"Hiks... hiks..." suara isak tangis seorang anak kecil yang tidak terlihat jelas wajahnya karena tertunduk terdengar begitu pilu.
"Ti..dak apa-apa." ujar seseorang yang tertidur di pangkuan anak kecil yang sedang menangis, dengan genangan air berwarna merah mengelilinginya.
"Maaf." suara isak tangis anak kecil itu semakin nyaring.
Sosok yang tertidur perlahan menggerakkan tangannya menyentuh pipi anak kecil yang menangis dan menghapus air mata yang terus berjatuhan.
"K...kau tidak terlu...ka?" tanyanya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
Anak kecil yang menangis itu hanya bisa mengangguk dan balas menggenggam erat tangan orang yang menyentuh pipinya.
Sosok itu menghembuskan nafasnya lega melihat jawaban dari anak kecil yang menangis. "Syu...kur...lah..." perlahan, tangan yang menyentuh pipi anak kecil yang menangis terjatuh ke samping.
"Hiks... aku berjanji hiks... akan melindungimu dengan nyawaku..."
Deg
Kedua manik Emerald sang gadis merah muda terbuka paksa, terbangun dari tidurnya. Keringat dingin bercucuran dengan deras membasahi wajah dan pakaian yang ia kenakan, rambut merah mudanya yang berantakan pun lepek karena keringat.
"Hosh.. hosh... mimpi apa itu hosh...?" Sakura—gadis merah muda—mencengkram dadanya kuat dan berusaha mengatur nafasnya yang memburu.
Drrrrrt Drrrrrt
Sakura menolehkan kepalanya ke samping, melihat Handphone-nya yang terus bergetar. Dengan perlahan dan masih dengan tangan kiri mencengkram dadanya, Sakura mengambil Handphone itu. Siapa yang begitu rajin mengiriminya pesan pagi-pagi begini.
Sakura menghela nafasnya berat, berusaha mengurangi debaran di jantungnya karena mimpi anehnya tadi. Dan membaca pesan yang diterimanya.
From: Kakashi-sensei
Selamat pagi. Jangan lupa hari ini datang ke cafe pukul 7 pagi.
P.S: Persiapan sebelum Event.
Sakura tersenyum membaca pesan dari Kakashi. Benar juga, ini hari pembukaan Event dan semuanya di perintahkan datang lebih pagi untuk persiapan.
Menyadari sesuatu yang tidak beres Sakura memutar kepalanya ke samping, melihat jam weker berbentuk buah cherry di meja kecil tepat di sebelah kasurnya.
Dan kedua manik Emerald Sakura membulat. "Aku kesiangan!" teriaknya langsung berdiri dari kasur dan berlari ke kamar mandi saat dilihatnya jam weker sudah menunjukkan pukul 06.30.
Clover's Cafe
Naruto © Masashi Kisimoto
Ranted: T
Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)
Story © Kimeka ReiKyu
Warrnig: Au, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
[Sakura-Centric]
Don't Like, Don't Read!
"Maaf aku terlambat." Sakura menundukkan kepalanya berkali-kali meminta maaf pada Kakashi di depannya.
Kakashi tersenyum simpul di balik maskernya. "Tidak apa-apa, Sakura." ujarnya kikuk melihat Sakura yang terus-terusan menundukkan kepalanya.
"Kakashi-sensei, apa pakaian ini tidak terlalu mencolok?"
"Bisakah kau diam, Naruto? Kau selalu menanyakan hal yang sama!"
"Uh, aku kan tidak mau kelihatan jelek di depan Sakura-chan."
"Kalau sudah jelek, mau pakai baju apapun tetap jelek."
"Apa kau bilang, Sai?!"
Deg
Jantung Sakura seakan berhenti, saat di depannya telah berdiri 7 laki-laki tampan menggunakan Hamaka, bukan seragam pelayan yang biasanya.
Naruto yang kesal karena Sai dan Kiba terus mengejeknya, mengalihkan wajahnya ke samping. "Sakura-chaaaan!" teriak Naruto saat melihat Sakura yang berdiri diam, terpesona akan ketampanan laki-laki di depannya.
Sakura terteguk diam. "Kenapa aku bisa lupa betapa tampannya mereka." teriaknya dalam hati.
Naruto berjalan mendekati Sakura yang terus-terusan memandangi mereka takjub. "Bagaimana, aku tampan tidak?" tanyanya setelah berdiri di depan Sakura dengan cengiran khas di wajahnya.
Dengan sedikit canggung Sakura mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Em~ ya." jawabnya gugup.
Naruto menggunakan Hakama Orange, rambut pirang jabriknya di beri ikat rambut berbentuk rubah di sebelah kirinya, agar rapi dan membingkai wajah tampannya. Sai menggunakan Hakama berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit pucatnya. Kiba menggunakan Hakama berwarna ungu kehitaman.
Shikamaru Hakama berwarna hijau, rambut yang biasanya di ikat nanasnya di gerai dan hanya di ikat setengahnya saja. Gaara dengan Hakama berwarna merah darah yang membuatnya terlihat semakin mempesona. Sasuke Hakama berwarna biru Donker yang sangat cocok untuknya dan rambut mencuatnya diberi beberapa jepit rambut. Sedangkan Neji menggunakan Hakama berwarna abu-abu dan rambut panjangnya di ikat tinggi.
"Sakura-chan!" suara teriakan seorang wanita menyadarkan Sakura dari lamunannya akan laki-laki tampan di depannya. "aku sudah menunggumu!" lanjutnya.
Sakura tersenyum melihat siapa yang meneriaki namanya. "Nee-chan." ujarnya riang.
Ya, wanita yang meneriaki nama Sakura adalah Rin.
"Sakura-chan, kita harus segera mengganti pakaianmu!" Rin menarik tangan Sakura menuju ruang ganti.
"Seragam baru Nee-chan?"
"Ya,"
Blam
"Sakura juga dapat seragam baru, Sensei?" tanya Sai penasaran kepada Kakashi yang masih menatap pintu berwarna coklat di depannya.
"Ya, semua mendapat seragam baru." jawab Kakashi, masih memfokuskan matanya ke depan.
Untuk sesaat semua orang di ruangan itu hanya diam, sibuk dengan urusan mereka masing-masing tetapi tidak ada yang beranjak dari sana. Menunggu sang gadis merah muda mengganti seragam pelayan barunya.
Cklek
"S-sakura-chan?" ucap Naruto tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Di depan pintu, Sakura telah mengganti pakaiannya dengan seragam baru Maid yang dibuat khusus oleh Rin untuk Event Hanami ini. Seragam pelayan yang mirip dengan Yukata, atau bisa dibilang Yukata modern.
Yukata berwarna merah muda dengan motif bunga sakura yang ujungnya di beri hiasan renda-renda putih dan panjangnya hanya 5 cm di atas lutut, membuat kaki jenjang Sakura yang mulus dan putih terekspos dengan jelas. Sakura tidak menggunakan sepatu, melainkan bakiak yang sama dengan yang di gunakan pelayan laki-laki. Perut ramping Sakura di lilit Obin berwarna merah darah dengan simpul pita kupu-kupu di belakangnya. Rambut merah muda panjang Sakura di gulung ke dalam dengan hiasan bunga Sakura di sisi rambutnya sebelah kiri. Sederhana tapi cantik, itulah kesan pertama saat melihatnya.
"Sakura-chan kau can-"
"Cantik sekali, seperti bunga sakura yang sedang mekar." puji Kakashi memotong perkataan Naruto.
