"Haruno berikan ini pada wakil ketua!"

"Ha'i!"

"Haruno, tulis ulang ini!"

"Eh! Baik."

"Haruno kumpulkan ini!"

"Ya,"

"Haruno periksa ulang ini!"

"Yang ini?"

"Haruno belikan air minum!"

"Tunggu sebentar!"

Perintah tegas beberapa orang membuat gadis merah muda bermarga Haruno berlari kalang kabut sesuai perintah-perintah yang di terimanya.

Bruk

Sang gadis merah muda bernama lengkap Haruno Sakura terduduk lelah di lantai. Kakinya sakit terus-terusan berlari bolak balik dari satu tempat ke tempat lain, sesuai perintah yang di terimanya dan tak jarang perintah yang di terimannya lebih pantas di sebut suruhan seperti pembantu saja.

"Ahhhhh! aku lelah jadi assisten ketua OSIS!" teriaknya kencang. Tak pernah terpikirkan akan selelah ini menjadi seorang assisten dari ketua OSIS.


Clover's Cafe

Naruto © Masashi Kisimoto

Rated: T

Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)

Story © Kimeka ReiKyu

Warrnig: AU, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.

[Sakura-Centric]

Don't Like, Don't Read!


FLASHBACK

Sakura kini berdiri diam dalam barisan memanjang ke samping, di mana beberapa orang yang juga berbaris sepertinya sibuk berbisik-bisik dengan orang di sebelahnya. Bertanya ada gerangan apa mereka di kumpulkan di ruangan ketua OSIS.

Tadi, saat jam belajar mengajar, datang seseorang siswi berambut coklat yang di cepol dua. Sepengetahuan Sakura, siswi bercepol dua itu merupakan salah seorang anggota OSIS sekaligus kakak tingkatnya. Dan entah karena apa siswi ini memanggil nama Sakura dan menyuruhnya untuk menunggu di ruangan ketua OSIS bersama beberapa siswa dan siswi lain.

Dan sekarang di sinilah ia. Menunggu dalam diam dan beberapa tatapan tidak suka yang terarah padanya. Hanya saja Sakura sudah cukup terbiasa merasakan aura yang seakan ingin mengusirnya, dan itu tidak akan mempan lagi untuknya.

Cklek

Suara pintu yang di buka menarik perhatian semua orang di ruangan itu. Tanpa di komando pun mereka semua serempak menolehkan kepala mereka ke samping guna melihat siapa orang yang baru saja masuk.

Di barisan depan sekali terlihat Tsunade selaku kepala sekolah memasuki ruangan terlebih dahulu, di belakangnya ada Neji sebagai ketua OSIS dan di belakang Neji ada 2 orang siswi, satu orang siswi bercepol dua yang tadi memanggilnya kemari dan siswi berkuncir 4 yang tak lain adalah Temari. Di belakang siswi bercepol dua ada 1 orang siswa bergaya unik, rambut hitamnya di potong menyerupai mangkuk dan tak lupa alisnya yang tebal dan bulu matanya yang tidak biasa, mengingatkan Sakura akan guru olahraga yang selalu tampil nyentrik.

Kembali, suara bisik-bisik di sekitar Sakura terdengar lagi dan kali ini lebih terdengar jelas membuat ruangan OSIS itu terlihat seperti pasar tradisional yang sedang ramai-ramainya.

Brak

Tsunade menggebrak meja dengan keras, membuat semua orang di ruangan itu terdiam dengan wajah takut yang memucat.

"Aku mengumpulkan kalian di sini bukan untuk saling mengobrol." ujarnya tegas dan menatap tajam siswa dan siswi di sana.

Tsunade menghembuskan nafasnya, mencoba mengurangi emosinya. "Kalian tahu, setiap tahun sekolah akan melakukan agenda tahunan yang di buat oleh OSIS sebagai tugas terakhir mereka sebelum di gantikan dengan yang lain," jelas Tsunade yang mendapat anggukan kepala dari orang-orang di sana. "karena itu aku mengumpulkan kalian semua di sini sebagai perwakilan dari tiap kelas, untuk membantu OSIS dalam menjalankan tugas terakhir mereka." lanjutnya.

"Kalian di beri pengecualian khusus untuk tidak mengikuti pelajaran," perkataan Tsunade membuat beberapa orang di sana tersenyum senang, senang karena tidak perlu mengikuti pelajaran. "tapi, kalian harus mengerjakan tugas yang di berikan sebaik mungkin!" perintah Tsunade tegas.

"Neji," karena dipanggil, Neji mendekati Tsunade. "Sekarang kau bisa mengambil alih dan kerjakan tugas mu sebaik mungkin, waktu kalian tidak lebih dari dua minggu."

Neji dan semua orang di ruangan itu menganggukkan kepala mereka, dan sedikit membungkukkan badan saat Tsunade keluar dari ruangan itu.

Sepeninggalan Tsunade, ruangan itu menjadi hening. Mereka yang ada di ruang itu hanya saling menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.

"Maaf, mohon perhatiannya!" suara lantang dari siswa berambut mangkuk menarik perhatian siswa-siswi itu.

Sakura terdiam, ditatapnya satu persatu kakak tingkatnya yang kini sudah berdiri di depan. Siswi bercepol dua hanya tersenyum senang, siswa berambut mangkuk mengacungkan jempolnya entah kepada siapa, di sebelahnya Temari memasang wajah tegas dan datar, dan di tengah-tengah ada Neji yang hanya diam menatap balik Sakura yang memperhatikannya.

Dengan cepat Sakura menundukkan kepalanya. "Apa yang ku lakukan?" batinnya takut.

"Kita akan memulai rapat untuk persiapan agenda tahunan OSIS." ujar Temari tegas. "aku wakil ketua OSIS, Sabaku Temari." lanjutnya memperkenalkan diri.

"Perkenalkan aku ketua sesi perlengkapan, Chao Tenten." ujar gadis bercepol dua, Tenten.

"Aku Rock Lee, ketua sesi Olah Raga. Semangat masa muda!" teriaknya bersemangat. "yang di tengah itu ketua OSIS, Hyuga Neji." lanjutnya sambil menunjuk Neji yang berdiri diam.

"Seperti yang Tsunade-sama katakan, kalian di kumpulkan di sini untuk membantu kami melakukan tugas terakhir kami sebagai OSIS," jelas Neji menambil alih pembicaraan. "tahun ini, agenda tahunan yang ingin kami buat adalah perlombaan olahraga." lanjutnya.

"Semua perencanaannya telah di buat oleh anggota OSIS yang lain. Yang kalian lakukan hanya melakukan semua yang tertulis di daftar."

Tenten maju ke depan dan membagikan beberapa lembar kertas kepada siswa-siswi.

Setelah menerima beberapa lembar kertas, Sakura membolak balik untuk membacanya. Mata Sakura menyipit tidak percaya dengan apa yang dibacanya, dan di ulanginya lagi membaca lembaran itu dan seketika matanya membulat melihat tulisan...

Assisten Ketua OSIS: Haruno Sakura

Sakura bisa menebak akan banyak kesulitan yang harus di hadapinya mulai sekarang.

.

END FLASHBACK

Sakura menghelakan nafasnya berat, sungguh berat menjadi assisten ketua OSIS yang selalu ingin sempurna. Belum lagi pandangan tidak suka dan remeh dari siswa-siswi lainnya. Sungguh berat.

"Sakura!"

Mendengar namanya di panggil Sakura menolehkan kepalanya ke samping guna melihat pemilik suara. Dan dapat dilihatnya dua orang siswi mendekat kearahnya.

"Temari-nee, Tenten-senpai!" panggil balik Sakura.

Temari dan Tenten berdiri di depan Sakura. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Temari melihat Sakura yang terduduk lemas di depannya.

Sakura berdiri dari posisi duduknya. "Ah, tidak Temari-nee. Aku hanya sedikit kelelahan." jawabnya.

Tenten melirik kantong plastik di sebelah Sakura. "Apa itu, Sakura?" tanyanya penasaran.

Sakura mengambil kantong plastik itu dan mengangkatnya tinggi, agar Tenten dan Temari bisa melihat isinya. "Minuman kaleng." jawabnya.

Temari sedikit mengerutkan alisnya melihat isi kantong plastik itu. "Kenapa kau membeli minuman kaleng?" tanyanya. "ku pikir pekerjaan yang di berikan Neji sudah lebih dari cukup membuatmu sangat sibuk, Sakura." lanjutnya.

Sakura memasang senyum terpaksa. Tidak mungkin mengatakan bahwa ia di paksa oleh senior dan siswa-siswi yang lain untuk melakukan pekerjaan yang tidak ada urusannya dengan tugas yang di berikan Neji.

Melihat reaksi Sakura, Temari dan Tenten hanya bisa saling pandang dan menepuk bahu Sakura lembut.

"Bersemangatlah!" kata Tenten, memberikan dukungan pada juniornya.

