Gomen minna-san/chan... Olla lelet banget yah. Olla baru bisa update ini~

•••MILIKKU•••

Pair : ShikaFemNaru

by : Ollanara511

~Enjoy~

'...' dalam hati

Naruto, gadis bersurai pirang yang cantik dengan tiga garis halus di masing-masing pipinya yang memberi kesan manis pada raut wajahnya.

Dengan santai ia menuruni setiap anak tangga di rumahnya. Langkahnya tetap santai menuju ruang keluarga yang sudah tak pantas dengan sebutannya.

"Kenapa lama sayang?" Suara lembut sang bunda menyambut kedatangannya. Tanpa menjawab, ia mengambil duduk di sofa kosong yang ada di diruangan itu.

Namikaze Kushina tetap tersenyum akan perlakuan putri tunggalnya. Sudah terbiasa.

Bola mata saphire berbulu lentik itu menatap malas sekelilingnya. Seperti biasa, kepala keluarga tidak pernah terlihat. Tapi, Nenek,kakek dan sepupunya si rambut merah ada disini.

'Ada apa ini?'

.

.

Di dalam ruangan yang di dominasi warna putih dan aroma obat, terlihat Shikamaru sedang membelai lembut rambut wanita paruh baya yang terbaring lemah di kasur rumah sakit. Sorot mata elang itu terlihat sendu menatap wanita di hadapannya. Kegiatan itu sudah berlangsung sejak sejam yang lalu. Namun, nampak tidak ada niat untuk ia segera beranjak dari tempat duduknya saat ini.

"Ibu, ini sudah seminggu ibu tidur." Suaranya berbisik tepat di samping ibunya. "Kapan ibu bangun?"

Hening-

" Biasanya ibu selalu mengomeliku kalau terlalu banyak tidur,"

Hening-

"Ibu, aku sudah banyak berubah, -aku bukan Shika si pemalas lagi." Bibirnya tersenyum pahit. Fikirannya melayang mengingat kembali memori saat bersama ibunya yang sehat. Ia tertawa pelan, namun terdengar menyedihkan.

"Bahkan aku merindukan ibu yang menjewer telingaku." Shikamaru kembali tertawa. "Cepat bangun ibu," tanpa sadar tetesan liquid bening itu mulai membasahi pipinya. Ia memeluk ibunya erat. Pelukan tanpa balasan. Membuat hatinya kian tersayat. "Jelaskan semua ini padaku...hiks"

.

.

BRAKK*

Pintu dibanting kuat. Naruto segera mengunci pintu mengabaikan teriakan Kaa-sannya yang memintanya untuk mendengarkan semua perkataannya.

'Persetan!'

Biarlah ia dianggab tidak sopan dan durhaka! Ia tidak akan peduli! Toh, mereka tidak ada yang benar-benar mempedulikannya.

Mungkin, orang di luar sana akan berkata bahwa keluarga Namikaze adalah keluarga impian. Selalu 'terlihat' harmonis dan juga kaya raya. Namikaze Minato si pria tampan dan hebat. Jenius dan dermawan. Namikaze Kushina wanita yang ramah dan penuh kasih sayang. Ck, mungkin itu dulu. Yang bahkan Naruto sendiri sudah lupa saat umur berapa.

Yang ia tahu, semua berita di surat kabar atau di media hanyalah bualan semata. Keluarganya bukan keluarga bahagia. Hanya keluarga penuh rekayasa dan permainan sandiwara. Ck. Bahkan ayah dan ibu kandungnya sendiri tidak pernah mengakui kalau mereka memiliki seorang putri. Yah, putri yang tidak diakui.

.

.

Kaki mungil berbalut sepatu snakers berwarna putih itu berhenti tepat di depan pagar besi tinggi berwarna silfer. Sejenak ia memeriksa telepon gengamnya untuk memastikan kalau ia memang tidak salah alamat.

Seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian satpam berjalan mendekat ke arahnya.

"Ada perlu apa nona?" Tanyanya sopan.

"Saya Uzumaki Naruto pak," ucapnya membungkuk hormat. "saya ingin menjenguk Juugo."

"Ooh, anda pasti temannya tuan muda. Ayo masuk."

Ia kembali melangkah saat pagar besar itu terbuka.

"Terimakasih pak." Ucapnya sopan, satpam itu hanya tersenyum sedikit mengangguk.

Sambil berjalan, mata saphire yang bersembunyi di balik kaca mata besar itu memperhatikan sekitar. Halaman luas rumah itu, nampak di tumbuhi banyak bunga yang indah. Terlihat terawat dengan baik. Pandangannya berhenti pada pohon sakura yang besar. Langkahnya ikut terhenti, mencoba memfokuskan pandangannya pada pohon sakura yang terlihat berbeda dengan pohon-pohon lain disekitarnya.

'Haruno?'' gumamnya.

•••MILIKKU•••

Tepat saat ia tiba di ruang tengah, pemuda berambut abu-abu muda yang tadinya sedang bersantai dengan sebuah buku di pangkuannya segera berdiri.

"Wah, sudah sampai rupanya. Mari ikut saya." Pria itu tersenyum 'ramah'. Naruto berusaha menahan decakan kesal melihat tingkah pria dihadapannya yang jelas-jelas tidak suka atas keberadaannya. Namun ia tetap mengikuti pria itu dari belakang. Setelah sebelumnya membungkuk terimakasih pada seorang maid yang mengantarnya.

"Kau tidak akan mencelakai ku kan, Houzuki-san?" Suara Naruto memecah keheningan di antara mereka, dengan nada takut yang ketara. Pria yang dimaksud tidak menjawab bahkan menoleh sama sekali. la tetap berjalan mengacuhkan gadis yang mengikutinya. Hal itu justru membuat Naruto semakin was-was.

Takut-takut, gadis itu tetap mengikuti. Detak jantungnya kian berlomba saat Houzuki Suigetsu berhenti tepat di depan sebuah ng-kamar?

'Aku mulai menyesali perbuatanku...' Batinnya kalut.

"Kau mau masuk, atau berdiri disana?" Suara baritone Suigetsu mengagetkannya. Naruto mengangguk kikuk kemudian masuk menyusul Suigetsu.

"Ada urusan apa kau bawa dia kesini?" Naruto berbalik saat sebuah suara berat menyapa pendengarannya. Matanya membulat sempurna saat melihat Juugo sekarang berada di hadapannya.

"Dia sehat!" Jari lentiknya menunjuk Juugo tepat di wajahnya. "Kau berbohong!" Raungnya menunjuk Suigetsu.

Juugo menepis tangan Naruto, kemudian masuk melewati Naruto yang terlihat marah. "Apa yang kau katakan padanya?" Juugo duduk di sofa, di samping Suigetsu yang tengah asik dengan telepon selulernya.

"Aku bilang kau sakit karna ulah pacarnya." Jawabnya acuh. Juugo mendengus sebelum mengalihkan pandangannya pada Naruto yang masih berdiri di mulut pintu dan masih terlihat sangat marah. "Pengadu." Gumamnya namun terdengar jelas oleh Suigetsu. Ia hanya mengangkat bahu.

"Duduklah dulu Naruto." Juugo menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. Naruto sedikit bingung dengan perlakuan Jugoo. Terlihat bersahabat.

'Diakan membenciku.'

"Jangan berfikir hal yang aneh. Kami tidak akan melukaimu." Suara Juugo menyadarkannya. Ragu-ragu Naruto duduk di sofa lain yang sedikit jauh dari mereka. Jugoo yang melihat tingkah Naruto hanya menghela napas pelan. Ia menjitak kepala abu-abu Suigetsu sebelum beranjak menuju bar kecil di kamarnya. Suigetsu hanya bisa meringis dan memaki Jugoo yang bertingkah seenaknya.

