"Em~ Sakura-chan!" panggil Naruto dengan suara yang begitu kecil, yang mungkin hanya akan di dengar oleh ia sendiri dan gadis merah muda di depannya.
"Ya?" jawab Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari buku kecil di tangannya.
Karena mendapat respon dari gadis di depannya cengiran Naruto melebar. "Kencan yuk!" teriaknya senang dengan gaya khasnya, melipat kedua tangan di belakang kepala.
"Tidak bisa, kita sedang bekerja." tanpa menolehkan kepalanya ke arah Naruto, Sakura berjalan meninggalkannya.
"Ayolah! Nanti aku minta libur pada Kakashi-sensei!" bujuk Naruto sambil mengekori Sakura dari belakang.
"Tidak bisa, kita sedang persiapan Event Hanami!" tolak Sakura tegas, ini Event pertama baginya dan Sakura tak ingin main-main untuk itu.
Naruto tidak mau menyerah dan terus membujuk Sakura. "Bagaimana jika setelah Event- Auw!" teriak Naruto sakit, saat dirasanya pantat mulusnya digigit sesuatu.
"Grrr... grrr...!" Akamaru mengeram marah, marah karena Naruto terus mengganggu Sakura.
"Gigit lebih keras, Akamaru!" teriak Kiba dari pojok ruangan.
Beginilah keseharian Sakura sejak beberapa hari yang lalu. Pagi menjadi pelajar di KSHS, siang sampai sore bekerja sebagai pelayan di Clover's Cafe, sibuk memang tapi Sakura menikmatinya.
Naruto mengusap-usap pantatnya yang terasa berkedut sakit. "Apa-apaan kau, Akamaru?!" teriaknya marah, karena pantatnya digigit oleh Akamaru. "Kiba, lakukan sesuatu pada anjingmu!" lanjut Naruto.
Kiba mendengus kesal. "Akamaru, gigit juga tangan dan kakinya sekalian!" teriak Kiba balik.
"Guk... guk!" sesuai instruksi Kiba, Akamaru mendekati Naruto dan bersiap menggigitnya.
Melihat Akamaru yang mendekatinya, Naruto berlari ke arah Sakura mencari perlindungan. "Sakura-chan, tolong aku!" pinta Naruto sambil bersembunyi di belakang Sakura.
Kiba mendengus sebal melihat Naruto yang bersembunyi di belakang Sakura. "Dasar pengecut." ejeknya.
"Jelek, tidak akan bisa melindungimu, Naruto." suara halus Sai berhasil menarik perhatian orang dan tentu saja Deathglare dari Sakura, Naruto, Kiba bahkan Akamaru.
Naruto menatap tajam Sai yang tersenyum tanpa dosa. "Woi Sai! Jangan seenaknya mengatai Sakura-chan-ku jelek, dia manis sekali tahu!" teriak Naruto penuh penekanan yang sukses membuat wajah Sakura memerah.
"Baka! Sejak kapan Sakura jadi milikmu?!" teriak Kiba sambil menatap tajam Naruto. "Dan kau Sai!" Kiba menunjuk wajah Sai dengan tangan kanannya.
"Jangan seenaknya mengatai Sakura jelek! dia i-itu... ma-manis... sekali tahu..." ujar Kiba dengan wajah memerah dan di ikuti gonggongan dari Akamaru.
"Aku hanya mengatakan yang sejujurnya." jawab Sai dengan senyuman polos tanpa beban seolah hal yang dikatakannya adalah hal yang biasa.
"Naruto, Sakura, Kiba, Sai dan Akamaru!" kali ini suara yang terdengar dingin dan begitu tegas khas Neji sukses membuat orang-orang dan seekor anjing yang namanya di sebut menegang di tempat.
"Jangan berisik! Kalian mengganggu tamu yang lain." lanjut Neji.
Karena ketakutan mereka menundukan kepala mereka bersalah. "Maaf." ujar mereka serempak kecuali Sai yang hanya tersenyum dan gonggongan dari Akamaru.
Clover's Cafe
Naruto © Masashi Kisimoto
Ranted: T
Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)
Story © Kimeka ReiKyu
Warrnig: Au, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
[Sakura-Centric]
Don't Like, Don't Read!
"Haa~ akhirnya selesai juga." Sakura menghembuskan nafasnya lelah, sesekali memukul-mukul bahunya yang pegal bergantian.
Sekarang sudah sore dan cafe akan segera di tutup, untuk itu Sakura yang kebagian membersihkan meja merasa bahunya pegal dari tadi terus-menerus di gerakan.
"Sakura, kau belum mau pulang?" tanya Yamato saat melihat Sakura yang masih sibuk mengelap meja.
"Ini sudah mau pulang, Sensei. Tinggal mengganti seragam saja."
Setelah mengatakan itu Sakura berjalan masuk ke ruang ganti, mengganti seragam pelayan dengan seragam sekolahnya.
"Sai, bagaimana lukisan mu?" suara Kakashi menghentikan langkah Sakura yang mau berjalan pulang menuju pintu keluar.
"Sudah selesai, Sensei. Besok akan segera aku bawa." jawab Sai dengan senyuman di wajahnya.
"Baguslah. Aku ingin melihatnya terlebih dahulu. Apa temanya sesuai atau tidak. Sebelum di pertunjukan tiga hari lagi." Kakashi melangkahkan kakinya, tetapi saat melewati Sakura, Kakashi tersenyum ke arahnya.
"Bukan hanya wajahmu yang jelek, kebiasaan mengupingmu juga jelek." ujar Sai saat melihat Sakura berdiri tidak jauh darinya, yang sukses membuat Sakura menatapnya tajam.
Sakura memalingkan wajahnya ke samping. "Si-siapa yang menguping, aku hanya tidak sengaja mendengar." kilah Sakura sambil mengembungkan kedua pipinya tidak suka di bilang penguping pembicaraan orang.
"Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu ya, jelek." Sai melangkahkan kakinya keluar tanpa mempedulikan ocehan Sakura yang marah di katai jelek.
"Huft, menyebalkan!"
"Jadi, jika kalian menemukan soal seperti ini, formula yang di gunakan adalah..." mendengar penjelasan Iruka-sensei di depan membuat Sakura bosan, bosan karena ia sudah berkali-kali mempelajari pelajaran yang sama jauh sebelum di jelaskan oleh pengajarnya.
Karena merasa bosan mendengar penjelasan Iruka, Sakura lebih memilih mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Memperhatikan apa saja yang di lakukan teman-teman sekelasnya. Bisa di lihat Hinata yang mencatat perkataan Iruka dengan serius, di belakang Hinata ada Naruto yang sibuk berbisik-bisik dengan Kiba di sebelahnya, dan di sebelah Kiba ada Shikamaru yang sedang tertidur, dan Sasuke yang duduk di sebelah Naruto yang lebih tertarik dengan pemandangan di luar jendela. Karena penasaran dengan apa yang di lihat Sasuke, Sakura mengikuti arah pandangnya.
Di lapangan Outdoor Sakura bisa melihat sekumpulan murid-murid yang sedang mengikuti pelajaran olahraga, dari seragam olahraga yang mereka kenakan Sakura dapat menebak murid-murid itu kakak tingkatnya dari garis kuning di celana mereka.
Seragam di KSHS memang di bedakan berdasarkan tingkatan setiap tahunnya. Merah kelas 1, biru kelas 2 dan Kuning kelas 3, sehingga pengajar bisa dengan mudah membedakan murid-murid yang bertemu dengan mereka di luar jam pelajarannya.
Sakura tertawa kecil saat melihat seorang pengajar berpakaian hijau ketat dengan gaya rambut mangkuk andalannya, pengajar paling nyentrik di KSHS, Maito Gai. Tidak jauh dari Gai ada dua sosok laki-laki, satu laki-laki berambut hitam klimis dan berkulit pucat serta laki-laki berambut coklat panjang sedang berbicara.
Sakura memicingkan matanya, guna memperjelas penglihatannya akan sosok laki-laki di bawah sana. "Sai dan Neji?" gumam Sakura saat menyadari siapa sosok ke dua laki-laki itu.
Benar juga Sai dan Neji merupakan kakak kelas dari Sakura, Naruto, Kiba, Sasuke dan Shikamaru. Dan Gaara adik kelas Sakura yang baru masuk tahun ini.
Karena terlalu asik memperhatikan ke dua kakak kelasnya, Sakura tidak menyadari Sai—yang ditatapnya—berbalik badan dan tanpa sengaja bertemu pandang dengannya.
Sakura yang merasa seperti seorang penguntit karena ketahuan memperhatikan Sai diam-diam berusaha tersenyum untuk menghilangkan kecurigaan Sai. Awalnya Sakura kira Sai akan mengejeknya penguntit lagi seperti di cafe, tetapi dugaannya salah. Sai malah balik tersenyum kearahnya sambil mengatakan sesuatu yang tentu saja tidak mungkin bisa di dengar Sakura yang berada di lantai 3, tetapi dengan pelan Sakura mencoba mengikuti gerakan mulut Sai.
Sakura menggerakkan mulutnya, sebisa mungkin sama dengan gerakan mulut Sai. "Je-lek." itulah kalimat yang Sakura ucapkan berdasarkan gerakan dari mulut Sai.
Tuing
Perempatan siku muncul di jidat lebar Sakura saat menyadari perkataan Sai yang lagi-lagi menghinanya.
"Dasar mayat hidup tanpa ekspresi!" teriak Sakura keras sambil berdiri dari posisi duduknya karena kesal dan menunjuk-nujuk Sai yang ada di bawah sambil melambaikan tangan itu.
"..."
Kelas langsung diam dan menatap tidak suka ke arah Sakura yang tiba-tiba berdiri marah tidak jelas
Iruka memijat pelan batang hidungnya melihat Sakura yang berdiri dengan tiba-tiba, dan tak lupa teriakan nyaringnya. "Haruno, saya tau pelajaran saya sudah kau pahami. Tetapi bisakah kau tenang dan biarkan saya melanjutkan pelajaran?" ucap Iruka di depan kelas sambil menghela nafasnya berat.
"Ma-maaf, Sensei!" Sakura berkali-kali menundukkan kepalanya menyesal dan membuat semua orang di ruangan itu—kecuali Naruto, Kiba, Sasuke, Shika dan Hinata—tertawa mengejeknya.
Masih dengan kepala tertunduk, Sakura mengepalkan tanyanya. "Ini semua gara-gara mayat hidup itu!" batin Sakura kesal.
.
.
.
Cklek
"Sakura, sejak kapan kau ada di situ?" tanya Kakashi saat Sakura keluar dari ruang ganti.
Sakura menolehkan kepalanya menghadap Kakashi yang menatapnya kaget. "Aku baru saja selesai mengganti seragam sekolah, Sensei." jawab Sakura. "Tadi aku sedikit terlambat, karena tugas dari Iruka-sensei." jelas Sakura. Yap, karena keributan yang di buatnya di kelas, Sakura mendapatkan tugas tambahan dari Iruka yang harus diselesaikannya saat itu juga.
"Kakashi-sensei?" panggil Sai yang baru datang dengan sebuah benda persegi panjang yang di tutupi kain putih dengan ukuran panjang hampir setengah tubuhnya.
Kakashi menghampiri Sai yang kini berjongkok sambil meletakan benda persegi panjang itu ke atas kursi. "Sai, kau bawa lukisannya?" tanyanya sambil membantu Sai membuka kain putih yang menutupi benda itu.
"Ya," Sai berdiri dari posisinya, dan berdiri tepat disebelah Kakashi yang menatap benda persegi panjang itu.