"Ya, Kau can-"
"Kau cantik juga, Jelek." ujar Sai sambil tersenyum ramah ke arah Sakura.
"Hei! Sai aku dulu yang memuji Sakura-chan!" protes Naruto yang tidak terima Sai memotong perkataannya. "Sakura-chan kau benar-benar ma-"
"Manis sekali." puji Kiba—yang lagi—memotong perkataan Naruto.
"Guk... guk..." Akamaru ikut menggonggong, setuju akan perkataan majikannya.
"Kiba, aku dulu yang mau bilang begitu!" teriak Naruto kesal yang perkataannya di potong begitu saja oleh Kiba. "Sekarang siapa lagi yang mau memotong perkataanku?" tanya Naruto.
Naruto mengedarkan pandangannya, meneliti satu-persatu laki-laki di ruangan itu. "Apa kau Gaara?" Naruto memicingkan matanya melihat ke Gaara yang bahkan tak mengedipkan mata itu.
Mendengar Naruto menyebut namanya, Gaara hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus melihat Sakura yang berdiri malu-malu di depan mereka.
Karena tak mendapat respon dari Gaara, Naruto kembali mengedarkan pandangannya dan kali ini jatuh kepada seseorang yang terlihat malas. "Apa kau Shika?" tanya Naruto pada Shikamaru di sebelah kirinya.
"Merepotkan sekali." Shikamaru hanya menguap bosan mendengar tuduhan Naruto yang tidak beralasan itu.
"Neji jangan-jangan kau?" Naruto menunjuk Neji dengan tidak sopannya yang sukses membuat ia mendapat hadiah Deathglare dari Neji.
Naruto yang ketakutan melihat tatapan mata Neji menurunkan telunjuknya dan sekarang tatapan matanya beralih ke Sasuke yang berdiri diam di sebelahnya.
Naruto memicingkan matanya menatap Sasuke penuh curiga. "Jangan-jangan kau, Teme?"
Sasuke hanya mendengus mendengar pertanyaan bodoh Naruto tak ada niat untuk menjawab, ia lebih memilih membalik badannya pergi meninggalkan Naruto.
"Anu... Naruto." suara kecil Sakura membuat Naruto yang menatap kesal kepergian Sasuke menggerakkan kepalanya, kembali melihat Sakura yang berdiri di depannya. "terima kasih atas pujiannya." lanjut Sakura dengan rona merah di kedua pipinya.
"Maaf mengganggu acara kalian," ujar Yamato yang tiba-tiba muncul. "Semua tamu sudah mengantri terlalu panjang. Kurasa sudah saatnya kita membuka cafe." jelas Yamato sambil tersenyum ramah ke arah Sakura dan di balas anggukan kepala oleh Sakura.
"Baiklah," perkataan Kakashi berhasil menarik perhatian semua orang yang berada di sana. "untuk pembukaan, Sakura dan Gaara yang akan menyambut tamu. Sisanya bersiap-siap." lanjutnya.
Semua orang yang ada di sana menganggukkan kepalanya mendengar instruksi dari Kakashi dan gonggongan dari Akamaru.
"Tunggu Gaara!" tahan Sakura saat Gaara hendak membuka pintu untuk mempersilakan tamu pertama masuk.
Gaara menatap Sakura dan menghentikan pergerakan tangannya yang akan membuka pintu, sesuai dengan permintaan Sakura. Gaara bisa melihat Sakura yang menutup kedua matanya dan menghelakan nafas, berusaha mengurangi perasaan gugupnya.
"Terima kasih." ujar Sakura dan kembali membuka kelopak matanya. "kau bisa membukanya sekarang." lanjut Sakura yang dijawab anggukan kepala oleh Gaara.
Cklek
"Selamat datang! Terima kasih sudah menjadi tamu pertama di Event Hanami ini!" ujar Sakura ramah, tidak lupa dengan senyuman manis di bibirnya. Sedangkan Gaara di sebelahnya hanya menatap diam tamu di depannya.
"Te-terima kasih." ucap tamu itu gugup, entah karena Sakura yang tersenyum atau Gaara yang menatapnya.
"Silakan ikuti saya." Sakura mempersilakan kedua tamu perempuan itu masuk dan menunjukkan letak meja mereka.
Di dekat meja yang di tuju Sakura sudah menunggu Kiba dan Neji dengan senyuman ramah yang menghiasi wajah rupawan mereka.
"Silakan nona manis." Kiba menarik salah satu kursi dan mempersilakan tamu itu duduk, begitu juga dengan Neji yang ada di sebelah Kiba.
"Hari ini menu special kami adalah Hanami cake dan teh bunga sakura." Sai mendekati meja dan berdiri tepat di sebelah Kiba. "anda ingin memesannya?" tanya Sai dengan senyuman di wajahnya.
Kedua tamu perempuan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan wajah memerah padam karena perlakuan khusus yang di terimanya. Tidak sia-sia mereka sudah berdiri di depan pintu dari jam 5 pagi sampai jam 9 hanya untuk menjadi tamu pertama. Ini adalah hadiah yang diberikan oleh Clover's Cafe kepada tamu pertamanya, yaitu pelayanan penuh dari semua pelayan di cafe.
Setelah menerima pesanan dari kedua tamu itu, Sai berjalan meninggalkan kedua tamu yang memandangnya kagum. Tidak begitu lama Shikamaru dan Sasuke datang dengan nampan di tangan mereka, dan di belakangnya ada Naruto yang membawa 2 tangkai bunga mawar di tangannya.
"Silakan menikmati hidangan anda, nona!" ujar Sakura yang masih berdiri di sana.
"Maaf mengganggu kalian," ujar Naruto yang berdiri di tengah-tengah ke dua tamu ini dan menyodorkan setangkai bunga mawar merah kepada setiap perempuan itu. "ucapan terima kasih karena sudah menjadi tamu pertama kami." lanjut Naruto sambil mengedipkan sebelah matanya.
Kedua tamu perempuan itu nyaris pingsan menerima perlakuan khusus dari semua pelayan di cafe. Mulai dari Sakura dan Gaara yang menyabut mereka, Kiba dan Neji yang menarik kursi mereka, Sai yang mencatat pesanan mereka, lalu Shikamaru dan Sasuke yang mengantarkan pesanan mereka, dan tak lupa Naruto yang memberikan mereka bunga mawar.
"Nona-nona kami permisi dulu." ucap Neji sambil menundukkan kepalanya sopan dan tangan kanannya di letakan di dada, begitu juga yang lain kecuali Sakura yang menunduk hormat biasa.
Semua pelayan berpencar, kembali ke posisi masing-masing. Di depan pintu masuk Kakashi sudah berdiri dengan senyuman di balik maskernya.
"Kita buka sekarang." Kakashi mendorong pintu, membiarkan tamu yang sudah menunggu berhamburan masuk, itu pun hanya sedikit karena ketidak cukupan tempat, sehingga sebagian harus tetap menunggu di luar.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . .
"Silakan pesanannya." Sakura meletakkan dua cake dan dua jus sesuai pesanan tamu.
"Cherry-chan!" teriak tamu yang lain dengan tangan kanan mengacung ke atas.
Mendengar namanya di panggil Sakura menolehkan kepalanya ke samping. "Tunggu sebentar tuan!" Sakura berjalan tergesa-gesa menuju meja itu.
"Kyaaaaaaa!"
