Clover's Cafe

Naruto © Masashi Kisimoto

Ranted: T

Gender: Drama, Romance, Humor(?)

Story © Kimeka ReiKyu

Warrnig: Au, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

[Sakura-Centric]

Don't Like, Don't Read!


"Huaaaa~ capek sekali!" teriak Naruto yang sedang merenggangkan otot-ototnya.

"Kau mengeluh terus Naruto. Dasar pemalas." ujar Kiba sambil mendelik kearah Naruto, yang menurutnya berisik itu.

"Kau tidak mengerti Kiba. Aku ini sangat lelah." Naruto mengembungkan pipinya kesal, tidak terima perkataan Kiba yang mengejeknya.

Semua orang yang sedang bersantai di dapur hanya menatap Naruto kesal karena tampak sok imutnya itu.

"Kau tidak hanya bodoh tetapi juga sangat pemalas, Naruto." Sai menimpali perkataan Kiba dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.

"Benarkan kataku?" Kiba menjulurkan lidahnya ke arah Naruto. "Sai saja sependapat denganku." tambahnya.

"Teme, katakan sesuatu?" Naruto mendekati Sasuke yang berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya. "Bilang, aku ini rajin!" mohon Naruto.

Sasuke mendengus melihat tampang Naruto yang lagi-lagi di buat seimut mungkin untuk mendapat pembelaan dari Sasuke.

"Bodoh."

Tuing

Perempatan siku muncul di dahi Naruto saat mendengar perkataan Sasuke, yang bukannya membelanya tetapi malah ikut menghinanya.

"Huaaaaaaa Sakura-chan!" Naruto berlari kearah Sakura, berusaha meminta pembelaan dari Sakura. "Mereka jahat!" teriak Naruto sambil menunjuk wajah Kiba, Sai dan Sasuke.

Sakura tertawa melihat kekonyolan laki-laki di depannya. Mereka sering melakukan hal-hal yang menurut Sakura lucu, seperti sekarang ini misalnya.

"Itu karena kau terus-terusan mengeluh, Naruto."

"Bahkan Sakura-chan mengataiku pemalas." Naruto memasang tampang syok yang di buat-buat, yang sukses membuat Sakura tertawa.

"Guk... guk!" Akamaru yang duduk di sebelah Sakura menggonggong membenarkan perkataan Sakura.

"Apa sih, bahkan Akamaru juga ikut mengejekku."

"Itu semua salahmu sendiri, bodoh." ucap Kiba.

"Awas kau Kiba-"

"Ada apa ini?" tanya Kakashi yang tiba-tiba datang.

"Kakashi-sensei!" teriak Naruto mendekati Kakashi.

"Mereka semua mengejek ku pemalas, Sensei!" ujar Naruto mencari pembelaan.

Kakashi hanya tersenyum mendengar perkataan Naruto. "Kau harus lebih rajin lagi, Naruto!" ucap Kakashi.

Naruto mendengus kesal mendengar perkataan Kakashi, habis sudah orang-orang yang akan membelanya.

"Maaf, aku mengumpulkan kalian semua disini." ucap Kakashi berusaha menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. "Aku ingin membahas masalah Event Hanami yang akan kita gelar kurang dari dua minggu ini." lanjutnya.

Semua orang diam mendengarkan Kakashi, walau sebagian terlihat seperti ogah-ogahan.

"Event Hanami akan dilangsungkan selama satu minggu dan tema yang akan kita pakai tahun ini adalah Haru No Sakura." mendengar perkataan Kakashi, semua orang langsung mengarahkan pandangannya ke arah Sakura yang memasang tampang bingung.

"Aku?" tanya Sakura sambil menunjuk dirinya.

"Ya. Ide dasarnya terinspirasi darimu, Sakura." Kakashi menganggukan kepalanya yang di balas tatapan bingung oleh Sakura. "Untuk itu, aku membutuhkan bantuan dari kalian semua." ujar Kakashi dengan tampang serius.

"Bantuan kami Sensei. Untuk apa?" tanya Kiba.

"Aku sudah membagi tugas untuk kalian semua menjadi beberapa kelompok." Kakashi mengeluarkan sebuah Tablet dan menekan-nekan layarnya.

"Pertama. Yamato dan Choji yang akan mengurus menu baru untuk Event berdasarkan tema."

Yamato dan Choji yang namanya disebut hanya menganggukan kepala mereka mengerti. Sudah tugas mereka mengurus masalah menu, tidak diminta pun mereka tetap akan melakukannya.

"Kedua. Shikamaru dan Neji yang akan mengurus masalah dekorasi yang akan dipimpin oleh Rin sebagai designer."

"Merepotkan saja." ucap Shikamaru sambil menguap bosan, sedangkan Neji yang berdiri di sebelahnya hanya bergumam setuju atas tugas yang diberikan Kakashi.

"Ketiga. Aku, Gaara dan Sasuke yang akan mengurus masalah perlengkapan yang di butuhkan selama Event."

Gaara dan Sasuke hanya diam tak berkomentar atas tugas yang di berikan Kakashi. Entahlah, apakah mereka mendengar atau tidak.

"Terakhir. Naruto dan Sakura yang akan meminta izin kepada Walikota untuk Event ini."

"Tunggu dulu, Sensei! Kenapa harus aku?" tolak Naruto.

"Tugas ini khusus ku buat untukmu, Naruto." ucap Kakashi sambil mengalihkan pandangnya dari Tablet di tangannya yang dari tadi ditatap serius oleh Kakashi.

"Kau bisa menyuruh orang lain! Misalnya Sai?" tanya Naruto protes.

"Kau tidak suka satu kelompok denganku, Naruto?" tanya Sakura dengan raut wajah yang terlihat sedih, apa sebegitu buruknya satu kelompok dengannya.

"Bu-bukan Sakura-chan!" Naruto mengangkat tangannya sambil mengibas-ngibaskannya. "Aku senang bisa satu kelompok dengan Sakura-chan, hanya saja aku tidak suka dengan tugasnya." lanjut Naruto takut, karena di sebelah Sakura, Akamaru telah bersiap-siap menerkam Naruto yang sudah membuat Sakura sedih di tambah Deathglare dari Kiba.

"Aku sudah memperhitungkan semuanya. Tidak ada yang boleh protes!" ucap Kakashi tegas sambil melirik Naruto tajam. "Sai sudah punya tugasnya sendiri, yaitu membuat lukisan yang akan di pajang saat Event." lanjut Kakashi.

"Baiklah, Sensei!" ucap Sai sambil tersenyum seperti biasanya.

"Tugasnya akan mulai di kerjakan besok dan khusus untuk Naruto dan Sakura, kalian besok harus pergi menemui Walikota di kantornya saat pulang sekolah." perintah Kakashi dengan mata yang begitu tegas seakan berkata 'Aku tidak terima penolakan!' yang di tujukan kepada semua orang terutama Naruto.

