Tik... Tik...
Suara jam dinding yang berbunyi terdengar bak irama lagu bagi gadis merah muda yang kini sedang serius dengan kegiatan memasaknya. Diambilnya beberapa sayur hijau yang segar sebagai garmise penghias masakannya.
Dengan cekatan tangan munyil milik sang gadis memotong kecil sayur hijau itu, yang mengeluarkan suara khas pisau yang beradu. Setelah di rasa cukup, beberapa masakan yang telah selesai dibuat disusun rapi dalam sebuah kotak bekal yang ukurannya tidak bisa di bilang kecil, bukan hanya satu tapi ada empat buah kotak bekal yang kini sudah terisi penuh dengan berbagai jenis masakan.
Sang gadis merah muda menghentikan aktifitas memasaknya dan memandang takjub hasil karya yang di buatnya dari tadi subuh.
Sebuah lengkungan tercipta di bibir tipis milik sang gadis. "Ku harap mereka suka masakanku." ucapnya senang sambil membayangkan wajah bahagia orang-orang yang akan memakan masakannya.
Di tutupnya rapat kotak bekal itu, lalu di susun menjadi satu dan di masukkan ke dalam sebuah tas kecil berwarna hijau muda yang dibuat khusus. Sekilas diliriknya jam dinding yang tergantung di dekat meja makan, kini jam sudah menunjukkan pukul 06.30, sudah waktunya ia pergi ke sekolah.
sang gadis merah muda mengambil tas sekolahnya yang tergeletak dipinggir meja makan, dengan tangan kanan membawa tas kecil berwarna hijau muda. Dengan langkah riang, sang gadis berjalan ke pintu depan untuk memakai sepatu sekolahnya. Sebelum membuka pintu bercat coklat di depannya, dihembuskan terlebih dahulu nafasnya dan dalam hati ia berdoa.
"Semoga perlombaan hari ini, semuanya berjalan lancar."
Clover's Cafe
Naruto © Masashi Kisimoto
Rated: T
Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)
Story © Kimeka ReiKyu
Warrnig: AU, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
[Sakura-Centric]
Don't Like, Don't Read!
Semua siswa-siswi Konoha Senior High School berbaris rapi berdasarkan kelas mereka masing-masing di lapangan Outdoor. Kini semua siswa sudah menggunakan seragam Olah Raga dan sebuah ikat kepala.
Dengan langkah anggun Tsunade selaku kepala sekolah, menaiki podium yang berada di depan barisan siswa-siswi.
"Hari ini sekolah kita akan mengadakan perlombaan Olah Raga sebagai tugas terakhir dari anggota OSIS yang tahun ini di ketuai oleh Hyuga Neji," Tsunade tersenyum ke arah Neji yang sedang berdiri di belakang podium bersama anggota OSIS yang lain. "dan tak lupa bantuan dari perwakilan kelas." lanjutnya.
"Di harapkan kalian dapat berlomba dengan menjunjung tinggi sportifitas dan kerjasama tim yang solid. Cukup sekian pidato saya dan dengan ini agenda tahunan OSIS resmi DIBUKA!" teriak Tsunade kencang yang di ikuti suara tepuk tangan dari siswa-siswi juga guru di sana.
.
.
.
Terlihat seorang gadis bersurai merah muda yang diikat berantakan sedang memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit merosot ke bawah. Pita merah yang terikat di kepalanya berkibar-kibar di tiup lembut angin dingin di akhir musim gugur.
"Sakura!"
Mendengar namanya dipanggil Sakura—gadis bersurai merah muda—menolehkan kepalanya ke sumber suara. Lengkungan tipis tercipta di bibirnya saat melihat siapa yang memanggil namanya.
"Ino."
Dengan berlari kecil Ino mendekati Sakura. "Syukurlah kali ini kita satu tim." ujarnya senang yang di balas anggukkan kepala oleh Sakura. Setelah hampir dua tahun bersekolah di KSHS baru kali ini Ino dan Sakura berada di dalam satu tim yang sama.
"Bukan hanya kalian saja yang berada di satu tim yang sama, kan?" dari belakang Sakura dan Ino terlihat Temari yang sedang bertolak pinggang, Tenten yang tersenyum sumringan dan Hinata yang sedang memainkan jari telunjuknya di depan dada.
"Temari-nee, Tenten-senpai, Hinata!" teriak Sakura dan Ino bersama.
"Tidak di sangka ya, kita semua bisa berada di satu tim yang sama." ujar Tenten.
Ino melipat tangannya di depan dada. "Apa boleh buat, kan? Timnya hanya ada 2. Jika tidak teman, ya kita musuh!" ujarnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Tim Olah Raga terbagi menjadi 2. Tim putih dan tim merah, sesuai dengan ikat kepala yang mereka kenakan. Pembagian tim berdasarkan kelas. Tiap tingkat terdiri dari 4 kelas, yang dibagi menjadi dua kelas untuk tim putih dan dua kelas sisanya tim merah. Jadi totalnya, satu tim terdiri dari 6 kelas.
"Ta-tapi... syukurlah, kita semua bisa satu tim." ujar Hinata senang dengan wajah memerah.
Tenten menggerakkan tangannya menunjuk segerombolan siswi yang membentuk pola lingkaran di tengah lapangan dan berkata. "Ngomong-ngomong, cukup mengagetkan mereka semua juga satu tim dengan kita?"
Sakura memincingkan matanya agar dapat lebih jelas melihat apa yang sedang di lakukan siswi-siswi itu di tengah lapangan. Hal pertama yang dilihatnya adalah 7 orang pemuda yang tidak asing di penglihatannya yang kini sedang di buat repot oleh siswi-siswi itu.
Alis Sakura naik sebelah, ia bingung. Bukan karena para pemuda yang sedang di kerubuni siswi-siswi itu, melainkan ikat kepala yang mereka kenakan sama dengan miliknya.
"Jadi kami semua satu tim." batinnya.
Sepertinya Sakura lupa jika Naruto, Kiba, Sasuke dan Shikamaru satu kelas dengannya dan secara otomatis akan satu tim dengannya juga. Gaara adik kelasnya yang suatu kebetulan kelas Gaara juga termasuk ke tim yang sama dengannya. Dan terakhir Neji dan Sai yang juga kebagian tim yang sama dengannya. Atau jangan-jangan ini ulah sensei mereka lagi, Kakashi?
"Hoi-hoi... jangan melupakan kami?" dari arah kerumunan siswa muncul Kankuro, Lee dan Choji yang berjalan mendekati para gadis.
"Eh, kita juga satu tim?" tanya Sakura terkejut saat melihat ikat kepala merah yang di gunakan Kankuro, Lee dan Choji.
"Ya Sakura. Jika kau satu tim dengan Ino dan Tenten-senpai, berarti kami juga termasuk di dalamnya." jelas Choji.
Sakura hanya mengerutkan alisnya dan sedikit menelengkan kepalanya ke samping, pertanda ia tidak mengeti maksud perkataan Choji.
Melihat reaksi Sakura, membuat mereka semua hanya bisa menghembuskan nafas dalam. Gadis ini benar-benar tidak tahu dunia luar selain dunianya saja.
"Aku, Ino dan Choji satu kelas, Sakura." jelas Kankuro sambil memijit pelan pelipisnya yang sedikit berdenyut melihat ke polosan adik sepupu merah mudanya.
"Aku dan Lee satu kelas, Sakura." jelas Tenten. Sakura menolehkan kepalanya ke Lee yang sedang mengacungkan jempolnya dan tersenyum ala Mr. Nice Guy.
Sakura hanya menganggukkan kepalanya mengerti mendengar penjelasan dari Kankuro dan Tenten.
"Tapi..." Ia menatap Kankuro dan Tenten serius. "kenapa aku tidak pernah melihat kalian semua besama?" tanyanya bingung.
Mendengar pertanyaan polos dari Sakura, mereka kembali menghembuskan nafas serempak. Kepolosan gadis merah muda ini sudah melewati batas ke normalan.
Greb
Ino mencubit hidung Sakura dan sedikit menariknya gemas. "Kau itu benar-benar polos atau bodoh, sih Sakura?!"
"I-ino sakit!" erang Sakura. Apa yang salah dengan pertanyaannya. Bukankan kata pepatah 'malu bertanya sesat di jalan.' dari pada penasaran lebih baik bertanya, 'kan?
"Woi-Woi.. Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Naruto dari jauh saat mendengar Sakura mengerang kesakitan dan berusaha membuka jalan dari kerumunan siswi-siswi yang melingkarinya.
Dengan usaha yang cukup keras akhirnya Naruto berhasil membuka jalan dan berlari kecil menghampiri Sakura yang masih mengerang kesakitan, di ikuti pemuda yang lain di belakangnya.
Karena di tatap Naruto dan pemuda yang lain tajam, Ino melepaskan cubitannya dari hidung Sakura. "Berhentilah menatapku seperti itu! Seakan kalian ingin menerkam ku saja." keluhnya.
Gadis merah muda itu hanya memegangi hidungnya yang baru saja di tarik Ino, namum tatapannya teralih pada sosok berbulu putih di dekat Kiba.
"Akamaru!" teriaknya saat melihat Akamaru di sebelah Kiba. "bagaimana kau bisa masuk kemari?" tanyanya sambil mengelus bulu Akamaru lembut.
"Aku sudah mendapat izin dari Tsunade-sama untuk membawa Akamaru kemari." jelas Kiba.
"Para peserta lomba di harap segera berkumpul di lapangan. Perlombaan pertama akan segera di mulai!" suara keras yang bergema dari speaker sekolah menghentikan semua aktifitas siswa-siswi dan secara serempak mereka berjalan menuju tempat yang telah disebutkan.
~~Clover's Cafe~~
"Para muridku yang bersemangat, kobarkan semangat masa muda kalian!" di tengah lapangan terlihat Gai guru Olah Raga yang berteriak kencang. "silakan ambil kertas di dalam kotak berdasarkan warna tim kalian!" perintahnya sambil menunjuk dua kotak yang berada di sisi lapangan.
Sesuai instrusi dari Gai semua murid antri dan mengambil kertas satu persatu. Sakura yang sudah mengambil kertas lebih dulu dengan perlahan membukanya.
"Player." gumamnya saat membaca tulisan yang tercetak di kertas.
"Apa kalian sudah mengambil kertas kalian masing-masing?" tanya Gai dengan suara keras dan di jawab teriakkan oleh siswa-siswi. "jika di kertas tertulis Player, artinya kalian akan menjadi peserta dalam lomba." lanjutnya.
