Kliing

"Selamat datang di Clover's Cafe." Sakura tersenyum ramah menyambut tamu yang baru datang. "Silakan menempati meja yang kosong tuan." lanjut Sakura sambil tangan kanan Sakura menunjukan meja kosong di sudut ruangan.

"Terima kasih cantik." ujar tamu itu genit menggoda Sakura yang hanya dibalas senyum ramah oleh Sakura.

Sakura menghelakan nafasnya berat. Kali ini ia kebagian sebagai penerima tamu, Kakashi bilang untuk melatih keberanian Sakura saat menghadapi tamu yang datang. Sebenarnya itu bukan hal sulit bagi Sakura, dalam waktu dua minggu Sakura sudah belajar banyak hal dari yang lain, tentu saja dengan kemampuan otaknya dalam mengingat, tidak ada yang perlu diragukan lagi.

Hanya saja beberapa hari ini banyak tamu laki-laki yang datang, jika dibandingkan dua minggu yang lalu perbedaan tamu wanita dan laki-laki 98:2 itu pun semua laki-laki yang datang hanya sekedar menemani pacar mereka dan setelahnya laki-laki itu tidak akan datang lagi. Sekarang cukup mengalami peningkatan 90:10 tentu saja Sakura senang karena salah satu alasan tamu laki-laki bertambah adalah karena ingin bertemu dengan Sakura, hanya saja akhir-akhir ini kebanyakan dari mereka cuma ingin menggoda Sakura.

"Jika mau malas-malasan pulang saja sana!" suara Kiba terdengar begitu sinis berjalan melewati Sakura. Ada satu masalah lagi yang harus dihadapi Sakura yaitu para pelayan laki-laki—kecuali Naruto—tidak menyukai keberadaannya

Sakura kembali menghelakan nafasnya berat, apa ia akan bertahan jika begini terus.


Clover's Cafe

Naruto © Masashi Kisimoto

Ranted: T

Gender: Drama, Romance, Humor(?)

Story © Kimeka ReiKyu

Warrnig: Au, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

[Sakura-Centric]

Don't Like, Don't Read!


"Terima kasih atas kerjasamanya hari ini." ujar Kakashi sambil tersenyum ramah kearah yang lainnya.

Clover's Cafe buka dari pukul 12.00 sampai pukul 18.00 dan akhir pekan dari pukul 09.00 sampai 19.00 tentu saja karena rata-rata pekerja disana masih pelajar maka jam kerjanya tidak lama, kecuali sabtu dan minggu karena KSHS libur.

"Sakura, ini untukmu." Choji memberikan sebuah kotak dengan hiasan pita biru diatasnya kepada Sakura.

"Untukku?"

"Ya, Kakashi-sensei yang menyuruhku memberikannya padamu."

"Terima kasih."

Setelah menerima kotak yang diberikan Choji, sakura melangkahkan kakinya keluar dari cafe. Jarak rumah Sakura dan cafe tidak begitu jauh 10 menit bila ditempuh dengan berjalan kaki, sudah dua minggu ini Sakura melakukan rutinitas baru dan mulai terbiasa.

"Guk...guk!"

Suara gonggongan anjing menarik perhatian Sakura. Tidak jauh dari cafe ada sebuah pohon Momoji dan dibawahnya ada seekor anjing putih besar yang meringkuk kelaparan.

"Hallo manis, apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura saat mulai berjongkok di depan anjing putih itu.

Anjing itu tidak menjawab, hanya saja mata hitamnya memandang Sakura begitu sedih.

Merasa kasihan Sakura mengelus-elus bulu anjing itu, tidak peduli tangannya kotor karena lumpur yang melekat di bulu anjing itu.

"Apa kau lapar?"

Sakura membuka kotak kue pemberian Kakashi yang di terimanya dari Choji. Sepotong Strawberry Cake dengan hiasan stroberi merah segar diatasnya.

"Apa kau bisa makan ini?" tanya Sakura lagi.

Anjing itu hanya diam tetapi matanya tetap memandang Sakura.

Sakura menggigit ujung kue itu. "Enak." ujar Sakura dan mulai menyodorkan kue ditangannya kearah anjing itu.

"Makanlah!"

Anjing itu menatap kue yang disodorkan Sakura, perlahan di endusnya dan mulai menjilati kream putih diatas kue. Anjing itu berdiri dari posisinya dan memakan kue yang ada ditangan Sakura sampai habis.

"Kau suka? kue buatan Choji memang yang terbaik." Sakura kembali mengelus bulu anjing itu dan kini anjing putih itu memberi respon dengan mengosok-gosokan kepalanya ketangan Sakura.

"Maaf ya anjing manis. Aku harus pulang." Sakura berdiri, untuk sejenak Sakura memandang anjing itu dan mengelus kepalanya untuk yang terakhir. "Cepatlah pulang ke pemilikmu!" tambah Sakura dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan anjing putih yang memandangi kepergian Sakura.

Tidak jauh dari tempat Sakura seseorang berdiri dalam diam, karena tertutup bayangan pohon sosoknya tidak terlihat begitu jelas, tetapi sorot matanya menampakkan kesedihan yang teramat sangat.

"Dasar bodoh."

.

.

.

"Kyaaaaaaaa! Sasuke-kun!"

"Neji-samaaaaaaaaa!"

"Naru-kun aku mencintaimu!"

"Kiba-kuuuunn!"

"Ah! Sai senyumanmu..."

"Gaara-kun!"

"Shikaaaaa!"

Suara teriakan histeris membuat telinga Sakura rasanya berdenging, jika begini terus cepat atau lambat tidak menutup kemungkinan ia akan tuli permanen.

Sakura menghelakan nafasnya berat, setiap hari selalu saja begini. Para fans Girls itu akan selalu mengeluh-eluhkan nama para laki-laki dingin itu.

"Cherry-chan bisa minta fotomu?"

Pertanyaan dari tamu laki-laki yang dilayani Sakura membuatnya mau tak mau menolehkan kepalanya dari tontonan gratis gadis-gadis gila yang histeris di depannya.

"Maaf tuan, di cafe ini dilarang mengganggu para pelayan yang sedang bekerja." Sakura menundukan kepalanya meminta maaf, apa boleh buat ini sudah peraturan.

"Ayolah, aku hanya meminta fotomu, bukannya mengganggu pekerjaanmu." tamu laki-laki itu cukup kesal karena permintaanya di tolak oleh Sakura.

"Maaf tapi itu sudah peraturannya."

"Satu kali saja!" tamu itu mengeluarkan sebuah Smartphone keluaran terbaru dan mulai berdiri disebelah Sakura.

Sakura berusaha menghindar tetapi gerakannya ditahan oleh tamu laki-laki itu.

"Ayo senyum!"

Clik

"Hei!" ujar tamu itu protes pada seseorang yang seenaknya saja menutupi lensa kamera Handphone-nya, sehingga hanya gambar hitam yang tercetak disana.