Temari tersenyum kecil. "Jika kau ada kesulitan, bisa meminta bantuan kami." ujarnya.

Mendengar perkataan Tenten dan Temari, senyuman tulus kali ini benar-benar tercipta di bibir tipis Sakura. "Terima kasih, Senpai." ujarnya senang, syukurlah orang-orang seperti Temari dan Tenten masih ada di organisasi OSIS.

.

.

.

"Haaa~" Sakura menghelakan nafasnya berat. Di tatapnya kembali lembaran kertas di tangannya dan kembali menghembuskan nafasnya kuat.

Ia lelah dan bosan membaca lembaran kertas di tangannya berulang kali, kalau saja bukan karena Neji yang memerintahkannya memeriksakan laporan agenda untuk kegiatan Olah Raga, ia tidak akan mau membacanya.

Di lirik sekilas jam bundar yang tergantung rapi di dinding ruangan yang kini sudah menunjukkan pukul 15.40, tinggal 5 menit lagi waktu istirahatnya selesai.

"Ku pikir kau sedang istirahat Sakura?" tanya Yamato yang muncul dari arah samping Sakura dengan sebuah gelas di tangan kanannya.

Sakura menutup lembar kertas di tangannya dan menatap Yamato tidak bersemangat. "Aku sekarang sedang beristirahat, Sensei." jawabnya.

Yamato yang sedang meneguk air dari dalam gelasnya sedikit mengangkat alisnya mendengar jawaban Sakura. "Kenapa kau terus membaca lembar itu?" tanyanya sambil meletakkan gelas ke atas meja yang tidak begitu jauh dari posisinya berdiri.

Sakura melirik lembaran di tangannya. "Ini tugas yang harus aku selesaikan." jawabnya dengan kepala tertunduk ke bawah.

Yamato hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tahu Sakura sedang mendapat tugas tambahan membantu anggota OSIS untuk agenda tahunan sekolah.

Keheningan menyelimuti keduanya. Sakura masih tertunduk lelah dan Yamato jadi bingung sendiri melihat murid perempuannya.

"Ambil ini, Sakura!"

Sakura mengangkat kepalanya karena melihat bayangan seseorang di depannya. Dan dapat di lihatnya Choji berdiri dengan segelas jus jeruk yang di sodorkan ke arahnya.

Sakura memandangi gelas itu lalu ke Choji, tidak mengerti maksud Choji yang memberinya segelas jus jeruk.

"Minumlah! Agar perasaanmu lebih tenang." jelas Choji melihat ekspresi tidak mengerti Sakura.

Sakura tersenyum. Choji memang baik kepada siapapun. Dengan senang hati Sakura menerima gelas yang di sodorkan Choji dan mulai meneguknya perlahan. Rasa jus jeruk yang melewati tenggorokkannya yang sedikit asam membuat perasaan menjadi tenang dan rasa manis yang terasa sangat enak.

Setelah sekian detik akhirnya air dalam gelas itu kandas sudah. "Terima kasih Choji." ujar Sakura.

Choji tersenyum yang membuat kedua pipi Chubby-nya membulat lucu. "Sama-sama Sakura. Senang melihatmu bersemangat lagi." ujarnya.

Sementara ketiga orang di dalam sedang sedikit bercanda gurau, di depan pintu masuk ada Neji yang sedang menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya dengan tangan terlipat di dada dan kedua kelopak mata tertutup rapat.

"Neji, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Sai saat melewati Neji.

Neji membuka kedua kelopak matanya, menampakkan manik mutiara yang berkilauan. Sekilas ia melirik Sai dengan ekor matanya.

"Sakura, bisa tolong bantu kami?" tanya Sai yang menghentikan pembicaraan ketiga orang di sana.

Sakura melirik jam dinding di atas. "Ah, tentu saja." ujarnya saat menyadari jam istirahatnya telah selesai.

Sai hanya tersenyum lembut dan menunggu Sakura menghampirinya. Dengan berlari kecil Sakura mensejajarkan dirinya dan berjalan bersama Sai. Saat melewati pintu depan pandangan mata Sakura dan Neji bertemu, dengan sedikit terkejut Sakura menundukkan kepalanya memberi salam hormat pada Neji yang menatapnya datar.

"S-selamat sore!"

Neji hanya berlalu melewati Sakura dan Sai tanpa membalas salam hormat Sakura. Sakura menatap punggung Neji sedih, selama ini ia tak pernah bicara dengan Neji kecuali saat di sekolah, itu pun lebih pantas dikatakan perintah sebagai atasan kepada bawahannya. Sementara itu Sai menatap Sakura di sebelahnya sedikit khawatir.


Angin berhembus melewati jendela koridor yang membuat helai merah muda yang di ikat berantakkan terbang tidak beraturan. Sakura, pemilik helai merah muda itu menolehkan kepalanya ke samping memandangin dedaunan yang kini mulai berubah warna menjadi Orange, sebagian dari dedaunan itu jatuh dari ranting pohon dan menumpuk menjadi satu. Musim gugur telah tiba.

Sakura mengelakan nafasnya. Ia lelah sekali hari ini karena hampir semalaman tidak tidur, mengerjakan tugas yang di berikan Neji yang harus di selesaikannya hari ini juga. Ia sudah sangat lelah, rasanya ingin berhenti saja jika bisa.

"Apa kau sudah dengar gosipnya?"

Dari depan, Sakura mendengar suara siswi yang sedang mengobrol dan sepertinya mereka tidak menyadari keberadaannya di belakang mereka.

"Ya, aku sudah dengar." jawab siswi yang satu lagi. "Aku tidak setuju dengan agenda tahun ini. Olah Raga? Yang benar saja!" keluhnya.

Siswi yang di sebelahnya mengangguk cepat. "Kau benar. Tidak keren sekali bermandikan keringat di bawah terik matahari."

"Aku harap agendanya diganti pertunjukan musik seperti tahun kemarin."

"Ya, semoga saja ketua OSIS mengganti agenda itu."

Sakura hanya diam saat kedua siswi tersebut menghilang di tikungan koridor. Ia tak bermaksud mencuri dengar pembicaraan orang, hanya saja kedua siswi itu berbicara dengan suara yang cukup keras membuat Sakura yang berjalan di belakangnya mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.

Perlahan Sakura melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

"Aku tidak setuju dengan agenda tahun ini. Olah Raga, yang benar saja!"

Obrolan ke dua siswi tadi masih teringat jelas dalam ingatan Sakura.

"Apa agenda tahunannya di tolak siswa-siswi lain?" tanyanya pada diri sendiri.

Sudah hampir satu minggu Sakura di sibukkan dengan tugas bantu-bantunya dan tak ada seorang pun yang mengeluh. Memang aneh akhir-akhir ini Neji selalu memintanya memeriksa ulang daftar agenda atau malah mengubahnya di beberapa bagian. Apa karena agenda yang sudah-sudah telah di tolak.

Karena terlalu fokus dengan pikirannya sendiri, tanpa sadar Sakura sudah berdiri di depan pintu bertuliskan 'Ruang OSIS'. Dengan perlahan di raihnya kenop pintu dan membukanya...

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Proposal kita di tolak lagi!"

Suara teriakkan frustasi yang di kenali Sakura sebagai suara Tenten dan Lee menghentikan gerakkannya yang ingin membuka pintu. Dengan sedikit penasaran ia mengintip dari cela pintu yang sedikit terbuka.

Di dalam sana ada Neji, Temari, Tenten dan Lee yang sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu.

Brak

Temari memukul meja di dekatnya membuat Tenten, Lee dan juga Sakura melompat kaget.

"Dan kenapa para promotor ikut memundurkan diri, padahal sebulan yang lalu mereka sudah setuju." keluh Temari kesal.

"Apa kita harus membatalkan agenda ini atau menggantinya dengan yang lain?" tanya Lee putus asa. Sudah tidak ada waktu jika harus mencari promotor lain yang bersedia membantu mereka.

Sementara ketiga orang itu sibuk memberikan argumen mereka. Sang ketua, Neji hanya memejamkan kelopak matanya dan duduk diam di bangkunya.

"Agendanya tidak akan di ubah." akhirnya setelah diam cukup lama Neji mengeluarkan suaranya.

Temari sedikit mengerutkan alisnya, tidak setuju dengan pendapat Neji. "Tapi Neji, jika agendanya tidak di ubah maka para promotor tetap akan menolak bekerjasama dengan kita." jelasnya.

"Jika mereka tidak mau bekerjasama, tinggal cari orang lain yang mau bekerja sama." jawab Neji datar.

"Apa masih ada orang yang mau bekerjasama dengan kita jika waktunya sudah sangat dekat?" tanya Lee tidak yakin.

Neji berdiri dari posisi duduknya dan mengambil beberapa lembar kertas dari atas mejanya.

"Aku yang akan mengurus itu." ujarnya dan perlahan berjalan melewati ketiga orang yang menatapnya bingung.