Kakashi diam sejenak mengamati hasil karya Sai. Sakura yang penasaran berjalan mendekati dua orang laki-laki itu.
Mata Sakura berbinar kagum akan lukisan Sai di depannya. Sebuah lukisan pohon-pohon Sakura yang berjejer rapi dengan beberapa kelopaknya yang berterbangan tertiup angin, Cantik sekali.
Kakashi mengusap dagunya. "Rasanya ada yang kurang." gumamnya masih menatap lukisan Sai.
Sakura yang terpesona dengan lukisan Sai, jadi sedikit bingung dengan maksud Kakashi yang mengatakan ada yang kurang dari lukisan indah Sai. "Apanya yang kurang, Sensei? Menurutku ini sangat cantik dan indah." tanyanya polos.
"Ya, lukisan Sai selalu cantik dan indah, Sakura." jelas Kakashi yang sudah terbiasa melihat lukisan Sai. "hanya saja, aku menginginkan sesuatu yang lebih." lanjut Kakashi.
"Apa ada bagian yang tidak bagus? Aku membuatnya berdasarkan tema yang kau berikan, Sensei." jelas Sai.
"Tidak, lukisan ini bagus, hanya saja Event kita Hanami yang artinya melihat bunga."
"Dan ini lukisan bunga Sakura di musim semi." Sai memotong kalimat Kakashi, tidak mengerti dengan perkataan Kakashi yang tidak menyukai lukisannya.
"Perasaan." ucap Kakashi." Yang kurang dari lukisanmu adalah perasaan yang tergambar di dalamnya." lanjutnya.
"Lukisanmu sempurna. Indah, cantik dan sangat detail bahkan sampai bagian terkecil. Tetapi tak ada perasaan sedikit pun dilukisanmu." jelas Kakashi yang membuat Sai terdiam.
Kakashi menghelakan nafasnya dan melirik Sai yang tertunduk di sebelahnya.
"Sai, bisakah kau buatkan lukisan lain untuk ku." pinta Kakashi. "Kau masih punya waktu sampai besok untuk mencari inspirasi." lanjut Kakashi.
Sai diam sejenak mendengar permintaan Kakashi. "Tentu saja, Sensei." jawab Sai dengan senyuman biasa di bibirnya.
"Terima kasih, Sai." Kakashi balas tersenyum ke arah Sai. "Em~ Sai, bisakan kau membawa Sakura bersamamu?" tanya Kakashi sambil menunjuk Sakura yang berdiri di sebelahnya.
Dahi Sakura mengerut. "Eh! Kenapa aku harus ikut bersama, Sai?" tanya Sakura tidak mengerti. Yang mendapat tugas melukis, 'kan Sai, tapi kenapa ia juga harus ikut mencari inspirasi.
"Ya, agar Sai ada teman bicara, kasihan jika hanya sendirian." Kakashi mengusap-usap tengkuknya yang tidak gatal. "Besok juga hari Sabtu yang berarti sekolah libur, sekalian saja kau jalan-jalan, Sakura."
"Tidak masalah. Sepertinya menarik jika jelek ikut bersamaku." Sai menganggukan kepalanya, setuju dengan tawaran Kakashi untuk mengajak Sakura.
"Tapi aku si-"
"Baguslah, terima kasih atas kerjasama kalian berdua." Kakashi memotong perkataan Sakura dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sakura yang masih ingin protes di belakangnya.
"Jelek, besok datang jam 9 pagi di taman kota Konoha." Sai ikut melangkahkan kakinya menuju arah Kakashi menghilang. "Ah, jangan terlambat, jelek!" tambah Sai sebelum menghilang sepenuhnya di balik pintu.
"Siapa yang akan datang!" teriak Sakura saat Sai sudah benar-benar menghilang di balik pintu.
Tik Tok Tik Tok
Jam dinding besar yang berdiri kokoh terus terdengar, membuat gadis berambut merah muda panjang yang di ikat berantakan terus menerus melihat jarum jam itu.
"Huft, lama!" keluh gadis berambut merah muda, Sakura.
Sakura sudah bosan menunggu seseorang yang mengatakan harus datang pukul 9. Sebetulnya bukan salah orang tersebut sehingga Sakura harus menunggu lama, karena jarum jam yang terlihat dari jam besar itu baru menunjukkan pukul 08.59. Sakura yang datang terlalu cepat 30 menit, yang mau tak mau membuatnya harus menunggu.
Sakura mengehelakan nafasnya lelah, lelah terus menunggu. "Harusnya aku tak datang terlalu cepat."
"Maaf, kau sudah menunggu." suara orang yang ditunggu-tunggu Sakura terdengar yang membuatnya harus memutar kepalanya ke samping, guna melihat pemilik suara.
Deg
Di depan Sakura kini telah berdiri seorang laki-laki pucat dengan rambut hitam klimis. Pakaian biasanya saja, hanya sebuah kaos berwarna abu-abu yang di balut jaket berwarna hitam dan celana jeans biru Donker dengan tas selempang kecil berwarna hitam, tetapi dari pakaian biasa ini membuat ia terlihat seperti laki-laki tampan yang ramah, sesuai sekali dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah rupawannya.
Sakura mengaruk pipinya yang tidak gatal. "Ah, tidak juga. Aku yang datang terlalu cepat." ujarnya gugup, entah karena laki-laki di depannya atau karena tatapan iri wanita-wanita yang melihatnya.
Sai hanya diam masih dengan senyuman menghiasi wajahnya dan perlahan berjalan meninggalkan Sakura.
Sakura yang tidak mengerti hanya berdiri diam, melihat punggung Sai yang perlahan menjauh.
"Sudah ku bilang, tidak mungkin laki-laki tampan itu pacarnya!"
"Mungkin saja, cinta seperti di Drama televisi."
"Pasti pembantunya!"
Suara bisik-bisik wanita di sekeliling Sakura terdengar cukup keras sehingga masih bisa di dengar Sakura yang berdiri dalam diam.
