Clover's Cafe
Naruto © Masashi Kisimoto
Rated: T
Gender: Drama, Romance, Friendship, Humor(?)
Story © Kimeka ReiKyu
Warrnig: AU, OOC, Gaje, Garing, Typo bertebaran, EYD berantakan dll.
[Sakura-Centric]
Don't Like, Don't Read!
Putih, itu lah kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana malam hari ini di kota Konoha. Di sepanjang pertokoan Konoha terlihat beberapa pasangan saling memaduh kasih, menikmati suasana romantis di bulan Desember. Benda putih berbentuk bulat kristal yang terasa dingin bila menyentuh kulit terus berjatuhan dari langit gelap. Menambah kesan romantis di malam musim dingin bersalju ini.
Di salah satu bangunan bergaya Eropa modern terlihat seorang gadis dengan rambut merah muda panjang tersenyum melalui kaca jendela yang sedikit berkabut. Kepulan asap yang keluar dari mulutnya menandakan suhu udara semakin turun. Musim dingin telah tiba di Kota Konoha.
"Salju..." gumam gadis itu senang saat melihat butiran-butiran salju yang terus berjatuhan dari langit malam.
"Haaahh~"
Suara helaan nafas berat yang cukup keras menghentikan aktifitas melihat salju sang gadis merah muda. Dengan pelan ia tolehkan kepalanya ke samping guna melihat siapa gerangan yang di malam indah seperti ini menghelakan nafas putus asa.
Tidak jauh dari sang gadis, terlihat seorang pemuda dengan rambut pirang terduduk lesu tidak bersemangat. Berbanding terbalik dengan hari-hari biasanya.
Dengan sedikit penasaran di dekatinya pemuda itu, "Naruto..." panggilnya.
Karena mendengar suara orang lain, sang pemuda mengangkat kepalanya dan menatap lesu gadis musim semi yang kini telah berdiri di depannya.
"Sakura-chan..."
Sebelah alis sang gadis bernama lengkap Haruno Sakura terangkat. Tidak biasanya ia melihat pemuda hyperaktif ini lesu dan tidak bersemangat. Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?
"Apa terjadi sesuatu, Naruto?" tanya Sakura hati-hati.
Pemuda berambut pirang yang di panggil Naruto kembali menghela nafas berat membuat gadis di depannya hanya bisa diam memperhatikan.
"Jika kau hanya menghela nafas tidak berguna seperti itu, nilai mu tidak akan meningkat, Dobe."
Dari arah belakang keduanya, muncul seorang pemuda tampan dengan rambut hitam mencuat ke belakang. Tampang dingin dan angkuhnya membuat suasana yang sudah dingin semakin dingin saja.
"Kau tidak mengerti penderitaan ku, Teme," jawab Naruto sedikit kesal mendengar perkataan sahabatnya satu ini.
Pemuda tampan itu hanya memutar bola matanya bosan, ia sudah terbiasa dengan sikap pemuda di depannya yang sudah dikenalnya sejak usia 5 tahun.
"Jika kau tidak menceritakan masalah mu, maka kami tidak akan bisa membantu mu, Naruto," tegur Sakura menarik perhatian kedua pemuda tampan itu.
Naruto diam sejenak, terlihat ia sedang berpikir cukup keras. Dan setalah ia mengambil keputusan, dirogonya kantung celana pelayan yang dikenakannya. Dari dalam kantung celana ia mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat dan sedikit lecek. Kertas itu di serahkan kepada gadis merah muda di depannya.
Dengan pelan Sakura membaca tulisan di kertas itu, dan kedua bola matanya sedikit membulat.
"Naruto... kau..." ujar Sakura sedikit terbata-bata sedangkan pemuda tampan dengan rambut hitam di sebelahnya hanya menatap datar sahabat pirangnya.
Pemuda pencinta Ramen itu menundukkan kepalanya dalam dan mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Jika aku tidak bisa meningkatkan nilai ku pada ujian kenaikan kelas nanti, maka aku akan tinggal kelas," ujarnya lirih.
Sakura ikut menundukkan kepalanya. Ia tahu kertas apa yang kini ada dalam genggamannya. Kertas nilai sementara siswa sebelum menghadapi ujian kenaikan kelas. Dari mana ia tahu? Tentu saja karena ia juga menerima kertas yang sama tadi siang. Hanya saja nilainya sudah tidak perlu di pertanyakan lagi, karena rata-rata nilai yang didapatnya 98. Tapi untuk Naruto jangankan nilai standar sekolah 75, nilai aman 50 saja ia tidak bisa mendapatkannya. Jika di ujian perbaikan nanti ia tidak bisa memperbaiki nilainya ia bisa tinggal kelas.
"Kau masih punya waktu satu minggu untuk belajar, Naruto."
Dari arah dapur muncul lagi beberapa pemuda yang kini sudah mengenakan pakaian biasa, sudah bersiap untuk pulang.
"Teman-teman," ujar Sakura saat menyadari siapa para pemuda itu.
Salah seorang pemuda bernama Shikamaru duduk di kursi depan Naruto dengan tangan kanan di gunakan sebagai tumpuhan kepalanya. "Kau tidak pernah belajar, mana mungkin bisa mendapat nilai yang baik."
Naruto semakin menundukkan kepalanya ke bawah mendengar perkataan pemuda malas si tukang tidur tetapi jenius itu.
"Kau enak Shika, kau jenius. Sementara aku...?"
Suasana jadi hening seketika, tidak ada yang bersuara. Semua orang yang berada di sana hanya diam dan menatap sedih sahabat pirang mereka satu ini.
Kriet...
Suara kursi yang di tarik memecahkan keheningan. Salah satu pemuda dengan rambut coklat panjang ikut duduk di sebelah Shikamaru.
"Kenapa kau tidak coba mengikuti pelajaran tambahan atau ikut les," saran Neji, pemuda berambut coklat.
Naruto melirik pemuda Hyuga itu sekilas dan kembali menundukkan kepala, "Aku sudah pernah melakukannya tapi metode belajar yang digunakan tidak cocok untuk ku," jawabnya pelan.
Keheningan kembali memenuhi atmosfir ruang depan Clover's Cafe di mana delapan orang pemuda dan seorang gadis hanya diam membisu.
Tok... Tok... Tok...
Suara pintu depan cafe yang diketuk cukup keras membuat semuanya menolehkan kepala serempak kearah pintu.
"Siapa yang datang di malam hari begini?" tanya Kiba yang diikuti beberapa anggukkan kepala.
"Biar aku yang buka," ujar Sakura berjalan pelan kearah pintu.
Pintu terbuka pelan menampilkan sosok seorang pria dewasa dengan gaya yang tidak bisa dikatakan biasa. Seorang pria dengan rambut hitam sedikit acak-acakkan yang menggunakan jaket kulit tebal berwarna hitam dengan dalaman sebuah kaos yang juga berwarna hitam, celana jeans yang berwarna coklat gelap ditambah syal coklat yang melingkari lehernya, membuat pria dewasa itu terlihat tampan. Hanya saja kacamata hitam yang dikenakannya membuatnya nampak seperti orang yang mencurigakan. Siapa orang normal yang akan menggunakan kacamata hitam di malam hari?
Pria itu membuka kacamatanya dan nampak sedikit terkejut melihat sosok Sakura yang menatapnya aneh.
