Sebelumnya, saya selaku penulis meminta maaf dan harap kemakluman dari pembaca mengenai 'Sleep Well Bagian III'.

Saya membuat keterangan bahwa bagian tiga sudah diperbarui, tapi pembaca menemukan bahwa hanya ada dua bagian. Saya memang sudah melakukan pembaruan, tapi karena beberapa kesalahan, saya memutuskan untuk mengulang tulisan, menghapus pembaruan dan mengundur penayangan bagian tersebut dari tanggal 25 Sept menjadi 26 Sept.

Sekali lagi, saya PreciousArmy, meminta maaf atas ketidaknyamanan pembaca. Terima kasih atas perhatian dan kesetiaannya.

Selamat membaca.

...

"SLEEP WELL"
Bagian III

Hari keempat.

Duduk disebuah kafe alun-alun, Namjoon menebar segala macam buku pada mejanya, menunggu secangkir Americano—espresso bisa membuat pikirannya buntu—yang ia pesan beberapa menit lalu. Hari ini ia punya waktu untuk bersantai, tidak berkutat didalam RS, namun tetap saja kepalanya menuntut untuk penuntasan sejumlah tanya. Mengenai Jimin, tentunya.
"Berkeringat dalam keadaan koma," Gumamnya pelan, mengiringi mata yang membaca deret-deret huruf dalam buku. Sebelum memutuskan untuk duduk di kafe, Namjoon membeli beberapa buku yang ia kira mampu menjawab kebingungannya. Tidak mungkin universitas tempatnya mengambil gelar sarjana melupakan hal serupa keringat untuk dibawa sebagai pengetahuan lapangan. Sangat tidak mungkin.
Tapi, buku-buku itu tidak melegakan dahaga sama sekali dan Namjoon mencoba untuk menelusurinya lewat internet. Meski bisa saja hampir sama dengan kasus buku, ada kemungkinan ia mendapat artikel terkait. Scroll here, scroll there, read this, write that... Hasilnya? "Ini menyebalkan."
Grekk—"Bang!" Seseorang menarik kursi kosong disamping Namjoon lalu memukul kepalanya sambil tertawa lebar. Tampang itu, sudah pasti, siapa lagi selain Hoseok? "Hei bro,"
Namjoon mendesis, lalu ikut tertawa. "Aku tidak tahu kalau kau minum kopi."
"Memang benar. Daripada moka atau latte, aku memesan cokelat dengan krimer."
"Sweet."
"Super."

[ Mimpi 1 ]

"Oh? Kau menangani pasien yang menarik?" Hoseok menuruni tiga anak tangga didepan pintu kafe dengan sedikit berlari. Tepat didepannya mobil Namjoon terparkir dan Hoseok menagih tumpangan. Menyamankan diri dibalik kemudi, Namjoon sempat melirik penampilan pada spion sebelum menjawab Hoseok.
"Hanya karena terjadi hal aneh padanya."
"Hal aneh apa?" Hoseok menarik sabuk pengaman—bukannya kolot karena menumpang mobil dengan sabuk melingkar, tapi dia memang terlalu penakut.
"Bahkan kau yang tidak tahu apa-apa ikut penasaran."
"Jadi, kau akan memberitahukannya padaku atau tidak?"
"Bagaimana kalau melihat ke TKP?"