"Kau tidak bisa melakukannya sendiri Neji, aku wakil mu. Biar ku bantu." tawar Temari.

Neji menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. "Tidak perlu, kau urus saja di sini."

Temari masih terlihat tidak bisa terima dengan saran Neji. "Tapi—"

"Aku akan melakukannya bersama assistenku." potong Neji cepat, membuat ketiga orang itu menatapnya tidak mengerti. "Kau sudah tahu tugasmu sekarang, Haruno...?" lanjutnya.

Glek

Sakura menelan air ludahnya. "A-aku ketahuan!" teriaknya takut dalam hati. Apa mungkin Neji memiliki mata yang bisa menembus pintu.

Perlahan Sakura membuka pintu itu dan memasang senyum kikuk. "Y-ya, aku tahu ketua." jawabnya. Selama menjadi anggota bantuan OSIS Sakura memanggil Neji dengan Ketua, karena sebelumnya ia di pelototin senior dan siswa-siswi lain saat memanggil Neji dengan nama belakangnya.

Temari mengerutkan alisnya. "Sakura, sejak kapan kau berdiri di situ?" tanyanya.

Sakura menundukkan kepalanya ke bawah, takut melihat Neji yang kini berdiri di depannya.

"Belum lama." jawab Sakura asal. Kepalanya sudah tidak dapat berpikir dengan baik, siapa pun pasti begitu jika di tatap lekat oleh Neji.

"Ayo, pergi sekarang!" perintah Neji saat melewati Sakura.

"B-baik!" Sakura berlari kecil mengejar Neji yang sudah berjalan cukup jauh darinya.

"Apa mereka bisa?" tanya Tenten sambil memandangi punggung Neji dan Sakura yang kini telah sejajar, tetapi terlihat jelas Sakura menjaga jarak dari Neji.

Temari tersenyum simpul. "Entahlah," jawabnya. "tapi, jika Sakura. Mungkin bisa." lanjutnya.

.

.

.

Sakura duduk diam memandangi jalan di depannya dengan beberapa lembar kertas di pangkuannya. Sekarang ia sedang berada di dalam mobil putih Neji. Sakura yang cukup bosan berdiam diri melirik Neji yang sedang menyetir di sebelahnya, ia tidak tahu ke mana Neji akan membawanya karena Neji tak mengatakan apa pun dan hanya fokus pada jalan di depannya.

Sakura menghelakan nafasnya bosan dan kembali fokus memandangi dedaunan yang kini sudah berubah warna, tidak terasa musim gugur telah tiba dan tidak terasa juga sudah setengah tahun lebih ia bekerja menjadi Maid di Clover's Cafe.

Ckit

Mobil yang di naiki Sakura berhenti di depan sebuah gedung besar berlantai lima, yang entah rasanya Sakura mengenali gedung ini.

"Ayo turun!" perintah Neji sambil melepas sabuk pengamannya.

Sakura dengan tergesa-gesa melepas sabuk pengamannya tapi entah kenapa sulit sekali di lepas. "Aduh, bagaimana melepas ini?" gumamnya gusar.

Deg

Sakura menahan nafasnya saat tiba-tiba Neji mendekatkan dirinya pada Sakura, dan dapat Sakura rasakan deru nafas Neji di telinganya.

"Tenanglah!" perintah Neji tenang, sedangkan Sakura hanya bisa memejamkan matanya.

Klik

Sabuk pengaman itu terlepas. Dengan cepat Neji kembali keposisinya dan keluar dari mobil, menyembunyikan rona merah tipis di pipinya.

Sakura memegangi dadanya. "Tadi itu menakutkan." batinnya lega.

Sakura keluar dari mobil dan memandang sekeliling gedung itu. Pandangannya terhenti pada sebuah tulisan besar bertuliskan 'Kantor Walikota Konoha'. Ah, pantas ia merasa tidak asing ternyata ia sedang berada di kantor Walikota.

Menyadari ada yang aneh, Sakura menolehkan kepalanya ke samping. "Ketua, kenapa kita ke kantor Walikota?" tanyanya tidak mengerti.

Neji memandang Sakura sekilas dan berjalan pergi meninggalkannya. "Kita akan meminta persetujuan dari Walikota." jawabnya singkat.

Sakura hanya menganggukkan kepalanya mengerti dan mengikuti langkah Neji memasuki kantor Walikota. Mungkin sama seperti cafe yang membuka Event Hanami beberapa bulan yang lalu, kali ini Neji juga melakukan cara yang sama agar mendapatkan dukungan yang lebih kuat.

"Selamat pagi. Ada yang bisa di bantu?" tanya nona resepsionis ramah saat melihat Neji dan Sakura menghampirinya.

Resepsionis itu mengerutkan alisnya memandangi Sakura. "Anda yang waktu itu." tunjuknya. "Apa anda bersama Namikaze-sama lagi kali ini?" tanyanya pada Sakura. Ternyata ia masih ingat bahwa Sakura pernah datang kemari sebelumnya.

"Tidak ak—"

"Apa Namikaze-sama ada di ruangannya?" tanya Neji memotong perkataan Sakura.

Resepsionis itu sedikit menyipitkan matanya, memperhatikan Neji lebih lekat. "Anda Hyuga-sama dari Hyuga Crop." ujar resepsionis itu menyadari siapa Neji. "Tentu saja Hyuga-sama. Namikaze-sama sedang berada di ruanganya." lanjutnya.

"Terima kasih" Neji pergi meninggalkan resepsionis itu dan dengan cepat Sakura mengikutinya.

Sekilas Sakura memandangi resepsionis itu yang masih memandangi mereka atau lebih tepatnya memandangi Neji penuh kagum. "Sikapnya selalu berbeda jika bicara pada laki-laki." batinnya.

#

Tok Tok

Neji mengetuk pelan pintu bercat coklat dan membukanya saat mendengar jawaban dari dalam.

"Maaf mengganggu Namikaze-sama." Neji membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada laki-laki berambut pirang yang sedang duduk di kursi kerja sambil membaca lebaran kertas ditangannya. Sakura yang berdiri di sebelah Neji ikut membungkukkan badannya hormat.

Karena mendengar suara seseorang Minato—laki-laki berambut pirang—menghentikan aktifitas membacanya dan menolehkan kepala ke samping.

"Neji, Sakura!" ujarnya saat menyadari siapa yang datang. "Silakan duduk!" lanjutnya sambil berdiri dan menunjukkan dua kursi kayu yang berada tetap di depan meja kerjanya.

Sakura dan Neji menganggukkan kepala mereka dan perlahan duduk di kursi yang di tunjuk Minato.

"Ada apa kalian kemari?" tanyanya saat Neji dan Sakura sudah duduk di posisi mereka.

Neji melirik Sakura dengan ekor matanya. Dan Sakura yang mengerti maksud lirikan Neji, menyerahkan lembaran kertas di tangannya kepada Minato.

"Saya ingin meminta bantuan anda Namikaze-sama." pinta Neji. "sekolah saya akan mengadakan agenda tahunan, dan tahun ini agendanya adalah perlombaan olahraga." lanjutnya.

Minato membaca dengan serius lembar kertas yang di berikan Sakura dan sesekali mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Aku suka dengan idenya. Untuk memperkuat hubungan antar siswa dan melatih kerjasama tim." ujar Minato dan menutup lembar kertas di tangannya. "jadi, aku harus tanda tangan di mana?" tanyanya.

Neji berdiri dari posisi duduknya dan dengan tangan kanannya ia menunjukkan di mana Minato bisa membubuhkan tanda tangannya.

Setelah selesai menandatangani lembar kertas itu, Minato kembali menyerahkannya kepada Sakura. Dan tidak lupa Sakura mengucapkan terima kasih dan membungkukkan badannya rendah.

"Namikaze-sama, terima kasih atas kerjasama anda." Neji kembali berdiri dari posisi duduknya dan membungkukkan badannya, membuat Sakura ikut berdiri. "maaf kami harus segera pergi." lanjutnya masih dengan kepala tertunduk.

Minato tersenyum simpul. "Ya, tidak masalah." jawabnya.

Sakura dan Neji berjalan kearah pintu, tetapi gerakan Neji yang akan membuka pintu terhenti ketika tiba-tiba Minato memanggil mereka.

"Ada yang terlupa." ujar Minato.

Sakura mengerutkan alisnya. "Jangan bilang stempel!" batinnya, masih diingat dengan jelas kejadian tempo hari.

Minato berjalan pelan dan berhenti tepat di depan Sakura. "Sakura, datanglah lagi ke rumah bersama Naruto! Kushina-chan selalu menanyakanmu." ujarnya sambil tersenyum.

Wajah Sakura sedikit memerah. "Ah, te-tentu saja. Saya akan berkunjung lagi kapan-kapan." jawabnya.

Minato tersenyum dan menepuk kepala Sakura lembut. "Kami tunggu, loh!"

