Pintunya di langit-langit. Tapi sesuatu membuat Yoongi tertawa. Selain karena papan bertulis nama, juga karena arah tergantungnya gantungan kunci yang tidak menuju tempat Yoongi berpijak. Ini aneh tapi Yoongi melihatnya: lampu yang seharusnya ada di langit-langit malah terpasang di dinding sebelah kanan, lalu gantungan kunci itu jatuh mengarah ke dinding sebelah kiri sementara pada dinding yang berhadapan dengan Yoongi terdapat meja yang menapak pada dinding sebelah kiri pula. Yang mana itu berarti, sebenarnya Yoongi tidak memijak lantai. "Mungkin aku Spiderman." Katanya.
Yoongi benar-benar melakukan apa yang ia pikirkan: mencoba memanjat dinding. Ia memilih untuk memanjat dinding kanan. Lalu semua terjadi begitu saja, ketika Yoongi sama sekali tidak merasa kalau tubuhnya miring, semua terasa normal seperti ia memang berdiri di lantai. "Ini gila. Aku bersumpah, aku pasti diculik alien." Dengan semua gumaman yang ia tutur, Yoongi memutar kenop pintu.
Terbuka.
"SLEEP WELL"
Bagian V
Pip pip, pip pip...
Namjoon duduk disisi tempat tidur Jimin, menyimak gerakan pasien itu. Tiap gerak, walau hanya satu senti, bisa memberitahu apa yang tengah terjadi dalam tidurnya karena Namjoon ingat betul ucapan Tuan Bang yang menyatakan bahwa Yoongi dan Jimin sedang bermain dengan hantu. Tidak logis, terlalu tidak meyakinkan, tapi Namjoon tidak tahu kemungkinan realistis apa lagi yang bisa ditemukan selain yang diucapkan si Kepala RS.
Hingga tiba-tiba kepala Jimin terhentak kesamping.
Di kamar lain, Hoseok baru saja menghampiri vending machine dan membawa sekaleng soda ketika ia melihat Namjoon merangsek masuk dengan tergesa. "Wow, wow, bung. Pelan-pelan saja."
"Park Jimin-" Namjoon berhenti bicara dan membelalak, matanya tertuju pada tubuh Yoongi. Penasaran, Hoseok juga menengok pasiennya, kemudian memberi reaksi tak kalah tegang dari Namjoon. Ya, ini soal Yoongi, yang koma selama hampir satu minggu tapi kini nampak membuka matanya. Yang jadi masalah adalah alat pendeteksi jantung; sama sekali tak bersuara padahal kabelnya tidak pernah tergerak.
"Oh, Tuhan."
Mungkin, hantu memang ada.
[ Mimpi 2 ]
Sebuah kamar. Itu yang dilihat Yoongi setelah pintunya terbuka. Sepertinya itu kamar laki-laki, atau asrama, entahlah tapi yang pasti gayanya seperti kamar hotel, dengan lampu utama yang dipadamkan dan hanya mengandalkan sedikit cahaya dari lampu meja. Kalau diperhatikan, kamar ini bernuansa cokelat, tenang dan nyaman. Ada pendingin ruangan di dinding tapi Yoongi tahu itu dalam keadaan mati.
Masuk lebih dalam lagi, Yoongi mendapati tumpukan kardus dan barang-barang yang ia duga sudah tak terpakai. Atau mungkin sengaja disimpan karena keadaannya masih bagus. Beberapa kardus dibiarkan begitu saja sementara sisanya diberi tulisan yang mungkin adalah keterangan isinya. Macam-macam, ada 'Sekolah Dasar', 'Ayah', 'Rumah Nenek' dan lebih banyak lagi. Yang jelas, sepertinya kardus-kardus itu diisi dengan barang pemberian atau kenangan dari subjek yang tertulis. Lalu sebuah kardus besarㅡagak lebih besar dari kardus berjudul 'Ibu' dan lebih kecil dari kardus berjudul 'Adik'ㅡmembuat Yoongi terkesiap. Disana tertulis namanya. Min Yoongi.
"Apa aku pernah meninggalkan barangku disini?"
Sementara di RS, Hoseok dibuat kalang-kabut ketika jasad Yoongi seolah melihat sesuatu, matanya melirik sesekali dan kelopak matanya gemetar; ia persis seperti apa yang orang sebut dengan kerasukan. Oh tidak, jangan sekarang, setidaknya jangan ketika Hoseok yang berjaga. Ia bisa dikira gila jika menjerit dalam kamar pasien. Dan lagi, kenyataan bahwa pendeteksi jantung itu masih dalam keadaan mati membuat Hoseok berpikir kalau ia tengah menghadapi orang sekarat. Ini terlalu menyeramkan.
Keadaan menegangkan juga terjadi di kamar lainnya, Namjoon bingung karena Jimin yang kepalanya terhempas bergantian kanan-kiri dengan gerak asal, seolah sesuatu membuatnya menggelepar. Alat pendeteksi jantung disana juga sama seperti milik Yoongi: tak bekerja. "Perawat, tolong panggilkan Pak Bang!"