Dalam pejam, Yoongi merasa ada cahaya yang membentur wajahnya dengan gamblang, meski terpejam pun ia dibuat mengerejap kesilauan dan akhirnya—terpaksa—bangun. Masih berusaha menghalau cahaya yang menerpa, Yoongi mendudukkan dirinya perlahan, menyadari kalau lagi-lagi ia terbangun di kamar lain. "Baik, apa maumu?" Gumamnya, mengenakan sandal. Ia sendiri tidak tahu siapa yang akan menyahut; entah Si Hantu atau Bocah Jimin. Tapi ternyata, ia sama sekali tak mendapat jawaban.
Tunggu sebentar. Tempat tidur ini, meja belajar ini, kamar ini... "Aku-" Lalu terdengar suara pintu dibuka, beriring dengan kemunculan seorang gadis berkuncir dua yang mengomel. "Oppa, Ibu memanggilmu berkali-kali. Bangunlah!"
"Yoonhee?" Itu adik perempuan Yoongi. Oh, apa ini sungguhan? "Kau Yoonhee?"
"Apakah aku tewas dalam mimpimu?" Anak itu mencibir, berbalik lalu meninggalkan kamar Yoongi sambil tetap memekik kalau Ibu memintanya untuk sarapan.
Terduduk ditepi kasur lalu mengusap wajah, Yoongi tertawa. Astaga, ternyata kejadian-kejadian aneh yang ia lalui hanyalah mimpi. Bagus, tidak ada laki-laki melayang atau bocah binal yang sok polos. Semua hanya mimpi. Mimpi. Terlalu girang, suara Ibu memanggil kembali kentara. Ya, semuanya mimpi! "Aku segera kesana, Bu!"

Di RS, Namjoon dan Hoseok segera menuju kamar Jimin. Bukan jam besuk, tidak heran kalau hanya ada satu perawat disana—pengecekan berkala. Tak berkata apa-apa, Hoseok menyimak anak yang terlelap dihadapannya, mencari kejanggalan apa yang dimaksud oleh Namjoon. Tentu saja Hoseok punya kepercayaan diri untuk meneliti Jimin, dia juga seorang dokter di RS yang sama; disini. Rekan kerja sekaligus teman Namjoon sejak sekolah menengah. "Aku tidak melihat ada yang menarik." Telunjuknya mengusap kulit lengan Jimin, berpindah ke dadanya, lalu mendengar tempo nafasnya. "Tidak ada yang aneh. Dia koma."
Namjoon mengangguk. Masih belum berniat memberi jawaban, ia menyeret Hoseok ke kamar lain: kamar Yoongi. Barulah ia menjelaskan kalau satu hari setelah Jimin dinyatakan koma, Yoongi menenggak Restoril didekatnya. "Overdosis. Kami telah memberi penanganan sebagaimana biasanya, tapi ia tidak juga bangun."
"Kau ingin bilang kalau ia koma? Penyebabnya?"
"Sama seperti Jimin, kekurangan oksigen."
"Apa?" Hoseok tertawa, mulai mengendus keanehan. Setelah dijelaskan, itu memang sedikit aneh. Pasien koma dibesuk oleh seorang kerabat yang kemudian ikut koma akibat menenggak obat tidur? Benar, ini menarik. Kepalanya langsung mengulas banyak hal: semua pelajaran yang ia dapat dari sekolah kedokterannya. "Tapi, mungkin saja ini kebetulan."
"Kebetulan ya?"
Mengangguk sambil mengedar pandangan keseluruh ruang, tiba-tiba Hoseok menyadari sesuatu. "Ah, Namjoon, apa kau merasa familiar dengan kamar ini?"
Kamar. Kamar Yoongi ternyata lebih menarik perhatian daripada keadaan pasiennya yang koma. Hoseok agak keterlaluan. Namjoon ikut menganalisa penjuru kamar. "Familiar?"
"Ya. Oh, aku ingat. Ini kamarnya,"
"Siapa?"
"Dia, Kim. Kim- aku lupa nama orang itu."
"Kim?"