Sakura menautkan alisnya, ia mendapat kertas bertuliskan Player berarti ia akan ikut perlombaan pertama. Uh, padahal ia hanya ingin menjadi penonton saja.
"Lomba pertama adalah Dodgeball. Tiap tim terdiri dari 10 peserta. Peraturannya mudah. Siapa yang terkena lemparan bola di anggap keluar dari perlombaan, dan bagi perserta yang bisa mendapatkan bola silakan melepar bola pada tim lawan. Tim terakhir yang masih memiliki peserta yang tersisa dia lah pemenangnya." jelas Gai.
Sakura meremas kuat kertas di tangannya. Ia tidak begitu baik dalam bidang Olah Raga dan bisa ditebak ia akan menjadi incara tim lawan.
"Sakura-san kau mendapat giliran pertama lomba, kan?" tanya Hinata yang tadi sempat membaca tulisan di kertas Sakura.
Sakura menelan air liurnya. "I-iya."
Deg
7 orang laki-laki di sana langsung menolehkan kepalanya cepat ke arah Sakura. "Ini berbahaya untuk Sakura." batin mereka bersamaan.
"Wah, kau tidak beruntung Sakura. Ikut dalam perlombaan yang cukup berbahaya." ujar Tenten sambil menepuk bahu Sakura berusaha memberikan semangat kepada juniornya.
"Aaaaaah! Andai aku juga peserta. Aku pasti akan melindungi mu Sakura-san!" teriak Lee kecewa.
"Tenang!" suara Naruto menarik perhatian semuanya. "Aku yang akan melidungi Sakura-chan!" Lanjutnya sambil menunjukkan kertas bertuliskan Player.
"Cih, bukan hanya kau yang akan ikut berlomba bodoh!" cibir Kiba sambil memperlihatkan kertas miliknya yang juga bertuliskan Player.
Sai tersenyum dan memperlihatkan kertas miliknya yang juga bertuliskan Player.
"Mari bekerjasama."
Gaara menghampiri Sakura dan menyodorkan kertas miliknya.
"Player." baca Sakura, dengan cepat Sakura mendongakkan kepalanya melihat Gaara dan di balas anggukkan kepala oleh Gaara.
"Para peserta di harapkan segera bersiap-siap!" teriak Gai.
Sakura menghelakan nafasnya kuat, ia akan sengaja terkena bola saat siswi yang melempar bola agar ia segera keluar dari perlombaan. Ya itu rencana yang bagus.
Semua peserta sudah berada di posisi masing-masing. Saling berhadapan dan melempar pandangan tajam. Tak ada yang mau mengalah, kecuali gadis dengan helai merah muda, Sakura.
"Apa kalian tidak merasa aneh?" tanya Ino sambil memperhatikan posisi timnya, tim merah.
"A-apanya yang aneh, Ino-san?" tanya Hinata balik.
Ino sedikit memicingkan matanya. "Posisi Naruto, Gaara, Kiba dan Sai seakan sedang melindungi Sakura?" ujarnya. Sakura berada di barisan belakang bersama 2 siswi lainya tapi di depan Sakura berdiri Naruto, Gaara, Kiba dan Sai yang seakan menjadi perisai melindunginya dari lawan mereka.
Semuanya hanya diam tidak ada yang menjawab pertanyaan Ino. Hanya Ino, Tenten dan Lee yang tidak mengetahui bahwa Sakura bekerja sebagai pelayan di Clover's Cafe.
"Mungkin hanya perasaanmu saja." ujar Temari sambil mengangkat kedua bahunya.
"Kalian siap?" tanya Gai sambil bersiap melempar bola yang dijawab anggukkan kepala oleh para peserta. "Perlombaan pertama Dodgeball DIMULAI!" teriaknya sambil melempar bola ke tim putih yang memang mendapatkan giliran pertama.
Dari tim putih terlihat seorang siswa yang bertubuh besar mengambil ancang-ancang bersiap melempar bola putih seukuran bola Volly.
Syutt
Bruk
Lemparan pertama sukses mengenai wajah salah seorang siswa dari tim merah.
"Kau keluar!" teriak Gai sambil menunjuk siswa yang terkena lemparana bola.
Siswa itu mengeluh kesakitan dan perlahan keluar dari area lomba.
"Pasti sakit." batin Sakura saat memperhatikan siswa itu berjalan keluar lapangan.
"Jangan cemas Sakura..." bisik Kiba saat menyadari wajah takut gadia itu.
"Kami pasti akan melindungimu!" lanjut Naruto yang di ikuti anggukkan kepala oleh Gaara dan Sai.
"Karena bola berhasil di tangkap tim merah, maka selanjutnya tim merah yang akan melempar bola." jelas Gai.
Naruto menerima bola yang di berikan siswa anggota timnya dan memperlihatkan seringaian jahat ke arah tim putih.
"Ayo, segera akhiri perlombaan ini!"
.
.
.
Setengah jam sudah berlalu dan kini peserta yang tersisa hanya tinggal Naruto, Kiba, Gaara, Sai dan Sakura dari tim merah, sedangkan tim putih hanya tersisa satu peserta yaitu siswa bertubuh besar yang mendapat giliran pertama melempar bola. Dan bola sekarang berada di tim putih.
Kiba mengusap kasar keringatnya yang mengalir "Cih, hebat juga dia!" pujinya karena dari tadi siswa itu selalu berhasil menghidari lemparan bola mereka.
"Siswa itu adalah salah satu pemain Dodgeball yang di akui sekolah." jelas Neji dari sisi luar lapangan.
"Pantas saja, ia selalu berhasil menghidari bola." ucap Sai yang kondisinya tidak beda jauh dari Kiba.
Siswa itu menyeringai. "Sudah terlambat mengetahuinya." ujarnya meremehkan. "dan sekarang incaranku adalah... dia!" siswa itu melempar kuat bola di tangannya yang di arahkan tetap menuju Sakura.
Syutt
Sakura menutup kelopak matanya bersiap menerima lemparan bola.
Bruk Bruk
Suara bola yang membentur kuat terdengar oleh Sakura, tapi anehnya kenapa ia tidak merasakan sakit sama sekali. Dengan pelan ia membuka kelopak matanya dan dapat dilihatnya Naruto dan Kiba terjatuh tepat di depannya.
"Kalian keluar!" teriak Gai sambil menunjuk Naruto dan Kiba.
Sepertinya sebelum bola itu mengenai Sakura, Naruto dan Kiba sama-sama melindungi Sakura yang mengakibatkan Naruto dan Kiba saling bertabrakkan dan terkena lemparan bola.
"Naruto... Kiba..." gumam Sakura lirih.
"Saku fokus!" Perintah Gaara. "sepertinya siswa itu akan mengincarmu lagi." lanjutnya sambil menatap tajam siswa bertubuh besar di depannya.
"Aku tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya kalian ingin melindungi gadis kampung itu," ujar siswa itu dan kembali bersiap melempar bola. "kalau begitu rasakan ini!" dengan kecepatan melebihi sebelumnya siswa itu melempar bola yang lagi tepat di arahkan ke Sakura.
Syuut
Bruk
Kali ini giliran Gaara yang menahan bola itu dengan tubuhnya agar tidak mengenai Sakura.
"Kau keluar!"
"Gaara!" pekik Sakura panik.
Gaara mengibaskan tangannya. "Aku tidak apa, Saku." ujarnya dan perlahan keluar dari lapangan.
"Wah.. Wah.. Kalian benar-benar melindungi gadis kampung itu ternyata. Kalau begitu bagaimana dengan ini?!" lagi, siswa itu melempar bola dengan kecepatan yang tidak kalah dari sebelumnya.
Syuut
Bruk
Kedua manik Emerald Sakura membulat begitu juga semua yang menonton. Dengan cepatnya Sai menarik tubuh Sakura sehingga ia yang menggantikan Sakura terkena lemparan bola.
"Kau keluar!"
Sakura menghampiri Sai. "Sai, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Sai tersenyum. "Aku tak apa, tapi maaf jadi tidak bisa melindungimu lagi, Sakura." ujarnya lirih.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Maaf, sudah merepotkan kalian." ujarnya sedih melihat pengorbanan teman-temannya.
"Hoi, cepat keluar! Aku harus segera mengakhiri perlombaan ini." teriak siswa bertubuh besar tidak sabar.
Perlahan Sai berdiri dan berjalan keluar lapangan dengan tatapan tidak suka yang di tujukan kepada siswa sombong bertubuh besar yang menatapnya remeh.
"Pelankan leparanmu! Lawanmu hanya tinggal satu perempuan!" teriak Ino cemas dari sisi lapangan.
"Ku bunuh kau kalau sampai melukai Sakura-chan!" teriak Naruto tidak kalah kencang.
"Cih, berisik! Aku tidak pernah setengah-setengah dalam perlombaan." ujar siswa itu dan bersiap melempar bola. "rasakah ini gadis kampung!"
Syuut
Bola itu melaju dengan kecepatan melebihi lemparan-lemparan sebelumnya dan sukses membuat Ino, Hintata, Temari dan Tenten berteriak menutup mata. Sedangkan para pemuda hanya mengeram marah.
"Ce-cepat sekali!" batin Sakura panik, sudah tidak ada tempat untuk menghindar dan jalan satu-satunya hanya mundur ke belakang. Sakura yang mundur ke belakang dengan panik membuatnya tersandung kakinya sendiri dan...
Bruk
Jatuh terduduk. Tapi akibat ia terjatuh, bola yang dilepar berhasil ia hindari.
"Bola berhasil di hindari dan sekarang bola berada di tim merah!" teriak Gai yang diikuti helaan nafas lega dari teman-teman Sakura.
"Syukurlah." ujar Hinata lega karena Sakura berhasil menghindari bola.
"Tapi. Ini jadi masalah sekarang. Jika lemparan Sakura meleset maka siswa itu akan kembali mendapat giliran melempar, dan aku tidak yakin selanjutnya Sakura akan berhasil menghindari lemparanya." ujar Temari sambil menatap adik sepupunya khawatir.
Sakura menerima bola yang diberikan Gai padanya dan bersiap melempar bola.
"Aku tidak yakin lemparanku akan mengenainya, tapi semoga ada keajaiban." batin gadis itu dan mulai melempar bola. "Hyaaaaaa!"
Siswa bertubuh besar itu mendengus remeh saat melihat lemparan Sakura yang menurutnya sangat lamban.
