Disclaimer in chapter one


Under the Sky of Florence

.

.

.

.

.

Kamu membenarkan kacamata hitam yang kamu beli saat kamu kuliah dulu, cahaya matahari di Florence terasa berbeda dengan di Baltimore. Atau mungkin itu hanya perasaanmu saja.

"Will, ayo cepat!" Lamunanmu buyar saat mendengar namamu dipanggil oleh gadis perempuan berambut cokelat. Mau tidak mau kamu tersenyum.

"Abby, jangan cepat-cepat." Balasan yang kamu dapat adalah tawa dan kalimat "Dasar orang tua! Ayo cepat!" diiringi tawa bahagia.

Abigail Hobbs, satu-satunya korban Chesapeake Ripper yang selamat. Ketika kamu mengetahui identitas asli Chesapeake Ripper, kamu tidak percaya kalau Garrett Jacob Hobbs akan setega itu, menjadikan putrinya sendiri sebagai tameng. Tapi itulah yang terjadi, Abigail nyaris tewas karena ayahnya menggorok lehernya.

"Aku masih tidak mengerti kenapa kamu semakin menjauh dari Alana, Will." Abigail berkata setelah dia melepaskan topi bundarnya.

Kamu belum melepaskan kacamata hitammu, padahal ini di dalam ruangan. Pasti akan banyak orang yang mengira kalau kamu mabuk. "Padahal Alana sangat baik."

Kamu menghela napas. Seharusnya hubunganmu dengan Alana tidak pernah mencapai tahap serius. Tetapi disaat kamu sendirian, menemani Abigail di rumah sakit saat dia masih koma, menemaninya pergi ke psikiater untuk membicarakan kebengisan ayahnya, hingga menemanimu saat malam telah tiba. Hubunganmu dengan Alana berubah. Dia tidak lagi datang hanya untuk mencari kehangatan, dan kamu tidak lagi membiarkan dia naik ke ranjangmu demi teman tidur. Bahkan setelah Abigail masuk ke dalam hidupmu, kamu dan Alana tidak pernah berhubungan intim lagi.

Dan itu membuatmu ketakutan.

Hubungan yang tadinya tidak ada kesepakatan untuk terikat, tiba-tiba mengikatmu dengan perlahan. Membuatmu sulit bernapas dan keringat dingin. Tidak, Alana tidak pernah memaksamu untuk meresmikan hubungan kalian. Tapi dia hanya ingin tahu masa lalumu. Kamu tidak pernah membicarakan masa lalumu dengan siapapun. Terlebih lagi ini Alana. Orang yang tanpa dia sadari, selalu ingin memperbaiki dan menolong orang.

Lucunya, kamu tidak ingin diperbaiki atau ditolong. Kamu sudah berdamai dengan masa lalumu yang kelam, kamu sudah berdamai dengan dirimu yang sekarang. Tidak ada yang salah darimu, kamu merasa bahagia.

Kamu bahagia.

Jadi untuk apa kamu ditolong, apalagi diperbaiki? Iya kan?

Lamunanmu tentang Alana buyar ketika kamu merasakan Abigail menendang kakimu, kemudian dia menyuruhmu untuk melepaskan kaca mata hitam karena tidak sopan memakainya di dalam ruangan. Kamu menghela napas, terkadang kamu bingung, siapa yang orang tua siapa yang anak remaja. Abigail memang lebih dewasa dari remaja seusianya. Wajar saja, dengan apa yang sudah dia alami.

"Maaf, aku tidak akan bertanya soal Alana lagi." Nampaknya Abigail tahu apa yang membuatmu melamun. "Aku hanya–"

"Ingin melihatku bahagia, ya aku tahu itu." Kamu menyelesaikan kalimat Abigail. 'Aku hanya ingin kamu bahagia.' Itu adalah kalimat sakti antara kamu dan Abigail. Sebetulnya ide jalan-jalan ke Eropa ini juga sebagai salah satu cara untuk menemukan kebahagian. Dengan jauh dari segalanya, kamu harap Abigail bisa bahagia lagi. Dan mungkin, kamu juga bisa menemukan kebahagianmu sendiri.