"Ah, benar, Kim Seokjin!" Sambil terengah, Namjoon memapah tubuhnya pada dengkul, menggenggam secarik kertas yang kusut. Seokjin—yang dalam perjalanan pulang kerumah—menemukan Namjoon dibelakangnya, lalu menghampiri. "Kau mengejarku?"
"Ya," Namjoon menegakkan posisi berdirinya, mengatur suara agar terdengar setenang mungkin lalu menyodorkan kertas yang ia genggam. "Ini tertinggal."
"Itu bukan milikku."
"Tidak mungkin, disini tertulis 'untuk Kim Seokjin'. Ambillah."
Seokjin tahu, laki-laki didepannya tidak sedang berbohong. Karena kertas itu, surat cinta itu, tadinya ada didalam loker. "Kau membuka lokerku?"
"Tidak. Aku memungut ini di tempat sampah saat piket." Tangan Namjoon kembali menyodorkan surat, bahkan hampir memasukkan surat itu kedalam kantung kemeja Seokjin jika tidak dihalau; tangannya ditepis. "Hei,"
"Itu sudah kubuang. Permisi."
"Hei!"
DIINNNNN—Suara klakson dari sebuah truk terdengar nyaring, nyaris menyambut tubuh Seokjin jika Namjoon tidak menariknya kebelakang. Truk itu agak oleng, tapi kembali melaju sambil memaki—Seokjin berniat untuk menyeberang ketika lampu pejalan kaki masih merah. Dengan dibalut suasana kejut, Seokjin mematung dalam rangkulan Namjoon. Tangannya yang tepat menyentuh dada bidang itu, mengalirkan sesuatu. Sesuatu yang jarang ia temui dari lingkungannya maupun keluarganya. Sesuatu itu...

Dalam kamar merah jambu, duduk didekat Jimin yang tertidur sambil mendekap buku, Seokjin—Si Hantu—melamun.
"... Namjoon?"

Hari kelima.

"Aku pergi, Bu." Memapah pada dinding, Yoongi mengenakan sepatu, langsung melenggang keluar rumah setelah menyempatkan untuk membelai kucingnya yang terus mengeong. Ini adalah hari kedua ia dirumah—tetap disini ketika ia bangun tidur untuk kedua kali—dan seperti biasa, ia harus mengikuti serangkaian kuliah. Semuanya normal; jalanan menurun, halte bus, pegawai-pegawai kantor, kedai sarapan, conbini, semuanya. Itu membuat Yoongi merasa ringan—biasanya ia akan menggerutu sepanjang jalan.
"Min Yoongi?"
"Ya?" Yoongi menoleh dan mendapati seorang wanita. Wajahnya tidak asing.
"Hei," Ia menghampiri Yoongi dengan senyum riang, rambutnya yang bergelombang mengayun indah ditiup angin. "Kau ikut kuliah pagi ini 'kan? Mau jalan sama-sama?"
"Tentu. Kita sekelas?"
Wanita itu tertawa, "Sudah kuduga, kau tidak menyadari keberadaanku walau kita selalu dikelas yang sama beberapa tahun ini. Namaku Kang Seulgi." Ia menjabat tangan Yoongi dan perlakuan itu disambut baik. Akhirnya, diiringi percakapan seru, mereka berangkat bersama seperti skenario khas roman picisan, menyorot momen dimana pemeran utama berjumpa dengan pasangannya. Sementara si orang ketiga, berdiri mengamati dari jauh, diam-diam.
Dulu hal ini pernah terjadi; mengenai seseorang bernama Kang Seulgi. Dulu, jauh sebelum Jimin kecelakaan, jauh sebelum Yoongi menenggak Restoril, jauh sebelum keduanya dinyatakan koma.
Kang Seulgi.
Waktu itu, Jimin baru saja pulang sekolah dan Yoongi menjemputnya, segera menyibukkan diri di pantri demi dua cangkir teh untuk disajikan pada si kekasih kecil. Tapi ketika Yoongi masih menyeduh minuman, Jimin menemukan buku ini diatas meja belajar, didalam kamar.
"Jimin-ah,"
"Siapa Kang Seulgi?" Jimin berbalik meninggalkan meja, menangkup tangan Yoongi yang menggenggam cangkir dan langsung menenggak teh tadi tanpa merebutnya dari Yoongi. Sementara si-terajak-bicara tidak nampak kaget atau panik dengan pertanyaan Jimin. "Orang yang meminjamiku catatan. Kemarin aku tidak kuliah 'kan?"
"Dia cantik?"
Yoongi nampak berpikir, seperti sedang mengingat-ingat. "Sewajarnya gadis Korea."
"Kau menyukainya, hyung?"
"Huh?"
"Biasanya hyung menolak hal seperti itu," Jimin mundur perlahan, tatapan matanya seolah menuding kalau Yoongi sedang berbohong. Misi sukses, emosi Yoongi terpancing dengan baik. Ia meletakkan cangkir-cangkir ditangannya dengan kasar, kemudian merenggut kerah baju Jimin dan membuat anak itu sempat menjerit kaget. "Hyung-"
"Kau kira aku apa? Apa kau sedang berpikir kalau aku laki-laki sialan yang gemar membual? Apa kau sedang meragukanku?"
"Tunggu-" Jimin tak dapat melanjutkan kalimatnya; punggungnya terbentur ke dinding.
"Kau berpikir kalau aku sama berengseknya dengan para jalang diluar sana, huh? Park Jimin?"
"Hyung," Jimin menggenggam dua tangan Yoongi di kerahnya, lalu maju dan memberi ciuman. Tentu saja itu membungkam Yoongi. "Punggungku sakit." Ia berbisik dan Yoongi langsung melepaskan cengkeramannya. Jimin tersenyum, maju sekali lagi untuk memberi pelukan.
"Maaf," Yoongi tertunduk di bahu Jimin, terus mengulang permintaan maaf sementara Jimin mengusap kepalanya.
"Aku tidak menuduhmu, aku cuma bertanya."
"Maaf," Pelukan itu kini saling berbalas, membuat Jimin menarik nafas—antara terkesiap dan sesak. "Jangan ragukan aku, rasanya sakit..."
Sakit.
Rasanya sakit.