Untuk sesaat Sakura merasa pergi kencan bersama seseorang seperti serial Drama yang pernah di tontonnya di televisi. Gadis jelek yang pacaran dengan laki-laki tampan yang kaya raya. Sungguh konyol.
Sai yang berjalan cukup jauh membalikkan badannya melihat Sakura yang masih berdiri diam memandangainya. "Jelek, kau akan berdiam diri di situ saja?" suara Sai menyadarkan Sakura dari lamunannya.
Tanpa mengatakan apa-apa Sakura berlari kecil mengejar Sai yang berjalan di depannya.
. . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . .
Angin berhembus menerbangkan kelopak bunga-bunga sakura yang mulai bergugurun. Setelah hampir dua jam berkeliling taman untuk mencari inspirasi lukisan, kini Sakura dan Sai sedang duduk di bangku taman.
"Bagaimana jika kau gambar saja, lukisan sebuah keluarga yang sedang melakukan Hanami di bawah rimbunan pohon Sakura." saran Sakura saat sudah duduk lama dalam diam.
Sai melirik Sakura sekilas dan kembali memfokuskan tatapannya kedepan.
"Aku tidak melukis manusia."
Sakura cukup terkejut mendengar perkataan Sai yang cukup aneh untuk seorang pelukis berbakat. Dengan sedikit penasaran Sakura melirik Sai yang duduk di sebelahnya dengan ekor matanya, untuk melihat ekspresi yang di buat Sai saat mengatakan hal yang menurut Sakura aneh itu. Tetapi nihil, tak sedikit pun ekspresi yang nampak dari wajah pucatnya.
"Kalau begitu, kau melukis apa selama ini?"
"Apa saja, yang pasti bukan manusia."
"Kenapa tidak suka melukis manusia?"
"Karena tidak suka." jawab Sai singkat yang membuat Sakura mengangkat sebelah alis merah mudahnya.
Keheningan kembali menyelimuti mereka yang lebih memilih berkutat dalam pikiran mereka masing-masing.
Sakura melirik ragu Sai yang duduk di sebelahnya. "Em~ Sai?" panggil Sakura. "Kenapa kau bekerja di cafe? Maksudku kau berbakat, tetapi memilih bekerja di cafe." tanya Sakura penasaran.
"Kakashi-sensei yang menawariku bekerja saat dia menjadi mentorku dalam lomba lukis." jelas Sai. "Aku terima karena aku berhutang budi kepada Kakashi-sensei yang membantuku dalam bidang lukis." lanjutnya.
Sakura hanya ber "O" ria mendengar penjelasan Sai.
Lagi-lagi mereka kehilangan topik pembicaraan. Sai yang memang tidak suka memulai pembicaraan dan Sakura yang tidak tau harus berbicara apa.
"Kenapa orang memilih menghabiskan waktu melihat sakura?" pertanyaan Sai membuat Sakura kembali menolehkan kepalanya kesamping.
"Karena bunga sakura istimewa." jawab Sakura polos.
"Bunga norak bewarna merah muda."
"Bunga sakura tidak norak! tetapi kecantikan yang indah."
"Karena itu orang tuamu memberimu nama Sakura, dan mengecat rambutmu menjadi warna merah muda."
Bibir Sakura berkedut kesal mendengar ejekan Sai yang sudah kelewatan karena membawa-bawa orang tuanya. "Kau salah, rambutku sejak lahir sudah begini."
"Kau norak sejak lahir." pelipis mata Sakura berkedut mendengar perkataan Sai yang terlalu jujur, tanpa memikirkan pendengarnya suka atau tidak.
Sakura kesal, sangat kesal. Sudah tidak ada niat untuk melanjutkan percakapan tidak jelas ini dengan laki-laki tanpa perasaan di sebelahnya.
Kembali keheningan memenuhi atmosfir di sekeliling Sakura dan Sai.
"Kau mau kemana, Sai?" tanya Sakura saat melihat Sai meletakan tas selempangnya dan berdiri dari posisi duduknya.
"Mengambil peralatan lukis." jawab Sai singkat dan mulai melangkah pergi.
Sakura hanya bisa menghela nafas berat setelah kepergian Sai. Apa Sai hanya bisa mengejeknya saja. Sakura benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikir Sai.
Bruk
Suara benda terjatuh menarik perhatian Sakura. Tepat di bawah bangku ada sebuah benda yang terjatuh, sebuah buku. Karena penasaran Sakura mengambil buku yang tidak terlalu besar, mungkin hanya seukuran saku celana.
Di bolak-baliknya lembar per lembar dan tak lama alis Sakura sedikit mengerut.
"Eh, buku apa ini?" ujar Sakura bingung.
Buku itu tak terdapat tulisan, hanya gambar dua orang anak kecil yang tersenyum senang berusia sekitar 7 tahun di setiap sisi buku itu. Salah satu anak kecil itu berambut keperakan dan yang satu lagi berambut hitam klimis.
"Sangat tidak sopan melihat hal milik orang lain." tanpa di duga Sai sudah ada di depan Sakura masih dengan senyuman khasnya.
"Maaf, aku tidak tau ini milikmu, Sai." Sakura memberikan buku itu kepada Sai.
"Tak masalah." Sai menerima buku yang di berikan Sakura dan langsung kembali dimasukan kedalam tas selempangannya.
Sai meletakan beberapa peralatan lukis yang baru saja di bawanya, menyusunnya sedemikian rupa dan mulai duduk di sebelah Sakura.
Sai mulai membuat beberapa coretan yang sketsa pada kanvas putih di depannya. "Kau melihatnya?" tanya Sai tanpa mengalihkan perhatiannya dari sketsa gambar yang baru di buatnya.
"Melihat apa?" Sakura yang tidak mengerti hanya bisa mengangkat alisnya.
"Gambar di buku itu."