Karena terlalu ramai dan padatnya, kaki Sakura tersandung kaki meja dan hampir saja jatuh, kalau saja Gaara tidak menangkap tubuhnya yang kehilangan keseimbangan.
Gaara menatap Sakura begitu intens, membuat jantung Sakura berdetak lebih cepat dari biasanya. Siapa yang tidak akan berdebar jika ditatap seperti itu oleh laki-laki tampan seperti Gaara.
Sakura mengejapkan matanya dan langsung berdiri kembali ke posisi awalnya. "Te-terima kasih, Gaara." Sakura menundukkan kepalanya berterima kasih karena Gaara sudah menolongnya.
Gaara tetap diam dan hanya menatap Sakura di depannya. "Aa..." dan mulai pergi meninggalkan Sakura yang tidak mengerti dengan ucapan Gaara.
"Sakura-chan kau tidak apa-apa?" tanya Naruto khawatir dan tidak begitu jauh, Kiba dan Sai juga menatap Sakura cemas.
"Ya, aku tidak apa-apa." Sakura berusaha tersenyum agar Naruto tidak perlu khawatir, tetapi pandangan mata Sakura tertuju pada Gaara yang sedang mencatat pesan tamu.
"Rasanya aku pernah melihat tatapan mata itu." pikir Sakura.
.
.
.
"Ah~ capeknya." keluh Sakura sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Sakura ini sudah malam, lebih baik kau segera pulang! Biar pekerjaanmu aku yang lanjutkan." Sai merebut pembersih debu dari tangan Sakura, bermaksud menggantikan Sakura yang kebagian membersihkan debu.
"Terima kasih, Sai." ucap Sakura yang di balas senyuman lembut oleh Sai.
Sakura berjalan ke dalam, bermaksud mengganti seragam barunya dengan pakaian biasa. Hari ini tamu yang datang dua kali lipat dari hari biasanya, yang membuat semua pelayan sibuk bahkan sampai malam. Karena itu sekarang Sakura harus pulang lebih malam dari biasanya.
Bulan sudah muncul menerangi perjalanan Sakura di malam hari yang cukup gelap. Dari jauh Sakura bisa melihat segerombolan orang yang sedang duduk-duduk dengan sebuah botol di tangan mereka.
"Orang mabuk!" Sakura berusaha menghindari segerombolan orang mabuk itu dengan cara mengambil jalan memutar ke rumahnya.
"Nona manis!" teriak orang-orang itu yang menyadari keberadaan Sakura.
Bulu kuduk Sakura seketika berdiri dan tanpa pikir panjang, Sakura langsung berlari secepat-cepatnya menjauhi orang-orang mabuk itu.
"Nona tunggu kami!" teriak mereka mengejar Sakura.
"Gawat bagaimana ini?" teriak Sakura dalam hati, takut karena di kejar segerombolan orang-orang mabuk.
Greb
"Dimana nona itu?" tanya salah satu dari laki-laki yang mabuk itu.
"Cepat sekali larinya. Padahal kita hanya ingin mengajaknya bersenang-senang."
"Sudahlah, kita kembali saja!"
Segerombolan laki-laki itu memutar badan mereka, berjalan kembali ketempat tongkrongan mereka tadi.
Sementara itu, tepat di balik salah satu gedung ada Sakura yang sedang di peluk oleh seseorang dari belakang dan mulutnya di bekap.
"Hemp... hemp..." berontak Sakura minta di lepaskan.
Orang yang memeluk Sakura melepaskan pelukannya, membiarkan Sakura menarik nafas sedalam-dalamnya.
"Si-siapa kau?" tanya Sakura panik dengan kuda-kuda siap untuk memukul laki-laki yang sudah seenaknya memeluknya.
"Kau tidak apa-apa?" orang di depan Sakura malah balik bertanya padanya tanpa menjawab pertanyaan Sakura.
Sakura yang merasa pernah mendengar suara laki-laki itu memincingkan matanya, berusaha memperjelas penglihatannya.
"Gaara?" tanya Sakura memastikan, karena melihat rambut merah laki-laki itu.
"Aa..." jawab Gaara.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" Sakura mengendurkan pertahanannya dan berjalan mendekati sosok yang ternyata Gaara.
"Berjalan pulang." jawab Gaara singkat padat dan jelas.
"Bukankah, biasanya kau pulang dengan menggunakan mobil?"
"Mobilku di pakai kakak."
Sakua hanya ber 'O' ria mendengar jawaban Gaara dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ayo!" ujar Gaara yang mulai melangkahkan kakinya.
Sakura yang tidak mengerti hanya berdiri diam di tempatnya, memperhatikan Gaara yang melangkah pergi meninggalkannya.
Merasa Sakura yang tidak bergerak dari tempatnya. Gaara memutar badannya melihat Sakura yang berdiri diam.
"Aku antar pulang." jelas Gaara.
Mendengar perkataan Gaara, Sakura berlari kecil menuju tempat Gaara, mensejajarkan posisi mereka.
"Terima kasih." Sakura tersenyum senang karena Gaara sudah bersedia mengantarnya pulang, sedangkan di sebelahnya Gaara hanya meliriknya dan tersenyum kecil.
Pagi yang cerah di musim semi Konoha, cocok untuk memulai hari baru.
Sakura berjalan sendiri menuju sekolahnya dengan senyuman menghiasi wajahnya, ia tidak sabar untuk segera pulang dan kembali bekerja di cafe untuk Event Hanami di hari kedua.
Dari jarak yang cukup jauh, Sakura bisa melihat rambut pirang pucat yang di ikat ekor kuda berjalan di depannya. Sakura semakin mengembangkan senyumnya dan berlari kecil mengejar sosok di depannya.
"Pagi Ino." sapa Sakura.
Ino menolehkan kepalanya ke samping, melihat Sakura yang tersenyum senang. "Pagi Sakura." balas Ino lemas dan sesekali menguap.
"Ino, apa itu dibawah matamu?" tanya Sakura, melihat lingkaran hitam di bawah mata Ino.
Ino mengerucutkan bibirnya sebal. "Aku sibuk sekali akhir-akhir ini, sampai mau tidur saja sulit." keluhnya kesal, kesal karena tidak dapat beristirahat dengan cukup. Pekerjaan sebagai model baru yang semakin padat setiap harinya membuatnya harus bekerja lebih keras.
Dahi Sakura mengerut khawatir melihat kondisi Ino yang kelelahan. "Jangan terlalu memaksakan diri Ino!" nasihatnya.
"Huft, tidak akan. Sampai debutku sukses." Ino mengepalkan tangannya dan meletakkannya ke depan dada. "aku tidak akan berhenti sebelum sampai akhir." lanjutnya meniru perkataan Sakura dulu.
"Ino, kau meniru kata-kataku."
"Ya, untuk meniru semangatmu."
Ino dan Sakura tertawa senang, beruntungnya memiliki sahabat yang bisa mengertimu.
"Sakura?" seseorang memanggil nama Sakura, yang tentu saja membuat dua orang gadis yang sedang tertawa memalingkan kepalanya ke samping, mencari pemilik suara.
"Sakura, 'kan?" tanya sosok itu yang ternyata seorang gadis berambut pirang yang di kuncir empat.
Sakura mengamati sosok di depannya dan perlahan senyuman berkembang di wajahnya. "Temari-nee!" teriaknya dan berlari kepelukan gadis pirang bernama Temari di depannya.
