A-apa itu nona ?". Tanya Yamato namun tetap fokus dengan menyetirnya.
" Bulid and Buying. Dengan terpaksa kita harus membeli tanah yang luas sekalipun tanah tersebut sudah ditempati".
"Anda yakin , Nona? Kita belum melukakan ini sebelumnya". Yamato nampak tidak percaya apa yang dikatakan bos nya. Sakura berniat membeli lahan luas yang sudah ditempati atau lebih tepatnya membangun ulang tempat itu untuk dijadikan sebuah Resto.
"Kita coba saja. Siapkan uang yang banyak Yamato , kita akan bekerja keras sekarang".
"Baiklah". Jawabnya pasrah, ia tak mungkin melawan atasan. Sakura yakin kalau tindakannya akan sedikit menguras mental demi terciptanya usaha itu dan menyingkirkan Ichiraku secara perlahan. Melakukan penggusuran pasti akan lebih menyusahkan , masyarakat yang tidak menerima salah satunya. Jadi dirinya sudah persiapan baik fisik maupun mental.
Kriiingg ...
Suara ponsel milik sakura berdering didalam tas miliknya. Segera ia membawanya, namun saat menatap layar ponsel tersebut, dahi Sakura berkerut lalu ia menjawabnya.
"Ada apa ? sekarang aku sedang sibuk jangan ganggu".
"Kau masih marah , Hime? Aku kan sudah meminta maaf padamu, ayolah kau kan gadis baikku"
"Kubilang aku sedang sibuk. Jangan menghubungiku sekarang Gaara"
"Baiklah baiklah nanti akan kuhubungi kau lagi"
-tuut- .. sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Sakura. Dengan malas ia kembali memasukan ponsel putihnya kedalam tas , ia menghela nafas secara kasar bahwa sesuatu sedang terjadi dengan sang kekasih, Sabaku Gaara.
"Berhenti disini , Yamato".
Menuruti majikannya , Yamato segera memarkirkan mobil sedan hitam di pinggir jalan. Ada satu kedai yang sedikit menarik perhatiannya. Ia memutuskan untuk masuk kesana.
"Kedai ini sangat mengganggu, tempatnya terlalu kecil untuk lahan seluas ini. Kita masuk, Yamato"
Kedua orang berpakaian bagus dan rapi memasuki sebuah kedai sederhana, memang terdengar aneh. Lihatlah Sasuke sekarang, disana mereka sedang berdebat dengan sang ibu mengenai kedua orang asing itu. Krat Sake yang masih berada ditangannya segera ia letakan dilantai.
Sasuke merasakan aura sesuatu dengan wanita berjas itu.
"Bu , mau apa mereka datang kesini? Kita belum pernah kedatangan pelanggan macam mereka kan". Bisik Sasuke pada sang ibu. Sasuke tak mengenal pada wanita asing berhelaian pink itu , didaerah sana tidak ada orang macam Sakura yang berkunjung ke kedainya. kalaupun ada mereka hanyalah seorang pekerja tetap atau pekerja kantoran yang hendak makan disana.
"Entahlah ibu tidak tahu. Mungkin dia turis yang tak sengaja menemukan kedai ini". Sasuke mengangguk setuju pada ibunya.
"Biar aku yang menghadapinya". Sasuke membusungkan dadanya, menghela nafasnya dalam-dalam seolah akan menghadapi orang besar saja.
Sasuke berjalan mendekati Sakura dan Yamato sambil membawa buku menu. "Selamat datang".
Sang gadis tak menjawab, mereka masih berdiri disana. Terlihat Sakura mengeluarkan sesuatu dari tas kecil miliknya. Tissue , ia membersihkan bangku disana dengan tissue.
Tindakannya itu sungguh diluar dugaan Sasuke. Secara tidak langsung Sakura sudah menghina kedai Uchiha , sang pria hanya mengusap dadanya. Gadis ini merupakan peringatan bagi Sasuke.
Dirasa sudah bersih, Sakura dan Yamato duduk dibangku yang berhadapan dengan Sasuke.
"Wagyu Suteku".
"Ng .." . Yamato memandang heran Sakura, perempuan ini malah memesan makanan. Apa yang ada difikiran Sakura saat ini? batin Yamato.
"Maaf nona disini tidak menyediakan daging steik semahal itu, jika anda menginginkannya silahkan cari kedai lain. Disini hanya kedai kecil yang menyediakan Nerimono , curry rice, dan beberapa hidangan mie". Sasuke sumpah serapah pada gadis menyebalkan yang ada dihadapannya ini , ia sudah menghina kedainya dua kali.
Sakura mengulum senyum disana , pria ini begitu berani bicara lantang pada Sakura. "Apa yang khas disini?"
"Ramen , namun tidak sebaik Ichiraku". Jawab Sasuke.
"Ichiraku ya, sebuah resto terkenal yang ada disini. Aku mengakui kehebatan Ichiraku".
"Jadi anda mau pesan apa?".
