"Cherry, bagaimana jika minggu nanti kita kencan?" tanya Suigetsu sambil menopang dagunya dengan tangan kanan. Memperhatikan Sakura yang berdiri di depannya dengan seragam pelayan.
Sakura menutup kelopak matanya. "Aku tidak bisa." tolaknya. "Sui-kun mau pesan apa?" tanya Sakura dengan buku menu dan pena di tangannya.
Suigetsu menyeringai. "Aku mau pesan kau, Cherry." jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Pergi sana kau mesum!" teriak Naruto dari jauh.
"Siapa yang mengizinkan mu masuk!" tambah Kiba.
"Guk... guk!"
Suigetsu mengangkat kepalanya dan menyeringai remeh ke arah Naruto dan Kiba yang menatapnya tajam. "Kalian cemburu karena tidak pernah kencan dengan Cherry-ku?" ujarnya sinis.
Dari kepala Naruto dan Kiba mengeluarkan asap yang menandakan mereka sangat marah. Cherry-ku? yang benar saja. Sejak kapan Sakura menjadi milik laki-laki bertampang mesum itu.
"Jika hanya ingin mengganggu pelayan di sini. Lebih baik pulang saja!" ujar Sasuke yang tiba-tiba muncul di sebelah Sakura.
Sakura mengangkat sebelah alisnya. "Sasuke-kun?" gumamny.a
Sasuke melirik Sakura datar dan menarik tangannya menjauhi Suigetsu yang mendengus kesal.
Semenjak Suigetsu memberikan surat cinta kepada Sakura, sejak itu pula ia selalu datang ke Clover's Cafe untuk bertemu dengan Sakura dan mengajaknya kencan. Tentu saja kehadiran Suigetsu yang sangat berbahaya bagi beberapa laki-laki di sana membuat mereka harus ekstra ketat menjaga Sakura setiap hari dan untungnya sampai sekarang Suigetsu masih belum mengetahui identitas asli Sakura.
Dari depan Kakashi memperhatikan kelakuan pelayannya sekaligu murid-murid yang cukup menarik perhatian tamu yang lain.
"Jadi semakin ramai saja." ujar Yamato dari lubang dinding tempat meletakkan menu pesanan, melihat keributan yang di ciptakan para pelayan itu.
Kakashi yang mendengar perkataan Yamato hanya tersenyum penuh arti. "Kau benar."
Di sebelah Kakashi, ada Shikamaru yang hanya memandang bosan tingkah teman-temannya yang lain. Dan tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan Sakura yang masih di tarik Sasuke menjauhi Suigetsu.
"Merepotkan."
Clover's Cafe
Naruto © Masashi Kisimoto
Rated: T
Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)
Story © Kimeka ReiKyu
Warrnig: AU, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
[Sakura-Centric]
Don't Like, Don't Read!
Pagi yang cerah di kota Konoha, burung-burung bernyanyi riang, dan semua orang ramai berlalu lalang untuk memulai hari mereka. Di suatu bangun berlantai lima, yang di depan pintunya bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' seorang wanita cantik berambut pirang panjang yang di kuncir dua rendah terlihat sibuk membaca sebuah lembaran yang berada di tangannya.
Tok Tok
"Tsunade-sama." panggil orang dari luar yang baru saja mengetuk pintu.
Tanpa mengalihkan tatapan matanya dari lembaran yang di baca, wanita cantik bernama Tsunade bergumam keras mempersilakan seseorang di luar sana untuk memasuki ruangannya.
Mendengar gumam dari dalam seseorang yang mengetuk pintu memasuki ruangan itu bersama seorang laki-laki berambut Silver melawan gravitasi. "Tsunade-sama, saya sudah membawa Kakashi sesuai perintah anda." ujarnya sopan.
Tsunade menurunkan lembaran yang dibacanya dan melirik dua orang yang sekarang berdiri di depannya. "Terima kasih, Shizune."
Shizune menunduk hormat dan meminta izin keluar dari ruangan itu, meninggalkan Tsunade dan Kakashi berdua.
Tsunade meletakkan kedua tangannya ke atas meja, menjadi tumpuhan untuknya meletakkan dagu di atasnya "Jadi Kakashi, bagaimana dengan rencanamu?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik.
Kakashi tersenyum senang mendengar pertanyaan Tsunade di depannya. "Semua berjalan lancar, sesuai dengan rencana."
"Baguslah. Aku sudah mempercayakannya padamu. Jadi, jangan kecewakan aku." ancaman Tsunade yang hanya ditanggapi Kakashi dengan senyuman simpul.
"Tsunade-sama." panggil Kakashi, wajah tersenyumnya berubah menjadi wajah serius. "aku membutuhkan bantuan anda lagi." lanjutnya.
Tsunade mengangkat sebelah alisnya. "Apa lagi rencanamu kali ini?" tanyanya penuh selidik.
"Hanya rencana kecil. Dan untuk itu aku membutuhkan bantuan anda sebagai kepala sekolah."
Tsunade diam sejenak, menimbang-nimbang. "Kau selalu melakukan sesuatu berdasarkan keinginan mu saja." Tsunade menyenderkan tubuhnya ke belakang. "Kau tahu, aku tidak bisa menolak rencanamu yang berhubungan dengannya. Kali ini bantuan apa yang kau perlukan?" tanyanya dengan kedua kelopak mata yang tertutup.
"Hanya bantuan kecil." Kakashi kembali tersenyum, tetapi kali ini sebuah senyuman penuh arti dari balik maskernya.
.
.
.
"Dengan begitu pemimpin negara kita..." suara Kurenai yang lembut membuat murid-murid yang mendengarkannya mengantuk. Entah oleh suaranya yang terdengar seperti lulaby pengantar tidur atau karena pelajaran sejarah yang membosankan. Walau begitu di bangku paling kanan, nomor dua dari belakang gadis merah muda, Sakura. Terlihat begitu antusias mendengarkan perkataannya.
Sreet
"Permisi Sensei." mendengar suara berat laki-laki membuat Kurenai yang sedang menerangkan sejarah pemimpin negara menghentikan ceritanya.
Kurenai meletakkan buku sejarah di tangannya dan menatap laki-laki di depannya. "Ada perlu apa ketua OSIS Hyuga kemari?" tanyanya.
"Saya di minta Kakashi-sensei memanggil Nara dan Haruno ke ruang kepala sekolah." jawab Neji sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.
Kurenai menganggukkan kepalanya dan mengalihkan tatapannya menuju objek yang dicari. "Nara, Haruno silakan kalian pergi bersama Hyuga."
Tubuh Sakura menegang, saat Kurenai menyebut namanya. Ada apa kepala sekolah mencarinya. Selama masuk KSHS, Sakura belum pernah bertatapan langsung—selain pidato sekolah—dengan kepala sekolah yang terkenal disiplin dan tegas itu. Perasaan takut memenuhi hatinya, setelah beasiswa di cabut apa ada masalah lain yang harus dihadapinya.
Dengan ragu-ragu Sakura berdiri dan berjalan mendekati Neji, dengan tatapan tidak suka dari teman-teman sekelasnya. Sementara Sakura berjalan mendekati Neji, Shikamaru yang duduk di belakang sekali sedang tertidur.
"Shika!" panggil Kiba yang duduk tepat di sebelah Shikamaru.
Shikamaru terbangun mendengar panggilan Kiba, dengan kesadaran yang masih setengah. Direnggangkan otot-otot tubuhnya. "Oah~ ada apa?" tanyanya sambil menguap.
Kiba mendelik melihat kebiasaan buruk Shikamaru. "Kau dipanggil Neji." ujarnya.
Shikamaru mengalihkan tatapannya ke arah Neji dan sekarang Sakura sudah berdiri di sebelah Neji dengan kepala tertunduk. Dengan malas Shikamaru berdiri dan berjalan mendekati Neji.
"Ada apa?"
Neji diam sejenak dan kemudian melirik Kurenai. "Kami permisi, Sensei." ujarnya sopan dan mulai melangkahkan kakinya keluar. Di belakang Neji, Sakura dan Shikamaru saling bertatapan tidak mengerti, tetapi di ikuti juga ke mana Neji pergi.
Sepanjang perjalan melewati koridor kelas, tidak ada yang membuka pembicaraan. Neji yang berjalan di depan, hanya fokus pada jalannya. Shikamaru yang dari tadi hanya menguap bosan. Dan Sakura hanya bisa tertunduk takut, takut membayangkan apa lagi masalah yang akan dihadapinya.
Tok Tok
"Tsunade-sama." ucap Neji saat sudah sampai di depan pintu bercat coklat yang bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah'.
"Masuk!" dari dalam terdengar teriakan seorang wanita yang di yakini Sakura sebagai suara kepala Sekolah, Tsunade.
Cklek
Perlahan Neji membuka pintu bercat coklat itu dan di belakangnya Sakura dan Shikamaru mengikuti Neji. Saat sudah berada di dalam hal yang pertama di lihat Sakura adalah wajah tersenyum Kakashi dari balik maskernya.
Sakura menaikkan sebelah alisnya. "Kakashi-sensei?" gumam Sakura.
Neji membungkukan badannya sedikit. "Tsunade-sama saya sudah memanggilkan Nara dan Haruno sesuai perintah anda." ujarnya.
"Hm, terima kasih Hyuga." ujar Tsunade. "kau bisa kembali ke kelas mu sekarang." lanjutnya.
Neji membungkuk hormat dan mulai membalikkan badannya menuju pintu keluar, tetapi saat berpapasan dengan Sakura, Neji meliriknya sebentar, yang membuat Sakura semakin gugup.
"Apa kalian tahu kenapa aku memanggil kalian kemari?" tanya Tsunade setelah kepergian Neji.
Wajah Sakura memucat. Perasaan takut, panik dan gugup yang menjadi satu. "A-a-ku... ti-tidak tahu." dengan kedua kaki yang terasa lemas, Sakura menjawab terbata-bata.
Shikamaru melirik gadis merah muda di sebelahnya yang panik sendiri hanya dengan pertanyaan yang menurutnya sangat tidak penting.