"Sudah lama tidak bertemu Sakura." Temari balas memeluk Sakura ,melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu dengan gadis di dalam dekapannya ini.
Sakura melepaskan pelukannya dan sedikit mendongakan kepalanya ke atas, untuk melihat Temari yang sedikit lebih tinggi darinya. "Apa yang Temari-nee lakukan disini?"
"Kau tidak tahu?" Temari balik bertanya kepada Sakura sambil menunjuk baju seragam yang digunakannya.
Sakura mengikuti arah pandang Temari dan terkejut karena Temari menggunakan seragam yang sama dengannya, bedanya milik Temari bergaris kuning menandakan dia berada di tingkat 3 akhir, kakak tingkatnya.
"Kenapa aku tidak pernah melihat Temari-nee di sekolah ini?"
"Aku baru pindah tahun ini dari Suna, Sakura."
"Benarkah? Sendirian?"
"Tidak, aku tinggal bersama adik-adikku yang lain." Temari tersenyum, sebuah senyuman aneh penuh makna. "Dia siapa Sakura?" tanya Temari sambil menunjuk Ino yang berdiri diam di sebelahnya.
"Ah, aku lupa memperkenalkan Ino." Sakura menarik Ino di sebelahnya untuk mendekat ke arah Temari. "ini Yamanaka Ino, sahabatku." lanjut Sakura memperkenalkan Ino yang tersenyum kikuk.
"Hai! Yamanaka-san. Aku Sabaku Temari, saudara jauh Sakura." Temari menjulurkan tangannya yang di sambut hangat oleh Ino.
"Senang berkenalan denganmu, Temari-senpai."
Teng Tong Teng
Suara bel sekolah yang berbunyi menghentikan obrolan Sakura , Ino dan Temari.
"Sudah dulu ya, Sakura." Temari melangkah pergi, tetapi sebelum benar-benar menghilang ia membalikan badannya menghadap Sakura dan Ino. "Nanti aku akan mengunjungimu bersama yang lain." teriak Temari dari jauh.
"Ya, akan aku tunggu!" teriak balik Sakura sambil melambaikan tangannya.
"Apa Temari punya saudara yang lain?" tanya Ino yang mulai melangkahkan kakinya menuju kelas, bersama dengan Sakura di sebelahnya.
"Ya, jika aku tidak salah ada dua orang." Sakura menyentuh dagunya. "Tetapi aku tidak begitu ingat, karena hanya Temari-nee yang sering berkunjung ke rumah." jelas Sakura yang di tanggapi anggukan kepala oleh Ino.
Tidak begitu jauh dari Sakura dan Ino, ada seseorang yang berdiri menatap kepergian mereka dengan pandang yang begitu sedih dan terluka.
"Kau yakin tidak ingin memberitahunya?"
"Tidak sekarang. Nanti sampai dia siap menerimanya."
"Jika terus di tunda kau akan semakin terluka, karena dia tidak akan bisa mengingatmu."
"Tidak apa, asal aku masih bisa terus melindunginya."
Perlahan ke dua sosok itu menghilang di balik kerumunan murid-murid yang berhamburan menuju kelas mereka.
.
.
.
"Terima kasih atas kunjungannya."
Sakura menghelakan nafasnya lelah, tadi adalah pelanggan terakhirnya di hari kedua Event Hanami ini. Di pukul-pukul bahunya pelan, berusaha mengurangi rasa pegal di kedua bahunya.
"Sakura kau tidak pulang? Sekarang sudah malam!" tanya Kakashi yang tiba-tiba muncul di belakang Sakura.
"Kakashi-sensei, kau mengagetkan ku."keluh Sakura sambil mengelus-elus dadanya. "sebentar lagi." lanjutnya.
"Pulanglah! pekerjaan bersih-bersih akan di gantikan oleh yang lain."
"Aku tidak enak jika pulang lebih dulu Sensei." Sakura mengambil sapu di dekatnya dan mulai menyapu lantai cafe yang kotor.
"Tidak perlu." Kakashi merebut sapu di tangan Sakura dan mendorong tubuh Sakura berjalan ke ruang ganti. "biar aku yang gantikan." lanjutnya sambil tersenyum dibalik maskernya.
Sakura hanya mengangkat ke dua bahunya mendengar perkataan Kakashi. "Baiklah kalau begitu, Sensei." ucap Sakura dan langsung pergi ke ruang ganti sesuai perintah Kakashi.
Tidak begitu lama, Sakura sudah selesai mengganti seragamnya dan berjalan kembali ke depan menuju Kakashi yang sedang menggantikannya membersihkan cafe.
"Kakashi-sensei aku pamit pulang dulu." Sakura membungkuk badannya sopan di depan Kakashi.
"Ya, hati-hati Sakura." balas Kakashi.
Setelah pamit dengan Kakashi, Sakura melangkahkan kakinya keluar. Udara dingin malam yang pertama kali menyambutnya, dan untuk mengurangi rasa dingin yang menembus kulitnya, Sakura meniupkan udara dari mulutnya ke tangannya dan menggosok-gosokan ke dua telapak tangannya, berharap bisa memberi kehangatan lebih untuk tubuhnya yang sedikit mengigil dingin karena angin malam.
Pandangan mata Sakura terhenti saat dilihatnya Gaara berdiri di persimpangan yang tidak begitu jauh dari cafe.
Sakura mengangkat alisnya sebelah. "Apa yang dilakukan Gaara di situ?" tanyanya bingung. Dengan pelan Sakura mendekati Gaara yang sedang menyenderkan tubuhnya ke dinding dan menutup kelopak matanya, menikmati angin dingin yang membelai pelan wajahnya.
"Gaara."
Mendengar suara Sakura, Gaara membuka kelopak matanya, menampilkan manik Jade yang berkilauan.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura saat posisinya sudah berada di depan Gaara.
"Menunggumu." jawab Gaara singkat, padat dan jelas.
"Eh, menungguku? Kenapa?" tanya Sakura tidak mengerti kenapa Gaara menunggunya di malam hari begini.
"Tidak baik seorang gadis pulang malam sendirian."
"Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula kau kan bawa mobil, Gaara." tolak halus Sakura. Sudah cukup kemarin Gaara mengantarnya pulang, tidak mau merepotkan Gaara lagi.
"Mobilku dipakai kakak."
Sakura mengerutkan alisnya mendengar alasan Gaara. "Bukankah kemarin mobilmu juga di pakai kakakmu, Gaara?" tanyanya.
"Dia meminjamnya lagi." jelas Gaara dan mulai melangkahkan kakinya.
Sakura mengikuti langkah Gaara dan mensejajarkan posisinya dengan Gaara. Sebenarnya Sakura tidak enak terus-terusan merepotkan Gaara, tapi jika boleh jujur Sakura takut pulang sendirian, mengingat kejadian kemarin yang mungkin saja bisa terjadi lagi jika ia pulang sendiri. Dengan Gaara di sampingnya Sakura merasa aman dan nyaman, sebesit perasaan rindu muncul di hatinya.
Empat hari sudah berlalu dan Clover's cafe semakin ramai saja setiap harinya. Sekarang tidak hanya perempuan yang datang melainkan laki-laki juga mulai sering berdatangan untuk bertemu dengan Sakura dalam identitas Cherry yang sukses membuat Naruto, Sai, Kiba dan Akamaru kalang kabut dan memberikan tatapan Dheatglare kepada laki-laki yang memandang Sakura kagum. Mana mau mereka membiarkan Sakura yang berharga bagi mereka di tatap seperti itu oleh laki-laki lain.