"Oh, dua orang anak kecil itu?" tanya Sakura memastikan. "Ya, aku melihatnya." jawab Sakura setelah mendapatkan anggukan dari Sai.
"Apa itu juga lukisanmu?"
"Ya, lukisan lama."
"Bukankah kau bilang, kau tak pernah melukis manusia. Lalu kenapa kau menggambar dua anak kecil itu?"
"Anak kecil berambut hitam itu, aku."
"Yang berambut perak?"
Sai diam sejenak bahkan tangannya yang sedang mengoreskan cat warna ke kanvas terhenti.
"Kakakku." suara Sai terdengar begitu kecil, nyaris tak terdengar.
Sakura menatap Sai tak percaya, bagaimana mungkin laki-laki tanpa ekspresi seperti Sai memiliki saudara yang terlihat sangat ramah dari senyuman yang mengembang di wajahnya. "Benarkah? Aku tak pernah melihatnya."
"Kau tak mungkin pernah melihatnya." ujar Sai sambil kembali menggerakan kuasnya untuk mengoreskan cat warna ke kanvas
Sakura memiringkan kepalanya. "Eh! Kenapa?"
"Kakak sudah lama meninggal."
Kedua bola mata Sakura membulat mendengar perkataan Sai, dan untuk sesaat Sakura bisa melihat ekspresi aneh pada wajah Sai, sedih mungkin.
"Maaf." Sakura menundukan kepalanya, menyesal telah menyinggung sesuatu yang seharusnya tidak dibicarakan.
"Tidak apa-apa. Aku dan kakak bukanlah saudara kandung. Kau tak perlu meminta maaf, Jelek." Sai kembali tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya dari kanvas di depannya.
"Tapi tetap saja." setetes air mata jatuh dari Emerald Sakura, ia sedikit sensitif dengan kata kematian.
"Kau tak perlu bersedih untuk hal yang tidak kau tahu."
Sakura menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak sedih untuk hal yang tidak aku tahu, aku bersedih karena aku tahu bagaimana rasanya saat orang yang paling kita sayang meninggal." Sakura semakin menundukan kepalanya.
"Walau kau menangis, orang yang sudah meninggal tidak akan kembali." Sai meletakan kuas ditangannya. "Hal yang sudah pergi tidak akan pernah kembali." dan menengadahkan kepalanya ke atas, menatap kumpulan awan yang bergerak beriringan di atasnya.
"Kau benar, tetapi perasaan itu tak akan pernah pergi. Perasaan untuk orang yang kita sayangi." perkataan Sakura membuat Sai memalingkan kepalanya ke samping, melihat Sakura yang sedang tertunduk.
"..."
"Apa kau tidak bisa merasakannya?" Sakura mengangkat kepalanya, guna menatap mata Sai untuk mencari ekspresi yang mungkin tergambar jelas di sana.
"Aku merasakannya..." Sai menutup kedua bola matanya, merasakan angin musim semi yang menerpa wajahnya. "Setiap saat, selalu."
"Aku bukanlah orang yang bisa dengan mudah memperlihatkan ekspresi kepada orang lain, sehingga terkadang membuat orang lain salah paham karena ekspresi dinginku." Sai membuka kedua kelopak matanya dan menatap balik Emerald Sakura di hadapannya.
"Tak ada yang ingin berteman denganku, semua orang takut dan menghindariku." Sai mengalihkan pandangannya ke lukisan yang masih berupa sketsa gambar.
"Hanya kakak yang selalu tersenyum ramah kearahku, mengajakku bermain dan selalu bersamaku di saat semua orang hanya menjauhiku dan memanfaatkanku."
Sai menatap lukisannya yang masih berupa sketsa gambar dengan beberapa coretan cat warna. "Dan dia adalah orang pertama yang memuji lukisanku indah."
"Entah sejak kapan aku merasa keberadaannya seakan keharusan yang penting di setiap hariku." Sai tersenyum, sebuah senyuman lembut penuh luka yang tak pernah di perlihatkannya sebelumnya. "Hubungan kami jadi semakin dekat, begitu dekat seperti saudara."
"Sai..." ucap Sakura lirih.
"Sampai suatu hari kakak meninggal karena melindungiku yang hampir ditabrak mobil." tatapan dingin mata Sai kembali, kosong dan gelap. "Padahal hari itu adalah hari ulang tahunnya dan aku sudah menyiapkan sebuah hadiah untuknya, tetapi dengan bodohnya ia melindungiku dan membiarkan dirinya tertabrak mobil."
"Ia membuang nyawanya demi orang tak berguna sepertiku." ujar Sai lirih sambil menundukan kepalanya.
"Tidak!" ucap Sakura tegas membuat Sai yang menundukan kepalanya terangkat.
Kedua manik hitam Sai membulat saat melihat Emerald Sakura kini sudah basah tergenang air hangat.
"Kakakmu melakukannya karena ia sangat menyayangimu."
"Dia mengorbankan nyawanya untukku, apa dengan itu kau pikir aku senang?" tanya Sai kesal. "Hidup dengan mengorbankan nyawa orang yang kau sayangi." lanjutnya.
"Aku akan melakukan hal yang sama." suara Sakura melembut dengan senyuman menghiasi wajahnya. "Aku pasti akan melindungimu jika berada diposisi kakak itu." lanjutnya.
Sai menatap Sakura tidak percaya. "Kenapa?" tanya Sai tidak mengerti.
"Karena aku menyayangimu."
Deg
"Akan kulakukan apa pun asalkan orang yang kusayangi bisa selamat." ucap Sakura. "Dan kurasa itu juga yang di rasakan kakakmu, Sai. Demi melindungimu yang begitu di sayanginya." lanjut Sakura.
"Kakak..." Sai menundukan kepalanya dan membiarkan butiran kristal jatuh dari matanya.