"Aku tahu dari awal kita memang sudah berjodoh," ujar pria itu meraih kedua tangan Sakura dan menggenggamnya erat. "mau 'kah kau menikah dengan ku—"
Belumlah pria itu menyelesaikan kalimatnya, dengan tiba-tiba sebuah pukulan keras mendarat dengan manis di atas kepalanya.
"Baka!" ujar seseorang yang memukul kepala sang pria aneh.
Sakura menarik tangannya yang masih digenggam pria aneh di depannya dan sebuah lengkungan tipis tercipta di bibirnya saat melihat siapa orang yang telah menyelamatkannya dari pria aneh itu.
"Rin-nee."
Wanita cantik yang dipanggil menatap lembut sang gadis merah muda yang masih menyuguhkan senyuman manis di wajahnya.
"Sudah lama tidak bertemu Sakura-chan, kau semakin manis saja," puji Rin sambil memeluk Sakura erat, ia sangat merindukan gadis manis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri ini.
Pria aneh yang kepalanya dipukul Rin hanya bisa mengusap kepalanya dengan bibir dimajukan ke depan. "Rin, itu tadi sangat menyakitkan."
Rin melepas pelukannya dari Sakura dan menatap kesal pria di depannya. "Siapa juga yang mengizinkan mu menggoda Sakura-chan," bentaknya tidak kalah kesal.
Sakura yang berada di tengah-tengah kedua orang dewasa itu hanya bisa tersenyum kikuk.
"Obito-nii?" suara teriakan Kiba menghentikan pertengkaran kecil keduanya.
Pria yang di panggil Obito oleh Kiba membalik badannya. "Yo semua! Apa kabar kalian?" sapanya dengan senyuman lebar.
Para pemuda tampan itu tidak ada yang membalas sapaan Obito, mereka hanya melempar tatapan curiga penuh selidik pada sang pria.
Karena di tatap seperti itu, Obito sedikit gelagapan, sekarang ia terlihat seperti om-om mesum yang tertangkap basah menggoda anak gadis orang. "Berhentilah mengintimidasi ku dengan tatapan seperti itu!" keluhnya.
Para pemuda tidak mengubris perkataan Obito dan lebih tertarik pada Rin yang berdiri di sebelahnya.
Sasuke menujuk jarinya tepat pada wajah Obito dan berkata. "Kenapa kau membawa orang mesum ini kemari, Rin-nee?" tanyanya penuh hinaan.
Obito menepis tangan Sasuke yang dengan tidak sopannya menunjuknya. "Oi Sasu-chan, jangan mengejek ku. Begini-begini aku ini paman mu!" ujarnya tidak terima.
Sasuke menatap horror pria aneh yang memang pamamnya itu. "Aku tidak ingat memiliki paman seperti mu," ujarnya dingin. "dan berhentilah memanggilku dengan nama menjijikkan seperti itu!" tambahnya.
Obito tersenyum mengejek, "Kau masih marah padaku, Sasu-chan~" ujarnya menggoda.
Aura membunuh dengan kuatnya menguar dari tubuh Sasuke, ia sudah siap menendang pria aneh di depannya ini sampai ke Planet Pluto.
Tapi sebelum Sasuke melakukan niatnya, tangan Neji yang menepuk bahunya menghentikan niatnya.
"Tidak ada gunanya berurusan dengan orang seperti dia."
Sasuke menutup matanya, kembali kesikap biasa yang dingin dan datar.
"Jadi, ada apa Rin-nee datang malam-malam begini?" tanya Sai yang dari tadi hanya tersenyum memperhatikan.
Rin sedikit tersentak kaget, hampir saja ia melupakan alasan kenapa ia datang, "Aku datang karena ada hal yang ingin ku bicarakan dengan Kakashi," jawabnya.
"Kakashi-sensei ada di dalam bersama Yamato-sensei, benarkan Gaara?" tanya Sai memastikan karena seingatnya hari ini Gaara kebagian membersihkan dapur bersama kedua pria itu.
Gaara menganggukkan kepalanya, "Ya," jawabnya singkat.
"Berhentilah mengacuhkan ku!" teriak Obito yang dari tadi diacuhkan. "lihat Sakura-chan, mereka jahat sekali!" keluhnya pada gadis merah muda yang hanya bisa memasang senyum terpaksa mendengar perkataan pria dewasa yang sama sekali tidak dewasa.
"Ada apa kalian membuat keributan di malam hari?" tanya Kakashi yang baru saja datang bersama Yamato yang mengekorinya dari belakang.
Pria berambut perak itu sedikit tersentak melihat siapa tamu yang datang pada malam hari begini dan membuat keributan di depan cafe.
"Rin, Obito? Apa yang kalian lakukan di luar?"
Obito dengan cepatnya menunjuk wajah para pemuda yang tadi mengacuhkannya. "Mereka yang menahan ku di sini!" adunya.
Kakashi hanya menatap datar sahabatnya itu. "Rin, semuanya, lebih baik kalian masuk saja ke dalam?" tawarnya mengacuhkan Obito.
Sesuai dengan saran Kakashi, semuanya masuk ke dalam cafe meninggalkan Obito yang melongok di depan karena diacuhkan oleh sahabatnya sendiri.
"Hei kalian, tunggu aku!" teriaknya.
.
.
.
Suasana cafe yang sepi kini jadi sedikit ramai semenjak kedatangan pria aneh dan Rin. Ia terlihat akrab mengobrol bersama para pelayan pria dan Kakashi. Sakura yang tidak mengenal pria itu hanya memperhatikan saja. Rasanya ia pernah melihat pria aneh ini di suatu tempat, tapi di mana?
"Sakura-chan?"
Suara lembut Rin menyadarkan Sakura dari lamunannya.
"Ada apa nee-chan?"
Wanita cantik itu hanya menatap bingung gadis cantik di depannya, "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
Sakura menundukkan kepalanya dan menganggukkannya pelan. Ia baik-baik saja, hanya saja karena melamun ia jadi kurang fokus.
Obito meraih dagu runcing Sakura sehingga ia bisa melihat langsung sepasang manik emerald sang gadis merah muda, "Kau tak perlu sampai terpesona begitu pada ku, Sakura-chan. Dari awal kau sudah mencuri hati dan tubu—"
Sebelum Obito menyelesaikan perkataannya sebuah lemparan buku mendarat di kepalanya, dan kali ini pelakunya adalah Kakashi.
"Jaga ucapan mu, Obito!" ancam Kakashi dengan tatapan menusuk yang mengerikan.
Sakura sedikit ngeri melihat sorot mata sensei-nya satu itu kalau sudah marah. Tapi ia penasaran siapa sebenarnya pria aneh di depannya ini.
"Nee-chan..." bisik Sakura pada Rin di sebelahnya.
Rin sedikit membungkukkan badannya menyamakan tingginya dengan tinggi gadis merah muda di sebelahnya.
"Hmm, ada apa Sakura-chan?"
"Sebenarnya siapa pria itu?"
Rin diam sejenak sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu dengan serius. Cukup lama Sakura menunggu Rin menjawab pertanyaannya tapi nihil, wanita cantik itu tidak menjawab pertanyaannya melainkan membisikkan sesuatu pada Kakashi dan juga Obito.
Kakashi melirik Sakura sekilas saat Rin membisikkan sesuatu. Sedangkan Obito hanya menganggukkan kepala atas apa yang dibisikkan Rin padanya. Sakura memandang bingung ketiga orang dewasa di depannya. Untuk apa mereka saling berbisik?