"Kami mengerti, Sensei!" ucap sebagian orang di sana.


Pagi hari yang cerah di musim semi kota Konoha. Semua orang mulai melakukan rutinitas mereka seperti biasa, para orang dewasa yang sibuk bekerja untuk mencari uang, para pedagang yang mulai menjajakan dagangan mereka, atau pun remaja-remaja berseragam yang bersiap memulai hari mereka dengan belajar. Tak terkecuali Sakura, gadis berambut merah muda panjang yang di ikat asal-asalan dengan kacamata besar menutupi setengah wajahnya.

Sakura berjalan sendirian di tengah orang-orang yang mengenakan pakaian yang sama dengannya. Saat semua orang di sekitarnya sibuk membicarakan hal-hal yang tidak dimengerti Sakura, Sakura hanya berjalan dalam diam sambil menundukan kepalanya memikirkan kejadian kemarin.

"Kenapa Naruto tidak menyukai tugas yang diberikan, Kakashi-sensei?" pertanyaan seperti itu terngiang terus di kepalanya saat mengingat respon Naruto kemarin. Ya, Naruto yang biasanya terlihat ceria dan ramah, akan berubah 180 derajat jika sudah menyangkut tentang keluarganya.

"Sakuraaaaaa!" suara teriak dari belakang Sakura mengagetkannya.

"Ino!" panggil Sakura saat melihat siapa orang yang sudah meneriakinya pagi-pagi.

"Aku memanggilmu dari tadi, tetapi kau tidak membalasku." Ino mengerucutkan bibirnya kesal dengan Sakura yang tidak mendengar teriakannya. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ino penasaran melihat Sakura yang pagi-pagi sudah melamun.

"Bukan masalah penting Ino." ucap Sakura berusaha mengelak dari pertanyaan Ino.

Ino tentu saja menyadari perubahan sikap Sakura akhir-akhir ini.

"Kau itu akhir-akhir ini aneh sekali Sakura?"

"Apanya yang aneh?"

"Terkadang kau terlihat sangat kesal, besoknya sedih, besoknya lagi marah-marah dan apa kau ingat? Beberapa hari yang lalu kau pingsan Sakura. Dan sekarang kau melamun pagi-pagi. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" pertanyaan Ino yang sudah dipendamnya selama ini keluar semua.

"Bukan masalah besar, Ino" Sakura berusaha tersenyum untuk mengurangi kekhawatiran Ino yang terkadang berlebih-lebihan itu. "Hanya sedikit masalah dengan pekerjaan." tambah Sakura.

"Kau jangan terlalu memaksakan diri, Sakura! Jika kau lelah kau bisa berhenti."

"Tidak Ino, aku tidak akan berhenti sebelum sampai akhir." ucap Sakura mantap.

"Huft, khas Haruno Sakura sekali." Ino mengembungkan pipinya yang terlihat cantik di mata Sakura. Ya, bagi Sakura semua ekspresi yang diperlihatkan Ino sangat cantik.

.

.

"Baiklah anak-anak sampai di sini pembelajaran kita hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas yang Sensei berikan!" ujar Kakashi. Ini adalah jam pelajaran terakhir yang di ajar oleh Kakashi sebagai guru Bahasa Inggris.

"Haruno, jangan lupa tugasmu!" ucap Kakashi memperingati Sakura. Bukan tugas pekerjaan rumah yang Kakashi beri tadi, melainkan tugas lain sebagai pelayan di cafe, yaitu tugas meminta tanda tangan persetujuan dari Walikota bersama Naruto.

"Saya mengerti, Sensei." jawab Sakura.

"Sa-sakura-san kau sibuk sekali, ya?" tanya Hinata.

"Iya, akhir-akhir ini aku sering mendapat tugas lebih dari Kakashi-sensei." Sakura tersenyum ke arah Hinata, senyuman yang memiliki arti tersendiri.

"Ka-kalau begitu bersemangatlah!"

"Tentu saja, terima kasih Hinata."

"Hinata-sama sudah saatnya pulang." dari depan pintu terdengar suara seorang laki-laki dewasa yang menggunakan jas.

"Sakura-san aku pulang dulu." pamit Hinata dan berjalan menghampiri laki-laki yang merupakan supir pribadinya.

"Enaknya jadi Hinata. Pulang pergi diantar pakai mobil dan pasti menggunakan pakaian bagus." ucap Sakura.

"Kenapa kau tidak bilang padaku Sakura-chan? Aku bersedia mengantar jemputmu dengan mobilku, kok!" ucap Naruto yang sudah berdiri di samping Sakura sambil tersenyum.

"Jangan menghayal! Jika ada yang akan menjemput dan mengantar pulang Sakura, itu sudah pasti aku!" di belakang Naruto terlihat Kiba yang sedang merapikan buku-bukunya yang berserakan di atas meja.

"Sakura? Sejak kapan kau memanggil Sakura-chan dengan, Sakura?" tanya Naruto sambil memincingkan matanya penuh selidik kearah Kiba.

Wajah Kiba memerah mendengar pertanyaan Naruto. "Bu-bukan urusanmu!" ucapnya gugup, sambil membuang muka ke arah lain.

"Mencurigakan?"

"Sudahlah Naruto. Cepatlah pergi, kerjakan tugasmu yang sangat sulit itu!" ucap Shikamaru yang sudah jengah dengan tindakan konyol Naruto dan Kiba.

"Huh, tidak disuruh pun aku akan pergi. Ayo, Sakura-chan!" Naruto kesal mendengar ucapan Shikamaru yang terdengar meremehkannya. Bukan karena dia menolak tugas Kakashi berarti tugas itu sulit baginya.

"Dasar bodoh." ucap Sasuke yang melihat reaksi Naruto yang begitu mudah dipancing.

~~Clover's Cafe~~

Kantor Walikota Konoha. Itulah tulisan besar yang dibaca Sakura saat masuk ke dalam gedung berlantai lima ini.

Kini Sakura dan Naruto sedang menuju meja resepsionis untuk meminta izin bertemu dengan Walikota yang super sibuk sesuai dengan perintah Kakashi. Sakura hanya diam dan cukup terpesona saat melihat orang-orang yang mengenakan seragam kerja mereka berlalu lalang, sedangkan Naruto di sebelahnya terus-menerus mengeluh sambil melipat tangannya ke belakang kepala.

"Naruto tunggu di sini! Aku yang akan bicara dengan nona resepsionis itu." perintah Sakura yang di balas Naruto dengan mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju kursi yang terlihat kosong di pojok ruangan.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis ramah kepada Sakura.

"Bisakah saya bertemu dengan Bapak Walikota? Saya ingin meminta tanda tangannya untuk Event Hanami yang akan di adakan di tempat saya bekerja." jelas Sakura sopan.

"Apa sebelumnya anda sudah membuat janji?"

