"Semuanya, mulai sekarang Sakura akan menjadi bagian dari kita dan kalian harus bersikap baik padanya!" Kakashi mengeraskan suaranya sehingga semua orang yang berada diruangan itu dapat mendengarnya.

"Tu-tunggu dulu!" teriak Sakura.

"Kau tidak mengatakan kepadaku bahwa aku harus bekerja bersama meraka." Tangan kecil Sakura menunjuk bergantian wajah laki-laki yang berdiri didepannya "orang-orang yang paling ingin kuhindari" lanjut Sakura dalam hati.

"Eh, benarkah?" Kakashi memasang wajah bingungnya, bersikap seolah-olah tidak paham dengan apa yang dikatakan Sakura. "Kupikir memberitaukan nama rekan kerjamu bukanlah hal yang penting." lanjut Kakashi.

"Tapi Sensei—"

"Aku tidak setuju Pinky itu bekerja disini!" tolak Kiba sambil menunjuk wajah Sakura.

Jleb

Perkataan Kiba dengan sukses menusuk hati Sakura sehingga membuat Sakura semakin menundukan kepalanya.

"Kau bisa merusak citra cafemu sendiri Sensei." tambah Neji.

Jleb

"Hoaaa, Wanita itu merepotkan saja"

Jleb

"Aku tidak suka orang jelek"

Jleb

"Aku tidak masalah, kok" perkataan Naruto sukses mendapat deathglare gratis dari Kiba, Neji dan Sasuke. Sai? Dia hanya tersenyum.

"Aku dan yang lainnya sudah memutuskan untuk mencari pelayan wanita..." perkataan Kakashi membuat semua orang yang ada diruangan itu mengerutkan alisnya (kecuali Gaara yang gak punya alis XD #dibantai). "Aku bosan, terus-menerus melihat laki-laki berkeliaran disekitarku" tambah Kakashi sambil menghelakan nafasnya, malang benar nasibmu Kakashi.

"Cih, terserah kau saja Sensei" ujar Kiba kesal.

"Tunggu dulu Sensei!" perkataan Sakura menarik perhatian semua orang. "Aku kan masih belum memutuskan untuk bekerja disini Sensei." lanjut Sakura dan mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kumpulan laki-laki berbahaya itu.

Prang

"Eh?"

Tanpa sengaja tangan Sekura menyenggol sebuah vas yang terlihat mahal yang berdiri tepat disebelah pintu masuk Sakura tadi.

"Sepertinya sudah diputuskan, mulai sekarang kau akan bekerja disini dan gajimu akan dipotong untuk mengganti vas antik yang kau pecahkan tadi, Sakura." ujar Kakashi sambil tersenyum penuh arti kearah Sakura.

"Yang benar saja? Tidaaakkkkkkkkk!" teriak Sakura dalam hati. Sepertinya setelah ini kehidupan Sakura akan sangat menyebalkan.


Clover's Cafe

Naruto © Masashi Kisimoto

Ranted: T

Gender: Drama, Romance, Humor(?)

Story © Kimeka ReiKyu

Warrnig: Au, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

[Sakura-Centric]

Don't Like, Don't Read!


Suasana ruangan yang terdiri dari 10 orang manusia, 9 laki-laki dan 1 perempuan itu kini hening, tak ada yang berbicara, sibuk dengan urusan masing-masing.

Sakura masih sibuk mencerna perkataan Sensei-nya, dia akan bekerja menjadi pelayan dan harus mengganti vas yang di pecahkannya. Oh, Kami-sama apa sebenarnya rencanamu? Kenapa hidup Sakura begitu sial hari ini. Pagi-pagi mendapat surat pemberitahuan pencabutan beasiswa, siangnya di tabrak orang yang ternyata Sensei-nya, bertemu dengan laki-laki yang seharusnya jangan sampai berurusan dengan mereka dan sekarang tanpa sengaja memecahkan vas mahal yang harus diganti dengan gaji yang bahkan belum di terimanya. Apakah akan lebih buruk dari ini?

