Dua puluh jam.
Sudah dua puluh jam sejak Yoongi terbangun didalam kamar merah jambu. Ia melihat pintu tapi tidak bisa membukanya. Ia melihat jendela tapi tidak tahu ada apa dibaliknya. Yang ia tahu hanya ruangan bernuansa pink dengan beberapa aksesoris bercorak zebraㅡkarpet, tempat duduk didepan cermin dan sisi lemari. Pada jam keduapuluh ini, Yoongi mulai lelah berpikir; tentang dimana dia sebenarnya, sosok yang melayang, juga cara keluar dari ruangan itu.
Mengenai sosok melayang bernama Seokjin, entah kenapa ia bisa dengan mudah membuka pintu dan melangkah keluar sementara Yoongi tidak.
"Kamar Jimin? 'Kamar Jimin' apa?" Tanya Yoongi ketika pertama ia terbangun dan disambut kehadiran Seokjin. Ekspresinya antara bingung dan ragu.
"Ah, benar. Karena ini 'Kamar Jimin', tentu saja kamu melupakan Jimin."
Alis Yoongi mengerut. "Tak bisakah kau bicara lebih jelas?" Lalu Seokjin mengedik bahu, berjalan mendekati jendela, berlagak mengamati pemandangan diluar padahal Yoongi hanya bisa melihat warna putih terang dibaliknya.
"Nikmati saja, nanti kau akan tahu." Ia tersenyum dan beralih menuju pintu, memutar kenop, sempat menengok Yoongi sebelum kakinya benar-benar melangkah keluar. "Jangan lupa untuk membuat kenangan yang bagus, tidak boleh nakal."ㅡBLAM, pintu ditutup dan sosoknya lenyap. Bahkan hingga di duapuluh jam berikutnya, Yoongi masih tidak paham pada satupun kalimat yang disampaikan Seokjin.
Bibirnya meloloskan lenguhan. Walaupun hanya terbaring diatas tempat tidur beralas warna pastel, tapi Yoongi memang merasa selelah itu. Kabar baik, sekarang lelaki pengantar cerita kita ini mulai kelaparan. Kabar buruk, hal gila baru saja terjadi dalam kamar: terdengar denting-denting peralatan makan, yang ternyata kemunculan sebuah meja dengan sajian lengkap diatasnya. Muncul begitu saja. "Aku pasti sudah gila. Ada apa kemarin malam sampai aku terbangun ditempat begini?" Gelisah, Yoongi kembali berkutat pada kenop pintu, mencari kalau-kalau lubang kuncinya muncul seperti kasus meja makan sesaat lalu. Tapi, ia malah hanya mendengar ketukan. Oh, bagus, ada yang mengetuk pintu. Yoongi bisa memberitahu kalau ada masalah pada kenop itu, siapapun diluar pasti akan mencoba membantu dan setelahnya Yoongi bisa keluar dari sana. Ide bagus. Maka Yoongi memutar kenop, menyiapkan diri untuk berakting seolah baru menyadari kalau pintunya rusak. Tapi, sayangnyaㅡanehnya, pintu itu terbuka.
"Halo, hyung. Sudah bangun?" Seseorang menyapa dari balik papan kayu yang perlahan menganga. Laki-laki, remaja, tersenyum lebar hingga matanya melengkung. Yoongi belum sempat mengintip area dibelakang si tamu ketika tamu itu merangsek dan menyeret Yoongi untuk duduk bersama. "Bagaimana tidurmu?" Ia menuang teh dari dalam teko diatas meja-makan-dadakan, menyuguhkannya pada Yoongi, sementara si tokoh utama cerita memasang wajah sinis bukan main. "Kau siapa?"
Hening.
Tamu tadi menjawab, "Jimin."
Hening lagi.
"..."
Masih hening.
Jimin tertawa, memukul lengan Yoongi dengan maksud bergurau. "Ayolah, apa kau tidak menyukai kamarku?" Ting-tong, benar, akhirnya Yoongi paham apa yang dikatakan Seokjin mengenai 'Kamar Jimin': ruangan merah muda ini adalah milik bocah didepannya. Tidak menunggu waktu untuk sekedar basa-basi, Yoongi langsung bertanya mengenai 'mengapa aku bisa ada disini?'. Jimin balik bertanya. "Biar kutebak, kau pasti mau keluar dari sini 'kan?"
Yoongi menggerakkan bibir, 'bingo', sambil berlagak menembak kearah Jimin menggunakan jari. Tentu saja itu membuat Jimin mengikik geli. Ia mengangguk, berkata pada Yoongi kalau pintu kamar itu tidak pernah dikunci dan bukan hal sulit untuk keluar dari sana. Tapi Yoongi berkalut kalau kenop itu bahkan tidak bisa diputar.