"Janji?" tanya Sakura bingung. Mana Sakura tahu apakah Kakashi sudah membuat janji sebelumnya. "Saya tidak tahu. Saya hanya diperintahkan atasan saya untuk meminta tanda tangan dari Bapak Walikota."

"Kalau begitu, anda tidak bisa menemui Bapak Walikota jika belum membuat janji sebelumnya."

"Tapi ini hanya sebentar. Tolong izinkan saya bertemu!" mohon Sakura, dia sudah datang jauh-jauh mana mungkin pulang dengan tangan kosong.

"Maaf. Bapak Walikota sedang sibuk, anda tidak dapat menemuinya."

"Sebentar saja-"

"Sudahlah Sakura-chan! Kita pulang saja!" ucap Naruto memotong perkataan Sakura dan berjalan mendekatinya. "Biarkan Kakashi-sensei yang melakukannya sendiri." lanjutnya.

"Ah! Anda Namikaze Naruto, putra Walikota." ucap resepsionis yang terkejut melihat Naruto. "Anda seharusnya mengatakan, bahwa anda yang ingin bertemu." lanjut resepsionis itu.

Sakura mengangkat alisnya bingung melihat reaksi resepsionis itu. "Sikapnya beda sekali dengan saat menghadapi ku." pikir Sakura.

"Tentu saja anda bisa bertemu dengan ayah anda, Namikaze-sama." ucap resepsionis.

"Aku tidak ingin bertemu-"

"Terima kasih. Bisakah kami menemuinya sekarang?" Sakura memotong perkataan Naruto sebelum Naruto berhasil menyelesaikan kalimatnya.

Resepsionis itu diam sejenak dan memandangi Naruto dan Sakura bergantian. "Tentu saja. Silakan ikuti saya!"

Sakura tersenyum senang sedangkan Naruto di sebelahnya hanya mendengus.

"Sttttt... Naruto?" bisik Sakura yang ada di sebelah Naruto. "Enak ya, jadi anak Walikota?" tanya Sakura.

Mendengar pertanyaan Sakura, Naruto hanya diam dan pandangnya lurus ke depan. "Tidak juga." jawab Naruto singkat.

Sakura tidak bisa berkata apa-apa untuk sejenak ia bisa melihat perubahan ekspresi Naruto saat menjawab pertanyaannya. Ekspresi kecewa dan juga sedih.

"Ini ruangnya. Jika ada perlu, anda bisa langsung hubungi saya." ucap resepsionis itu ramah dan mulai pergi meninggalkan Naruto dan Sakura yang masih berdiri di depan pintu.

Tok Tok

Setelah menghela nafasnya sejenak, Sakura mengetuk pintu bercat coklat di depannya.

"Silakan masuk!" dari dalam terdengar suara berat yang sangat lembut, membuat Sakura semakin gugup.

Cklek

Perlahan Sakura membuka pintu bercat coklat di depannya. "Ma-maaf mengganggu." ujar Sakura takut-takut saat mulai masuk ke dalam rungan itu.

Di depan sebuah meja yang di penuhi tumpukan dokumen terlihat seorang laki-laki dewasa tampan yang masih terlihat muda, rambut pirangnya mencuat keatas menambahkan kesan muda untuknya dan di balut jas hitam rapi yang sedang tersenyum ramah kearah Sakura, senyuman ramah yang mirip dengan Naruto.

"Tampan sekali!" teriak Sakura dalam hati dengan wajah memerah saat melihat laki-laki di depannya, untuk sesaat Sakura melupakan tugasnya karena terhipnotis Blue Sappir seperti lautan dalam yang sedang memadang Emerald Sakura di balik kacamata jadulnya.

Naruto melirik Sakura disebelahnya. "Ehem~" deheman Naruto menyadarkan Sakura dari pesona laki-laki dewasa di depannya.

"Naruto!" teriak laki-laki tampan itu saat melihat Naruto yang berdiri malas di sebelah Sakura. "Kenapa tidak memberitahu Too-chan jika ingin kemari. Ada perlu apa?" tanyanya terkejut.

"Bukan aku yang ada perlu Too-chan. Tetapi gadis di sebelahku." Naruto melirik Sakura yang berdiri gugup di sebelahnya.

Laki-laki tampan itu mengerutkan alisnya dan mengikuti arah pandang Naruto.

"Ah! Maaf atas ketidak sopanan ini nona!" laki-laki itu berdiri dan mendekati Sakura. "Silakan duduk!" lanjutnya saat sudah sampai di depan Sakura dan menuntunnya untuk duduk di bangku yang ada di depan meja kerjanya.

"Maaf mengganggu anda." Sakura membungkukkan badannya memberi hormat pada laki-laki di depannya.

"Tidak apa-apa, aku senang Naruto datang bersama temannya." laki-laki itu tersenyum ramah yang membuat jantung Sakura berdebar-debar. "Owh, betapa tidak sopannya aku. Maaf belum memperkenalkan diriku sebelumnya. Namaku Namikaze Minato, ayah dari Naruto. Nona manis siapa namamu?" tanya laki-laki tampan bernama Minato.

"Ti-tidak. saya yang tidak sopan karena tidak memperkenalkan diri saya kepada Namikaze-sama." Sakura berdiri dari posisi duduknya dan langsung membungkukan tubuhnya sopan. "Nama saya Haruno Sakura, saya satu kelas dengan Naruto dan rekan kerjanya di Clover's Cafe." ujar Sakura gugup.

"Kau tidak perlu seformal itu, Sakura."

"Sudahi saja basa-basi ini. Kita tidak punya banyak waktu Sakura-chan!" perkataan Naruto membuat senyuman di wajah Minato menghilang, begitu juga Sakura.

"Benar juga. Kalian pasti datang kemari karena ada hal yang penting." Minato berusaha mencairkan suasana yang mulai terasa kaku.

"Begini Namikaze-sama, saya di perintahkan oleh atasan saya untuk meminta persetujuan dari anda, karena cafe tempat saya bekerja akan mengadakan Event kurang dari dua minggu ini." jelas Sakura sambil menyerahkan proposal yang di berikan Kakashi kepadanya kemarin.

Minato menerima proposal dari Sakura dan membacanya dengan serius.

Sakura hanya bisa memperhatikan Minato yang sedang membolak-balik lembar proposal dan beralih kepada Naruto yang sedang bersadar pada kursi di belakangnya. Mau dilihat dari mana pun Naruto benar-benar mirip dengan Minato. Rambut pirang dan mata biru mereka sama. Bedanya rambut pirang Minato lebih panjang dan matanya seperti lautan dalam, sedangkan Naruto rambutnya lebih pendek dan matanya sebiru langit cerah di musim panas. Sama-sama tampan.

Minato meletakkan proposal ke atas meja. "Aku setuju dengan isi proposal ini." ucapan Minato membuyarkan lamunan Sakura. "Dimana aku harus tanda tangan?" tanyanya.

