"Terima kasih kunjungannya." Sakura membungkukan badannya sopan yang di balas senyuman ramah oleh tamu terakhirnya hari ini.

"Hari yang melelahkan." keluh Sakura sambil menepuk-nepuk bahunya bergantian. "saatnya bersih-bersih." Sakura berjalan untuk mengambil sapu yang berdiri tegak di pojok ruangan.

Saat sedang asik-asiknya menyapu, pandangan Sakura terhenti pada sebuah meja yang di atasnya tergeletak begitu saja sebuah amplop berwarna merah muda. Karena penasaran Sakura mengambil amplop itu dan membolak baliknya.

"Sakura-chan, apa bersih-bersihnya sudah selesai?" tanya Naruto yang muncul dari arah dapur.

Tidak mendapat respon dari Sakura membuat Naruto mengerutkan dahinya dan berjalan mendekati Sakura. "Ada apa Sakura-chan?" tanyanya.

"Naruto." Sakura membalikan badannya dan mendapati laki-laki itu sudah berdiri di sebelahnya. "aku menemukan ini di atas meja." Sakura menyerahkan amplop yang di temukannya kepada Naruto.

Naruto menerima amplop yang disodorkan Sakura dan ikut membolak baliknya, seketika matanya membulat. "I-ini surat cinta!" teriak Naruto.

Sakura menelengkan kepalanya ke samping. "Surat... cinta...?"


Clover's Cafe

Naruto © Masashi Kisimoto

Ranted: T

Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)

Story © Kimeka ReiKyu

Warrnig: AU, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

[Sakura-Centric]

Don't Like, Don't Read!


Semua orang berdiri diam melingkari meja—dipaksa Naruto—memandangi amplop merah muda di atasnya.

"Bagaimana jika kita buka saja?" saran Yamato yang mulai bosan berdiri diam seperti ini.

"Aku setuju. Buka saja!" Kiba menganggukan kepalanya, setuju dengan saran Yamato.

Naruto mengambil amplop merah muda itu dan bermaksud membukanya, tetapi tangan munyil Sakura menghentikan gerakannya.

"Jangan! Bagaimana jika orang yang seharusnya menerima amplop itu tidak suka suratnya kita baca?" larang Sakura. Akan sangat tidak sopan membaca isi surat tanpa seizin pemiliknya.

Naruto memandang Sakura sekilas dan kembali fokus pada amplop di depannya. "Jika amplop itu untukku, aku tidak masalah." ujarnya.

"Aku juga." suara Kiba membuat Sakura menolehkan kepalanya.

"Kalau itu milik ku, buka saja." Sai tersenyum ramah, seakan ini hal biasa baginya.

Sakura menggerakkan kepalanya ke samping, melihat Gaara yang berdiri diam.

"Aa... buka saja."

Sakura menggerakkan kepalanya ke arah Neji dan Shikamaru. Neji hanya menutup kedua kelopak matanya dengan tangan bersilang di depan dada dan Shikamaru hanya menguap bosan, seperti mengizinkan untuk membuka amplop itu.

Dan terakhir pandangan Sakura beralih ke Sasuke yang dari tadi hanya memasang tampang datar andalannya.

"Sudah di putuskan kita buka amplop ini." Naruto kembali meraih amplop itu dan lagi, gerakannya terhenti karena Sakura menahannya.

"Neji, Shikamaru dan Sasuke belum memberi izin?"

"Neji, Shika amplopnya aku buka, ya?" tanya Naruto sambil melirik ke arah dua laki-laki itu.

Neji hanya menganggukan kepalanya setuju dan Shikamaru hanya menguap bosan sambil mengangkat kedua bahunya, setuju dengan perkataan Naruto.

"Tapi Sasuke—"

"Kalau Teme tidak usah ditanya. Selama ini semua surat cinta yang diterimanya, di buang begitu saja ke kotak sampah." jelas Naruto sambil perlahan membuka amplop itu dan mengambil kertas berwarna hijau muda dari dalamnya.

Sakura melirik Sasuke sekilas dengan ekor matanya dan mendapati Sasuke juga memandang ke arahnya. Wajah Sakura memerah, baru kali ini ia secara langsung bertatapan mata dengan Sasuke yang terkenal cuek dan dingin.

"Ehem, aku bacakan!" Naruto berdehem keras untuk menarik perhatian semua yang ada di sana.

"Untuk gadis tercantik yang pernah ku lihat..." Naruto membaca kata perkata tulisan itu, dan dahinya sedikit mengerut. "Cherry." lanjutnya.

Deg

Naurto terdiam, Kiba mendelik tajam, Sai tersenyum aneh dan Gaara mengepalkan tangannya kuat, sisanya hanya diam tak memberi respon apapun.

"U-untukku?" tanya Sakura sambil menujuk dirinya sendiri.

"Benda tidak berguna seperti ini, lebih baik di buang." Sai mendekati Naruto dan berusaha merebut surat cinta itu dari tangan Naruto.

"Jangan Sai!" teriak Sakura menahan Sai.

"Saku, lebih baik kau buang saja surat itu!" timpal Gaara sambil menatap surat di tangan Naruto tajam, jika matanya bisa mengeluarkan api sudah lama surat itu hangus terbakar.

"Tidak, kita harus menghargai pembuat suratnya." Sakura menatap sedih Gaara. Kenapa harus membuang surat yang berisikan curuhan hati seseorang, apa karena laki-laki tidak pernah membuat surat cinta makanya mereka bisa dengan mudah membuang surat cinta begitu saja.

Pandangan mata Gaara melembut melihat ekspresi sedih gadis di depannya. "Saku kau tidak mengerit surat itu—"

Pelipis Sakura berkedut kesal, surat itu miliknya dan kenapa harus di buang. "Surat itu milikku, tidak ada yang boleh merusak apa lagi membuangnya." Sakura menatap tajam laki-laki di depannya. "Naruto lanjutkan membacanya!"

Naruto terlihat malas membacanya tetapi dibacanya juga, karena mendapat Deathglare dari Sakura.

"Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihat mu." Naruto membaca baris perbaris surat itu dengan ekspresi kesal dan malas.

"Cih, modus sekali dia." cibir Kiba kesal yang di hadiahi tatapan tajam dari Sakura.

"Kau begitu cantik dan menawan, tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan betapa terpesonanya aku melihatmu."

"Lalu yang di tulis itu apa?" cibir Sai yang bernasib sama dengan Kiba, di tatap tajam Sakura.

"Aku ingin mengenal mu lebih jauh. Jika kau ada waktu hari minggu ini, aku tunggu kau di Konoha Land pukul 09:00 pagi. Aku tidak akan pergi sampai kau datang."

"Tunggu saja sampai kau puas." cibir Gaara kesal.

"Salam hangat penuh cinta. Pengagum rahasia mu."

"..."

Naruto meremas kuat surat cinta yang ada di tangannya dan bersiap melemparkannya ke kotak sampah, tapi sayang niatnya dihentikan Sakura yang langsung merebutnya

"Apa yang akan kau lakukan, Sakura?" tanya Yamato.

Sakura menggenggam erat surat di tanganya, ia bingung. "Aku tidak tau, Sensei. Semua ini terlalu mendadak dan aku tidak pernah menerima surat cinta sebelumnya."

"Menurut ku sebaiknya kau temui saja orang itu, Sakura-chan."

Semua orang membalik badan mereka saat mendengar suara seorang wanita di belakang mereka. Dan dapat di lihat, dari depan pintu masuk seorang wanita melambaikan tangan ke arah mereka.

"Rin/Nee-chan!" panggil mereka serempak, saat menyadari Rin berdiri di belakang mereka dengan senyuman canggung.