"Sakura" suara Kakashi memecahkan keheningan dan membuat gadis berambut merah muda berantakan mengalihkan pandangannya ke Kakashi. "Kemari!" perintahnya.

Sakura yang tidak mengerti hanya mengikuti perintah Kakashi. Perlahan dibaliknya badannya dan mulai melangkah mendekati Kakashi.

Sret

Kedua tangan Kakashi memegang bahu Sakura, perlahan tangannya turun kebawah dan berhenti di pinggang Sakura dan perlahan mulai naik keatas punggung Sakura.

"Hah!" semua orang yang melihat hanya bisa membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang sedang dilakukan oleh Sensei mereka.

Wajah Sakura memerah merasakan rabaan tangan Kakashi di tubuhnya.

"A-apa yang ka-kau lakukan Sensei?" suara gagap Naruto membawa kesadaran semua orang kembali kepada pemiliknya.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya, perlahan tangannya yang berada dipunggung Sakura ditarik kembali dan di masukan ke saku celananya.

"Sepertinya pas." Ujar Kakashi dan mulai menarik tangan Sakura menuju pintu coklat yang ada didekatnya, sedangkan Sakura yang masih tidak percaya hanya bisa mengikuti langkah kaki Kakashi di depannya.

Blam

Suara pintu yang ditutup membuat semua laki-laki yang masih ada diruangan itu saling bertatap-tatapan dengan tanda tanya besar dikepala mereka.

"Sen-sensei?" tanya Sakura tidak mengerti saat sudah berada didalam ruangan itu.

Kakashi hanya diam dan mulai membuka satu-satunya lemari yang ada disana. "Lepas pakaianmu sekarang Sakura!" perkataan Kakashi membuat Sakura memundurkan kakinya kebelakang dengan tangan yang bersilangan di depan dada.

"A-apa maksudmu Sensei!?"

"Maaf Sakura" Kakashi mendekati Sakura perlahan dan membuat Sakura semakin memundurkan tubuhnya. "Coba ganti pakaianmu dengan ini!" lanjut Kakashi sambil memberikan pakaian yang tadi diambilnya dari lemari kepada Sakura.

"..."

Raut kebingungan tergambar jelas diwajah Sakura.

"Aku ingin kau mengganti pakaianmu dengan seragam pelayan yang sudah aku siapkan itu" Kakashi menunjuk pakaian yang ada ditangan Sakura. "Seharusnya ukurannya pas dengan tubuhmu kalau perhitunganku tidak salah." lanjut Kakashi dan mulai melangkah pergi meninggalkan Sakura.

Sakura yang masih bingung hanya memandangi pintu tempat Kakashi keluar "Seragam?" perlahan pakaian yang ada ditangannya di angkat tinggi.

Seragam pelayan yang sangat manis berwarna merah tanpa lengan, dibawahnya ada renda-renda putih menghiasi rok seragam pelayan membuat roknya mengembang dan tidak lupa celemek putih dengan renda-renda diujungnya.

"Sensei apa yang kau lakukan!?" tanya Naruto penasaran saat melihat Kakashi keluar dari ruangan berpintu coklat.

"Kau melakukan tidakan pelecehan pada muridmu, Sensei!" tambah Neji.

"Dasar Sensei mesum!" ujar Kiba sambil memicingkan matanya.

"Pervert" tambah Sai.

"Merepotkan." ujar Shikamaru sambil meregangkan otot-ototnya.

"Tu-tunggu dulu!" Kakashi mencoba menenangkan murid-murid yang mulai salah paham. "aku hanya memastikan ukuran tubuh Sakura, apakah cocok dengan seragam pelayan yang sudah disiapkan." bela Kakashi.

"Dasar mesum!" ujar Kiba dan Naruto bersamaan.

"A-ano..." Suara kecil seorang gadis yang mengintip dari balik pintu mengagetkan orang-orang yang sedang bersitegang itu.