"Kau makin populer setiap harinya, Sakura." tegur Yamato dari dapur yang sedang membuat kue bersama Choji.
"Biasa saja, Sensei." jawab Sakura sambil menyodorkan daftar pesanan tamu kepada Yamato. "mereka yang semakin populer." tunjuk Sakura ke arah pelayan laki-laki yang di tatap penuh cinta oleh para tamu wanita.
Yamato menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Ah, maksudku dalam arti yang berbeda."
Sakura menelengkan kepalanya ke samping. "Arti yang berbeda?"
"Pelayan!" suara teriak tamu membuat Sakura harus segera membalikkan badannya, setelah sebelumnya meminta izin pamit pada Yamato.
"Populer dalam arti yang berbeda." Yamato menghelakan nafasnya melihat Sakura yang berlari kecil meninggalkannya.
.
.
.
"Kami pulang dulu, Sensei." teriak Naruto sambil melambaikan tangannya kepada Sakura yang berada di samping Kakashi. "sampai ketemu besok Sakura-chan." lanjutnya.
"Ya, hati-hati Naruto." balas Sakura ikut melambaikan tangannya.
"Hari ini kau pulang bersama Gaara lagi, Sakura?"
Sakura menurunkan tangannya saat di rasa Naruto sudah tidak terlihat lagi. "Ya, Sensei." jawabnya dengan senyuman manis di bibirnya.
Melihat senyuman Sakura, Kakashi ikut tersenyum. Tidak jauh dari mereka ada Gaara yang memandangi mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Sakura." panggil Gaara.
Sakura memutar kepalanya, menghadap Gaara yang sudah menunggunya.
"Maaf Kakashi-sensei, aku juga permisi pulang." Sakura membungkukkan badannya dan setelahnya berlari kecil menuju tempat Gaara yang sudah menunggunya.
Kakashi hanya memandangi kepergian Sakura dalam diam, dan kemudian menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit cafe.
"Cepat atau lambat semua rahasia pasti akan terbongkar." gumamnya.
Selama Event, Sakura dan Gaara selalu pulang bersama. Jika Sakura bertanya kepada Gaara, kenapa ia bersedia mengantar Sakura yang notabene berlawanan arah jalan pulang dengannya, maka alasan yang diterimanya selalu sama, mobil Gaara di pakai kakaknya.
Perjalanan mereka hanya di isi oleh celotehan Sakura yang membicarakan tentang kekonyolan Naruto dan Kiba atau tentang Ino, apa saja yang bisa membuat Sakura bercerita dan di sebelahnya Gaara hanya bergumam atau menganggukkan kepalanya saja atas cerita Sakura. Sakura tidak terganggu dengan sikap Gaara yang terkesan cuek terhadapnya. Sebaliknya Sakura merasa nyaman dan merindukan suasana seperti ini.
"Emm Gaara, jika aku boleh tau. Bagaimana caramu bisa bekerja di cafe?" tanya Sakura yang sudah bosan menceritakan kekonyolan Naruto dan Kiba.
Gaara melirik Sakura sebentar dan kembali melihat jalan di depannya. "Saat aku sedang menjemput kakakku, aku bertemu dengan Naruto dan Kakashi-sensei. Mereka yang menawariku bekerja."
"Bertemu di mana?"
"Di sekolah."
"Kakakmu juga sekolah di KSHS?"
"Saat itu dia hanya mengurus ke pindahannya dan pendaftaranku saja."
Sakura hanya menganggukan kepalanya mengerti mendengar jawaban Gaara.
Keheningan menyelimuti mereka berdua, sudah tidak ada topik pembicaraan yang bisa mereka bicarakan. Sakura hanya memfokuskan pandangannya ke depan dan mengingat-ingat suasana yang begitu di rindukannya, suasana seperti ini pernah terjadi di mana, Sakura yang terlalu fokus dengan pikirannya sendiri membuatnya tak menyadari dari arah belakangnya ada sepeda motor yang melaju kencang tepat ke arahnya.
Breemmm
Tin Tin
Sakura membalikkan badannya dan matanya membulat saat melihat lampu motor yang begitu terang. "A-aku harus menghindar!" teriak Sakura dalam hati.
"Awas Gaa-chan!"
Deg
Tubuh Sakura membeku di tempat, begitu berat untuk melangkahkan kedua kakinya. Dan sesaat tadi Sakura mendengar suara teriak seseorang yang begitu femiliar terniang di dalam kepalanya.
Sakura menutup ke dua kelopak matanya saat motor itu semakin mendekat ke arahnya "Gaa-chan." gumamnya pasrah.
Brukk
Tubuh Sakura di tarik paksa oleh Gaara, sesaat sebelum motor itu menghantam tubunnya, yang membuat posisinya sekarang berada tepat di bawah tubuh Gaara yang melindunginya.
"Sakuraaa!" panggil Gaara panik saat melihat Sakura yang menutup kedua kelopak matanya.
Mendengar panggilan Gaara, Sakura membuka kelopak matanya dan menggerakkan tangannya menyentuh pipi Gaara. "Gaa-chan." panggil Sakura sebelum kesadarannya mulai hilang sepenuhnya, dan pingsan di dalam dekapan hangat Gaara.
Mata Sakura terbuka tetapi yang dapat dilihatnya hanya gelap, kegelapan yang sangat pekat. "Gelap di mana ini? Seseorang, siapa saja? Tolong aku!" teriak Sakura keras, tetapi nihil tidak ada seseorang pun di ruang gelap itu, ia hanya sendiri.
Sakura berdiri di suatu tempat yang begitu gelap, tak ada sedikit pun cahaya, sendirian. Ia terduduk memegangi dadanya yang terasa sesak, nafasnya memburu dan kepalanya terasa sakit.
"Gaa-chan hari ini menginap di rumah lagi?" suara kecil yang masuk ke indra pendengaran Sakura, membuatnya mengangkat kepalanya yang dari tadi terus tertunduk.
Sakura berdiri dan berlari mencari sumber suara. "Suara siapa itu?"
"Aa... Saku-nee." Suara-suara itu semakin terdengar jelas di pendengaran Sakura.
Sakura berhenti berlari dan menolehkan kepalanya ke belakang, melihat sudah berapa jauh ia berlari mengejar suara-suara itu. Tidak ada apa-apa yang bisa dilihat Sakura, hanya gelap.
Dan dari arah depan Sakura, muncul titik-titik cahaya yang semakin membesar. Dengan kecepatan penuh Sakura berlari mengerjar titik-titik cahaya di depannya dan saat berhasil melewati titik-titik cahaya itu, hal pertama yang dilihat Sakura adalah daerah pertokoan yang masih sangat tradisional dan keramaian orang-orang yang berlalu lalang.
"Di mana aku?" Sakura menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri memastikan di mana ia sekarang berada.
Mata Sakura membulat saat melihat salah satu toko yang di atasnya bertuliskan Haruno.
"I-itu rumahku?" bisik Sakura pada dirinya sendiri. Tidak salah lagi, walau berbeda dengan rumahnya yang sekarang, Sakura bisa tau kalau itu rumahnya hanya dari tulisan besar itu saja.
"Saku, ajak Gaara bermain di luar!" dari dalam bangunan itu terdengar suara wanita yang di kenali Sakura sebagai suara ibunya, dan tidak begitu lama muncul siluet anak perempuan berambut merah muda pendek dan anak laki-laki berambut merah sambil bergandengan tangan.