Tsunade memajukan tubuhnya—yang sebelumnya menyender pada punggung kursi di belakangnya—dan menopang dagunya dengan ke dua tangan. "Aku akan mendaftarkan kalian berdua untuk mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah yang akan di adakan dua minggu lagi, mewakili sekolah." jelas Tsunade.
Mata Sakura membulat, terkejut mendengar penjelasan Tsunade yang tiba-tiba itu.
"Cerdas cermat?" gumam Sakura.
Tsunade melirik Sakura. "Ya, dan Kakashi yang akan menjadi pembimbing kalian." ujar Tsunade sambil melirik Kakashi yang tersenyum penuh arti.
Sakura dan Shikamaru langsung melirik Kakashi curiga. Entahlah, rasanya setiap hal yang mereka lakukan pasti berhubungan dengan Kakashi.
"Merepotkan." celetuk Shikamaru malas. "kalian cari orang lain saja!" lanjutnya sambil menguap bosan.
Sakura melirik Shikamaru di sebelahnya. "Pemalas sekali." batinnya sambil memicingkan mata.
Tsunade menyeringai. "Neji tidak bisa ikut karena sedang persiapan untuk Ujian Akhir dan Sasuke tidak bisa ikut karena nilai mu lebih tinggi darinya." ujar Tsunade. "jika kau menolaknya, kau akan mengalami hal yang lebih merepotkan lagi." lanjutnya tidak lupa dengan seringaian.
Shikamaru mendengus kesal mendengar ancaman Tsunade. Mana mau ia mengalami hal yang lebih merepotkan dari ini.
"Mulai sekarang baca buku itu!" Tsunade menujuk tumpukan buku di depannya. "jika ada yang tidak di mengerti, tanyakan pada Kakashi!" lanjutnya.
"Ma-maaf Tsunade-sama?" panggil Sakura takut. "Ano... kenapa aku yang di pasang,'kan dengan Shikamaru?" tanyanya sambil mengaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
Tsunade mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Sakura. "Ku pikir nilai kalian berdua yang paling tinggi." ujarnya
Sakura terdiam, tidak bisa membantah atau mengatakan apa pun lagi.
"Ehem~" dehem Kakashi mengambil perhatian semua orang. "Mulai sekarang kalian akan mengikuti pelajaran tambahan setiap pulang sekolah dan jika ada perlu bisa langsung tanyakan padaku. " jelasnya sambil tersenyum.
Sakura menganggukkan kepalanya sementara Shikamaru hanya bergumam tidak jelas.
.
.
.
"Sakura-chan, kudengar kau akan mengikuti lomba cerdas cermat bersama Shika?" tanya Naruto penasaran saat melihat Sakura yang baru selesai mengganti seragam sekolahnya dengan seragam pelayan.
Sakura menghelakan nafasnya berat. "Ya, begitulah." jawabnya malas.
Naruto melipat ke dua tangannya ke belakang kepala. "Baguslah, jika pasangannya kalian, kita pasti menang." ujarnya riang.
Sakura menatap Naruto tidak ikhlas, yang membuat Naruto mengerutkan alisnya. "Apa ada yang salah, Sakura-chan?" tanya Naruto cemas melihat Sakura yang tidak bersemangat.
Sakura kembali menghelakan nafasnya berat. "Aku tidak yakin bisa mengikuti lomba itu." ucapnya lirih.
"Kau pasti bisa." suara Gaara yang berdiri di sebelah Sakura membuat semua orang yang ada di sana menatapnya. "aku yakin!" lanjutnya sambil tersenyum dan mengelus kepala Sakura lembut.
Sakura menatap Gaara tidak yakin, tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Kau pasti bisa, Sakura. Kau 'kan pemegang nilai tertinggi siswi di angkatan kita." ujar Kiba ikut menyemangati Sakura.
"Guk... Guk!" Akamaru ikut menggonggong, setuju dengan ucapan Kiba.
"Jika kau belajar dengan serius, maka tidak akan ada soal yang tidak bisa kau jawab." ucap Sai sambil tersenyum seperti biasa.
Sakura tersenyum senang, senang karena memiliki teman yang selalu mendukungnya. "Terima kasih." ujar Sakura dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.
Blush
Wajah laki-laki di ruangan itu merona merah dan sekarang sibuk menyembunyikan wajah mereka yang memerah agar tidak ketahuan yang lain.
"Ehem~" dehem Sasuke mencoba menetralkan jantungnya yang berdebar-debar. "Jadi, mulai sekarang kau akan mengikuti pelajaran tambahan bersamanya?" ucap Sasuke dengan jari telunjuknya yang menunjuk ke sisi ruangan, di mana Shikamaru sedang menyender pada dinding dengan tangan terlipat di depan dada dan mata tertutup rapat, tidur.
Sakura yang mengikuti arah tunjuk Sasuke kembali menghelakan nafasnya berat. "Ya." jawab Sakura sambil melirik Shikamaru sekilas.
Laki-laki yang ada di sana memandang Sakura sedih dan khawatir, mereka ingin membantu Sakura tetapi tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengembalikan semangat Sakura.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" tanya Yamato yang tiba-tiba muncul. "Cepat ke depan! Cafe akan segera di buka." lanjutnya.
Semua yang ada di ruangan itu langsung berjalan ke depan sesuai perintah Yamato.
Sakura yang berjalan di belakang sesekali melirik Shikamaru yang berjalan di depannya dengan malas dan sesekali menguap bosan. Sakura kembali menghelakan nafasnya yang sudah untuk keberapa kalinya hari ini. Bukannya tidak mau berpasangan dengan Shikamaru, hanya saja ia merasa kurang yakin dengan dirinya sendiri dan lagi pula ia tidak yakin bisa berkerjasama dengan Shikamaru yang suka tidur tetapi jenius itu.
Sudah tiga hari berlalu semenjak Sakura harus memulai pelajaran tambahannya bersama Shikamaru, dan semuanya tidak berjalan lancar seperti yang sudah diduga Sakura sebelumnya. Sakura melakukan semua perintah yang di berikan Tsunade untuk membaca buku yang diberikannya dan mengerjakan semua soal yang diberikan Kakashi, tetapi Shikamaru tidak berubah, ia tetap sering tertidur di jam pelajaran tambahan dan Sakura tidak yakin Shikamaru membaca buku yang diberikan Tsunade padanya.
Sakura menghelakan nafasnya lelah, lelah terus-terusan belajar. Dengan pelan di pijatnya pelipis matanya, mencoba mengurangi rasa pusing karena terus membaca buku yang ada di tangannya.
"Sakuraaaa!"
Sakura menolehkan kepalanya menuju sumber suara yang meneriaki namanya. "Ino." ucapnya setelah melihat pemilik suara, yang tidak lain adalah Ino, sahabatnya.
"Pagi Sakura." sapa Ino setelah berada di sebelah Sakura.
Sakura memasukan buku ditangannya ke dalam tas dan tersenyum ramah kearah Ino. "Pagi Ino."
Ino ikut tersenyum melihat senyum Sakura. "Kau rajin sekali pagi-pagi sudah membaca buku." ujarnya sambil melirik tas Sakura.
Sakura menghelakan nafasnya, jika mengingat ia harus membaca buku yang menumpuk di meja belajarnya. "Aku akan mengikuti lomba cerdas cermat." ujarnya tidak bersemangat.
Ino menepuk kedua bahu Sakura dan membuat Sakura menatap Ino tidak mengerti. "Kau hebat Sakura, bisa ikut lomba yang isinya orang jenius semua." ujar Ino bangga. "Selain itu, kau juga bisa kembali mendapatkan beasiswamu jika memenangkan lomba itu." lanjutnya.
Kedua manik Emerald Sakura membulat. Bagaimana mungkin ia tidak kepikiran bahwa dengan lomba ini ia bisa mendapatkan kembali beasiswanya. "Kau benar Ino." ujar Sakura kembali bersemangat. "aku akan memenangkan lomba ini, walaupun tanpa bantuan Shikamaru." lanjutnya penuh percaya diri, jika sudah menyangkut beasiswa.
Ino menurunkan kedua tangannya dari bahu Sakura dan menatap Sakura bingung. "Shikamaru?" gumam Ino yang dengan jelas di dengar Sakura yang berdiri di depannya.
Sakura menganggukan kepalanya membenarkan perkataan Ino. "Ya, Nara Shikamaru." ujarnya. "aku di pasangkan dengannya untuk lomba nanti." lanjut Sakura.
Ino menepuk jidatnya cukup keras, yang sukses membuat Sakura yang berdiri di depannya panik dengan kelakuannya. "Ah, si pemalas itu juga ikut." ujar Ino entah pada siapa. "kenapa tidak terpikirkan oleh ku." lanjutnya.
Sakura semakin panik melihat sikap Ino yang tidak biasa. "Ino, kau tidak apa-apa?" tanyanya cemas.
Ino kembali menatap Sakura yang memandangnya bingung. "Ah, maaf Sakura. Aku hanya kaget si pemalas itu mau mengikuti lomba yang pasti sangat merepotkan baginya." jelas Ino sambil tertawa hambar.
Wajah panik Sakura berubah menjadi wajah bingung. Dari mana Ino tahu trade mask Shikamaru, merepotkan. "Kau kenal Shikamaru, Ino?" tanyanya penasaran.
Ino menganggukan kepalanya. "Ya, aku kenal dia. Mungkin sangat kenal bisa di bilang." ujar Ino yang membuat Sakura semakin bingung. "Shikamaru itu tetangga yang tinggal di depan rumahku sekaligus teman kecil ku." jelasnya.
Sakura menatap Ino tidak percaya. "Benarkah?"
Ino melipat kedua tangannya di depan dada. "Begitulah, aku jadi penasaran apa yang bisa membuat tuan merepotkan itu bersedia di repotkan seperti itu?" ujar Ino menatap Sakura penuh selidik, mungkin Sakura tahu pikirnya.