"Cafe ini memiliki peraturan. Jika tidak suka, silahkan pergi!" Kiba—laki-laki yang menutupi lensa kamera—memandang tajam ke sosok laki-laki yang hanya diam melihat matanya.

Laki-laki itu mendengus kesal dan melangkahkan kakinya pergi keluar cafe. "Terima kasih atas kedatangannya." teriak Sakura saat tamu itu pergi meninggalkan cafe, Kakashi bilang tidak peduli dalam keadaan apapun mereka harus tetap profesional.

Suasana di ruangan itu hening, semua pengunjung yang melihat kejadian itu hanya diam dan hawa dingin langsung memenuhi ruangan itu.

"Maaf atas gangguan tadi. Apa ada yang mau menambah jus?" teriak Naruto mencoba memecahkan keheningan.

Semua perhatian pengunjung kembali teralihkan ke arah Naruto dan tidak begitu lama teriak-teriakan histeris kembali menggema memenuhi ruangan.

"Kau itu sangat memuakkan, lebih baik berhenti saja!"

Deg

Mata Sakura membulat mendengar ucapan Kiba, entah kenapa perkataan Kiba kali ini begitu menusuk hatinya.

Sakura sudah sering mendengar Kiba mengejeknya atau pun menghinanya, tetapi untuk yang satu ini sudah kelewatan. Apa lebih baik ia berhenti saja.

"Sakura... Sakura-chan!" suara Naruto menyadarkan Sakura dari lamunannya. Dan dilihatnya Naruto menatapnya cemas.

Dari tadi Sakura hanya diam, matanya kosong dan parahnya hanya mengelap meja itu-itu saja dari setengah jam yang lalu.

Sekarang giliran Naruto dan Sakura yang membersihkan bagian depan sesuai pembagian jadwal pembersihan yang sudah di bagikan Kakashi, hari sudah sore dan semua pengunjung sudah tidak ada.

"Apa kau baik-baik saja?"

Sakura menundukan sedikit kepalanya dan menganggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Naruto.

"Kau tidak perlu mendengarkan perkataan Kiba, dia memang seperti itu." Naruto tersenyum kearah Sakura berusaha menghiburnya.

"Terima kasih Naruto."

"Semuanya berkumpul!" teriak Yamato dari arah dapur.

Naruto dan Sakura saling memandang tidak mengerti maksud Yamato, tetapi tanpa menunggu lama mereka melangkahkan kaki mereka menuju sumber suara.

Di dapur semua orang sudah berkumpul, sebagian dari meraka sudah mengganti seragam pelayan dengan pakaian biasa.

"Sepertinya semuanya sudah berkumpul." ujar Kakashi sambil melirik kearah Sakura dan Naruto yang baru saja datang.

"Dua minggu lagi cafe akan mengadakan Event Hanami untuk merayakan Event musim semi tahun ini."

"Apa tidak terlalu terburu-buru, Sensei? Apa waktunya cukup?" tanya Neji.

"Tidak terburu-buru, kami sudah memikirkannya dari dua minggu yang lalu dan masalah waktu, pasti cukup karena aku memiliki kalian semua."

"Perkataanmu itu seolah mengatakan kami ini budakmu, Sensei." ujar Sai diikuti anggukan setuju dari yang lain.

"Kalian bukan budakku, kalian semua murid-murid kesayanganku."

"Terserah. Aku pulang." Sasuke memutar badannya kebelakang dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

"Woi, Teme Kakashi-sensei belum selesai bicara!" Naruto berlari mengejar Sasuke yang sudah pergi menjauh.

"Mereka itu merepotkan sekali." Shikamaru ikut melangkahkan kakinya keluar.

"Dasar murid-murid tidak sopan." Yamato hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan murid-murid didiknya.

Semua orang satu persatu melangkahkan kakinya keluar menyisahkan Sakura dan Kakashi.

"Sakura, apa terjadi sesuatu?" pertanyaan Kakashi benar-benar tepat sasaran.

"..."

"Jika kau tidak membagi milikmu dengan orang lain, bagaimana mungkin orang lain akan membagi miliknya dengan mu." Kakashi melangkahkan kakinya mendekati Sakura dan menepuk kepala Sakura pelan.

"Kau boleh mengatakan tidak jika tidak suka, kau juga boleh mengatakan iya jika kau suka tetapi ingat, Sakura..." Kakashi mengangkat kepala Sakura yang tertunduk untuk mendongakannya dan melihat langsung ke matanya. "Jangan pernah membohongi perasaanmu sendiri." lanjut Kakashi sambil tersenyum dibalik maskernya.

Mendengar perkataan Kakashi, perasaan Sakura menjadi hangat. "Terima kasih Sensei." ujar Sakura, sebuah lengkungan senyum tipis terukir di wajahnya.

"Apa kau mau pulang bersamaku, Sakura? Hari ini hujan turun cukup deras."

Sakura menggelengkan kepalanya, tidak mau merepotkan Kakashi lebih dari ini.

"Terima kasih Sensei. Aku lebih suka pulang sendiri, selain itu juga, aku membawa payung." ucap halus Sakura berusaha menolak ajakan Kakashi.

"Aku mengerti, tetapi jika sesuatu terjadi segera hubungi aku. Kau mengerti, Sakura?!"

"Ya, aku mengerti Sensei."

Sakura menundukan kepala memohon izin untuk pamit kepada Kakashi yang di balas senyuman dari Kakashi.

"Apa tidak apa-apa, Senpai?" tanya Yamato yang tiba-tiba masuk.

"Tidak apa-apa. Jika hanya seperti ini dia pasti bisa melaluinya." Kakashi tersenyum penuh arti sambil memperhatikan pintu yang baru ditutup Sakura.

Dreees

"Hujannya deras juga, untung aku menonton ramalan cuaca tadi." ujar Sakura sambil membuka payung merah dengan motif kelinci yang dibawanya dari rumah.

Sakura berjalan sendirian dibawah guyuran air hujan yang jatuh dari langit. Hujan yang turun di kota Konoha membuat aktifitas yang biasanya padat menjadi lenggang.

"Nge...nge..."

Sakura menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya ke samping. Di bawa pohon Momoji, seekor anjing putih meringkuk karena kedinginan, bulu putihnya terlihat kotor karena lumput dan basah.

Melihat itu Sakura berlari tergesa-gesa menghampiri anjing malang itu.

"Kau tidak apa anjing manis?" tanya Sakura khawatir saat sudah berjongkok di depan anjing itu.

Mendengar suara Sakura anjing itu mengangkat kepalanya untuk melihat Sakura.

"Ngeng... nge..."

Hanya suara geraman lemas yang terdengar, geraman yang begitu sedih.

"Tunggulah disini!"