"Sejak kapan Rin-nee datang?" tanya Naruto.

Rin tersenyum melihat Naruto yang begitu antusias di depannya. "Em, sejak kau membaca surat itu, Naruto." ujarnya.

"Nee-chan..." panggil Sakura pelan membuat Rin mengalihkan pandangannya dari Naruto ke arahnya. "a-apa menurut Nee-chan aku harus pergi menemui orang itu?" tanyanya ragu-ragu.

Rin tersenyum. "Menurutmu?" tanyanya balik.

Sakura diam sejenak, memikirkan keputusannya. "Aku ingin pergi menemuinya." jawabnya mantap setelah menimbang-nimbang keputusannya.

"Kenapa?" tanya Naruto tidak mengerti.

"Jika kau yang menulis surat cinta itu, apa yang akan kau lakukan, Naruto?" tanya Rin pada Naruto.

Naruto mengerutkan dahinya mendengar perkataan Rin. "Aku akan menunggunya sampai dia datang, bukankah aku menyukainya." jawab Naruto.

Rin menepuk bahu kiri Naruto. "Itu lah yang dimaksud Sakura." ujarnya. "karena orang itu akan menunggu Sakura. Makanya Sakura akan pergi. Benar,'kan Sakura-chan?" tanya Rin sambil menolehkan kepalanya ke arah Sakura yang dibalas anggukan kepala oleh Sakura.

"Bagaimana jika ia bukan orang yang baik, maksudnya ia hanya ingin mempermainkan Sakura?" tanya Gaara, dari sorot matanya terlihat jelas ia sangat mengkhawatirkan Sakura.

"Jika sesuatu terjadi, Sakura tinggal memukulnya."

"Tapi,'kan hari minggu, merupakan jam kerja." jelas Sai. Atau lebih tepat jika di bilang alasan Sai agar Sakura tidak bisa pergi.

Rin melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa kau lupa aku ini siapa, eh?" tanyanya angkuh. "aku juga pemilik cafe ini. Jadi, aku memiliki hak untuk memberi libur pada pegawai ku." lanjutnya.

Semua orang terdiam, tidak ada yang mau membantah perkataan Rin, karena semua yang dikatakannya adalah kebenaran. Rin salah satu pendiri Clover's Cafe bersama Kakashi. Jika Kakashi adalah orang yang menjalankan dan mengelola cafe maka Rin adalah orang yang memberikan ide, masukan dan semua yang di butuhkan cafe, yang tidak bisa di lakukan oleh yang lain.

"Nee-chan pendiri? Kupikir Kakashi-sensei pemilik tempat ini." tanya Sakura baru tahu.

Rin tersenyum ke arah Sakura. "Ya Sakura-chan. Oleh sebab itu hari minggu nanti kau bisa pergi."

Sakura balas tersenyum. "Terima kasih Nee-chan. Tapi em~" Sakura mengosok-gosok lengannya gelisah. "A-aku tidak pernah pergi dengan laki-laki sebelumnya." lanjutnya.

Kembali, semua orang terdiam mendengar perkataan polos Sakura.

Rin menghela nafasnya dan menepuk bahu Sakura. "Kau tenang saja Sakura-chan. Semua persiapannya biar Nee-chan yang urus." ujar Rin. "kau tinggal datang hari minggu besok!" lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Sakura tersenyum senang. Rin benar-benar baik kepadanya, sudah seperti kakak kandungnya saja.

Sakura boleh senang, tetapi tidak dengan beberapa laki-laki yang memandanginya khawatir.


Tik... Tik...

Suara jam weker yang berdiri tegak di meja, terus berbunyi di kesunyian malam, membuat gadis merah muda yang tidur di sebelahnya bergerak-gerak gelisah di bawah selimut bermotif kelinci yang menutupi seluruh tubuhnya.

"Tidak bisa tidur!" keluhnya sambil mengeluarkan kepalanya dari balik selimut.

Gadis merah muda a.k.a Sakura melirik jam Weker di sebelahnya yang sekarang sudah menunjukkan pukul 01:17. Melihat jarum jam itu, Sakura menghelakan nafasnya berat. Kenapa ia jadi tidak bisa tidur, padahal jam tidurnya sudah lewat dari tadi.

Tangan Sakura yang berada dibalik selimut bergerak menuju dadanya. "Jantungku berdebar-debar." ujarnya, bisa di rasakan jantungnya berdekat lebih keras. "jika mengingat besok harus bertemu dengan laki-laki. Seperti kencan saja." tambahnya.

Setelah terdiam cukup lama, muncul inisiatif dari Sakura untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantu dalam menyelesaikan permasalahan ini. Di gerakkan tangannya untuk meraih Handphone yang berada tetap di sebelah jam Weker.

Untuk sesaat Sakura hanya diam. Berpikir, siapa yang akan dihubunginya pagi-pagi begini. Orang tuanya? Tidak mungkin Sakura membicarakan masalah ini pada mereka. Kakashi-sensei? Mungkin bukan pilihan yang baik. Ino? Ya, mungkin bisa.

Sakura mulai menekan-nekan Handpone-nya, selanjutnya mendekatkannya ke telinga.

"Eng~ moshi-moshi?" dari seberang sana terdengar suara seseorang yang sangat kelelahan.

"Ino, ini aku Sakura."

"Sakura?" suaranya terdengar naik satu oktaf, mungkin tidak percaya. "Ada apa meneleponku pagi-pagi begini?"

"Aku mau cerita, boleh?"

"Tentu saja!" suara Ino terdengar antusias. "Kau ada masalah apa?"

"Sebenarnya bukan masalah, hanya saja agak sedikit kepikiran."

Sakura menghelakan nafasnya berat. "Apa yang akan kau lakukan jika tiba-tiba diajak pergi oleh orang yang tidak kau kenal?"

"Hem~" Ino terdengar berpikir sejenak. "tergantung mau pergi ke mana nantinya. Aku mau-mau saja, jika sedang tidak sibuk."

"Begitu ya."

"Siapa orang yang tidak di kenal yang mengajakmu pergi Sakura?"

"Ti-tidak Ino" kilah Sakura. "A-aku..."

"Kau berhutang cerita padaku!" potong Ino cepat sebelum Sakura menyampaikan pembelaannya.

Sakura menghelakan nafasnya. Sulit sekali menyembunyikan sesuatu dari Ino.

"Ino." panggil Sakura, memastikan apakah Ino masih mendengarkannya.

"Ya,"

"Bagaimana rasanya jatuh cinta?"

"..."

"Ino?" panggil Sakura lagi, saat dirasa tidak ada balasan dari Ino di seberang sana.

"Ehem~" Ino berdehem, mengembalikan fokusnya. "Bagaimana ya?"

Alis Sakura sedikit mengerut mendengar Ino yang balik bertanya. "Kau juga tidak tahu Ino?"

"Bukan begitu Sakura. Aku hanya bingung bagaimana mengungkapkannya."

Suara deru nafas Ino terdengar jelas oleh Sakura, Ino menghela nafas.

"Jantung kita akan berdebar-debar lebih kencang dari biasanya, tubuh akan terasa panas sampai ke wajah dan kaki serta tangan akan menjadi dingin. Jika kulit bersentuhan rasanya seperti tersengat aliran listrik, terakhir kita tidak akan bisa berhenti memikirkan dia." jelas Ino panjang lebar.

Sakura diam sejenak mencerna kata-kata Ino. "Begitu. Aku mengerti. Terima kasih, Ino."

"Kenapa kau menanyakan itu, Sakura? Jangan bilang kau sedang..."