Jimin meninggalkan kursi, memutar kenop dan taa-daah, pintunya terbuka. "Kau yakin ini rusak? Kurasa tidak ada masalah."
"Pintu sialan," Yoongi mendesis, berjalan kearah pintu kemudian terpeleset hingga jatuh. Jimin tahu itu pasti sakit; kepalanya langsung beradu dengan lantai.
"Kurasa, lantainya juga sialan." Gurau Jimin, menertawai Yoongi yang kini terduduk mengusap kepala. Benar, ini sakit sekali. Yoongi bisa merasakan kalau ia gegar otak. Pikiran dramatis. Ia memutar tubuh dan merangkak kearah tempat tidur, membuat Jimin bingung. "Kenapa? Pintunya sudah terbuka, keluarlah."
Sialan, aku memang akan keluar. Tapi nanti, kalau kepalaku sudah lebih baik, benak Yoongi menjawab. Ah, penglihatannya berputar-putar.
"SLEEP WELL"
Bagian II
Dua kawan Jimin datang menjenguk lagi ke RS, membawa vas berisi bunga lilac yang cocok dipajang. Tidak sampai sepuluh detik bagi Taehyung untuk mendapati Yoongi tertidur pada sisi ranjang, menggenggam jemari Jimin rapat-rapat. "Astaga, manis sekali," Katanya, menggumam tawa sambil melihat Jungkook yang meletakkan bunga keatas meja. "Namjoon-ssi bilang kalau ia tidak tega membangunkan orang itu," Jungkook menunjuk Yoongi. Kalau diingat lagi, dua orang ini memang belum mengenal Yoongiㅡatau lebih tepat, belum dikenalkan oleh Jimin.
"Apa dia kakaknya Jimin?"
"Entah. Aku tidak pernah melihatnya dirumah keluarga Park." Mungkin karena dilandasi rasa penasaran yang membara, Jungkook mengambil inisiatif untuk menyimak wajah Yoongi lebih dekat. Maksudnya, mencoba menemukan kemiripan dengan Jimin untuk meyakinkan perkiraan kalau mereka (paling tidak) bersaudara. Tapi, Jungkook malah menemukan hal lain. "Taehyung, apa hanya perasaanku atau memang bibir orang ini berbuih?"
Seperti hewan, telinga Taehyung mengedik. "Berbuih?"
[ Tertidur ]
Jimin menyeka kepala Yoongi dengan kain yang ia rendam dalam ember berisi air dingin. Sesekali usapan itu ia tekan, memaksa Yoongi untuk berdecit. "Tolong-pelan-sedikit, bocah sialan"
"Kukira kepalamu cukup keras untuk menahan tekanan." Jimin menjawab, sarkastik. Kemudian suasana kembali sunyi. Yoongi yang tiarap menggoyang kaki bersama Jimin yang duduk menepi, berkutat dengan kepala si mulut tajam.
"Hei, bocah,"
"Hm?"
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Oh ya? Yang mana?" Masih mengompres kepala Yoongi.
"Kenapa aku ada disini? Bukankah katanya, ini kamarmu?"
Tap, tap, tap-
Dengan dampingan Dokter Namjoon, tubuh Yoongi diangkut menuju kamar lain. Kepanikan sangat kentara diantara mereka saat itu; berkalut mengenai Yoongi, yang semalam memutuskan untuk bermalam disamping Jimin, kehilangan kesadaran akibat konsumsi obat diluar anjuran dokter. Ini soal Restoril yang ia minum. Memang obat tidur, tapi obat seperti itu hanya boleh dikonsumsi dengan resep dokter sementara Yoongi tidak memilikinya. Sama sekali.
Overdose.
"Siapa yang memberikannya obat itu?" Namjoon bertanya pada perawat didekatnya, yang tidak hanya berjumlah satu orang dan tidak satupun dari mereka yang melakukannya. Kecuali, Yoongi memang mengalami insomnia parah hingga seseorang mengizinkannya untuk menenggak obat itu. Yang berarti Yoongi seharusnya tahu takaran konsumsinya. Atau, jika bisa berpikir gila, jangan-jangan Yoongi sengaja melebihkan dosisnya?
Tapi, untuk apa ia sengaja?
Apa karena Jimin?
Oh... "Tidak mungkin..."
ㅡ
Hari kedua.
