Tangan putih wanita berambut merah itu bergetar. Ia sama sekali tidak salah lihat. Buku bersampul pink ditangannya itu memang buku harian anaknya. Ia tahu betul bagaimana tulisan tangan putrinya.

Tiba-tiba saja kepalanya pusing dan mendadak mulutnya mual, lututnya terasa lemas hingga akhirnya ia tidak bisa lagi menahan berat tubuhnya. Kushina jatuh berlutut dengan wajah syok. Dibacanya sekali lagi buku harian di tangannya itu untuk memastikan bahwa ia memang tidak salah baca. Tapi berapa kali pun ia membacanya, tetap saja bahwa tulisan tangan itu memang nyata, tertulis dengan jelas disana dan itu membuat hatinya di sayat-sayat oleh sebuah pisau tajam secara tak kasat mata.

Tanpa diminta air matanya turun tak terkendali lagi.

Tes.

Tes.

Tes.

.

.

.

"Aku tak bisa menghilangkan perasaanku padanya, aku Namikaze Sakura...

... Mencintai Namikaze Naruto, adik kandungku sendiri.

.

.

.

Cinta Yang Salah

Naruto © Masashi Khisimoto

Rate : M

Pairing : Naruto X Sakura Always

Fic abal yang sangat gaje, bikin muntah, pusing dan mual dll.

.

.

Warning: Typo(s) bertebaran, AU, OCC

.

Cinta Yang Salah


Sakura memandang lukisan di depannya dengan bingung, ia hanya seorang calon dokter yang tidak tahu apa-apa tentang seni lukis, pernah dulu sekali Sakura mencoba menggambar demi menghibur anak-anak korban bencana alam di Nepal, dimana ia ditugaskan disana untuk membantu para korban Nepal, khususnya anak-anak yang kehilangan orangtua mereka, tapi hasilnya yang ada ia malah ditertawakan semua anak-anak dan para perawat. Sakura sungguh malu, dan berjanji tidak akan pernah menggambar lagi sejak saat itu.

Lukisan abstrak di hadapannya saja Sakura tidak tahu apa artinya. Dalam pengamatan matanyanya lukisan di depannya itu hanya asal gambar saja, seperti seorang anak balita yang memegang kuas lalu ditempelkan ke kanvas dan digerak-gerakkan dengan sesuka hatinya. Sakura mendengus, percuma mencermati lukisan di depannya sedangkan ia sama sekali tak paham seni.

Kalau saja ia tidak sedang bosan di rumah karena ditinggal oleh ibunya juga serta adiknya yang pergi ke tempat neneknya, serta ayahnya yang masih di kantor karena lembur dan baru akan pulang jam 11 malam nanti, Sakura tidak akan repot-repot mengikuti ajakan Ino kesini.

Sebenarnya siang tadi Kushina sudah menawarkan Sakura untuk ikut ke tempat nenek tersayangnya, hanya karena masih lelah dari perjalanan semalam membuat Sakura memutuskan untuk tidak ikut. Toh liburannya masih lama jadi ia masih punya banyak waktu untuk mengunjungi neneknya kapan-kapan.

Tapi nyatanya Sakura justru mati kebosanan di rumah yang sepi dan akhirnya memutuskan untuk ke rumah Ino. Sahabat barbienya itu lalu mengajaknya ke tempat galeri kekasihnya yang bernama Deidara, yang rupanya malam ini sedang melakukan pegelaran lukisan. Ino sendiri saat ini sedang menemani kekasihnya yang sedang menemani para kolektor-kolektor yang suka membeli lukisan abstark, meninggalkan dirinya sendiri di tengah-tengah lautan manusia yang hadir dipergelaran lukisan tersebut.

"Well, lihat siapa yang kutemui disini?" Suara itu membuat Sakura mengalihkan tatapannya dari lukisan memandang ke asal sumber suara tersebut. Seketika itu ia mendapati seorang pria yang seumuran dengannya menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Saori?" Panggil Sakura, sedikit tidak percaya siapa yang dilihatnya sekarang. Sakura tidak menyangka bahwa ia akan bertemu kembali dengan teman lelakinya masa kecil, Akasuna Sasori.

"Bunga Sakura? Ya Tuhan, apa kabar?" Pria itu mendekati Sakura setelah sebelumnya menyuruh laki-laki disebelahnya agar pergi diluan. "Tidak kusangka bahwa aku akan bertemu denganmu lagi. Terakhir kudengar kamu kuliah di Osaka, kan?" Sasori tampak bersemangat melihat Sakura.

"Ya, aku kuliah di Osaka. Saat ini aku sedang liburan." Sakura membalas pelukan hangat Sasori, teman sekolahnya sejak sekolah dasar kelas satu. Sakura sedikit menjerit kecil manakala Sasori memutar tubuhnya pelan yang saat itu masih dalam pelukan pria itu.