"Walau aku tidak bisa mengingat dengan jelas. Dulu waktu aku masih kecil, nenek pernah berkata padaku." Sakura menengadakan kepalanya ke atas. "Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan abadi." lanjutnya.
"Walau sudah tidak ada lagi di dunia ini, aku percaya nenek akan selalu melihat dan menjagaku dari sana." perkataan Sakura membuat Sai mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Sakura. "Kakakmu juga, di atas sana pasti sedang memperhatikanmu, Sai." Sakura tersenyum sambil menutup kedua kelopak matanya.
"Bagaimana kau tahu, sesuatu itu ada jika kau tidak bisa melihatnya?"
"Sesuatu yang tidak bisa kau lihat bukan berarti tidak ada." Sakura mengangkat tangannya merasakan angin yang menyentuh lembut kulitnya. "Angin."
Alis Sai mengerut tak mengerti. "Angin?" ulangnya memastikan.
Sakura menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Sai. "Kau tak bisa melihat angin, tetapi angin selalu berada di sekelilingmu. Memberikan kesejukan dan perasaan nyaman yang membuatmu menjadi tenang." jelas Sakura. "mungkin sama seperti kakakmu, Sai. Yang walau pun tidak terlihat tetapi akan selalu berada di dekatmu sama seperti nenekku." Sakura tersenyum, tersenyum lebar karena membayangkan neneknya berada di dekatnya.
Sebuah lengkungan terbentuk di bibir tipis Sai.
"Kau percaya dengan omong kosong seperti itu, Jelek." ejek Sai.
Sakura melipat ke dua tangannya di depan dada dan mengalihkan wajahnya ke samping, tidak mau melihat Sai yang tersenyum mengejeknya. "Huft, berhentilah mengataiku jelek!" cibir Sakura kesal, kesal selalu dikatai jelek oleh laki-laki di depannya ini.
"Kau memang jelek dan norak seperti namamu."
Pelipis Sakura berkedut mendengar ucapan Sai. Menyesal sudah Sakura, karena sempat terbawa perasaan akan cerita laki-laki tanpa perasaan di depannya.
Sakura menghelakan nafasnya berat. "Kau tahu, setiap orang punya cara mereka sendiri menggambarkan kecantikan dan keindahan itu."
"Benarkah?" tanya Sai tidak percaya yang lebih pantas di bilang ejekan.
Sakura menurunkan tangannya dari depan dada dan memandangi pohon-pohon sakura yang berjejer rapi di depannya. "Ya, apa kau tau bunga Sakura hanya mekar beberapa hari, paling lama satu minggu."
Sai ikut memandangi pohon-pohon Sakura yang mulai berguguran, menerbangkan kelopak bunganya. "Ya, aku tahu itu."
"Tetapi kau tidak tahu apa yang sudah di laluinya agar bisa mekar dengan indahnya. Ya, walau hanya beberapa hari." ujar Sakura sambil berdiri dan berjalan ke depan.
"..."
Sai hanya diam dan memperhatikan Sakura yang kini berdiri di depannya seakan membiarkan Sakura meneruskan ceritanya.
"Musim dingin. Dimana semua yang hidup, tidak bisa hidup. Tapi bunga sakura mekar walau di tutupi salju sekalipun." Sakura melepas kacamatanya karena tertutup debu.
"Bunga kecil yang berusaha agar bisa mekar dengan indahnya, cantik sekali bukan?" Sakura tersenyum, tersenyum dengan lebar dan membiarkan kelopak bunga sakura yang berguguran tertiup angin berterbangan mengelilinginya.
Deg
Ke dua manik hitam Sai membulat dan perlahan senyum simpul terukir indah di wajah tampannya. "Sakura benar-benar cantik dan indah sekali."
"Eh?" Sakura mengalihkan tatapannya pada Sai yang sedang memandanginya.
"Bunganya, yang cantik bunga sakuranya bukan gadis jelek sepertimu."
Sakura mengembungkan pipinya kesal. "Huft, kau menyebalkan sekali, dasar mayat hidup!" Sakura kembali mengenakan kacamatanya dan melipat kedua tangannya kedepan dada.
Sai tersenyum kecil melihat ekspresi gadis di depannya. "Kau jadi semakin jelek kalau seperti itu." ujarnya dan kembali mengambil kuas dan mengores kembali beberapa cat warna ke kanvas.
Sakura melirik Sai dengan ekor matanya. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sakura yang melihat Sai begitu serius.
"Melukis." jawab Sai tanpa mengalihkan tatapan matanya dari kanvas di depannya.
"Sudah mendapatkan inspirasi?" Sakura mendekati Sai yang sedang sibuk menggerakan kuas di tangan kanannya.
"Ya."
"Inspirasi dari apa?" karena penasaran Sakura mengintip gambar Sai dari samping, di sana Sai sedang melukis sebuah pohon dengan cat warna merah muda.
Sai tersenyum dan melirik Sakura sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya ke lukisan yang sedang di buatnya. "Sakura."
"Eh?" Sakura menaikan sebelah alisnya atas jawaban Sai.
Sai kembali tersenyum. "Bunga Sakura yang tumbuh dengan indahnya."
.
.
.
Angin kembali bertiup lembut, membelai wajah Sakura yang tertidur karena bosan menunggu Sai yang sedang melukis.
"Je-lek ba-ngun!" Sai mengeja kata-perkata yang di keluarkannya sehingga hembusan nafasnya bisa mengenai wajah Sakura.
"Nge~" Sakura menggeliat manja dan semakin menyandarkan kepalanya.
Sai tersenyum melihat gadis yang tertidur nyenyak di bahunya. "Kalau tidak bangun, aku cium, loh!" mendengar perkataan Sai, Sakura langsung mengangkat kepalanya.
Walau masih belum dengan kesadaran sepenuhnya, Sakura bisa melihat dengan jelas seringaian Sai. Seringaian?