Sakura menundukkan kepalanya malu, kejadian saat berkunjung ke kediaman Namikaze masih teringat jelas di memori ingatannya. Di sebelah Sakura, Neji hanya memandang aneh keakraban Minato dan Sakura.


Kini, Sakura dan Neji kembali melanjutkan perjalan mereka, dan kembali hanya keheningan yang menyelimuti atmosfir di dalam mobil BMW putih milik Neji.

Perjalanan mereka cukup lama jika di bandingkan sebelumnya, dan Sakura benar-benar bosan hanya berdiam diri seperti ini.

"Ketua..." panggil Sakura ragu-ragu, takut membuat Neji marah.

Neji melirik gadis merah muda di sebelahnya sekilas dan bergumam tidak jelas lalu kembali fokus pada jalan di depannya. Mendapat respon dari Neji dan sepertinya Neji tidak marah membuat senyum tipis terukir di wajahnya.

"Emm, kita mau ke mana lagi, ketua?" tanya Sakura mencoba mencari topik pembicaraan.

"Kita akan mencari orang yang bersedia menjadi promotor." jawab Neji singkat tanpa mengalihkan tatapannya dari jalan.

Lagi, keheningan menguasai. Dan Sakura benci suasana ini.

"Err... Ketua..." panggil Sakura lagi. "kenapa ketua bisa bekerja di cafe?" tanyanya.

Neji hanya diam tak menjawab pertanyaan Sakura. Membuat gadis merah muda itu tertunduk lesu, begitu susahnya membuat sang ketua berbicara. Tapi sayang, karena menundukkan kepalanya, Sakura jadi tidak bisa melihat senyum tipis di bibir sang ketua.

"Kakashi-sensei." ujar Neji tiba-tiba membuat Sakura mengangkat kepala. "dia yang menawariku bekerja." lanjutnya.

Mendengar jawaban Neji, Sakura hanya bisa ber 'O' ria. Dan karena kepolosannya itu Sakura merutuki ke bodohannya, karena ia hanya menjawab singkat seperti itu maka hilang sudah topik pembicaraannya.

Sakura hanya bisa menghelakan nafasnya dan kembali memandang pemandangan di luar karena kesunyian mengepungnya(?) lagi.

Neji menurunkan kecepatan mobilnya dan perlahan memasuki sebuah bangunan tinggi pencakar langit. Sakura hanya bisa membulatkan matanya kagum melihat bangunan itu, belum pernah melihat bangunan semewah itu.

Perlahan Sakura dan Neji berjalan memasuki gedung itu, namun mata Sakura sedikit menyipit saat melihat lambang aneh di bagian depan gedung. "Kipas?" gumamnya kecil saat melihat sebuah kipas besar berwarna merah putih di depan gendung.

Karena terlalu fokus dengan lambang kipas raksasa di depan gedung, Sakura jadi tidak fokus dengan jalan di depannya.

Bruk

Tubuh Sakura sedikit terhuyung ke belakang saat secara tidak sengaja menabrak orang di depannya.

"Aduh~" keluhnya sambil memegangi hidungnya yang sakit karena menabrak orang itu.

"Kau tidak apa-apa?" mendengar suara berat laki-laki membuat Sakura sedikit mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat wajah orang yang menabraknya.

"Aku tidak apa-apa." jawab Sakura cepat masih dengan memegangi hidungnya. "maaf, telah menabrak anda." Sakura sedikit menundukkan kepalanya meminta maaf pada orang di depannya.

Orang yang menabrak atau ditabrak Sakura hanya diam memperhatikan Sakura yang sedikit menunduk.

"Tidak masalah." jawab orang itu singkat dan sedikit tersenyum tipis.

Melihat ekspresi orang ini mengingatkan Sakura pada sosok Sasuke yang terkadang dingin itu. Hanya saja orang di depannya terlihat sedikit lebih ramah dan rambut hitam panjang yang di ikat ujungnya, tidak seperti Sasuke yang mencuat ke belakang seperti pantat ayam.

"Haruno!" suara Neji menyadarkan Sakura dari lamunannya. Untuk terakhir kali Sakura sedikit membungkukkan badannya dan pergi berlalu meninggalkan laki-laki yang di tabraknya tadi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Neji saat Sakura sudah kembali berjalan di sampingnya.

Sakura menolehkan kepalanya ke samping. "Aku tidak sengaja menabrak orang." jelasnya.

Neji melirik sekilas gadis merah muda yang memegangi hidungnya. "Kau harus lebih hati-hati!" ujarnya singkat.

Tok Tok

Dengan pelan Neji mengetuk pintu bertuliskan 'Direktur' di depannya. Dan saat mendengar suara seseorang yang mengizinkannya masuk Neji membuka pintu itu pelan.

"Maaf mengganggu anda Uchiha-sama." Neji membungkukkan badannya hormat dan Sakura yang melihatnya juga ikut membungkukkan badannya.

Di depan Sakura dan Neji ada seorang pria parubaya yang sedang duduk tenang sambil membaca sebuah laporan dengan serius.

"Ada perlu apa?" tanya pria parubaya itu tanpa mengalihkan tatapannya dari laporan di atas mejanya.

Sakura sedikit berbidik ngeri melihat aura pria di depannya, aura yang seakan mengusirnya dari ruangan ini.

"Maaf Uchiha-sama. Bisakah saya, Hyuga Neji meminta waktu anda sebentar." pinta Neji sopan.

Mendengar nama Neji, pria parubaya itu menghentikan kegiatan membacanya dan menatap Neji dan Sakura bergantian.

"Tidak biasanya seorang Hyuga berkunjung langsung ke kantor." ujar pria itu.

Sakura yang hanya diam memperhatikan lekat-lekat wajah pria di depannya. Cara bicara, tatapan tajam ke dua manik hitam pria parubaya ini mengingatkan Sakura dengan Sasuke. Apa semua orang di dalam gedung ini memiliki wajah yang sama dengan Sasuke?

"Saya ada perlu dengan anda langsung Uchiha-sama," jawab Neji tenang. "saya ingin meminta bantuan anda untuk menjadi promotor di agenda tahunan sekolah." jelas Neji.

Pria parubaya itu sedikit mengerutkan alis mendengar perkataan Neji. "Biar ku lihat dulu proposal agenda mu!" perintah pria itu.

Neji melirik Sakura. Sakura yang menyadari maksud Neji berjalan ke depan dan menyerahkan lembar kertas yang dari tadi di remasnya untuk mengurangi ke gugupan yang melandanya.

Dengan menundukkan kepalanya, Sakura menyodorkan kertas itu, dan pria itu hanya menatap Sakura aneh.

"Merah muda?" gumam pria itu saat menyadari rambut Sakura.

Sakura mengangkat kepalanya dan sekarang ia benar-benar panik harus menjawab apa. "I-ini asli." jawabnya gugup, tidak ada kata-kata lain yang terlintas di kepalanya selain itu.

Pria itu hanya diam dan membaca lembar kertas yang Sakura berikan dengan serius. Cukup lama pria itu membaca lembar kertas itu membuat Sakura semakin gelisah.

Pria itu menghelakan nafasnya sambil meletakkan lembar kertas yang telah selesai di bacanya. "Apa kau kenal Uchiha Sasuke?" tanya pria itu pada Sakura.

Sakura diam sejenak. "Ya, saya satu kelas dengan Sasuke-kun." jawab Sakura jujur.

Pria itu menatap Sakura tajam membuat Sakura semakin gugup. "Sasuke-kun?" ulangnya.

Dengan cepat Sakura menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan pria di depannya. "Sasuke-kun yang memintaku memanggilnya begitu." jelasnya.

Sebuah lengkungan tipis tercipta di wajah pria itu. "Aku ayahnya Sasuke, Uchiha Fugaku." ujar pria yang ternyata ayahnya Sasuke, Fugaku.

Bagai tersambar petir, Sakura membelalakkan matanya. Kenapa ia tak menyadari kemiripan dan nama depan pria di depannya ini dengan Sasuke.

"Apa Sasuke juga akan ikut dalam perlombaan ini?" tanya Fugaku pada Neji.

"Jika agenda itu bisa di laksanakan, kemungkinan Sasuke ikut itu besar." jawab Neji. Tentu saja Sasuke akan ikut dalam perlombaan, bukan hanya Sasuke tapi semua siswa-siswi KSHS harus ikut.

"Kalau begitu, di mana aku harus menandatanganinya?" tanya Fugaku.

Neji maju ke depan dan membuka lembar kertas yang tadi di berikan Sakura. "Anda bisa tanda tangan di sini." tunjuk Neji pada salah satu lembar kertas itu.

Setelah selesai menandatangani lembar kertas itu, Fugaku menyodorkannya kepada Sakura. "Ambil ini, Sakura." ujarnya.

Dengan cepat Sakura mengambil lembar kertas yang disodorkan Fugaku dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.

