Disclaimer in chapter one
Relationship is confusing
.
.
.
.
.
Kamu tersenyum saat melihat Abigail bermain dengan anak Alana-Margot yang baru lahir beberapa hari silam. Mereka belum menemukan nama untuk anak laki-laki mereka. "Yang pasti tidak akan aku beri nama dengan awalan M." kata Alana serius.
Ketika Margot tengah menimang anaknya, Abigail memperhatikan ibu-anak itu dengan wajah bahagia, Alana menoleh ke arahmu. Tatapan kalian bertemu, dan kamu tidak perlu mendengar pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Alana untuk tahu apa yang dia pikirkan saat ini. "Aku pikir sudah waktunya Abigail memiliki adik."
Kamu menghela napas. "Aku dan Hannibal, kami..." Kamu menelan ludah. "kami tidak..."
"Atau mungkin sudah waktunya bagi kalian untuk memberikan nama bagi hubungan kalian." Alana menatap ke arah dapur, tempat di mana Hannibal sedang berada sekarang. Dia melarang kalian semua untuk masuk ke dapur. Nampaknya dia sedang kesal, dan salah satu cara untuk melampiaskan kekesalannya adalah dengan memasak.
"Tapi aku rasa hubungan kalian semua sangat lucu." celetuk Abigail tiba-tiba. Tiga pasang mata langsung melihat ke arah remaja yang sedang menggenggam boneka rusa yang kamu belikan sebagai kado bagi bayi Verger tersebut. Sadar kalau dia baru saja berbicara keras, Abigail memasang wajah agak bersalah. "Uhhh, kalian mendengar apa yang aku ucapkan barusan, huh?"
Kalian bertiga mengangguk. Abigail terkekeh sebelum berkata. "Alana pernah berhubungan dengan Will dan Hannibal, tetapi sekarang dia memiliki anak dengan Margot. Sementara Margot pernah menjadi pasien Hannibal dan kalau aku tidak salah ingat, dia juga pernah berhubungan dengan Will. (Kamu merasakan tatapan menusuk dari Margot, benar saja, saat kamu menatapnya Margot sedang menatapmu dengan tatapan yang seolah-olah berkata 'kenapa-kau-menceritakan-hubungan-kita?'). Hannibal sering mengajak Alana ke acara-acara kolega mereka. Kamu dan Alana pernah berpacaran tetapi tidak berhasil. Dan sekarang, Alana bersama Margot. Sedangkan kamu bersama Hannibal."
Alana dan Margot melempar tatapan yang tidak kamu pahami, tetapi kamu yakin kalau tatapan itu ada hubungannya dengan kalimat Abigail barusan. Yang dengan mudahnya mengatakan kalau dirimu bersama Hannibal sekarang.
"Abigail, aku dan Hannibal..."
Sebetulnya kamu memang tidak mengerti apa hubunganmu dengan Hannibal. Yang pada awalnya Hannibal hanyalah psikiater Abigail (setelah kehilangan keluarganya dalam sebuah kecelakaan, rasanya tidak salah jika kamu meminta bantuan kepada psikiater), entah sejak kapan mulai masuk ke dalam kehidupanmu dan Abigail. Menjadi lebih dari sekedar psikiater. Abigail adalah anak kakakmu, Garret (dia benci dipanggil Jacob). Sebetulnya Garret bukan kakak kandungmu, tetapi kalian pernah satu panti asuhan. Meski kalian telah diadopsi oleh keluarga berbeda, kalian masih sering berhubungan. Bahkan kamu diminta untuk mendampingi Garret ketika dia menikah.
"Will, aku tidak meminta kau dan Hannibal untuk menikah atau mengadopsi anak." Abigail menatap bayi mungil yang sekarang tengah tertidur di dalam pelukan Alana, sementara Margot merangkul Alana. "Aku hanya ingin kalian mempertegas hubungan kalian berdua. Aku rasa hampir semua orang yang melihat atau kenal dengan kalian mengira kalau kalian adalah pasangan."
"Abigail..." kamu memberi peringatan kepada Abigail agar tidak melanjutkan kalimatnya.
Belum sempat Abigail membalas, Hannibal masuk ke ruang keluarga. "Makan malam sudah siap."
Kamu langsung menatap Abigail, berharap dia mengerti tatapan yang kamu berikan saat ini adalah tatapan memohon supaya dia tidak mengungkit-ungkit soal hubungan di hadapan Hannibal. Abigail mengangguk sebelum tersenyum sedih.
Ya, bukan hanya dia saja yang sedih.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Dari semua hal gila yang pernah kamu lakukan, rasanya ini adalah hal tergila. Kamu memutuskan untuk menyusul Hannibal ke Eropa, menggunakan kapalmu sendiri. Sebab kamu ingin menghindari pemeriksaan polisi, kamu ingin menghindari tatapan orang yang mencurigaimu. Untunglah Jack mengatakan kalau semua sudah baik-baik saja. Namamu sudah bersih. Sehingga kamu kembali lagi, menaruh kapalmu di dermaga dan pergi ke Eropa menggunakan pesawat terbang.
Jack tentunya bertanya kenapa kamu langsung membeli tiket ke Italia, kenapa kamu menjadikan Florence sebagai tujuan awalmu.
Kamu menatap Jack tidak percaya, seolah-olah orang yang ada di hadapanmu sekarang bukanlah Jack Crawford yang telah melalui berbagai hal dan rintangan bersama. Bukan Jack yang sama-sama menghadapi Iblis di malam yang gelap dan hujan kala itu.
Kamu tidak menjawab, tentu saja. Kamu hanya pergi setelah selama lima menit penuh hanya menatap Jack dalam diam.
Napasmu tertahan saat melihat rumah Hannibal, rumah masa kecil Hannibal. Atau lebih tepat disebut sebagai istana, sebab rumah ini sangat besar. Kamu membayangkan bagaimana masa kecil Hannibal, namun kamu berhenti berhalusinasi, sebab kamu melihat sosok seorang anak perempuan. Dengan rambut cokelat dan wajah bahagia tengah berlarian di halaman. Kamu menelan ludah, kenapa kamu tiba-tiba teringat Mischa?
Suara ranting terinjak membuatmu keluar dari lamunanmu, ketika kamu dan Hannibal membicarakan mengenai cangkir yang pecah dan seorang kakak yang tidak berhasil melindungi adiknya.
Saia belum selesai nonton Hannibal, tapi saia jadi terbagi antara ingin melanjutkan sampai selesai atau cukup sampai episode 10 doang. Seneng karena akhirny Mason mati, hahahaha! Jadi sekarang di Hannibal ada Murder Husbands sama Murder Wives, yeah! Penasaran sama nama anakny Alana-Margot