"A-aku?" gumam Sakura melihat anak perempuan berambut merah muda pendek yang tersenyum riang.
"Gaa-chan mau main apa?"
"Main bersama Saku-nee." jawab anak laki-laki di sebelah Sakura kecil dengan polos.
"Huft, maksud Nee-chan. Gaa-chan mau main permainan apa?" Sakura kecil mengembungkan pipinya mendengar jawaban polos anak laki-laki di sebelahnya.
Sakura hanya bisa mengikuti langkah kecil kedua anak-anak itu. Setahu Sakura dirinya yang satu lagi dalam wujud anak kecil itu berusia sekitar 7 tahunan, lalu siapa anak laki-laki yang terlihat lebih muda darinya itu.
Anak laki-laki berambut merah tidak menjawab pertanyaan Sakura, ia hanya mengeratkan genggaman tangannya dan memandang Sakura kecil yang lebih tinggi darinya intens.
Deg
Tatapan mata itu, Sakura tahu tatapan mata siapa. Satu-satu laki-laki yang selalu menatap Sakura dengan cara yang sama, Gaara.
"Sabaku Gaara, kau dengar Nee-chan?" tanya Sakura kecil pada anak laki-laki di sebelahnya yang ternyata Gaara.
"Sabaku Gaara?" Sakura mengerutkan alisnya. Bukankah Sabaku adalah nama keluarga Temari, lalu bagaimana mungkin Gaara memiliki nama keluarga yang sama, kecuali jika ia merupakan salah satu dari Sabaku bersaudara.
"Bagaimana kalau kita ajak Temari-nee dan Kankuro-nii saja, Gaa-chan?" tanya Sakura kecil.
Gaara kecil hanya menggelengkan kepalanya dengan rona merah di pipinya yang cubby.
"Jangan-jangan, Gaara saudara laki-laki Temari-nee." analisa Sakura setelah mendengar dia versi kecil menyebutkan dua bersaudara Sabaku yang lain. "tapi, kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun tentang Gaara?"
Tiba-tiba pandangan Sakura mengabur, sosok dua anak kecil di depannya menghilang.
"Di mana mereka?" Sakura berlarian mencari sosok dirinya dan Gaara yang masih kecil di sepanjang pertokoan, dan untung saja Sakura berhasil menemukan sosok dirinya yang sedang celingak-celinguk sendirian.
"Gaa-chan ke mana?"
Benar juga, Sakura tidak menyadari sosok Gaara kecil sudah tidak ada di sisinya. Kemana anak laki-laki itu.
Tin Tin
Sakura membalik badannya mendengar suara klakson motor yang tidak begitu jauh darinya. Di tengah jalan terlihat sosok Gaara kecil yang gemetar ketakutan sendirian. Dengan segera Sakura berlari bermaksud menolong Gaara yang hampir di tabrak motor, tetapi dia kalah cepat dengan sosoknya yang satu lagi.
"Awas Gaa-chan!"
Braak
Tubuh Sakura kecil terpental beberapa meter kebelakang setelah sebelumnya berhasil mendorong Gaara agar menjauh dari jalan.
Mata Sakura membulat melihat dirinya sendiri tergeletak bersimbah darah di jalan.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sakura entah pada siapa, karena tidak ada satu orang pun yang bisa melihatnya.
"Saku-nee!" Gaara kecil berlari dan berlutut di sebelah Sakura kecil yang sudah terluka parah dan memangku kepala Sakura.
"Hiks... hiks..." suara isak tangis Gaara pecah, kedua manik Jade-nya berlinangan air mata.
"Ti..dak apa-apa." ujar Sakura kecil berusaha menenangkan Gaara yang terus saja menangis, membiarkan tetes air matanya jatuh mengenai wajah Sakura di bawahnya.
"Maaf." ujar Gaara masih dengan linangan air mata.
Sakura kecil menggerakkan tangannya menyentuh pipi Gaara dan menghapus air matanya. "K...kau tidak terlu...ka?" tanyanya dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
Gaara menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan berusaha menahan tangisannya.
"Syu...kur...lah..." perlahan tangan Sakura kecil yang menyentuh pipi Gaara yang menangis terjatuh ke samping, dan kehilangan kesadarannya.
Gaara terus saja menangis walau orang dewasa di sekitar mereka mengangkat tubuh Sakura kecil, berusaha menolongnya. "Hiks... aku berjanji hiks... akan melindungimu dengan nyawaku..." gumam Gaara menghapus air matanya, dan di sebelahnya Temari dan Kankuro dalam versi anak-anak menggenggam erat tangan Gaara, berusaha memberikan kekuatan padanya.
Sakura yang melihat kejadian itu hanya bisa berdiam diri di tempat. Kejadian barusan sama dengan mimpi yang di alaminya beberapa hari yang lalu. Apa yang sebenarnya telah terjadi, Sakura benar-benar tidak mengerti.
.
.
.
"Nge~" Sakura membuka kedua kelopak matanya, dan entah kenapa kepalanya terasa begitu berat dan sakit. "Dimana aku?" tanyanya saat menyadari tempat ia berbaring bukanlah kamarnya.
Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan matanya terhenti pada sebuah bingkai foto yang menampakan sosok dua orang anak kecil berambut merah muda yang sedang tersenyum bahagia dan anak laki-laki berambut merah yang hanya menggenggam tangan anak perempuan berambut merah muda.
Sakura meraih bingkai foto itu, berusaha melihatnya lebih jelas. "Ini?" Sakura tahu kedua sosok anak kecil dalam foto itu adalah dirinya dan Gaara, sama sepeti mimpinya barusan.
Cklek
Suara pintu yang di buka mengagetkan Sakura dan dengan cepat Sakura meletakan kembali bingkai foto itu ke tempatnya.
"Kau sudah sadar, Sakura?" tanya seseorang yang pertama kali muncul dari balik pintu itu.
Sakura mengerutkan alisnya melihat Temari yang berlari memeluknya, apa yang dilakukan Temari disini.
"Temari-nee, aku dimana?" tanya Sakura setelah Temari melepas pelukannya.
"Kau ada di rumah kami Sakura." ujar laki-laki berambut coklat berantakan di belakang Temari.
"Kankuro?" tanya Sakura pada sosok laki-laki di depannya.
"Syukurlah kau masih mengingatku, Sakura." laki-laki bernama Kankuro terlihat lega karena Sakura bisa mengenalinya. "lalu, apa kau masih ingat siapa ini?" tanya Kankuro menunjuk Gaara yang berdiri di sebelahnya.
Sakura mengerutkan alisnya saat melihat Gaara yang memandangnya khawatir. "Gaara?" tanya Sakura memastikan.
"Kau ingat Gaara juga, Sakura?" tanya Temari yang duduk di sisi ranjang yang ditiduri Sakura.
Sakura hanya menganggukan kepalanya. "Aku dan Gaara bekerja di tempat yang sama."
Untuk sesaat Temari dan Kankuro terdiam dan hanya saling bertukar pandang.
"Sakura." panggil Temari. "Gaara lah yang membawamu kemari dalam keadaan pingsan." lanjutnya.
"Dia mengendongmu yang pingsan karena hampir di tabrak motor." jelas Kankuro yang melihat tatapan bingung Sakura.
"Apa hubungan kalian?" tanya Sakura tidak mengerti.
Temari dan Kankuro memandang Gaara yang hanya berdiri diam. "Gaara adik kami." ujar Kankuro.
"Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"
"Bukan tidak pernah melihatnya, Sakura." jawab Temari. "tapi kau tidak dapat mengingatnya."
Sakura semakin mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu Temari-nee, aku tidak mengerti?"
"Waktu masih kecil kau kehilangan ingatanmu, Sakura." jelas Kankuro.
"Kankuro sudah cukup! Biarkan Gaara yang memberitahukan tentang semuanya." Temari berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Kankuro menghela nafasnya dan membalikan badannya sesuai perintah Temari. Tetapi sebelum itu, Kankuro menepuk bahu Gaara. "Sekarang sudah saatnya." bisiknya.
Blam
Pintu ruangan itu tertutup, meninggalkan Gaara yang masih berdiri dan Sakura yang terduduk di ranjang. Untuk sesaat hanya keheningan yang memenuhi ruangan itu, baik Sakura maupun Gaara tidak ada yang membuka pembicaraan.
"Em~ terima kasih." suara Sakura memecahkan keheningan di antara keduanya. "terima kasih sudah menolongku." ulangnya.
Gaara menatap Sakura sekilas dan melangkahkan kakinya untuk duduk di sisi tempat tidur Sakura.
"Apa kau terluka?" tanya Gaara tanpa menatap Sakura.
"Aku tidak terluka dan semua berkat pertolonganmu."
Keheningan kembali menyelimuti keduanya, Sakura dan Gaara hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Gaara. Sebenarnya apa yang telah terjadi?" Sakura menundukan kepalanya, melihat kedua tangannya yang saling meremas kuat.
Gaara melirik Sakura sekilas dan menghelakan nafasnya berat. "Semua itu berawal 10 tahun yang lalu." Gaara menongakkan kepalanya, memandangi langit-langit di atasnya.
"..."
"Saat itu aku masih berusia 6 tahun dan kau 7 tahun." ujar Gaara mengingat kenangan masa kecilnya dengan senyuman miris menghiasi wajahnya. "kedua orang tua ku sibuk bekerja, sehingga aku dan ke dua kakakku sering dititipkan ke rumah saudara jauh ibu, keluarga Haruno." lanjut Gaara.
"Aku yang tidak mudah akrab dengan orang lain, kesulitan mencari teman sebaya dan satu-satunya orang yang mengajakku bermain hanyalah kau, Sakura." Gaara mengalihkan tatapan matanya menuju Sakura yang masih tertunduk diam.
"Sampai suatu hari saat sedang bermain, aku tidak sengaja menyebrang jalan dan hampir di tabrak motor kalau saja saat itu kau tidak melompat dan mendorongku jatuh ke pinggir jalan." Gaara mengepalkan tangannya kuat. "dan karena menolongku kau sampai terluka parah dan kehilangan ingatan, dikarenakan benturan keras di kepalamu."
Sakura menegang mendengar cerita Gaara. Jangan-jangan mimpi-mimpinya selama ini, adalah serpihan dari ingatannya yang hilang.
"Semenjak saat itu, kau tidak bisa mengingat apa pun, juga tentang aku." suara Gaara terdengar begitu kecil nyaris seperti bisikan. "semua itu gara-gara aku, kau sampai harus kehilangan ingatanmu." lanjutnya.
Sakura mengangkat kepalanya dan dapat di lihat Gaara yang menatapnya begitu sedih.
"Aku berjanji pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi kau akan melindungimu, walaupun hanya bisa dari jauh."
"Gaara..." gumam Sakura sedih melihat Gaara yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Setiap tahun aku minta tolong kepada Temari-nee untuk melihat keadaanmu. Dan satu tahun yang lalu saat aku dengar kau akan melanjutkan sekolah ke KSHS, aku meminta bantuan Temari-nee dan Kankuro-nii untuk menjagamu sampai aku bisa melanjutkan sekolah ke KSHS."
"Kenapa kau tidak pernah menemuiku Gaara?"
Gaara menundukkan kepalanya, perasaan bersalah memenuhi hatinya. "Aku tidak sanggup bertemu denganmu, Sakura."
Sakura mengigit bibir bawahnya, apa sebegitu menyesalnya Gaara karena kejadian itu.
"Kalau saja saat itu kau tidak menolongku, aku..."
"Gaara." potong Sakura cepat yang membuat Gaara mengangkat kepalanya.
Mata Gaara membulat saat melihat linangan air mata di kedua pipi Sakura.
"Jika saat itu aku gagal menolongmu, mungkin saat ini aku adalah orang yang paling menyesal di dunia."
"Tapi kau terluka dan kehilangan ingatan gara-gara ak-" Gaara menghentikan kalimatnya saat dirasa tangan munyil Sakura menggenggam erat tangannya.
"Dengar Gaara! Aku tidak pernah menyesal pernah menolongmu, sebaliknya aku merasa senang karena bisa menyelamatkan orang yang penting bagiku." Sakura tersenyum, senyuman yang begitu tulus.
Deg
Gaara menarik tangannya yang di genggam Sakura. "Ta-tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk melindungimu dari jauh." ujar Gaara dengan wajah yang sudah semerah rambutnya.
"Masa lalu ada untuk di jadikan kenangan dan pembelajaran bagi kita, agar di masa depan tidak terulang kembali," Sakura jeda sebentar membiarkan Gaara mencerna baik-baik perkataannya. "jika kau terus berlarut dalam penyesalan di masa lalu, itu semua tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik di masa depan. Sebaliknya, kau harus belajar dari masa lalu dan melangkah dengan pasti. Waktu tidak akan pernah mundur ke belakang dan membiarkan mu mengubah apa yang sudah terjadi tapi..." Sakura menarik nafasnya dalam. "kau masih punya banyak waktu di masa depan untuk memperbaiki semua penyesalan mu di masa lalu." lanjutnya dengan senyuman simpul.
Gaara diam sejenak mendengar perkataan Sakura, Sakura benar ia terlalu terlarut dalam penyesalannya terhadap gadis di depannya. "A-aku tidak bisa mengingkari janji ku sendiri!" kilahnya.
Sakura tersenyum melihat wajah Gaara yang begitu imut di depannya. "Kalau begitu, lupakan janjimu!"
"Aku tidak mungkin melu-"
"Mulai sekarang kau harus berjanji untuk melindungiku dari dekat, mengerti!" perintah Sakura sambil bertolak pinggang.
Gaara terdiam dan wajahnya semakin memerah. "Aku kalah." keluh Gaara sambil menutupi wajahnya dengan tangannya.
Sakura tertawa riang, senangnya menjahili laki-laki di depannya.
"Kalau begitu janji!" Sakura mengacungkan kelingkingnya di depan wajah Gaara.
Gaara menurunkan tangannya dan melihat jari Sakura yang terarah padanya. "Eh?" ujarnya tidak mengerti maksud Sakura.
Sakura mengembungkan pipinya kesal karena Gaara tidak mengerti maksudnya. "Ayo janji!" perintahnya.
Gaara tersenyum melihat tingkah Sakura yang kekanak-kanakkan di depannya dan menuruti perintah Sakrura. "Ya, aku janji." Gaara mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sakura.
Keduanya tertawa senang, sudah lama tidak sebebas ini. Dan tepat di balik pintu ada Sabaku bersaudara lain yang sedang mengintip mereka dari celah pintu.
"Syukurlah, Gaara." ucap Temari lega sambil mengusap dadanya, sesaat tadi ia merasa khawatir dengan ke dua mahluk merah di dalam sana dan karena itu ia memutuskan untuk mengintip keduanya.