Apa yang terjadi disini?
Yoongi melepas satu persatu perekat di kardus, agak menyesal karena itu membuatnya rusak tapi rasa penasaran telah mengalahkan apapun. Bagaimana bisa ia tidak penasaran jika namanya tertulis pada sebuah kardus dengan isi yang dipertanyakan? Tidak sampai lima menit saat Yoongi berhasil melepas semua perekat dan memeriksa isinya tanpa pikir panjang. Pandangannya langsung mengantarkan rasa bingung ketika mendapati bertumpuk-tumpuk kertas. Karena cahaya minim, ia menggapai lilin diatas meja yang ada didekatnya kemudian kembali melihat-lihat. Ternyata isi kardus itu bukan tumpukan kertas melainkan foto. Alis Yoongi dibuat makin bertekuk; bukankah itu foto dirinya? Foto-foto itu, disana adalah dia bersama... "Bocah itu?" Jimin. "Tapi aku tak pernah melakukan ini. Apa-apaan?" Semakin dibongkar, semakin banyak lagi foto yang lebih mengejutkan. Ia nampak sangat akrab dengan Jimin, bahkan ada satu lembar yang memamerkan keadaan dimana mereka berbaring disebuah ranjang, tersenyum konyol dengan lengan saling merangkul dan tanpa busanaㅡhanya balutan selimut.
Pada saat Yoongi merasa semua terlalu membingungkan, ia tanpa sengaja menjatuhkan selembar foto kearah lilin yang segera menelannya dalam api. Kejadian selanjutnya adalah yang paling aneh, Yoongi seakan masuk ke masa dimana foto yang terbakar itu diabadikan. Ia melihat dirinya, duduk riang disebuah sofaㅡYoongi ingat kalau sofa itu ada di apartemennyaㅡdengan tangan yang sibuk membuka sebuah kotak seukuran telapak tangan. Kotak ponsel yang baru ia beli. Tak lama berkutat dengan ponsel baru, seseorang datang, langsung masuk sambil melempar senyum. Orang itu adalah Jimin.
"Aku benar-benar membelinya." Yoongi membalas senyum itu tanpa beranjak dari sofa. Jimin mendekat, lututnya mendarat keatas sofa sebelum kemudian memberi ciuman pada Yoongi. "Ayo uji kameranya."
"Boleh. Kita harus bagaimana?" Jimin nampak semangat, lalu Yoongi menunjuk-nunjuk pipi. Maka jadilah, mereka berfoto dengan pose Jimin yang mencium kekasihnya.
PssshhㅡGambaran tadi menghilang dari hadapan Yoongi bersamaan dengan foto yang habis terbakar, sekarang ia kembali menatap lilin dan foto lain dalam kardus. Kepalanya mulai pening dan jantungnya berdegup lebih cepat. Apa yang barusan ia lihat? Skenario apa tadi? Kenapa dia melakukan itu dengan Jimin?
ㅡ Airnya terus mengalir.
Yoongi mengeluarkan lebih banyak foto, berharap menemukan sesuatu yang lebih meyakinkan; ia butuh yakin kalau apa yang ia lihat bukan suatu rekayasa, apalagi ketika ia melihat kenangan yang sesaat lalu bermain dihadapan, rasanya itu tidak mungkin dikarang-karang.
Kemudian tangannya mengait sebuah buku catatan kecil yang terselip diantara tumpukan foto. Buku itu masih bagus, tapi tulisannya seperti pudar karena luntur. Yang membuat Yoongi tertarik untuk membaca tulisan itu adalah ketika matanya lagi-lagi melihat nama, namanya, Min Yoongi, tercatat disana.
Terkadang aku menertawai diriku sendiri, bukan karena ada yang lucu tapi karena aku payah. Tidak ada apapun dalam diriku yang bisa kubanggakan, yang bisa membuatku merasa 'inilah aku'. Aku menyedihkan.
Lagi, alis Yoongi dibuat mengerut. Ia tidak mengerti bagaimana tapi ia tahu bahwa tulisan ini adalah tulisan Jimin; ia tidak mengerti, ia hanya tahu. Lalu kenapa isi tulisannya semuram itu? "Apa yang terjadi padamu?" Tanpa sadar, Yoongi menggumam.
Kemudian Min Yoongi datang, dia bilang kalau dia menyukaiku, dia mengagumiku, dia ingin bersamaku. Mungkin bagi orang lain akan sangat menyenangkan untuk mendengar hal semacam itu, tapi tidak bagiku.
Saat Yoongi-hyung mengatakannya, aku merasa kalau aku tidak pantas. Ucapannya bukan untuk orang sepertiku. Bagaimana cara dia melihatku hingga aku begitu bagus? Mungkin karena aku selalu menjadi orang lain saat bersamanya? Bukankah itu berarti, dia menyukai karakter buatanku?