"Kalau cuma segitu aku bisa dengan mudah mengindari—"
Deg
Perkataan siswa itu terpotong dan tubuhnya kaku tidak bisa bergerak, saat dirasanya ada aura membunuh yang begitu kuat terarah langsung padanya. Dengan wajah yang memucat di tolehkannya kepalanya dengan gerakan pelan ke samping, kearah sumber aura membunuh. Dan benar saja, aura-aura kuat itu berasal dari 7 orang pemuda yang terkenal sebagai siswa paling diincar di KSHS.
Dengan susah payah diteguknya air liurnya sendiri dan mungkin hanya perasaannya saja, tapi ia bisa mendengar suara teriakkan batin dari 7 orang pemuda itu.
"Jika kau bergerak kau akan MATI!"
Bruk
Karena terlalu takut, siswa bertubuh besar itu hanya diam terpaku di tempat dan dengan mulusnya bola lemparan Sakura yang menurutnya lamban sukses menghantam wajahnya dan siswa itu jatuh pingsan tak sadarkan diri. Entah oleh lemparan bola yang di terimanya atay karena ketakutan.
"..."
Semua orang terdiam tidak percaya dengan apa yang sudah mereka lihat termasuk orang yang melempar bolanya sendiri. Bagaimana mungkin siswa bertubuh besar dan salah satu pemain Dodgeball yang di akui sekolah, jatuh pingsan karena lemparan lemah dari seorang siswi.
"Kau keluar!" teriak Gai mengembalikan kesadaran semua orang kembali ketempatnya masing-masing. "Pemenang perlombaan pertama TIM MERAH!" lanjutnya.
Semua anggota tim merah berteriak senang, begitu juga teman-teman Sakura yang langsung mengerubuninya.
"Kau hebat Sakura!" puji Ino.
"Ya-yang tadi itu keren sekali." tambah Hinata.
"Semangat masa muda yang sangat membara!" teriak Lee kencang.
Sakura yang di puji hanya bisa tersenyum malu dengan kedua pipi yang sudah merona.
"Itu hanya kebetulan."
"Semua murid silakan kembali ke lapangan atletik lari. Perlombaan selanjutnya akan di adakan di sana!" perintah Iruka.
Dengan teratur siswa-siswi kembali ke lapangan tempat mereka berbaris tadi yang kini sudah disulap menjadi lapangan untuk lomba lari.
"Lomba selanjutnya adalah lari," ujar Iruka selaku wasit di lomba ini. "lomba lari ada dua sesi. Lomba lari jarak pendek dan lomba lari jarak jauh, putra-putri." lanjutnya.
Iruka menunjuk 6 buah kotak di depannya, 3 berwarna putih dan 3 berwarna merah. "Lomba pertama lari jarak pendek. Sama seperti sebelumnya tiap peserta silakan mengambil satu kertas berdasarkan kelas masing-masing, tiap tingkat akan di pilih satu orang perwakilan jadi total peserta ada 6 orang. Penentuan pemenang berdasarkan akumulasi nilai urutan Finish mulai dari yang tertinggi 6 sampai yang terendah 1." jelasnya.
Sesuai perintah Iruka, semua siswa-siswi berbaris dan mengambil kertas berdasarkan tingkatan kelas mereka. Dengan gugup Sakura mengambil kertas dalam kotak dan ia berdoa semoga bukan ia yang terpilih. Setelah mengambil satu kertas dengan pelahan Sakura membukanya berharap hanya kertas kosong yang diambilnya. Kosong, kertas yang diambil tak bertuliskan apapun, kali ini bukan ia peserta lombanya.
Di sebelah Sakura, Hinata menghelakan nafasnya dengan cukup berat.
"Ada apa Hinata?" tanya Sakura cemas.
Hinata menundukkan kepalanya dalam. "A-aku peserta lomba lari." ujarnya sambil memperlihatkan kertas bertuliskan Player di tangannya.
Sakura menatap Hinata khawatir. Hinata memiliki tubuh yang lemah, jika di paksa berlari bisa-bisa tubuhnya tidak kuat.
"Para peserta lomba putra di harap segera bersiap di garis Start!" perintah Iruka.
"Hoa~ merepotkan." ucap Shikamaru yang ternyata menjadi peserta lomba.
Ino menatap Shikamaru sinis. "Woi, pemalas! Bersemangatlah sedikit!"
Shikamaru hanya menatap Ino sekilas dan berjalan menuju garis Start tanpa mempedulikan Ino yang berteriak kesal di belakangnya.
Sakura tertawa hambar melihat dua sahabat sejak kecil itu. "Sabar, Ino!" ujarnya berusaha menenangkan Ino.
"Neji kau mau ke mana?" tanya Naruto yang melihat Neji berjalan menjauh.
Tanpa menoleh Neji memperlihatkan kertas miliknya yang bertuliskan Player. Dan di balas anggukkan kepala oleh Naruto.
Kini para peserta putra sudah bersiap di posisi mereka masing-masing dengan ancang-ancang siap berlari.
Iruka mengangkat tangan kanannya yang memegang sebuah pistol mainan. "Bersedia... Siap..."
Dor!
Setelah letusan pistol semua peserta berlari dengan kecepatan maximum mereka.
"Ketua cepat sekali!" puji Sakura melihat Neji yang memimpin lomba. Semenjak menjadi assisten Neji, Sakura jadi terbiasa memanggilnya Ketua.
"Woi, Shika apa yang kau lakukan? Ayo lari!" teriak Naruto dan Kiba bersamaan. Bagaimana tidak, saat semua peserta berlari dengan kencangnya Shikamaru hanya berlari ala kadarnya(?) Dan sesekali menguap bosan.
Perlombaan terus berlanjut yang kini masih di pimpin oleh Neji di posisi pertama, disusul 2 peserta dari tim Putih dan di belakang sekali ada Shikamaru.
"Finish!" teriak Iruka kencang dan mulai mengakumulasikan nilai. "Pemenang lomba lari jarak pendek putra, TIM PUTIH!" lanjutnya setelah selesai menghitung.
"Ah! Shika kenapa kau larinya lamban sekali? Padahal Neji sudah meraih tempat pertama." cibir Naruto kesal.
Shikamaru hanya memutar bola matanya bosan. "Merepotkan." katanya malas membuat Naruto dan Ino makin berteriak kesal.
"Para peserta lari putri silakan mengambil posisi masing-masing!"
Mendengar suara teriakkan Iruka, membuat Hinata cemas begitu juga Sakura yang memperhatikannya.
"Hinata-sama, anda tak perlu memaksakan diri. Anda minta digantikan saja dengan yang lain." saran Neji yang menyadari gelagat aneh sepupunya.
Hinata menggelengkan kepalanya pelan. "A-aku ingin mencoba mengikuti lomba." ujarnya.
"Tapi Hinata-sama tubuh—"
Perkataan Neji terpotong saat Temari muncul dan menepuk bahu Hinata pelan. "Berusahalah semampumu," ujarnya sambil memperlihatkan kertas miliknya yang bertuliskan Player. "sisanya serahkan padaku!" lanjutnya yang dibalas senyuman dari Hinata.
Neji hanya bisa diam, Hinata sudah membulatkan tekatnya. Sedangkan Sakura hanya memandang punggung Temari dan Hinata yang berjalan menuju garis Start.
"Berjuanglah..." bantinya khawatir.
"Bersedia... Siap..."
Dor!
Temari berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan peserta lain jauh di belakangnya.
"Temari-nee, kau cepat sekali!" teriak Sakura kagum. Tidak disangka Temari yang tegas ternyata jago Olah Raga.
Sementara itu Hinata tertinggal jauh di belakang. Wajahnya sedikit memucat dan terlihat ia mulai kesulitan bernafas dan...
Bruk
Hinata terjatuh yang membuat semua yang melihatnya panik dan ingin menolongnya.
"Hinata-sa—" pergerakan Neji yang ingin menghampiri Hinata terhenti saat tangan munyil Sakura menahannya.
Dengan cepat Neji menolehkan kepalanya dan alisnya sedikit mengerut melihat ekspresi khawatir yang terlihat jelas di wajah gadis itu.
"Hinata pasti bisa." gumam Sakura dan membuat teman-temannya yang panik jadi diam di tempat.
Neji bisa merasakan tangan Sakura yang menggenggam lengannya bergetar. "HINATA BERDIRI!" teriak Sakura kencang yang membuat siswa-siswi lain menatapnya aneh. "JANGAN MENYERAH, KAU BILANG INGIN MENCOBANYA. SELESAIKAN SEMUA SAMPAI AKHIR!" lanjutnya. Mendengar Sakura yang berteriak menyemangati Hinata membuat siswa-siswi lain ikut menyemangati Hinata juga.
"Ayo, Hyuga-san berdiri!"
"Hinata berjuanglah sampai akhir!"
Neji menatap takjub Sakura dan lengkungan tipis terukir di bibirnya. Tangan kirinya yang bebas bergerak menggenggam tangan Sakura yang bergetar.
"HINATA!" teriak Neji kencang, baru kali ini ia memanggil Hinata tanpa embel-embel –sama. "HYUGA TAK PERNAH MENYERAH!" lanjutnya tegas.
Hinata yang terjatuh dengan pelan kembali berdiri dan kini tatapan matanya terlihat serius. Walau agak kesulitan ia mulai berlari mengejar ketertinggalannya.
"Semua orang mendukungku, aku tidak boleh menyerah!" batin gadis cantik bermarga Hyuga bersemangat dan mempercepat larinya.
"Finish!" teriak Iruka dan mulai menghitung akumulasi nilai. "Pemenang lomba lari jarak pendek putri, TIM MERAH!" lanjutnya. Hasil akhir Temari berada di tempat pertama, satu siswi lagi di tempat ketiga dan Hinata berada di tempat ke kelima membuat tim merah meraih nilai lebih tinggi.
"Hinata!" panggil Sakura yang berlari menghampiri Hinata di ikuti yang lain. "Kau hebat sekali!" pujinya.
Hinata yang sedang mengatur nafasnya yang terasa pendek menatap Sakura. Dan langsung memeluknya. Sedangkan Sakura yang terkejut hanya bisa diam.
"Hohs... Te-terima kasih, Sakura..." ujar Hinata senang sambil menangis. Sakura tersenyum dan balas memeluk Hinata. Semua yang melihat mereka jadi ikut tersenyum senang.
"Persahabatan yang indah. Aku jadi bersemagat!" teriak Lee terharu yang dihadiahi pukulan di kepalanya oleh Tenten.
"Berisik!"
"Perlombaan lari jarak jauh akan segera di mulai. Aturannya sama seperti lari jarak pendek, hanya saja peserta lari jarak pendek tidak bisa mengikuti lomba lagi." jelas Iruka.