"Tidak. Kau salah paham, Ino." potong Sakura cepat. "eh~ begini, di tempat kerjaku ada yang menerima surat cinta dan aku sedikit penasaran." bohong Sakura. "Maaf Ino. Belum saatnya aku memberitahumu." batinnya.

"Aku pikir apa." ujar Ino lega. "Sakura, maaf. Aku harus istirahat dulu, besok pekerjaanku sudah menunggu." lanjutnya.

"Ya, terima kasih atas sarannya, Ino. Maaf sudah mengganggumu pagi-pagi begini."

"Tidak masalah. Aku senang sekarang kau mulai terbuka. Selamat malam. Ah, selamat pagi."

"Salamat pagi. Semangat bekerja!"

"Sudah pasti... tut... tut..."

Sakura meletakan kembali Handphone-nya ke atas meja. Untunglah ia menghubungi Ino, sekarang debaran di jantungnya mulai sedikit mereda. Perlahan Sakura menutup kedua kelopak matanya, kantuk mulai menyerangnya dan perlahan masuk ke dalam mimpi.

"Semoga, besok berjalan baik." doa Sakura sebelum benar-benar tertidur.


Pagi minggu yang cerah di Konoha Land. Sakura berdiri dalam diam dengan sedikit menundukkan kepalanya, malu karena dari tadi terus-terusan jadi bahan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Sesuai janji, sekarang Sakura sedang menunggu penggemar rahasianya. Sudah 10 menit Sakura datang tetapi belum ada juga tanda-tanda kedatangan orang itu.

Sakura menghela nafasnya berat. Apa pilihannya tepat untuk pergi menemui orang yang bahkan Sakura tidak tahu itu.

Sementara Sakura sedang menunggu seseorang. Tidak begitu jauh darinya ada seseorang yang sedang memperhatikannya dengan wajah sedikit kesal.

"Cih, kenapa aku yang harus melakukan hal yang menyebalkan ini." keluhnya tanpa mempedulikan tatapan memuja para gadis yang melihatnya.

Di samping sebuah kios permainan seorang pemuda tampan dengan rambut hitam kebiruan yang mencuat ke belakang seperti pantat ayam, terlihat sedang berdiri dengan tampang datar. Yaps, Uchiha Sasuke dalam diamnya sedang mengawasi gadis merah muda kita, Haruno Sakura.

Sebenarnya ini bukanlah keinginan Sasuke untuk mengawasi gadis merah muda itu seperti seorang penguntit, tetapi semua hal ini karena perintah dari Kakashi dan rengekan dari Naruto serta ancaman dari beberapa laki-laki lainnya untuk mengawasi sekaligus menjaga Sakura.

.

FLASHBACK

Pukul 08:00 di Clover's Cafe.

"Tidak boleh, Sakura-chan tidak boleh pergi!" rengek Naruto sambil memeluk Sakura erat, enggan melepaskannya. Sedangkan yang di peluk hanya bisa tersenyum aneh karena gerakannya di tahan oleh laki-laki yang tidak mau melepaskan pelukannya ini.

Bletk

"Jauhkan tanganmu dari, Saku!" ancaman Gaara disertai Deathglare dari Kiba dan Sai.

Naruto melepaskan pelukannya-akhirnya-dan mengembungkan pipinya kesal. "Apa kau tidak khawatir Gaara, jika Sakura-chan pergi sendirian?" tanya kesal, dari tadi hanya ia sendiri yang mati-matian menahan Sakura untuk tidak pergi.

Wajah Gaara yang tadi garang langsung berubah pucat. "Khawatir sekali, sampai aku tidak bisa tidur semalam." gumam Gaara begitu kecil hampir tak terdengar.

Naruto mendekatkan telinganya ke Gaara, rasanya tadi ia mendengar Gaara mengatakan sesuatu. "Kau bilang apa, Gaara?" tanyanya memastikan.

Sakura yang melihat Naruto yang terus-terusan melarangnya pergi jadi merasa tidak enak. "Aku hanya pergi sebentar Naruto. Jika sudah selesai, aku akan langsung kembali ke cafe." ucapnya mencoba mengurangi perasaan khawatir Naruto yang sudah sangat berlebihan.

"Biarkan saja mereka, Sakura-chan. Ayo aku harus mendadanimu untuk kencan pertama ini!" ujar Rin dan menarik Sakura menuju kamar ganti.

Sepeninggalannya Rin dan Sakura, semua laki-laki yang berada di sana ribut sendiri.

Naruto mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit menundukkan kepala. "Kakashi-sensei ku mohon, izinkan aku libur hari ini untuk mengawasi Sakura-chan!" mohon Naruto di sertai anggukan kepala dari Kiba, Sai dan Gaara.

Kakashi melirik Naruto sekilas dan menghelakan nafasnya berat. "Aku bisa saja melakukannya Naurto. Tetapi, Rin lebih dulu mengancamku untuk tidak memberikan libur kepada kalian." ujarnya sambil melirik Kiba, Sai dan Gaara bergantian.

Naruto menurunkan kedua tangannya. Sudah tidak ada gunanya lagi memohon pada Kakashi jika Rin sudah lebih dulu mengancamnya, wanita itu memang mengerikan. "Rin-nee jahat sekali!" cibir Naruto.

"Rin-nee hanya tidak ingin kalian merusak acara Sakura." suara Shikamaru menarik perhatian semua orang. Tidak biasanya dia tertarik mendengarkan pembicaraan orang lain, biasanya ia selalu tertidur.

"Apa kau tidak khawatir Shika. Bagaimana jika dia laki-laki mesum atau orang jahat yang ingin menculik Sakura-chan?"

"Dia sudah cukup besar untuk menjaga dirinya sendiri. Selain itu, Konoha Land tempat yang ramai. Jika orang itu melakukan sesuatu, Sakura tinggal teriak sekencang-kencangnya." jelas Shikamaru.

Naruto membungkukan badannya, tidak bersemangat. "Tapi, aku masih saja khawatir." keluhnya.

"Bagaimana jika seseorang mengawasinya?" saran Neji yang dari tadi hanya diam mendengarkan.

"Tapi siapa? Kami tidak di beri libur oleh Rin-nee." tanya Kiba sambil mengelus-elus Akamaru yang terlihat gelisah karena Sakura.

"Tidak juga harus kalian. Masih ada orang lain."

"Siapa? Apa kau Neji?" tanya Sai.

"Aku tidak bisa. Aku sedang sibuk." tolak Neji tegas.

"Shika?" tanya Kiba.

"Jangan Shika! Aku khawatir dia tidak akan menjaga Sakura, tetapi malah tertidur." tolak Naruto sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

"Sasuke, bagaimana denganmu?" tanya Gaara pada Sasuke yang hanya memandangi mereka bosan.

Sasuke menatap datar Gaara yang sudah menyeret namanya dalam pembicaraan bodoh menurutnya itu. "Aku tidak tertarik mengawasi gadis menyebalkan itu." jawab Sasuke dingin.

"Aku sependapat dengan Gaara." ucap Kakashi sependapat dengan Gaara. "Sasuke, kau akan diberi libur hari ini dan pergilah mengawasi Sakura!" perintahnya tanpa mempedulikan tatapan tidak setuju Sasuke.

"Aku tidak mau." tolak Sasuke, siapa juga yang bersedia membuang-buang waktu hanya untuk mengawasi seorang gadis berambut merah muda yang akan pergi berkencan.

"Teme. kumohon, Tolonglah!" rengek Naruto. Sejujurnya Naruto tidak bisa percaya sepenuhnya pada Sasuke yang dingin bagai es terutama jika sudah menyangkut urusan wanita untuk mengawasi Sakura, tapi tidak ada pilihan lain, dari pada Sakura pergi sendiri itu jauh lebih berbahaya.