Dengan cepat Sakura mengibas-ngibaskan tangannya. "Aku tidak tahu Ino. Kemarin Tsunade-sama yang memaksa kami untuk ikut." jelas Sakura. "selain itu, kelihatannya Shikamaru tidak tertarik dan malas mengikuti lomba ini. Terlihat dari caranya yang sering tertidur saat pelajaran tambahan." lanjutnya.
"Kebiasaan buruknya tidak hilang juga ternyata."
"Kebiasaan?"
"Ya, kebiasaan buruknya sejak kecil."
Sakura mengerutkan alisnya dan menatap Ino penasaran. "Kebiasaan seperti apa?"
Ino menghelakan nafasnya dan memasang pose berpikir, seolah yang di pikirkannya adalah jawaban untuk ujian kenaikan kelas. "Dia itu punya kebiasaan Insomia yang parah sejak kecil, seperti kelelawar." jelas Ino.
"..."
"Maksudnya begini..." lanjut Ino yang tidak mendapat respon dari Sakura, yang menandakan Sakura masih belum mengerti maksudnya. "Shika itu jika malam tidak bisa tidur dan hobinya membaca buku di malam hari dan jika siang hari ia akan tertidur, seperti kelelawar, 'kan?" tanya Ino memastikan pendapat Sakura.
Sakura hanya menganggukan kepalanya mengerti. "Jadi itu alasan kenapa Shikamaru sering tertidur di siang hari." batin Sakura.
"Setidaknya ini hal yang baik untuk orang pemalas seperti dia. Kau juga jangan sampai kalah dari dia, Sakura!" ujar Ino bersemangat.
Sakura hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Ino di depannya, untunglah Sakura memiliki sahabat seperti Ino.
.
.
.
"Berdasarkan pemberitahuan dari penyelenggara lomba cerdas cermat. Lomba akan di adakan di KSHS pada pagi hari, dan lombanya akan di bagi menjadi dua sesi." jelas Kakashi di depan kelas tempat di mana Shikamaru dan Sakura melakukan pelajaran tambahan. Penjelasan Kakashi ditanggapi Sakura antusias dan Shikamaru bosan.
"Sesi pertama. Tiap pasangan, masing-masing akan di beri 100 soal yang nantinya akan di akumulasikan menjadi satu nilai. Dan 2 total nilai paling tinggi akan memasuki babak final." lanjut Kakashi.
Sakura mengangkat tangan kanannya.
"Ya, ada apa Haruno?" tanya Kakashi setelah melihat Sakura mengangkat tangannya.
"Apa nilai satu orang dari pasangan tidak bisa menentukan kemenangannya?"
Kakashi sedikit mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Sakura yang cukup aneh. "Mungin bisa, jika nilai orang tersebut lebih besar. Tetapi menurutku, lebih baik kedua peserta mengerjakan soal mereka masing-masing, setidaknya 70 jawaban mereka benar sudah cukup untuk memastikan kemenangan mereka." jawabnya.
Sakura menganggukan kepalanya mengerti dan melirik Shikamaru yang duduk di meja sebelahnya. "Apa ia bisa mengisi 70 soal tanpa tertidur?" batinnya.
"Baiklah untuk percobaan, aku akan memberi kalian 100 soal." Kakashi memberikan selembar kertas kepada Sakura dan Shikamaru. "kerjakan soal itu! Jika ada kesulitan kalian boleh melihat buku. Aku ada urusan sebentar, jadi akan kutinggalkan." Kakashi keluar meninggalkan Sakura dan Shikamaru yang berkutat dengan 100 soal mereka masing-masing.
Sakura cukup percaya diri mengerjarkan beberapa soal awal, hanya saja saat soal nomor 27 dahinya sedikit mengerut. Ia lupa sebaiknya menggunakan rumus yang mana.
Perlahan Sakura meraih tasnya dan memeriksa buku Matematika yang di berikan Tsunade. Cukup lama Sakura memeriksanya, tetapi tak ada buku Matematika itu di dalam tasnya.
Sakura menepuk jidat lebarnya. "Ah, aku meninggalkannya di atas meja belajar setelah aku membacanya semalam." batinnya.
Dengan agak ragu Sakura melirik Shikamaru yang dengan malas mengerjakan soal pemberian Kakashi. Apa mungkin Shikamaru membawa buku itu, perkataan itu terngiang di kepala Sakura.
Sakura menggelengkan kepalanya, mencoba menghapus pikiran jahatnya. Masih agak ragu-ragu Sakura menghampiri Shikamaru.
"Ano... Shikamaru apa boleh aku meminjam buku Matematika mu?" tanya Sakura gugup. Sedangkan Shikamaru hanya melirik Sakura dengan ekor matanya. "pu-punyaku tertinggal di meja belajar." jelas Sakura sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Shikamaru mendengus dan mengambil sebuah buku dari dalam tasnya, yang kemudian di serahkan kepada Sakura.
Sakura menerima buku yang di berikan Shikamaru dan membungkukan badannya. "Terima kasih, Shikamaru." ujar Sakura dan kembali ke tempat duduknya.
Sakura menghelakan nafasnya lega dan kembali melirik Shikamaru yang fokus mengerjakan soalnya. Perlahan Sakura membuka buku itu dan mencari di bagian mana rumus Matematika yang di butuhkannya.
Kedua bola mata Sakura membulat dan menatap Shikamaru yang masih sibuk dengan soalnya tidak percaya. Dugaan Sakura salah selama ini, bahwa Shikamaru tidak tertarik dengan lomba ini. Tetapi lihat buku Shikamaru yang penuh dengan coret-coretan dan beberapa kata pengingat.
"Shika itu jika malam tidak bisa tidur dan hobinya membaca buku di malam hari dan jika siang hari akan tertidur, seperti kelelawar, 'kan?"
Perkataan Ino tadi pagi teringat oleh Sakura. Dan perlahan lengkungan tipis terukir di wajahnya.
"Ternyata Shikamaru benar-benar jenius." batin Sakura dan kembali fokus dengan soalnya tanpa menyadari tatapan mata Shikamaru yang melihatnya.
.
.
.
"Hem, hasilnya cukup baik. Tetapi aku harap kalian bisa meningkatkan lagi!" ujar Kakashi yang sedang memeriksa jawaban lembar soal Sakura dan Shikamaru. "kalian boleh pulang sekang. Ah, maksudku kembali ke cafe sekarang!" lanjut Kakashi dengan senyuman di balik maskernya.
Sakura menganggukan kepalanya dan membereskan buku-buku dan peralatan sekolahnya yang berantakan di atas meja, sedangkan Shikamaru sudah kembali tertidur setelah menyelesaikan soal yang diberikan Kakashi tadi.
Kakashi melangkahkan kakinya keluar kelas, tetapi sebelum melewati pintu kelas. Kakashi membalik badannya menghadap Sakura.
"Haruno." panggil Kakashi dan membuat Sakura menghentikan aktifitas beres-beresnya. "Tolong beritahu Nara untuk membaca bab 5 dan 6 untuk besok dan lebih baik kau pulang bersama dia!" perintahnya dan mendapat jawaban berupa anggukan kepala dari Sakura.
Sepeninggalan Kakashi, Sakura selesai membereskan buku-bukunya dan melirik Shikamaru yang masih tertidur dengan kepala di atas meja. Perlahan Sakura mendekati Shikamaru dan berjongkok di depannya, memperhatikan wajah polos Shikamaru yang sedang tertidur.
"Seperti kelelawar?" gumam Sakura sambil tertawa geli membayangkan Shikamaru adalah kelelawar seperti kata Ino.
Entah karena suara tawa Sakura atau karena apa, Shikamaru perlahan membuka matanya dan sukses membuat Sakura langsung berdiri kaget dengan rona merah di pipi.
Shikamaru menutup dan membuka matanya, berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali. Membuat Sakura yang berdiri kiku di depannya hanya diam memperhatikan.
Dengan sedikit ragu Sakura memberanikan diri menegur Shikamaru yang mulai sibuk membereskan peralatan sekolahnya. "Shikamaru..." panggilnya. "Kakashi-sensei bilang kita harus membaca bab 5 dan 6 untuk besok." lanjutnya.
Shikamaru menganggukan kepalanya mengerti. "Ya, aku mengerti." dan setelah semua peralatannya masuk ke dalam tas, Shikamaru berjalan melewati Sakura.
Sakura yang melihat Shikamaru melewatinya seakan tidak peduli, muncul perasaan tidak enak menyelimuti hati Sakura, rasanya seperti di acuh 'kan.
Saat akan melangkahkan kakinya melewati pintu, Shikamaru membalik badan dan menatap Sakura tajam. "Ayo!" perintahnya yang membuat Sakura mengerutkan alisnya tidak mengerti. "Kakashi-sensei bilang kita harus pergi bersama ke cafe,'kan?" tanya Shikamaru sambil sedikit menyeringai.
Blush
Wajah Sakura memerah padam. Seingat Sakura, ia belum memberitahu perintah Kakashi untuk pulang bersama Shikamaru. Jangan-jangan tadi Shikamaru tidak benar-benar tertidur.
"Ayo cepat!" panggil Shikamaru tidak sabar.
Masih dengan wajah memerah, Sakura mengikuti Shikamaru di depannya dan sedikit menjaga jarak. "A-ano... Shikamaru." panggil Sakura ragu-ragu.
Shikamaru melirik Sakura melalui ekor matanya. "Hem, ada apa?" tanyanya malas.
Sakura mengambil sebuah buku dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Shikamaru. "Terima kasih bukunya."
Shikamaru menerima buku itu dan di masukan ke dalam tasnya. "Iya, sama-sama." ujarnya.
Sepanjang perjalanan Sakura dan Shikamaru hanya diam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan duluan. Sakura sesekali mencuri pandang pada Shikamaru di sebelahnya, sedikit perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Awalnya Sakura kira Shikamaru hanya mengikuti lomba karena di ancam Tsunade tetapi setelah melihat buku milik Shikamaru yang penuh dengan coretan, Sakura tahu tiap malam pasti Shikamaru membaca dan mempelajari buku-buku itu dan paginya mengantuk karena semalaman bergadang.
"Ada apa?" tanya Shikamaru yang menyadari Sakura terus memandanginya.