"Mau minum apa Naruto?" Tanya Juugo dari balik bar. Sedangkan orang yang di maksud hanya diam menatap dingin ke arahnya.

"Sekarang kamu tamu disini, jadi aku berusaha bersikap sopan. "Juugo berjalan mendekat dengan nampan berisi tiga gelas capochino di tangannya.

Hening

"Sudahlah Juugo, perempuan seperti dia itu tidak tau sopan santun." sindir Suigetsu. Naruto memicingkan mata menatap Suigetsu dalam diam. "Bahkan dalam hal menatap." Sambungnya cuek.

Juugo menyeruput capochinonya sebentar kemudian menaruhnya kembali di atas meja.

"Sui benar," Naruto menatap Juugo bingung. 'Benar di bagian mana?'

"Aku memang sakit." Jeda. "Tapi bukan karena kekasihmu."

"Ck, kalau bukan dia yang menendang dadamu. Siapa lagi?!" Raung Suigetsu. "Dia penyebab kau sakit!" Putusnya.

Naruto masih diam, berusaha menahan luapan emosi dalam dirinya. Tangannya terkepal erat dan mata cantik di balik kacamata itu menatap nyalang Suigetsu. Ia merasa sedang di permainkan.

"Ini bukan kesalahannya."

"Terserah kau saja! Menyesal aku membantumu!" Seru Suigetsu, segera beranjak meninggalkan kamar temannya. Menghela nafas lelah, Juugo kembali menatap gadis yang sedari tadi hanya diam.

"Naruto, kau tahu," Juugo menjeda sebentar. "Aku bahkan tidak marah sama sekali pada kekasihmu." Naruto menaikkan alis bingung.

"Dia memang tidak salah apa-apa." Sahutnya datar. Juugo terkekeh pelan sebelum menjawab.

"Tiga hari yang lalu, di kediaman pamanku kami tidak sengaja bertemu. Saat kami pulang, ternyata dia menunggu kami di persimpangan." Juugo kembali terkekeh. "Cinta memang bisa membuat orang gila yah,"

Naruto terdiam. Mencerna cerita pria di hadapannya. Mencoba mengingat kemana saja kekasihnya pergi tiga hari yang lalu.

'oh kediaman profesor Mizuki!'

"Aku minta maaf." Akhirnya Naruto yang sedari tadi diam buka suara. Juugo tersenyum tipis melihatnya. "Kau sendiri taukan Naruto, siapa aku ini." Juugo menyerigai. "Dengan mudah aku bisa menghancurkan Shikamaru.."

Naruto terdiam sejenak, kemudian menatap pria dihadapannya. "Aku, atas nama Shikamaru meminta maaf." Suaranya memohon. Juugo terkekeh kecil. "Seharusnya dia yang meminta maaf." ujarnya. "Dia tidak akan mau melakukannya" Juugo terdiam, memasang pose berfikir. Naruto diam menunggu jawaban.

"Mungkin dengan mengeluarkan dia dari sekolah, dia akan datang meminta maaf langsung padaku." Juugo menyerigai.

"Kau tidak akan bisa melakukannya."

"Kenapa tidak?"

Naruto mendengus, kemudian menyerigai. "Dia siswa berprestasi, kedudukannya sangat penting di sekolah."

"well, kamu benar." Juugo kembali berfikir. "Mungkin dengan menghajarnya sampai mampus dia akan keluar dengan sendirinya." Juugo terkeekeh. "Bahkan kau sampai tidak masuk sekolah dua hari setelah dihajarnya." Naruto menjawab cepat. Juugo mendecih tak suka atas perkataan Naruto (walau memang benar kenyataannya).

"Aku kalah karna dia datang saat sakitku kambuh!" raungnya tidak terima.

"Hm?"

"Dia hanya sedang beruntung!" Desisnya. Mereka sama-sama terdiam terhanyut dalam fikiran masing-masing.