Bicara soal hubungan, kamu mengamati wajah Abigail yang terlihat bahagia saat mengamati orang lalu-lalang dari jendela cafe. Kamu kembali memikirkan kalimat Alana untuk mengadopsi Abigail secara legal. Mungkin setelah kembali dari Florence, kamu akan mengutarakan niatmu kepada Abgial. Semoga dia mau menjadi anakmu. Kalau tidak, yah, hubungan yang kalian miliki sekarang sudah lebih dari cukup untukmu. Alasan kenapa kamu ingin mengadopsi Abigail hanya sekedar formalitas. Supaya namamu bisa ditulis Abigail sebagai kontak daruratnya, agar kamu yang langsung dipanggil gurunya jika Abigail berbuat onar di sekolah.

Abigail membaca menu dengan suara keras, ingin memamerkan kepadamu hasil jerih payahnya belajar selama tiga bulan. Abigail cepat belajar, buktinya hanya dalam tiga bulan, dia sudah pasif berbahasa Italia. Terkadang kamu tahu kalau Abigail suka menggunakan kata sumpah serapah dalam bahasa Italia supaya kamu tidak mengerti. Kamu mengerti, tentunya (terima kasih berkat pekerjaanmu di FBI). Hanya saja kamu pura-pura tidak paham apa yang diucapkan oleh Abigail.

"Ah, ah, cara membacanya yang benar adalah..."

Kamu akhirnya melepaskan kacamata hitammu saat mendengar seorang pria mengkritik Abigail. Dan saat itu kamu melihat sosok seorang pria berambut cokelat dengan pakaian rapi dan mata merah tengah mengajarkan Abigail bagaimana mengucapkan nama sebuah makanan yang harganya sangat mahal.

"Anda tahu banyak tentang makanan." Itu yang pertama kali terlintas dibenakmu.

Pria itu menatapmu sambil memberikan senyuman. "Saya adalah pemilik restoran ini. Jadi mohon maaf jika saya terdengar kasar, tetapi saya tidak tahan jika ada orang yang salah melafalkan menu yang telah saya buat susah payah."

Mata Abigail membesar. "Oh, tidak, tidak, Anda tidak kasar. Seharusnya saya yang minta maaf, Tuan..."

"Hannibal. Hannibal Lecter." Pria itu tersenyum lebar.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kamu mengetahui mengenai kematian Bella dari suara Jack yang masuk ke mesin penjawab telepon, kamu terlalu lelah untuk bergerak dan menangkat telepon itu. Suara Jack terdengar biasa saja, atau Jack berusaha biasa saja, saat mengatakan kalau Bella telah meninggal semalam. Kemudian dia mengatakan, kalau kamu sempat, kamu boleh datang ke pemakamannya.

Kamu tidak tahu harus melakukan apa.

Tapi pada akhirnya kamu berdiri di dalam gereja yang sepi, hanya terlihat beberapa orang. Kamu melihat Brian dan Jimmy. Kamu berusaha untuk menghindari mereka, tetapi tidak berhasil.

Kamu nyaris memukul JImmy saat dia berkata. "Setidaknya ada orang yang datang ke sini, tidak seperti pemakaman Abigail."

Abigail belum mati. Dia masih hidup, dia selamat. Hannibal tidak membunuhnya. Hannibal tidak membunuh kalian berdua.

Itu sebabnya kamu pergi ke rumah Hannibal, sebab kamu tahu kalau Abigail ada di sana. Tetapi kamu malah bertemu dengan Alana. Alana yang tidak pernah mau meninggalkanmu, seolah dia hanya ingin mencari teman senasib.

Akhirnya Alana pergi setelah kamu membentaknya. Kamu menghela napas, memejamkan untuk beberapa detik sebelum membukanya lagi. Dan saat itulah, kamu melihat Abigail. Dia tersenyum, tetapi senyumnya sedih. Tidak seperti senyum yang biasa kamu lihat di bawah langit Florence.

Samar-samar, kamu mendengar Abigail berkata.

"Kapan kamu akan melepaskanku, Will?"


Brian dan Jimmy memang tidak muncul saat pemakaman Bella, which is weird. Atau nanti akan ada penjelasan kenapa mereka tidak muncul? Saia baru nonton sampai episode 7, and that's really a "piiip" episode!