Sakura berlari kembali menuju cafe, tidak di pedulikannya percikan lumpur yang mengotori sepatunya karena berlari melewati genangan air.

"Hohs... hohs... Yamato-sensei! Hohs... apa ada selimut?" tanya Sakura saat sudah masuk kedalam dan melihat Yamato sedang merapikan piring-piring.

"Sepertinya tidak ada."

"Kalau begitu kain apapun yang penting tebal?"

"Tunggu sebentar!" Yamato semakin masuk ke dalam dapur, tidak begitu jauh ada sebuah pintu bercat hitam yang merupakan ruang ganti pakaian untuk laki-laki.

"Seperti ini, Sakura?" Yamato kembali dengan membawa sebuah kain yang cukup tebal dan diberikan kepada Sakura.

"Terima kasih Sensei. Akan segera aku kembalikan." Sakura menundukan tubuhnya 90 derajat dan mulai berlari pergi keluar.

"Kau tidak perlu mengembalikannya, Sakura!" teriak Yamato cukup keras sehingga masih bisa di dengar Sakura dan dibalas dengan teriakan terima kasih oleh Sakura.

Sakura berlari tergesa-gesa menuju pohon Momoji. Kacamata jadul yang dipakainya melorot kebawa hampir jatuh kalau saja tidak langsung di perbaiki posisinya oleh Sakura. Tidak begitu jauh Sakura bisa melihat anjing malang itu tetap meringkuk kedinginan.

Kain yang di dapat Sakura di berikannya kepada anjing itu, untuk menyelimuti bulunya yang basah agar tidak kedinginan.

"Bagaimana, apa masih dingin?" tanya Sakura sambil mengelus-elus kepala anjing itu sayang.

Anjing itu mengangkat kepalanya dan menjilati tangan Sakura yang mengelusnya, seperti mengatakan terima kasih kepada Sakura.

"Maaf ya, aku harus pulang emm..." Sakura berdiri. "Shiro, bagaimana jika ku panggil Shiro?" tanya Sakura.

"Guk..." anjing itu hanya menggonggong kecil menjawab pertanyaan Sakura dan di balas senyuman manis oleh Sakura.

Sakura melangkahkan kakinya menjauhi pohon itu, namun langkahnya terhenti. "Sepertinya hujan masih akan lama." pikir Sakura.

Sakura membalikan badannya, berjalan kembali ketempat Shiro—anjing malang—tertidur.

Saat sudah berada di depan Shiro, Sakura berhenti dan meletakan payung miliknya tetap diatas tubuh Shiro.

"Dengan ini kau tidak akan kebasahan, Shiro."

Setelah memberikan payungnya untuk Shiro, Sakura kembali melanjutkan jalannya untuk pulang kerumah dengan bermandikan air hujan.

Tidak begitu jauh ada sebuah mobil hitam yang berhenti dan setelah kepergian Sakura mobil itu juga ikut pergi.


"Huachiiiii!"

"Kau yakin tidak apa-apa, Sakura?" tanya Ino khawatir melihat Sakura.

"Ya, Huachiiin! Aku tidak apa-apa Ino." jawab Sakura sambil menggosok-gosok hidungnya yang memerah.

Karena hujan-hujanan semalam, sepertinya Sakura sedikit demam. Sakura bukanlah pemalas yang akan tertidur dibawah selimut jika sedang sakit, semakin sakit maka ia semakin suka bergerak untuk menghilangkan sakitnya.

Ino menatap Sakura khawatir dari tadi pagi sampai masuk jam istirahat Sakura terus-terusan bersin. "Apanya yang tidak apa-apa. Wajah pucat seperti itu." ujar Ino dalam hati melihat kondisi Sakura.

"Jika kau merasa tidak sehat, katakan padaku. Akan ku antar ke UKS." tawar Ino.

"Ya, aku tidak apa-ap..." pandangan Sakura mengabur dan kepalanya terasa begitu berat. Semakin lama semakin kabur dan tubuhnya mulai lemas.

Bruk

"Sakuraaaaa!" teriak panik Ino, saat tiba-tiba tubuh Sakura limbung dan jatuh menimpanya.

. . . . . .

"Hanazawa Yuko?" seorang wanita berambut hitam bergelombang sedang berdiri di depan kelas dengan sebuah buku di tangannya.

"Hadir Sensei!"

"Haruno Sakura?"

"..."

"Haruno Sakura?"

"..."

"Haruno Sakura?"

Merasa panggilannya tidak di jawab, Kurenai—Sensei cantik—menurunkan buku yang ada di tangannya. Diarahkan pandangannya kebangku paling kanan nomor dua dari belakang yang kini masih kosong.

"Hyuga, di mana Haruno?" tanya Kurenai kepada Hinata yang merupakan teman sebangku Sakura.

"Sa-saya tidak tau Sensei. Setelah jam istirahat, Sakura belum juga kembali." jawab Hinata, tampak raut kekhawatiran di wajah cantiknya.

Sreeet

"Permisi Kurenai-sensei."

Mendengar suara panggilan dari arah pintu masuk membuat Kurenai menolehkan kepalanya ke kiri. Disana seorang gadis berambut pirang panjang berdiri dengan sebuah kertas di tangannya.

"Ada apa Yamanaka?"

"Saya kemari ingin menyerahkan kertas ini dari Shizune-sensei." Ino menyerahkan kertas yang ada ditangannya kepada Kurenai. "Tadi Haruno Sakura pingsan saat jam istirahat. Shizune-sensei bilang Sakura hanya deman dan butuh sedikit istirahat." jelas Ino.

Setelah membaca kertas yang di berikan Ino, Kurenai menatap Ino mengerti.

"Aku mengerti Yamanaka. Terima kasih sudah mengantarkan kertas izin ini." ujar Kurenai sambil tersenyum ramah yang di balas anggukan kepala oleh Ino.

"Kalau begitu saya permisi dulu Sensei." Ino membungkukan badannya dan keluar dari ruangan kelas itu.

"Kalian harus lebih menjaga kesehatan kalian, sekarang sudah masuk musim hujan." ujar Kurenai saat Ino sudah melangkah ke luar dari ruangan.

"Ya, Sensei." teriak murid-murid bersamaan.

"Sakura-chan~" dibangku paling kanan belakang sekali terlihat Naruto yang khawatir, yang di balas tatapan bosan dari Sasuke yang duduk disebelahnya dekat jendela.

Tidak jauh dari Naruto ada satu orang lagi yang wajahnya napak kekhawatiran, laki-laki berambut coklat yang hanya menundukan kepalanya.

.

.

.

"Nge~" Sakura perlahan membuka matanya yang kini tertidur di sebuah kasur.

"Kau sudah merasa lebih baik, Sakura?" tanya Shizune, pengajar yang merangkap penjaga UKS.

"Kenapa aku bisa ada disini, Sensei?" tanya Sakura saat kesadarannya sudah kembali sempurna dan menyadari sekarang ia sedang berada di ruang UKS.