"Itu baru Sabaku." ujar Kankuro bangga.
"Kau yakin Sakura masih ingin pergi sekolah hari ini?" tanya Temari khawatir. Semalam Sakura menginap di kediaman Sabaku, sebenarnya Sakura sudah meminta untuk diantar pulang saja, tetapi Temari memaksanya untuk menginap karena khawatir dengan keadaan Sakura.
Sakura tersenyum. "Aku sudah merasa lebih sehat setelah istirahat yang cukup. Lagi pula hari ini, hari terakhir Event Hanami di cafe." jelas Sakura.
"Kau tidak boleh memaksakan diri Sakura. Bagaimana kalau kau pingsan lagi di sekolah?"
"Tenang saja, Temari-nee. Ada Gaara yang siap mengendong Sakura ke UKS." goda Kankuro sambil melirik Gaara yang sudah memerah di sebelahnya.
"Gaara pernah mengendongku ke UKS?"
"Kau tidak tahu, Sakura? Waktu kau pingsan dulu, Gaara lah yang dengan kerennya mengendongmu ke UKS." jelas Kankuro.
Sementara itu, Gaara yang berdiri di sebelah Kankuro sudah melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mereka, tidak lupa dengan wajahnya yang sudah sangat merah.
"Gaara benar-benar melindungiku." gumam Sakura malu dengan wajah yang ikut memerah.
"Berhentilah mengoda mereka, Kankuro!" tegur Temari yang hanya ditanggapi Kankuro dengan mengangkat kedua bahunya.
Temari menghelakan nafasnya dan melirik kunci mobi yang masih tergeletak di meja dekat tasnya.
"Dasar Gaara, dia melupakan kunci mobilnya lagi!" rutuk Temari.
"Temari-nee." panggil Sakura yang membuat Temari menolehkan kepalanya ke samping. "Em, kenapa akhir-akhir ini Temari-nee suka meminjam mobil Gaara?" tanya Sakura penasaran. Selama ini alasan Gaara mengantar Sakura pulang selalu sama, mobilnya sedang dipinjam kakaknya.
"Meminjam?" tanya Temari bingung. "justru aku yang bingung, Sakura. Kenapa akhir-akhir ini saat pulang sekolah, Gaara selalu memberikan kunci mobilnya kepadaku dan lebih memilih pulang berjalan kaki. Aku terkadang tidak mengerti dengan jalan pikirnya." ujar Temari sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Sakura terteguk mendengar perkataan Temari, jadi selama ini alasan Gaara mengatarnya pulang itu bohong. Sakura menghelakan nafasnya, Temari yang notabene adalah kakaknya saja tidak mengerti dengan jalan pikir Gaara, apa lagi dia.
.
.
.
"Kau serius Sakura-chan?" tanya Naruto tidak percaya dengan perkataan Sakura.
"Aku serius Naruto."
Sekarang Clover's Cafe sedang bersiap-siap untuk buka, dan dikarenakan hari ini adalah hari terakhir Event Hanami, cafe akan buka sampai malam.
"Tapi kalian tidak mirip." ucap Sai dengan senyumannya.
"Mereka hanya saudara jauh, Sai." jelas Kakashi.
"Menurutku mereka cukup mirip, Gaara berambut merah dan Sakura berambut merah muda." Kiba memandangi Sakura dan Gaara bergantian.
"Sakura dan Gaara bukan saudara kandung dan tidak memiliki hubungan darah langsung. Benar,'kan Gaara?" tanya Kakashi sambil tersenyum penuh arti ke arah Gaara.
"Maaf Sensei." panggil Neji yang tiba-tiba muncul. "sudah waktunya buka." lanjutnya.
"Kau benar Neji." Kakashi berdiri dari posisi duduknya. "semuanya lakukan yang terbaik untuk Event terakhir!" lanjutnya.
Semua yang ada di sana menganggukan kepala mereka mengerti dan mulai melangkahkan kaki mereka keluar.
"Sakura." panggil Gaara tiba-tiba dan membuat semua orang menghentikan gerakkannya. "ada satu janji lagi yang terlupakan." lanjutnya.
Sakura mengerutkan alisnya bingung. "Maaf, sepertinya ingatanku belum kembali sepenuhnya."
"Janji apa?" tanya Naruto penasaran.
"Janji untuk menjadi pengantinku di masa depan." Gaara tersenyum tipis atau yang lebih pantas di sebut seringaian.
Sakura memerah, Naruto dan Kiba melongok, Sai semakin pucat, dan Kakashi hanya tersenyum aneh mendengar perkataan Gaara.
"A-aku pernah berkata seperti itu." gumam Sakura sambil menutupi wajahnya yang semakin memerah.
"Aku tunggu janjimu, Saku-nee." Gaara melangkahkan kakinya ke depan dengan seringaian yang masih tampak jelas di wajahnya, tanpa mempedulikan teriak-teriak marah di belakangnya.
"Langkahi dulu mayatku!" teriak Naruto dan Kiba kencang.
Yang namanya janji memang harus ditepati bukan?
TBC
Author Note:
Hallo, aku kembali (' v ')/
Ehem, kali ini GaaSaku, loh! Bagaimana pendapat kalian? apa gak memuskan atau terlalu memaksa?
Aku sadar cerita kali ini menitik beratkan hubungan Sakura dan Gaara yang terlupakan alias gak bisa diingat Sakura hahahaha XD
Dari awal aku memang sudah merencanakan bahwa Sakura pernah mengalami kecelakaan dan itu cukup mempengaruhi perkembangan cerita, yang nanti akan di ungkap jika sudah mendekati Ending cerita hahahahaha
Yaps, saatnya balas Review. buat yang Login cek PM dan yang gak Login ini balasannya:
UzumakiSaku-chan: Terima kasih pujiannya dan terima kasih sudah mau baca sekaligus ninggalin Review :D
Guesswho: Gak apa-apa, sudah mau baca dan meninggalkan Review aja udah seneng banget :D
Urutan Pair yang muncul gak menentukan Ending cerita karena aku sendiri masih galau menentukan pasangan Sakura nanti bagusnya siapa.
SasuSaku ya? Karena banyak yang reques mungkin gak bakal jadi yang terakhir, loh ;)
Guest: Satu kalimat, Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan Review (' v ')/
Sasusaku kira: Jangan mati penasaran donk! Ini aku Publish yang Chap 7
Kira terlalu memuji, aku masih baru dan belum banyak pengalaman tapi aku senang kalau cerita yang aku buat bisa di terima para Reader :D
Sasusaku loverrrr: Urutannya? Sekarang GaaSaku, yang berikutnya di tunggu saja hahaha XD
Puihyuuchan: Terima kasih pujiannya, Saku gemesin *cubit Saku* hehehe
Chap kali ini GaaSaku, semoga terhibur :D
Sasusaku casual: Ini Chap 7, dan Pair kali ini GaaSaku semoga gak mengecewakan ya,
Kakashi-sensei? Emh, masuk gak ya? *ditampar* karena ini Sakura-centric maunya semua cowok suka sama dia. Kita lihat saja perkembangan ceritanya ;)
Gaara: Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan Review. Dan untuk Silent Reader, Review kalian akan sangat di tunggu.
Sakura: Next Menu: Love Letter, sampai ketemu lagi *lambai
Salam hangat,
Kimeka Reikyu
Palembang, 18 April 2013