Semua murid kembali berbaris dan mengambil kertas mereka. Hinata yang kelelahan beristirahat di bawah tenda kesehatan yang disiapkan sekolah untuk situasi seperti ini, bersama Neji.
Sakura kembali berdoa, semoga bukan ia yang terpilih. Dan untungnya, ia bukan peserta lomba.
"Akhirnya setelah menunggu tiba juga giliranku. Aku tidak akan kalah dari Hinata, semangat!" teriak Lee penuh semangat yang menjadi peserta lomba.
Ino yang melihat tingkah Lee mendengus. "Aku juga peserta lomba." cibirnya.
"Peserta lomba lari jarak jauh putra silakan mengambil posisi masing-masing!"
Mendengar perintah dari Iruka membuat Lee berteriak kencang, dan dengan tidak sabarnya ia berlari menuju garis Start. Di belakang Lee ada Sasuke yang hanya mendengus kesal melihat tingkah norak seniornya. Sial baginya, ia juga mendapat kertas bertuliskan Player.
"Sasuke-kun juga peserta?" tanya Sakura yang di jawab anggukkan kepala oleh Naruto.
"Apa Sasuke akan berlari?" tanya Sai sambil memperlihatkan senyuman biasanya.
"Bersedia... siap..."
Dor!
Dengan cepat semua peserta berlari dipimpin oleh Lee yang terus berteriak kencang. Dan sesuai dugaan Sai, Sasuke hanya diam di tempat dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana Olah Raga-nya.
"Ha! Ada apa dengan Uchiha itu? Kenapa dia hanya diam di tempat?" tanya Ino tidak percaya dengan apa yang dilakukan laki-laki tampan yang hanya berdiam diri di tempat.
"Teme itu jago Olah Raga terutama lari, tapi dia tidak suka memperlihatkannya di depan banyak orang." jelas Naruto yang membuat semua orang Sweatdrop.
Sakura mengangkat tangannya tinggi dan mengibas-ngibaskannya di udara. "Sasuke-kun!" panggilnya. "jika kau tetap di sana, kau akan kalah dari Lee-senpai!" lanjutnya.
Pelipis Sasuke berkedut mendengar perkataan sang gadis musim semi. Kalah? Yang benar saja, Uchiha tak pernah kalah dari siapa pun. Apa lagi hanya dalam lomba tidak berguna seperti ini, mau di kemanakan nama besar keluarganya. Dengan tiba-tiba Sasuke berlari kencang menyusul peserta lain di depannya dan sekilas ia melirik Sakura yang terus berteriak menyemangatinya juga Lee, tapi hanya namanya saja yang terdengar oleh Sasuke.
Lengkungan tipis tercipta di bibir pemuda emo itu. "Dasar gadis menyebalkan!" batinnya dan semakin mempercepat larinya mengejar satu persatu peserta lain.
"Finish!" teriak Iruka dan kembali menghitung total nilai. "Pemenang lomba lari jarak jauh putra, TIM MERAH!"
Masih dengan mengatur nafasnya, Lee mendekati Sasuke. "Kau hebat Uchiha! Dengan jarak sejauh itu kau bisa mengejarku dan mengalahkan ku." pujinya. Di detik-detik terakhir Sasuke berhasil mengejar Lee dan meraih tempat pertama di ikuti Lee di belakangnya.
Sasuke hanya menatap Lee dan perlahan berjalan menghampiri teman-temannya yang masih bersorak atas kemenangan tim mereka. Ia terus berjalan dan berhenti tepat di depan Sakura.
"Aku menang." kata Sasuke datar.
Sakura hanya diam, tidak mengerti dengan perkataan Sasuke. "Ah! Selamat!" hanya kata-kata itu yang terlintas dibenaknya.
"Peserta lomba lari jarak jauh putri segera bersiap di posisi masing-masing!"
"Ino bersemangatlah!" ujar Sakura menyemangati Ino yang di balas anggukkan mantap dari Ino.
Perlahan Ino mengambil posisinya, ia yakin akan menang. Jika hanya lari seperti ini, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan menu latihannya tiap pagi sebagai foto model remaja.
"Bersedia... siap..."
Dor!
Sesuai dugaan Ino, ia memimpin lomba meninggalkan jauh peserta lain. Kemenangan sudah ada di depan mata.
"Finish!" teriak Iruka. "Pemenangnya, TIM PUTIH!"
Ino menolehkan kepalanya cepat dan menghampiri Iruka. "Sensei, bukannya aku yang mendapat tempat pertama, tapi kenapa timku bisa kalah?" Protesnya tidak terima.
Iruka memperlihatkan catatan nilai miliknya. "Kau memang meraih tempat pertama Yamanaka, tapi tidak dengan dua rekanmu yang lain." jawabnya.
Ino terdiam. Kedua peserta lain dari timnya meraih dua posisi terendah yang membuatnya kalah karena nilai tim putih lebih tinggi darinya.
"Meraih posisi pertama memang penting. Tapi ini perlombaan yang membutuhkan kerjasama tim, jangan lupa kau tidak bertanding sendiri." ujar Iruka menasehati Ino yang tadi sempat terlalu percaya diri sehingga melupakan teman-temannya.
"Ino!" teriak Sakura yang menghampirinya.
Ino menatap Sakura sedih. Sakura balik menatap Ino, ia tahu sahabanya ini pasti kecewa. "Tidak apa-apa Ino," Sakura menepuk bahu sahabat baiknya itu berusaha memberinya semangat. "menang atau kalah itu hal yang biasa, yang penting kau sudah berusaha dengan seluruh kemampuanmu." lanjutnya. Ino memeluk Sakura di ikuti isakan kecil kekecewaan.
"Perlombaan di hentikan dulu. Tiap siswa silakan beristirahat!" suara pengumuman bergema dari speaker sekolah.
Semua siswa-siswi berpencar pergi ke kantin atau mencari tempat untuk menikmati bekal yang mereka bawa, begitu juga dengan Sakura dan teman-temannya. Kini mereka sedang duduk bersantai sambil menikmati bekal bawaan mereka-walau sebagian tidak membawa-di bawah pohon momiji yang sudah tak berdaun.
"Hinata, kau yakin sudah lebih baik?" tanya Tenten saat melihat Hinata duduk di sebelahnya bersama Neji.
Hinata tersenyum. "Aku sudah merasa lebih baik." ujarnya sambil membuka kotak bekal mewah yang dibawanya.
Semua mata berbinar kagum melihat makanan yang di bawa Hinata. Karena Hinata sudah membuka bekalnya, satu persatu dari mereka mulai membuka bekal mereka masing-masing, kecuali Sakura yang malu karena masakan buatannya kalah jauh dibandingkan makanan mewah milik teman-temannya.
"Sakura, kau tidak membawa bekal?" tanya Temari yang menyadari Sakura hanya memperhatikan mereka.
Sakura memalingkan wajahnya. "A-aku... bangun kesiangan tadi Temari-nee." dustanya.
"Sakura-chan!" panggil Naruto yang duduk di sebelah Ino.
Dengan cepat Sakura menolehkan kepalanya dan -Hap, sebuah telur dadar gulung masuk ke dalam mulutnya.
Dua alis milik gadis merah muda saling bertautan menandakan ia tidak mengerti dengan apa yang di lakukan pemuda pirang ini tapi ia tetap mengunyah telur dalam mulutnya. "Rasanya enak." pikirnya.
Melihat ekspresi Sakura yang mulai menikmati makanannya, Naruto tersenyum lebar. Ada rasa puas dan bangga bisa membuat gadis yang disukai senang. Ya, Naruto tak menyadari saja ekspresi iri dan kesal dari beberapa teman laki-lakinya.
"Kaa-chan bilang, aku harus membagi bekalku dengan Sakura-chan."
Sakura tersenyum. "Terima kasih Naruto. Rasanya enak." ucapnya.
Ino mengerutkan dahi. "Ada yang aneh dengan hubungan mereka?" batinya. Ino yang duduk diantara Sakura dan Naruto memalingkan wajahnya ke samping dan tanpa sengaja melihat tas besar berwarna hijau muda di belakang Sakura.
"Apa ini?" tanya Ino dan mengambil tas di belakang Sakura. "kotak bekal." lanjutnya saat menyadari isi tas itu.
Sakura yang menyadari tas bekalnya sekarang berada di pangkuan Ino, langsung panik dan mengambilnya paksa.
"Sakura!?" Ino menatap Sakura tidak mengerti. "itu kotak bekal mu, kan?" tanyanya.
Sakura menundukkan kepalanya dalam. Ia tak bermaksud menyembunyikan bekal yang sudah susah payah dibuatnya untuk dimakan bersama teman-temannya, hanya saja ia malu jika melihat bekal yang dibawa teman-temannya. Apa masakannya cocok dengan selera orang kaya?
"Sakura?" panggil Ino lagi saat tidak mendapat respon apapun dari Sakura.
"Ano... Ini bekal yang ku buat untuk dimakan bersama tapi..." Sakura membuka satu persatu kotak bekalnya. "sepertinya tidak cocok dengan selera kalian." lanjutnya sedih.
Semua orang hanya diam dan memperhatikan kotak bekal Sakura. Tidak ada makanan spesial seperti milik mereka, hanya makanan normal seperti yang sering dibuat oleh kebanyakan orang. Dan bahan yang digunakan pun bukanlah bahan dengan kualitas terbaik melainkan bahan-bahan yang dikirim orang tua Sakura dari desa.
Set
Hap!
Tanpa di duga. Hampir di saat bersamaan Naruto, Sasuke, Sai, Kiba, Neji, Shikamaru dan Gaara mengambil satu masakan Sakura dan mengunyahnya perlahan.
"Em~ ini enak!" teriak Naruto bahagia.
Sasuke melirik Sakura. "Terlalu manis..." ujarnya pelan sambil memalingkan kepala. "tapi aku suka." lanjutnya.
"Ini cukup enak untuk ukuran gadis sepertimu." ejek atau puji Sai sambil tersenyum membuat kedua matanya menyipit.
"Merepotkan." celetuk Shikamaru tiba-tiba, mengejutkan mereka semua. "kau tak perlu menyembunyikannya." lanjutnya.
"Ini tidak buruk." ucap Neji masih dengan mengunyah makanannya.
"Kau harus lebih sering lagi membuat yang seperti ini, Sakura!" ujar Kiba. "apa kau mau coba juga, Akamaru?" tanyanya pada Akamaru yang dari tadi menatap lapar bekal Sakura
"Guk... Guk..." jawab atau gonggongan Akamaru mengiyakan pertanyaan majikkannya.