"Sudah selesai Sakura. Cepat juga." Kakashi tersenyum melihat Sakura yang mulai keluar dari balik pintu.

"..."

Hening sesaat, saat melihat penampilan Sakura. Seragam pelayan sudah dipakainya, tapi hanya seragam saja karena rambut, sepatu dan bahkan kacamata besar Sakura masih terpasang rapi ditempatnya.

"Bwhahahahahaha!" suara tawa Kiba dan Naruto meledak dengan kerasnya.

Sedangkan sisanya hanya bisa menahan tawa kecuali Sasuke, Neji dan Gaara yang hanya memasang tampang datar, sedatar tembok.

"Kenapa kau tidak mengganti sepatumu, Sakura?" pertanyaan Yamato menghentikan gelak tawa Naruto dan Kiba.

"Em~ Kakashi-sensei hanya memberikan seragam ini padaku." jawab Sakura polos.

Lagi, tawa Naruto dan Kiba kembali meledak membuat Yamato hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Ada keributan apa ini?" dari arah pintu terlihat seorang wanita berambut coklat kemerahan berjalan menuju ke arah Kakashi.

"Rin-nee!" teriak Naruto saat melihat wanita itu.

"Hai, sudah lama tidak bertemu semuanya!" sapa wanita bernama Rin itu ramah.

"Rin, kebetulan sekali" Kakashi terlihat lega akan kehadiran Rin ditengah-tengah keributan ini. "Bisa tolong lakukan sesuatu pada Sakura?" tanyanya sambil menunjuk Sakura yang masih berdiri didepan pintu.

"Hm~ Sakura?!" Rin yang terlihat bingung tidak mengerti dengan maksud Kakashi.

"Sakura, pelayan baru. Aku memilihnya sesuai dengan rencana kita." jelas Kakashi.

Rin hanya membulatkan mulutnya membentuk "O" dan mulai memperhatikan penampilan Sakura dari atas sampai bawah.

"Pilihan yang tepat." ujar Rin sambil mengacungkan jempolnya kearah Kakashi.

Sedangkan laki-laki disana—kecuali Kakashi dan Yamato—sedikit tidak mengerti dengan selera Rin. "Apanya yang tepat?" pikir mereka.

"Baiklah Sakura-chan, ayo kita keruang ganti!" Rin menarik tangan Sakura untuk masuk kembali keruang itu, yang ternyata adalah ruang ganti.

"Ano... Rin-san?" panggil Sakura yang hanya dibalas gumaman oleh Rin.

Rin meninggalkan Sakura berdiri didepan cermin, sedangkan ia sendiri berjalan kesamping lemari, mengambil sebuah kursi yang terbuat dari plastik dan sepatu Wedges berwarna merah dengan tali-tali menjulur.

"Duduklah Sakura-chan!" ujar Rin.

Sakura hanya diam dan mengikuti perintah Rin untuk duduk didepan cermin.

Perlahan Rin melepas ikat rambut Sakura dan mulai merapikannya.

"Rambutmu indah sekali Sakura-chan, lembut dan halus." Puji Rin sambil sedikit memainkan helaian merah muda Sakura.

"Kenapa tidak digerai saja?"

Untuk sesaat Sakura hanya diam dan menundukan kepalanya, raut wajahnya sedikit terlihat sedih.

"Aku tidak suka warnanya, Rin-san."

Melihat perubahan ekspresi Sakura, Rin ikut diam tetapi tangannya masih bergerak merapikan rambut Sakura.

"Sakura..." panggil Rin disela-sela kegiatannya. "Kau tau, semua perempuan itu dilahirkan dengan kecantikan mereka masing-masing." lanjut Rin.

Mendengar perkataan Rin, Sakura mengangkat kepalanya.

"Hanya saja..." Rin menggantung kalimatnya saat melihat reaksi Sakura. "Ada yang percaya kalau dia cantik dan ada pula yang tidak percaya." tambahnya.