"Ehem~" deheman Obito menarik perhatian semua orang, "Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi aku akan memperkenalkan diri pada Sakura-chan yang merupakan pelayan baru di cafe," ujarnya dengan cengiran lebar.
"Namaku Uchiha Obito, salah satu pemilik cafe bersama dengan Kakashi dan Rin," Obito meraih tangan kanan Sakura. "senang kau bisa menjadi bagian dari cafe yang di penuhi laki-laki kejam ini, Sakura-chan," lanjutnya.
Gadis merah muda itu tersenyum ramah, "Terima kasih sudah mengizinkan ku bekerja di sini, emm..."
"Nii-chan, cukup panggil aku seperti itu saja," potong Obito saat melihat gadis manis itu kebingungan memanggil namanya.
Sakura menganggukkan kepala, "Ano... maaf sebelumnya tapi apakah kita pernah bertemu sebelum ini, Obito-nii?" ia sudah sangat penasaran, rasanya mereka memang pernah bertemu sebelumnya.
Obito melepas genggaman tangannya pada Sakura, sebuah senyuman tipis penuh makna terukir di wajah tampannya.
"Maaf nona manis, kau jadi terkejut," ujarnya lembut sambil menepuk bahu Sakura.
Kedua bola mata emerald milik gadis merah muda itu membulat. Ia ingat kata-kata itu, ia memang pernah bertemu dengan pria ini. Saat itu Sakura sedang pergi bersama Neji untuk mencari promotor dan saat ia akan pulang setelah mendapat tanda tangan dari Direktur Uchiha Crop. tanpa sengaja ia hampir bertabrakan dengan seorang pria di depan pintu.
"Saat di Uchiha Crop?" tanyanya memastikan, takut salah orang.
Pria dewasa berambut hitam sedikit acak-acakan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan gadis manis dihadapannya.
"Aku senang kau masih ingat pada ku, Sakura-chan. Kupikir kau juga akan melupa—"
"Obito!" potong Kakashi cepat, dari sorot matanya dengan jelas tergambar ia tidak suka dengan apa pun yang akan dikatakan Obito selanjutnya.
"Maaf Kakashi, aku terbawa suasana," ujarnya menyesal.
Sakura menautkan kedua alis merah mudanya, ia bingung dengan apa yang dilakukan dua orang dewasa di depannya sekarang.
"Obito-nii..." panggilnya pelan membuat pria tampan itu mengalihkan perhatiannya pada sang gadis, "tadi Obito-nii ingin mengatakan apa?"
Obito terlihat sedikit bingung dan gelagapan menjawab pertanyaan Sakura.
"Ah, itu..." ia semakin salah tingkah sendiri karena ditatap dengan tatapan menuntut penjelasan dari sang gadis dan beberapa pemuda di sana yang malah melempar tatapan curiga padanya.
Obito terus mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang dapat membantunya mengubah topik pembicaraan, tapi apa? Tidak ada sesuatu yang... ah, dapat!
"Ngomong-ngomong, apa yang sedang terjadi dengan dia?" tanya balik Obito—mengubah topik pembicaraan—sambil menunjuk seorang pemuda pirang yang dari tadi hanya menundukkan kepala dengan aura suram yang keluar dari tubuhnya.
Serempak semua orang yang ada di sana menolehkan kepala kearah yang ditunjuk Obito. Dan yang mereka lihat adalah Naruto yang terlihat frustasi sendirian.
Neji mendekati Obito, "Ia sedang dalam masalah..." suara Neji yang begitu kecil nyaris terdengar seperti bisikan yang membuat beberapa orang yang berada cukup jauh tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
Obito menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengerti dengan perkataan Neji. Pria dewasa dengan rambut hitam khas Uchiha mendekati Naruto yang masih duduk sendiri dengan aura suram di sekitarnya. Dengan pelan ditepuknya bahu Naruto.
"Naruto, aku akan membantu mu mendapatkan nilai yang bagus."
Pemuda pirang itu hanya menatap datar sang pria atas perkataannya, pasalnya ia sendiri tahu bahwa semasa sekolahnya pria di depannya ini mendapatkan nilai yang tidak jauh beda dengan miliknya. Dengan apa ia akan membantunya?
"Aku punya cara pembelajaran yang cocok untuk mu," ujar Obito menyadari tatap tidak yakin pemuda di depannya. "kami semua akan menjadi guru mu, bagaimana?" lanjutnya.
Naruto diam sejenak. Sepertinya ia sedang mempertimbangkan rencana dadakan yang di buat Obito. Hmm, sebagian dari pelayan laki-laki memiliki nilai jauh di atas rata-rata bahkan nilai mereka menempati posisi atas. Tidak ada salahnya jika teman-temannya mau mengajarinya.
"Mungkin itu bukan ide yang buruk," jawabnya sedikit ragu menyetujui rencana Obito.
"Aku tidak mengatakan jika aku bersedia mengajari mu," tolak Sasuke tiba-tiba. Ia terlalu sibuk untuk mengajari sahabat pirangnya itu.
"Aku sudah janji dengan Akamaru untuk mengajaknya pergi selama libur," tambah Kiba yang diikuti gonggongan persetujuan dari Akamaru.
Neji mengangkat tangan kanannya, "Aku dan Sai rencananya akan melihat-lihat Universitas yang menawarkan kami beasiswa."
"Aku juga harus menemani Temari-nee mendaftar di Suna," tambah Gaara dengan tampang datar.
Shikamaru menguap lebar dan sedikit merenggangkan otot tubuhnya, "Merepotkan, aku ingin tidur di hari libur ku," katanya malas.
Mendengar perkataan teman-temannya aura gelap Naruto yang sempat menghilang kembali lagi dan ia semakin menundukkan kepalanya dalam. Tapi, tepukkan lembut Kakashi membuat Naruto kembali mengangkat kepalanya.
"Jika meraka tidak bisa biar aku, Yamato, Rin, Obito, Choji dan Sakura yang membantu mu." ujar Kakashi, "Bener 'kan, Sakura?" tanyanya menatap gadis merah muda itu dengan senyuman ramah dari balik masker yang dikenakannya.
"Ah!? Ya," jawab Sakura sedikit terkejut dengan pertanyaan Kakashi yang mendadak. Selama hari libur menjelang ujian kenaikan kelas ia tidak ada rencana kecuali belajar, jadi tidak apa-apa jika menyempatkan waktu untuk membantu Naruto belajar.
"Bagus," teriak Obito sambil menjentikkan jari. "Kita akan mengajari Naruto selama libur, jadi kalian bawalah pakaian secukupnya, untuk masalah tempat dan sebagainya biar aku yang urus."
"Maksud Obito-nii, kita akan menginap di suatu tempat bersama selama membantu Naruto belajar?" tanya Choji memastikan yang di jawab anggukkan kepala oleh Obito.
Menginap? Bersama?
"Mulai besok cafe akan ditutup selama kita pergi, dan kalian yang tidak ikut akan diberi libur," ujar Kakashi sambil melirik ekspresi beberapa pemuda di dekatnya. Dan sebuah lengkungan tipis tercipta saat dilihatnya ekspresi para pegawainya berubah.
"Sepertinya akan terjadi hal yang menarik," batinnya.
.
.
.