Melihat para pemuda di depan mereka menikmati masakan Sakura. Hinata, Temari, Tenten, Lee, Choji dan Kankuro ikut mencoba.
"Iya, ini enak." puji Tenten dan kembali mengambil satu lagi.
"Kau seharusnya mengatakan dari awal kalau kau bisa memasak Sakura!" ucap Choji. "mungkin aku dan Yamato-sensei akan sangat terbantu." lanjutnya.
Wajah Sakura memerah malu. Siapa yang tidak akan malu jika di puji bertubi-tubi seperti itu. Ia senang masakan sederhananya di sukai teman-temannya.
"Sakura, kelak kau akan menjadi istri yang baik." puji Kankuro membuat kedua pipi Sakura semakin memerah, juga beberapa laki-laki di sana. "aku jadi iri dengan calon suamimu."
Brusss!
Uhuk-uhuk!
"Hoi! ada apa dengan kalian?" tanya Kankuro marah yang di semprot air oleh Naruto dan Kiba secara bersamaan.
Dengan cepat Ino, Temari, Hinata dan Tenten memberikan minum pada Shikamaru, Sasuke, Sai, Neji dan Gaara yang tiba-tiba tersedak.
"Ka-kalian tidak apa-apa?" tanya Hinata khawatir.
"Kami tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut." jawab Neji mewakili yang lainnya.
"Makanya, jangan makan dengan terburu-buru seperti itu!" tegur Temari yang di jawab anggukkan kepala sebagian dari pemuda itu.
Choji yang menyadari ke anehan teman-temannya hanya bisa tersenyum. Dan mereka kembali melanjutkan makan yang sempat tertunda di hiasi canda tawa dan kekonyolan Naruto dan Kiba.
Kini semua siswa-siswi telah berkumpul di aula sekolah sesuai perintah yang mereka dengar. Terlihat beberapa siswa-siswi yang malah asik mengobrol.
"Mohon tenang semua!" suara keras Gai membuat semua orang terdiam. "kita akan segera memulai perlombaan berikutnya." lanjutnya sambil menyerahkan microfon kepada Shizune yang berdiri di sebelahnya.
"Apa makan kalian menyenang, kan?" tanya Shizune yang di jawab teriakan keras oleh siswa-siswi. "bagus jika begitu. Karena perlombaan kita selanjutnya akan memerlukan tenaga yang besar." lanjutnya.
Siswa-siswi yang mendengar jadi berbisik-bisik. Tenaga yang besar? Pasti lomba yang berat pikir mereka bersamaan.
"Perlombaan kita selanjutnya adalah..." Shizune sengaja mengantung kalimatnya, membuat siswa-siswi jadi berdebar-debar menunggu kelanjutannya. "catur!"
Semua orang terdiam dan sebagian melongok. Catur? Apa mereka tidak salah dengar. Sejak kapan catur jadi perlombaan Olar Raga?
"Perlombaan kali ini berbeda dari perlombaan sebelum-sebelumnya." ujar Shizune karena tidak mendapat respon apa pun dari siswa-siswi. "setiap tim di perbolehkan memilih sendiri siapa yang akan menjadi peserta dan peserta yang memenangkan perlombaan ini maka timnya akan yang akan memenangkan lomba." jelasnya.
"Aku tidak mau ikut!" keluh Naruto dengan tangan terlipat di belakang kepala. Catur, berarti akan memakai strategi dan tentu saja kemampuan berpikir. Maaf saja, ia tidak tertarik dengan hal itu.
"Tak ada yang memintamu untuk ikut." cibir Sasuke.
"Kalau kau, jangankan menang. Berhasil lolos seleksi saja aku tidak yakin." tambah Kiba.
Naruto mengembungkan pipinya kesal. "Tidak ada yang meminta pendapat kalian." kilahnya yang membuat semua orang tertawa.
"Shika?" tanya Sakura yang menyadari Shikamaru menguap bosan dan berjalan ke depan.
Mendengar Sakura meneriaki namanya, membuat Shikamaru berhenti berjalan. "Aku akan ikut lomba merepotkan ini." ujarnya dan kembali berjalan menuju tempat pendaftaran.
"Ada apa dengan tuan pemalas itu? Tidak biasanya ia tertarik dengan hal seperti ini." tanya Ino tidak mengerti, yang di ikuti anggukkan kepala yang lainnya.
Semua peserta lomba sudah duduk di posisi mereka masing-masing. Kebetulan, setiap tim mengirim lima orang peserta yang hampir semuanya laki-laki. Tim merah di wakili oleh Shikamaru, Neji dan sisanya mereka tidak kenal.
"Baiklah, sesi pertama di mulai!" teriak Shizune.
Semua peserta mulai berlomba. Sebagian terlihat tenang seperti Neji, ada juga yang terlihat gugup, atau yang terlihat berpikir keras dan ada juga yang terlihat menguap bosan sepanjang perlombaan, tebak sendiri siapa dia?
Lomba yang di penuhi ketenangan itu akhirnya mencapai babak final dan hanya menyisakan satu peserta dari tiap tim. Tim merah di wakili oleh Shikamaru dan tim putih diwakili oleh siswa yang berambut coklat klimis dengan sebuah kacamata minus cukup tebal menutupi matanya.
"Aku senang bisa bertanding melawanmu, Nara-senpai." ujar siswa itu sambil membenarkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot ke bawah.
Shikamaru hanya memandang bosan siswa di depannya, dan sepertinya siswa itu adik tingkatnya.
"Pertanding final DIMULAI!"
"Semangat Shika!" teriak Ino dan Naruto bersamaan menyemangati Shikamaru.
"Kau pasti menang!" tambah Kiba dan Lee.
"Gaara, bukankah siswa itu satu angkatan denganmu?" tanya Temari saat menyadari garis merah di celana siswa itu.
Gaara mengganggukkan kepalanya. "Ya." jawabnya. "ku dengar dia peraih nilai tertinggi saat tes masuk." jelas Gaara.
"Bu-bukannya siswa itu juga yang tadi mengalakan Neji-niisan?" tanya Hinata ragu-ragu.
"Siswa itu memiliki kemampuan strategi yang bagus." puji Neji dengan suara dingin. Sepertinya ia sedikit kesal karena sudah dikalahkan oleh siswa itu.
"Shika pasti menang," suara tegas Sakura menarik perhatian semuanya. "kita semua sudah tahu seberapa jeniusnya Shikamaru." ujarnya yakin.
Semua orang tersenyum mendengar perkataan Sakura. Ah, bagaimana mungkin mereka bisa lupa betapa jeniusnya tuan pemalas satu itu.
Perlombaan berjalan alot, siswa itu bukan lawan yang mudah dan kemampuannya bisa dikatakan di atas rata-rata. Sudah beberapa kali ia berhasil membuat Shikamaru terdesak.
"Kau memang hebat seperti gosip yang beredar, Nara-senpai," puji siswa itu. Tapi tak mendapat respon apa pun dari Shikamaru yang masih menatap bosan papan catur di depannya.
"Aku akan mengalahkan mu dan akan merebut posisi peraih nilai tertinggi, menggantikan mu, senpai!" Siswa itu menyeringai remeh. "Aku yang akan menjadi nomor satu!" lanjutnya sombong.
Posisi? Menggantikan? Nomor satu?
Posisi pertama putra Nara Shikamaru dan posisi pertama putri Haruno Sakura?
Menggantikan posisi?
Sakura?
Shikamarui menatap tajam siswa sombong di depannya. "Kau ingin menggantikan ku?" tanyanya remeh dengan seringaian tipis.
Wajah siswa itu memucat, aura senior di depannya berubah tidak seperti sebelumnya. Dan tatapan yang tadinya malas pun menajam seperti predator yang menemukan mangsanya.
.
.
.
5 menit kemudian
"Selamat pemenangnya... TIM MERAH!" suara Shizune menggema di ikuti tepuk tangan dan sorak-sorak tim merah, merayakan kemenangan mereka.
"Sial!" ujar siswa berkacamata frustasi. Padahal ia sudah hampir menang, tapi di 5 menit terakhir kakak tingkatnya itu dengan mudah membalik keadaan.
"Hoi!" panggil Shikamaru yang memandang bosan adik tingkat di depannya. "aku tidak peduli jika kau ingin berada di posisi pertama. Tapi, tak akan ku biarkan kau merebut posisi pertama siswa di daftar pengumuman bersebelahan dengan posisi pertama siswi!" lanjutnya dan berjalan pergi menuju kearah teman-temannya yang sudah menunggu untuk merayakan kemenangan tim merah.
Siswa itu hanya menatap tidak mengerti dengan maksud senior jeniusnya satu itu, tapi dalam hati ia mengakui kemampuan dan tekad seniornya. Ia tidak akan kalah, lain kali ia akan memenangkan pertandingan selanjutnya.
Shikamaru menghampiri Choji dan melakukan High Five bersamanya. "Yang tadi itu keren sekali, Shika!" puji Choji.
"Kau benar-benar si jenius ahli strategi." tambah Naruto di ikuti gonggongan keras Akamaru.
Shikamaru hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas pujian dari teman-temannya. Dan saat pandangannya terarah kepada gadis merah muda yang tersenyum manis kearahnya dan mengucapkan selamat, ia menghapirinya.
"Posisinya akan tetap seperti ini, kan?" tanya Shikamaru membuat orang yang mendengarnya mengangkat alis tidak mengerti, begitu juga gadis merah muda di depannya.
"A-ah, ya." hanya itu jawabannya karena ia sendiri tidak mengerti maksud pemuda di depannya.
"Semua siswa silakan menuju kantin sekarang!"
Suara keras dari speaker sekolah menghentikan aktifitas siswa-siswi di sana, dan secara tertib siswa-siswi itu berjalan menuju tempat yang di sebutkan tadi, walau sesekali terdengar bisik-bisik murid yang bertanya untuk apa mereka pergi ke kantin?
Saat tiba di kantin sekolah ternyata sudah di ubah seperti tempat lomba selanjutnya dengan banyak pita dan spanduk bertuliskan 'Lomba Olah Raga' yang terbentang lebar.
"Yo, anak-anak!" suara berat yang terdengar sangat femiliar di telinga Sakura menyambut ke datangan mereka di kantin.
"Apa kalian sudah siap untuk lomba berikutnya?" tanya suara itu yang tidak lain adalah Kakashi dengan senyuman dari balik maskernya.
"Ya!" teriak semua siswa kompak dan penuh semangat. Sepertinya sekarang mereka mulai menikmati lomba ini, walau pun di awal perlombaan banyak yang terlihat malas dan tidak berminat.