"Sekarang, aku ingin kau percaya Sakura. Percayalah kalau kau itu cantik!" Sakura menolehkan kepalanya kesamping menghadap Rin, sedangkan Rin sendiri hanya tersenyum lembut.

"Terima kasih Rin-san." ujar Sakura sambil membalas senyum Rin.

"Sakura-chan, kau cukup memanggilku dengan Nee-chan saja!" perintah Rin sambil sedikit mengembungkan pipinya, seolah-olah marah dengan panggilan Sakura.

Sakura tertawa kecil melihat reaksi Rin. "Terima kasih Nee-chan." Ujarnya.

"Baiklah Sakura-chan, kita buat laki-laki didepan terpesona!" ujar Rin semangat dan dibalas senyuman setuju oleh Sakura.

.

.

"Mereka lama sekali, Sensei!?" tanya Naruto tidak sabaran. Padahal sudah 5 menit mereka didalam tapi sampai sekarang belum juga keluar.

"Wanita itu sunggu merepotkan." ujar Shikamaru malas.

"Aku keluar." Kata Sasuke tiba-tiba dan langsung berbalik.

"Tunggu dulu Sasuke!" tahan Yamato, mencoba menahan Sasuke agar tidak pergi.

"Aku juga masih banyak kerjaan." ujar Neji dan ikut melangkah pergi.

"Neji!" teriak Yamato, tapi sayang teriakannya tidak dipedulikan oleh Sasuke dan Neji bahkan Gaara, Sai, dan Shikamaru ikut pergi meninggalkan ruangan itu.

Cklek

Suara pintu yang dibuka membuat langkah kaki mereka semua terhenti. Di depan pintu yang terbuka Rin tersenyum senang.

"Maaf sudah menunggu lama tuan-tuan" ujar Rin meniru pembawa acara kuis di televisi.

"Kita sambut, satu-satunya Maid di cafe kita. Sakura-chan!" teriak Rin sambil bertepuk tangan.

Semua pandangan terarah ke pintu coklat yang terbuka, menunggu seseorang untuk keluar dari sana.

1 menit

2 menit

3 menit

"Aku pergi Sensei." ujar Sasuke dan kembali melangkahkan kakinya saat tidak ada seorang pun yang keluar dari pintu coklat yang terbuka.

"Hei, tunggu dulu Sasuke!" teriak Rin dan kembali masuk kedalam ruangan itu.

Sasuke menghelekan nafasnya, kenapa dia harus ikut melakukan hal yang menurutnya bodoh ini.

"Sakura-chan apa yang kau lakukan?"

"Nee-chan, aku takut."

"Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ayo cepat keluar!"

"Ta-tapi Nee-chan..."

Dari dalam terdengar suara yang diyakini milik Rin dan Sakura yang sedang berdebat. Laki-laki yang masih menunggu diluar hanya bisa menghelakan nafas mereka berat, kecuali Sasuke dan Gaara.

"Ehem..." suara dehemen Rin membuat semua laki-laki kembali menatapnya yang masih berdiri di depan pintu. "Maaf atas gangguan tadi tuan-tuan" ujar Rin meminta maaf.

"Baiklah, tanpa menunggu lebih lama lagi. Kita sambut satu-satunya pelayam wanita di cafe Clover's. Sakura-chan~" teriak Rin penuh penekanan.

Tap

Deg

Hening, semua orang terdiam. Di depan pintu kini berdiri seorang gadis manis berambut merah muda panjang yang di ikat Twins Tail dengan pita berwarna putih. Wajah cantiknya dibingkai helaian rambut merah muda, sementara bibir tipisnya dipoles sedikit lipglose berwarna merah muda pucat. Tubuh tinggi dan langsing dibalut seragam Maid berwarna merah dengan celemek putih berenda yang melingkari pinggang dan membentuk simpul kupu-kupu besar, yang sangat kontras dengan kulit putih mulus bak boneka porselin. Kedua kaki jenjangnya di balut stoking putih dengan renda dan pita merah di pahanya, ditambah sepatu Wedges merah bertali sampai betis.