Otaknya mulai aktif—catatan kondisi Yoongi saat ini, oleh Namjoon. Merupakan sebuah perkembangan karena empat hari yang lalu, tubuh lelap itu nampak kurang baik. Hari ini? Terlihat seolah beberapa jam lagi ia akan siuman. Keluarga Yoongi senang, bahkan Ibunya menangis. Baru saja kemarin mereka pulang ke Korea karena mendapat kabar bahwa Yoongi mengalami koma. Setiap pagi, Ibu Yoongi berbisik ditelinga puteranya, mengajaknya sarapan. Berharap dengan ajakan itu Yoongi akan terbangun. Dan ajaib, otak Yoongi merespon.
Menginterupsi atmosfir, Hoseok mengintip dari pintu, memanggil Namjoon yang segera pamit undur diri. "Ini soal pasien kecilmu." Kata Hoseok, menyeret Namjoon menuju kamar lain.
"Park Jimin?"
"Kau harus melihatnya."

Tik... Tik... Tik...
"Jimin," Seokjin berdiri dihadapan sebuah dinding kaca yang buram. Memanggil Jimin yang berdiam dibaliknya ditemani suara rintik air. Dinding kaca itu... Apakah sebuah kamar mandi? "Jimin, apa yang harus kulakukan?"
Hening.
"Jimin, airnya akan segera penuh."
Masih hening.
"Jimin, kau harus tetap hidup."
"... Yoongi."
Seokjin tertunduk. Rambut hitamnya melemas jatuh menghalau wajah. "Min Yoongi bahagia tanpamu."
Tik... Tik...
Tes—Rintik tadi berubah menjadi tetesan, makin lama tetesan itu makin deras. "Ia lebih mencintai kehidupannya." Lalu tetesan itu berubah menjadi aliran air, perlahan mengisi bak tempat Jimin meringkuk. Entah kenapa, sentuhan air itu terasa melukai; Jimin kesakitan.