"Aku tidak begitu tau. Saat Yamanaka memanggilku kesini kau sudah pingsan, Sakura." jelas Shizune sambil merapikan tumpukan dokumen diatas mejanya.

Sakura diam, benar juga tadi saat jam istirahat tiba-tiba pandangannya menggelap begitu sadar sudah ada di sini.

Sakura menghelakan nafasnya. "Sudah berapa lama aku pingsan, Sensei?" tanya Sakura.

"Cukup lama."

Sakura melirik jam dinding putih yang berada di depannya.

Saat melihat jam di dinding Sakura langsung berdiri mengambil tasnya dan berjalan keluar.

"Sakura, kau belum sepenuhnya sehat!" teriak Shizune.

Mendengar teriak Shizune, Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Shizune.

"Terima kasih Sensei." Sakura membungkukan badannya memberi hormat dan kembali melangkahkan kakinya keluar.

Drap Drap

Sakura berjalan tergesa-gesa. "Sudah jam 3 sore. Aku terlambat." teriak Sakura dalam hati.

"Sakura-chan!" teriak Naruto saat melihat Sakura masuk ke dapur dengan seragam pelayannya.

"Bukankah kau sedang sakit, Sakura?" tanya Choji yang sibuk menghias kue.

"Kau harus banyak-banyak istirahat." tambah Yamato.

"Tidak apa-apa, aku sudah cukup banyak istirahat di UKS." Sakura melangkahkan kakinya keluar, siap bekerja melayani pengunjung.

"Jangan memaksakan dirimu, Sakura." ujar Yamato yang menghentikan langkah kaki Sakura.

"Aku baik-baik saja Sensei." Sakura tersenyum dan kembali melangkahkan kakinya.

"Apa dia mengerti maksudku." guman Yamato melihat kepergian Sakura.

"Apa Sensei?" tanya Naruto yang samar-samar mendengar gumaman Yamato.

"Tidak, bukan apa-apa." jawab Yamato sambil tertawa hambar.

~~Clover's Cafe~~

"Terima kasih atas kerjasamanya." ucap Yamato menggantikan Kakashi yang tidak bisa datang karena ada urusan penting.

Sakura melangkahkan kakinya keluar untuk pulang.

"Guk... guk!"

"Kenapa kau datang kemari?"

Suara gonggongan anjing menarik perhatian Sakura. Dengan pelahan Sakura mendekati suara itu.

Di bawah pohon Momoji ada Shiro—seekor anjing putih—yang kini terlihat senang sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Di depan Shiro ada seseorang yang menggunakan seragam yang sama dengan Sakura sedang berjongkok menyamakan tingginya dengan Shiro.

Karena penasaran Sakura mendekati sosok itu. Alangkah terkejutnya Sakura, saat melihat Kiba mengelus-elus Shiro.

"Kiba?!"

Kiba berdiri dari posisi jongkoknya dan menatap Sakura tidak kalah terkejut.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Ini jalan pulangku, Kiba."

"Jangan sok akrab memanggilku!" teriak Kiba marah saat Sakura memanggil namanya.

"Maaf, Inuzuka." karena takut Sakura memundurkan langkahnya.

Menyadari ekspresi takut Sakura, Kiba hanya mendecis tidak suka.

"Guk... guk..." dari arah belakang Kiba, terlihat Shiro yang menjilati tangannya.

"Apa itu anjingmu, Inuzuka?"

"Bukan. Aku hanya melihatnya saja." Kiba melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura.

Shiro yang berdiri di depan Sakura berlari menghampiri Kiba dan menggosok-gosok kepalanya ke tangan Kiba.

"Menjauh dariku!" karena kesal, Kiba menendang Shiro hingga terbentur tanah.

"Hentikan!" teriak Sakura dan langsung menghampiri Shiro. "Apa masalahmu?" tanya Sakura dangan sorot mata penuh kebencian kearah Kiba.

Kiba tidak memperdulikan pertanyaan Sakura dan malah pergi meninggalkan mereka.

"Shiro!" teriak Sakura, saat Shiro kembali berdiri dan berjalan mendekati Kiba, di endus-endusnya kaki Kiba yang hanya di hadiahi tendangan keras oleh Kiba.

"Sudah kubilang menjauh dariku!"

PLAK

Sakura menampar Kiba cukup keras sehingga meninggalkan noda merah di sana. Sakura kesal karena perlakuan Kiba terhadap Shiro hingga tak menyadari air mata kini sudah menetes di pelupuk matanya.

"Kau menyedihkan, Inuzuka." Sakura kembali mendekati Shiro dan mengobati luka Shiro karena benturan akibat tendangan kiba.

"Cih," Sakura mendengus saat merasakan panas di pipi kirinya akibat tamparan Sakura.

"Dasar tidak berguna!" Kiba melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura.

"Guk... guk...!" Shiro menggonggong memanggil Kiba yang telah pergi menjauh.

Sakura mengelus-elus bulu Shiro berusaha menenangkannya. "Kau begitu menyukai, Inuzuka ya?"

Ditempat Kiba. Saat ia telah masuk kedalam mobil hitamnya, Kiba memukul stir kemudi mobil dengan sangat kesal.

"Sial!" teriak Kiba.

Tiga hari sudah berlalu semenjak insiden di bawah pohon Momoji. Sakura dan Kiba tetap melakukan rutinitas biasa tanpa sedikit pun bicara satu sama lain.

"Hey Teme! Menurutmu apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Naruto penasaran melihat Sakura dan Kiba yang tak pernah berbicara. Sebenarnya dari dulu Sakura dan Kiba tidak pernah terlibat obrolan normal, melainkan hanya Kiba yang sering mengejek dan menghina Sakura dan hanya di tanggapi diam oleh Sakura. Tapi akhir-akhir ini mereka nyaris tak bertatapan satu sama lain.

"Bukan urusanku."

"Kau jahat Teme, mereka,'kan temanmu?"

"Aku tak ingat punya teman." Sasuke melangkahkan kakinya meninggalkan Naruto yang berteriak kesal kearahnya.

"Dasar Sasuke-teme!"

Tidak begitu jauh dari Naruto dan Sasuke, ada Kakashi yang berdiri melihat Sakura dan Kiba yang saling mengacuhkan satu sama lain.

"Senpai." Yamato berdiri mendekati Kakashi.

"Kurasa sudah saatnya aku sedikit membantu."


"Hati-hati di jalan ya!"

Sakura berdiri di sudut mejanya dan merapikan tumpukan buku-buku di atas meja, bersiap untuk pulang.

Drrrrrt Drrrrrrt

Handphone Sakura bergetar di dalam saku rok seragam sekolahnya. Merasakan itu Sakura merogo saku roknya dan mengambil Handphone miliknya.

From: Kakashi-sensei

Bahan makanan sudah habis. Tolong belikan di toko dekat stasiun.