"Bangun." Yoongi membuka mata perlahan ketika ia mendengar ada yang menyuruhnya untuk bangun. Alih-alih cahaya, nampak langit-langit berwarna merah jambu. Yoongi segera mendudukan diri, menganalisa sekitar lalu menemukan sosok laki-laki dengan kaus lengan panjang dan celana panjang putih polos, telanjang kaki, duduk di hampa udara. "Kau lagi."
"Bagus, tidak sekaget kemarin." Seokjin melekatkan kakinya pada lantai dan mengitari tempat tidur Yoongi. "Sudah bertemu dengan Jimin?" Mendengar lenguhan Yoongi, Seokjin tahu kalau itu adalah jawaban 'ya'.
"Dia tidak menjelaskan apa-apa padaku. Kau bilang, ini Kamar Jimin."
"Memang."
"Tapi dia terlihat tidak memahami keadaan juga."
"Memang."
"Apa kau akan menjawabku dengan 'memang' sampai mati?"
"Memang."
"Hantu idiot."
"Hei," Seokjin memberi sedikit kejutan: memukul kepala Yoongi yang kemarin terjatuh dilantai. Ouch, itu pasti sangat sakit. "Aku bukan hantu. Uh, yah, setidaknya tidak disini." Baiklah, anggap saja dia hantu. Sebutan dari Yoongi itu bukannya tak beralasan; Seokjin melayang.
Mungkin hantu ituㅡbaik, mari panggil Seokjin sebagai hantu mulai sekarangㅡsedang mencoba akrab dengan Yoongi, yang entah apa dasarnya ia memang merasa harus mendekati Yoongi. Jadi, ia mulai mengajak bicara mengenai banyak hal.
Yoongi adalah orang yang mudah bosan, bahkan ia bisa tertidur saat kuliah berlangsung. Karena itu, Seokjin harus bisa menemukan topik menarik. Hingga kemudian ocehannya terseret pada sebuah kisah yang memancing rasa penasaran Yoongi: sepasang kekasih yang terpisah karena penyakit; romansa klasik yang emosional.
Diceritakan olehnya, dua orang bermarga Kim saling jatuh cinta. Namun, seorang Kim ternyata mengidap penyakit HIV. Tidak seperti orang lain yang perlahan menjauh, Monny lebih memilih untuk tetap disisi Jinny. Meski Jinny berlagak tidak membutuhkannya, bahkan sampai berpura-pura membenci kekasihnya, Monny tetap disana. Duduk dikursi besuk, menggenggam tangan Jinny yang bertambah lemah setiap harinya. "Aku akan jadi dokter, lalu mencari obat untukmu agar kamu sembuh," Kata Monny, menangis karena (untuk kesekian kali) keberadaannya ditolak oleh Jinny. "Berhenti menjerit dan katakan kau mencintaiku. Karena aku tahu kau memang mencintaiku."
Tapi, kenyataan berkehendak lain. Jinny meninggal sebelum Monny menyelesaikan sekolah kedokterannya. Dan bagian yang paling dibenci Yoongi setengah mati adalah bahwa Jinny tidak sempat mengatakan betapa ia mencintai Monny. "Gadis dungu." Katanya.
"Kau ini, tak bisakah mengeluarkan pujian? Atau hidupmu memang penuh caci-maki?"
"Apa yang bisa dipuji dari gadis itu?"
Seokjin angkat bahu. "Mungkin ada sesuatu yang membuatnya harus menolak Monny."
"Seperti?"
"Jinny tidak mau Monny tertular."
... Aku mungkin akan pergi lebih cepat, tapi, jangan berhenti. Sembuhkan orang-orang yang bernasib sepertiku, maka anggap saja kau menyembuhkanku.
ㅡ
Hari ketiga.
Tidak seperti dua hari sebelumnya dimana Yoongi akan mendengar suara halus agak cempreng milik Seokjin, kali ini Yoongi terbangun karena hal lain. Ia merasa sekitar pandangannya gelap dan memang benar-benar gelap ketika matanya terbuka. Untuk beberapa saat ia masih mencerna keadaan, bahwa ia tidak lagi berada didalam kamar merah muda melainkan kamar yang diterangi cahya lilin. Lilin-lilin itu berceceran dilantai, tidak berbaris, diletakkan begitu saja. Bukan hanya nuansa kamar baru ini yang membuat Yoongi kalut, tapi juga keadaan tubuhnya yang hanya dibalut jubah tidur, tanpa sehelai pakaian lain dibaliknya. "Apa-apaan ini?"
"Oh, sudah bangun rupanya." Jimin muncul, juga hanya mengenakan jubah tidur, keluar dari sebuah pintu lain sambil mengeringkan rambut. Ia tersenyum seperti kemarin: matanya sampai melengkung. "Mau teh?"