"Buatkan aku ramen dua".
"Baik mohon tunggu sebentar". Sasuke berjalan pergi menuju dapur dengan langkah kaki dihentakan kelantai secara kasar. Mikoto yang mengintip dari dalam dapur merasa cemas melihat raut wajah Sasuke.
"Sasuke kun , apa mereka seorang kritikus makanan?". Tanya Mikoto
"Sepertinya begitu. Aku akan membuat ramen". Sasuke merebus mie kedalam panci berisi air mendidih , lalu ia meracik bumbu-bumbu lainnya seperti telur rebus, Gyoza, beberapa pangsit, miso , naruto dan lain-lain.
"Sebentar biar ibu panggil Itachi". Mikoto mempercayakan Itachi untuk membuat ramen karena ia cukup ahli dalam mengolah mie-mie.
"Biar aku saja bu. Ada daging babi?".
"Apa ? daging babi sudah habis kemarin, pakai ayam saja Sasu". Mereka berdua mendadak sibuk disana, Sasuke membuat ramen terbaik untuk pelanggan yang satu ini.
.
.
"Silahkan menikmati hidangan kami".
Sasuke meletakan dua buah mangkuk ramen penuh yang panas. Aroma daging ayam dan kaldu Miso asam gurih menguar disana.
Sakura menatap mangkuk itu lama. Tak ada pergerakan untuk mengambil sumpit atau melahapnya. Saat Yamato hendak memasukan ramen kemulutnya , tangan Sakura terulur kehadapan pria itu bermaksud untuk menahannya.
"Tahan dulu Yamato. Ramen ini tak layak makan".
"!"
"!". Tubuh Sasuke mendadak menegang mendengar kritikan wanita pink ini. Tangannya terkepal didalam saku bajunya.
"Kau salah meletakan sumpitnya tuan rambut aneh". Sakura melempar sumpit itu ke meja tempat makannya dihadapan Sasuke.
"Namaku Uchiha Sasuke". Sela sang pria.
"Ya terserah ... coba perhatikan kembali Uchiha, sumpit yang diletakan didalam mangkuk itu salah. Bagaimana jika ada bakteri, bagaimana kalau kotor dan itu mengotori ramennya. Kau harus meletakannya diluar mangkuk dan itu harus ditutupi oleh tissue. Benar-benar ceroboh"
'Orang ini ..' batinnya.
Wanita ini benar-benar berbeda. Sasuke sudah dapat menilai dari penampilannya kalau Sakura bukanlah orang biasa. Jika ia seorang kritikus makanan bukan inilah yang Sasuke inginkan. Berharap ibunya tak mengetahui percakapan mereka karena itu bisa menyakiti perasaan sang ibu. Jadi siapa sebenarnya wanita ini? batin Sasuke menyimpan seribu pertanyaan disana.
"Jadi , anda tidak akan memakannya?".
"Tidak" jawabnya singkat. "Mana pemilik kedai ini, aku harus bicara dengannya".
Dugaannya benar , gadis ini pasti akan protes pada ibunya.
"Aku pemilinya karena kedai ini dikelola oleh keluargaku". Jawabnya tegas.
"Sudah kuduga , kau memang tak cocok menjadi seorang pelayan karena kau telalu tampan".
Ada sedikit irama dihati Sasuke, sang gadis telah memujinya. Tapi Sasuke bukan orang bodoh, ia tahu ini hanyalah sebuah guyonan agar dirinya bisa termakan oleh rayuan sang gadis. Kalaupun iya itu tak mungkin, Sasuke dan Sakura begitu berbeda bagaikan bumi dan langit.
"Aku bayar ramen ini". Sakura menaruh koper hitam yang dibawa Yamato tadi diatas meja. "Apa ini cukup". Katanya sambil membuka koper yang berisi ratusan lembar uang.
Sumpah demi kami-sama apa yang disaksikan oleh pemuda ini adalah beberapa tumpukan uang, seumur hidupnya Sasuke belum pernah melihat uang sebanyak itu.
"Apa maksudnya ?".
"Baiklah langsung saja. Namaku Haruno Sakura". Gadis pink itu mengulurkan tangannya dan Sasuke menjabat tangan putih milik Sakura. "Aku pemilik Resto Haru's yang akan membangun resto di kota ini tepatnya disini. Jadi bersediakah anda untuk bekerjasama dengan kami. Mungkin kau sudah baca selebaran itu kan".
Sasuke menautkan alisnya berfikir, kembali mengingat kejadian sebelumnya. Nama Haru's mungkin tak asing baginya akhir-akhir ini, matanya membulat saat teringat pada kertas pink yang ia buang tadi.
"Kau akan membuat Resto disini?". Tanyanya
"Ya , lebih tepatnya disini, di kedaimu. Kami akan membangun ulang tempat ini untuk dijadikan sebuah Resto besar dan mewah tidak kotor dan jorok seperti kedai milimu ini. Aku harap kau mau bekerjasama denganku tuan Uchiha, bekerja didunia kuliner yang mampu menghasilkan banyak uang".