Zraaash
Suara angin yang berhembus cukup kencang membuat helai merah muda yang diikat berantakkan terbang ke sana kemari terbawa angin. Angin yang begitu nyaman dan menyejukkan ditambah suara kicauan burung camar yang terbang beriringan bak irama musik penyabutan di telinga sang gadis. Tapi dari semua itu, suara yang paling membuatnya senang sehingga memunculkan seulas senyum manis di wajahnya adalah suara ombak dihadapannya.
"Pantai..." gumam gadis itu senang. Baru kali ini ia pergi ke tempat yang memiliki genangan air asin yang begitu luas. Warna biru yang membentang sejauh mata memandang, pasir putih yang menyentuh kulit kaki terasa seperti mengelitik syaraf.
"Kau suka, Sakura-chan?" tanya seorang pria dengan rambut hitam sambil tersenyum bangga.
"Ini indah sekali," jawab sang gadis merah muda tanpa mengalihkan tatapannya dari pemandangan indah laut di depannya. Seharusnya sekarang ia sedang merasakan hawa musim dingin bulan Desember di kota Konoha, tetapi pria yang merupakan salah satu atasannya ini malah membawanya ke sebuah pulau tropis menikmati cahaya matahari pantai di bulan Desember. Orang kaya memang luar biasa.
"Maaf." ucap Yamato, "bukankah, seharusnya kita membantu Naruto belajar, bukannya berlibur ke pantai?" tanyanya penasaran.
Obito menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, "Ck... ck... pemikiran mu sangat dangkal Yamato," ujarnya sombong. "cara yang paling mudah untuk memahami pelajaran bagi orang seperti Naruto adalah belajar sambil bermain. Selain itu, tujuan utama kita tetaplah membantu Naruto belajar dan pantai sebagai media bermainnya ho... ho... ho..." jawabnya percaya diri.
Yamato hanya memandang bosan dan tidak percaya dengan perkataan Obito. Bagaimana ia bisa percaya jika apa yang dikatakan dan dilakukan pria di depannya tidak sama. Lihatlah penampilan pria itu yang sangat mencerminkan ia sedang berlibur! Celana pendek berwarna hijau tosca—dengan garis putih di kiri dan kanan—untuk berenang, kacamata hitam yang bertengger manis di atas kepalanya, payung besar di tangan kanan dan sebuah bola volly pantai terapit di ketiak kirinya. Dan ia masih dengan percaya dirinya mengatakan tujuan utamanya adalah belajar.
"Tidak apa-apa Yamato, sesekali kita pergi berlibur bersama juga baik," timpal Kakashi membela sahabat karibnya satu itu.
Yamato menganggukkan kepalanya mengerti. Sebagai seorang guru ia tahu, terlalu memaksakan diri untuk belajar itu tidak baik, dengan sedikit bersenang-senang mungkin tidak apa, ya mungkin saja?
"Aku setuju dengan pemikiran Obito-nii," ujar Naruto. "tapi... Kenapa kalian semua ada di sini?!" perempatan siku muncul di dahi pemuda pirang itu, dengan sedikit kesal ia menunjuk satu persatu wajah beberapa pemuda tampan di belakangnya.
"Kalian bilang sibuk, tapi kenapa malah ikut bersama kami, hah?!" tambahnya dengan sedikit berteriak.
Para pemuda yang ditunjuk Naruto hanya cuek tak peduli seolah tidak tahu jika teman mereka satu ini sedang marah.
"Membantu teman itu hal yang baik," ujar Sasuke memberi alasan.
"Orang seperti mu mengatakan hal seperti itu... rasanya err..." Naruto menatap curiga sahabatnya satu ini. Sejak kapan tuan Uchiha yang acuh tak acuh mau membantu orang lain.
"Tiba-tiba Akamaru mengatakan, ia ingin bersama Sakura," sambung Kiba memberikan alasannya.
"Sejak kapan kau mengerti bahasa hewan, hah?!" bentak Naruto mendengar perkataan Kiba.
"Universitas yang akan kami datangi di tutup karena sedang libur," kini giliran Neji dan Sai yang memberikan alasan mereka.
"Tidak mungkin ada Universitas libur sampai di tutup segala!" Naruto menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri dengan ekspresi tidak percaya.
"Temari-nee pergi bersama Kankuro-nii." ujar Gaara datar.
"..." Naruto diam, alasan Gaara paling masuk akal sejauh ini tapi rasanya terlalu dipaksakan.
Shikamaru menguap lebar, "Hoa~ aku bosan tidur."
"Kalau bosan, kenapa kau terus menguap dari tadi?" tanya Naruto setengah membentak.
Pemuda pirang itu mengepalkan tangannya kuat, teman-teman yang tidak setia kawan seperti mereka itu mau membantunya pasti karena ada alasan lain. Rasanya kesal waktu ingat mereka tidak mau membantunya dan sekarang mereka malah ikut ke pantai, padahal ia punya rencana untuk menarik perhatian Sakura selama berlibur ah! salah, maksudnya belajar di pantai. Kalau teman-temannya juga ikut maka kesempatan untuk berduaan dengan gadis musim semi itu akan berkurang. Tapi...
"Aku akan memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun agar bisa berduaan dengan Sakura-chan sambil melihat matahari terbenam he... he..." batin Naruto dan mungkin keenam pemuda di belakangnya juga memikirkan hal yang sama karena dari tadi terus tersenyum dengan seringaian mencurigakan.
"Pola pemikiran yang mudah di tebak," batin Kakashi, Rin, Obito, Yamato dan Choji yang dari tadi hanya memperhatikan mereka.
Obito menepuk-nepuk tangannya membuat ketujuh pemuda yang sibuk dengan rencana mereka kembali fokus menatapnya.
"Cepat ganti pakaian kalian dengan baju renang, kita akan menuju pantai!" perintahnya.
Sakura menautkan alisnya dan berjalan mendekati pria itu, dengan ragu-ragu ia berkata, "Maaf Obiti-nii, aku tidak membawa baju renang, karena ku pikir kita hanya akan menginap di cafe."
Obito menepuk pelan bahu sang gadis merah muda, "Tenang saja Sakura-chan, aku sudah mempersiapkan semuanya," sebuah seringaian terukir jelas di wajahnya.
"Ayo ikuti aku!" perintah Obito. Mereka semua saling melempar tatapan meminta penjelasan satu sama lain. Mencoba mencari penjelasan, mungkin saja ada yang tahu dengan rencana pria ini, namun nihil, kerena rencana ini semuanya disiapkan oleh Obito seorang diri.
Mereka semua berjalan beriringan sepanjang garis pantai, menikmati semilir angin laut yang terus bertiup nyaman. Hingga sampai di sebuah rumah besar yang terbuat dari kayu bercat biru muda seperti laut, di depannya terdapat teras yang cukup luas dengan banyak ornamen hiasan yang berbentuk hewan laut seperti kerang dan bintang laut. Dari pada rumah lebih cocok dikatakan sebagai sebuah villa.
"Ini hebat sekali..." kagum Sakura, ini kali pertamanya melihat sebuah villa di tepi pantai, seperti yang ada di televisi.
Obito berjalan ke depan pintu dan membalik badan menghadap semua orang. Dengan kedua tangan di pinggang ia berkata, "Ini adalah villa yang digunakan oleh keluarga Uchiha untuk menghindari musim dingin, dan untuk beberapa hari ke depan kita yang akan menggunakannya. Hebat bukan?"