"Kami permisi Uchiha-sama." ujar Neji sopan sambil menundukkan kepalanya, begitu juga Sakura yang melakukan hal yang sama.

Setelah memberi hormat, Sakura dan Neji berbalik badan dan berjalan ke depan pintu, namun sebelum Neji membuka kenop pintu, sudah ada seseorang yang lebih dulu membuka pintu.

"Maaf." ujar laki-laki berambut dan bermata hitam saat menyadari dua orang di depannya sedikit terkejut dengan kehadirannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" suara berat Fugaku yang kali ini terdengar dingin membuat laki-laki itu tersenyum simpul.

"Maaf nona manis, kau jadi terkejut." ujar laki-laki itu sambil menepuk bahu kanan Sakura dan berlalu melewatinya.

"Jangan menggoda wanita, terutama gadis itu!" Fugaku menatap tajam laki-laki di depannya yang di balas cengiran lebar laki-laki itu.

"Aku hanya bercanda." ujar laki-laki itu sambil tertawa. "jangan mentapku seperti itu kakak ipar!" lanjutnya takut di tatap dingin Fugaku.

Sakura diam memperhatikan dua orang laki-laki itu. Menurutnya laki-laki yang baru masuk tadi sikapnya mirip Naruto dan Fugaku mirip Sasuke. Tunggu dulu! Sepertinya Sakura melewatkan sesuatu.

Seingatnya ia belum memperkenalkan dirinya pada Fugaku tadi. Jadi, bagaimana Fugaku bisa tahu namanya.

"Haruno." panggil Neji yang sudah berdiri di depan pintu. Sakura berjalan mendekati Neji. Terserahlah, dari mana Fugaku mengetahui namanya. Ia seorang Uchiha, apa hal yang tidak bisa di lakukan oleh Uchiha.


Brem

Mobil yang dinaiki Neji dan Sakura berjalan pelan. Sekarang apalagi yang akan mereka lakukan. Persetujuan dari Walikota sudah di dapat dan promotor pun sudah ada, Uchiha pula. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pendukung.

Awalnya Sakura kira mereka akan kembali ke sekolah karena semua yang mereka butuhkan sudah di dapatkan, tapi ternyata tidak. Lagi, BMW putih Neji berhenti di depan sebuah gedung yang tidak kalah megah dari gedung milik Uchiha Crop.

Kali ini sedikit berbeda dari dua gedung yang sebelumnya di masuki Sakura. Jika sebelumnya mereka harus menemui resepsionis terlebih dahulu, tetapi kali ini Neji langsung berjalan masuk. Dan anehnya lagi, semua orang yang mereka temui di jalan pasti membungkuk sopan, memberi hormat.

"Sebenernya tempat apa ini?" batin Sakura penasaran.

Cklek

Sakura menolehkan kepalanya ke samping, melihat pintu berwarna coklat yang terbuka. Dari pintu itu keluar laki-laki parubaya yang lagi memberi hormat pada Neji saat berpapasan dengannya.

Tok Tok

Dengan sopan dan pelan Neji mengetuk pintu di depannya. "Hiashi-sama." ujarnya pelan.

Tidak begitu lama terdengar suara berat dari dalam, mengizinkan Neji dan Sakura memasuki ruangan itu.

Hal pertama yang di lihat Sakura saat memasuki ruangan itu adalah ruang kerja yang sangat luas. Berbeda dengan dua ruangan yang di masuki Sakura sebelumnya, ruangan kali ini lebih bersih dari tumpukan dokumen di atas meja.

"Tidak biasanya kau berkunjung kemari di saat jam sekolah, Neji."

Di dekat jendela besar berdiri seorang pria berambung hitam panjang yang begitu lurus. Ia tidak mengenakan kemeja atau pun jas, melainkan Hakama berwarna abu-abu gelap.

"Saya datang untuk meminta bantuan anda, Hiashi-sama." Neji menutup mata dan membungkukkan badannya. Sakura yang tidak mengerti ikut membungkukkan badannya.

Laki-laki berambut hitam panjang itu membalik badannya. Dan sesaat Sakura menahan nafasnya saat tanpa sengaja bertatapan dengan manik mutiara milik pria itu.

Laki-laki itu hanya diam tanpa mengatakan apa pun, tapi Sakura bisa merasakan pria itu sedang menatapnya.

"Apa ada yang salah padaku?" batin Sakura takut.

"Gadis itu?" suara berat pria itu kembali terdengar, yang membuat Sakura semakin gugup.

"Dia Haruno Sakura, teman sebangku Hinata-sama." jelas Neji dan sesekali melirik Sakura di sebelahnya.

Pria itu berjalan pelan ke kursi kerjanya. "Silakan duduk." ujarnya menunjuk dua kursi kosong di depannya.

Perlahan Neji dan Sakura berjalan dan duduk di kursi yang di tunjukkan pria itu.

"Hiashi-sama, saya ingin meminta bantuan anda untuk menjadi promotor dalam agenda tahunan yang di adakan di sekolah." pinta Neji. Dengan sedikit panik Sakura menyerahkan lembar kertas kepada pria itu.

Pria itu diam sejenak membaca baik-baik lembar kertas yang diberikan Sakura.

"Bagaimana Hinata menurutmu?" tanya pria itu dan sekilas melirik Sakura dan kembali pada lembar kertas di tanganya.

Sakura menelan air ludahnya. "Hi-hinata gadis cantik yang baik."

Pria itu meletakkan lembar kertas di atas meja dan menatap Sakura lekat. "Apa hanya itu?" tanya lagi.

Untuk sesaat Sakura hanya diam membayangkan sosok Hinata yang di kenalnya hampir setengah tahun ini.

"Hinata gadis pemalu dan mudah gugup," jelas Sakura membuat laki-laki itu mengangkat sebelah asilnya, sedangkan Neji hanya menatap Sakura dalam diam. "tapi sebenarnya ia mudah cemas terutama jika sesuatu terjadi dengan orang dekatnya dan terkadang aku berpikir Hinata sedikit kesepian." lanjutnya.

"Kenapa kau pikir Hinata kesepian?" tanya pria itu lagi.

Sakura tersenyum kecil. "Hinata sangat suka berada di tengah-tengah orang yang di sayanginya, terlihat dari caranya menatap segerombolan siswi-siswi yang sedang mengobrol. Dan aku senang bisa sebangku dengannya." jelasnya.

Pria itu tersenyum kecil. "Begitu," gumamnya. "Aku Hyuga Hiashi, ayah dari Hinata dan paman dari Neji." lanjutnya memperkenalkan diri.

"Hinata sering bercerita tentang dirimu Sakura-san." Sakura menatap laki-laki itu tidak percaya. "terima kasih sudah bersedia menjadi teman putriku." lanjutnya.

Sakura mengibaskan tangannya cepat. "Anda salah, saya lah yang seharusnya berterima kasih karena Hinata sudah banyak membantu saya." ujarnya.

"Kali ini biarkan aku membantu kalian. Di mana aku harus menandatangani lembar ini." tanyanya.

Sakura melirik Neji di sebelahnya, meminta persetujuan darinya. Neji yang mengerti maksud Sakura hanya menganggukkan kepalanya seakan membiarkan Sakura melakukan apa yang ada di dalam pikirannya.

Sakura berdiri dari posisi duduknya dan menunjukkan di mana Hiashi bisa menandatangani lembar kertas itu. Dan setelah selesai lembar kertas itu di kembalikan kepada Sakura.

"Maaf Hiashi-sama, kami harus segera kembali ke sekolah." ujar Neji saat Sakura sudah kembali ke tempat duduknya. "Terima kasih sudah bersedia bekerjasama dengan kami Hiashi-sama." lanjutnya dengan penuh rasa hormat. Dan setelah itu Neji berdiri dari posisi duduknya di ikuti Sakura di sebelahnya.

"Neji..." panggil Hiashi. "apa kau sudah membawanya menemui Hizashi?" tanyanya sambil menatap Sakura.

Neji diam sejenak dan menolehkan kepalanya ke samping, berusaha menyembunyikan rona merah tipis di wajahnya.

"Mungkin secepatnya." jawab Neji pelan nyaris tak terdengar.

"Saranku, lebih baik kau segera mengajaknya menemui Hizashi sebelum terlambat." saran Hiashi sambil tersenyum penuh arti ke arah Sakura, sedangkan Sakura yang tidak mengerti dengan maksud perkataan dua laki-laki di depannya hanya memasang senyum kaku.

Neji membungkukkan badannya. "Saya mengerti, Terima kasih Hiashi-sama." ujarnya.

Setelah mengatakan itu Neji membalik badan di ikuti Sakura.

"Sakura..." panggil Hiashi lagi, tapi kali ini Sakura, bukan Neji.

Sakura berhenti melangkah dan membalik badannya.

"Teruslah menjadi teman Hinata!" ujarnya.