Sakura langsung memeriksa tasnya dan mengeluarkan selembar kertas dan memberikannya kepada Minato.

"Silakan tanda tangan disini."

Minato mengambil kertas yang disodorkan Sakura dan mulai menanda tanganinya, namun tiba-tiba alisnya mengkerut.

"Kau lupa stempelnya, Sakura?" perkataan Minato membuat Sakura bingung. "Seharusnya permohonan seperti ini harus di beri tanda tangan dan juga stempel dari Walikota." jelas Minato.

Sakura yang memang tak tahu menau hanya memandang Naruto seolah berkata. 'Jadi kita harus bagaimana?' yang hanya di tanggapi Naruto dengan mengangkat kedua bahunya tidak tahu.

"Kebetulan stempelnya tertinggal di rumah, jika kalian tidak keberatan, kalian bisa ikut aku pulang untuk memberi stampel persetujuan." saran Minato.

Untuk sesaat Sakura hanya diam, mencari solusi untuk masalah yang dihadapinya.

"Saya tidak masalah. Hanya saja, saya bekerja di cafe dan ini merupakan jam kerjanya." ucap Sakura jujur.

"Kalau masalah itu, aku bisa menghubungi Kakashi langsung."

"Apa tidak masalah?"

"Tenang saja, Kakashi mantan anak didik ku. Kalian pasti akan mendapatkan izin darinya."

Sakura hanya mengangguk dan menatap Naruto untuk meminta pendapatnya, tetapi Naruto hanya cuek tak peduli.

"Ayo, kita pergi sekarang?" Minato mulai berdiri dan mengambil jas dan kunci mobilnya.

"Sekarang?" tanya Sakura memastikan.

"Ya, sekalian makan siang bersama di rumah." Sakura yang tidak enak menolak tawaran seorang Walikota hanya bisa mengikutinya.

.

.

.

Cklek

"Kushina-chan, aku pulang!" teriak Minato saat memasuki rumahnya, dibelakangnya Sakura dan Naruto hanya diam.

Sakura dan Naruto yang mendapat tugas meminta tanda tangan persetujuan dari Walikota sekarang sedang berada di dalam rumah Walikota. Mungkin bagi Naruto, ia hanya pulang toh ini adalah rumahnya tetapi tidak bagi Sakura yang gugup setengah mati karena bisa masuk ke rumah seorang Walikota yang sangat di hormati oleh penduduk Konoha.

"Selamat datang, Minato!" teriak seorang wanita dari dalam. Sakura bisa mendengar suara langkah kaki seseorang yang tergesa.

"Loh, ada Naruto juga? Tumben sekali pulang cepat, apa sedang tidak kerja di tempat Kakashi?" tanya seorang wanita muda yang begitu cantik, yang di yakini Sakura sebagai ibu Naruto.

Rambut merah panjang yang begitu lurus dan indah, wajah bulat yang memberi kesan muda dan suara keras yang menggelegar. Untuk sesaat Sakura hanya bisa memandangi wanita di depannya takjub. "Ibu Naruto cantik sekali, tidak heran ia bisa menikah dengan Walikota dan memiliki anak seperti Naruto." ujar Sakura dalam hati.

Karena terlalu menikmati memandangi wanita di depannya, tanpa sengaja pandangan Sakura bertemu dengan wanita itu.

"Hm~ siapa nona manis ini?" tanyanya saat melihat Sakura yang berdiri kikuk diantara suami dan anaknya.

"Dia pacar Naruto."

Blush

"Uhuk... uhuk..." Naruto terbatuk-batuk mendengar ucapan ayahnya sendiri, sedangkan Sakura wajahnya sudah memerah padam.

Kedua bola mata wanita itu membulat dan lengkungan senyum tercipta di bibirnya.

"Wah! Benarkah?" tanpa menunggu jawaban dari Sakura, wanita itu sudah lebih dulu memeluk Sakura. "Aku senang sekali Naruto akhirnya membawa teman wanitanya kerumah." lanjutnya masih dengan Sakura di dalam pelukannya.

"Kau salah paham Kaa-chan. Sakura-chan bukan pacarku!" Naruto langsung menghampiri ibunya dan berusaha menolong Sakura dari dalam pelukan kuat ibunya.

"Benarkah?" tanyanya kecewa sambil melepaskan pelukannya.

"Maaf. Saya bukan pacar Naruto. Saya hanya teman sekaligus rekan kerjanya." jelas Sakura setelah berhasil lepas dari pelukan wanita di depannya.

"Sayang sekali padahal kau gadis yang sopan." suara wanita itu terdengar kecewa. "Bagaimana jika kalian pacaran saja?" tawarnya.

"Kaa-chan!" teriak Naruto berusaha menghentikan kebiasaan buruk ibunya yang suka menggodanya.

"Maaf, Kaa-chan hanya bercanda." wanita itu hanya tersenyum tanpa dosa. "Jadi siapa nama nona manis ini?" tanya wanita itu sambil menggenggam tangan Sakura.

"Perkenalkan nama saya Haruno Sakura saya teman sekelas dan juga rekan kerja Naruto." ucap Sakura sopan sambil sedikit membungkukan badannya.

Wanita itu tersenyum melihat sikap sopan Sakura. "Sopan sekali. Benar kalian tidak mau pacaran?"

"Kaa-chan!" teriak Naruto lagi.

Tanpa memperdulikan teriakkan Naruto, wanita itu semakin mengeratkan genggamannya tangannya. "Hallo Sakura-chan! Aku ibunya Naruto dan istri dari Minato, Namikaze Kushina" ujar Kushina memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.

"Bagaimana kalau kita masuk? Dan makan siang bersama?" tanya Minato.

"Ah! Maaf, aku jadi membuatmu berdiri disini, Sakura-chan." Kushina menarik Sakura masuk ke dalam, sedangkan Sakura yang tidak bisa melawan hanya bisa mengikutinya saja.

"Tetapi sebelum itu, Sakura harus mengganti seragamnya dulu." ucap Minato.

"Kau benar Minato. Ayo Sakura-chan ikuti aku!" Kushina menarik tangan Sakura menuju tangga lantai dua.

"Too-chan, apa Kaa-chan punya pakaian yang pas untuk Sakura-chan?" tanya Naruto sambil memandangi ke dua orang wanita yang kini telah menghilang di tikungan lantai dua.

"Mungkin saja." Minato hanya mengangkat bahunya tidak tau.

.

.

.

"Mereka lama sekali, aku sudah lapar!" Naruto menidurkan kepalanya keatas meja, bosan menunggu terlalu lama.

Sudah 10 menit Sakura diculik(?) Kushina dan sampai sekarang belum juga kembali. Naruto dan Minato yang telah selesai mengganti pakaian mereka kini sudah duduk di kursi depan meja makan. Tidak heran jika Naruto terus mengeluh kelaparan, karena di depannya sudah tersusun rapi hidangan yang tidak bisa di bilang sedikit.