Kedua manik emerald Sakura berbinar kagum. Orang kaya memang hebat. Walau gadis merah muda itu dibuat kagum oleh Obito tetapi tidak untuk yang lain, mereka hanya diam tak peduli dengan apa yang dikatakannya. Karena semua yang dikatakan Obito merupakan hal yang biasa bagi mereka.
"Sakura-chan,.." panggil Obito membuat gadis merah muda yang memandang kagum villa teralih padanya. "sekarang masuklah ke dalam bersama Rin, aku sudah menyiapkan baju renang untuk mu!" lanjutnya.
Sakura menganggukkan kepalanya dan bersama dengan Rin ia memasuki villa mewah milik keluarga Uchiha itu.
"Obito-nii kenapa kau memerintahkan kami mengganti pakaian, bukankah seharusnya kita sekarang memulai rencana untuk mengajari Naruto?" tanya Choji bingung.
"Kita 'kan baru sampai, lebih baik sebelum mulai belajar otot-otot tubuh yang tegang setelah naik pesawat dibuat lebih relex sedikit," ujar Obito mencari alasan.
"Itu alasan yang terlalu memaksa, Obito-nii," Kiba mendelik curiga pada pria dewasa itu. Bergaul dengannya cukup lama membuatnya sedikit paham dengan cara pemikiran pria itu.
Obito terteguk diam. Alasannya ditolak. Kalau boleh jujur, ia memang sedang ingin bersenang-senang. Selain itu, sekarang cuaca sedang memasuki musim dingin, di mana sebagian negara berubah menjadi serba putih. Dan sebagian orang—termasuk ia sendiri—lebih memilih berlibur ke pantai dan bermandikan cahaya matahari, belum lagi para wisatawan yang datang dengan baju renang mereka. Uh, ia tak akan melewatkan kesempatan satu itu.
"Ehm, dengarkan aku!" bisik Obito pelan agar tak didengar oleh Kakashi dan Yamato, "Apa kalian tidak ingin ke pantai dan melihat wanita cantik menggunakan bikini?" tanyanya sedikit menggoda. Laki-laki mana yang tidak akan tergoda oleh bikini?
Para pemuda itu diam sejenak dan setelahnya serempak menggelengkan kepala. Mereka tidak tertarik dengan hal mesum seperti itu, jangan samakan mereka dengan pria mesum satu ini.
Obito mendesah kesal, rencananya gagal. Tapi jangan panggil ia Uchiha Obito kalau begitu saja sudah menyerah. Sebuah seringaian tipis terukir di wajah tampannya, sekarang saatnya menggunakan jurus terakhir.
"Kalian serius tidak ingin melihat wanita cantik menggunakan bikini?" tanyanya memastikan yang dijawab anggukkan mantap oleh para pemuda tanggung itu. "termasuk wanita cantik dengan rambut merah muda menggunakan bikini?" Shcak matt, kali ini pasti berhasil. Lihat saja ekspresi para pemuda yang berubah drastis. Wajah mereka memerah padam, walau pun sebagian berusaha tetap memasang wajah datar tapi itu tidak berhasil sama sekali.
Obito berjalan menjauh meninggalkan para pemuda yang sepertinya sedang berpikir keras. Dengan sangat perlahan ia bejalan kearah pintu, "Baiklah, jika kalian sangat tidak sabar untuk segera memulai pelajaran," ia melirik para pemuda itu dengan ekor matanya. "tapi, kalau aku jadi kalian. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."
"Tu-tunggu... Obito-nii!" suara teriakkan Naruto menghentikan langkah Obito, sekilas ia menyeringai dan berbalik badan.
"Sepertinya apa yang Obito-nii katakan benar. Otak ku tidak akan bekerja dengan baik jika syarafnya lelah karena perjalanan jauh," lanjut Naruto.
"A-aku juga sama. Otot-otot ku pegal semua," tambah Kiba diikuti gonggongan Akamaru.
"Ide mu tidak buruk juga, paman mesum. Merelex 'kan otot ide yang bagus," ujar Sasuke datar sambil melirik ke samping.
"Bersantai sedikit baik untuk kesehatan," timpal Neji dengan tangan berlipat di depan dada.
"Akan jadi sangat merepotkan, jika baru tiba langsung mulai belajar," Shikamaru menguap bosan, walau dari sudut matanya ia terlihat antusias.
"Sudah lama tidak bermain di pantai," Gaara ikut menyumbangkan argumentasinya.
"Aku mengalami jetleg, jika bermain di pantai akan segera sembuh," ujar Sai dengan senyuman polos tanpa dosa. Ia tidak menyadari saja tatapan aneh dari teman-temannya.
Obito hanya tersenyum mendengar alasan yang dilontarkan para pemuda itu, ketara sekali mereka hanya mencari-cari alasan.
Obito menganggukkan kepalanya seolah-olah mengerti, "Jika alasan kalian begitu, segeralah ganti pakaian sebelum Rin dan Sakura-chan selesai!" perintahnya. Tanpa menunggu kalimat selanjutnya para pemuda itu—minus Choji yang tertatih-tatih—dengan cepat masuk ke dalam villa, segera mengganti pakaian mereka.
Dari kejauhan Kakashi dan Yamato melihat perubahan para pemuda itu. Sedikit penasaran mereka mendekati Obito yang memasang senyum kemenangan.
"Obito, apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Kakashi penuh selidik, ia sudah kenal betul tabiat sahabatnya satu ini.
"Bukan hal yang aneh." jawab Obito singkat, jeda sebentar sebelum ia melanjutkan kata-katanya, "Masa muda itu menyenang 'kan, ya?"
~~Clover Cafe~~
"Mereka lama..." keluh Naruto tidak sabaran.
Sudah lima menit mereka menunggu di luar setelah selesai mengganti pakaian dengan celana renang pendek. Secara normal waktu lima menit tidaklah lama. Tapi, jika kau sedang menunggu hal yang diinginkan, waktu lima menit terasa seperti lima jam. Lebay memang tapi itu kenyataan.
"Bersabarlah sedikit Naruto, wanita memang memerlukan waktu yang lebih lama dari pada pria," perkataan Kakashi terasa de javu bagi Naruto, rasanya ia juga pernah dibuat menunggu seperti ini.
Naruto menghelakan nafas dan mengedarkan pandangannya melihat teman-temannya yang lain. Sepertinya mereka juga bernasib sama, sama-sama menunggu dengan tidak sabaran.
Sasuke berdiri bersama Obito, dan sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, atau Obito yang sedang menggoda Sasuke. Pemuda Uchiha itu menggunakan celana pendek warna biru gelap dengan lambang kipas di bawah bagian kanan. Tidak begitu jauh ada Kiba dengan celana pendek berwarna ungu gelap sedang berjongkok, dan tangan kanannya mengusap lembut bulu Akamaru di sebelahnya. Di sebelah Kiba ada Shikamaru yang duduk bersandar pada Choji di belakangnya, kelihatannya ia sedang tertidur karena bosan menunggu. Di dekat Sasuke ada Neji, Sai dan Gaara yang diam berdiri, mungkin sibuk dengan pikiran masing-masing.
Cklek
Suara pintu yang terbuka membuat semua pria yang sibuk dengan urusan masing-masing langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan ke depan.