Sakura diam sejenak mencerna baik-baik perkataan Hiashi dan setelahnya ia tersenyum sumringah. "Tanpa di pinta pun aku akan tetap jadi teman Hinata." ujarnya senang.

Setelah mengatakan itu, Neji dan Sakura melangkah pergi dan kembali ke dalam Mobil BMW putih milik Neji, namum sebelum benar-benar pergi meninggalkan gedung itu Sakura dapat melihat tulisan besar yang berdiri kokoh di depan gedung itu.

"Hyuga Crop." baca Sakura. Ah, begitu. Ternyata gedung yang di datanginya kali ini adalah perusahaan Hyuga milik keluarga Hinata.

Sakura menengadakan kepalanya ke atas. "Syukurlah aku pergi bersama Neji." gumamnya pelan, yang walaupun pelan masih bisa di dengar oleh laki-laki di sebelahnya sehingga memunculkan lengkungan di sudut bibirnya.

.

.

.

"Wow! Ini hebat sekali!" teriak Lee kagum sambil memandangi beberapa lembar kertas di depannya.

Di sebelah Lee ada Tenten yang memperlihatkan ekspresi terkejut dan kagum sama seperti Lee.

"Walikota Namikaze, Uchiha Crop dan Hyuga Crop. Bagaimana cara kalian bisa membuat mereka bersedia bekerjasama dengan kita?" tanya Tenten tidak percaya. Siapa pun pasti tidak akan percaya, tiga orang paling berpengaruh di Konoha bersedia membantu sebuah rencana agenda tahunan anak sekolah. Sungguh sulit di percaya.

"Mereka semua orang-orang yang baik." jawab Sakura. Berdasarkan pengamatannya saat bertemu ketiga orang hebat itu, Sakura bisa menyimpulkan mereka melakukan ini karena putra-putri mereka akan ikut terlibat. Orang tua yang baik.

"Tidak mungkin hanya karena itu. Pasti ada alasan yang lain—"

"Sudahlah Tenten!" tegur Temari. "yang penting sekarang kita sudah memiliki promotor dan tugas kita selanjutnya membuat persiapan untuk agenda tahunan ini." lanjutnya sambil merapikan lembar kertas yang berhamburan di atas meja.

Sakura, Lee dan Tenten menganggukan kepala mereka setuju dengan perkataan Temari.

"Kalau begitu, kita harus bersemangat menyelesaikan tugas ini!" teriak Lee penuh semangat sambil mengepalkan tangannya ke atas.

Sakura dan Tenten mengikuti gaya Lee, mengepalkan tangan mereka dan mengangkatnya ke atas. "Semangat!" teriak mereka bersamaan.

Temari yang melihat tingkat teman-temannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Neji hanya menyuguhkan senyuman kecil melihat semangat membara anggotanya.


Seminggu sudah berlalu dan persiapan perlombaan Olah Raga sudah hampir selesai, hanya tinggal merapikan beberapa sudut bagian. Walau sudah hampir selesai bukan berarti tugas yang di kerjakan angota OSIS dan siswa-siswi yang ikut membantu berkurang, melainkan semakin banyak dan membutuhkan kerja ekstra.

Hal itu terjadi juga pada gadis merah muda yang sedang sibuk memeriksa jadwal perlombaan di ruangan OSIS sendirian. Sesekali terlihat sang gadis merentangkan tangannya ke atas atau memutar-mutar pinggangnya yang sedikit terasa pegal. Sudah lebih dari 3 jam ia duduk manis di kursi dan membaca semua agenda maupun laporan yang di terimanya. Tapi walau ia harus bekerja lebih keras, ia menikmatinya. Bekerja bersama anggota OSIS dan siswa-siswi lainnya dalam satu kelompok yang sama, membuat senyuman manis terukir di bibir tipisnya. Sebelumnya, tak pernah terpikir dalam benaknya barang sedikit pun bisa bekerja bersama dalam satu kelompok.

Di tutupnya laporan yang di bacanya. Perlahan tangan munyil nan ramping itu meraih kacamata jadul besar yang bertengger manis di hidung mancungnya. Matanya terasa berat dan sedikit berair, ia mengantuk, sangat mengantuk. Sudah beberapa hari ini ia kurang tidur karena mengerjakan tugas yang di berikan sang ketua OSIS.

"Jika tidur sebentar kurasa tak masalah." gumamnya pada diri sendiri dan melipat kedua tangannya diatas meja dan meletakkan kepalanya. Kedua manik Emerald sedikit demi sedikit meredup dan perlahan tertutup rapat.

Cklek

Pintu ruang OSIS terbuka menampilkan sosok sang ketua yang membawa sebuah botol minuman di tangan kanannya. Di edarkan pandangan matanya mencari sosok gadis merah muda yang seharusnya menyelesaikan tugas yang di berikannya. Namun yang dilihatnya bukan sosok gadis merah muda yang sedang serius membaca, melainkan gadis merah muda yang sedang tertidur lelap di pojok ruangan dekat jendela yang terbuka.

Perlahan Neji—sang ketua—berjalan mendekati gadis merah muda, dan meletakkan botol minuman yang di bawanya tepat di sebelah sang gadis. Di pandanginya sejenak wajah polos yang sedang tertidur itu dan perlahan sudut bibirnya terangkat.

"Kau sudah berusaha keras..." kedua manik mutiara itu melembut. "Sakura..."

.

.

.

Zraaast

Angin dingin musin gugur berhembus, menerbangkan beberapa lembar daun yang kini sudah berwarna kuning kemerahan.

Perlahan, kedua kelopak mata yang tertutup rapat terbuka, menampilkan kilau Emerald milik gadis merah muda yang belum terbuka sepenuhnya.

Tek

Tanpa sengaja tangan munyil itu menyengol botol minuman yang berdiri tepat di sebelah tangannya.

"Punya siapa ini?" tanyanya bingung, seingatnya sebelum tertidur botol itu belum ada di sini.

"Punyamu." suara berat yang di kenali Sakura—sang gadis merah muda—mengagetkannya dan dengan cepat di tolehkan kepalanya ke samping.

Di depan jendela telah duduk seorang laki-laki berambut coklat panjang. Angin yang bertiup melalui jendela yang terbuka menerbangkan beberapa helai coklat milik laki-laki itu, seakan menari bersama angin.

"Ketua..." gumam Sakura saat menyadari siapa yang duduk di sana.

Laki-laki yang di panggil ketua membalik badannya dan menatap tajam Sakura yang mulai terlihat gugup dan takut karena ketahuan tidur.

"Ma-maaf." ujar Sakura cepat.

Neji hanya menatap Sakura datar. Tak ada sorot kemarahan di sana, hanya datar tak terbaca.

"Tak perlu minta maaf." ujar Neji. "kau berhak mendapatkan waktu istirahat." lanjutnya.

Sakura terdiam, baru kali ini ia merasa sedekat ini dengan Neji. Biasanya Neji tak menanggapi perkataannya, tapi kali ini aura yang di tunjukkan Neji berbeda. Begitu bersahabat dan hangat.

Brak

Pintu ruang OSIS terbuka paksa, menampilkan sosok Tenten yang terlihat berantakan dan panik.

"Ketua!" teriaknya saat melihat Neji. "GAWAT!" lanjutnya.

Neji berdiri dari posisi duduknya dan berjalan mendekati Tenten, begitu juga Sakura yang penasaran dengan ekspresi panik yang di perlihatkan Tenten membuat perasaannya menjadi tidak enak.

"Ada apa?" tanya Neji saat sudah berdiri tepat di depan Tenten.

"PERSIAPANNYA!" teriak Tenten, belum bisa merangkai kata-kata akibat rasa panik yang sudah memenuhi kepalanya.

Alis Sakura sedikit mengerut. Apapun yang akan di katakan Tenten, pasti bukan sesuatu yang baik. "Tolong katakan dengan sedikit tenang, Tenten-senpai!" pintanya.

Tenten menatap Sakura sedih membuat Sakura semakin yakin hal buruk telah terjadi.

"Persiapannya... di rusak seseorang..."

.

.

.

"Jahat sekali!"

"Siapa pun yang melakukan ini, dia sungguh kejam."

"Kasihan OSIS."

"Apa agenda tahun ini akan di batalkan?"

"Sepertinya. Hanya dua hari tersisa, tidak mungkin OSIS bisa memperbaiki kerusakan ini."

Suara bisik-bisik siswa-siswi sepanjang koridor yang di lalui Sakura, Neji dan Tenten membuat perasaan mereka semakin gusar.

"KETUA!" teriak Lee saat melihat Neji berjalan cepat ke arahnya.

Sakura membulatkan matanya saat melihat spanduk Olah Raga yang di kerjakan anggota OSIS yang lain kini tergeletak di tanah dengan banyak tumpahan cat dan coretan di sana.

Kejam, siapapun yang melakukan ini sungguh kejam. Apa orang itu tidak tahu seberapa keras anggota OSIS membuat spanduk itu.