Sakura menundukan kepalanya. "Aku mau minta maaf." ucapnya lirih, dipenuhi perasaan bersalah.
Shikamaru yang tidak mengerti maksud dari Sakura hanya mengerutkan alisnya. "Untuk apa?" tanyanya.
"Kukira kau ikut lomba hanya karena terpaksa, oleh sebab itu kau lebih suka tertidur saat Kakashi-sensei menjelaskan pelajaran."
Shikamaru mendengus mendengar perkataan Sakura. "Lomba itu memang merepotkan, tapi jika aku melakukannya setengah-setengah akan lebih merepotkan lagi nantinya."
Sakura sedikit panik mendengar perkataan Shikamaru, yang menurutnya terdengar marah. "Karena itu aku mau minta maaf. Maaf karena sudah berprasangka buruk sebelumnya." Sakura sedikit menundukan kepalanya, ia benar-benar merasa bersalah sekarang.
"Apa kau tahu pepatah. 'Jangan menilai buku dari sampulnya'?"
"Aku tahu, oleh sebab itu aku mau meminta maaf. Jika sebelumnya aku tahu kau punya kebiasaan buruk Insomia parah di malam hari, aku tidak akan berpikir kau tidak serius dengan lomba ini." ujar Sakura panik. "a-apa kau marah padaku?" tanyanya takut-takut.
Shikamaru tersenyum. Ia tidak marah, hanya ingin mengerjai gadis di sebelahnya saja. "Tidak. Karena aku tahu kau berusaha keras untuk mengikuti lomba ini."
"Benarkah?"
"Ya, dan sepertinya Ino sudah menceritakan semua tentangku padamu, ya?"
Sakura mengangkat alisnya bingung. "Dari mana kau tahu?"
"Seperti kelelawar." gumam Shikamaru meniru perkataan Sakura tadi saat ia tertidur.
Mata Sakura membulat, jadi benar Shikamaru tidak benar-benar tertidur saat itu.
Satu minggu lebih sudah berlalu. Hubungan Sakura dan Shikamaru semakin baik, setidaknya mereka lebih terlihat seperti Patner yang sangat bersemangat mengikuti lomba.
"Shika, bagian ini aku bingung. Kenapa hasilnya salah jika aku menggunakan rumus persamaan?"
"Coba kau kalikan dulu, baru selanjutnya di tambah."
"Ah, sepertinya begitu. Terima kasih."
"Ya, sama-sama."
"Ano... buku Matematika kemarin benar-benar membantu terutama bagian coretannya. Aku jadi mudah memahaminya."
"Baguslah kalau begitu."
"Ehm, maaf jika aku mengganggu." suara Naruto yang berdiri di tengah-tengah antara Sakura yang sedang membawa pesanan tamu dan Shikamaru yang baru mau meletakkan pesanan, menarik perhatian keduanya.
"bisakah kalian tidak membicarakan hal yang sulit ku pahami itu." lanjut Naruto sambil tertawa hambar.
"Ah, maaf Naruto." ujar Sakura tidak enak.
"Itu karena otakmu saja yang payah." cibir Kiba dari jauh.
Naruto mengangkat tangannya tinggi, memukul-mukul udara di atasnya. "Siapa yang meminta pendapatmu, Kiba!" teriaknya kesal.
"Orang bodoh tidak akan mengatakan mereka bodoh." tambah Sai sambil tersenyum.
Gaara yang berdiri tidak jauh dari Sai menganggukan kepalanya. "Aa.. Aku sependapat."
"Kalian berdua penghianat!" ujar Naruto kesal sambil menunjuk Sai dan Gaara yang menatapnya tanpa dosa.
"Kekanak-kanakan, begitu saja ngambek." cibir Neji melihat tingkah Naruto.
Mendengar perkataan Neji, Naruto menatapnya tajam, tidak terima dengan perkataan Neji.
"Baka-Dobe." Sasuke mendengus melihat tatapan mata Naruto, yang menurutnya bodoh karena dengan mudahnya di jahili oleh yang lain.
Sakura yang melihat interaksi tidak normal keakraban para laki-laki di depannya hanya bisa tertawa, teman-temannya memang aneh, mengakrabkan diri dengan cara yang berbeda dari orang biasa. Tentu saja karena mereka memang bukan orang biasa.
.
.
.
Seorang gadis berambut merah muda panjang berjalan sendirian di tengah-tengah koridor kelas yang sepi, hampir seluruh siswanya sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Sakura si gadis merah muda hanya berjalan diam tetapi sesekali lengkungan tipis terpahat indah di wajahnya. Ia merasa senang dan tidak sabar, karena besok ia akan mengikuti lomba cerdas cermat pertamanya.
Sudah dua minggu Sakura berkutat dengan buku-buku pemberian Tsunade. Baik di rumah, di sekolah bahkan ia juga menyempatkan diri untuk membaca buku-buku itu ketika sedang bekerja. Dan besok ia akan melakukan sebaik mungkin agar mendapatkan hasil yang baik.
"Cih, baru begitu saja sombong!"
Sakura menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan, guna mencari pemilik suara itu.
"Hanya mengikuti lomba seperti itu saja, kau merasa dirimu hebat, he?" suara-suara menghina itu semakin terdengar jelas dan dekat.
"Dasar gadis kampung!"
Deg
Tubuh Sakura bergetar, ia sadar siapa yang jadi bahan pembicaraan itu, dirinya sendiri. Tidak begitu jauh dari tempat Sakura, terlihat beberapa siswi yang terlihat marah berjalan menuju ke arahnya. Dengan sedikit panik Sakura memutar tubuhnya ke belakang, bermaksud untuk pergi meninggalkan siswi-siswi itu. Tapi sayang, sebelum ia berhasil pergi, salah seorang siswi itu menggenggam lengannya erat.
"Mau ke mana kau gadis kampung?" siswi itu menatap tajam Sakura yang menatapnya takut.
Keringat dingin sudah mulai bercucuran dari dahi lembar Sakura. Tatapan itu, tatapan benci yang begitu di kenali Sakura. Sudah lama ia tidak melihat tatapan mata orang yang tidak suka padanya.
"A-aku harus segera menemui Kakashi-sensei." ujar Sakura terbata-bata.
Siswi itu semakin kesal mendengar jawaban Sakura dan dengan kasar ia menghempaskan lengan Sakura yang kini memerah akibat cengkraman eratnya.
"Kenapa harus kau yang mewakili sekolah? Membuat citra siswi jadi buruk karena di wakili oleh orang jelek seperti mu!" ujar siswi itu marah.
"Harusnya Hyuga Hinata saja yang menjadi perwakilan siswi, bukannya kau!"
Sakura menundukan kepalanya dalam. Ia sadar, ia bukan gadis pintar yang cantik seperti Hinata. Tetapi tidak seharusnya para siswi ini protes padanya, jika ingin protes silakan menghadap kepala sekolah bukan dirinya.
"Berhenti saja! Dan minta ganti dengan Hinata yang lebih pantas!"
Sakura mengepalkan tangannya kuat, ia tidak mau kalah. Ia sudah berusaha keras dua minggu ini dan selalu merepotkan Shikamaru, ia tidak akan berhenti kecuali Shikamaru yang merupakan Patner atau Tsunade sang kepala sekolah yang memintanya berhenti.
"Maaf, aku tidak bisa berhenti."
Wajah siswi-siswi itu memerah karena menahan marah, dengan karas ia menarik rambut Sakura kuat.
"Dasar gadis kampung tidak tahu diri!" teriak siswi itu.
Sakura menggenggam tangan siswi yang menarik rambutnya dan menariknya agar terlepas."Sa-sakit...!" erangnya tertahan.
Tap!
Tangan siswi yang menarik rambut Sakura di genggam erat oleh seseorang. Dan sesaat Sakura bisa melihat ekspresi terkejut dan juga takut dari siswi itu.
"Shi... ka.. maru..." ucap siswi itu lirih.
"Hanya orang tidak mampu yang mengatakan hal bodoh seperti ini."
Tangan siswi yang menarik rambut Sakura bergetar dan perlahan terlepas.
"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanya siswi itu takut karena di tatap tajam oleh Shikamaru.
Dengan ekor matanya Sakura bisa melihat ekspresi bosan Shikamaru yang kini berdiri di sebelahnya seakan melindunginya.
Shikamaru melirik Sakura sekilas dan memfokuskan tatapan tajamnya ke depan, kearah siswi-siswi yang kini menatapnya tidak percaya.
Greb
Sakura merasakan tangannya di genggam erat oleh tangan Shikamaru dan perlahan menariknya, meninggalkan siswi yang melongok tidak percaya melihat mereka pergi.
Salah seorang siswi menggigit jari jempol tangannya kesal. "Sial! Awas saja kau nanti!"
.
.
.
"Shika?" panggil Sakura yang di seret kasar Shikamaru.
Shikamaru berhenti berjalan dan melepaskan genggaman tangannya. "Kenapa kau tidak membalas mereka?" tanyanya.
Sakura mengusap pergelangan tangannya yang sedikit memerah dan menundukan kepalanya ke bawah. "Yang mereka kata 'kan benar." ucapnya lirih sambil tertawa hambar. "seharusnya Hinata yang mengikuti lomba cerdas cermat itu, bukan aku."
Shikamaru mengerutukan giginya geram dan menarik tangan Sakura kembali berjalan.
"Shika!" teriak Sakura.
"Jadi menurutmu, semua yang telah kita lakukan itu tidak ada gunanya?!" bentak Shikamaru tanpa menghentikan langkahnya.
Sakura menarik tangannya paksa, walau itu membuat tangannya semakin memerah. Setidaknya ia berhasil melepaskan cengkraman tangan Shikamaru.
"Aku tidak pantas." Sakura menatap mata Shikamaru yang kini membalikan badan menghadapnya.
Shikamaru balik menatap Sakura. "Siapa yang bilang kau tidak pantas? Mereka?" tanya Shikamaru kesal.
Sakura hanya bisa diam melihat ekspresi Shikamaru yang marah, baru kali ini ia melihat Shikamaru semarah ini.