"Wow-wow, sabar semuanya!" perintah Rin yang cukup terkejut dikerumuni oleh para pemuda yang tidak sabaran itu.
"Mana Sakura-chan?" tanya Naruto tidak sabaran. Bayangan gadis merah muda dengan bikini menari-nari dalam kepalanya.
Karena mendengar namanya disebut, Sakura yang awalnya masih berada di dalam—diperintahkan Rin—keluar dari dalam villa.
Deg
Semua mata melebar kagum, sang gadis yang di tunggu-tunggu nampak sangat manis dengan hot pants berwarna biru muda dan tan top berwarna merah, rambut merah muda panjangnya diikat ekor kuda dengan hiasan bunga matahari besar memperlihatkan lehernya yang mulus menggoda, sungguh manis sekali bikini itu. Eh, bikini?
"Sakura-chan, kenapa kau tidak memakai bikini yang aku siapkan?" tanya Obito kecewa, padahal ia sudah susah payah membelinya untuk Sakura.
Sakura memalingkan wajahnya yang memerah malu ke samping dan sedikit menutupinya dengan telapak tangan, "A-aku malu Obito-nii, pakaian itu terlalu terbuka... Rasanya seperti memakai pakaian dalam..." bisiknya pelan dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Bagi Sakura ini kali pertama baginya pergi ke pantai dan jika harus menggunakan bikini yang err... terbuka mungkin ia akan lebih memilih untuk tidak akan pernah keluar dari dalam villa dari pada harus mengunakan pakaian kekurangan bahan itu.
Semuanya hanya diam, jujur mereka cukup kecewa karena tidak bisa melihat gadis itu mengenakan bikini. Tapi wajah memerah sang gadis sungguh manis dan cantik, hanya melihat itu saja mereka sudah puas. Sangat malah.
"Tidak apa Saku, kau manis dengan pakaian biasa," puji Gaara diikuti anggukkan dari para pemuda yang masih setengah terpesona itu.
Greb
Obito menarik paksa tangan Sasuke dan Naruto untuk mengikuti langkahnya, "Ayo, segera menuju pantai!"
"Hoi baka! Kau tak harus menarik ku!" protes Sasuke tidak terima.
"Obito-nii biarkan aku bersama Sakura-chan!" mohon Naruto, sedangkan orang yang di mohon tetap menarik tangannya dan tertawa senang.
"Merepotkan..."
"Ayo Akamaru!"
"Guk.. guk..!"
"Mereka kekanak-kanakan sekali, ya?"
"Kau benar Sai."
"Aku lapar..."
"Aku membawa beberapa cemilan untuk di pantai."
"Yamato-sensei selalu siap..."
"Ya, untuk berjaga-jaga."
Sakura yang di tinggal di belakang hanya menatap punggung para pemuda yang mulai menjauh menuju pantai. Entah kenapa ia tak bisa menahan hasrat untuk tersenyum melihat keakraban mereka semua, andai saja suasana seperti ini bisa bertahan selamanya...
"Cepatlah tumbuh dewasa dan kami semua akan menunggu mu..."
sekilas banyangan seseorang melintas di dalam benaknya, bayangan seorang pemuda yang terlihat samar-samar. Dan rasanya ada sesuatu yang hangat memenuhi rongga dadanya yang terasa begitu nyaman.
"Sakura-chan, kurasa kita juga harus segera menyusul mereka...?" tawar Rin yang kini sudah berdiri di depan Sakura.
Untuk sesaat sang gadis mengerjapkan matanya yang sedikit silau karena pancaran sinar matahari di depannya. Pancaran sinar yang membuat sosok di depannya terlihat begitu berkilauan.
"Ya, nee-chan..."
#
.
.
.
"Sakura-chan, lihat kerang yang ku temukan!" perintah Rin sambil memperlihatkan cangkang kerang di tangannya.
Kedua manik emerald sang gadis merah muda berbinar, "Indah sekali nee-chan..."
"He he he... kita bawa beberapa sebagai oleh-oleh saja, bagaimana?"
Sakura menganggukkan kepalanya cepat, "Ya, aku juga ingin memberikannya pada Ino, Hinata, Temari-nee dan Tenten-senpai."
"Ayo cari yang banyak!"
Sementara para gadis sedang berburu cangkang kerang di pantai, para pria dewasa dengan santainya duduk menikmati panas matahari pantai yang membakar kulit putih mereka tanpa mempedulikan tatapan terpesona para pengunjung lain.
"Senpai, apa tak masalah kita seperti ini?" tanya Yamato sedikit khawatir.
Kakashi melepas kacamata hitamnya dan sedikit bangkit dari posisi duduknya, "Tak masalah, kau tak harus khawatir seperti orang tua yang anaknya ingin di lamar seperti itu, Yamato..." godanya.
"Si-siapa yang khawatir seperti orang tua yang anaknya ingin di lamar?! Aku hanya mengkhawatirkan mereka yang sepertinya sudah melupakan tujuan utama kita datang kemari."
Kakashi memperhatikan kelakuan para murid sekaligus pelayannya. Naruto dan Kiba sedang berselancar, Sasuke yang menatap tajam kelakuan paman mesumnya, Obito yang menggoda para pengujung wanita. Shikamaru dan Choji yang tertidur. Neji, Sai dan Gaara yang mengawasi Sakura dari jauh. Sepertinya yang dikatakan Yamato benar, mereka telah melupakan tujuan utama datang kemari.
Kakashi berdiri dan mengambil bola volly pantai yang dibawah Obito, "Yamato, mereka tanggung jawab ku dan juga untuk seterusnya."
Yamato terdiam di tempat dan perlahan lengkungan tipis terukir di wajahnya, "Terserah kau saja, senpai," ujarnya dan mengikuti langkah seniornya satu itu.
Kakashi berjalan ke tengah pantai, "Yo!" panggilnya keras, cukup keras untuk membuat semua orang mengalihkan kepala kearahnya, "mau bermain volly pantai?" lanjutnya.
Para pemuda dan gadis yang di maksud menghentikan aktifitas mereka dan berjalan mengerubuni guru mereka yang masih berdiri dengan bola volly.
"Kami setuju, hanya saja di sini terlalu ramai," komentar Kiba sambil melirik pengunjung lain yang menatap mereka aneh dan penuh nafsu.
Kakashi meletakkan tangan kanannya di dagu, memasang pose berpikir. Benar kata Kiba di sini terlalu ramai dan sepertinya mereka menjadi pusat perhatian.
"Obito..." panggilnya pada sahabat karibnya yang mesum, "apa kau punya tempat yang bagus?" lanjutnya setelah mendapat respon kecil dari Obito.
"Hemm~ tempat yang bagus, ya?" gumam Obito sambil mengingat-ingat tempat yang bisa mereka gunakan, "hanya disekitar villa saja tempat yang sepi dari pengunjung, karena tempat itu cukup pribadi sehingga tidak sebarang orang bisa ke sana." ujarnya menganalisa. Walaupun ia termasuk katagori mesum—tidak mau mengaku—di dalam tubuhnya tetap mengalir darah jenius Uchiha, kan?
"Yosh, kita bermain di sana saja kalau begitu!" teriak Naruto bersemangat.
Mereka semua berjalan kembali menuju villa, setidaknya itu tempat yang cukup aman untuk mereka dari tatapan memuja pengunjung lain.
Sreek sreek...