"Oh... Stop, Saori. Kau membuatku malu, disini banyak orang."

"Oh, maaf, maaf," Sasori tertawa, berhenti berputar dan melepaskan Sakura dari pelukannya. "Aku kelewat senang tadi karena aku bisa bertemu lagi dengan Bunga Sakuraku."

"Jangan memanggilku seperti itu." Sakura meninju bahu Sasori dengan wajah yang memerah, yang anehnya membuat gadis itu semakin terlihat cantik di mata Sasori.

"Memangnya kenapa? Sejak dulu kan aku memang sering memanggilmu Bunga Sakura." Goda Sasori, pria itu tertawa senang ketika melihat Sakura melototinya dengan pipi yang memerah bagaikan tomat. Setelah itu dimulailah obrolan-obrolan kecil mereka, menulusuri geleri sambil bernolstagia tentang masa-masa lalu mereka.

.

"Aku tidak tahu kalau kau suka seni?" Tanya Sakura, saat ini mereka berdua berada diluar galeri untuk mencari udara malam. Duduk di salah satu bangku taman di depan geleri tersebut.

"Aku memang tidak suka seni, aku kesini hanya menemani relasi bisnis ayahku."

"Bisnis?"

"Yup." Sasori menganggukan kepalanya malu-malu. "Aku seorang Direktur diperusahaan ayahku sekarang."

"Really?" Tanya Sakura kaget. Sasori menganggukkan kepalanya lagi. "Wah... Itu sangat hebat. Tidak kusangka bocah berandalan yang dulu kukenal bisa juga kerja dikantoran. Kamu tidak ada salah makan, kan?" Goda Sakura, membuat Sasori semakin salah tingkah. Sebenarnya Sakura cukup kaget mengetahui bahwa sahabatnya sekarang menjadi seorang Direktur di perusahaan ayahnya yang cukup besar, Akasuna Construction. Karena Sakura tahu, Sasori dulu lebih suka menjadi berandalan, bebas kesana kemari membuat onar dari pada berurusan dengan perusahaan besar ayahnya, yang sering membuatnya bikin sakit kepala.

"Itu dulu, Bunga Sakura. Setiap orang pasti akan selalu mengalami perubahan seiring pertumbuhan mereka."

"Pertumbuhan apa? Pertumbuhan jenggot? Pertumbuhan bulu dada? Atau pertumbuhan kelaminmu yang kecil itu? Hahahaha. Maaf, maaf, tapi kau tahu kan sewaktu kita masih kecil aku sering melihat burungmu yang kecil itu kalau lagi buang urine."

"Sialan kau!" Sasori menempleng kepala Sakura pelan. Kata-kata cabul Sakura semakin membuat wajah Sasori terbakar. Sakura tertawa lagi, kali ini sedikit keras.

"Tapi asal kau tahu, Bunga Sakura?" Sakura menghentikan tawanya dan menaikkan sebelah alisnya bingung. Sasori tersenyum jahil. "Burungku sekarang jauh lebih besar dari dulu." Wajah Sakura memerah. "Dan aku juga sudah pernah melihat punyamu saat buang urine, sangat jelas malah, karena saat itu kau membuang urine sambil berdiri karena ingin meniruku."

Skatmat.

Sasori membalas Sakura telak. Gadis bersurai pink itu tiba-tiba saja terdiam. Wajahnya yang semula memerah kini berubah keungu-unguan karena menahan napasnya cukup lama. Seditik kemudian...

"Do you want to die?!" Sakura berteriak kesetanan, memukul Sasori dengan membabi buta, orang-orang yang berada di sekitar depan galeri tersebut menoleh melihat kekacauan itu. Sasori tertawa terbahak-bahak melihat muka Sakura yang memerah karena menahan malu.

Apa yang dikatakan Sasori maupun Sakura tadi memang benar, dulu ketika mereka masih kelas tiga sekolah dasar, Sakura sering menemani Sasori ke toilet karena bocah berambut merah itu takut jika ke toilet sendiri, karena menurutnya di toilet itu suka ada hantu nenek gayung? Jadi setiap kali Sasori kecil mau pipis, dia akan meminta Sakura atau siapapun yang berada di dekatnya untuk menemaninya ke toilet. Mungkin karena sudah sering melihat Sasori buang urine, Sakura pun menjadi penasaran, bagaimana rasanya kencing sambil berdiri. Dengan berpegangangan pada kaos Sasori, Sakura dengan polosnya memperagakan cara Sasori kencing.

"Srrrrr... Kenapa Saori punya benda panjang itu sih, sedangkan Sakura tidak? Kalau Sakura punya kan, kita bisa kencing bersama-sama sampai tua nanti, jadi Saori tidak perlu takut lagi kalau kencing, kan ada Sakura yang temanin, hehehe."