"Apa hanya spanduk ini yang rusak?" tanya Neji datar, tapi dari sorot matanya terlihat ia sedang marah.

Lee menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak," jawabnya. "hampir semua perlengkapan dan peralatan yang telah selesai, keadaannya tidak jauh berbeda." jelas Lee.

Neji terdiam begitu juga beberapa anggota OSIS yang berada di sana. Mereka menatap miris hasil kerja keras mereka hampir dua minggu ini.

"Apa kita batalkan saja ketua?" tanya salah seorang anggota OSIS.

Neji hanya diam, kini fokusnya terarah pada gadis merah muda yang sedang menundukkan kepalanya.

"Sudah tidak ada waktu lagi untuk memperbaiki semua ke rusakkan." ujar seseorang lagi.

"Jika kita berhenti sekarang dan mengubah agenda perlombaan Olah Raga dengan konser musik seperti tahun kemarin mungkin masih bisa." jelas seseorang.

"Atau tahun ini tidak usah di adakan saj—"

"Tidak..." gumam Sakura membuat semua orang menatapnya aneh. "tidak boleh berhenti!" ulangnya.

"Kau tidak mengerti. Kita sudah tidak punya waktu la—"

"Masih ada!" potong Sakura cepat. "ki-kita... masih punya waktu dua hari..." lanjutnya dengan suara serak dan lebih berat dari biasanya.

"Dua hari tidak akan cukup jika hanya mengandalkan kemampuan kita."

"Jika di kerjakan dari sekarang masih bisa." bela Sakura.

"Kau tidak mengerti, kita sudah tidak punya kesempatan la—"

"Karena tidak ada kesempatan, maka semua usaha dan kerja keras kita harus berakhir sia-sia, hah!?" bentak Sakura marah memotong perkataan orang itu. Semua yang telah mereka lakukan harus berhenti sekarang? Ia tak mau seperti ini.

Semua orang terdiam melihat beberapa tetes air mata meluncur dengan mulusnya dari balik kacamata tebal Sakura.

"Semuanya... sudah berusaha keras dan sekarang harus berhenti hiks... itu..." suara Sakura tercekak di tenggorokkannya. "itu... sangat mengesalkan..." lanjunya dan sesekali isakan keluar dari bibir Sakura. Ia kecewa, semua kerja kerasnya bersama kelompok yang begitu di inginkannya harus berakhir, bahkan sebelum hasilnya terlihat.

"Hiks... ji-jika kita bekerjasama sekali lagi, kita mungkin bisa memperbaiki kerusakannya." ujar Sakura pelan.

Semua orang hanya diam, sebagian memalingkan wajahnya ke samping dan sebagian lagi menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal kuat.

Sakura menggigit bibir bawahnya. "Jika kalian tidak mau hiks... A-aku akan melakukannya sendiri!" Sakura mengambil sebuah palu dan beberapa paku dari dalam kotak yang berada tidak jauh darinya dan berlalu pergi meninggalkan semua orang yang masih berdiri diam.

#

Sakura berjalan cepat membuat langkahnya bergema di sepanjang koridor yang kini sudah sepi. Ia marah tapi tak tahu pada siapa ia marah. Apa pada orang yang telah merusak perlengkapan? atau pada anggota OSIS yang tidak mau berusaha? Kesal, ia kesal, jika mengingat semua orang seakan menganggap ini semua sudah pasti terjadi.

Di dekat lapangan Outdoor tergeletak sebuah papan bertuliskan 'Festifal Olah Raga Konoha Senior High School' yang kini sudah patah di beberapa bagian. Sakura berjongkok di depan papan itu.

"Hiks... Hiks..." air mata terus meluncur jatuh, tak peduli sudah berapa kali Sakura mencoba menghapus dan menahannya.

Sakura mengambil satu paku dan memposisikannya pada bagian papan yang patah, ia akan memakunya hanya saja karena penglihatannya yang kurang jelas dikarenakan genangan air matanya, membuat tangan kanan yang hendak memukulkan palu melenceng dan hampir saja mengenai tangannya kalau saja sebuah tangan besar tidak menahan laju palu itu.

Dengan cepat Sakura mendongakkan kepalanya dan di depannya kini sudah berjongkok seseorang, Neji. "Kau tidak perlu melakukannya sendiri," ujar Neji menatap dalam Emerald di depannya. "aku akan membantumu." lanjutnya.

Kedua pupil mata Sakura mengecil tidak percaya mendengar perkataan Neji yang biasanya dingin dan tidak peduli, kini akan membantu Sakura. Angin berhembus menerbangkan dedaunan melewati keduanya. Untuk sesaat Sakura terpaku pada manik mutiara di depannya.

"Te-terima kasih..." dengan pelan mulut Sakura terbuka. "ketua..." lanjutnya dengan senyuman manis berkembang di wajahnya.

Deg

Kini manik mutiara Neji yang membulat. Rona merah dengan cepat menjalar ke wajahnya. Sakura yang melihat perubahan ekspresi Neji dengan tiba-tiba, memandang Neji dengan bingung dan pelahan mengerakkan tangannya menyetuh dahi Neji. Apa ketuanya ini sedang demam?

Tap

Tapi sebelum berhasil menyentuh dahi Neji, Neji sudah lebih dulu menahan tangan munyil Sakura.

"A-aku tidak apa-apa." jawab Neji sedikit gugup dan memalingkan wajahnya ke samping.

"Sakura!" suara teriakkan kencang cukup mengagetkan keduannya dan dengan cepat Neji melepas genggaman tangannya pada Sakura dan menatap siapa orang yang sudah berteriak kencang dan mengganggu acaranya(?).

Sakura berdiri dari posisi jongkoknya, begitu juga Neji. "Ino?" ujar Sakura bingung melihat Ino dan bukan hanya Ino tetapi Naruto, Sasuke, Kiba, Sai, Gaara, Shikamaru, Hinata, Kankuro, Temari, Lee, Tenten dan anggota OSIS yang lain berdiri di depannya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?"

Naruto nyengir lebar dengan kedua tangan di belakang kepala. "Kami datang untuk membantumu, Sakura-chan." ujar Naruto riang.

"Kenapa?"

Temari maju ke depan. "Ada yang ingin mereka katakan." Temari menunjuk rombongan anggota OSIS yang terteguk diam.

"Ma-maafkan perkataan kami tadi, Haruno." ujar salah seorang menjadi perwakilan bicara. "sebenarnya, kami juga tidak ingin agenda yang sudah kita semua kerjakan di batalkan begitu saja. Jadi kami akan membantu memperbaiki kerusakan." lanjutnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal dan di ikuti anggukan kepala anggota yang lain.

"Syukurlah Sakura-san." gumam Hinata sambil tersenyum tulus.

"Kami semua akan ikut membantu memperbaiki semuanya." ujar Kiba bersemangat.

Sakura terdiam, air mata yang tadi telah berhenti kembali mengalir, syukurlah perasaannya tersampaikan kepada teman-temannya. Dan sukses membuat semua orang di sana panik sendiri melihat ia menangis.

"Saku?"

"Sakura-chan!"

"Sakura?"

"Haruno!"

Teriak mereka hampir bersamaan. Neji tersenyum kecil yang tidak disadari oleh yang lain kecuali Hinata yang memandang Neji aneh. Perlahan tangan Neji bergerak mendarat dan tepat di atas kepala Sakura, dielusnya sayang kepala merah muda milik sang gadis yang masih berusaha menahan air matanya.

Tidak begitu jauh dari sana, telihat Yamato yang berjalan dengan senyuman menghiasi wajahnya.

"Senpai." panggilnya saat melihat Kakashi berdiri memperhatikan siswa-siswi itu.

Kakashi menolehkan kepalanya. "Yamato."

"Kupikir kau akan ikut membantu mereka?" tanyanya saat melirik kotak peralatan perkakas yang di bawa Kakashi.

Kakashi mengangkat kotak peralatan di tangannya. "Awalnya. Tapi, sepertinya bantuanku sudah tidak terlalu di perlukan lagi." ujarnya.

"Ya, 'dia' melakukannya dengan baik." Yamato memandang kumpulan murid-murid yang terlihat serius mendengarkan instruksi dari Neji.

Kakashi tersenyum tipis. "Kau benar, 'dia' melakukannya dengan baik."


Semua orang bekerja dengan semangat walau terkadang di hiasi dengan tawa canda, tapi mereka melakukan semuanya dengan serius. Waktu dua hari yang tersisa di lewati dengan penuh keringat. Bukan hanya anggota OSIS atau siswa-siswi saja yang memperbaiki kerusakan yang terjadi, tapi ada beberapa siswa-siswi dan para guru yang ikut membantu melihat mereka bekerja dengan kerasnya.

Tidak terasa waktu dua hari sudah berlalu dan semua kerusakan peralatan sudah berhasil di perbaiki karena bantuan dari banyak pihak.