Reflek, Sakura yang berjalan di belakang sekali bersama Rin dan Yamato berbalik badan saat mendengat suara dedaunan yang saling bergesek. Tapi saat Sakura membalik badannya tak ada siapa pun di belakang mereka. Rasanya seperti ada orang yang mengikuti mereka.
"Sakura-chan..." panggil Rin yang melihat ekspresi gelisah dan takut gadis di sebelahnya, "apa ada sesuatu?"
Sakura tak bergeming, masih fokus dengan semak-semak yang ada di hadapannya. Apa tadi hanya perasaannya saja karena tak mungkin ada orang yang mengikuti mereka.
"Sakura?" kali ini suara Yamato yang cukup keras membuat sang gadis tersentak kaget, "ada apa?"
Sakura menggelengkan kepalanya, "Kupikir ada seseorang yang mengikuti kita, mungkin hanya perasaan ku saja," jelasnya sambil tertawa hambar.
Yamato dan Rin mengikuti arah pandang Sakura tadi. Tidak ada yang aneh dengan semak-semak itu, mungkin tadi hanya suara daun yang bergesek karena hembusan angin pantai yang lumayan kencang.
"Hoi! Apa yang kalian lakukan di sana?" teriak Obito dari jarak yang cukup jauh.
Yamato melambaikan tangannya, "Tidak ada apa-apa, Sakura hanya terkejut mendengar suara daun yang bergesek," jelasnya.
Sebagian dari para pemuda itu mengerutkan alis mereka. Seperti sedang memikirkan sesuatu atau mencurigai sesuatu. Tapi sudahlah, tak mungkin ada hal aneh di tempat yang mereka tuju. Orang bodoh mana yang mau memasuki wilayah pribadi milik Uchiha.
Sementara mereka semua kembali melanjutkan perjalanan menuju villa. Sakura yang masih berjalan di belakang sekali, sesekali menengok kebelakang. Memastikan apakah tadi hanya perasaannya saja.
"Sakura-chan semuanya pasti akan baik-baik saja, jika terjadi sesuatu mereka semua pasti akan melindungi kita," ujar Rin menenangkan gadis merah muda yang masih gelisah itu.
Sakura menundukkan kepalanya, "Ya, Nee-chan benar."
Sreek sreek...
Kembali, suara dedaunan semak-semak yang saling bergesek terdengar tapi kali ini Sakura tidak ingin ambil pusing. Akhir-akhir ini ia memang sering merasa aneh dan seperti melihat bayang-bayang yang tiba-tiba, membuat ia jadi berpikir yang tidak-tidak. Selama ia masih bersama yang lain, ia yakin semuanya akan baik-baik saja seperti yang dikatakan Rin. Ya pasti.
Dari dalam semak-semak muncul sesosok bayangan asing yang dari sorot matanya fokus memperhatikan segerombolan muda-mudi dan beberapa orang dewasa saling bercengkraman riang di dapannya.
.
.
.
"Rasakah ini!"
Syuut
Bola volly yang di smash Naruto melaju dengan cepatnya dan terarah tepat menuju Kiba di seberang jaring sana.
"Sial!" dengan sedikit kelabakan Kiba berhasil memantulkan bola menuju jaring kearah Naruto.
Tapi sebelum bola putih bulat itu melewati jaring, Sasuke yang berada tepat di depan melompat mem-block bola tersebut dan akhirnya jatuh menyentuh tanah.
"Point untuk tim Dobe-Teme, perpindahan bola!" teriak Neji selaku wasit dalam permainan volly pantai kali ini.
"Yey!" teriak Naruto senang dibalas senyuman oleh Sasuke.
"Aaaahh! Sai apa yang kau lakukan?! Seharusnya kau yang di depan mem-block bola!" bentak Kiba sedikit kesal dengan patner bermainnya yang hanya diam.
Seolah tak bersalah Sai hanya tersenyum tanpa dosa, "Di awal kau mengatakankan, bagian mem-block adalah tugas mu."
"Eh!?" Kiba tidak bisa membalas perkataan Sai yang santai tapi tepat sasaran itu, mulutnya benar-benar tajam pikirnya.
"Mereka itu merepotkan sekali..." gumam Shikamaru yang terbangun karena suara berisik teman-temannya.
"Ha ha ha..." Choji yang menjadi tempat sandaran Shikamaru tidur hanya tertawa hambar dengan sekantung keripik di tangannya.
"Naruto..." panggil Gaara sambil melempar bola volly, "sekarang giliran tim Dobe-Teme yang melakukan service," lanjutnya selaku assisten wasit.
Naruto menerima lemparan bola Gaara, "Semakin sering disebut nama tim ini jadi tidak keren..." gumamnya.
"Salah mu yang memberi nama itu," cibir Sasuke yang mendengar gumaman Naruto.
Naruto melempar bola volly keatas dan bersiap memukulnya, "Kupikir agar nama timnya mudah diingat, kalau tau jadi aneh begini harusnya ku buat jadi Sakura Love Naruto sa—"
Blatk
Sebelum Naruto menyelesaikan perkataannya jitakan hangat Sasuke dengan telak mengenai kepalanya, "Baka-dobe!" maki Sasuke.
Syuuutttttttt... sreek sreekk
"..."
Karena Sasuke yang menjitak kepala Naruto, tanpa sadar Naruto memukul bola volly tak bersalah itu keras sehingga membuatnya melambung tinggi dan jauh menuju semak-semak.
"Bolanya..." gumam Rin melihat nasib malang bola tak berdosa itu jadi terlempar jauh.
"Naruto cepat ambil bolanya!" perintah Neji tegas.
Naruto memegangi kepalanya yang berdenyut dan menunjuk wajah Sasuke, "Kenapa aku yang mengambilnya?! Teme yang memukulku, seharusnya dia yang mengambilnya!" protesnya tidak terima.
"Hah?! Kau mengatakan sesuatu, Naruto?" tanya Neji penuh penekanan dengan tatapan mengintimidasi dan aura hitam.
"Ti-tidak..." ujarnya takut dengan keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Neji kalau sudah marah lebih mengerikan dari gorila yang mengamuk di tengah kota.
Dengan langkah gontai pemuda pirang itu berjalan keluar dari lapangan, tapi langkahnya terhenti oleh suara kecil yang begitu lembut terdengar di indra pendengarannya.
"Biar aku yang menggantikan Naruto mengambil bola," tawar Sakura yang sudah bosan hanya duduk diam memperhatikan para pemuda bermain.
"Itu kesalahan Naruto, Saku..." ujar Gaara membuat Naruto menatapnya tajam, "kau tak perlu repot mengambilkannya."
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, "Aku hanya ingin membantu mengambil bola itu, apa tidak boleh...?" tanyanya dengan tatapan berkaca-kaca kepada semua orang di sana.
Glek
Serempak mereka semua menelan air liur. Dari mana gadis merah muda ini mempelajari tatapan berbahaya seperti itu. Ini berbahaya, hanya di tatap seperti itu saja rasanya jantung mereka sudah mau melompat dari tempatnya.
"Ka-kalau itu keinginan mu... silakan lakukan..." jawab Neji sedikit terbata-bata. Apa ini rasanya jadi Hinata, sepupunya.
Tatapan berkaca-kaca yang dipelajari Sakura dari Ino berubah jadi tatapan gembira. Akhirnya ia berguna juga.