Sai meregangkan bahunya yang terasa kaku. "Apa yang kau makan? Kepalamu bisa seberat itu?" tanya Sai.
"Kepalaku berat? Dari mana kau tau?" Sakura memincingkan matanya tidak terima dengan perkataan Sai.
"Kau tidak sadar, sudah menyenderkan kepalamu kepada bahuku selama tertidur?" ujar Sai sambil berdiri dan merapikan peralatan lukisnya.
"Aku ketiduran? Dan menyender padamu?" tanya Sakura bingung, seingatnya waktu merasa ngantuk ia menyender pada sebatang pohon sakura yang tidak jauh dari posisi Sai melukis.
"Ya," Sai menyodorkan kacamata jadul Sakura, yang sengaja di lepas saat tertidur tadi.
"Bukannya aku menyender pada sebatang pohon sakura yang ada di..." Sakura mengedarkan pandangannya, mencari batang pohon sakura tempat ia tertidur. "Disana!" tunjuk Sakura.
"Badanmu berat, berdietlah sedikit!"
Blush
Wajah Sakura memerah mendengar perkataan Sai. Berarti saat Sakura tertidur Sai mengendongnya dan memindahkannya kembali kebangku, dan menyenderkan tubuh Sakura padanya.
Sakura mengenakan kacamatanya kembali sekaligus menutupi rona merah di pipinya. "Su-sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Sakura malu.
"Hem~ tiga jam mungkin." Sai meletakkan jari telunjuknya ke dagu, pose berpikir.
"Eh! Selama itu?" Sakura terkejut, benar juga sebelum tertidur langit masih berwarna biru dan sekarang sudah berwarna sedikit kemerahan.
Sakura mengedarkan pandangannya dan melihat peralatan lukis Sai sudah tersusun rapi, siap dibawa pergi.
"Sejak kapan lukisanmu selesai, Sai?" tanya Sakura penasaran.
"Dua jam yang lalu."
"Kenapa kau tidak membangunkan ku?"
"Wajah tertidurmu sangat jelek dan aku menikmatinya." Sai melangkahkan kakinya, meninggalkan Sakura yang berteriak kesal di belakangnya.
Lagi pelipis Sakura berkedut kesal mendengar ejekan Sai. "Dasar mayat hidup tanpa ekspresi!" teriaknya kesal.
.
.
.
"Sai, yang ini di letakan dimana?" tanya Sakura yang sedang menyusun beberapa cat air milik Sai kedalam mobil ferari Sai.
Sai menunjuk kursi kosong di belakangnya. "Letakan disana saja, Sakura."
"Eh?"
"Kenapa?" Sai mengerutkan alisnya saat menyadari Sakura menatapnya aneh.
"Kau memanggilku Sakura, bukankah biasanya Jelek?" tanya Sakura tidak mengerti.
"Aku kasihan, kau sudah jelek dipanggil Jelek. Aku tidak mau di pukul Naruto dan digigit Akamaru, anjingnya Kiba." ujar Sai sambil tersenyum tanpa dosa.
"Terserah kau saja!" Sakura memutar badannya kesamping, tidak mau melihat senyum Sai yang menyebalkan itu.
Tanpa sengaja Sakura melihat dua kanvas lukisan Sai yang diletak di bangku belakang tertutup kain berwarna putih.
"Ada dua, boleh aku lihat?" tanya Sakura sambil menggerakan tangannya untuk menarik kain putih yang menutupi kanvas lukisan Sai.
"Jangan!" Sai menggenggam tangan Sakura erat, menahannya untuk tidak melepas kain putih itu.
"Ah, maaf." ujar Sakura sambil menarik kembali tangannya. "Bisa tolong lepaskan tanganku, Sai?" lanjut Sakura melirik pergelangan tangannya yang masih digenggam Sai.
Sai melepas genggaman tangannya dan menggaruk pipinya yang memerah. "Kita akan melihatnya bersama dengan yang lain." ujarnya sedikit malu.
Melihat ekspresi malu-malu Sai yang tidak pernah di lihat Sakura, membuat lengkungan tipis di bibir Sakura terbentuk, rasanya senang melihat ekspresi Sai.
Sai membuka pintu mobilnya dan sebelum masuk, ia melirik Sakura yang berdiri diam memandangi dirinya. "Ayo naik Sakura, kita harus segera kembali ke cafe!" perintah Sai.
"Ya."
"Kami kembali." ucap Sakura saat sudah memasuki pintu depan cafe.
Drap Drap
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan tergesa-gesa.
"Sakuraaaaa-chaaann!" teriak Naruto sambil merentangkan ke dua tangannya bersiap memeluk Sakura yang memandangnya tidak mengerti.
"Aku merindukanmu." ujar Naruto mengeratkan pelukannya pada sosok di depannya.
"Na-naruto?" panggil Sakura yang berdiri di samping Naruto.
"Eh, Sakura-chan kenapa kau di situ, bukankah seharusnya aku memelukmu?" Naruto mengerutkan alisnya saat melihat Sakura di sampingnya, jika Sakura berdiri di sampingnya lalu yang dipeluknya.
"Aku juga merindukanmu, Naruto." suara berat Sai terdengar dalam pelukan Naruto dan tak lupa dengan senyuman khasnya.
"Ghyaaaaaaaaaaa!" Naruto berteriak kencang saat menyadari orang yang dipelukanya bukanlah Sakura melainkan Sai yang maju ke depan ketika Naruto hendak memeluk Sakura.
"Ya ampun Naruto, aku tidak menyangka ternyata kau..." Kiba yang berada di situ memasang tampang kaget yang di buat-buat. "Penyuka sesama jenis." lanjutnya dengan tatapan mata jijik.
Dengan kesal Naruto mendekati Kiba. "Si-siapa yang penyuka sesama jenis?" teriak Naruto tidak terima.
"Jangan mendekat, Naruto! Aku masih normal." Kiba menyilangkan kedua tangannya ke depan dada, bermaksud menghalangi Naruto yang mendekatinya.