Semakin dibaca, ingatan Yoongi semakin diseret menuju sesuatu. Sesuatu yang ia sadari itu pasti telah dilupakan. Itu pasti terlewatkan. Setiap huruf yang ia eja, setiap kalimat yang ia baca, menuntunnya pada Jimin, mengajak benaknya untuk terus mengenang 'siapa Jimin?'.
Aku bukan orang baik. Min Yoongi, Jimin-mu tidaklah sebaik yang kau lihat. Aku sangat buruk, amat sangat buruk. Aku selalu ingin menunjukan pada dunia bahwa aku tidak payah, bahwa Park Jimin ada disini, karena itulah aku berkelahi, aku melibatkan diriku dengan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain. Hanya itu yang bisa kulakukan sebagai bukti keberadaanku. Agar orang-orang melihatku.
Lalu ketika kau datang, kau sembarangan melewati pintu rumahku, kau memasuki wilayahku dan aku bahkan tak kuasa mendorongmu keluar. Apa kau mengerti? Karenamu, sekali lagi, aku merasa sangat payah. Tapi karenamu, aku rela bersembunyi, menarik diri dari orang-orang sehingga aku tak perlu berjuang menunjukan keberadaanku. Aku tahu, bagimu, aku ada.
Tapi hyung, aku tertekan.
Aku kehilangan diriku dan aku lelah.
Kau bilang aku manis, nyatanya, aku kasar.
Kau bilang aku naif, nyatanya, aku tahu apapun.
Kau bilang aku kekasih kecilmu, nyatanya, aku bahkan meniduri gadis tercantik di SMP-ku jauh sebelum kau melakukan seks pertamamu.
Yoongi gemetar, meski masih belum mendapat kepastian soal hubungannya dengan Jimin, tapi tulisan ini cukup membuatnya merasa nyeri. Sejenak ia terhenti karena mencapai baris dimana tulisannya luntur. Seperti bekas air menetes, kertasnya bahkan mengering berbentuk lingkaran kecil dan Yoongi segera tahu kalau Jimin menangis saat menuliskannya. Ia menarik lilin lebih dekat, ia mau membacanya, ia mau tahu semuanya. Pelan-pelan, tulisan luntur itu terbaca.
Tapi, Min Yoongi, aku mencintaimu.
Sempat terasa sangat sesak dan lehernya tercekat, Yoongi seolah ditubruk oleh sesuatu sebesar kerbau yang tidak terlihat. Sesuatu itu menyerangnya, melewati tubuhnya seperti angin kencang hingga ingatan-ingatan yang ia cari mendadak berputar memenuhi kepala. "Jimin," Menyebut nama itu, kenangan lain bermain seolah ditayangkan dibalik matanya seperti kompilasi dari sekian banyak film. "Jimin-ah," Yoongi berbisik, serak, lalu air matanya mengalir. Ia tidak menampik, sambil menunduk, Yoongi menangis dalam sadar. Ia ingat semuanya. Ia ingat siapa orang yang ia sebut Bocah Jimin. Ia ingat suara itu, sentuhan itu, wajah itu. Ia benar-benar ingat. "Park Jimin..."
Aku mencintaimu, aku mau menjadi orang lain dan mengabaikan rasa lelahku.
Aku mau menjadi anak manis.
Aku mau menjadi orang naif.
Aku mau menjadi kekasih kecilmu. Aku akan menjadi apapun yang kau inginkan, aku janji.
Tapi, jangan tinggalkan orang payah ini. Demi apapun, aku lebih memilih tenggelam, ketakutan, lalu mati daripada harus melihatmu menyentuh orang lain. Kau tahu tentang itu 'kan?
Tunggu.
"Tenggelam?" Tiba-tiba saja Yoongi teringat pada ucapan Seokjin kemarin: tenggelamkan dia dengan rasa kecewa, atau bakar dirimu dengan kemarahan. Selain Seokjin, ia juga teringat pada suara-suara gema yang menyuruhnya untuk menemukan Jimin.
Ini buruk.
Ketika Jimin tidak berada dalam Kamar Jimin, ini bisa jadi sesuatu yang buruk. "Jimin-ah!" Yoongi langsung berlari.
...Tentang betapa aku menghindari genangan air karena takut tenggelam. Kau tahu 'kan? Dan aku lebih baik mati tenggelam daripada mati dengan menyimpan rasa kecewa saat melihat kepergianmu.
"Tidak. Tidak, tidak, kumohon..." Yoongi menemukan sebuah pintu. Sialnya, ia ingat kalau sedang berada didalam peristiwa aneh. Berapa banyak pintu yang harus ia lalui sampai bisa menemukan Jimin?
Hyung, jangan cintai orang selain aku, oke? Kau tidak boleh meninggalkanku.
"PARK JIMIN!"
ㅡ
"SLEEP WELL"
Bagian V, selesai
[ Mimpi 2 ]
Bersambung ke Bagian VI