"Kau harus bersabar Naruto! Kelak jika kau menikah kau harus terbiasa dengan kebiasaan mereka."

"Huft, kelak aku akan mencari istri yang cantik saja, agar ia tak perlu waktu lama untuk mempercantik diri." Naruto makin menenggelamkan wajahnya membuat Minato yang duduk didepannya hanya bisa tersenyum.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama! Sulit juga mencari pakaian yang ukurannya pas dengan Sakura-chan." suara Khusina membuat ayah dan anak itu menolehan kepala mereka kearahnya.

"Kaa-chan aku sudah lap..." Naruto tidak bisa melanjutkan kata-kata saat di hadapannya berdiri dua orang wanita, salah seorang wanita dan seorang gadis cantik.

"Sakura-chan?" tanya Naruto memastikan gadis cantik di depannya.

Sakura hanya bisa menundukan kepalanya malu, malu karena di tatap begitu intens oleh Naruto dan Minato.

Kini Sakura sudah tidak menggunakan seragam sekolahnya yang kebesaran, melainkan Mini Dress berwarna merah tanpa lengan, rambut merah muda yang di ikat berantakan kini sudah tergerai rapi sampai kepinggangnya dengan ikat kepala menyerupai bandana berwarna merah. Cantik sekali.

"Ehem~" suara deheman Kushina menyadarkan Naruto dari lamunannya . "Ayo, Sakura-chan kita duduk!" ajak Kushina sambil menuntun Sakura untuk duduk di sebelah kanan Naruto.

"Sttt... Naruto?" panggil Minato yang duduk di sebelah kiri Naruto. "Kurasa kau tidak akan menunggu lama, jika menikah dengan Sakura." goda Minato sambil mencolek bahu anaknya.

Naruto tidak bisa membalas godaan Minato, hanya bisa duduk dengan wajah memerah padam dan sesekali melirik Sakura yang menundukan kepalanya malu.

"Loh, katanya kau lapar Naruto? Kenapa belum juga makan?" tanya Kushina yang duduk di depan Naruto. "Hem~ kau segitu terpesonanya sampai kehilangan nafsu makan, Naruto?" goda Kushina sambil memincingkan matanya kearah Naruto.

Naruto yang di goda kedua orang tuanya hanya bisa memerah padam sama seperti Sakura yang duduk di sebelahnya.

"Baiklah, selamat makan!" Naruto langsung menyuapkan nasi ke mulutnya tidak mempedulikan omelan Kushina yang protes dengan cara makannya yang berantakan. "Orang tua jahat!" teriak Naruto dalam hati.

Suasanan makan di kediaman Namikaze berjalan ramai yang di hiasi canda tawa oleh keluarga tersebut, Sakura yang melihat interaksi keluarga Namikaze tersenyum simpul, perasaan rindu kepada kedua orang tuanya muncul.

"Ahhhh berhentilah menggodaku!" teriak Naruto kesal karena sepanjang makan tadi Minato dan Kushina terus-terusan menggodanya. "Cepat beri stampelnya, kami harus segera kembali bekerja!"

"Maaf, Too-chan jadi lupa. Ayo kita ke ruang kerja Too-chan saja!" Minato berdiri dari posisi duduknya diikuti Naruto dan Sakura.

Sakura yang merasa tidak enak bermaksud untuk membantu Kushina tetapi di tolak halus oleh Kushina dan menyuruh Sakura untuk mengikuti Minato dan Naruto saja.

Cklek

"Kalian, silakan duduk!" ujar Minato sambil menunjuk dua kursi yang ada di depan meja kerjanya. "Tunggu sebentar!" Minato membuka laci mejanya dan mengambil sebuah stempel dari sana.

"Kemarikan kertasnya!" pinta Minato kearah Naruto dan Sakura.

Sakura mengerutkan alisnya dan beralih menatap Naruto, terus Minato. "Bukankah tadi sudah saya berikan pada anda Namikaze-sama?" tanya Sakura, jelas sekali saat dikantor Sakura sudah memberikan kertas itu untuk di tanda tangani oleh Minato.

"..."

"Ah, sepertinya kertasnya tertinggal." Minato menggaruk tengkungnya yang tidak gatak saat melihat ekspresi kesal dari Naruto dan ekspresi kecewa dari Sakura. "Begini saja, bagaimana jika besok kalian datang lagi ke kantor?" tawar Minato.

"Ayo Sakura-chan, kita pergi!" Naruto menarik tangan Sakura untuk pergi.

"Tunggu Naruto!" tahan Sakura, tetapi Naruto tetap menarik Sakura menuju pintu depan tanpa memperdulikan perkataan Sakura maupun Minato.

"Naruto, ada apa?" tanya Kushina saat melihat Naruto menarik paksa Sakura.

"Maaf. Kami permisi dulu!" Sakura yang masih ditarik paksa oleh Naruto hanya bisa berteriak memohon izin kepada Kushina yang hanya menatap bingung kepergian keduanya.


"Hua~" Sakura menghembuskan nafasnya berat. Hari ini sesuai tawaran Minato, ia dan Naruto akan pergi ke kantor Walikota lagi.

Kemarin setelah pulang dari rumah walikota, Sakura menceritakan semua yang terjadi pada Kakashi yang di tanggapi Kakashi dengan senyuman maklum, dan menyuruh Sakura dan Naruto untuk pergi menemui Walikota lagi ke esokan harinya.

"A-ada apa Sakura-san?" tanya Hinata yang khawatir melihat Sakura dari jam pertama sampai terakhir terlihat tidak bersemangat.

"Tidak ada apa-apa." Sakura menggelengkan kepalanya berusaha menekankan bahwa ia baik-baik saja.

"Ji-jika kau punya masalah, kau bisa menceritakannya padaku?" tawar Hinata.

Sakura diam sejenak sambil memandangi Hinata yang tersenyum kearahnya. Sakura menimbang-nimbang apa ia harus menceritakan masalahnya pada Hinata atau tidak.

"Em~ Hinata, apa kau kenal cukup baik dengan Naruto?" akhirnya setelah berpikir cukup lama, Sakura memutuskan untuk menceritakan masalahnya.

"Ti-tidak terlalu, aku dan Naruto-kun hanya teman satu SMP." Hinata menundukan kepalanya malu sambil memainkan jari-jarinya.

"Apa kau tau hubungan Naruto dengan keluarganya?"

"Setauku Naruto sangat dekat dengan keluarganya."

"Kalau dekat, kenapa Naruto terlihat kesal sekali setelah bertemu dengan keluarganya." pikir Sakura.

"A-apa terjadi sesuatu dengan Naruto-kun?" tanya Hinata khawatir saat melihat perubahan ekspresi Sakura.