Kejadian memalukan itu ingin sekali Sakura hilangkan kalau bisa. Karena hal itu sering menjadi bahan candaan Sasori jika sedang menggodanya, atau ingin memperlmalukannya.

"Maaf, maaf, jangan di ambil hati, ok. Aku cuma bercanda, Hahaha."

"Candaanmu tidak lucu, Saori."

"Menurutku itu lucu sekali. Apalagi saat kau memperagakan cara ken..."

"Kyaaa... Stop nasty."

Sasori tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai tersedak ketawanya sendiri.

"Mati saja kau."

"Kau yang memulainya diluan, Bunga Sakura."

Sakura mendengus, lalu memalingkan wajahnya yang cemberut.

"Hei... Jangan marah. Aku kan cuma bercanda tadi." Sasori menyenggol bahu Sakura dengan bahunya. "Kalau kau marah aku akan..."

"Akan apa?" Sungut Sakura.

Sasori menyeringai. "Aku akan menciummu, kau mau?"

Sakura melototi Sasori dengan mata besarnya, wajahnya semakin memerah lalu tiba-tiba saja...

Cup!

Pria itu mencium bibir Sakura singkat, namun efeknya dapat membuat hati Sasori bergemuruh hebat. Sasori terdiam lalu tersenyum, diusap-usapnya belakang lehernya kikuk, sedangkan gadis di depannya hanya bisa diam kaku sambil menatap Sasori dengan pandangan horor.

"Bunga Sakura?"

"Sakura-nee?"

Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu reflek menolehkan kepalanya ke sumber suara yang memanggil nama Sakura. Saat itu juga Sakura langsung berdiri lalu di susul Sasori disampingnya, Sakura tampak syok melihat siapa yang memanggilnya saat ini.

"Naruto." Bibirnya bergetar.

"Oh, hai Naruto, lama tidak bertemu." Sasori menjulurkan tangannya kearah adik Sakura itu, tapi uluran tangannya tak disambut oleh pemuda itu, dibiarkan saja disana menggantung diudara, Sasori tersenyum canggung.

"Aku tunggu di mobil," ucap Naruto dengan suara berat dan dalam. Jelas ucapan itu ditunjukkan untuk si gadis di samping Sasori yang kini hanya bisa berdiri mematung ditempatnya.

.

Naruto menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Wajahnya terlihat datar dan selalu lihat ke depan. Sakura yang duduk di sampingnya pun dibuat gelisah, sebab sudah dua puluh menit lamanya pemuda itu tidak mengeluarkan satu katapun dari bibirnya.

"Kami tidak sengaja bertemu." Sakura memulai pembicaraannya. Entah kenapa Sakura perlu menjelaskan apa yang dilihat Naruto tadi. Ia tidak ingin Naruto salah paham padanya. "Apa yang kau lihat barusan itu tidak seperti yang kau pikirkan. Kami... hanya becanda."

Naruto mendengus. "Joking with kissing on the lips?"

Sakura menolehkan kepalanya ke samping, menatap Naruto yang masih setia memasang wajah datar dan dingin.

"So what? I think it's none of your business."

"Does not. Tapi aku tidak menyukai bajingan itu. Dari dulu aku tidak pernah menyukainya jika berdekatan dengan Sakura-nee. Dia bukan orang baik, dia seorang berandalan."

"Dulu." Sakura menambahkan, "dulu dia memang berandalan, tapi itu bukan berarti dia tidak bisa berubah. Semua orang pasti berubah jika memang mereka berniat berubah. Dan berandalan yang kau panggil itu punya nama, namanya Sasori, sahabatku yang tidak berandalan lagi." Jelas Sakura. Naruto terdiam. Sakura tahu sejak dulu Naruto memang tidak menyukai Sasori karena pria itu dulunya adalah seorang berandalan yang nakal. Tapi anehnya meskipun Sasori anak berandalan tak menghalangi niat Sakura untuk berteman dengan Sasori, bahkan menjadi sahabat sejatinya hingga sekarang. Karena dibalik penampilan berandalan Sasori mempunyai hati yang tulus, hanya saja laki-laki itu tidak mau menunjukkannya. Jadi Sakura marah jika ada yang menjelek-jelekkan sahabatnya itu.

Sesaat keduanya tidak berbicara apapun selama beberapa menit, lalu...

"Sorry." Hanya itu yang Naruto katakan, tapi bagi Sakura kata itu sudah cukup karena Naruto menyesali ucapannya.

"Hm." Sakura menjawab sekedarnya.

Tak lama berselang mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai juga di depan rumah mereka yang berlantai dua yang tampak terlihat sangat asri oleh berbagai macam tanaman serta beberapa pohon bunga sakura. Sakura segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sedangkan Naruto memasukan mobilnya ke dalam garasi.