P.S: Aku sudah meminta seseorang untuk membantumu.

Sakura menghelakan nafasnya setelah membaca pesan singkat dari Kakashi. Sebenarnya Sakura malas untuk pergi tetapi ini permintaan dari atasan sekaligus Sensei-nya.

Sakura berjalan sendirian di sepanjang koridor, dari jendela Sakura bisa melihat beberapa orang siswa yang sedang berlatih di klub mereka.

Di depan gerbang terlihat seseorang berambut coklat sedang berdiri sambil menyender di dinding dengan memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya.

"Inuzuka?!" teriak Sakura terkejut saat melihat Kiba berdiri di depan gerbang.

"Kenapa kau disini?" tanya Kiba tak kalah terkejut melihat Sakura yanga ada di depannya.

"Kakashi-sensei memintaku untuk membeli bahan makanan yang sudah habis."

"Chi, jadi kau orang yang akan membantu itu?"

Sakura hanya diam dan Kiba pun ikut diam. Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati kesunyian diantara mereka.

Merasa jenuh Kiba melangkahkan kakinya.

"Hey! Apa kau hanya ingin berdiam diri di situ?"

Mendengar teriakan Kiba, Sakura mengikuti Kiba dari belakang dengan jarak 2 meter dari Kiba.

"Chi,"

.

.

.

"Selanjutnya tinggal membeli kream keju di toko Chese's." ujar Sakura sambil membaca daftar belanjaan di Handphone-nya.

Kini Sakura dan Kiba sedang berbelanja sesuai permintaan Kakashi. Sudah hampir saju jam mereka terus berkeliling mencari benda-benda sesuai daftar belanjaan yang di kirim 'kan Kakashi ke pada Sakura. Selama berbelanja tidak ada percakapan yang berarti, Sakura dan Kiba lebih banyak diam tanpa ada yang mau bicara satu sama lain, jika kalau ada perlu mereka lebih suka bergerak sendiri tanpa mengatakan apa pun.

Karena merasa bosan dengan keheningan, Sakura lebih memilih melihat toko-toko yang berjejer rapi sepanjang jalan. Tanpa sengaja Sakura melihat seorang anak kecil yang sedang berlarian di pinggir jalan, orang tua anak itu terlihat sedang sibuk mengobrol dengan seorang ibu-ibu tanpa mempedulikan anaknya yang terus berlari ke arah jalan.

Bruum

Sakura dapat melihat anak itu menyebrangi jalan tanpa peduli lampu penyebrang sedang merah.

"Awas!" Sakura berlari sekencang-kencangnya tanpa mempedulikan belanjaannya yang terjatuh begitu saja, juga teriakan orang-orang yang ditabraknya.

TIN TIN

Mendengar suara klakson mobil, Sakura semakin mempercepat larinya. "Semoga masih sempat." tanpa mempedulikan teriakan orang-orang, Sakura melompat.

Ckiittt

"Kyaaaaaaaaa!"

Deg

"Sakura!" teriak Kiba dan langsung berlari menuju kerumunan orang-orang.

"Sakura!" panggil Kiba berusaha melewati orang-orang.

Mata Kiba membulat, saat melihat Sakura tengkurap dengan seorang anak perempuan dibawahnya.

Merasa mendengar seseorang memanggil namanya, Sakura membuka matanya yang dari tadi tertutup rapat. Sakura cukup terkejut melihat kerumunan orang-orang di sekitarnya yang menatapnya khawatir.

Sakura berusaha berdiri dan duduk bersimpu sedangkan anak perempuan yang di selamatkan Sakura hanya bisa menangis dan ikut duduk di depan Sakura.

"Kau tidak terluka, 'kan adik kecil?" tanya Sakura khawatir sambil mengelus kepala anak perempuan itu mencoba menenangkan tangisannya.

"Hiks... hiks..." anak perempuan itu hanya mengelengkan kepalanya.

"Yumi-chan!" dari arah samping Sakura terdengar suara seorang wanita yang berteriak histeris sambil berusaha menerabas kerumuan orang-orang.

"Kaa-chan!" anak perempuan itu berdiri dan langsung berlari memeluk wanita yang ternyata ibunya.

"Syukurlah kau selamat, Yumi-chan." wanita itu menangis sambil memeluk balik anak perempuannya.

"Terima kasih banyak." wanita itu menatap Sakura dengan air mata yang terus berjatuhan dari matanya.

"Ya, sama-sama." ujar Sakura sambil tersenyum lembut. "Lain kali anda harus lebih memperhatikan putri anda." tambah Sakura masih dengan senyumannya.

Sakura berusaha berdiri tetapi kakinya terasa sakit. Dengan pelan-pelan Sakura berusaha berdiri walau rasa sakit di lututnya kian terasa, dengan usaha yang cukup keras akhirnya ia berhasil berdiri.

"Ayo ucapkan terima kasih Yumi-chan." wanita itu melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong tubuh anaknya ke depan.

Anak perempuan itu menghadap Sakura dengan pipi memerah dan memandang Sakura. "Terima kasih Nee-chan." ujarnya.

"Ya," Sakura menganggukan kepalanya, terus mengusap kepala anak perempuan itu. "Jangan main di jalan lagi ya!" tambah Sakura.

Ibu dan anak itu membungkuk 90 derajat sambil mengucapkan terima kasih dan dibalas Sakura dengan membungkukan badannya juga.

Setelah kepergian ibu dan anak itu, perlahan kerumunan di sekitar Sakura berkurang meninggalkan Sakura yang masih berdiri sambil melambaikan tangannya kepada ibu dan anak yang mulai pergi menjauh.

"Kau benar-benar bodoh!" teriak Kiba yang ada disebelah Sakura. "Apa kau tidak tau seberapa berbahayanya hal yang kau lakukan tadi!" tambahnya.

Sakura yang mendengar teriakkan Kiba hanya bisa mengakat bahunya, apa pedulinya Kiba dengan keadaannya.

"Aku baik-baik saja." jawab Sakura cuek.

"Kau pikir seberapa khawatirnya aku?"

"Apa pedulimu?"

"Kau benar-benar menyebalkan!" Kiba berbalik dan meninggalkan Sakura yang masih berdiri diam di tempatnya.

Kiba bukannya peduli dengan keadaan Sakura, ia hanya tidak ingin Kakashi memarahinya atau pun mendengar ocehan Naruto jika sesuatu terjadi pada Sakura.

Merasa Sakura tidak mengikutinya, Kiba membalik badannya untuk melihat Sakura. Ditempat yang sama Sakura masih berdiri sambil memperhatikan Kiba.

Dengan kesal Kiba mendekati Sakura yang masih berdiri diam di tempat.

"Ayo cepat pulang!" teriak Kiba kesal.

"Aku tidak bisa bergerak."