"Siapa gadis cantik itu, Rin-nee?" pertanyaan polos Naruto terucap dengan mulusnya, mewakili pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Kakashi tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya mendekati gadis cantik berseragam pelayan.

"Kau cantik Sakura, seperti dugaanku." Kata Kakashi memuji Sakura—gadis cantik berseragam pelayan—yang berdiri didepannya.

"Te-terima kasih Sensei." ucap Sakura malu atas pujian Kakashi dan menundukan kepalanya.

"Hah?!" ujar Naruto dan Kiba tidak percaya.

"Dia si Pinky itu?" tanya Kiba tidak percaya jika gadis cantik di depannya adalah gadis norak yang dilihatnya sekitar 5 menit yang lalu.

Kakashi dan Rin yang mendengar pertanyaan Kiba hanya tersenyum penuh arti.

"Maaf mengganggu kegiatan kalian" suara Choji menarik perhatian semua orang yang memandang tidak percaya kepada Sakura. "Sepertinya para tamu sudah tidak sabar menunggu, mereka terus berteriak memanggil pelayan." lanjut Choji.

"Semuanya cepat kembali keposisi kalian!" instrusi Kakashi kepada semua orang yang ada disana.

Tanpa menunggu lama semua orang—kecuali Sakura dan Rin—langsung membalik badan mereka dan meninggalkan Sakura yang berdiri tidak mengerti.

"Sakura ikut aku!" ujar Rin.

Sakura dan Kakashi mengikuti Rin yang melangkah pergi menuju pintu bertiram putih, tempat dimana Naruto, Kiba, Shikamaru, Sai, Neji, Gaara dan Sasuke tadi pergi.

Sakura cukup terpesona dengan dekorasi ruangan depan tempat dimana para tamu menikmati pesanan mereka. Ruang dengan cat dinding berwarna crem dengan hiasan beberapa lukisan indah tergantung disana. Meja-meja berbaris rapi dikelilingi beberapa kursi yang terbuat dari kayu dan busa pada bagian tempat duduknya.

"Indah" gumam Sakura kagum akan interior yang terpasang rapi.

"Yamato." suara Kakashi menyadarkan Sakura dari tatap kagumnya.

Tak begitu lama Yamato datang sambil membawa sesuatu dan menyerahkannya pada Kakashi dan kembali berbalik pergi.

"Ambil ini Sakura!" Kakashi menyodorkan sesuatu yang seperti buku tapi ukurannya lebih kecil dari buku tulis pada umumnya. "Gunakan itu untuk mencatat pesanan tamu." lanjut Kakashi.

Sakura yang tidak mengerti hanya memandang Kakashi dan buku kecil yang mungkin saja pas jika dimasukan ke saku itu secara bergantian.

"Sakura-chan" suara lembut Rin membuat Sakura menghentikan kegiatannya memandangi Kakashi dan buku itu. "Catat pesanan tamu, lalu bawa ke situ" ujar Rin sambil menunjuk dinding yang berlubang ditengah-tengahnya, dari sini saja Sakura dapat melihat Choji yang sibuk menghias kue.

"Kau mengerti Sakura-chan?"

"Ya, Nee-chan"

"Setelah itu kau ulangi hal yang sama" ujar Kakashi melanjutkan perkataan Rin. "Jika terdengar bunyi dentingan bel, itu menandakan sebuah pesanan sudah siap dan kau harus memberikannya kepada tamu seseai nomor yang tertera disana." lanjutnya.

Sakura menganggukan kepala mengerti atas pemberitahuan dari Kakashi dan Rin.

"Jika kau sudah mengerti, kami pergi dulu Sakura. Ada hal yang harus aku bicarakan dengan Rin." kata Kakashi sambil melangkah pergi masuk ke dalam di ikuti Rin dibelakangnya.