"Baguslah. Lomba selanjutnya adalah lomba makan Burger!" ujar Kakashi.
Semua siswa menatap tidak percaya. Lomba makan? Yang benar saja! Mereka belum lama selesai makan dan sekarang harus lomba makan. Apa sekolah ingin membunuh mereka dengan cara membuat mereka mati kekenyangan, hah?
"Peserta lomba boleh di tentukan sendiri oleh setiap tim, kalian cukup mengirim lima siswa dan lima siswi sebagai perwakilan, peserta yang paling banyak menghabiskan burger dalam waktu 15 menit timnya, lah yang menang." jelas Kakashi saat menyadari wajah protes siswa-siswinya.
"Aku tidak mau ikut lomba ini. Aku sedang program diet!" tegas Ino. Mau dipaksa pun ia akan menolak. Sebagai model remaja ia harus bisa menjaga bentuk tubuhnya.
"Aku mau-mau saja kalau makanannya ramen." ujar Naruto.
"Biarkan aku yang ikut lomba kali ini." ujar Choji tiba-tiba. "kebetulan aku masih lapar." lanjutnya sambil menepuk-nepuk perut besarnya.
"Aku juga akan ikut. Aku tidak mau kalah dengan kalian." sambung Kankuro. Ia sudah bosan menunggu gilirannya tampil.
"Serius? Apa kalian masih sanggup makan setelah tadi." tanya Kiba tidak percaya.
"Jangan remehkan kami!"
"Aku juga akan ikut." Tenten menepuk tangannya.
"Kau yakin Tenten?" tanya Lee.
"Menunggu terlalu lama membuatku lapar." Jawabnya dengan senyumm manis terukir.
"Setiap tim di harapkan segera mendaftarkan perwakilannya!" Teriak Kakashi mengingatkan tiap tim.
~~Clover's Cafe~~
Semua perserta duduk di bangku kantin yang di buat memanjang ke samping saling berhadapan dengan satu piring besar berisi burger yang tersusun tinggi ke atas.
"Kalian siap?" Tanya Kakashi dengan sebuah peluit di tangan kanan yang di jawab anggukkan mantap oleh semua peserta dengan tatapan tertuju pada piring.
Kakashi mendekatkan peluit ke mulutnya. "Bersedia... Siap..."
Pritt pritt!
Dengan cepat semua peserta mengambil burger dan memakannya. Teknik yang di gunakan tiap peserta berbeda-beda. Ada yang langsung mengambil dua buah burger, ada juga yang benepuk terlebih dahulu burger-nya agar lebih kecil dan mudah di makan, atau memakan burger sambil meneguk air untuk melancarkan burger melewati tenggorokannya.
Saat semua perserta menikmati makanannya, para penonton hanya terdiam dan sesekali meneguk air liur. Sungguh sulit membayakan terbuat dari apa lambung para peserta itu.
"Mereka bukan manusia..." Gumam Lee tidak percaya.
"Lambung mereka pasti terbuat dari karet." Tambah Naruto yang di ikuti anggukan kepala yang lain.
"Hoek! Aku tidak sanggup lagi..."
Satu persatu peserta menyerah, tak sanggup meneruskan makan. Dan kini hanya tersisa 4 orang peserta laki-laki, yang mana dua di antaranya adalah Choji dan Kankuro. Sedangkan peserta perempuan hanya meninggalkan Tenten.
"A-aku... Menyerah..." Salah seorang peserta mengangkat tangan kanannya tinggi, pertanda ia sudah tidak sanggup untuk melanjutkan lomba.
Kakashi memperhatikan jam tangan yang melingkar di tangannya dan memdekatkan peluit ke mulutnya.
"Waktu tinggal 10 detik." Teriakk Kakashi masing menatap jam tangannya. "5... 4... 3... 2... 1!
Prittttttt
"Lomba selesai!"
Semua peserta yang tersisa menghentikan gerakkanya walau mulut mereka masih bergerak-gerak mengunyah makanan yang masih ada di dalam mulut.
Kakashi di bantu Yamato menghitung sisa burger yang masih tersiss di piring dan mencatatnya.
"Baikalah semuanya kami akan mengumumkan pemenang lomba makan burger ini!" Teriakk Yamato membuat semua siswa-siswi terdiam. "Senpai!" Panggilnya sambil menyerahkan secarik kertas kepada Kakashi.
Kakashi menerima kertas yang di sodorkan Yamato dan bedehem pelan untuk mengembalikan suaranya.
"Sabaku Kankuro berhasil menghabiskan 30 burger," baca Kakashi. "Hasegawa Yuta menghabiskan 32 burger." Lanjutnya membaca.
Tim putih bersorak senang, karena nama siswa yang di sebutkan tadi berasal dari tim putih.
"Chao Tenten berhasil menghabiskan 28 burger." Tenten melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam tim putih yang terus bersorak.
"Terakhir Akimichi Choji menghabiskan..." Kakashi sengaja menggantung kalimatnya, membuat semua orang jadi penasara. "Menghabiskan 36 burger, dengan ini pemenangnya tim merah!"
Semua anggota tim merah melompak senang sebagian lagi bersorak-sorak senang merayakan kemenangan mereka.
Sementara itu di salah satu kursi yang di sediakan untuk para guru, ada kepala sekolah cantik yang terlihat masih sangat muda di usianya yang sudah lebih dari setengah abad dengan lengkungan tipis penuh arti terpahat indah di wajahnya.
"Shizune!" panggil Tsunade yang dari tadi hanya memperhatikan semua siswanya dari kursi depan.
Shizune menghampiri Tsunade dan ia sedikit membungkukkan badannya karena Tsunade akan membisikkan sesuatu.
"Kau mengerti?" tanya Tsunade sambil menjauhkan mulutnya dari telinga Shizune.
Shizune menatap tidak percaya wanita cantik di depannya. "Akan saya lakukan sesuai rencana anda, Tsunade-sama." ujarnya.
Perlombaan terus berlanjut seperti lomba tarik tambang, lomba memasukan bola ke dalam keranjang dan sebagainya. Semua siswa sangat menikmati lomba mereka.
"Itu adalah lomba terakhir kita, dengan ini total kemenangan tim putih lima kali dan tim merah sembilan kali." suara keras Gai yang sedang berdiri di podium di tengah lapangan Outdoor menjadi penutup lomba terakhir. "dan juara umum tahun ini TIM... MERAH!"
Semua tim merah melompat senang karena tim mereka menang, tidak terkecuali Sakura dan kawan-kawan.
Semua guru hanya tersenyum melihat murid-murid mereka bergembira. Sungguh hal yang sangat jarang melihat murid dengan gaya cuek dan sombong itu saling bekerjasama dan mendukung agar bisa meraih kemenangan. Mungkin setelah ini sekolah harus lebih sering membuat kegiatan seperti ini.
"Ehem," suara deheman Tsunade—yang sekarang sudah berdiri di podium menggantikan Gai, membuat siswa-siswi yang sedang merayakan kemenangan mereka berhenti.
"Selamat untuk tim merah," ujar kepala sekolah cantik itu. "untuk merayakan berakhirnya lomba Olar Raga, aku selaku kepala sekolah akan membuat satu perlombaan tambahan yang akan melibatkan tim merah dan guru." lanjutnya.
Semua murid hanya diam mendengarkan dan para guru terlihat berbisik-bisik membicarakan perkataan kepala sekolah.
"Para pesertanya sudah di tetapkan dan ini akan menjadi pertandingan yang menyenangkan." ujar wanita cantik itu percaya diri.
Naruto melipat kedua tangan ke belakang kepalanya. "Lomba lagi? Malas, ah!"
Pelipis Tsunade berkedut, dengan keadaan diam seperti ini. Suara sekecil apa pun pasti akan terdengar olehnya.
"Bagi peserta yang namanya di sebut tetapi tidak mengikuti lomba, maka akan mendapat hukuman." ancamnya dengan seringaian tipis.
Semua orang yang mendengarnya hanya bisa terteguk diam mendengar ancaman kepala sekolah mereka. Dengan jelas tersirat di dalam perkataan itu bahwa tidak ada yang boleh menolak.
"Ini hanya lomba lari bersyarat. Tiap peserta hanya berlari ke tengah lapangan dan mengambil satu kertas dari dalam kotak. Tugas kalian mencari dan membawa lari bersama kalian apa pun yang tertulis di kertas itu ke garis Finish." jelas wanita cantik tersebut karena tidak mendapat respon apa pun.
Di bukanya selembar kertas yang dari tadi sudah di bawanya dan membacakannya satu persatu dengan keras. "Peserta lomba lari bersyarat putra Namikaze Naruto, Uchiha Sasuke, Nara Shikamaru, Maito Gai, Shimura Sai, Sarutobi Asuma, Matsuda Hayate, Hyuga Neji, Sabaku Gaara, Hatake Kakashi dan Inuzuka Kiba." ujarnya.
Orang-orang yang namanya di sebut menatap tidak percaya ke arah wanita cantik itu.
"Tsunade-sama, kenapa aku juga harus ikut?" tanya Kakashi yang berdiri di belakang Tsunade.
"Ini lomba murid dan guru. Kau juga guru, kan?" tanyanya mengejek, membuat Kakashi diam.
"Ah! Sudah ku tebak kita pasti akan jadi peserta!" ujar Kiba.
"Tidak ada yang boleh membantah! Para perserta cepat ambil posisi masing-masing!" perintah Tsunade tegas membuat orang yang mendengarnya bergidik ngeri.
Dengan langkah berat tujuh siswa tampan itu mengambil posisi mereka masing-masing. Raut wajah mereka dengan jelas menggambarkan mereka tidak ingin mengikuti lomba ini.
"Bersedia... Siap..." aba-aba Tsunade membuat para penonton menjadi berdebar-debar.
Dor!
"Pelombaan tambahan putra telah di mulai!" suara Shizune menggema dari speaker sekolah. Kini ia bertindak sebagai komentator bersama Iruka sebagai patner-nya berdasarkan perintah Tsunade. "Maito Gai guru Olah Raga berlari dengan cepatnya meninggalkan semua lawannya. Bagaimana menurut anda Iruka-sensei?" tanyanya.
Iruka tersenyum kikuk, kenapa ia juga harus terlibat dengan hal seperti ini. "Ya, tidak di ragukan lagi. Ini lah kemampuan guru Olah Raga." jawabnya asal, berusaha meniru komentator di televisi.
Dengan cepatnya guru Olah Raga paling nyentrik 'Maito Gai' berlari meninggalkan semua lawannya di belakang. Dengan cepat ia ambilnya satu kertas dan tertawa senang lalu berlari menuju belakang sekolah. Di belakang Gai beberapa peserta lain mulai mengambil satu kertas dan dengan seketika wajah mereka memucat sekaligus memerah.