"Tidak. Aku hanya penasaran, kenapa Naruto tidak suka di panggil Namikaze?" Sakura mengibas-ibaskan tangannya berusaha menutupi rona merah di wajahnya karena mengingat kejadian kemarin.

"Hinata-sama, sudah saatnya pulang!" suara seorang laki-laki menghentikan pembicaraan dua gadis itu.

"Sakura-san aku pulang dulu!" Hinata menundukan kepalanya begitu juga dengan Sakura.

Sakura kembali menghembuskan nafasnya setelah kepergian Hinata. "Apa yang harus ku lakukan?" tanya Sakura entah pada siapa karena ruang kelas tempat Sakura, kini sudah tidak ada orang kecuali dirinya.

Sakura berjalan sendiri menuju cafe dengan menundukan kepalanya. Jarak sekolah dan cafe tidak begitu jauh, 10 menit jika di tempuh dengan kereta api dan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Karena tidak melihat jalan di depannya, tanpa sengaja Sakura menabrak seseorang di depannya.

"Maafkan saya!" Sakura membungkukan tubuhnya berkali-kali karena merasa bersalah.

"Sakura-chan?" tanya sosok yang ditabrak Sakura.

"Eh?" Sakura mengangkat kepalanya. "Namikaze-sama?" Sakura terkejut karena orang yang di tabraknya ternyata adalah Kushina.

"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Kushina.

"Saya sedang dalam perjalanan menuju cafe." ujar Sakura sopan.

"Tidak perlu terlalu formal begitu jika berhadapan denganku Sakura-chan!" Kushina menepuk-nepuk bahu Sakura sambil tersenyum ramah. "Em~ jika kau ada waktu, mau, 'kah kau menemaniku untuk sekedar minum teh?" tawar Kushina.

Sejujurnya Sakura ingin menolak tawaran Kushina, karena Sakura harus segera tiba di cafe. Tetapi melihat wajah Kushina yang begitu penuh harap, membuat Sakura tidak enak untuk menolak tawaran Kushina.

Dan disinilah mereka, disebuah restoran keluarga sambil berhadapan dan menikmati teh yang mereka pesan.

"Ada perlu apa Namikaze-sama mengajakku kemari?" tanya Sakura, setelah cukup lama ia diam dan hanya memperhatikan wanita cantik di depannya.

"Kau tidak perlu memanggilku seperti itu. Kau bisa memanggilku dengan Oba-san, Sakura-chan!"

"Baiklah Kushina-basan." jawab Sakura tak berani menolak permintaan Kushina.

"Bagaimana menurutmu tentang, Naruto?"

"Naruto ramah, baik dan sangat peduli terhadap temannya." Sakura tersenyum, mengingat apa saja yang telah dilakukan Naruto untuknya. "Tetapi terkadang dia jadi sangat manja, malas-malasan, bodoh, ceroboh, bertingkah konyol dan tidak sabaran." lanjut Sakura.

Mendengar jawaban Sakura, Kushina tertawa. Jadi begitu Naruto menurut Sakura.

"Kau sangat mengenal Naruto ya, Sakura-chan."

"Tidak juga, aku belum lama mengenal Naruto."

"Kau tau, Naruto hanya akan memperlihatkan sikap manjanya pada orang-orang yang dianggapnya penting."

"Benarkah?"

"Ya." Kushina menganggukan kepalanya. "Dulu Naruto selalu bersikap manja padaku dan Minato. Benar-benar manja." Kushina tertawa mengingat betapa manjanya Naruto.

"Dia sangat suka meniru ayahnya. Dari cara senyum dan kebiasaannya."

"Tapi menurutku, sifat Naruto lebih mirip Kushina-basan." ujar Sakura sambil menelengkan kepalanya kesamping.

Kushina tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Sakura, yang menurutnya lucu dan begitu polos.

"Tapi itu dulu, Sakura-chan." Kushina menundukan kepalanya. "Dulu sekali, setidaknya sebelum Minato menjadi Walikota." lanjutnya.

"..."

"Sekarang Naruto berubah. Tidak bersemangat jika di depan kami, bahkan dia lebih memilih menghabiskan waktunya bermain game di kamar."

"Setiap aku atau Minato bertanya, ia hanya diam."

"Mungkin Naruto sedang ada masalah?" tanya Sakura yang membuat Kushina mengangkat kepalanya, melihat Sakura yang duduk di depannya.

"Ya, mungkin saja." Kushina tersenyum. "Setidaknya, semenjak di tawari Kakashi bekerja, dia jadi sedikit lebih aktif dan mulai jarang mengurung diri di kamar."

"Bekerja di cafe memang menyenangkan, dan Naruto menikmati itu." ujar Sakura sambil tersenyum.

"Syukurlah Naruto bertemu denganmu, Sakura-chan." Kushina menggenggam tangan Sakura erat. "Tolong jaga Naruto kami!" pinta Kushina sambil tersenyum, senyuman yang begitu lembut dan hangat, khas seorang ibu.

"Ya, aku akan memukul Naruto jika ia melakukan hal-hal bodoh." Sakura balik tersenyum ke arah Kushina.

"Terima kasih Sakura-chan." Kushina melepaskan genggamannya dan meminun tehnya yang tinggal setengah. "Bagaimana, jika kau pacaran saja dengan Naruto?" goda Kushina sambil mengedipkan matanya ke arah Sakura.

"Kushina-basan!" teriak Sakura. Sekarang Sakura tau perasaan Naruto yang suka di goda kedua orang tuanya.

.

.

Cklek

"Sakura?" ucap Yamato terkejut saat melihat Sakura masuk. "Bukankah, kau seharusnya pergi ke kantor Walikota?" tanya Yamato, setahunya hari ini Sakura akan mengambil kertas tanda tangan persetujuan di kantor Walikota, setidaknya itu yang Naruto katakan tadi.

"Ya, Sensei." Sakura menganggukan kepalanya dan celingak-celinguk mencari seseorang. "Kemana Naruto?" tanya Sakura saat tidak melihat laki-laki berambut pirang yang selalu menyambutnya jika datang.

"Di depan. Sedang melayani tamu." jawab Yamato sambil menujuk Naruto yang sibuk melayani tamu dari lubang tempat menaruh pesanan.

"Bisakah Sensei memanggilkannya?"

"Tentu saja." Yamato berjalan keluar. Dari tempatnya, Sakura bisa melihat Yamato yang menghampiri Naruto dan membisikan sesuatu.

Tidak begitu lama Naruto dan Yamato sudah berada di dapur.

"Ada apa Sakura-chan mencariku?" tanya Naruto saat sudah berada di hadapan Sakura.

"Cepat ganti bajumu Naruto, kita akan pergi!" perintah Sakura.

"Pergi? Apa ini ajakan kencan?" tanya Naruto yang di hadiah Dheatglare dari Sakura.

Melihat Sakura yang melototinya tajam, Naruto hanya bisa menuruti perkataan Sakura. entahlah saat melihat mata Sakura, Naruto seperti melihat mata ibunya.