Sepeninggalan Kakashi dan Rin, Sakura memperhatikan semua aktifitas yang terjadi diruangan itu. Di sudut pintu ada Sai yang tersenyum ramah kepada para tamu yang histeris melihat seyumannya. Sasuke dan Gaara mencatat pesanan tamu. Neji, Shikamaru, Naruto dan Kiba sedang sibuk mengantar pesanan para tamu.

"Mereka hebat!" ujar Sakura kagum melihat kecekatan para laki-laki dingin itu.

Perlahan Sakura menutup kedua kelopak matanya dan menghebuskan nafasnya, mencoba menghilangkan perasaan gugup. Setelah dirasa cukup sakura kembali membuka kedua kelopak matanya dan berjalan menuju meja tamu.

"Pelayan!" tidak begitu jauh dari tempat Sakura, seorang gadis mengangkat tangannya, memanggil pelayan.

Merasa dipanggil Sakura mendekati meja tersebut dan tiba-tiba perasaan gugup yang sempat hilang kini kembali menerpanya.

"A-ada yang bisa saya bantu?" ucap Sakura gugup, karena begitu gugupnya suara Sakura terdengar begitu kecil, nyaris tak terdengar.

Tiga orang gadis yang duduk di situ mengerutkan dahi mereka heran, heran akan kehadiran Sakura.

"Siapa kau?"

"A-aku..." suara Sakura tertahan ditenggorokannya, begitu gugupnya saat pandangan tidak suka ketiga gadis itu terarah padanya.

Jantung Sakura berdetak dua kali lebih cepat, tubuhnya terasa dingin dan kakinya lemas. Pandangan itu, pandangan yang sering diterimanya dari teman-teman sekelas Sakura.

"Yo, ada apa ini nona-nona?" suara Naruto menyelamatkan Sakura, menyelamatkannya dari perasaan tertekan yang siap membuatnya menangis kapan saja.

"Naruto-kun!" teriak gadis-gadis itu histeris, saat melihat Naruto tersenyum ramah berdiri dibelakang Sakura.

"Namikaze..." ujar Sakura terkejut, tiba-tiba Naruto sudah ada dibelakangnya.

Naruto diam sebentar memandangi Sakura lalu kembali tersenyum ramah kearah para tamu yang terus-terusan meneriaki namanya.

"Biar aku ambil ahli." Naruto menepuk bahu Sakura dan mengeluarkan sebuah pena dan buku kecil seperti milik Sakura.

Sakura hanya diam melihat Naruto mengambil alih pekerjaannya. Dapat dilihatnya Naruto mencatat pesan para tamu sambil sesekali tertawa bersama para gadis itu.

"Tunggu sebentar ya nona-nona manis~" ujar Naruto genit dan mulai membalikkan badannya menghadap Sakura yang masih berdiri diam memperhatikannya. "Ikuti aku Sakura-chan!" perintah Naruto yang hanya di ikuti oleh Sakura.

Sakura dan Naruto berjalan beriringan, melewati meja-meja yang dipenuhi tatapan kagum dan penuh cinta untuk Naruto dan tatap tidak suka kepada Sakura.

"Choji!" panggil Naruto saat sudah sampai di depan lubang dinding, tempat Yamato dan Choji sibuk membuat pesan tamu.

Choji menerima kertas yang diletakan Naruto di dalam lubang itu dan tersenyum ramah kearah Sakura yang berdiri di sebelah Naruto. "Semangat!" ujar Choji meyemangati Sakura.

Sakura cepat-cepat menundukan kepalanya.

"Terima kasih"

"Oi, Sakura-chan!" panggil Naruto tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya kebelakang kepala, membuat pose santai. "Kenapa kau memanggilku Namikaze?" tanya Naruto.

"Karena itu namamu."

"Tapi rasanya, kau seperti memanggil ayahku." Naruto menurunkan tangannya dan memandang Sakura dengan pandangan tidak suka.

"Maaf Nami-"

"Naruto, panggil saja begitu!" potong Naruto cepat.