"Sasuke, hanya kau yang bisa kami andalkan!" ujar Kiba.

"Menurutku hanya kau yang bisa melakukan ini." tambah Sai.

"Teme~"

Sasuke hanya diam, tak mengindahkan permintaan dari mereka.

Kakashi berjalan mendekati Sasuke dan membisikkan sesuatu padanya. Untuk sesaat mata hitam sasuke membulat dan kembali normal setelah Kakashi menjauhkan diri.

"Hn, aku mengerti." ujar Sasuke ketus.

Mata Naruto berbinar. "Teme, kau baik sekali!" teriaknya senang sedangkan Kiba, Sai dan Gaara hanya tersenyum lega. Setidaknya mereka bisa mempercayakan Sakura pada Sasuke dan tidak membiarkannya pergi sendiri.

"Maaf mengganggu pembicaraan kalian." suara Rin yang tiba-tiba muncul, membuat semua laki-laki di ruangan itu mengalihkan pandangan mereka ke padanya.

"Apa ada yang ingin menilai penampilan Sakura-chan?" tanyanya. Dan setelah Rin mengatakan itu, Sakura yang berdiri di belakang Rin maju ke depan.

Deg

Naruto, Kiba, Sai dan Gaara menahan nafas mereka sejenak dan rona merah terlihat jelas di pipi mereka.

Di sebelah Rin, Sakura berdiri dengan canggungnya karena di pandangi begitu lekat oleh laki-laki di depannya. Sakura mengenakan pakaian santai biasa. Sebuah kaos bergambar kelinci dengan celana Levi's pendek 10 cm diatas lutut, sepatu Bots setinggi betis dan haknya setinggi 7 cm memberikan kesan dewasa, rambut merah muda panjang Sakura di ikat tinggi ekor kuda. Penampilan santai untuk kencan pertamanya.

"Ehem~" dehem Rin membuat semua kesadaran kembali ke tempatnya. "kita tidak punya banyak waktu. Ayo naik ke mobilku, Sakura-chan! Biar aku yang mengantarmu." peritah Rin yang di turuti begitu saja oleh Sakura.

Blam

Naruto mengepalkan tangan kanannya ke udara. "Kami mengandalkanmu, Teme!"

Gaara menundukan kepala sedikit. "Tolong jaga dia!"

"Kami percaya padamu, Sasuke." ujar kiba yang di ikuti gonggongan dari Akamaru.

"Aku yakin kau pasti bisa menjaganya." ujar Sai sambil tersenyum ke arah Sasuke.

Sasuke mendengus mendengarkan permintaan-permintaan itu, dan saat manik hitamnya bertemu dengan Kakashi. Kakashi tersenyum, sebuah senyuman penuh arti.

"Chi,"

END FLASHBACK

.

Sasuke mendengus kesal mengingat kejadian itu. Jika saja Kakashi tidak memintanya dan sedikit mengancamnya, mana mau seorang Uchiha Sasuke melakukan hal yang tidak berguna seperti ini.

"Cherry!"

Suara teriakkan dari jauh menarik perhatian Sakura dan juga Sasuke. Dari jarak yang cukup jauh terlihat seorang laki-laki berambut putih dengan mata berwarna ungu, sedang berjalan mendekati Sakura.

"Maaf, sudah membuatmu menunggu lama." ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Sakura panik sendiri melihat laki-laki itu. "Ah, ti-tidak apa-apa."

Laki-laki itu tersenyum melihat gadis di depannya panik dan sedikit salah tingkah. "Perkenalkan namaku Houzuki Suigetsu, senang bertemu denganmu, Cherry." ujar laki-laki bernama Suigetsu itu memperkenalkan diri.

"Ya, namaku Ha..." Sakura diam sejenak, identitas aslinya di rahasiakan. "Ha-hanazawa Cherry, senang bertemu denganmu Houzuki-san." lanjutnya sambil sedikit membungkukan badannya.

"Aku pikir, kau tidak akan datang, Cherry."

"A-aku pasti datang. Te-terima kasih atas suratnya, Houzuki-san." Sakura merutuki dirinya sendiri. Kenapa di saat seperti ini ia malah tertular kebiasaan Hinata teman sebangkunya yang mudah sekali gugup.

"Cherry, bisakah kau memanggilku Sui-kun saja?" pinta Suigetsu dengan wajah sedikit merona.

Sakura diam sejenak mendengar permintaan Suigetsu. "Ya, Sui-kun." ujarnya sambil tersenyum manis.

Suigetsu sedikit menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Bagaimana jika kita pergi sekarang?" tanyanya.

Sakura menganggukan kepalanya dan berjalan pergi beriringan bersama Suigetsu.

"Chi, Sui-kun." cibir Sasuke, yang walaupun dari jauh masih bisa mendengarkan pembicaraan Sakura dan Suigetsu.

Drrrt Drrrt

Merasa Handpohe-nya bergetar, Sasuke mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang dari kantung celananya.

From: Baka-Dobe

Apa orangnya sudah datang? Bagaimana orangnya?

Sasuke mendengus membaca pesan yang di kirim oleh Naruto padanya. Tiba-tiba muncul ide untuk mengerjai Naruto dan semua orang yang ada di cafe. Dengan cepat Sasuke menuliskan sesuatu dan mengirimnya kepada Naruto.

.

.

Drrrt Drrrt

Naruto yang sedang membawa nampan berisi pesanan tamu langsung meletakannya dan merogo kantung celananya cepat. Melihat Naruto yang mengeluarkan Handphone-nya, Kiba, Sai, dan Gaara mendekatinya.

"Dari Sasuke?" tanya Sai saat sudah ada di dekat Naruto.

"Sepertinya begitu." Naruto menekan layar Handphone-nya, dan seketika matanya membulat.

From: Sasuke-teme

Ya. Tidak jelek. Bertampang mesum.

Itulah pesan singkat yang di kirim Sasuke dan sukses membuat semua mata yang membacanya membulat dan menampilkan ekspresi aneh.

Dengan secepat kilat Naruto melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang diikuti oleh yang lainnya. "Mau di pecat pun tak masalah. Aku pasti akan menyelamatkan Sakura-chan dari laki-laki mesum itu!" teriak Naruto. Tidak akan dibiarkannya laki-laki mesum itu menyentuh Sakura sedikit pun.

"Jangan langkahkan kaki kalian lebih dari itu!" suara berat Neji membuat bulu kuduk Naruto, Kiba, Sai dan Gaara berdiri dan menghentikan langkah mereka.

Dengan gerakan lamban Naruto, Kiba, Sai dan Gaara menolehkan kepala mereka dan mendapati Neji menatap mereka tajam, seakan ini menerkam mereka saat itu juga.

"Cepat kembali kerja!"

"Baik pak!" teriak mereka semua takut sambil memberi hormat kepada Neji yang masih menatap tajam mereka.

Dari depan Kakashi yang melihat tingkah pekerja sekaligus muridnya hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya saja.

.

.

Kembali ke tempat Sasuke yang sedang tersenyum tipis atau bisa di bilang seringaian membayangkan apa yang di lakukan teman-temannya di cafe.

"Cherry kau mau main apa?" tanya Suigetsu yang berjalan di sebelah Sakura.

Sakura yang berjalan di sebelah Suigetsu hanya bisa menunduk malu. "Terserah kau saja, Sui-kun." jawabnya.

Suigetsu hanya tersenyum melihat Sakura yang tertunduk malu. "Bagaimana jika kita main itu?" tunjuknya pada sebuah permainan yang menunjukan kuda dan beberapa permainan lain yang berputar-putar, mirip komedi putar.