Sakura yang melihat kelakuan konyol Naruto dan Kiba hanya tertawa, begitu juga Sai yang masih berdiri di sebelahnya.
"Sai, kau tertawa?" tanya Naruto yang melihat Sai tertawa.
"Kenapa? Kau jadi semakin menyukaiku karena melihatku tertawa." goda Sai.
"Ti-tidak!" teriak Naruto.
"Hei, ada keributan apa ini?" tanya Kakashi yang baru saja muncul dari arah dapur di ikuti yang lainnya.
"Kakashi-sensei, Naruto penyuka sesama jenis!" jelas Kiba sambil menjulurkan lidahnya ke arah Naruto yang menatapnya kesal.
"..."
Untuk sesaat semua orang terdiam mendengar perkataan Kiba, mencoba mencernanya.
"Sudah ku duga." ujar Neji yang memincingkan matanya kearah Naruto.
"Aku bukan penyuka sesama jenis!" teriak Naruto keras. "Sakura-chan katakan sesuatu!" mohon Naruto.
"Merepotkan." Shikamaru menguap bosan melihat drama di depannya.
"Mereka hanya bercanda Naruto." Kakashi menepuk bahu Naruto berusaha menenangkannya. "Jadi Sai, bagaimana? Apa kau sudah menyelesaikan lukisanmu?" tanya Kakashi pada Sai.
"Sudah, Sensei." Sai menganggukan kepalanya dan meletakan kanvas yang masih tertutup kain putih keatas kursi.
Naruto yang penasaran dengan lukisan Sai, berjalan mendekati Sakura yang berdiri di sebelah Sai. "Sakura-chan, apa lukisannya bagus?" tanya Naruto pada Sakura dengan suara kecil seperti bisikan.
Mendengar perkataan Naruto, Sakura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Naruto. Aku sendiri belum melihatnya." jawab Sakura dengan suara kecil yang tidak kalah dari Naruto.
Sreet
Semua mata di sana terkesima saat melihat lukisan Sai. Sebuah lukisan di mana terdapat rimbunan pohon sakura dan di bawahnya ada satu keluarga yang sedang menikmati Hanami dengan senyuman kebahagian di wajah mereka. Entah kenapa perasaan bahagia keluarga itu bisa tersampaikan kepada orang yang melihatnya.
"Waw, bagus sekali!" teriak Naruto kagum.
"Terima kasih, Naruto."
"Seperti dugaanku kau bisa membuat lukisan yang lebih baik dari yang kemarin." puji Kakashi.
Sakura diam sejenak. Seingatnya, Sai membuat 2 lukisan tadi. "Em~ Sai bukannya kau membuat dua lukisan, yang satu lagi mana?" tanya Sakura sedikit ragu.
"Yang itu lukisan untuk pribadi."
"Lukisan apa, Sai?" tanya Naruto yang juga tertarik dengan lukisan Sai.
Mendengar pertanyaan Naruto, Sai hanya tersenyum, sebuah senyuman penuh arti. "Lukisan jelek." jawabnya singkat.
"Hu~ mau main rahasiaan, ya?" Naruto melipat kedua tangan di depan dada, tidak puas dengan jawaban Sai. Sedangkan Sai masih tetap mempertahankan senyumannya.
Angin lembut terus berhembus menerbangkan kelopak bunga sakura dan terbang masuk kedalam mobil Ferari hitam milik Sai dan jatuh tetap di bawah sebuah lukisan yang tidak tertutup kain putih.
Sebuah lukisan seorang gadis berambut merah muda panjang yang sedang tertidur dengan muka yang begitu polos di bawah pohon sakura dan beberapa kelopak bunga sakura yang terbang bertebaran di sekelilingnya. Tetap di pojok kanan paling bawah terdapat coretan yang membentuk tanda tangan bertulisan nama pelukis, Sai. Dan dibawahnya ada tulisan lagi dengan menggunakan cat berwarna merah muda bertulisan "HaruNo Sakura".
TBC
Author Note:
Hallo aku kembali lagi! (' v ')/
pertama-tama mau minta maaf soalnya gak bisa update kilat, maaf banget! *menundukkan kepala*
Minggu-minggu kemarin itu sibuk sama tugas kuliah yang numpuk belum lagi aku sedang UTS (n,n")a
Ayey, kali ini aku kembali dengan SaiSaku, mana suara yang nagih SaiSaku?
Sebenarnya gak yakin mau Publish yang ini, rasanya feel dan maksud ceritanya gak jelas, belum lagi aku yang minim deskripsi. (T,T)
Semoga masih bisa menghibur bagi Reader yang membacanya. Oh, ya aku menambah Gender-nya dengan Friendship. #Gak ada yang nanya
Selanjutnya mau bales Review ni, yang Login cek PM dan yang gak Login aku balas di sini:
puihyuuchan: Ah, terima kasih atas Review-nya (' v ')/
Hehehe iya, udah di beri lampu hijau tu. selanjutnya SaiSaku ni.. semoga gak mengecewakan.
sasusaku kira: Iya, mengharukan *ngapus air mata*
Syukurlah kalau Pesan Moral yang aku masukan bisa di terima dengan baik :D
Terima kasih jempolnya dan terima kasih Review-nya :)
meilisa: Ah, ini sudah Update. terima kasih Review-nya (n.n)
widya J: Terima kasih Review-nya.
iya sebagai anak kita harus mengerti sama kesibukan orang tua, jangan menuntut pengertian dari mereka jika kita sendiri tidak bisa mengerti mereka :)
Sadikaachan: Terima kasih pujiannya, jadi malu.
GaaSaku ada, di tunggu aja ya... ;)
Terima kasih atas Review-nya :D
Ehem~ Terakhir kalau sudah baca, Review Pelase...!
Salam hangat,
Kimeka ReiKyu
Palembang, 15 April 2013