"Hentikan ocehanmu. Lebih baik kau jelaskan-" Yoongi jengah. "Lagi-lagi, kau membawaku kemana dan ada apa dengan pakaianku?"
"Kau suka BDSM?" Menenggak isi gelas kacanya pelan-pelan, Jimin bertanya tanpa melirik Yoongi. Cairan itu nampak merah pekat, encer. Tidak seperti darah tapi cukup memuakkan. Dan pertanyaan aneh ini membuat Yoongi berencana untuk membenturkan kepala pada dinding, atau meja, atau apapun asal ia bisa membuat Jimin lenyap. "Yoongi-hyung, kau suka BDSM?"
"... Uh," Barusan, saat Jimin memanggil, Yoongi merasa seolah sesuatu menyetrum isi kepalanya. Entah kenapa suara yang menyebutkan namanya itu terasa tidak asing. Jimin berjalan mendekat, lalu naik keatas tempat tidur. Memperhatikan wajah Yoongi yang seperti orang sekarat kemudian memutuskan untuk duduk diatas kaki mulus laki-laki kasar itu.
"Apa yang kau lakukan? Minggir," Kalimatnya seperti mengusir, nyatanya suara itu terdengar seolah penasaran pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Jimin menarik kerah jubah Yoongi, membawa wajah mereka mendekatㅡbahkan hidung keduanya sempat bergesekan. "Hyung, apa kau suka pada sesuatu yang kasar?"
"Bicara apa anak ini..."
"Hyung," Sekali lagi, Jimin menarik kerah dalam genggamannya. "Kenapa tidak menjawab?" Ia berbisik, nafasnya beradu dengan bibir Yoongi yang menyimpan banyak umpatan namun tertahan tanpa alasan. Matanya sibuk meneliti wajah Jimin: tatapan yang sayu, bibir itu... "Astaga-" Lagi-lagi Yoongi merasa kalau ini tidak asing. Apanya? Apa yang tidak asing? Ia sendiri tidak tahu. Hingga akhirnya Yoongi yang kalah, ia melakukannya, apapun yang Jimin rencanakan itu. Yoongi mengira kalau Jimin hanya anak laki-laki nakal yang suka mengurung orang dalam kamarnya, tapi ternyata, ia juga nakal dalam hal lain.
Diluar dugaan, Jimin menguasai segala macam aksesoris siksaan yang ia sajikan untuk Yoongi. Gags, bondages, rings, semuanya.
"Sudah kuduga kau menyukai ini," Ucap Jimin dihelaan nafasnya. Wajah itu dibalur keringat habis-habisan dan jika saja sebuah tulisan mampu mewakili jeritan Jimin setelah ucapannya barusan, siapapun yakin kalau itu adalah sesuatu yang mampu membuat seseorang bergidik. Sementara Yoongi, diluar kemauannya, juga menikmati tubuh Jimin hingga kelopak matanya berulang kali terpejam, hingga bibirnya berulang kali meloloskan hasrat yang menuntut penuntasan. Ia bukan tipe yang suka kalau tubuhnya sakit, tapi bersama Jimin, BDSM bukan sesuatu yang sulit.
Sesaat lalu, Ibu Jimin memanggil perawat, tapi perawat itu datang bersama bonusnya: Namjoon. Namjoon ternyata belum pulang meski jam kerjanya sudah selesai sejak tiga jam yang lalu. Ibu Jimin memanggil perawat juga bukan tanpa alasan, ia panik karena tiba-tiba saja puteranya dibanjiri keringat, bahkan selang oksigen itu berembun seolah nafasnya sempat tersengal-sengal. Alis Namjoon menukik, ia hampir tidak pernah menemukan keadaan dimana seseorang yang koma bisa memproduksi keringat. Tapi, Jimin jelas-jelas belum terbangun.
Menurutnya, ada terlalu banyak hal mengganjal disekitar Jimin. Jimin koma disebabkan oleh kurangnya asupan oksigen akibat benturan pada leher dan dada, mengakibatkan pernafasan yang tidak lancar dan itu bukan hal aneh. Tapi sisanya, seperti Yoongi yang overdosis dan tubuh Jimin yang berkeringat, membuat Namjoon menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang aneh.
Ini tidak mungkin ada sangkut-paut dengan hal-hal diluar logika, tapi tidak ada hal lain yang mampu ia pikirkan selain ini. Untuk memastikannya, ia akan memantau Jimin dengan matanya sendiri.
ㅡ
"SLEEP WELL"
Bagian II, selesai
[ Tertidur ]
Bersambung ke Bagian III