Sakura hanya mengangguk setuju, menyetujui tawaran Suigetsu dan perlahan berjalan kesana, namun sebelum naik permainan itu Suigersu menggenggam tangan Sakura erat.

"Jangan jauh-jauh dariku!" perintahnya dengan rona merah tipis.

Di jarak yang cukup jauh Sasuke mendengus melihatnya. "Mencari kesempatan dalam kesempitan." cibirnya.

Setelah komedi putar itu berhenti. Lagi, Suigetsu menarik tangan Sakura yang sukses membuat wajah Sakura memerah. Dan perlahan pergi meninggalkan komedi putar itu.

Sasuke terus mengikuti mereka berdua dan hanya bisa mendengus melihat Suigetsu yang mencari perhatian Sakura. Namun langkah Sasuke terhenti saat di rasanya ada seseorang yang meneriaki namanya.

"Sasuke-kun!"

"Kyaaaaaa! Ada Uchiha Sasuke!"

Teriakan-teriakan histeris itu menarik perhatian beberapa orang di sana dan memandang ke arah Sasuke takjub.

"Chi," Sasuke hanya bisa mendecih kesal melihat gerombolan gadis-gadis yang mendekat ke arahnya dengan tatapan lapar(?). Karena merasa terancam Sasuke pergi menghindari gadis-gadis yang mengejarnya. Kasihan sekali kau Sasuke.

Sementara itu, di tempat Sakura dan Suigetsu yang sedang bersantai karena kelelahan di salah satu bangku yang ada di Konoha Land. Sakura dan Suigetsu sedang duduk berdua memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.

"Cherry?" panggil Suigetsu.

Sakura menolehkan kepalanya ke samping, menghadap Suigetsu.

Suigetsu menatap Sakura serius. "Aku menyukaimu, jadilah pacarku?" tanyanya.

Sakura terdiam dan wajahnya sudah memerah. "A-aku..." Sakura gugup, ini kali pertamanya ia mendapatkan pernyataan cinta langsung dari laki-laki.

Dengan sedikit tergesa-gesa Sakura berdiri dari posisi duduknya dan membungkukan badannya dalam-dalam. "Ma-maaf, aku tidak bisa menjadi pacarmu." tolak Sakura.

Suigetsu diam sejenak dan kemudian tersenyum lembut melihat Sakura yang masih menundukan kepalanya. "Ah, sudah kuduga. Aku pasti ditolak." ujarnya kecewa.

Sakura semakin menundukan kepalanya. "Maaf." ujarnya.

"Tidak apa-apa." perkataan Suigetsu membuat Sakura mengangkat kepalanya dan melihat Suigetsu yang ada di depannya. "kau sudah mau datang saja, aku sudah sangat senang." tambahnya sambil tersenyum.

Sakura menatap Suigetsu sedih. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu tentang perasaan suka dan aku tidak ingin menyakitimu."

Suigetsu kembali mengembangkan senyumannya mendengar perkataan Sakura dan perlahan menepuk kepala Sakura pelan. "Tidak apa. Terima kasih untuk hari ini." ujarnya.

"Aku juga berterima kasih karena sudah mengajakku kemari." Sakura balas tersenyum lembut kepada Suigetsu, walau perasaan bersalah menolak laki-laki di depannya masih ada di hatinya.

"Cherry, kalau begitu. bagaimana jika aku antar kau pulang?" tawar Suigetsu.

Sakura diam sejenak. "Emh, itu..."

"Kemana Sasuke-kun?"

"Larinya cepat sekali."

Suara berisik para gadis di dekat Sakura menghentikan perkataannya. "Sasuke-kun?" gumam Sakura.

"Cherry, bagaimana?" tanya Suigetsu lagi, setelah tidak mendapatkan respon dari Sakura.

"A-ano... maaf aku tidak bisa langsung pulang, sepertinya ada urusan yang harus aku selesaikan." ujar Sakura.

"Begitu ya, kalau begitu aku permisi. Semoga harimu menyenangkan Cherry." Suigetsu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sakura, yang hanya bisa melambaikan tangannya melihat kepergian Suigetsu. Suigetsu laki-laki yang baik, oleh sebab itu Sakura menolaknya, tidak ingin mempermainkan perasaan suka Suigetsu padanya. Dan sekarang Sakura melangkahkan kakinya pergi, ada satu orang yang harus di carinya.


"Chi, kemana perginya gadis menyebalkan itu?" keluh Sasuke yang baru saja berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis-gadis gila yang terus-terusan meneriaki namanya. Dan karena menghidari kejaran gadis-gadis itu Sasuke kehilangan Sakura dan Suigetsu. Setelah mendapatkan topi untuk menyembunyikan identitasnya, Sasuke kembali mencari Sakura, tidak mau mendengar ocehan panjang Naruto jika ia sampai kehilangan Sakura.

"Sasuke?"

Merasa namanya di panggil oleh suara yang cukup familiar di indra pendengarannya, Sasuke membalikan badannya dan mendapati Sakura yang memandanginya bingung.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura.

Sasuke diam sejenak, bingung apa yang harus dikatakannya pada gadis di depannya.

Sasuke menghelakan nafasnya. "Hn, aku di pinta Kakashi dan yang lainnya mengawasimu." jawab Sasuke jujur. Toh, tidak ada alasan yang lebih logis, yang bisa menjelaskan keberadaan Sasuke di tempat ramai yang sangat tidak di sukainya ini.

Sakura menghelakan nafasnya berat. "Sudah ku duga." ujar Sakura yang sudah menduganya dari awal.

Sakura menatap ragu Sasuke yang balas menatapnya datar. "Em, Sasuke bagaimana jika kita kembali ke cafe sekarang?" tanya Sakura.

Sasuke hanya diam memandangi Sakura, dan tiba-tiba dia menyadari sesuatu. "Kemana laki-laki ungu itu?" tanya Sasuke datar, tanpa mempedulikan pertanyaan Sakura.

"Jangan menghina Sui-kun seperti itu." ujar Sakura tidak terima perkataan Sasuke. "dia sudah pulang, karena aku menolaknya." jelas Sakura.

Sasuke mendengus mendengarkan perkataan Sakura. "Kau menolaknya karena tidak menyukainya. Kau sama sepertiku." ujarnya meremehkan Sakura.

Sakura mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.

"Sebelumnya kau memandangku remeh karena aku membuang semua surat cinta yang ku terima dari gadis-gadis bodoh itu. Dan lihatlah sekarang dirimu, yang menolak laki-laki itu." jelas Sasuke dengan suara yang begitu dingin.

Pelipis Sakura berkedut kesal. "Kau salah!" teriaknya. "aku menolaknya karena tidak ingin melukai perasaannya, karena terlalu berharap banyak padaku. Tidak sepertimu yang tak mempedulikan perasaan tulus para gadis itu." ujar Sakura tidak kalah dingin.

"Cih, apa yang kau ketahui tentang cinta. Kencan saja tidak pernah." ejek Sasuke sambil menyeringai remeh.

Wajah Sakura merah, antara kesal dan malu. "Kau yang tidak tau tentang cinta. Ah, jangankan cinta menghargai orang saja kau tidak bisa." Sakura membalik badannya dan melangkah pergi meninggalkan Sasuke yang hanya memasang tampang dingin tak peduli.

"Cih, dasar gadis menyebalkan."

Drrrt Drrrt

Lagi, Handphone Sasuke bergetar. Masih dengan tampang datar, Sasuke merogo kantung celananya dan membaca pesan yang baru diterimanya.

From: Kakashi-sensei

Jaga dia, jika tidak rahasia mu akan terbongkar.