"Jika kau berhenti sekarang, aku tidak akan memaafkan mu!" Shikamaru melangkah pergi meninggalkan Sakura yang hanya bisa menatapnya tidak mengerti.
Setelah Shikamaru menghilang di tikungan koridor, Sakura membalik badannya dan berlari pergi dengan linangan air mata di kedua pipinya.
"Bodoh! Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku!" batin Sakura.
Sakura terus berlari pergi tanpa memperhatikan siapa saja yang di tabraknya.
"Sakura?" gumam Ino mengerutkan alisnya, yang kebetulan lewat melihat Sakura yang berlari sambil menangis.
.
.
.
"Hiks... hiks..." Sakura sekarang sudah tiba di rumahnya dan langsung berlari menuju kamarnya untuk menangis sepuasnya di sana, di mana tidak akan ada satu orang pun yang akan mendengarnya.
Drrr Drrr
Handphone Sakura bergetar. Perlahan Sakura mengambil Handphone-nya dan menghapus air matanya kasar dengan punggung tangannya.
From: Gaara
Saku, kenapa kau tidak datang ke cafe?
Sakura menutup Handphone-nya tanpa niat membalas pesan Gaara. Kembali Sakura merasakan Handphone-nya bergetar, bukan hanya sekali tetapi beberapa kali. Karena kesal ia melempar Handphone-nya ke atas kasur. Membiarkan Handphone itu terus bergetar.
Sakura meringkuk di lantai sambil memeluk lututnya, membiarkan air matanya berjatuhan di lantai. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun atau pun bekerja hari ini. Biar, biarkan saja semua orang yang mengkhawatirkannya. Sakura tertawa miris membayangkan seseorang yang mungkin mengkhawatirkannya, mungkin kah ada seseorang yang menkhawatirkan orang sepertinya.
.
.
.
"Gaara, apa belum ada balasan?" tanya Naruto cemas.
Gaara menutup Handphone-nya dan menghelakan nafasnya berat. "Belum." jawabnya singkat.
"Aku khawatir, tidak biasanya Sakura-chan tidak datang bekerja." Naruto menundukkan kepalanya, terlihat jelas raut kekhawatiran di wajahnya.
Semua laki-laki di sana ikut menundukkan kepala mereka, memikirkan sesuatu mungkin.
"Aku akan menemui Sakura." suara Sai memecahkan keheningan di antara laki-laki itu, membuat semua orang menatapnya yang melangkahkan kakinya keluar.
Tetapi langkah Sai terhenti saat tangan Sasuke menghalanginya. "Mungkin ia sedang tidak ingin di ganggu." ujarnya.
Sai diam sejenak dan menghelakan nafasnya berat.
"Sakura~" gumam Kiba khawatir.
Sementara sebagian laki-laki sedang berdiam diri, Shikamaru malah bersikap sebaliknya, ia terlihat kesal sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Merepotkan."
"Nge~" Sakura merenggangkan tangannya dan bergeliat malas di atas tempat tidur.
Sepertinya ia ketiduran karena kelelahan menangis semalaman, setidaknya karena puas menangis, perasaannya menjadi lega walau masih ada rasa sesak di dadanya.
Sakura melirik jam Weker di atas meja, yang sudah menunjukan pukul 08:15. Sakura tersenyum miris, sudah sangat terlambat jika ia ingin pergi ke sekolah untuk mengikuti lomba. Biarlah, mungkin ia akan di gantikan oleh Hinata yang pasti bisa menjawab soal-soal itu, setidaknya siswi-siswi di sekolah tidak akan kecewa jika Hinata yang mewakili mereka.
Sakura bangun dari posisi tidurnya dan berjalan ke kamar mandi, mungkin membiarkan air membasahi tubuhnya yang lelah akan membuatnya lebih segar. Setelah beberapa menit, Sakura keluar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Hari ini ia akan bolos sekolah saja dan bermalas-malasan di rumah.
Tok tok
Sakura mengerutkan alisnya saat mendengar pintu rumahnya di ketuk seseorang. "Siapa yang mengetuk pintu pagi-pagi begini?" batinnya.
Suara ketukan itu semakin keras, menandakan seseorang di luar sana tidak sabar untuk di bukakan pintu. Dengan malas Sakura berjalan ke depan dan membukakan pintu untuk seseorang yang sangat tidak sabar itu.
"Ada ap—" perkataan Sakura terhenti saat di depannya sudah berdiri Gaara bersama Temari lengkap dengan seragam sekolah meraka. "Apa yang mereka lakukan di jam sekolah begini?" batin Sakura tidak percaya.
"Sakura, kenapa kau tidak pergi ke sekolah sekarang? Lombanya sudah di mulai dari tadi?!" tanya Temari.
Sakura memalingkan wajahnya ke samping. "Aku tidak bisa ikut. Biar Hinata yang menggantikan ku." jelasnya dengan suara kecil yang begitu sedih.
"Sakura..." suara Temari terdengar lirih, ia sadar ada yang salah dengan Sakura hari ini.
Sret
Tubuh Sakura terangkat tiba-tiba dan mendarat di bahu Gaara yang menggendongnya.
"Ga-gaara, apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Sakura memukul-mulul punggung Gaara, minta di turunkan.
Gaara hanya diam tanpa mempedulikan perkataan protes Sakura, malah Gaara lebih memilih melangkahkan kakinya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan pagar rumah Sakura.
"Temari-nee." panggil Gaara, Termari hanya bisa diam melihat adik bungsunya menggendong Sakura di bahu. "tolong bawakan seragam Sakura!" pintanya.
Temari menganggukan kepalanya dan berlari masuk ke dalam rumah Sakura.
Sakura yang di gendong paksa terus berontak minta di turunkan, ia tidak ingin sekolah hari ini. "Turunkan aku Gaara!" bentaknya marah.
Gaara berhenti berjalan tapi tetap tidak menurunkan Sakura dari bahunya. "Apa kau akan lari?" tanyanya.
Sakura terdiam mendengar perkataan Gaara, dan perlahan tubuhnya melemah dalam gendongan Gaara. "Aku lelah terus di hina. Aku juga punya perasaan." ucap Sakura sedih. Selama ini ia selalu berusaha bersabar dan menerima hinaan dan ejekan dari semua orang di sekitarnya. Tapi sekarang ia lelah, batinnya lelah, fisiknya lelah dan perasaannya lelah.
"Kau tidak seperti Saku-nee yang aku kenal." mendengar perkataan Gaara, manik Emerald Sakura membulat tidak percaya. "Saku-nee yang ku kenal tidak akan menyerah hanya karena hal kecil seperti ini." lanjut Gaara.
"Jika kau lelah. Kau bisa bersadar pada kami." Gaara menurunkan Sakura dari bahunya dan mengangkat kepala Sakura yang tertunduk, membuat Emerald dan Jade bertemu. "kami selalu ada untuk mu, Sakura." Gaara tersenyum, meyakinkan Sakura bahwa apa yang di katakannya memang benar.
"Gaara..." ujar Sakura lirih.
.
.
Sementara itu di tempat lomba.
"Apa kalian yakin tidak memiliki pengganti lain?" tanya seorang laki-laki berambut coklat berantakan kepada Naruto dan yang lainnya. "jika kalian tidak punya pengganti, kemungkinan sekolah kalian akan kalah." lanjutnya.
"Sakura-chan pasti datang. Aku yakin itu!" ujar Naruto mantap, ia yakin Gaara dan Temari pasti bisa membawa Sakura.
"Jika itu pilihan kalian, apa boleh buat. Tapi ingat kalian tidak punya waktu banyak!" laki-laki yang sepertinya pengawas lomba dengan kartu pengawas bertulisan Genma yang menggantung di lehernya itu, kembali masuk ke dalam ruangan lomba.
"A-apa Sakura-san akan datang?" tanya Hinata cemas.
Ino menepuk bahu Hinata. "Sakura pasti datang. Seburuk apa pun keadaanya ia pasti datang." ujar Ino yakin. Ia sudah cukup lama mengenal Sakura dan ia tahu Sakura adalah orang yang paling keras kepala yang pernah di temuinya.
Drap Drap
Suara langkah kaki orang yang berlari menarik perhatian semua orang yang ada di sana.
"Sakura-san." panggil Hinata saat melihat Sakura, Gaara dan Temari yang berlari menuju ke arah mereka.
"M-maaf, sudah membuat kalian menunggu lama." ujar Sakura mengatur nafasnya.
Sasuke mendorong Sakura memasuki ruangan lomba. "Cepatlah masuk!" perintahnya.
Sakura menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam ruangan itu. Saat memasuki ruang itu semua orang menatapnya tidak suka, walau tubuh Sakura bergetar ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Siapa kau?" tanya seseorang yang sepertinya pengawas lomba dengan kartu nama yang menggantung di lehernya bertuliskan Kotetsu.
Sakura membungkukkan badanya. "Maaf saya terlambat." ujar Sakura. "saya Haruno Sakura, peserta lomba yang mewakili Konoha Senior High School." lanjutnya memperkenalkan diri.
Kotetsu mengangkat alisnya. "Kau tahu ini sudah jam berapa?" tanyanya mengejek Sakura, yang membuat semua peserta lain tetawa mendengar perkataannya.
Sakura tetap membungkukkan badannya. "Saya tahu, makanya saya mohon, tolong izinkan saya mengikuti lomba ini!" mohon Sakura.
Bibir Kotetsu berkedut marah, siapa gadis jelek yang seenaknya datang terlambat dan masih kuku ingin mengikuti lomba. "Kau pikir kau sia—"
"Kotetsu" panggil Genma memotong perkataan Kotetsu. "biarkan ia mengikuti lomba!" perintahnya.
Kotetsu mendengus kesal dan memberikan lembar soal kepada Sakura dan menyuruhkan untuk duduk di ikuti sorak-sorak dari peserta lain.
Genma memperhatikan Sakura yang duduk di tempatnya. "Gadis ini yang begitu di percayai meraka." batinnya memperhatikan Sakura.