Sakura berganti pakaiannya cepat. Memakai kaos longgar serta celana denim yang panjangnya hanya sepaha, lalu turun dari tangga menuju ke ruang dapur untuk mengisi perutnya yang lapar karena belum ada diisi.

Sakura mengeluh ketika melihat dibalik tutup saji tidak apa-apa, perutnya keroncongan dan ia tidak bisa memasak dengan bahan-bahan mentah yang ada didalam kulkas, jadi Sakura memutuskan untuk membuat yang simple, kopi dan roti tawar untuk mengganjal perutnya yang sedang lapar. Pertama-tama ia harus menyiapkan bahan buat bikin kopi dan Coffee Maker itu sendiri. Setelah menyalakan Coffee Maker, Sakura duduk disalah satu kursi logam, sambil menunggu kopinya selesai terseduh, Sakura memakan roti tawar yang diambilnya di kulkas tadi, setelah sebelumnya mengolesi roti tersebut dengan selai strawberry.

"Apa yang Sakura-nee lakukan?"

Sakura menolehkan wajahnya ke samping, terlihat sesosok Namikaze Naruto sedang menghampirinya.

"Seperti yang kau lihat," Sakura menunjukkan rotinya. "Makan roti sambil menunggu kopi terseduh."

"Hm." Naruto mendudukkan dirinya di depan kakaknya itu, menyandarkan punggungnya yang lelah dan sedikit mengangguk. Pemuda itu tampak terlihat kelelahan. Wajar saja, setelah mengantar Kushina ke rumah neneknya yang cukup jauh, Naruto juga menjemput Sakura di galeri seni.

"Mau roti?" Tawar Sakura. Naruto menggelengkan kepalanya tak berminat.

"Dari mana kau tahu bahwa aku ada di galeri seni tadi?" Tanya Sakura penasaran, sebab ia tidak memberitahu Kushina atau Naruto bahwa ia akan pergi ke galeri seni bersama Ino.

"Aku menelfon Ino karena Sakura-nee tidak ada dirumah, dan aku juga sudah menelfon ke ponsel Sakura-nee berkali-kali tapi tidak aktif."

"Maaf. Betrai ponselku habis. Oh, ya. Mana Ibu?" Tanya Sakura saat tak kunjung melihat Kushina di dalam rumah. Tidak mungkin ibunya itu sudah tidur, karena jam masih menunjukkan jam sembilan malam, biasanya ibunya itu masih bergentanyangan di dalam rumah pada jam segini, entah itu nonton atau bercanda-canda bersama anak-anaknya, atau sekedar bikin cemilan di malam hari.

"Ibu bermalam ditempat Grandma karena di suruh, mungkin besok baru pulang."

Sakura berdiri dari kursinya menghampiri counter dapur untuk mengambil gelas, lalu menuangkan kopi yang sudah terseduh secara otomtis oleh mesin kopi ke dalam gelasnya, setelah itu ia kembali duduk ke tempatnya semula.

"Lalu... Bagaimana keadaan Grandma dan juga Grandpa?" Tanya Sakura setelah meneguk beberapa kali kopi buatannya.

Naruto menghela napas pelan lalu menegakkan tubuhnya. Pemuda itu mengambil gelas ditangan Sakura dan meminumnya setelah sebelumnya ia menghirup aroma kopi itu terlebih dahulu, Sakura mengerutkan dahinya ketika melihat itu. "Seperti biasa, Grandma masih cerewet seperti dulu dan Grandpa juga masih tidak berkurang-kurang mesumnya bahkan semakin menjadi-jadi. Kau tahu, ketika kami masuk ke dalam rumah mereka tadi, Grandma sedang melemparkan guci kesayangan Grandpa yang dari dinasti Ming, hanya karena Grandpa ketahuan menggoda wanita muda yang kebetulan lewat di depan rumah," Jawab Naruto.

Ucapan itu sukses membuat Sakura tertawa kecil mendengarnya. Kebiasaan kakek dan neneknya itu tak pernah berubah. Selalu saja bertengkar, seperti Tom and Jerry. Sakura bisa membayangkan bagaimana wajah menyeramkan neneknya yang sedang marah dan kakeknya yang sedang berlutut minta maaf. "Aku yakin, Grandpa pasti mati-matian meminta maaf sama Grandma."

Naruto meringis. "Yes, that is so," pemuda itu kembali menghirup aroma kopi digelasnya dengan mata terpejam, menyesapnya pelan, lalu mendesah penuh kepuasan.

"Kau tahu? Caramu memulai meminum kopi itu menjijikan. Kau kira kopi itu tai sapi apa, pakai acara dicium-cium segala."

Naruto tersedak. "Astaga, Sakura-nee." Sakura tertawa melihat Naruto memuncratkan kopinya. Naruto melototkan matanya yang indah membuat hati Sakura berdetak cepat.

"Sorry, sorry, hihihi." Cengir Sakura.