"Ada apa dengannya, Dokter?" Ibu Jimin panik, wajahnya cemas bukan main karena kondisi Jimin yang membingungkan: keringat membasahi piyama dan rambutnya. Kelopak matanya tertutup rapat dan bibirnya menjadi ungu. Tapi bukan itu yang membuat Namjoon dan Hoseok gelisah, melainkan karena harus melihat kenyataan bahwa nafas dan denyut jantung Jimin masih normal; tidak terburu-buru atau tertatih-tatih. "Pasienmu memang menarik." Hoseok mulai tegang.
"Hoseok, kuharap, selain aku, tidak ada yang turun tangan pada anak ini."
"Kalau kau fokus disini, bagaimana dengan seorang lagi?"
"Kau temanku 'kan?" Namjoon mencengkeram mantel Hoseok erat, menatapnya sungguh-sungguh. "Aku mempercayakannya padamu."
"Semoga ini tidak memburuk, Pak." Hoseok langsung berbalik, segera kembali ke kamar Yoongi; mulai hari ini, Yoongi sukses dipindah-tangankan. Status: pasien dari Dokter Jung Hoseok. Persetan soal persetujuan RS, kasus ini lebih genting jika dibandingkan dengan sebuah kesepakatan diatas kertas fotokopi.

—Tiga puluh menit: airnya menenggelamkan telapak kaki Jimin.

Yoongi menyimak kuliah yang disampaikan dosennya dengan seksama. Pertama kali dalam sejarah kuliah ia berlaku seperti ini. Selama dosen mengoceh, Yoongi terlibat aksi saling pandang dan bergiliran melempar senyum dengan Seulgi. Wanita itu mulai menunjukkan tanda-tanda kasmaran, tidak jauh berbeda dengan laki-laki kita satu ini; senyumnya terlalu manis untuk kadar basa-basi. Kadang, dengan isyarat, mereka seolah terlibat percakapan yang berujung pada kikik geli, nampak menikmati bermain kucing-kucingan dengan dosen. Mungkin iya, Yoongi luput dari pengawasan dosen tapi bagaimana dengan pengawasan dari mata yang lain?
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta."
Tiba-tiba dari samping kiri Yoongi terdengar suara, bicara padanya. Ingatan yang sama sekali tidak memberi keterangan kalau disampingnya ada orang—seharusnya sisi itu kosong, membuat Yoongi segera menoleh. "Kau-"
"Kuingatkan padamu," Seokjin—ya, itu Seokjin—menatap lurus kearah papan berisi materi kuliah. Yoongi menoleh kesana-kemari tapi semua orang terlihat mengabaikannya, seolah Seokjin adalah benda transparan. "Bagaimana-"
"Dengar dan pilih: tenggelamkan dia dengan rasa kecewa, atau bakar dirimu dengan kemarahan."
"Pergi kau, aku sudah kembali pada hidupku, jangan ganggu aku." Yoongi menggeram, menjaga agar suaranya tidak sampai terdengar.
"Min Yoongi, kau masih tertidur." Seokjin memetik jari, dalam sekejap, tak ada lagi kampus dihadapan Yoongi, berganti menjadi Kamar Jimin. Lingkungan bersahabat yang membuat pusing, seolah ada banyak sekali hal yang ingin masuk kedalam kepalanya. Ya, ya, Yoongi ingat betul kalau ini adalah tempat ia terbangun tempo hari, ia ingat kalau tempat ini adalah sarang bermalas-malas dari sosok bocah yang memelihara hantu, tapi perasaan apa yang sejak tadi berusaha merasukinya? "Sialan," Sambil mengumpat, Yoongi menghempas jaketnya keatas kursi didepan cermin kemudian merebah. Mungkin ini mimpi, maka ia harus kembali tidur untuk terbangun dalam keadaan normal.
Temukan Jimin.
Tapi suara lain muncul, menggema dalam ruangan. Apa ini? Yoongi merasa kalau ia mungkin sudah gila. Untuk beberapa saat ia terus memaki Seokjin, menagih keheningan. Sayangnya, gema itu tetap terdengar, kelamaan seperti sebuah perintah. Rupanya itu suara yang berbeda; bukan milik Si Hantu. Cukup, ini benar-benar gila.
"Hentikan!"
Ikuti ucapanku dan temukan Jimin, sekarang!

—Empat puluh lima menit: airnya mencapai betis Jimin.

Demi Tuhan, kalian akan mati.

"SLEEP WELL"
Bagian III, selesai

[ Mimpi 1 ]

Bersambung ke Bagian IV