"Jadi, kau sakit?" Naruto bertanya pelan. Juugo menghela nafas lelah sebelum menjawab. "Sudahlah, itu tidak penting." Ia mulai beranjak menuju kasur king sizenya. "Pulanglah, aku ingin istirahat."

Naruto beranjak dari duduknya. "Aku akan pulang. Tapi, aku harap kau tidak akan mengganggu hidup Shikamaru."

Juugo melambaikan tangan kanannya ke depan. "Aku sama sekali tidak mempermasahkan kejadian itu. Toh, aku mengerti kenapa dia menghajar kami ." Ia mulai berbaring untuk tidur. "Dia pasti marah karna aku menjahilimu. Aku juga akan melakukan hal yang sama bila menyangkut seorang yang ku suka." jelasnya.

Naruto mengangguk paham, kemudian tersenyum kecil. "Trimakasih, aku pulang." Saat di ambang pintu, Naruto berbalik melihat Juugo yang berbaring. "Aku tidak tahu apa hubungan kalian. Tapi tadi saat kesini, aku melihat Haruno Sakura di taman depan." Ucapnya sebelum menutup pintu perlahan.

Selepas Naruto pergi, Juugo kembali duduk bersandar kepala ranjang. Memandang ke arah jendela yang menperlihatkan taman kecil di halaman luar.

"Khawatir padaku sayang?" Ucapnya menyerigai.

.

.

Langkah kaki mungil gadis berambut pirang yang di ikat twintails masih terlihat begitu santai di jalanan trotoar. Mengabaikan rasa gerah dan panas karena berjalan di bawah sinar matahari yang sangat terik. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu siang, dan ia belum makan.

Ingin rasanya berkunjung ke kedai ramen langganannya. Tapi cacing di perutnya sudah berdemo minta makan. Terang saja, dari tadi pagi sejak ia memilih pergi meninggalkan kaa-sannya yang masih berbincang dengan kakek dan neneknya, ia berjalan kaki menyusuri kota. Tentu itu cukup menguras tenaganya.

Kakinya melangkah pada sebuah mall besar di pinggir jalan. Setelah masuk, udara sejuk AC menyapa kedatangannya. Kakinya kembali melangkah lebar, mencari tempat makan. Benar saja, sedikit berbelok ke kiri, ia sudah bisa melihat restoran cepat saji yang terlihat ramai.

'ugh, antriannya panjang sekali.' Naruto mengeluh.

Berbalik arah, ia berjalan menaiki eskalator menuju lantai dua. Saat mencari tempat makan, tak sengaja ia melihat play zone. Bibirnya tersenyum lebar. Wajahnya terlihat berbinar saat menemukan permainan itu.

Melupakan sejenak masalah perut, Naruto melangkah mencoba play zone yang sangat digemarinya. Senyumnya tak kunjung hilang saat memilih-milih lagu di daftar lisc dance-dance revolution.

Dapat!

Kali ini ia memilih lagu "Fire dari 2NE1". Menari adalah hobynya. Dan saat menari juga ia bisa melampiaskan emosinya. Badan mungil langsing Naruto meliuk lincah mengikuti dentuman musik. Semakin cepat ritmenya, semakin bersemangat pula ia menari. Rambutnya ikut berkibar disetiap gerakannya. Sesekali matanya terpejam, terlihat sangat menikmati kegiatanya.

Sadar atau tidak, kini Naruto berhasil menjadi objek perhatian. Orang-orang yang sedang berlalu-lalang berhenti untuk melihat aksinya. Dandanan nerd yang dikenakan Naruto pun kini terkesan keren menghasilkan decak kagum beberapa pengunjung mall.