"Hah?" tanya Kiba tidak mengerti, suara Sakura terlalu kecil.

"Kakiku sakit, aku tidak bisa bergerak." ulang Sakura sambil menolehkan kepalanya kesamping, tidak mau melihat Kiba yang berdiri di depannya.

Kiba diam sejenak dan melirik lutut Sakura, dari rok Sakura yang cukup panjang sampai menutupi lututnya, Kiba bisa melihat noda merah darah menempel disana.

Kiba menghelakan nafasnya dan menyerahkan sekantong penuh belanjaan yang tadi di kumpulkannya, karena Sakura dengan seenaknya saja melempar belanjaan saat ingin menolong anak perempuan tadi. Dan berjalan ke belakang Sakura.

"Eh?!" Sakura yang tidak mengerti hanya menerima sekantong belanjaan yang di berikan Kiba padanya.

"Kyaaaaaaaaa!" Sakura berteriak keras saat dirasakanya Kiba mengendongnya Ala Bridal Styel. "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Sakura panik saat Kiba mulai berjalan.

"Diamlah! Kau akan jatuh, jika terus berontak seperti itu!" ujar Kiba tanpa mempedulikan teriakan Sakura yang minta di turunkan.

Dengan santainya Kiba menggendong Sakura tanpa mempedulikan tatapan iri dari wanita-wanita yang melihat mereka. Sakura yang sudah lelah berteriak dan berontak hanya bisa pasrah, semakin ia berontak untuk dilepaskan maka semakin sakit pula kakinya.

Kiba terus menggendong Sakura menuju sebuah taman bermain yang tidak begitu jauh dari pertokoan Konoha. Saat dilihatnya di tengah taman ada bangku panjang, Kiba berjalan kesana dan meletakan Sakura untuk duduk di bangku itu.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Sakura panik saat tiba-tiba Kiba berlutut di depannya dan menyingkap roknya sebatas paha.

"Diamlah, aku hanya ingin membersihkan lukamu." ucap Kiba.

Kiba mengambil sebotol air mineral dari kantong belanjaanya dan menumpahkan air ke luka Sakura untuk membersihkannya.

"Sa-sakit..."

"Tahan, rasa sakitnya tidak akan lama." ucap Kiba dan kembali memasukan botol air mineral kedalam kantong belanjaanya.

"Inuzuka!" panggil Sakura panik saat Kiba mendekatkan wajahnya kelutut Sakura. "A-apa yang mau kau laku-" ucapan Sakura terhenti saat dirasakannya udara hangat yang di tiupkan Kiba pada luka Sakura.

Setelah dirasa cukup, Kiba berdiri dan mendudukkan dirinya disebelah Sakura.

"Kau pikir aku mau apa? Mengintipmu?" ucap Kiba mengejek yang membuat wajah Sakura memerah karena malu.

Untuk sesaat mereka terdiam, hanya suara dedaunan yang terdengar saling bergesek karena tertiup angin.

"Kau sangat menyusahkan, apa hobimu itu membuat orang lain susah?" tanya Kiba tanpa menatap Sakura di sampingnya, pandang Kiba tertuju pada kolam pasir yang berada tidak jauh dari tempatnya dan Sakura duduk.

Mendengar pertanyaan Kiba, Sakura mendengus. "Kalau iya, kenapa? Kau juga suka seenaknya!" ujar Sakura masih kesal.

"..." Kiba hanya diam tak membalas perkataan Sakura.

"Kau seenaknya saja mengatai orang lain menyusahkan dan seenaknya saja menendang Shiro!" ucap Sakura, masih jelas di ingatannya Kiba yang menendang Shiro. "Padahal Shiro begitu menyukaimu." Sakura menundukan kepalanya.

"Gara-gara kau Shiro pergi! Aku sudah tidak pernah melihatnya lagi sejak malam itu." tanpa bisa ditahan air mata Sakura menetes saat mengingat Shiro, anjing malang yang selalu di temuinya saat pulang dari cafe.

Sudah tiga hari ini Sakura tidak melihat Shiro di bawah bohon Momoji seperti biasanya, apa dia sakit, apa sesuatu terjadi? Pertanyaan-pertayaan itu selalu muncul dikepala Sakura saat mengingat Shiro.

"Akamaru..." ucap Kiba yang membuat Sakura menolehkan kepalanya ke arah Kiba. "Namanya Akamaru, bukan Shiro." lanjut Kiba.

"..." Sakura hanya diam, memberikan waktu untuk Kiba jika ingin berbicara.

"Dia anjingku namanya Akamaru."

"Anjingmu?"

"Ya, setidaknya sampai dua tahun yang lalu."

"Kalau dia anjingmu, kenapa kau menendangnya?"

"Kau tidak akan mengerti perasaanku." Kiba menengadakan kepalanya keatas melihat awan yang bergerak beriringan di langit yang cerah.

"Aku memang tidak mengerti perasaanmu tapi..." Sakura menggantung kalimatnya membuat Kiba menolehkan kepalanya ke arah Sakura. "Aku tau kau dan Shiro, maksud ku Akamaru memiliki ikatan yang kuat." lanjut Sakura.

Kiba hanya mendengus mendengar ucapkan Sakura. "Ikatan kau bilang?" ucap Kiba meremehkan perkataan Sakura.

"Ya. aku tau dari Akamaru, walaupun kau menyakitinya, tetapi Akamaru tetap berlari mengejar mobilmu yang pergi meninggalkannya."

"Akamaru mengejar mobilku?"

"Malam itu, setelah kau pergi Akamaru juga pergi mengejarmu."

Kiba terdiam mendengar perkatan Sakura, jadi malam itu saat ia pergi Akamaru mengejar mobilnya yang melaju dengan kecepatan penuh.

"Sejak itu aku tidak pernah melihatnya lagi." lanjut Sakura.

Kiba kembali menolehkan kepalanya kearah kotak pasir di depannya. Untuk sesaat keheningan kembali menyelimuti mereka.

"Aku dan Akamaru sudah bersama sejak kecil." ucap Kiba tiba-tiba membuat Sakura menolehkan kepalanya menghadap Kiba yang masih tetap fokus pada kotak pasir di depannya.

"Kami selalu bersama. Di mana ada kau, di situ ada Akamaru." Kiba tertawa mengingat kenangannya bersama Akamaru saat ia masih kecil.

"Tetapi dua tahun yang lalu ada kerabat jauhku yang mengambil Akamaru."

"..." Sakura hanya diam membiarkan Kiba melanjutkan ceritanya.

"Aku sangat marah dan berusaha mengambil kembali Akamaru, tetapi aku sangat terkejut saat mengetahui ternyata Akamaru sedang sakit dan yang bisa menyembuhkannya hanya kerabat jauhku itu."

"Aku yang mengetahuinya tidak bisa melakukan apa-apa dan menyerahkan Akamaru kepada mereka."