"Apa yang terjadi dengan semua peserta?" tanya Shizune penasaran. "ah, ternyata semua yang tertulis di kertas itu sama." lanjutnya menjawab pertanyaannya sendiri.
Iruka hanya menatap guru Ilmu Pengetahuan Alam itu. "Bukankah kau dan Tsunade-sama yang menyiapkan lomba ini?" batinnya.
Benar saja, semua peserta terlihat diam dengan kepala tertunduk. Apa sebegitu sulitnya hal yang tertulis di sana. Namun, ketujuh siswa tampan kita hanya saling bertukar pandang antara satu dengan lain. Jelas sekali mereka memiliki pemikiran yang sama dan aura persaingan yang awalnya tidak ada tiba-tiba berkobar dengan hebatnya.
Dengan cepat pemuda tampan itu berlari kearah yang sama menuju kerumunan siswi yang berteriak memberikan semangat untuk mereka.
"Ketujuh siswa paling di incar di KSHS mulai berlari. Apa yang akan mereka lakukan?" ujar Shizune antusias.
"Shizune-sensei?" panggil Iruka yang dari tadi hanya diam. "apa yang tertulis di kertas itu?" tanyanya penasaran terutama setelah melihat reaksi para peserta.
Shizune tersenyum, sebuah senyuman penuh arti yang menggoda. "Semua peserta mengambil kertas bertuliskan 'Bawa lawan jenis yang paling kau sukai!'."
Deg
Semua siswi memerah mendengar perkataan Shizune. Jadi secara tidak langsung siapa pun yang di ajak lari oleh para peserta adalah lawan jenis yang mereka sukai. "Ini namanya pengakuan tidak langsung!" batin semua siswa bersamaan.
Tentu saja sekarang semua siswa berharap-harap cewas. Berharap salah satu dari laki-laki tampan itu mengajak mereka. Membayangkannya saja sudah membuat beberapa siswi pingsan.
Saat semua orang sedang heboh sendiri dengan khayalan mereka. Gadis merah muda bernama Haruno Sakura hanya berteriak memberikan semangat kepada teman-temannya yang berlari sejajar.
"Ini benar-benar serangan berbahaya!" ujar Ino.
Sakura menolehkan kepalanya ke samping menghadap gadis pirang ekor kuda itu dengan tatapan minta penjelasan lebih.
"Dengan mengajak seseorang berlari bersama mereka, dengan tidak langsung peserta tersebut mengakui ia menyukai orang tersebut." jelas Temari sambil terus memperhatikan ketujuh pemuda yang berlari menuju arahnya.
"Ini namanya serangan combo pengakuan tidak langsung!" teriak Tenten antusias.
Sakura yang mendengar perkataan ketiga gadis cantik itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sejujurnya ia tidak begitu mengerti dengan maksud perkataan gadis-gadis itu. Tapi satu kesimpulan yang didapatnya, siapa pun yang di ajak berlari akan membuat peserta itu menang, eh?
Suara teriakan-teriakan para siswi tiba-tiba berhenti. Mereka semua melongok dengan bola mata membesar. Terkejut dan tidak percaya itu lah kalimat yang paling tepat menggambarkan ekspresi mereka.
Semua tatapan tidak percaya itu terarah pada satu objek yang sama, di mana seorang gadis dengan rambut merah muda yang di ikat berantakkan berdiri dengan mata membulat dan di depannya berdiri tujuh orang pemuda tampan dengan tangan kanan terulur kepadanya.
"Berlarilah bersama ku?!" ucap mereka bersamaan.
Sakura mengibas-ngibaskan tangannya, ia panik, benar-benar panik. Kenapa teman-temannya mengajaknya berlari, padahal ia tidak suka Olah Raga terutama lari. "A-a-aku tidak bisa! Teman-teman kalian jangan bercanda!" ujarnya terbata-bata.
"Hebat! Ketujuh siswa tampan sekolah mengampiri satu siswi yang sama!" teriak Shizune selaku komentator heboh.
Bukannya menyerah ketujuh pemuda itu semakin mengulurkan tangannya dengan wajah serius dan tegas.
"Kumohon!"
Baiklah, sekarang Sakura benar-benar bingung. Ajakkan siapa yang akan di terimanya? Jika ia memilih salah satu dari mereka, bagaimana dengan sisanya? Ia tidak mau mengecewakan teman-temannya.
"Te-teman-teman aku—"
Belumlah Sakura menyelesaikan kalimatnya, dari arah belakang tubuh munyilnya di gendong secara paksa di bahu oleh seseorang, yang lagi membuat semua orang yang melihatnya semakin melongok.
"Kakashi-sensei!"
Teriak bersamaan ketujuh pemuda tampan itu saat melihat Sensei mereka menggendong Sakura di bahu dan membawanya berlari meninggalkan mereka yang hanya menatapnya tidak percaya.
"Maaf, kalian terlalu lama. Jadi aku saja yang membawanya." ujar Sensei berambut perak itu dengan senyuman di balik maskernya.
"A-apa ini?! Sungguh mengejutkan. Hatake Kakashi guru bahasa Inggris yang berhasil membawa siswi itu berlari!" begitu bersemangatnya Shizune sampai berdiri dari posisi duduknya dan Iruka yang duduk di sebelahnya hanya memijat batang hidung, ia sedikit pusing melihat rekannya satu ini.
"Kakashi-sensei kenapa...?" tanya Sakura yang masih berada di dalam gendongan Kakashi.
"Hm, aku hanya ingin menolong mu."
"Menolongku?"
"Akan sulit memilih di antara mereka. Jadi biar aku yang membantu mu."
Sakura diam. Ah, benar juga. Akan sulit memilih salah satunya. Jika yang membawanya Sensei-nya sendiri, mungkin tidak akan ada yang protes.
"Sakura, pegangan yang kuat! Aku akan menambah kecepatan." perintah Kakashi.
Gadis merah muda itu mengeratkan pegangannya pada seragam Olah Raga yang digunakan Kakashi dan menutup kedua kelopak mata saat Kakashi menambah kecepatan. Cukup menakutkan digendong seperti ini, apalagi di tambah berlari.
.
.
.
Semua orang hening saat para juara naik keatas podium bertingkat yang di siapkan kepala sekolah khusus untuk 3 perlari tercepat.
Di posisi ketiga ada guru Kimia, Sarutobi Asuma dan sesuatu atau seseorang bersamanya yang tak lain guru Sejarah Yuuhi Kurenai. Di posisi kedua ada murid tingkat tiga Matsuda Hayate bersama seorang siswi dengan garis kuning di seragam olahraga yang sama seperti miliknya. Dan di posisi pertama, di podium paling atas ada guru Bahasa Inggris yang sedang tersenyum dari balik maskernya sedangkan gadis merah muda di sebelahnya hanya bisa tertunduk malu.
"Selamat untuk kalian semua yang telah berhasil dan khusus untuk pelari yang di bawa peserta di posisi pertama akan mengikuti lomba yang sama." ujar Tsunade dengan senyuman senang berkembang di wajah cantiknya.
Sakura mengerutkan alisnya. "Tunggu sebentar, Tsunade-sama! Aku tidak bisa ikut lomba." protesnya.
Senyuman di wajah Tsunade menghilang. "Kau mau protes, Haruno Sakura?" tanyanya sarkartik.
Gadis musim semi itu menelan air liurnya, kepala sekolahnya sangat menakutkan. "Tidak..."
"Baguslah. Cepat bersiap di posisi mu!" perintah Tsunade.
Sakura menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju garis Start, di mana di sana telah berbaris beberapa siswi lain dan ada dua orang guru yang sedang bersiap-siap. Sepertinya mereka juga peserta lomba.
"Sakura semangat!" teriak Ino memberi dukungan kepada sahabat merah mudanya.
"Yosh, kalahkan mereka semua, Sakura-san!" Lee tidak mau kalah memberi dukungan pada Sakura.
"A-ano..." suara kecil Hinata menarik perhatian mereka semua. "apa mereka tidak apa-apa?" tanyanya sambil menunjuk ke arah tujuh orang pemuda yang masih terdiam di posisi saat menawari Sakura berlari bersama mereka.
Temari menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu. Tapi biarkan mereka seperti itu." ujarnya yang di ikuti anggukkan kepala yang lain.
Dor!
Suara tembakkan pistol menandakan perlombaan sudah di mulai dan dengan itu pula sorak-sorak para siswa memberikan dukungan kepada mereka terdengar.
"Perlombaan lari bersyarat putri telah di mulai. Kita lihat kali ini kejutan apa lagi yang akan para peserta perlihatkan." ujar Shizune selaku komentator lagi dan rekannya Iruka hanya menghela nafas berat, kenapa ia harus yang terlibat dengan hal seperti ini?
"Para peserta hampir tiba di tengah lapangan untuk mengambil kertas yang ada di dalam kotak. Bagaimana menurut anda Iruka-sensei?" tanya Shizune setelah lelah berteriak heboh sendiri.
"Mereka para siswi bersemangat dan—"
Belum selesai Iruka menjawab pertanyaan Shizune, suara teriak histeris Shizune memotong perkataannya.
"Apa yang terjadi. Setelah para siswa sekarang para siswi juga hanya diam setelah membaca kertas yang mereka dapatkan!?"
Akhirnya setelah berusaha cukup keras Sakura tiba di kotak, dengan hati-hati di pilihnya satu kertas putih itu dan membacanya.
'Bawalah lawan jenis yang kau sukai!'
Mata Sakura menyipit setelah membaca tulisan itu. Ini tidak ada bedanya dengan para siswa sebelumnya.
Diremas kuat kertas dalam genggamannya. Ia tidak mau kalah, jika teman-temannya sudah berusaha dalam lomba yang mereka ikuti kenapa ia tidak bisa. Ia akan berusaha keras. Sakura menutup kelopak matanya dan membiarkan semilir angin menerbangkan helai merah mudanya.
"Aku harus membawa lawan jenis yang aku sukai... kalau begitu..." batin Sakura dan kembali membuka kelopak matanya.
Dengan pelan ia mulai meninggalkan tempatnya berdiri dan belari menuju kerumunan siswa-siswi yang berkumpul di pinggir lapangan.
Brak!
Meja yang di gebrak Shizune bergema dan dengan semangatnya ia berdiri dari posisi duduknya. "Peserta mulai berlari menuju tempat seseorang yang akan mereka ajak."