Sasuke mendecis kesal membaca pesan Kakashi yang mengacamnya, apa gurunya ini memiliki indra keenam?. Dengan kesal Sasuke memasukan Handphone-nya ke kantungnya dan mengejar Sakura yang sudah pergi meninggalkannya.

Greb

Sakura menghentikan langkahnya, saat dirasa ada sebuah tangan yang menahannya.

"Apa maumu Sasuke?" tanya Sakura tidak suka.

"Kita masih punya waktu."

Sakura mengangkat alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya yang tidak mengerti maksud Sasuke yang sangat suka mengatakan sesuatu yang tidak mudah di mengerti orang lain.

"Ini hari libur dan kita harus menghabiskan waktunya." Sasuke menarik tangan Sakura kasar.

"Aku tidak mau. Aku mau pulang!" tolak Sakura sambil berusaha melepaskan genggaman kuat Sasuke.

Sasuke menghentikan langkahnya. "Kau mau main apa?" tanyanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.

Sakura yang masih kesal hanya diam tidak menjawab pertanyaan Sasuke dan memalingkan kepalanya ke samping.

Sasuke menghelakan nafasnya, jika bukan karena Kakashi yang mengancamnya, sudah lama ia meninggalkan gadis menyebalkan ini. "Mau main itu?" tunjuk Sasuke ke salah satu permainan, Jet Coaster.

Dengan ekor matanya Sakura mengikuti arah tunjuk Sasuke, dan seketika matanya membulat saat melihat permainan yang di tunjuk Sasuke. Sakura tidak suka ketinggian, lebih tepatnya takut ketinggian. Melihat wajah Sakura yang memucat, seringaian jahil muncul di wajah tampan Sasuke. Dan tanpa mempedulikan Sakura yang berontak, Sasuke memasuki area permainan itu.

"Kyaaaaaaaaaaa!"

Teriakan histeris Sakura terus terdengar nyaring sepanjang permainan, membuat Sasuke yang duduk di sebelah Sakura menutup telinganya.

"Terima kasih atas kunjungannya." ucap ramah penjaga permainan itu sambil membantu Sakura melepas sabuk pengamannya.

"Uhg!" Sakura memegangi perutnya mual. Permainan setan itu berhasil menggoncang isi perutnya.

Sasuke yang sedikit kasihan melihat wajah Sakura yang begitu pucat, mengajaknya untuk beristirahat sebentar di bangku yang ada di dekat pohon.

"Ini." Sasuke memberikan Sakura sebotol teh hijau untuk mengurangi mualnya. Sakura melirik Sasuke sekilas dan mengambil botol yang di sodorkannya.

"Maaf, mungkin aku sedikit kelewatan." ujar Sasuke dengan wajah yang dipalingkan ke samping, rusak sudah citra Uchiha-nya karena gadis di depanya ini.

Sakura hanya diam dan meminum teh hijau botolan yang di berikan Sasuke. "Tidak, itu bukan salahmu." Sakura meletakan botol minuman ke samping tubuhnya. "dan untuk masalah surat cinta tadi, aku tidak bermaksud meremehkanmu. Aku hanya tidak mengerti, kenapa kau membuang surat-surat cinta itu?"

Sasuke hanya diam dan mendudukkan dirinya di sebelah Sakura. "Mereka hanya tertarik pada wajah dan nama Uchiha ku saja." ujarnya datar sambil memandangi orang-orang yang berlalu lalang di depanya.

Sakura mengerutkan alisnya dan melirik Sasuke dengan ekor matanya. "Kau tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. Mungkin saja mereka benar-benar mencintaimu."

Sasuke mendengus mendengar perkataan Sakura. "Cinta itu tidak ada. Itu hanya keinginan sesaat." remeh Sasuke.

"Jantungmu akan berdebar-debar lebih kencang dari biasanya, tubuh akan terasa panas sampai ke wajah dan kaki serta tangan akan menjadi dingin. Jika kulit bersentuhan rasanya seperti tersengat aliran listrik, terakhir kau tidak akan bisa berhenti memikirkan dia." ujar Sakura meniru perkataan Ino. Sasuke kembali mendengus mendengar perkataan Sakura.

"karena kau belum pernah merasakan jatuh cinta, bukan berarti cinta itu tidak ada." lanjutnya

Sasuke melirik Sakura sekilas dan kembali fokus ke depan.

"Cinta orang tua, cinta saudara, cinta teman dan cinta pasangan. Masih banyak jenis cinta." jelas Sakura. "mungkin kau belum pernah merasakan cinta pasangan, tetapi setidaknya kau bisa merasakan cinta yang lain. Dari orang tua, saudara juga teman. Ah, mungkin Naruto maksudnya di sini." Sakura tertawa saat mengingat keakraban Sasuke dengan Naruto yang tidak biasa.

Sasuke hanya diam tak membantah perkataan Sakura, karena yang di katanya tidak ada yang salah.

"Cobalah menerima semua cinta yang ada di sekelilingmu, maka hidupmu akan bahagia." tambah Sakura.

Sakura mengembungkan pipinya kesal karena tidak mendapatkan respon apa pun dari Sasuke yang ada di sebelahnya. "Huft, apa kau percaya karma?" tanyanya kesal.

Sasuke kembali melirik Sakura sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan.

"Suatu saat kau akan merasakan karma." cibir Sakura. "kau akan jatuh cinta pada gadis yang menyebalkan." lanjutnya.

Mendengar perkataan Sakura, Sasuke hanya tersenyum remeh.

Sakura yang melihat senyuman remeh Sasuke, berdiri dari posisi duduknya. "Ayo, kita pergi!" perintah Sakura.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti.

"Kau bilang ini liburan dan kita harus menghabiskannya." jelas Sakura. Sasuke hanya menghelakan nafasnya berat dan mengikuti perkataan Sakura.

Kali ini mereka mencoba beberapa permainan dan semuanya Sakura yang memilih. Sasuke tidak bisa menolak karena Sakura yang terus memaksanya.

.

.

.

"Menyenangkan sekali." teriak Sakura senang setelah mencoba beberapa permainan.

Sasuke hanya melirik Sakura sekilas dan mendengus. "Gadis aneh, emosinya cepat sekali berubah." batin Sasuke melihat perubahan emosi Sakura yang tadi kesal sekarang begitu senang, seperti anak kecil yang mendapat mainan baru.

"Maaf."

Sasuke dan Sakura memutar badan mereka serempak saat di rasa seseorang menyapa mereka dari belakang.

"Ada apa Oji-san?" tanya Sakura kepada laki-laki parubaya di depannya.

Laki-laki parubaya itu terlihat sedikit ragu. "Begini, saya salah satu foto grafer dari majalah remaja." ujarnya memperkenalkan diri. "minggu ini tema kami adalah kencan dengan orang yang di cintai, untuk itu saya ingin mengambil foto kalian untuk menjadi salah satu pasangan di majalah." jelasnya.

Blush

Sakura menundukkan wajahnya yang memerah padam, sedangkan Sasuke di sebelahnya hanya memalingkan wajahnya kesamping, menutup rona merah tipis di wajahnya.

Sakura mengibas-ngibaskan tangannya. "Anda salah paham. Kami bukan pasangan." jelasnya sambil tertawa hambar.

Laki-laki parubaya itu mengerutkan alisnya seakan tidak percaya dengan perkataan Sakura. "Kupikir kalian pasangan, karena dari jauh kalian terlihat sangat serasi." ujar laki-laki parubaya itu kecewa. "Kalau begitu maaf, karena sudah mengganggu kalian." pamit laki-laki itu sopan.

Untuk sesaat Sakura dan Sasuke hanya diam, mencoba menyembunyikan rona merah di wajah mereka masing-masing.

"Itu Sasuke-kun!"

"Kyaaa! Benar Sasuke-kun."