"Ya, maaf Naruto."

"Sakura-chan" panggil Naruto lagi, kali ini pandangan tidak sukanya telah berubah menjadi senyuman hangat yang mengembang. "Kenapa kau gugup sekali berhadapan dengan tamu?" lanjutnya.

"Emm... aku tidak biasa berhadapan dengan orang lain." tidak biasa, sangat tidak biasa. Semenjak masuk KSHS Sakura hampir tidak pernah berhadapan dengan murid-murid KSHS dan sepertinya itu meninggalkan sedikit trauma.

"Seperti Teme, repot juga." Naruto menyentuh dagunya, memasang pose berpikir. "Cobalah tersenyum saat dihadapan tamu, Sakura-chan!" saran Naruto sambil tersenyum kearah Sakura.

Deg

Sakura terdiam melihat senyuman Naruto, perasaan hangat menyelimuti hatinya.

"Pelayan!" teriak salah seorang tamu yang baru saja masuk.

Naruto dan Sakura menolehkan kepalanya, melihat dua orang gadis berseragam SMA yang baru saja berteriak memanggil pelayan. "Lakukan sekarang, Sakura-chan!" ujar Naruto bersemangat yang dibalas anggukan kepala oleh Sakura.

Sakura melangkahkan kakinya perlahan, masih ada perasaan gugup yang menyelimutinya. "Ayo, semangat Sakura!" Sakura berusaha menyemangati dirinya sendiri, bahkan buku note kecil ditangannya di remas kuat untuk mengurangi perasaan gugupnya.

"Ma-maaf..." suaranya tertahan lagi, tidak mau keluar. "Bagaimana ini? Suaraku." Sakura cemas, tiba-tiba suaranya hilang.

"Cobalah tersenyum saat dihadapan tamu, Sakura-chan!"

Perkataan Naruto terngiang dikepala Sakura, memberikan keberanian tersendiri untuknya.

Sakura menutup kedua kelopak matanya dan satu persatu wajah Ino, Kakashi, Rin, Choji dan Naruto terlintas di benaknya. "Aku sudah mendapatkan banyak dukungan, tidak boleh kalah." Sakura kembali membuka kelopak matanya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Naruto yang tersenyum kearahnya, senyuman yang bisa membuat orang lain ikut tersenyum, termasuk Sakura.

Sebuah lengkungan tipis terpahat di wajah cantik Sakura "Mau pesan apa nona-nona manis?" tanya Sakura meniru Naruto dengan senyuma tipis menghiasi wajahnya.

Deg

Wajah kedua gadis itu memerah melihat senyuman Sakura, bahkan berbicara saja gagap.

"Ka-kami mau pesan Strawberry Cake dan Orange Juice dua."

Sakura langsung mencatat pesanan kedua gadis itu di dalam buku kecil yang di bawanya. Setelah itu di tundukan kepalanya dan meminta waktu agar mereka mau menunggu. Tapi sebelum Sakura benar-benar pergi salah seorang gadis memanggilnya.

"Jika boleh tau, nama kakak siapa?"

Sakura tersenyum baru kali ini ada yang menanyakan namanya selain Ino dan para pengajar di KSHS.

"Namaku Saku-"

"Cherry."

Sakura memandang bingung kearah sosok yang seenaknya memotong perkataannya, laki-laki berambut merah, Gaara.

"Emh~ Cherry-nee boleh aku minta fotomu?"

"A-ano... itu..." Sakura malu, benar-benar malu mendengar permintaan gadis itu.

"Dilarang mengganggu pelayan yang sedang bekerja." Kata Gaara dan menarik tangan Sakura paksa menjauhi meja itu.

"Tunggu sebentar!" Sakura berusaha melepaskan tangan Gaara yang mencengkram erat lengannya.

"Choji" ujar Gaara tanpa memperdulikan ocehan Sakura yang memintanya melepaskan tangannya.