Di depan pintu masuk gedung utama KSHS, Sakura sedang berusaha keras memasang bunga kertas yang di buatnya bersama Ino dan Hinata untuk menghiasi bagian itu.

"Nge~ sedikitt lagi..." Sakura terus mengenjit untuk mencapai sisi yang cukup tinggi baginya tapi sayang, sudah berapa kali ia mencoba mencapainya tetapi hasilnya tetap saja gagal.

"Siapa yang memasang ini terlalu tinggi?" gumamnya kesal sambil bertolak pinggang.

"Kau yang terlalu pendek." mendengar suara yang mengejeknya dengan cepat Sakura membalik badannya. Dan di sana telah berdiri Neji dengan wajah datarnya dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celana.

Sakura mengembungkan pipinya kesal. "Si-siapa yang pendek? Itu saja yang di pasang terlalu tinggi!" belanya.

Neji menyeringai dan perlahan berjalan mendekati Sakura dan mengangkat tubuh munyil gadis itu.

"Ketua!" teriak panik Sakura saat kakinya sudah tidak mengijak bumi lagi.

"Sekarang sudah sampai?" tanya Neji tanpa mempedulikan teriakkan panik Sakura.

Sakura diam dan mendongakkan kepalanya ke atas. Benar juga, karena Neji mengangkat tubuhnya, sekarang ia bisa mencapai bagian yang cukup tinggi itu. Perlahan Sakura menempelkan bunga kertas itu dan sedikit merapikannya.

"Terima kasih Ketua." ujar Sakura dan perlahan Neji menurunkan tubuh Sakura.

Keduanya terdiam sejenak tak ada yang mau memulai pembicaraan lebih dulu.

"Terima kasih untuk kerja kerasmu." ujar Neji tiba-tiba memecahkan keheningan.

Sakura menatap Neji malu. "Ah, itu tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan usaha teman-teman yang lain." ujarnya sambil tertawa kaku.

Neji tersenyum tipis dan menepuk kepala Sakura pelan. "Terima kasih sudah menjadi assisten ku."

Sakura membulatkan matanya. Hyuga Neji berterima kasih padanya sebanyak dua kali. Oh, pasti ada yang salah dengan pendengarannya.

"Terima kasih." ulang Neji saat menyadari raut polos tidak percaya gadis merah muda di depannya. "aku suka tipe pekerja keras." lanjutnya dan perlahan pergi meninggalkan sang gadis yang masih mencerna perkataannya.

"Sa-sakura-san?" panggil Hinata yang tidak sengaja melewati tempat Sakura.

"Hinata." ujar Sakura saat Hinata sudah berdiri di depannya. "kau belum pulang?" tanyanya saat menyadari sudah 1 jam berlalu dari jam pulang sekolah, dan tidak biasanya Hinata belum di jemput supir pribadinya.

"I-ini aku sudah mau pulang." jawab Hinata. "Sakura-san, apa dulu kau pernah pergi menemui Tou-sama bersama Neji-niisan?" tanyanya.

Sakura diam sejenak. Tou-sama? Ah, Hiashi-sama maksud Hinata, laki-laki yang di temuinya saat meminta bantuan bersama Neji. "Ya, aku bertemu dengan ayahmu saat mencari promotor bersama ketua."

Hinata tersenyum penuh arti. "Apa yang di katakan Tou-sama?"

"Dia bilang agar aku terus berteman denganmu."

"Apa jawabanmu Sakura-san?"

Sakura tersenyum. "Tentu saja aku akan terus menjadi temanmu."

Hinata ikut tersenyum. "A-ano... selain itu apa Tou-sama mengatakan sesuatu yang lain?" tanya Hinata ragu-ragu sambil menaikkan telunjuknya di depan dada.

Mengatakan sesuatu yang lain? Ah, ya Rasanya Hiashi mengatakan sesuatu selain tentang Hinata. "Ya, kalau tidak salah ia mengatakan sesuatu tentang Hizashi," jawab Sakura. "ngomong-ngomong siapa itu Hizashi?" tanyanya penasaran. Sebenarnya Sakura bermaksud bertanya pada Neji tapi ia terlalu takut untuk bertanya.

Senyuman Hinata semakin lebar. "Kau akan tahu sendiri nanti Sakura-san." jawabnya penuh penekanan. Sakura mengerutkan alisnya, Hinata sedang merahasiakan sesuatu darinya.

"Hinata-sama!" panggil supir pribadi Hinata yang datang untuk menjemputnya.

Hinata dan Sakura membalik badan. "Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Kou." ujar Hinata menyesal.

Laki-laki yang di panggil Kou hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah Hinata-sama."

Hinata kembali membalik badan menghadap Sakura. "Sakura-san aku pulang dulu." ujarnya.

Sakura menganggukkan kepalanya. "Ya, hati-hati Hinata."

"Saya permisi Haruno-san." ujar Kou sopan.

"Kou." panggil Hinata. "kau harus memanggil Sakura-san dengan Sakura-sama mulai sekarang!" perintah Hinata yang dibalas tatapan bingung oleh Kou. Bukankah ia hanya boleh menambahkan embel-embel –sama pada keluarga Hyuga saja.

Tapi karena tidak mau mengambil pusing, di turutinnya juga perintah majikannya. "Saya permisi Sakura-sama." ulangnya sopan. Sakura hanya tersenyum kaku mendengar namanya di tambah embel-embel yang terdengar aneh di telinganya.

Sementara itu di dekat pintu, Hyuga Neji sedang menyender pada dinding di belakangnya dengan tangan kanan menutupi wajahnya yang kini sudah sangat merah.

"Anda terlalu berlebihan Hinata-sama..." gumamnya malu. Karena mengerti maksud adik sepupunya itu.

Sepertinya Hinata tahu apa yang ada di pikiranmu Neji, lalu bagaimana denganmu sendiri?

TBC


Author Note:

Hai, hai aku kembali dengan Chapters 10 (' v ')/

Bagaimana NejiSaku? Apa mengecewakan atau tidak memuaskan? Ya, aku tahu sudah Chap 10 tapi MissTpyo tidak juga berkurang ni...

Ini Pair utama pelayan cowok yang terakhir, tapi bukan berarti Pair-nya sudah habis atau Ending cerita semakin dekat. Sebaliknya aku punya rencana menambah Pair untuk Sakura dan beberapa Pair akan ku munculkan.

Mulai sekarang ceritanya akan di fokuskan kepada Sakura, bagaimana perasaannya berkembang dan sedikit demi sedikit rahasia utama akan terbuka hahahaha *tertawa misterius

Chap berikutnya adalah Chap Special perlombaan olahraga. Bagaimana keseruan Sakura dan kawan-kawan dalam berlomba? Kita tunggu saja *digorok Reader

Oke, saatnya balas Review. Seperti biasa yang Login cek PM dan yang gak ini balasannya.

Sasusaku kira: Iya, emang Shika yang cabut kabel mikrofon. Aku aja gak nyangka(?)

Umur? Malu ni kalau ngomongi umur. Kalau gak ada halangan(?) pertengahan tahun nanti 19 tahun :D

Ini udah di update semoga menghibur.

NekoNeko-chan: Terima kasih pujiannya, jadi malu.

Chap ini NejiSaku semoga suka :D

Beky: Point lagi untuk SasuSaku :D

Maaf agak lama update, tapi ini sudah di usahakan update secepat yang di aku bisa.

Guest 1: Huaaaa aku juga bahagia kamu bersedia baca dan meninggalkan Review tapi maaf gak bisa update cepat :"(

Guest 2: satu kata, Sama! *nah loh

Shika memperhatikan Saku karena penasaran, tapi lama-lama jadi kebiasaan hahaha

Ini NejiSaku semoga suka :D

Gita zahra: rencananya rahasia ya... hahaha

Hmm SasuSaku pendukungnya banyak juga ya...

Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan diri untuk meninggalkan Review :D

Sadikaachan: Terima kasih pengertiannya.

Iya, NejiSaku semoga gak mengecewakan :D

Resa: Terima kasih pujiannya :D

Dan terima kasih sudah membaca dan menyempatkan diri untuk meninggalkan Review :D

Puihyuuchan: Syukur kalau Shika gak berlebihan disini, takutnya nanti OOC.

Ah, benar semuanya pasti ada hubungan dengan Kakashi *ikut introgasi XD

Ini sudah di lanjutkan semoga menghibur...

Neji: Terima kasih sudah membaca, selanjutnya tinggalkan Review *datar

Author: Neji itu tidak sopan! Kenapa semua tokoh ini tidak ada yang benar *geleng-geleng

Sakura: Terima kasih sudah membaca sampai sejauh ini dan juga sudah bersedia meninggalkan Review.

Next Chap, Special Menu: Perlombaan Olah Raga!

Sampai jumpa lagi *lambai

Salam hangat,

Kimeka Reikyu

Palembang, 06 Mei 2013