Sakura mempersiapkan alat-alat tulis yang di butuhkannya, setelah itu memperhatikan jam bulat yang menempel di dinding ruangan. "Aku hanya mempunyai waktu tidak sampai setengah jam." batinnya dan mulai mengerjakan soalnya dengan tenang.
Di pojok ruang Shikamaru memperhatikannya dan tersenyum kecil melihat Sakura yang mulai fokus dengan soalnya.
.
.
.
"Maafkan aku." Sakura membungkukkan badannya dalam, ia menyesal sudah membuat teman-temannya khawatir seperti ini.
Naruto mengibas-ngibaskan tangannya. "Tidak apa Sakura-chan." ujarnya mewakili yang lain. "kami senang kau datang." lanjutnya.
Sakura mengangkat kepalanya dan membuat semua orang di sana terdiam karena melihat genangan air mata di pelupuk matanya.
"Sa-sakura-chan?" ujar Naruto panik dan sepertinya bukan hanya ia yang panik di situ.
Sakura menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Maaf, aku hanya bisa mengisi setengah dari soal-soal itu." ujar Sakura menyesal. "padahal Kakashi-sensei bilang setidaknya harus mengisi 70 soal jika ingin menang." lanjutnya.
Semua laki-laki di sana hanya bisa diam dan saling memandang bingung satu sama lain, bingung apa yang harus mereka lakukan. Sementara para laki-laki berdiam diri, para gadis berjalan mendekati Sakura dan menepuk bahu Sakura pelan.
"Tidak apa Sakura." ujar Ino yang membuat Sakura mengangkat kepalanya.
"Ka-kau sudah berusaha dengan baik." tambah Hinata sambil memainkan jari telunjuknya di depan dada.
Temari tersenyum. "Kami tidak marah padamu." ujarnya.
Air mata Sakura semakin menetes dan memeluk Ino. Semua yang ada di sana hanya tersenyum. Ya, terkadang untuk masalah seperti ini memang harus di serahkan kepada para gadis, 'kan.
"Maaf, apa aku mengganggu kalian." ujar seseorang yang tiba-tiba datang menarik perhatian mereka semua. Membuat Sakura yang memeluk Ino melepaskan pelukannya dan melihat siapa orang yang datang itu.
"Ah, kau pengawas yang tadi." terik Naruto yang ingat laki-laki di depanya adalah salah seorang pengawas lomba, Genma.
"Ya, aku senang kau masih mengenaliku." ujarnya senang. "aku datang hanya ingin memberitahu agar perwakilan dari Konoha Senior High School mempersiapkan diri mereka." lanjutnya.
Semua yang ada di sana menatap bingung ke arah Genma, tidak mengerti apa maksud perkataannya.
"Perwakilan Konoha Senior High School masuk ke babak final." jelasnya sambil tersenyum ke arah Sakura.
Semua mata membulat tidak percaya. "Benar,'kah?" gumam Sakura tidak percaya.
Genma tersenyum. "Ya, selamat untuk kalian berdua." ujarnya.
Semua orang senang dan melompat bahagia. "Selamat Sakura, Shika." teriak mereka.
Genma kembali terseyum melihat mereka semua. "Anak-anak muda yang bersemangat." batinnya.
"Ah, persiapkan diri kalian berdua. Dan kali ini pastikan jangan terlambat." ujarnya sambil melangkah pergi meninggalkan mereka semua.
Walau jarak Genma dari rombongan Naruto cukup jauh, ia masih bisa mendengar teriak-teriak senang mereka. Genma menengadahkan kepalanya ke atas. "Kau memiliki murid-murid yang menarik Kakashi, aku jadi iri padamu." gumamnya.
.
.
.
"Sakura, kau yakin tidak mau di temani?" tanya Ino memastikan.
Sakura menggeleng. "Aku, yakin Ino." tolak Sakura halus. "jika hanya ke toilet, aku bisa sendiri." lanjutnya.
Hinata menatapnya khawatir. "A-apa tidak apa-apa Sakura-san?"
Sakura tersenyum menandakan ia baik-baik saja. "Ya, aku tidak apa. Aku pergi dulu." ujar Sakura dan berlari pergi meninggalkan mereka.
"Sakura jangan lupa babak finalnya di mulai 10 menit lagi!" teriak Ino dari jauh yang hanya di balas lambaian tangan oleh Sakura.
"Eh, entah kenapa aku mengkhawatirkan Sakura." ujar Temari yang menatap kepergian Sakura.
"Ah, leganya~" Sakura melangkahkan kakinya keluar toilet dan sesekali memperbaiki posisi kacamata.
Bruk
Tubuh Sakura terdorong ke depan saat seseorang menabraknya, yang menyebabkan ia tersungkur dan kacamatanya terlepas.
"A-aduh~" keluh Sakura sambil memegangi lututnya yang berdarah.
"Kau masih berani menampakkan wajahmu di sini, gadis kampung!" mata Sakura membulat dan tubuhnya menegang mendengar suara seseorang di belakangnya.
Dengan cepat ia membalik badannya dan mendapati siswi-siswi yang menghinanya kemarin sedang menatapnya tidak suka dan marah.
Tubuh Sakura bergetar, ia takut, benar-benar takut. "A-apa mau kalian?" tanyanya takut.
Siswi-siswi itu menyeringai yang membuat bulu kuduk Sakura berdiri.
Salah seorang siswi berjongkok di depan Sakura, menyamakan tingginya dengan Sakura. "Kami hanya ingin merayakan keberhasilan gadis kampung yang bisa masuk final, padahal datang terlambat." ujarnya meremehkan. "iya,'kan teman-teman?" lanjutnya.
Sakura menatap tajam siswi di depannya, ia tahu siswi-siswi ini memiliki niat jahat padanya.
Plak
Mata Sakura membulat saat merasakan tamparan keras dari siswi di depannya.
"Jangan sombong, hanya karena Shikamaru membelamu!" teriaknya kesal. "ia hanya kasihan melihat gadis kampung yang menyedihkan sepertimu." lanjutnya kesal.
Sakura menundukan kepalanya dan memegangi pipinya yang memerah karena tamparan dari siswi itu.
"Apa kau tidak sadar, jika Shikamaru menjawab semua soal dengan benar. Ia pasti akan sangat malu jika sampai kalah, karena gadis menyedihkan yang datang terlambat sepertimu!" ujar siswi itu kesal karena tidak mendapat respon apa pun dari Sakura. "seharusnya kau lenyap saja!" lanjutnya sambil menarik paksa tangan Sakura dan menyeretnya berjalan mengikutinya.
Sakura hanya diam tak mampu mengatakan apa pun. Dadanya sesak dan terasa sangat sakit. Apa yang di katakan siswi itu benar. Shikamaru pasti menjawab semua soal dengan benar. Jika tidak, mereka pasti kalah karena Sakura hanya mengisi setengah dari semua soal yang di terimanya.
Brak
Siswi itu mendorong Sakura memasuki ruangan yang kotor dan berdebu, yang di penuhi barang-barang rongsokkan tidak terpakai, seperti gudang.
"Pikirkan semua yang telah aku katakan dan jangan pernah memperlihatkan wajahmu di hadapan kami lagi!" siswi itu menutup keras pintu gudang dan menguncinya dari luar, membiarkan Sakura terkurung sendirian di dalam.
Tes tes
Air mata Sakura menetes jatuh dengan derasnya. Ia sadar diri, seharusnya ia memang tidak melanjutkan sekolah di KSHS saat beasiswanya di cabut. Dengan begitu ia tidak akan mengalami semua ini.
"Maafkan kau." isak Sakura, sendirian di dalam gudang yang gelap.
.
.
Tap tap tap
"Bisakah kau berhenti, Dobe!" perintah Sasuke yang kesal melihat Naruto terus-terusan berjalan mondar-mandir di depannya, membuatnya kesal saja.
Naruto menatap tajam Sasuke yang masih bisa tenang di saat seperti ini. "Teme, aku cemas tahu?" teriak Naruto kesal mencoba menyalurkan perasaan cemasnya. "kenapa Sakura-chan belum kembali juga?" tanyanya.
Sudah 10 menit berlalu dan Sakura belum juga kembali dari toilet, padahal lomba sebentar lagi akan di mulai.
"Baiklah para hadirin sekalian." suara seseorang yang menggema melalui speker, membuat Naruto dan kawan-kawan menolehkan kepala mereka ke samping. Terlihat seorang MC yang sedang berdiri di atas panggung tempat babak final akan di lakukan. "jika dalam waktu 5 menit perwakilan Konoha Senior High School tidak bisa datang atau tidak ada yang menggantikannya, maka peserta di anggap mengundurkan diri." jelasnya.
Tentu saja Naruto jadi semakin panik dan menarik rambutnya frustasi. "Ghyaaaaa! Apa yang harus kita lakukan?" teriaknya.
"Tenanglah Naruto!" ujar Neji yang dari tadi hanya diam memperhatikan teman-temannya yang terlihat sangat frustasi hanya karena gadis merah muda itu tidak juga kembali.
"Jika kau hanya berteriak di sini tidak akan ada gunanya." ucap Neji membuat Naruto menghentikan aksi frustasinya. "lebih baik kalian berpencar mencarinya, mungkin saja sesuatu terjadi pada Sakura." lanjutnya.
Bagai tersambar petir, wajah laki-laki di sana memucat seperti wajah Sai. Pikiran negatif berlalu lalang di otak mereka membayangkan kemungkinan yang terjadi pada Sakura. Bagaimana jika ia tersesat? bagaimana jika ia di culik laki-laki mesum? atau bagaimana jika ia tertidur di toilet, eh?
"Aku, Hinata-sama dan Shikamaru akan menunggu di sini, untuk bersiap jika kemungkinan terburuk terjadi Hinata-sama bisa menggantikan Sakura. dan kalian cari dia!" perintah Neji yang di balas anggukan kepala. Tanpa menunggu lama mereka semua berpencar mencari Sakura ke segala sisi KSHS yang tidak bisa di bilang kecil.
"SAKU?"
"SAKURA-CHAAAN?"