Dengan langkah riang gadis merah muda itu belari kecil menuju semak-semak di mana terakhir kali ia melihat bola itu jatuh.
Ditengok ke kanan dan ke kiri, tapi bola bulat berwarna putih itu tak juga terlihat. Padalah ia sudah cukup lama dan jauh masuk ke dalam semak-semak, tapi tidak ketemu juga.
"Bola putih bulat kau di mana?" panggil Sakura ditengah-tengah aktifitas mencarinya. Apa ia pikir bola volly yang jelas benda mati itu seperti anak kucing yang akan muncul kalau di panggil?
Setelah cukup keras mencari akhirnya bola itu ditemukan juga. Bola itu terjatuh di antara semak-semak wajar ia jadi kesulitan menemukannya, tapi untunglah ketemu dan dengan ini ia bisa segera kembali ketempat teman-temannya...
Sreek Sreek...
Deg!
Dengan cepat Sakura membalik badannya, suara itu bukanlah suara daun yang bergesek karena angin tapi lebih terasa seperti suara daun yang disenggol dan suaranya terdengar begitu dekat.
"Si-siapa itu...?" tanya sang gadis takut-takut, bola volly yang baru ditemukannya dipeluk erat untuk mengurangi perasaan gugup dan takut yang sedang menderanya.
Tak ada suara jawaban, hanya suara angin yang berhembus saja yang terdengar. Begitu sepi dan mencekam.
Dengan sedikit panik gadis musim semi itu berdiri dan mencoba berjalan keluar dari semak-semak itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat bayangan orang di balik semak-semak di sampingnya.
Entah keberanian dari mana, Sakura mendekati sosok bayangan itu. Keringat dingin menetes dari dahinya dan dengan tangan gemetar ia menepuk bahu sosok yang membelakanginya itu...
"Ghyaaaaaaaa!"
"Kyhaaaaaaaa!"
Deg
Semua kepala dengan cepat terarah ke sumber teriakan nyaring yang begitu familiar.
"Sakura?!"
"Sakura-chan?!"
"Saku?!"
Teriak mereka antara takut, panik, khawatir, cemas yang bercampur menjadi satu. Mereka benar-benar berharap sesuatu yang buruk tidak menimpah gadis itu, semoga saja...
TBC
Author Note:
Hai apa kabar? aku kembali... *pasang wajah polos
Aku tepat waktu, 'kan? *ditampar reader* baik-baik aku ngaku, aku ngaret lama hampir satu bulan (_ _")
Maaf yang sebesar-besarnya, karena tugas kuliah menjelang UAS itu banyak banget dan aku harus fokus dulu dengan tugas itu...
Tapi untunglah chap ini bisa di selesaikan walaupun gak yakin 100% XD
Bagaimana pendapat kalian? apa terlalu membosankan atau mengecewakan?
Berhubung kemarin ada Reader yang minta fict dibuat jadi menegangkan dan bikin penasaran, makanya aku cut chap ini waktu adegan teriak-teriakan ha ha ha...
Sepertinya akhir-akhir ini akau lagi suka sama gender humor dan frendship jadinya ikut ngaru sama fict ini, adegannya jadi kebanyakan humor, ya? *walau gak nyakin itu lucu
Baik saatnya menebus janji untuk balas Review, seperti biasa yang Login cek PM dan yang gak Login ini balasannya:
a girl: Gakuen Alice? aku tahu manga itu, tapi maaf aku gak tahu scane yang kamu maksud soalnya aku gak ngikuti manganya (n.n")a
scane ini emang terinspirasi dari manga tapi bukan Gakuen Alice, melainkan manga Sakura... apa, ya? aku lupa, yang pasti manga itu udah lama banget mungkin sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu :D
sasusaku lovers: Ini chap 12, maaf menunggu lama dan semoga tidak mengecewakan (_ _)
Guest: Terima kasih :D
Syukurlah humornya kerasa, ya... awalnya malah gak yakin sama humornya ha ha ha
puihyuuchan: Gkgkgkgkgk *ikut ketawa
Saku lebih suka anjing dari pada cowok keren XD
Iya ni, Kakashi-sensei cari kesempatan dalam kefrustasian(?). Ini menu pantainya, semoga gak mengecewakan :D
Maaf gak bisa update cepat tapi terima kasih sudah menunggu...
NekoNekoChan: Syukurlah kalau suka :D
Pair KakaSaku ya, hmm~ bagaimana ya? tunggu aja perkembangan ceritanya *Sok misterius XD
Terima kasih doanya dan terima kasih sudah mau menunggu lama he he he :D
beky: Ya, mungkin chap kemaren bisa dibilang KakaSaku, ya? *balik nanya
Ini udah semampunya dan sebisanya tapi malah ngaret lama, maaf ya...
dan terima kasih dukungannya :D
sasusaku kira: Iya, akhirnya setelah melewati tumpukkan tugas bisa update juga *ngapus keringat
hm *ngangguk* jadi anak kuliahan itu sibuk banget, mana waktu tidur berkurang lagi...
Terima kasih dukungannya jadi semangat ngerjakan tugas yang masih tersisa #Plak XD
Saku chan: Terima kasih pujiannya, ini sudah dilanjutkan.
Semoga tidak mengecewakan... :D
sasusaku lovers: Orang tua Saku? belum kepikiran untuk memunculkan orang tua Saku langsung, tapi ibunnya Saku udah pernah muncul (walau suaranya aja) di chap 7 menu; Promise. Ya, semoga saja suatu saat aku bisa munculi orang tuanya Saku, jadi penasaran bagaimana reaksi ketujuh cowok itu mencari perhatian calon mertua ha ha ha XD
summer: Gak apa-apa, sudah Review aja udah seneng banget :D
Aku gak jenius kok, yang jenius itu Shika *nunjuk Shika* aku hanya orang aneh yang kebanyakan ngayal(?) dan inilah hasil dari pemikiran gak jelas ku XD
Pasti akan terus dilanjutkan tapi yang jadi kendala itu mood untuk ngetik kadang-kadang hilang, tapi aku tetap akan semangat kok, terima kasih dukungannya :D
Nabil-san: Maaf tidak bisa update cepat ,ini aja untung masih sempat update sebelum puasa (rencananya mau update pas bulan puasa)
Terima kasih sudah di tunggu setiap hari, aku senang sekali :")
Ya, gak apa-apa, Nabil sudah mau meninggalkan Review aja udah senang banget terima kasih ya... :D
Obito: Nona-nona dan tuan-tuan yang cantik dan tampan, sebagai perwakilan Author-san yang sedang pacaran sama tugas kuliahnya *nunjuk Author* saya ucapkan terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca dan meninggalkan Review. Ah, untuk dukungannya juga terima kasih banyak! Jangan lupa selesai baca tolong tinggalkan jejak berupa Review, ya... *kedip
Author: Siapa yang pacaran dengan tugas?! a-aku... lagi dinner sama tugas bukannya pacaran...! *otaknya lagi rusak
Rin: Kemungkinan update Clover's Cafe akan ngaret lagi, jadi mohon maaf harus membuat Reader jadi menunggu lama (lagi), tapi akan tetap dilanjutkan hanya saja tidak bisa update kilat atau pun cepat *senyum
Sakura: Untuk menu selanjutnya adalah Memories dan semoga tidak berubah...
Salam hangat,
Kimeka Reikyu
Palembang, 23 Juni 2013
