Disclaimer in chapter one


Monster and God

.

.

.

.

.

Kamu menunggu penjelasan dari Hannibal sambil terus melotot ke arah dua orang yang dibawa Hannibal. Ini baru pertama kalinya Hannibal membawa tamu malam-malam ke rumah kalian. Abigail untungnya belum terbangun dari tidurnya, setelah seharian lelah menemani keluarga Verger-Bloom ke kebun binatang (kamu teringat saat mendengar cerita Abigail tentang reaksi Margot saat mengetahui kalau buaya-buaya di kebun binatang itu diberi makan babi. Tapi paling tidak si kecil bahagia.).

"Bisa tolong jelaskan, siapa mereka?" kamu bertanya sekali lagi. Kali ini dengan nada agak tinggi.

Salah satu tamu Hannibal, seorang pria berambut cokelat–berdiri. Dia terlihat bingung. "Dr. Lecter, jika kehadiranku dan adikku menganggu keluarga Anda–"

"Tentu saja tidak, Dexter." Hannibal memotong kalimat Dexter sebelum pria itu selesai bicara. Mata Hannibal masih tertuju kepadamu. "Will, bisa kita bicara di perpustakaan?"

Kamu menanguk sambil terus mengamati pria bernama Dexter dan perempuan yang dipanggilnya adik itu. Kamu tahu kalau si adik sedang berusaha menahan diri. Dari apa, kamu tidak tahu. Mungkin dia menahan diri untuk tidak mencemoohmu, atau mengomentari hubunganmu dengan Hannibal.

Kamu berjalan di belakang Hannibal, hingga kalian masuk ke dalam perpustakaan. Kamu menyalakan perapian, sedangkan kamu mendengar Hannibal duduk di salah satu sofa. Setelah perapian menyala, kamu menghadap Hannibal.

"Namanya Dexter Morgan, dan adik angkatnya, Debra Morgan." Hannibal menyilangkan kaki. "Mereka berdua adalah polisi dari Miami, Dexter anggota forensik lebih tepatnya."

Keningmu berkerut. Sejak kapan Hannibal bersahabat dengan polisi? Dan kenapa mereka sekarang...

"Mereka sedang kabur dari Miami." Hannibal menjelaskan. "Dexter melakukan sebuah kesalahan saat sedang menghukum penjahat yang berhasil lolos dari kepolisian–"

"Tunggu, menghukum?" kamu tetap memotong penjelasan Hannibal meskipun kamu tahu kalau dia tidak suka ketika ada orang yang menyela dirinya. Kamu baru bangun setelah hampir tiga hari tidak tidur karena kasus pembunuhan yang terjadi beberapa waktu silam, kamu tidak peduli apa-apa lagi selain mendapatkan penjelasan mengenai orang yang telah mengganggu tidurmu.

"Dexter membunuh mereka." Hannibal memperjelas. "Dan Debra melihatnya."

"Sekarang Dexter menculiknya atau...?"

"Mereka belum menjelaskannya, tetapi aku rasa tidak. Debra yang menghubungiku. Dia yang meminta pertolonganku. Jadi aku anggap Debra ikut bersama Dexter karena kemauannya sendiri, bukan karena sebuah paksaan."

"Dan kau bisa kenal dengan Dexter...?"

"Aku sempat tinggal beberapa saat di Miami, ketika aku menjadi dokter." Hannibal menelan ludah. Kalian tidak pernah membicarakan masa lalu Hannibal sebelum dia di Baltimore. "Aku bertemu dengan Dexter, dan mengetahui mengenai segalanya. Padahal waktu itu aku belum menjadi psikiater, tetapi mungkin karena sesama monster, sehingga dia mempercayaiku dengan informasi berharga itu."

Rahangmu mengeras. Hannibal tidak pernah mau mengakui kalau dirinya adalah monster. Dia bukan monster, Hannibal selalu melihat dirinya sebagai Tuhan. Apa yang terjadi dulu, sehingga sang monster bisa berevolusi menjadi Tuhan?

"Plus kami bertukar cara bagaimana memotong orang dengan baik dan efisien." Salah satu sudut bibir Hannibal terangkat.

Mau tidak mau kamu ikut tersenyum. Hubunganmu sudah sampai sejauh ini, kamu tidak percaya memang. Kalau kamu bisa mencapai titik dimana dirimu dan Hannibal bisa membicarakan kejahatannya dengan santai. "Berapa lama mereka akan di sini?"

"Sampai kami menemukan cara terbaik untuk menolong Dexter."

Kamu membuang napas. "Kau sadar kan kalau aku juga anggota kepolisian? Aku punya kewajiban untuk melaporkan."

"Ya," Hannibal berdiri. Dengan perlahan dia berjalan mendekatimu. "tapi bukan berarti kau harus mematuhinya bukan?" bisiknya sebelum mengecup bibirmu.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Kamu masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Kamu bertemu dengan Chiyo, orang dari masa lalu Hannibal. Dia yang menjaga rumah masa kecil Hannibal, mengawasi monster yang ada di sana supaya tidak lepas dan mengejar Hannibal. Atau lebih tepatnya, dia menjaga supaya monster itu tidak mencicipi amarah seorang Hannibal Lecter. Orang itu ternyata orang yang membunuh Mischa Lecter. Orang yang ikut berperan menjadikan Hannibal seperti sekarang.

Mungkin Alana benar, dirimu perlahan-lahan berubah menjadi Hannibal. Sebab kamu membebaskan tawanan itu hanya untuk melihat apa yang akan terjadi. Jika Hannibal ada di sini, kamu yakin dia akan bangga kepadamu.

Chiyo mengatakan kalau dia tahu di mana Hannibal berada. Itulah sebabnya kamu mengajak dia pergi ke Florence. Sebab kamu tidak mau membuang-buang waktu mengelilingi Florence untuk menemukan Hannibal. Dan kamu sangat yakin kalau kamu tidak bisa menghubungi kepolisian setempat. Sebetulnya bisa. Hanya saja kamu ingin pertemuanmu dengan Hannibal tidak ada ikut campur dari pihak lain.

Kamu lupa kalau orang ini tumbuh besar bersama Hannibal. Dia memiliki beberapa keahlian yang juga dimiliki oleh Hannibal, tetapi kamu malah mempercayainya. Sampai-sampai kamu tidak curiga kalau dia akan melemparmu dari kereta yang tengah melau di tengah malam, di tempat antah berantah.

Kamu mengumpat dalam hati sambil melangkah dengan sakit. Dalam hati kamu berharap tidak akan ada serigala atau hewan buas lainnya yang akan memangsamu.


Akhirny Dexter muncul! Dari dulu saia pengen bikin cross-over Hannibal-Dexter. Saia belum nemu judul film/series di mana Mads main jadi dokter. Pas bangetlah, setting itu saia jadiin masa lalu Hannibal dan dy ketemu sama Dexter. Saia ngerasa kalau Dexter betulan ketemu Hannibal pasti seru