"SAKURAAA?"
Mereka terus memanggil nama Sakura dan memeriksa ke semua tempat yang kemungkinan di datangi Sakura, tetapi nihil tak ada Sakura di satu tempat pun.
"Cih, kemana dia?" ujar Kiba cemas.
"Guk.. guk!" suara gonggongan Akamaru mengagetkan Kiba, dan dengan cepat ia berlari menuju Akamaru yang sedang mengendus-ngedus sesuatu.
"Akamaru ada apa?"
"Nge... nge.." Akamaru mengendus kacamata jadul milik Sakura yang terjatuh.
Kiba mengambil kacamata yang di endus Akamaru dan mengelus bulunya bangga. "Kau hebat sobat!" Kiba mengambil Handphone-nya dan menempelkannya ke telinga.
"Hallo, aku sudah tahu di mana tempatnya..."
Di ruang yang begitu gelap, Sakura terus menangis sendirian. Dan sesekali bergumam maaf entah pada siapa. Ia benar-benar menyesal. Menyesal karena sudah menyusahkan teman-temannya dan membuat mereka kecewa. Sekarang mereka pasti marah padanya dan menggantikannya dengan Hinata.
"SAKURA APA KAU DI DALAM?" suara teriakan dari luar membuat Sakura mengangkat kepalanya, ia tahu siapa pemilik suara itu, Kiba.
"SAKURA?" panggil seseorang lagi yang di yakini Sakura milik Ino.
"Kau tidak apa-apa, Sakura-chan?" tanya Naruto dari luar.
Mendengar suara teman-temannya, air mata Sakura semakin banyak menetes. Lagi, ia menyusahkan teman-temannya.
"Sakura menjauhlah! Kami akan mendobrak pintu ini." teriak Sai dari luar.
"Jangan!" teriak balik Sakura dari dalam. "jangan tolong aku!"
Mereka yang berada di luar saling bertatapan bingung. "Apa yang kau katakan Sakura?" teriak Kankuro tidak mengerti dari luar.
"Hiks... ku mohon... jangan tolong aku lagi!" isak Sakura. "sudah cukup... kalian menolongku! Aku hiks... hanya akan menyusahkan kalian saja."
Kiba, Naruto, Sai, Gaara dan Sasuke mengepalkan tangan mereka kuat hingga kuku jari mereka memutih.
"Jangan bercanda!" teriak Kiba
Brak!
Pintu terbuka paksa karena di dobrak oleh laki-laki di luar sana. Mata Sakura membulat tidak percaya, melihat teman-temannya kini berdiri dengan wajah marah yang tidak pernah di lihat sebelumnya.
"Kau tidak pernah menyusahkan kami." ujar Kiba yang kini berlutut, mensejajarkan tingginya dengan Sakura yang berlutut di depannya.
Naruto ikut berlutut di sebelah Kiba. "Kami senang menolong mu." ujarnya memperlihatkan cengiran rubah khasnya.
"Kau tak pernah menjadi beban bagi kami." Sai ikut berlutut sambil tersenyum ke arah Sakura.
"Sudah tugas kami menjagamu, Saku." Gaara ikut berlutut di depan Sakura.
Sasuke berjalan perlahan dan berlutut tetap di sebelah Kiba. "Sebaliknya kami yang menyusahkanmu terus." ujarnya.
Sakura terdiam bahkan air matanya juga ikut berhenti mengalir. Di belakang sana, Temari, Ino dan Kankuro yang melihat semua kejadian itu menatap tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Bagaimana mungkin laki-laki yang terkenal dingin dan cuek itu bisa bersikap begitu lembut di depan seorang Haruno Sakura.
Sakura menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Maaf." ujarnya dengan suara yang bergetar, mencoba menahan butiran permata yang masih ingin berjatuhan.
Ke lima laki-laki itu tersenyum dan membantu Sakura untuk berdiri.
"Jika ingin minta maaf nanti saja setelah lomba selesai." ujar Sasuke.
Sakura menganggukan kepalanya dan berlari pergi bersama semua teman-temannya. "Terima kasih Kami-sama sudah memberikan ku teman yang begitu berharga." batin Sakura.
"Sa-sakura-san." ujar Hinata panik sambil melirik jam yang menunjukkan, 5 menit sudah berlalu dari tadi tapi Sakura belum juga kembali.
Hinata menolehkan kepalanya ke samping, di mana ia melihat Shikamaru melangkah pergi. "Shikamaru-san?" panggil Hinata saat melihat Shikamaru pergi menjauh.
"Biarkan saja Hinata-sama, sebaiknya anda siap-siap saja untuk menggantikan Sakura." ujar Neji tegas sambil menyilangkan ke dua tangan di depan dada.
"Ta-tapi Neji-niisan?"
"Lima menit sudah berlalu dan perwakilan dari Konoha Senior High School belum juga muncul." suara MC yang berteriak di atas panggung membuat Hinata semakin camas. "kalau begitu dengan ini kami nyatakan Konoha Senior High School mengun—" sebelum MC menyelesaikan kalimatnya Microfon yang di gunakannya mati yang membuat para penonton menjadi bingung dan panik.
"Hei, apa yang terjadi?" tanya MC itu ke pada salah satu orang di dalam.
"Sepertinya ada yang melepas kabel sambungan Microfon-nya. Tunggulah! biar kami periksa dulu." jelas orang itu dan berlari meninggalkan MC. "Ha, ada-ada saja." keluh MC itu lelah.
"A-apa yang terjadi?" tanya Hinata tidak mengerti, Neji di sebelahnya hanya menggelengkan kepala dan menolehkan kepalanya ke samping, di mana Shikamaru telah berdiri dalam diamnya.
"Neji, Hinata, Shika!"
Merasa nama mereka di panggil, ke tiga orang itu membalikkan badan mereka dan lengkungan tipis tercipta melihat siapa yang memanggil nama mereka.
"Tes, tes! Ehem~" ujar MC memeriksa Microfon-nya yang kini sudah menyala kembali. "Maaf atas gangguan teknis yang terjadi tadi. Baiklah karena perwakilan Konoha Senior High School belum juga datang maka mereka dinyatakan mengu—" lagi, perkataan MC tepotong karena seseorang tiba-tiba muncul dan membisikkan sesuatu padanya.
"Aku mengerti." ujar MC itu mantap.
"Maaf sepertinya perwakilan dari Konoha Senior High School sudah siap, maka babak final lomba cepat tepat sekota Konoha akan di buka!" teriaknya kencang yang di ikuti tepuk tangan meriah para penonton.
"Sakura-san kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.
Sakura tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Maaf sudah membuatmu khawatir, Hinata."
"Kurasa sudah saatnya kita pergi!" ujar Temari. "biarkan Sakura dan Shikamaru bersiap-siap." lanjutnya yang mendapat anggukan dari yang lain dan perlahan satu persatu dari mereka melangkah pergi ke arah bangku penonton.
"Berjuanglah Sakura-chan, Shika!" teriak Naruto memberikan semangat yang di balas anggukan kepala oleh Sakura dan Shikamaru.
Setelah kepergian Naruto dan yang lainnya, kini tinggallah Sakura dan Shikamaru berdua dalam diam.
Sakura yang merasa bersalah dan tidak enak dengan Shikamaru menundukkan kepalanya. "Maaf aku sudah merepotkanmu, Shika." ujar Sakura menyesal karena terus-terusan merepotkan Shikamaru yang paling tidak suka di repotkan. "maaf karena sudah berprasangkan buruk, maaf sudah menyusahkanmu, maaf sudah merepotkanmu, maaf sudah marah-marah padamu, maaf karena sudah membuatmu menjawab soal bagianku, dan maaf sudah membuat mu menunggu." Sakura semakin menundukan kepalanya, ia benar-benar bodoh karena melakukan banyak kesalahan di waktu yang bersamaan.
Shikamaru hanya tersenyum dan menepuk kepala Sakura lembut. "Kau sudah membuatku menunggu lama saat-saat seperti ini." ujarnya.
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Shikamaru tidak mengerti.
"Aku selalu memperhatikanmu." lanjut Shikamaru yang membuat Sakura menatapnya tidak percaya, mana mungkin orang malas seperti Shikamaru mau repot-repot memperhatikan orang yang tidak menonjol seperti Sakura.
Shikamaru yang menyadari tatapan tidak percaya Sakura akan perkataannya hanya bisa menghebuskan nafasnya. "Kau tahu aku adalah tetangga Ino, 'kan.?" tanyanya memastikan yang di jawab anggukan kepala oleh Sakura. "rumah ku berada tepat di depan rumah Ino dan karena itu aku sering melihatmu dari jendela kamarku saat kau berkunjung ke rumah Ino." jelas Shikamaru.
Kedua alis Sakura terangkat. "Ti-tidak mungkin?" gumamnya tidak percaya.
"Awalnya aku hanya penasaran, siapa siswi yang bernama Haruno Sakura yang namanya selalu berada di sebelahku." Shikamaru terkekeh geli melihat Sakura yang kini mengerutkan alisnya, cepat sekali perubahan ekspresi gadis di depannya ini. "dan saat aku tidak sengaja mendengar Ino meneriaki namamu di depan rumahnya, aku jadi tertarik dan mengintip dari kamarku." lanjutnya.
Shikamaru memberi jeda sebentar, membiarkan gadis di depannya mencerna baik-baik perkataanya. "Seperti dugaanku, kau hanya gadis kutu buku yang sangat suka membaca." ejeknya. "tapi setiap kali aku melihat kau yang serius membaca aku jadi berpikir 'apa sebegitu menyenangkan membaca buku?' dan karena penasaran aku mulai melakukan kebiasaan lamaku yang sudah lama tidak kulakukan saat tidak bisa tidur, yaitu membaca semua buku koleksiku."
"Ja-jadi saat kau bilang dulu tidak mengenalku, saat Kakashi-sensei memperkenalkan ku. Kau berbohong Shika?" tanya Sakura.
Shikamaru menyeringai. "Tidak. Aku memang tidak mengenalmu, bukankah kita memang belum kenal sebelumnya." jawab Shikamaru yang membuat wajah Sakura memerah malu.