Naruto mendecak lalu mulai meminum kopi lagi. Melihat kopinya diminum segera saja Sakura mengambil gelas itu dari tangan Naruto.

"Hei, ini kopiku!" Seru Sakura tak terima kopinya diminum lagi. "Bikin kopimu sendiri, Baka!"

"Ah, Sakura-nee," rajuk Naruto, sedikit tak rela kopi itu di ambil. Pemuda yang memiliki tanda lahir di kedua pipinya itu berusaha merebut gelas dari tangan kakaknya. Tapi Sakura dengan protektifnya melindungi gelasnya. Bahkan gadis itu tak segan-segan memukul punggung tangan adiknya yang masih berusaha mengambil kopinya. Tapi rupanya Naruto tak mau kalah, pemuda itu masih berusaha mengambil gelas kakaknya hingga akhirnya Sakura sedikit mulai kesal.

"Ruru—" Mendengar suara kakaknya yang berubah kesal membuat Naruto terpaksa menyerah dan memutuskan untuk membuat kopinya sendiri sebelum dia mendapatkan pukulan gratis di kepalanya.

"Baiklah, baiklah," ucap Naruto lemas. Pemuda bermanik biru laut itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri counter dapur untuk membuat kopi. Sakura nyengir, kejadian seperti ini yang selalu dirindukannya ketika ia berada di luar kota, pertengkaran kecilnya bersama sang adik.

Sakura mengawasi sosok Naruto yang sedang membuat kopi itu, menatap punggung lebar Naruto dari belakang. Harus Sakura akui adiknya itu terlihat semakin tampan sekarang. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu tumbuh menjadi pemuda yang tampan seperti ayah mereka, memiliki badan yang tegap dan berisi, serta kulitnya yang sedikit terbakar matahari. Kemarin malam Sakura terlalu sibuk mencari Naruto sehingga ia tidak sempat melihat perubahan apa-apa saja yang terjadi pada diri adiknya. Penampilan Naruto malam ini pun cukup menyita perhatian Sakura, tubuh tegapnya yang berisi dan sedikit berotot itu mengenakan kemeja biru donker yang lengannya di gulung sampai nyaris ke siku serta celana jins pudar yang membuatnya terlihat seksi. Dan Sakura buru-buru merutuki dirinya sendiri dalam hati, bagaimana bisa-bisanya ia menganggap adiknya itu seksi. Tapi adiknya itu memang terlihat seksi. Apalagi dengan rambut blondenya yang sedikit panjang hingga menyentuh krah bajunya, tampak berantakan membuatnya semakin terlihat berbeda dari biasanya. Sakura yakin pasti banyak gadis diluaran sana yang jatuh hati dengan ketampanan adiknya. Atau... adiknya itu sudah mempunyai pacar hanya saja ia tidak mengetahuinya.

Mengetahui bahwa suatu saat Naruto akan berpacaran dengan seorang gadis membuat Sakura hanya bisa tersenyum pedih. Manik kelerengnya yang berwarna hijau zamrud, menatap sedih punggung lebar adiknya. Sampai kapan pun dia tidak akan bisa bersama atau pun bersatu dengan adiknya karena ikatan sedarah mereka. Ikatan yang menjelaskan bahwa mereka sedarah, saudara kandung. Tapi siapa pun yang akan menjadi pacar adiknya nanti— yang jelas bukan dirinya— asal Naruto bahagia, Sakura pun juga ikut bahagia. Meski hal itu akan menyakitinya kelak.

Sakura terlonjak kaget saat Naruto tiba-tiba saja sudah duduk di depannya.

"Kau membuatku kaget, Baka." umpat Sakura kesal.

Naruto nyengir, "habis Sakura-nee melamun sih. Memang apa sih yang dilamunkan sampai serius begitu?"

"Ck, bukan urusanmu." Sakura mendengus lalu tak mengatakan apa-apa lagi. Sesaat ruangan itu sepi. Lalu Naruto memulai pembicaraan lagi.

"Maaf, Sakura-nee."

"Eh?"

Sakura tampak terkejut, tiba-tiba saja adik laki-lakinya itu meminta maaf padanya. Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali sambil menatap Naruto yang juga tengah menatapnya sekarang. Tanpa diminta jantungnya mulai berdegup cepat. Sakura benci kalau sudah seperti ini, berdekatan dengan adiknya selalu membuat jantungnya terus berdetak dengan cepat.

"U-untuk apa meminta maaf?" Tanya Sakura, mencoba terdengar biasa saja dalam nada suaranya yang bergetar sekarang.

"For the last night."

Ah, Sakura mengerti apa yang Naruto bicarakan. Tentang perkelahian yang dia lihat tadi malam, membuatnya harus mengingat kembali masa lalunya yang menyakitkan. Tanpa diminta tubuh Sakura bergetar.