"Apa yang kau lakukan?!" tanya Sakura kesal. Dengan sekali tarikan kuat, Sakura berhasil melepaskan cengkraman Gaara dari lengannya.

"Hoi! Gaara, apa yang kau lakukan pada Sakura-chan?!" Naruto berlari menuju arah Sakura dan Gaara yang masih berdiri di depan lubang tempat meletakan pesanan.

"Kenapa kau berbohong tentang nama Sakura-chan?" lanjut Naruto.

"Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi jika para tamu tau identitas, Sakura." kata Gaara menatap tajam Naruto dan pergi meninggalkannya yang masih berdiri diam.

"Kau bisa merusak citra cafemu sendiri Sensei."

Tiba-tiba Sakura mengingat perkataan Neji, perkataan yang cukup menusuk hatinya.

"Ah, kau benar Gaara." Perkataan Naruto mengejutkan Sakura. Jadi Naruto juga berpikir identitas asli Sakura akan merusak citra cafe.

Sakura tersenyum miris. Benar juga, siapa yang mau menerima gadis desa yang berpenampilan kampungan seperti dia. Padahal Sakura pikir Naruto berbeda dari para laki-laki dingin itu karena telah memperlakukannya baik, jadi itu semua palsu.

"Bisa berbahaya jika mereka tau."

"Eh? Berbahaya?" Sakura bingung tidak mengerti dengan perkataan Naruto. Bukannya seharusnya Naruto bilang "bisa rusak citra kita, bila mereka tau." Tapi kenapa malah berbahaya.

"Ya, berbahaya Sakura-chan" Naruto memasang tampang takut sambil melirik para gadis yang lagi histeris meneriaki nama semua pelayan laki-laki. "Kau tau, semua akan jadi sangat berbahaya jika sudah menyangkut para fans itu." lanjut Naruto.

Ternyata bukan karena penampilan Sakura, melainkan mereka khawatir jika nanti para tamu tau identitas Sakura mereka akan bertindak nekat, itu pun terjadi jika Sakura dekat dengan salah satu laki-laki pujaan mereka.

"Bukannya karena aku jelek?" pertanyaan polos Sakura membuat Naruto tertawa sehingga menarik perhatian para tamu.

"Kau salah Sakura-chan" Naruto memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. "Kau itu gadis termanis yang pernah ku lihat, Sakura-chan." puji Naruto.

Wajah Sakura memerah mendengar pujian Naruto.

"Hoi, jangan bersantai-santai saja. Cepat kerja!" teriak Kiba dari jauh.

"Chi, menganggu saja. Baiklah Sakura-chan ayo semangat!"

"Ya"

Naruto pergi meninggalkan Sakura yang masih diam memandangi punggungnya yang mulai menjauh.

Sebuah senyuman tipis kembali menghiasi wajah manis Sakura. Sepertinya tidak buruk bekerjasama dengan semua laki-laki dingin yang berbahaya itu.

Ya, untuk sekarang semuanya baik-baik saja, tetapi siapa yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

TBC


Huaaaaaaa Chapter 2 selesai juga, maaf untuk beberapa chapter ke depan kemungkinan sampai 3, belum ada unsur Sakura-centric. Untuk Chapter-chapter awal hanya perkenal tokoh dan tempat, mulai Chapter 4 baru masuk Sakura-Centric. OTANJOUBI OMEDETTOU HARUNO SAKURAAAAA!

Hari ini ulang tahun Sakura, sengaja banget update cuma buat kasih kado sama Sakura hehehehehe.

Maaf belum bisa balas Review, tapi di usahakan Chapter 3 nanti aku balas Review.

sekali lagi aku ucapkan terima kasih kepada Reader-sama yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan juga nge-Fav dan Follow Fict gaje ini, dan untuk Silent Reader yuk budaya kan Review! satu kalimat Review kalian sangat berarti bagi saya *ngikutiklanditv#PLAK

Salam hangat,

Kimeka ReiKyu

Palembang, 28 Maret 2013