Secara refleks Sakura dan Sasuke menolehkan kepala mereka ke samping melihat sumber teriak-teriak histeris yang menyebut nama Sasuke. Dari jarak cukup jauh terlihat segerombolan gadis-gadis berlari kencang ke arah Sakura dan Sasuke.

"Cih," Sasuke mendecih kesal melihat segerombolan gadis-gadis yang berlari kearahnya. Dan dengan cepat menarik tangan Sakura untuk berlari bersamanya.

"Hei?!" panggil Sakura. "Kenapa kita berlari?" tanyanya tidak mengerti, tetapi tetap juga ikut berlari di sebelah Sasuke.

"Hn, mereka berbahaya, jangan sampai tertangkap." ujar Sasuke singkat tanpa menghentikan larinya.

Sakura baru ingat. Naruto pernah berkata bahwa para Fans Girls mereka, sangat berbahaya. Seketika bulu kuduk Sakura berdiri, ngeri membayangkan apa yang bisa dilakukan para Fans Girls itu padanya.

Sasuke dan Sakura terus saja berlari semakin cepat. Tetapi segerombolan Fans Girls itu bukannya berkurang malah semakin bertambah.

"Sa... su...ke hohs.. hohs..." panggil Sakura kelelahan.

Sasuke menghentikan larinya dan menolehkan kepalanya ke samping, menghadap Sakura.

Sakura sedikit membungkuk memegangi lututnya, berusaha mengatur nafasnya yang tidak teratur karena terus-terusan berlari. "Aku lelah hohs... hohs... kita istirahat dulu." pinta Sakura dengan beberapa keringat menetes melewati dagunya.

Sasuke mendengus. "Hn, kita tidak boleh berhenti, atau mereka akan menangkap kita." jelas Sasuke sambil melihat ke arah segerombolan Fans Girls yang semakin mendekati mereka.

"Kau hohs... enak laki-laki." cibir Sakura masih dengan nafas yang tersendat-sendat. "Aku perempuan hohs... dan memakai sepatu berhak tinggi." lanjutnya.

Sasuke melirik sepatu Sakura. Dan benar saja, Sakura menggunakan sepatu Bots dengan hak setinggi 7 cm yang membuat kakinya terasa sakit jika berlari.

Dengan kesal Sasuke berjongkok di depan Sakura. "Naiklah!" perintahnya.

Sakura mengerutkan alisnya tidak mengerti.

"Naiklah!" ulang Sasuke, karena Sakura yang hanya berdiri diam.

"Ta-tapi..."

"Kita tidak punya banyak waktu. Cepatlah naik!" perintah Sasuke lagi, memotong perkataan Sakura.

Sakura menuruti perintah Sasuke dan perlahan mendekati Sasuke yang berjongkok di depannya. Dengan sedikit enggan Sakura melingkarkan tangannya di leher Sasuke dan Sasuke memegangi ke dua kaki Sakura yang berada di sebelah kanan dan kirinya.

"Kyaaaaa!" teriak Sakura panik saat Sasuke mulai berdiri.

"Pegangan yang kuat!" perintah Sasuke lagi. Sakura menuruti perintah Sasuke mengeratkan pegangannya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah di tengkuk Sasuke.

Entah karena apa lengkungan tipis tercipta di bibir Sasuke saat merasakan nafas hangat Sakura di tengkuknya. Sasuke semakin mengeratkan pegangannya pada ke dua kaki Sakura dan mulai mempercepat larinya meninggalkan segerombolan Fans Girls yang berteriak kencang memanggil-manggil namanya.

.

.

.

"Ke mana menghilangnya Sasuke-kun?"

"Siapa gadis yang di gendong Sasuke-kun tadi?"

"Menyebalkan sekali, jika bertemu akan ku pukul dia"

"Sial, aku tidak bisa melihat gadis itu dengan jelas."

"Ayo kita pergi ke sana, mungkin saja mereka berlari ke sana!"

"Ya!"

Segerombolan Fans Girl itu pergi ke arah lain dan tak menyadari di belakang sebuah pohon besar ada Sasuke dan Sakura sedang bersembunyi.

"Mereka sudah pergi?" tanya Sakura.

"Hn,"

Sakura menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Ano... Sasuke, bisa tolong turunkan aku?" tanya Sakura yang masih berada di gendongan Sasuke.

"Hn," Sasuke membungkukan sedikit badannya membiarkan Sakura turun dari punggungnya.

Setelah kembali mengijak bumi, Sakura menghelakan nafasnya lega. "Untunglah kita selamat."

Sasuke melirik Sakura di sebelahnya. "Hn," ujarnya.

"Jangan bilang 'Hn' terus. Aku tidak mengerti maksudmu, Sasuke." keluh Sakura kesal, mendengar Sasuke yang hanya mengatakan kata-kata yang itu-itu saja tanpa arti yang jelas.

"Hn,"

Bibir Sakura rasanya berkedut mendengar ucapan Sasuke. "Kau menyebalkan." cibirnya mengembungkan ke dua pipinya kesal.

Sasuke tersenyum tipis, begitu tipis sehingga Sakura tidak bisa melihatnya. "Ayo, kita kembali ke cafe!" perintahnya yang mulai melangkahkan kakinya meninggalkan gadis merah muda yang masih kesal di bawah pohon.

Sakura menaikkan sebelah alisnya. Apa ia salah dengar, seorang Uchiha Sasuke menawarinya. "Aku juga, Sasuke?" tanya Sakura memastikan pendengarnya tidak salah.

Sasuke membalikan badannya menghadap Sakura. "Tambahkan Suffix –kun di belakang namaku!" perintahnya tanpa mempedulikan pertanyaan Sakura sebelumnya.

Sakura menelengkan kepalanya ke samping. "Ha?" ujarnya tidak mengerti.

"Ayo, cepat naik ke mobil, Sakura!" perintah Sasuke dan kembali membalik badannya.

Sakura hanya diam tidak mengerti. Terkadang bukan hanya perkataan Sasuke saja yang sulit di mengerti, tetapi jalan pikirnya juga.

Dengan berlari kecil Sakura berusaha mengejar Sasuke di depannya. "Tunggu aku, Sasuke-kun!" teriak Sakura.


"Apa benar kau tidak apa-apa, Saku?" tanya Gaara khawatir sambil memperhatikan Sakura baik-baik. Mungkin saja ada sedikit luka kecil di tubuh Sakura.

Sakura melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku sudah bilang,'kan. Aku baik-baik saja." ujarnya sedikit cuek, ia masih kesal karena mereka tidak percaya pada dirinya.

"Tapi kenapa kau lama sekali perginya, Sakura-chan?" tanya Naruto.

"Karena ini liburan, jadi aku berusaha menikmatinya."

"Benar, kau sudah menolak laki-laki itu?" tanya Sai tidak percaya.

"Aku tidak ingin memberikan harapan palsu padanya." jelas Sakura.

"Apa kau yakin, laki-laki mesum itu tidak melakukan sesuatu yang aneh padamu?" tanya Kiba khawatir.

Sakura mengangkat sebelah alisnya dan menurunkan kedua tangannya dari depan dada. "Mesum?" tanya Sakura memastikan.

Naruto menganggukkan kepalanya cepat. "Ya. Teme bilang, laki-laki itu bertampang mesum."

Sakura melirik Sasuke di sebelahnya. Sedangkan Sasuke hanya memalingkan wajahnya ke samping. "Sui-kun tidak mesum. Dia laki-laki yang baik." belanya.

Naruto mengerutkan alisnya bingung. "Tapi Teme bilang—"

"Sudahlah! Yang penting Sakura baik-baik saja." ujar Kakashi menenangkan keributan.