"Kau membuatku takut saat itu," bisik Sakura. Gadis itu menundukkan kepalanya, lebih memilih menatap gelas kopi dihadapannya ketimbang melihat wajah Naruto yang merasa bersalah.

Naruto hanya bisa tersenyum miris. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu bisa merasakan kesedihan yang kakak perempuannya itu rasakan sekarang dan Naruto tidak suka.

"Makanya aku meminta maaf. Aku merasa sangat bersalah membuat Sakura-nee ketakutan saat itu." Katanya sangat menyesal. "Tidak seharusnya aku lepas kendali semalam mengingat, masa laluku yang membuat Sakura-nee trauma. Aku..."

"Stop," potong Sakura cepat. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap langsung kedua mata Naruto. "Kau tidak salah. Kau hanya ingin melindungiku."

Sakura tidak ingin Naruto menyalahkan dirinya sendiri, bagaimana pun kejadian semalam Sakura turut andil. Seandainya saja ia tidak ke klub, atau seandainya saja ia cukup berani menghantam pria kurang ajar yang menganggunya malam itu, mungkin perkelahian yang dilihatnya kemarin malam tidak akan pernah terjadi.

Naruto menghela nafas pelan, "But... I am so sorry. Aku sunguh-sungguh sangat menyesal." Naruto mengucapkan kata itu sambil mengusap wajahnya kasar.

Sakura mengangguk. "Baiklah kalau kau memaksa untuk dimaafkan." Naruto mengangkat sebelah alisnya, memandang Sakura bingung, lalu...

Kryuukk...

Wajah Sakura memanas menahan malu ketika mendengar suara perutnya yang begitu nyaring. Tapi Sakura mencoba berlagak cuek dan pura-pura batuk, "Permintaan maaf akan diterima kalau kau mau memasak makan malam buatku. Aku sangat lapar saat ini, kopi dan roti tidak mengeyangkanku, bagaimana?"

Naruto tertawa, membuat Sakura menghela nafas lega karena sikap Naruto sudah kembali Normal, tidak abnormal lagi. Sakura tidak suka melihat wajah Naruto yang diselimuti awan hitam. "Itu urusan gampang."

"Good." Sakura berdiri dan menepukkan tangannya riang. "Let's cook!."

.

Sakura mengawasi sosok adiknya yang sedang memasak. Sedangkan Ia duduk di salah satu kursi bar sambil menonton Naruto yang berdiri di depan kompor stainless steel, wajah tampannya tampak serius ketika sedang memasak. Aroma harum pasta dan saus daging langsung memenuhi area dapur dan bau itu sukses menggugah selera makan Sakura.

Sakura harus mengakui, adiknya itu lebih hebat darinya kalau urusan soal memasak, bukannya ia tidak bisa memasak, tapi terakhir kali ia memasak, seluruh keluarganya langsung masuk rumah sakit karena keracunan, rupanya Sakura saat itu salah memasukan garam yang ternyata adalah obat air. Sejak itu baik orangtuanya mau pun adiknya menyuruhnya untuk tidak menyentuh dapur lagi.

"Sakura-nee? Are you okay? Kau melamun lagi."

Suara serak Naruto membuyarkan lamunan Sakura. Sakura buru-buru menggeleng kepalanya dan tersenyum ketika melihat ekspresi cemas di wajah Naruto. "Nothing. Hanya mengingat masa lalu," akunya.

Naruto mengangguk, ekspresi cemasnya membuat keningnya berkerut namun tak mengatakan apa-apa. Pemuda bersurai blonde itu menyodorkan piring putih kaca yang berisi pasta dengan siraman saus daging diatasnya. Melihat masakan itu membuat Sakura tak sabar untuk mencicipi masakan adiknya.

"Selamat makan," ucap Sakura setelah Naruto duduk di sebrang Sakura.

"Selamat makan."

Sakura langsung mengerang ketika pasta itu tertelan di tenggorokannya. "Ini enak!" Serunya girang sambil menyendok lagi pasta di depannya yang masih panas ke dalam mulutnya, alhasil tenggorokan Sakura panas seperti terbakar, tapi Sakura tak perduli. Ia terlalu lapar, jadi mengabaikan panas itu.

Wajah Naruto tampak memerah mendengar pujian Sakura. Pemuda itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dengan malu-malu sambil terkekeh pelan. "Syukurlah Sakura-nee suka. Aku tadi takut Sakura-nee tidak suka sama rasanya."

"Kau bercanda!" Naruto terdiam. "Ini sangat enak. Masakanmu tak jauh beda dengan Ibu." Serunya.

Naruto menghela napas lega dan tertawa pelan. Dia kira tadi kakaknya itu mau memarahinya. Naruto tersenyum senang melihat Sakura tampak sangat lahap memakan masakannya. Ia pun mulai memakan makanannya.

"..."

"..."

"..."