"Dan sejujurnya aku senang kau bekerja di cafe dan tidak berhenti sekolah karena beasiswamu di cabut." Shikamaru tersenyum. "kau tahu alasan ku bekerja di cafe karena kau Sakura. Aku juga ingin mencoba melakukan sesuatu dengan serius seperti dirimu, bukan dengan bermalas-malasan seperti kebiasaanku. Dan saat Kakasi-sensei menawariku bekerja aku langsung menerimanya." lanjutnya.
"Aku juga senang saat Tsunade-sama menjadikan kau Patner-ku dalam lomba ini."
"Tapi kenapa saat itu kau menolaknya?" tanya Sakura tidak mengerti, seingatnya Shikamaru menolak ber-Patner dengannya saat Tsunade mengumumkan mereka yang akan menjadi perwakilan sekolah.
"Karena ku pikir, kau tidak suka ber-Patner dengan orang malas sepertiku."
Sakura menggelengkan kepalanya cepat. "Bu-bukan begitu. Aku hanya tidak percaya diri bisa menjadi Patner mu, hanya itu." jelas Sakura.
Shikamaru tersenyum mendengar jawaban Sakura. "Menurutku tidak ada orang yang lebih pantas selain kau yang bisa menjadi pasanganku."
Wajah Sakura memerah, entalah rasanya ada maksud lain dari ucapan Shikamaru.
Dan bertepatan dengan itu tirai merah di samping mereka terbuka, suara MC dan sorak-sorak penonton di depan yang meneriaki nama Sakura dan Shikamaru bergema di ruangan itu.
"SAKURA!"
"SHIKA!"
Shikamaru mendekati Sakura dan menarik tangannya untuk berjalan ke atas panggung. "Oleh sebab itu tidak ada yang bisa menggantikanmu." ujarnya.
Sakura menolehkan kepalanya ke samping menatap mata Shikamaru, mencoba mencari sinar kebohongan di sana, tapi hasilnya nihil yang terpancar dari manik hitam Shikamaru hanya sinar keyakinan.
Melihat Sakura yang terus menatapnya membuat Shikamaru menolehkan kepalanya ke samping. "Kita pasti menang!" ujarnya dan kembali mengelus kepala Sakura lembut.
Sakura tersenyum ke arah Shikamaru. Syukurlah ia tidak menyerah sampai akhir.
Suara teriak-teriakkan makin kencang membuat Sakura menjadi tidak sabar untuk memenangkan lomba ini bersama Shikamaru. Mereka pasti menang, Sakura yakin itu.
"Kita sambut perwakilan dari Konoha Senior High School..." MC itu mengangkat tangan kanannya tinggi menunjuk arah di mana Sakura dan Shikamaru kini berdiri. "Nara Shikamaru peraih nilai sempurna di sesi pertama dan Patner-nya yang tak tergantikan Haruno Sakura!" tepuk tangan dan teriakkan semakin meriah, para penonton menyambut ke munculan Sakura dan Shikamaru.
.
.
.
"Hore! Selamat atas kemenangan kalian Shika, Sakura-chan!" teriak Naruto senang.
Shikamaru dan Sakura hanya bisa tertawa geli melihat Naruto yang melompat-lompat senang merayakan kemenangan mereka.
"Ka-kalian hebat. Bisa menjawab semua soal itu." puji Hinata bangga.
Semua orang menganggukan kepala mereka sependapat dengan Hinata. Hinata benar, saat lomba tadi Shikamaru dan Sakura tidak membiarkan lawan mereka menjawab satu soal pun dan membuat mereka meraih kemenangan mutlak atas lawan mereka.
Ino menepuk bahu Sakura pelan. "Kita harus merayakan kemenangan ini." sarannya dan mendapat anggukan mantap dari semuanya. "dan Sakura, hari ini kau libur saja bekerja!" lanjutnya yang membuat Kiba, dan Naruto terbatuk-batuk. Sai dan Shikamaru hanya tersenyum penuh arti. Sedangkan Gaara, Sasuke dan Neji pura-pura tidak dengar.
Ino mengerutkan alisnya bingung melihat reaksi laki-laki di depannya. "Ada apa dengan kalian?" tanyanya tidak mengerti.
Sakura berusaha tersenyum. "Kau benar Ino, aku akan meminta izin libur hari ini." ujar Sakura mengalihkan topik pembicaraan.
Naruto yang merasa suasana sedikit kaku berusaha mencairkan keadaan. "Ehem~" dehemnya menarik perhatian semua orang. "aku penasaran, bagaimana mungkin Microfon MC bisa mati sendiri?" tanya Naruto yang membuat Shikamaru terbatuk-batuk.
Ino menatap Shikamaru bingung begitu juga orang-orang di dekatnya. "Kau tidak apa-apa Shika?" tanyanya melihat sahabat kecilnya yang terbatuk dengan tiba-tiba.
Sakura tersenyum. "Mungkin itu yang di sebut dengan keajaiban." ujarnya polos.
Sebagian dari mereka menganggukan kepalanya setuju dengan pendapat Sakura dan sebagian lagi hanya diam memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
Mungkin keajaiban itu memang ada. Tetapi, terkadang harus kita sendiri yang membuat keajaiban itu terjadi, iya'kan Shika?
TBC
Author Note:
Lohha, aku kembali lagi dengan Chap. 9 *kali ini bener-bener 9, gak salah kayak Chap sebelumnya* hahahaha
Maaf kalau Chap. ini kurang memuaskan di tambah MissTypo yang bertebaran, maaf banget ya... (_ _")
Chapter ShikaSaku kali ini adalah Chapters terpanjang yang pernah aku buat, 8942. Itu tanpa Author Note loh. *bangga
Gak heran juga. Chap ini selain Romance, Friendship-nya juga aku buat dan itu cukup banyak mengambil tempat. Yaps, karena aku suka waktu ngetik jadi gak sadar sudah sepanjang ini hahahaha
Oya, gak tahu apa ini penting atau tidak tapi mulai Next Chap gak bisa Update kilat atau pun cepat. Paling cepat 1 minggu, kalau mood lagi bagus 2 minggu sekali, tapi kemungkinan bisa ngaret lama. maaf ya...
Langsung aja balas Review bingung mau nulis apa lagi. Yang Login cek PM, yang gak ini balasannya.
innocence girl: Terima kasih sudah menyempatkan diri meninggalkan Review. Maaf sebelumnya jika Fict ini mengganggu anda, saya tidak pernah memaksa anda untuk membaca Fict saya. Oleh sebab itu jika anda tidak suka, saya sarankan lebih baik anda tidak usah membaca Fict ini dari pada anda mengalami gangguan mata (' v ')/
sasusaku loversss: Menma? belum pernah kepikiran mau masukan Menma jadi salah satu tokoh. Tapi tidak menutup kemungkinan jika ada peran dan karakter Menma cocok, pasti akan muncul.
Guesswho: Iya sama-sama, aku juga mau minta maaf (_ _)
Syukur kalau Sasuke gak OOC, aku juga senyum-senyum ngetik Chap ini :)
NekoNeko-chan: Terima kasih pujiannya dan syukur kalau Sasuke gak OOC :D
Ya, gak akan berhenti nulis cuma gara-gara dapat Flame, kok.
Terima kasih dukungannya, jadi semangat ni... (' v ')9
beky: Gak bisa janji SasuSaku tapi akan coba di usahakan, Pair akhirnya mau di kembangkan dari cerita dan mungkin Vote dari Reader juga ;)
karena sampai sekarang masih bingung Sakura cocoknya sama siapa *pundung*
Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan Review (' v ')/
joujima-kun: banyak yang dukung SasuSaku ya, hehehehe
Chap SasuSaku sweet? syukur banget, ku pikir karena alurnya kecepetan jadi Romance-nya gak kerasa (;_;)
Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan Review (' v ')/
Sadikaachan: Mungkin mulai sekarang Update-nya gak bisa cepat seperti biasa lagi, maaf ya... :"(
Aku juga suka banget Sakura-centric oleh sebab itu, aku coba buat Fict dengan tema utama Sakura-centric. Dari awal ngetik sengaja belum menentukan sama siapa Sakura nanti akhirnya dan itu jadi masalah yang cukup serius sekarang. Karena terlalu asik sama Pair-Pair-nya jadi bingung menentukan Pair terakhrinya... (T_T)
Chap ini ShikaSaku semoga gak mengecewakan :)
sasusaku kira: Kasian banget nasib tu surat cinta di bakar Sasuke XD hahaha
Ya itu mungkin saja terjadi, Sasuke emang agak overprotektif sama Sakura tapi gak terang-terangan, habis gengsi Uchiha-nya tinggi ckckck *Dichidori*
Yaps, ini udah Update semoga menghibur :D
Chichoru Octobaa: Dari awal cerita Sakura emang sudah di setting jadi cewek lugu yang polos XD *dipukul*
Ini sudah di lanjutkan :D
Terima kasih sudah meninggalkan Review :D
Guest: Berhubung Guest-nya ada 2 jadi di tulis Guest 1 dan Guest 2, maaf ya!
Guest 1: Tiga kata: Terima Kasih Banyak :D
Syukurlah kalau suka SasuSaku dan terima kasih dukungannya :)
Guest 2: Pair NaruSaku udah pernah muncul di Chap 5 Menu: Family
Tapi, jika yang dimaksud Pair Ending, mari kita berdo'a bersama semoga terakhir Sakura bersama Naruto ;)
Michiko Rei: ini Pair selanjutnya ShikaSaku, semoga gak mengecewakan ya...
dan terima kasih sudah meninggalkan Review :D
Shikamaru: Hoa~ Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan Review di Fict aneh ini... *tidur*
Author: Shika jangan tidur di sini! *teriak pake toa*
Sakura: Jika sudah membaca, jangan lupa tinggalkan Review agar Author-san jadi semangat ngetik lagi :)
Next Menu: Teamwork, sampai ketemu di Chap. 10 *lambai
Salam hangat,
Kimeka Reikyu
Palembang, 28 April 2013