"Dan sepertinya kalian menikmati liburan ini. Iya, 'kan Sasuke, Sakura?" tanya Rin sambil tersenyum penuh arti ke arah Sasuke dan Sakura.

"Permisi." dari luar terdengar suara seseorang yang memasuki cafe.

Mendengar suara seseorang dari luar membuat Yamato yang berdiri paling dekat dengan pintu berjalan ke sana. "Ah, maaf cafe sudah tutup." ujar Yamato sopan dan menutup pintu depan cafe pelan.

"Aku tidak datang sebagai tamu. Aku ingin menemui Cherry." ujarnya sambil menahan pintu.

Dari jauh Sakura bisa mengenali suara berat laki-laki itu. "Sui-kun?" teriak Sakura saat melihat Suigetsu di depan pintu.

"Cherry!" teriak Suigetsu mendekati Sakura tanpa mempedulikan Yamato yang terdiam kaget di depan pintu karena ia langsung menerobos masuk.

"Ada apa kau ke sini?" tanya Sakura saat Suigetsu sudah berdiri di depannya.

"Jadi ini, si mesum yang mengirim surat cinta kemarin?" batin Kiba, Naruto, Sai dan Gaara kesal sambil menatap tajam sosok yang berdiri di depan Sakura.

"Begini, aku sudah memikirkan baik-baik perkataanmu dan aku tidak bisa menyerah begitu saja untuk mendapatkanmu." jelasnya. "oleh sebab itu, untuk ke depannya akan ku buat kau jatuh cinta padaku." lanjutnya percaya diri.

Wajah Sakura memerah. Kiba, Naruto, Sai dan Gaara sudah bersiap menerkam Suigetsu.

"Jangan bercanda." suara dingin Sasuke menarik perhatian semua orang di sana. "Kau tidak akan bisa mendapatkannya." lanjutnya sinis.

"Siapa kau?" tanya Suigetsu tidak suka melihat Sasuke di sebelah Sakura.

Sasuke menyeringai. "Aku orang yang akan menghalangimu mendapatkannya." ujar Sasuke remeh dan melangkah pergi meninggalkan semua orang yang melongok mendengar perkataannya.

"Ah, apa aku salah dengar?" gumam Naruto melihat kepergian Sasuke.

Sementara itu Sasuke yang berjalan ke belakang tiba-tiba merosotkan tubuhnya ke bawah dan memegangi dadanya. "Apa yang terjadi padaku?" tanya Sasuke tidak mengerti.

"Jantungmu akan berdebar-debar lebih kencang dari biasanya, tubuh akan terasa panas sampai ke wajah dan kaki serta tangan akan menjadi dingin. Jika kulit bersentuhan rasanya seperti tersengat aliran listrik, terakhir kau tidak akan bisa berhenti memikirkan dia."

Perkataan Sakura terngiang di telinga Sasuke. "Sial, dasar gadis menyebalkan."

"kau akan jatuh cinta pada gadis yang menyebalkan."

Ah, cinta selalu datang tiba-tiba tanpa di ketahui oleh siapa pun. Benar,'kan Sasuke?

TBC


Author Note:

Lohha (' v ')/

Saya kembali dengan Chapter 9, Menu Love Letter Pair SasuSaku (n_n)

Mana yang terus-terusan nagih SasuSaku?

Maaf jika hasihnya tidak sesuai harapan dan malah membuat para Reader yang sudah menunggu-nunggu Pair ini kecewa (_ _") Chap kali ini sulit di buat karena aku mencoba mempertahankan sikap dingin Sasuke yang kayak es batu itu, dan sumpah itu sulit sekali apa lagi membuat Sasuke untuk tidak bicara panjang lebar, hade~

Aku mau minta maaf sebesar-besarnya pada Reader karena tulisanku di Chap. sebelumnya sudah membuat beberapa Reader jadi salah paham.

'SasuSaku ya? Karena banyak yang reques mungkin gak bakal jadi yang terakhir, loh ;)'

Maksud dari tulisan itu, bukannya aku tidak mau memasukkan Pair SasuSaku karena banyak reques yang nagih SasuSaku. Tapi aku mempercepat kemunculan Pair itu yang awalnya mau ku munculin terakhir. Tetapi karena sudah banyak yang minta dan tanganku sudah gatel mau nulis Pair satu itu jadi aku putuskan untuk merombak ulang cerita ini yang seharusnya diperankan oleh Shikamaru *peluk Shika*

Sekali lagi maaf, aku akan berusaha untuk tidak mengatakan sesuatu yang ambigu seperti itu lagi.

Baik, saatnya balas Review. Bagi yang Login cek PM dan yang gak ini balasannya:

alchemist: Ah, jangan di panggil Senpai! aku masih amatir dan baru. Belum lagi kesalahan yang aku lakukan belum pantas di panggil Senpai ni...

Ini SasuSaku semoga gak mengecewakkan ya?

Terakhir terima kasih sudah meninggalkan Review dan membaca Fict ini (' v ')

NekoNeko-chan: Hahahaha GaaSaku emang bikin greget ya...

Terima kasih atas pujiannya dan ini sudah Update, semoga gak mengecewakan?

Terakhir terima kasih sudah meninggalkan Review dan membaca Fict ini (' v ')

sasusaku kira: Aduh, jadi malu ni... terima kasih atas semua pujiannya hehehe

Syukur kalau di Chap. kemarin suasana romantisnya kerasa, habis selama ini Freindship lebih kuat dari Romance *gak berbakat nulis romance*

Ini sudah Update SasuSaku, loh. Semoga gak mengecewakan dan terima kasih Review-nya.

Guesswho: Ah, maaf sepertinya anda salah paham (n,n")

Bukannya gak bakal jadi yang terakhir, ini masih sangat mungkin jadi Pair Ending. tapi gak bisa muncul terakhir dari ke 7 cowok yang lain.

Maaf ya sudah membuat bingung, aku memang ceroboh (_ _)

Dan terima kasih sudah meninggalkan Review dan menyempatkan diri untuk membaca Fict ini.

Guest: Dua kata, Terima kasih!

Ini Next Chap. semoga gak mengecewakan.

Yha-Chan: Terima kasih pujiannya dan maaf gak bisa Update kilat.

Chap. kali ini Sama Sasu ni...

Terakhir terima kasih sudah meninggalkan Review dan membaca Fict ini (' v ')

Sadikaachan: Iya, Saku makin dekat dengan pelayan cowok di cafe ni...

Ending? sampai sekarang masih belum di tentukan, aku sendiri masih bingung menentukan pasangan Saku di akhir cerita. *pundung*

Kakashi-sensei? hohoho dia sudah punya peran sendiri yang begitu penting di sini. Pair KakaSaku? tidak menutup kemungkinan hahaha XD *Otak Sakura-centric bangkit*

Terima kasih Review dan dukungannya (' v ')9

NaruSaku: Ini sudah Update semoga tidak mengecewakan (n_n)

sasusaku loverrrrr: Semoga Chap. ini lebih So Sweet dari yang kemarin?

Sasori? tunggu saja kemunculannya hahahaha XD

Sasuke: Hn, terima kasih sudah membaca dan meninggalkan Review. Kepada Silent Reader yang sudah bersedia meninggalkan Review terima kasih banyak dan bagi yang belum silakan tinggalkan Review *tampang datar*

Author: Woi Sasu! yang sopan sedikit bicaranya! *lempar kunai*

Sakura: Maaf atas keributan di atas, tolong di abaikkan saja ya...

Next Menu: Patner, sampai ketemu lagi *lambai-lambai

Salam Tomat Cerry,

Kimeka ReiKyu

Palembang, 25 April 2013