"Kau gila ! mana mungkin aku menjualnya. Kedai ini sangat berharga bagi kami , kedai ini segalanya bagi kami. Kau orang kaya memang tidak tahu apa-apa dan – "
"Oh kurang ya ... baiklah" Sakura kembali mengeluarkan amplop dari tas miliknya. Benar dugaan wanita itu , pemuda ini tidak mudah terpikat rupanya. Sasuke benar-benar mempertahankan kedai ini.
"Berapapun uang yang kau berikan aku tetap akan menolaknya. Uchiha merupakan peninggalan dari mendiang ayahku. Sebelum meninggal , ia berpesan agar aku menjaga kedai ini baik-baik".
Sakura menatap pemuda itu lebih lama. Tanpa ia duga Sasuke membeberkan semuanya dihadapan gadis ini. Tapi Sasuke sudah benar-benar salah memilih orang untuk berdebat, ucapan seperti itu tidak mungkin peka untuk orang macam Sakura , ia tak membutuhkan kalimat seperti itu. karena ini menyangkut bisnis , ia menginginkan keuntungan baik untuk dirinya atau untuk pemuda itu.
"Aku setuju ! " teriak Seseorang.
" .. ! .. "
Mikoto sudah tak tahan berdiam menguping didalam dapur. Dengan memberanikan diri ia keluar , berjalan mendekati Sasuke dan Sakura yang sedang berdebat.
Sakura menyeringai penuh kemenangan, rupanya ada orang yang lebih berkuasa dikedai ini dan kabar baiknya orang itu menyetujui permintaan Sakura
"Ibu , kenapa ibu menyetujuinya ? ibu bilang –"
"Tidak Sasuke , mungkin ini saatnya tiba. Ibu sudah tidak tahan hidup seperti ini, ibu sudah lelah. Kau juga tahu kan kalau kita banyak hutang ibu ingin segera melunasinya"
"Sejam yang lalu ibu bilang kalau kita harus berbangga pada keluarga kita , kita harus bersyukur , tapi kenapa ibu malah jadi seperti ini". Sasuke menghela nafasnya sejenak lalu ia kembali bicara. "Jika ayah mengetahui ini , mungkin dia akan marah". Ucap Sasuke tidak terima. Beberapa menit yang lalu Sasuke merenungkan setiap kalimat ibunya tapi kenyataannya dia sendiri yang menghancurkannya.
'DEG' ..
"Tch , mereka malah membahas keluarga". Desis Sakura sinis.
"Cukup , aku tidak punya banyak waktu disini. Sudah kuputuskan kalau anda menyetujui pembangunan Haru's. Silahkan ditanda tangani disini" Sakura mengeluarkan beberapa map dan bolpoint.
" ... " Mikoto bergeming. Ia masih dengan posisinya diam. Ucapan anaknya memang benar , kacang lupa akan kulitnya itulah kalimat yang tepat untuk Mikoto. Kedai ini begitu berharga untuk keluarga kecilnya tapi dibalik itu , Mikoto kembali berfikir ia hidup bukan untuk orang yang sudah meninggal. Untuk apa kalau akhirnya menderita , hidupnya dililiti hutang , dan lagi kedainya sedikit-sedikit tergeser oleh rumah makan lain, mereka tak mungkin hidup seperti itu.
Mikoto sudah putus asa , mungkin ini yang terbaik untuknya terutama untuk kedua anaknnya.
Tangannya hendak memegang bolpoint , sedikit lagi menyentuh kertas. Dengan cepat tangan Sasuke segera menjauhkannya dan merebut bolpoint itu.
"Aku tidak percaya ibu akan menjual kedai ini. Aku akan melakukan apapun asalkan tidak bersangkutan dengan kedai Uchiha" kata Sasuke , ada nada kecewa disana.
"Beri aku waktu satu minggu untuk berfikir" lanjutnya.
Wajah sakura mengeras , pemuda ini sangat mengganggu sekali untuknya. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan Sasuke demi bisnisnya. Ya sedikitnya usaha Sakura tidak sia-sia datang ke kedai itu , pemuda itu memberikan harapan untuk Sakura, ia tinggal menunggu waktu saja apa pemuda ini benar-benar akan menyetujui atau sebaliknya.
"Baiklah , seminggu lagi aku akan kembali kesini". Sakura dan Yamato pun pergi dari kedai itu , serta kembali membawa uang-uangnya. Peran uang disini begitu penting untuk menarik seseorang , contohnya Mikoto. Dengan cepat ia langsung setuju.
To be continue
Hints : Wagyu Suteku : Stik daging sapi dengan kualitas daging terbaik
Nerimono : Makanan yang digoreng
Gyoza :Campuran sayuran dan daging cincang yang dibungkus seperti pangsit lalu dikukus atau di oven.
Miso : Jenis sup yang dibuat dari pasta Miso atau kaldu yang rasanya gurih manis