Musik berhenti, di sambung gemuruh tepuk tangan orang-orang. Naruto berbalik, wajahnya tampak berkeringat. Pipinya bersemu merah saat sadar kalau sudah menarik perhatian. Naruto hanya tersenyum canggung sambil membungkuk berkali-kali bergumam "maaf dan terimakasih" dan langsung kabur untuk ketujuan awalnya.

Makan

Hanya jarak beberapa meter dari tempat Naruto menari. Tampak segerombol pria tampan sedang duduk bersantai.

"Wah, ternyata gadis nerd di sekolah kita bisa dance sekeren itu!" Seru pria berambut coklat panjang antusias.

"Kau benar Neji. Dia bisa ikut clup chrees di sekolah kalau begitu." Decak kagum pria berambut jabrik warna merah. Sedangkan pria yang di maksud mengangguk tak kalah antusias.

"Kau setuju kan Suke?" Neji menepuk punggung pria berambut raven di sebelahnya.

"Hn." Sahut pendek pria si rambut raven. Sementara teman-temannya asik mengobrol tentang gadis nerd yang terlihat keren. Pria berambut raven a.k.a Uchiha Sasuke menatap punggung gadis yang dimaksud dengan tatapan datar yang sulit di artikan.

.

.

Hari sudah sore, Naruto melangkah santai menikmati semilir angin sore di sekitar taman. Ah, nikmatnya hari libur ini ia gunakan untuk berkeliling melakukan apapun yang ia suka. Meski hanya sendirian. Kenyataan yang menyakitkkan. Ah, ini resiko punya pacar seorang profesor.

Langkahnya berhenti saat tiba di persimpangan. Mata cantik berkaca mata itu mengerling ke kanan dan kekiri. Ia merasa sedang di awasi. Siapapun itu, ia tidak berhasil menemukannya.

'Mungkin hanya perasaanku saja.'

.

Saat memasuki kompleks apartemant yang di tinggali Shikamaru. Tak sengaja Naruto yang baru berbelok melihat Shikamaru dari kejauhan masuk ke gedung apartemant.

'Ah, dia baru pulang.' Langkahnya melebar sedikit berlari menyusul sang kekasih.

Tiba di apartemant, Naruto masuk mengucap salam. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Rumah ini terlihat sangat sepi. Melangkah masuk, Naruto menuju kamar.

Benar saja! Shikamaru sudah tertidur pulas di kasur king size tanpa melepas sepatu dan tas rancel yang di taruh sembarangan.

Naruto mendekat, melihat posisi tidur Shikamaru yang berbaring dengan satu tangan di tumpu ke dahi. Tidak sengaja Naruto melihat jam weker di nakas dekat. Matanya membulat lucu saat melihat Shikamaru mengunci alarm pukul 5 sore, yang berarti lima belas menit dari sekarang.

"ck, padahal kau terlihat sangat kelelahan " gumamnya. Dengan lihai ia mengganti kunci alarm. Matanya tak sengaja melihat ponsel Shikamaru yang di taroh di dalam saku. Ntah sifat jahil dari mana, Naruto mengambil ponsel dan mulai membukanya.

Dahinya mengernyit saat melihat walpaper ponsel. Foto dari bahu ke kepala gadis pirang yang tertidur.

Naruto mencoba mengamati dan mengingat kapan foto ini di ambil. Tapi ia tidak pernah mengingat kapan ia berpose seperti ini. Seketika, wajahnya memerah sempurna.

Foto itu...

'Foto saat ia melakujan sex yang pertamakali dengan Shikamaru...'

"Dasar rusa mesum." Desisnya geram.

.

.

TBC

Maaf, Olla lupa. Sepertinyaa olla dah bales beberapa riview. Tapi bagi yang belum, maaf ya. Olla lupa siapa aja yg dah di balas ama yg belum.

maaf juga, udah lama... pendek pula!

ah, ini aja butuh perjuangan.

akhir kata... Olla berterimakasih bagi yg mampir ke fict gaje ini. Double thanks buat yg riview, fav and fol.

sekali lagi maaf lama.

Riview?