"Kita mau kemana, Sakura-chan?" tanya Naruto tidak mengerti saat Sakura menariknya keluar dari cafe.

"Ke kantor Walikota." jawab Sakura singkat tanpa menghentikan langkahnya.

Naruto berhenti berjalan, sehingga Sakura yang menariknya ikut berhenti.

"Kau pergi sendiri saja Sakura-chan! Aku malas." Naruto membalikan badannya kembali berjalan menuju cafe.

"Tidak boleh!" Sakura menghalangi langkah Naruto dengan cara merentangkan kedua tangannya, bermaksud menutupi jalan Naruto.

Naruto menghelakan nafasnya berat. "Kurasa kau bisa melakukannya sendiri tanpa bantuanku, Sakura-chan." Naruto kembali berjalan melewati Sakura.

Bukk

"Auw! Sakit Sakura-chan!" Naruto memegangi perutnya, yang sakit karena di pukul Sakura. "Apa yang kau-" Naruto terdiam saat dilihatnya air mata sudah menetes dari mata Sakura.

"Dasar bodoh!" teriak Sakura.

"Kenapa kau tidak ingin bertemu dengan ayahmu?" Sakura menghapus air matanya kasar dengan punggung tangannya. "Apa kau tau seberapa sayangnya mereka padamu?" ujar Sakura kesal.

"..."

"Seharusnya kau bersyukur Naruto, karena masih memiliki orang tua!"

"Bagaimana jika kedua orang tuamu sudah tidak ada? Ah tidak, bagaimana jika kau jauh dari orang tuamu sepertiku?" Sakura menatap Naruto tajam dengan air mata yang kembali menetes jatuh.

"Betapa sedihnya tidak ada yang menyambutmu pulang, tidak ada yang membuatkanmu makanan, tidak ada yang bisa kau ajak bicara, tidak ada tempatmu mengadu dan tidak ada yang akan memarahimu jika melakukan hal bodoh. Apa kau tau bagaimana sedihnya hidup seorang diri?" tanya Sakura kesal, sedangkan Naruto hanya bisa mengalihkan tatapan matanya ke bawah, tidak sanggup menatap balik Emerald Sakura yang sudah basah.

"Kau tidak akan tau bagaimana rasanya hidup sendiri, jauh dari orang tua saat semua orang menatapmu penuh hina, sepertiku! Kau tidak akan tau, karena kau tidak pernah mensyukuri semua yang kau miliki!" Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha menutupi wajahnya yang sudah basah karena air mata.

"Aku benci mereka." ucap Naruto yang membuat Sakura menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Mereka tidak menyayangiku. Bagi mereka pekerjaan lebih penting dari aku." Naruto tersenyum miris menatap Sakura.

Sakura mendengus mendengar ucapan Naruto. "Kau egois sekali Naruto! Benar-benar egois." ujar Sakura sambil menatap Naruto hina.

"Kau tidak tau perasaanku Sakura-chan! Bagaimana rasanya saat orang tuamu sibuk dengan pekerjaannya sehingga melupakanmu?" tanya balik Naruto dengan tatapan penuh amarah.

"Kau kekanak-kanakan sekali! Apa kau pikir orang tuamu tidak mengingatmu saat mereka sibuk bekerja. Apa kau tidak sadar untuk siapa mereka berkerja?" tanya Sakura sambil menatap Naruto tajam. "Mereka bertahan dengan kesibuk yang siap kapan saja membuat mereka gila, hanya untuk memenuhi semua kebutuhan orang bodoh yang tidak bisa berterima kasih sepertimu."

"Sudah cukup Sakura-chan! Jangan bicara lagi!" Naruto balik menatap Sakura tajam.

"Tidak, sampai orang bodoh sepertimu mengerti!"

"Sakura-"

"Dengarkan aku! Kau selalu menuntut kasih sayang dari kedua orang tuamu, menginginkan perhatian lebih. Tetapi tak pernah sekali pun mengerti mereka."

"..."

"Apa pernah kau memikirkan kesehatan mereka yang bekerja siang dan malam? Ha!" tanya Sakura, yang tidak di jawab oleh Naruto. "Tidak, 'kan? Tetapi apa kau tau siapa yang akan begadang semalaman dan sibuk memanggilkan dokter jika kau sakit?"

"Tidak bisa menjawab?" tanya Sakura saat tidak mendapatkan respon apa pun dari Naruto.

"Cobalah sekali saja kau memikirkan kedua orang tuamu, Naruto!" suara Sakura melembuh, lelah karena terus berteriak dari tadi. "Mereka sangat menyayangimu." tambah Sakura.

Naruto terdiam mencerna baik-baik perkataan Sakura. Sakura benar, selama ini Naruto hanya memikirkan perasaannya sendiri, tanpa pernah memikirkan kedua orang tuanya.

"Cobalah bicarakan masalahmu dengan mereka!" Sakura berjalan mendekati Naruto yang hanya menudukan kepalanya. "Mereka pasti mengerti, karena mereka orang tuamu."

Greb

Sakura memeluk Naruto, menempelkan pipinya dengan pipi Naruto dan menggosok-gosok punggung Naruto pelan.

"Kau mengerti, Naruto?" tanya Sakura masih sambil memeluk Naruto yang kini menangis, menangisi kebodohannya, keegoisannya.

"Ya, aku mengerti." Naruto balik memeluk Sakura erat, menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Sakura.

Untuk sesaat mereka larut dalam kesedihan masing-masing dan bertahan dengan posisi saling memeluk, kalau saja Sakura tidak melepaskan pelukannya dari Naruto.

Sakura menghelakan nafasnya berusaha menormalkan detak jatungnya karena marah-marah tadi, dan perlahan menghapus jejak-jejak air mata dari kedua pipinya.

"Maaf Sakura-chan!" ujar Naruto lirih.

"Tidak. Jangan minta maaf padaku, tetapi minta maaflah kepada orang tuamu!" Sakura tersenyum ramah yang di balas senyuman juga oleh Naruto.

Sakura kembali melangkahkan kakinya, meneruskan perjalanan yang tertunda di ikuti Naruto di belakangnya. Kali ini tidak ada paksaan atau pun tarikan, karena kali ini Naruto pergi dengan kemauannya sendiri.

"Terima kasih Sakura-chan." ujar Naruto dengan suara kecil.

"Kau mengatakan sesuatu, Naruto?" tanya Sakura yang samar-samar bisa mendengar perkataan Naruto.

Naruto tersenyum simpul. "Tidak." jawabnya dan malah menggenggam tangan Sakura erat. "Ayo kita pergi!"

"Ya." Sakura hanya bisa tersenyum dan mengikuti langkah Naruto yang menariknya.


Tok Tok

"Permisi." ucap Sakura sambil berjalan masuk di ikuti Naruto di belakangnya.