Iruka mengerutkan alisnya. "Seseorang?" tanyanya.
Shizune duduk kembali di kursinya, dan berdehem pelan mengembalikan wibawanya. "Ya, sebenarnya semua kertas isinya sama." jawabnya jujur sambil menggaruk belakang kepalanya.
Iruka hanya tertawa hambar mendengar jawaban guru itu. Sekarang ia benar-benar curiga dengan lomba ini.
"Semua isinya sama?" gumam Lee tidak mengerti.
"Baka! Maksudnya, semua yang tertulis di kertas sama dengan yang tertulis di kertas pada lomba sebelumnya." jelas Tenten sedikit kesal.
"Perasaanku saja atau memang Sakura berlari ke arah kita?" tanya Choji sambil menunjuk seorang gadis dengan rambut merah muda yang berkibar ditiup angin saat ia membelahnya.
Deg
Seperti mendapat angin segar, ketujuh pemuda yang tadi sempat syok dan frustasi karena gadis yang mereka sukai di bawah pergi oleh guru mereka. Kini serempak berbalik badan. Tidak begitu jauh dari mereka sang gadis berlari dengan wajah serius dan yakin.
Deg... Deg... Deg...
Detak jantung mereka semakin kuat dan cepat saat sang gadis semakin mendekat. Dan entah mereka sadari atau tidak wajah mereka sudah sedikit merona merah.
Sakura berlari menuju kearah teman-temannya karena ia memang akan meminta bantuan di sana. Tapi saat ia sudah berada di depan mereka ia sedikit membungkukkan badan dengan lutut sebagai tumpuhannya. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya kuat, mencoba mengatur kembali nafasnya yang tersendat karena terlalu memaksakan diri untuk berlari.
"Hohs... Kumohon... Berlarilah bersama ku hohs..."
Melihat gadis itu memohon dengan wajah merah—karena berlari, seragam Olah Raga yang basah oleh keringat yang terus menetes menuju ujung dagu membuatnya terlihat seksi, bias cahaya matahari yang temantul dari kacamata tebal menampakkan samar-samar kilau Emerald di dalamnya dan membuat pemuda di sana menuguk air liur mereka.
Kiba mengulurkan tangannya. "Tentu sa-"
Tapi perkataannya langsung di potong Naruto cepat. "Ayo, Sakura-chan!" ujarnya.
Bletak
"Apa-apaan kau, Teme!?" cibir Naruto Kesal sambil memegangi kepalanya yang baru saja di pukul Sasuke.
"Dia tidak menawari mu, Baka Dobe." ujar Sasuke sombong dengan kilat tidak suka dari kedua Onxy-nya.
Naruto memajukan bibirnya. "Kalau bukan aku lalu siapa? Tidak mungkin kau, kan Teme?!" tanyanya setengah mengejek.
"Tentu saja bukan Sasuke." jawab Sai yang membuat aura membunuh Sasuke keluar. "Sakura pasti menawari ku." jawabnya percaya diri, tidak lupa senyum khas Sai yang tanpa dosa.
"Maaf, tapi aku yakin Saku menawari ku." timpal Gaara tidak mau kalah yang di hadiahi Deathglare.
"Merepotkan." celetuk Shikamaru membuat semuanya terdiam. "dia itu menawari ku." lanjutnya.
Demi apa pun, rasanya mereka ingin membunuh Shikamaru atas perkataannya itu.
"Berhenti!" suara berat Neji membuat mereka semua bergidik ngeri dan menghentikan aksi saling lempar tatapan pembunuh.
Suasa kembali tenang, tidak ada yang mau membantah sang ketua jika sudah berbicara. Bahkan Sasuke hanya bisa berdecih kesal.
"Sakura berlari kearah ku, artinya ia menawari ku." lanjutnya tegas.
1 menit
2 menit
3 menit
Semua orang Swartdrap bersamaan. Mereka pikir Neji ingin menghentikan pertengkaran konyol para pemuda itu, tapi ia sendiri malah ikut dalam pertengkaran itu.
"A-ano... Teman-teman..."
Suara kecil Sakura yang masih mengatur nafas menarik perhatian semuanya.
Gadis itu berdiri tegak. Tatapan matanya ia alihkan ke samping karena tidak sanggup melihat tatapan penuh harap ketujuh pemuda tampan itu.
"Sebenarnya... Aku..."
.
.
.
Syuut Ctarr
Syuut Ctarr Ctarr
Suara kembang api kecil yang di sediakan sekolah menandakan berakhirnya perlombaan Olah Raga pertama di Konoha Senior High School.
Dengan hati-hati Sakura turun dari atas podium bertuliskan angka 3 di depannya.
"Sakuraaa!" panggil Ino sambil berlari dan memeluk sahabatnya itu. "Selamat kau mendapat juara ketiga." pujinya.
Sakura tertawa senang. "Terima kasih Ino." jawabnya.
"Guk... Guk!" dari atas podium Akamaru melompat dan menerjang Sakura sehingga ia jatuh terduduki. Akamaru terus menjilati wajah Sakura hingga kacamatanya terlepas.
"Sudah-sudah Akamaru..." perintahnya.
Akamaru berhenti menjilati wajah Sakura dan dengan senangnya ia duduk di depan gadis merah muda itu dengan ekor berkibas ke kanan dan ke kiri.
"He he he... Kau senang karena aku ajak berlari ya, Akamaru?" tanya Sakura sambil mengelus bulu putih Akamaru.
Akamaru menggonggong senang dan kembali menjilati wajah Sakura.
"Aku juga senang Akamaru."
Teman-teman Sakura hanya memandang bingung kearahnya, pasalnya mereka tidak percaya, sangat malah, bahwa gadis merah muda itu akan membawa lari seekor anjing bukan manusia yang jelas-jelas sudah sangat mengharapkannya. Walau itu tidak melanggar aturan.
"Aku tidak menyangka Sakura akan mengajak Akamaru berlari bersamanya. Akamaru itu anjing jantan ternyata." celetuk Kankuro tiba-tiba dengan pandangan bingung.
"Ya, aku juga tidak menyangka." tambah Tenten yang di ikuti anggukkan kepala semua orang.
"A-ano..." ujar Hinata membuat semua arah pandang yang tadi di tujukan kepada Sakura teralih padanya. "apa yang akan kita lakukan pada mereka?" tunjuknya pada beberapa orang yang terlihat depresi di pinggir lapangan.
Mereka semua serempak menghembuskan nafas berat. Di pinggir lapangan terlihat Naruto dan Kiba sedang berjongkok dengan jari yang berputar-putar membentuk gambar abstrak di tanah.
"Dia suka padaku, dia tidak suka padaku..." gumam Naruto.
"Aku kalah oleh anjing..." lirih Kiba.
Tidak begitu jauh dari mereka ada Sasuke yang berdiri tegak dengan kepala tertunduk ke bawah dan sesekali terdengar gumaman tidak jelas. Di dekat Sasuke ada Gaara yang menyandarkan kepalanya ke pohon yang ada di sana dan sesekali memukul-mukul pohon pelan.
Neji tetap dengan gaya dingin dan tenangnya seolah tidak terjadi apa-apa, ya itu jika di lihat sekilas karena sebenarnya tubuh Neji yang sedang berdiri tenang itu bergetar.
Mungkin semua orang tenggelam dengan pikirannya, hanya Shikamaru yang duduk tenang dengan mata terpejam. Tidur, kah? "Anggap saja yang tadi itu mimpi..." ujarnya pelan. Mau lari dari kenyataan ya, Shika?
Sai hanya tersenyum melihat teman-temannya. Tapi percayalah, kalian tidak akan mau melihat senyum Sai kali ini. Karena senyumannya sangat mengerikan dengan aura aneh yang menguar di senyuman itu.
"Mereka benar-benar terpukul." batin Ino, Tenten, Temari, Kankuro, Choji dan Lee yang melihat mereka.
"Teman-teman..." suara lembut gadis merah muda, Sakura yang kini sudah berdiri di depan para pemuda itu mengejutkan mereka.
"Sejak kapan Sakura ada di situ?" gumam mereka.
Naruto, Kiba, Sasuke, Gaara, Neji, Shikamaru dan Sai mendongakkan kepala mereka, di sana Sakura tersenyum manis ke arah mereka.
"Ayo bergabung dengan yang lain. Kita akan merayakan kemenangan tim." ujarnya setelah mendapat respon dari ketujuh pemuda tampan itu.
Ketujuh pemuda tampan itu langsung kembali normal dari depresi mereka. "Ayo!" ujar mereka semua bersamaan.
Sakura tersenyum dan menyamakan langkahnya dengan tujuh laki-laki tampan menuju kerumuman siswa-siswi yang merayakan berakhirnya lomba Olar Raga sekolah. Tidak buruk juga membuat agenda biasa seperti sekolah normal lainnya, mungkin mulai tahun depan perlombaan Olah Raga akan di jadikan agenda tahunan sekolah.
TBC
Author Note:
Jangan bunuh aku! *sujud-sujud
Maaf yang sebesar-sebernya karena Chap ini benar-benar ngaret, sekali lagi maaf (_ _)
Bagaimana apa Special Menu ini mengecewakan? atau terlalu OOC?
Kalau OOC itu kemungkin mulai Chap ini sampai ke depan akan semakin banyak, karena aku ingin memasukan unsur komedi saat para pelayan pria saling bersaing mendapatkan perhatian Sakura. Selain itu Next Chap juga akan ngaret lagi dan tidak akan sepanjang Chap-chap sebelumnya.
Aku tidak tahu apa ini penting atau tidak tapi alasan utama kenapa Chap ini ngare itu karena kesibukan dan tugas kuliah yang semakin menumpuk terutama minggu-minggu ini aku sedang UTS *lari dari kenyataan
Selain itu entah kenapa mood nulis aku hilang, tiap mau melanjutkan fict. Saat laptop sudah nyala tapi ide yang ingin di tuangkan hilang bersama angin(?) dan baru tahu sekarang kalau itu yang di namakan WB (T_T)
Dan sekali lagi aku mau minta maaf karena tidak bisa membalas Review semua Reader di chap kali ini, tapi akan di usahankan chap berikutnya akan dibalas.
Kakashi: Author-san kau jadi semakin sibuk di akhir semester seperti ini *senyum senang(?)
Author: K-kau pengertian sekali, Sensei *nangis
Tsunade: Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan Review di Chap sebelumnya dan terima kasih sudah menyepatkan diri untuk membaca fict aneh ini.
Sakura: Next Menu: Beach
Salam hangat,
Kimeka ReiKyu
Palembang, 29 Mei 2013