"Tentu saja setelah kepergian Akamaru, aku merasa ada yang kurang dari diriku dan semenjak itu aku mulai melakukan hal-hal bodoh seperti berkelahi dan sebagainya."

"Untungnya aku bertemu dengan Naruto dan menawariku pekerja di cafe milik Kakashi-sensei. Walau awalnya aku melakukannya dengan setengah hati hanya untuk membuatku sibuk dan melupakan Akamaru, tetapi lama kelamaan aku mulai menikmatinya."

"Bekerja bersama mereka sangat menyenangkan, dan tiba-tiba kau datang merusak semua yang sudah kami bangun." ucap Kiba sambil melirik Sakura yang ada disampingnya, dapat dilihatnya tubuh Sakura menegang mendengar ucapannya.

Sakura menundukan kepalanya mendengar ucapan Kiba. "Maaf." ujar Sakura lirih.

Melihat Sakura yang tertunduk sedih Kiba tersenyum, ada kebahagian tersendiri mengganggu gadis di sebelahnya.

"Awalnya kupikir begitu..." ucap Kiba. "Tetapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu yang mengganggu itu." lanjut kiba.

"Dan entah sejak kapan aku mulai menganggapmu bagian dari cafe dan sepertinya bukan hanya aku yang merasa begitu."

"Tetapi, beberapa hari yang lalu saat aku melihatmu memberi makan Akamaru, muncul perasaan iri."

"Kenapa Akamaru mau kau beri makan, tetapi dariku tidak mau?"

"Kau melihatku memberi makan Akamaru?" tanya Sakura penasaran.

"Ya, aku melihatnya dan juga malam saat kau memberikan payung kepada Akamaru, sehingga besoknya kau sakit." jawab Kiba.

"Aku kesal, karena kupikir Akamaru tidak mengenaliku lagi. Sampai malam itu aku memutuskan untuk menemuinya dan kau tiba-tiba muncul."

"Maaf. Aku tidak tau saat itu keberadaanku mengganggu."

"Tidak. Itu bukan salahmu, aku hanya merasa kesal karena Akamaru lebih senang melihat keberadaanmu dan tanpa sadar aku menumpahkan semua perasaan kesal ku pada kau dan Akamaru."

"Tetapi menurutku dari pada keberadaanku, Akamaru lebih senang melihatmu. Buktinya setiap aku bertemu dengan Akamaru dia hanya menjilati tanganku, tetapi ketika kau datang Akamaru berdiri dan mengibaskan ekornya senang." ucap Sakura sambil tersenyum kearah Kiba.

Mendengar ucapan Sakura membuat Kiba terdiam, sejenak ingatan saat ia menendang Akamaru terlintas di kepalanya.

"Sial!" teriak Kiba sambil menengelamkan kepalanya di antara kedua lututnya.

"Jika ingin menyesal itu sudah terlambat." ucap Sakura. "Tetapi masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya." lanjut Sakura sambil tersenyum manis.

Kiba yang menundukan kepalanya kembali menegakkan kepalanya dan mulai berdiri meninggalkan Sakura yang menatapnya bingung.

"Aku pergi membeli minuman. Tunggulah disini!" ucap Kiba yang hanya dibalas anggukan oleh Sakura.

Setelah kepergian Kiba, Sakura meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ditarik hembuskan nafasnya sejenak untuk menetralkan detak jantungnya. Baru kali ini Sakura berbicara panjang lebar dengan Kiba bahkan topiknya menyangkut hal yang cukup pribadi.

"Jika kau tidak membagi milikmu dengan orang lain, bagaimana mungkin orang lain akan membagi miliknya dengan mu."

Sakura tersenyum mengingat perkataan Kakashi beberapa hari yang lalu. "Terima kasih, Sensei." ucap Sakura dalam hati.

Sreek

Mendengar suara gesekan daun membuat Sakura menolehkan kepalanya. Kedua bola mata Sakura membulat saat melihat sesuatu yang muncul dari semak-semak.

.

.

.

Klang

"Apa yang telah aku lakukan?" ucap Kiba sambil menyederkan kepalanya ke mesin penjual minuman otomatis yang tidak jauh dari tempatnya dan Sakura duduk. "Kenapa aku menceritakannya pada gadis menyusahkan itu." lanjut Kiba.

Deg

Tiba-tiba jantung Kiba berdebar saat membayangkan senyuman Sakura tadi.

"Apa yang telah terjadi padaku?" Kiba menarik rambutnya frustasi. Rasa dadanya sesak saat berpikir harus menemui Sakura yang menunggu, tetapi perasaan senang juga memenuhi rongga dada Kiba saat membayakan sosok Sakura yang menunggunya.

"Haaa~" Kiba menghembuskan nafasnya berusaha menghilangkan perasaan aneh yang memenuhi hatinya.

Diambilnya dua kaleng jus dari dalam mesin otomatis itu dan mulai melangkahkan kakinya kembali ke tempat Sakura.

"Kyaaaaaaaaaaaa!"

Deg

Suara teriak Sakura mengagetkan Kiba yang tanpa sadar menjatuhkan dua kaleng minuman ditangannya. "Sakura!" teriak Kiba dan mulai berlari sekuat tenaga ke tempat Sakura.

Kiba terus berlari dengan kecepatan maximal menuju tempat Sakura. Perasaan takut memenuhi hati Kiba saat mendengar teriakan Sakura, takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.

"Sakura!" teriak Kiba saat sudah sampai di tempat Sakura menunggu.

Kedua bola mata Kiba membulat saat di lihatnya Sakura tertidur di tanah dengan seekor anjing besar berwarna putih menjilati wajahnya.

"Hentikan! Geli Akamaru." ucap Sakura sambil berusaha menghentikan Akamaru yang terus menjilati wajahnya.

Kiba menghembuskan nafasnya lega saat melihat gadis merah muda itu baik-baik saja, rasanya seperti beban besar sudah hilang dari pundaknya. Kiba melangkahkan kakinya mendekat kearah Sakura dan Akamaru, tidak lupa di ambilnya kacamata besar Sakura yang terjatuh karena Akamaru terus menjilati wajahnya.

"Akamaru!" mendengar panggilan Kiba, Akamaru menghentikan jilatannya dan berlari menuju Kiba yang sudah berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya.

"Guk... guk!" Kiba memeluk Akamaru sambil mengelus-elusnya sayang.

"Maaf Akamaru, mulai sakarang aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." ucap Kiba, setetes air mata jatuh dari matanya dan dibalas gonggongan dari Akamaru.

Drrrrt Drrrrt

Suara getaran Handphone Kiba membuatnya merogo saku celananya dan mengeluarkan sebuah Handphone Smartphone hitam keluaran terbaru, masih sambil mengelus-elus bulu Akamaru.

"Hallo, ada apa Nee-chan?"

"Ya, dia bersamaku."

"Apa? Kau serius?"