"Sakura!" teriak Minato saat melihat Sakura dan Naruto masuk ke ruangan kerjanya. "Aku sudah lama menunggumu." Minato berdiri dan mempersilakan Sakura dan Naruto untuk duduk.

"Apa sesuatu terjadi? Ku pikir kau tidak akan datang?" tanya Minato yang membuat wajah dua orang di hadapannya memerah. Ya, sesuatu telah terjadi di antara mereka berdua.

"Maaf, sudah membuat anda menunggu lama, Namikaze-sama." ujar Sakura menyesal karena telah membuat seorang Walikota menunggunya.

"Tidak masalah." jawab Minato sambil tersenyum ramah. "Sakura, bisakah kau memanggilku tidak seformal itu, rasanya aku seperti sedang berhadapan dengan seorang pegawai, bukan teman anakku." ujar Minato.

"Ya, Minato-jisan."

Mendengar panggilan Sakura, Minato tersenyum, dan kemudian berdiri berjalan ke meja kerjanya dan mengambil selembar kertas dari atas meja.

"Ini, sudah di tanda tangani dan diberi stempel." Minato memberikan kertas tersebut kepada Sakura.

"Terima kasih, Minato-jisan." Sakura menundukan kepalanya sebagai ucapan terima kasih.

"Em~ Too-chan!" panggil Naruto yang duduk di sebelah Sakura. "Maaf!" lanjutnya.

Minato yang tidak mengerti hanya mengerutkan alisnya binggung. "Maaf untuk apa, Naruto?" tanya Minato balik.

"Maaf untuk semuanya." jawab Naruto sambil mengalihkan tatapan matanya keluar jendela yang ada di kanannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf, Naruto." perkataan Minato membuat Naruto memalingkan kepalanya menghadapnya. "Sudah tugas orang tua untuk memaafkan anaknya." lanjut Minato sambil tersenyum.

Naruto ikut tersenyum melihat Minato tersenyum, begitu juga Sakura yang melihatnya. Senyuman hangat seperti matahari.

"Too-chan!" panggil Naruto lagi. "Ba-bagaimana jika kita berlibur ke suatu tempat?" tanya Naruto dengan wajah yang memerah.

Untuk sejenak Minato terdiam, sudah lama Naruto tidak pernah meminta sesuatu padanya.

"Tentu saja." jawab Minata. "Tetapi, Sakura harus ikut juga!" lanjut Minato sambil melirik Sakura yang duduk di sebelah Naruto penuh arti.

"Aku? Kenapa?" tanya Sakura tidak mengerti. Bukankah ini liburan keluarga, kenapa ia harus ikut?.

"Ya, tentu saja. Sakura-chan akan ikut!" Naruto nyengir lebar dengan kedua tangan di belakang kepalanya.

Sakura yang tidak mengerti hanya menganggukan kepalanya, siapa yang akan menolak tawaran langsung dari seorang Walikota?.

.

.

.

"Ini Kakashi-sensei!" Sakura menyodorkan selembar kertas ke arah Kakashi.

Sekarang semua orang sedang bersih-bersih, bersiap menutup cafe.

Kakashi menerima kertas yang di sodorkan Sakura dan membacanya dengan seksama.

Alis Kakashi terangkat. "Sakura?" panggilnya.

"Bukankah, aku menyuruhmu meminta tanda tangan dari Walikota?" tanya Kakashi. "Kenapa di beri stempel juga?" tambahnya.

"Minato-jisan bilang, harus di beri stempel juga." jawab Sakura tidak mengerti.

"Minato-jisan?" gumam Kakashi mendengar panggilan Sakura untuk mantan dosennya sekaligus Walikota Kohona.

"Stempel ini tidak perlu. Stempel hanya diberikan jika kita ingin membuka Event besar-besaran." jelas Kakashi. "Kalau hanya Event kecil di cafe, tanda tangan persetujuan sudah cukup." lanjutnya.

"Hah! yang benar?" tanya Sakura tidak percaya.

"Ya." jawab Kakashi. "Tetapi terima kasih atas kerja kerasmu, stempel ini lebih baik." Kakashi mengusap kepala Sakura dan meninggalkannya yang masih bengong di tempatnya. Jadi untuk apa ia bolak-balik mengurus stempel itu.

Tidak jauh dari tempat Sakura, Naruto mendengar semua yang dikatakan Kakashi.

"Dasar Too-chan!" geram Naruto yang sadar ayahnya hanya mempermainkannya.

"Ada apa, Naruto?" tanya Kiba yang berdiri di sebelah Naruto.

"Bukan apa-apa." jawab Naruto sambil tertawa hambar. "Awas saja kau, Too-chan!" batin Naruto, yang membuat Kiba semakin bingung.

Sepertinya orang tuamu tidak sepenuhnya bohong Naruto, mereka benar-benar memberi stempel persetujuan pada kertas itu sekaligus pada Sakura.

TBC


Author Note:

Hallo, aku kembali dengan Chapter 5! (*v*)/

Kali ini aku mempersembahkan NaruSaku yang di buat khusus untuk NS Lovers, maaf kalau mengecewakan dan MissTypo yang bertebaran.

Tema kali ini cukup berat dan menguras emosi. Aku hampir nangis ngetik perkataan Sakura, karena semuanya curahan hatiku yang jadi anak rantauan ini (T,T)

Semoga pesan yang aku masukkan di Chapter kali ini bisa diterima semua Reader.

Sebenarnya Chapter kali ini mau di Publish hari kamis tanggal 11 April bertepatan dengan SUGAR EVENT NaruSaku, tapi aku gak menuhi syarat untuk ikut (;.;). Bagi Reader yang tertarik dan mau ikut, atau belum tahu silakan lihat di groups/326486403510/ (n.n)/

Seperti biasa balasan Review liat di PM masing-masing dan yang dak Login ini balasannya:

Koibito cherry: Garing ya... kalau begitu maaf, aku memang tidak berbakat (n.n")a

SasuSaku masih agak lama dan SaiSaku di tunggu saja ya...

Terima kasih atas dukungannya jadi makin semangat nulis!

Sasusaku 4ever: Wah, Silent Reader, aku benar-benar tersanjung ni... :D

Boleh banget, mau sekali, dua kali dan berkali-kali boleh boleh banget (n.n)b

Huft, diperpanjang lagi? akan diusahakan ya...

sasusaku kira: Ah senangnya kalau kamu suka, rasanya kerja keras ku membuahkan hasil (T0T)/

Terima kasih atas semua pujiannya jadi malu ni hehehehe XD

Semoga chapter depan gak mengecewakan ya...

ara: Terima kasih atas pujiannya :D

puihyuuchan: Sakura emang sudah kawaii dari sananya hahahaha XD

dan terima kasih atas Review dan pujiannya :D

Ehm, terakhir Review please...!

Salam Langit dan Bumi,

Kimeka ReiKyu

Palembang, 08 April 2013