"Sakura-nee... Kita dulu sangat dekat, kau tahu itu, kan?" ucapan yang dilontarkan dari bibir Namikaze Naruto sukses membuat Namikaze Sakura menghentikan pergerakan tangannya yang hendak menyendok pasta di depannya, menautkan alis dan menatap Naruto bingung.

Naruto menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan dan tatapan itu sukses membuat jantung Sakura berdebar kencang. Gadis itu menelan air liurnya susah payah, berharap Naruto tak mendengar debaran jantungnya yang mulai menggila.

Naruto tersenyum lembut sambil mengenggam tangan Sakura yang berada diatas meja." I'm happy Sakura-nee back."

Sakura tertegun menatap tangan Naruto yang menyentuhnya, sentuhan tangan besar itu membuat hati Sakura terasa hangat.

Sakura mengangguk kaku, mengenggam balik tangan Naruto yang besar di tangannya, lalu membalas tatapan Naruto tepat di kedua manik pemuda tersebut. "Hm, I'm happy too can back to the home." Sakura tidak berbohong, ia memang senang bisa kembali ke rumah, Ia sangat senang sekali. Tapi dibalik kesenangan itu terselip rasa takut yang sama besarnya dari kesenangan itu sendiri, bahwa perasaannya akan semakin besar terhadap adiknya dan itu bukanlah hal yang bagus.

'Hanya selama liburan' yakinnya dalam hati. Biarkan ia menikmati kesenangannya selama liburan. Hanya sampai liburan. Setelah itu ia akan kembali ke kehidupannya yang penuh dengan siksaan, tersiksa karena berjauhan dari pemuda yang dicintainya.

.

"Kau sudah mempunyai pacar?"

Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Naruto setelah dua puluh menit lamanya mereka berdua terdiam setelah pembicaraan terakhir mereka. Suaranya yang biasa terdengar lembut dan ceria kini terdengar berbeda dari biasanya, terdengar lebih serius dan dalam. Sangking seriusnya, pemuda itu bahkan memanggil Sakura dengan sebutan 'Kau' bukannya 'Sakura-nee' seperti yang biasa diucapkannya jika memanggil kakak perempuannya.

Saat itu mereka berdua sedang berada di dapur untuk mencuci piring kotor mereka setelah selesai makan. Sakura mengerutkan kedua alisnya dan menatap Naruto bingung lalu ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak ada."

Naruto tersenyum tipis. "Kenapa?"

Sakura tidak segera menjawabnya, ia mempunyai beberapa alasan dikepalanya.

"Karena aku tidak ingin berpacaran." Akunya. 'Karena aku mencintaimu sehingga aku tidak bisa mencintai laki-laki lain.' Lanjut Sakura dalam hati.

Gadis itu buru-buru mengalihkan tatapannya dari Naruto, menatap gelas ditangannya yang sedang di lap. Perasaannya bercampur aduk ketika melihat tatapan intens Naruto, membuat detak jantungnya bertambah sepersekian detik lebih cepat.

Naruto terdiam, menatap Sakura dengan wajah datar. Menatap wajah Sakura lekat-lekat, kalau-kalau gadis di sampingnya itu berbohong. Tapi Sakura terlihat tenang dan tak terbaca. Naruto mendesah pelan, mengangkat dagunya sedikit kemudian berbicara lagi.

"Apa kau masih mencintaiku, Sakura?"

PRANG!

Gelas yang dipegang Sakura pun jatuh dilantai, pecah menjadi beberapa bagian dan serpihan.

"Naruto..." Gumam Sakura, sedikit syok mendengar ucapan Naruto barusan. Gadis itu membelalakkan matanya terkejut. Menatap tak percaya pada Naruto.

"Aku tidak bisa menghilangkan perasaanku, Sakura." Suara Naruto terdengar datar dan dingin. Kedua manik birunya menatap tajam wajah Sakura dengan berbagai macam emosi disana. "Dulu hingga sekarang, aku masih mencintaimu!"

.

Di dalam sebuah kamar mewah yang seluruh ruangannya bercat putih, terlihat seorang pria bertelanjang dada, menampilkan perut eight packnya sedang terbaring di atas ranjang yang berukuran king size dengan kedua legannya ditumpukan di belakang kepalanya. Pria itu tampak sedang senyam-senyum sendiri bagaikan orang gila. Tanda-tanda seperti ini biasanya terjadi pada orang yang sedang jatuh cinta atau sedang kasmaran. Ya... Katakan saja bahwa saat ini Akasuna Sasori memang sedang kasmaran, hatinya tak berhenti berbunga-bunga karena kelewat senang. Sasori tidak menyangka bahwa malam ini ia bisa bertemu kembali dengan seorang gadis yang menjadi cinta pertamanya sejak kecil. Gadis cantik yang sejak dulu menguasai hatinya, Namikaze Sakura atau Bunga Sakura nama panggilan khusus darinya.