"Benarkah?"

"Terima kasih Nee-chan."

Kiba kembali memasukan Handphone-nya kedalam saku celananya. "Kau dengar sobat, mulai sekarang kami akan memeliharamu lagi." ucap kiba yang dibalas gonggongan oleh Akamaru.

"Ada apa?" tanya Sakura sambil berjalan tertatih-tatih mendekati Kiba.

Melihat Sakura mendekatinya Kiba berdiri. "Penyakit Akamaru sudah sembuh dan mulai sekarang kami akan kembali memeliharanya." ucap Kiba senang sambil tersenyum kearah Sakura dan di balas senyuman oleh Sakura.

Drrrrrrt Drrrrrt

Kali ini Handphone Sakura yang bergetar membuat pemiliknya mengeluarkan dari saku roknya.

From: Kakashi-sensei

Kenapa lama sekali? Apa terjadi sesuatu?

Setelah membaca pesan dari Kakashi, Sakura kembali memasukan Handphone-nya ke saku dan menatap Kiba dan Akamaru bergantian.

"Ada apa?"

"Kakashi-sensei mencemaskan keadaan kita. Dia bertanya kenapa kita lama sekali." jelas Sakura.

"Kalau begitu. Ayo kita kembali!" ucap Kiba sambil mengambil belanjaan yang masih tertinggal di bangku dan mulai melangkah pergi bersama Akamaru.

"Inuzuka, tunggu aku!" ucap Sakura.

"Kiba, panggil aku Kiba."

Sakura mengangkat alisnya tidak mengerti, bukannya dulu Kiba memarahinya saat Sakura memanggil nama belakangnya.

"Kita rekan kerja. Sudah sepantasnya memanggil dengan nama belakang seperti kata Kakashi-sensei." ucap Kiba sambil menahan rona merah diwajahnya. "Ayo cepat Sakura!" lanjut Kiba.

Sakura tersenyum mendengar perkataan Kiba dan berjalan perlahan menghampirinya yang masih menunggu di dekat pagar bersama Akamaru.

"Ya, Kiba."

.

.

.

"Jadi kalian lama karena terjadi insiden tidak terduga?" tanya Kakashi sambil melirik tajam Kiba.

"Maaf Sensei, ini semua salah ku. Tolong jangan salahkan, Kiba!" pinta Sakura sambil mengobati lututnya dibantu Yamato.

"Tidak Sensei ini semua salah ku yang tidak bisa menjaga, Sakura" ucap Kiba.

"Sakura? Kiba?" Kakashi mengangkat alisnya saat mendengar panggilan nama mereka.

"Sakuraaaa-chaaaan!" suara teriak Naruto membuat semua orang yang ada di dapur itu menutup telinga mereka.

"Kecilkan suaramu, Baka!" teriak Kiba.

"Sakura-chan apa kau baik-baik saja? Apa Kiba melakukan sesuatu padamu?" tanpa mempedulikan teriak Kiba, Naruto menghampiri Sakura yang duduk di kursi dengan seragam pelayannya.

"Aku baik-baik saja, Naruto" jawab Sakura.

"Tidak, kau tidak baik-baik saja. Lihat lukamu? Apa yang sudah kau-"

"Guk... guk!"

Naruto menghentikan kalimatnya saat melihat Akamaru yang mengeram marah kearahnya dan berlari bersembunyi kebelakang Kakashi.

"Ke-kenapa ada anjing disini, Sensei?" tanya Naruto takut.

"Dia anjingku. Apa masalah buatmu?" tanya Kiba balik sambil melirik Naruto tajam.

"Bukan begitu, Kiba. Aku hanya terkejut ada anjing di dalam cafe ini."

Kakashi berusaha menenangkan Kiba dan Akamaru yang sepertinya ingin menerkam Naruto. "Tidak apa-apa Naruto, sebenarnya..."

.

.

"Cherry-chan, kau terluka?" tanya salah seorang tamu yang melihat lutut Sakura yang di perban.

"Tidak apa-apa tuan, aku hanya terjatuh tadi."

"Tidak... tidak. Kau harus segera mengobatinya, jika tidak bekas lukanya akan tertinggal di kulit mulusmu." ucap tamu itu sambil berusaha menyentuh paha Sakura yang terbuka karena Sakura hanya memakai stocing sebatas betis. Mencari kesempatan dalam kesempitan?

"Guk...guk!" suara gonggongan anjing menghentikan tangan tamu itu yang mau menyentuh paha Sakura.

"A-anjing!" teriak tamu itu saat melihat Akamaru yang sudah berdiri sambil mengeram di sebelah Sakura.

"Mulai sekarang, Cherry akan di jaga oleh Akamaru. Jika kalian ingin menggodanya lebih baik hentikan saja sekarang! Aku tidak menjamin apa yang akan dilakukan anjingku." ucap Kiba sambil menyeringai kearah para tamu itu.

"Maaf." ucap mereka takut dan kembali duduk.

Sakura tersenyum kearah Kiba dan mengelus kepala Akamaru lembut. "Terima kasih sudah menolongku, Akamaru." ucap Sakura.

Mulai sekarang daftar nama di kontak Handphone Sakura akan bertambah menjadi 4 dan Sakura akan mendapatkan teman baru, seekor anjing putih besar bernama Akamaru.

TBC


Author Note:

Hallo! Aku kembali dengan Chapter 4 *melambai*

Yaps, Chapter ini khusus KibaSaku, bagimana? apa feel-nya kerasa? Aku masih kurang pengalaman untuk buat adegan sweet dan deskripsi perasaan *pundung*

Maaf yang sebesar-besarnya jika ceritanya jadi semakin gaje dan gak jelas. belum lagi MissTypo yang bertebaran.

Mulai Chapter ini dan seterusnya akan memasuki bagian Sakura-centeric, jadi tiap Chapter-nya pair Sakura akan berbeda-beda hehehehe

Balasan Review liat PM masing-masing ya... dan yang gak Login aku balas di sini.

Koibito cherry: Bagaimana Chapter ini, apa masih kurang panjang?

hohohoho tenang, semua pair itu akan muncul satu-satu, jadi sabar ya ;)

apa ini kurang kilat ya..? dan terima kasih atas Review dan sudah menyempatkan diri untuk membaca. :D

sasusaku kira: Aku juga suka Sakura yang direbutin banyak cowok ganteng hehehehe

ini Chapter 4 semoga gak mengecewakan dan terima kasih sudah menyempatkan diri untuk baca dan Revie Fict gaje ini XD

Aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Reader yang sudah membaca dan meninggalkan Review, untuk Silent Reader juga terima kasih sudah membaca Fict ini dan jika berkenan silakan tinggalkan Review agar aku jadi semakin semangat ngelanjutinya hehehehe XD

Terakhir Review please...!

Salam hangat,

Kimeka Reikyu

Palembang, 4 April 2013