Sasori memanggil Sakura dengan sebutan Bunga Sakura karena warna rambut gadis itu mengingatkannya dengan bunga kebanggan orang jepang. Sasori yang saat itu belum tahu nama Sakura, spontan saja memanggil gadis tersebut Bunga Sakura, dan itu kebawaan hingga sampai sekarang, dan mungkin selamanya.

Dipertemuannya tadi, Sasori melihat ada banyak perubahan yang terjadi pada diri Sakura, Sakura yang dulu kurus, kecil, kini terlihat langsing dan berisi, wajahnya terlihat semakin tirus layaknya wanita dewasa, rambutnya yang pink sebahu terlihat indah dan lembut membuat Sasori ingin menyusupkan jemarinya disana, namun yang paling menarik perhatian Sasori adalah bibirnya yang tipis, ranum dan merah. Sasori kira setelah enam tahun lamanya tidak bertemu, membuat perasaanya akan berubah pada sahabat pinknya itu, tapi dugaan Sasori salah, ketika ia mencium bibir Sakura tadi membuatnya tersadar bahwa sejak dulu hingga sekarang ia masih tetap mencintai perempuan itu.

Sial.

Sebenarnya tadi ingin sekali Sasori memeluk Sakura, mencium bibir gadis itu lebih lama lagi, jika saja adik perempuan itu tidak keburu datang. Sasori mengerang dalam lamunannya. Ia harus menemui Sakura lagi, mencoba mengatakan perasaanya sebenarnya.

.

.

.

Tbc.

.

A/N: Silahkan bunuh saya karena lambat update. Wwwwww :p

Mau bagaimana lagi idenya baru ada sekarang jadi mohon maaf sebesar-besarnya ya. #kedip-kedipmata(ting,ting) wwwww #lemparAuthornyakeAbangGaara.

Sebelumnya, aku mau ngucapin terimakasih yang sebanyak-banyaknya bagi yang review, fave, follow, dan yang nunggu ceritaku ini #bungkuk-bungkuk terimakasih banyak... Gak nyangka banget bahwa fict CYS ini banyak yang review #hatiAuthorberbunga-bunga.

Awalnya sempat ragu bikin fict tema sedarah ini, soalnya fict ini temanya terlalu berat dan sangking beratnya Authornya gak sanggup pikul sendiri. Wwwwww. Tapi tenang aja, meskipun fict ini bertema incest—yang dimana-mana pasti berakhir pada tokoh utamanya yang tidak bisa bersama karena ikatan saudara mereka dan itu dosa. Aku gak akan membuat cerita seperti itu. Aku mengambil salah satu review fict ini, namanya: ' ' yang meminta untuk membuat fict incest manis, dan aku akan membuatnya seperti itu. Wwwww. Capek ah kalau nulis fict penuh drama dan tangis-tangisan mulu #pegelhatinyaAuthor. Jadi fict incest ini berbeda di antara yang lainnya.

Kalau pun ntar NaruSaku berakhir, pasti berakhir dengan baik-baik atau kubikin Angst aja sekalian (meninggal gitu dua tokoh utamanya) wwwwww. Bagaimana? Ada yang keberatan jika aku buat fict incest manis? Kalau keberatan silahkan review di kotak surat(?) yang sudah disediakan pihak FFN. Atau kalau mau ngasih saran, mangga(?)... Di tunggu banget malah :)

Ok, sekian dariku. Ditunggu loh reviewnya senpai-senpai yang tampan dan juga cantik serta baik hatinya ^^

Thanks to: . Nokia 7610. Ineedtohateyou. fendyksatria212, lutfisyahrizal. Al Blue Blossom. OhhunnyEKA. uzuuchi007. I-ExNeko-I. Kei Deiken. Natural Born Flamer. Neko Twins Kagamine. Chitay narusaku. Katsumi. Haruno urumi. Lan88. Guest. Kumada Chiyu. Guest. Cherry. yuki-chan. yuemi. Kuzuri Reiketsu. mizu hanaku2. firdaus minato. . Raiderkids. Dan maaf kalau ada yang gak kesebut namanya :) Makasih banyak dan jangan bosen-bosen untuk review. Semakin banyak review semakin semangat authornya buat lanjutin chap 3nya. Wwwwww.

Ok, sampai jumpa di chap depan.

P.S: Tadinya mau bareng update dengan YAMD tapi tidak jadi, besok aja ya, soalnya pekerjaan ibu rumah tangga sedang menunggu. Dan aku juga mau ngasih tahu, bahwa chapter tiga CYS udah dibuat dan ada lemon-lemonnya, jadi kalau reviewnya 50 bakalan lanjut cepat(authornya Ngarep banget ini mah) Wwwwwwww. See u, jaaa...

Salam hangat Cherry Uzumaki ^^