Naruto menyipitkan matanya, mencoba untuk melihat jelas bahwa apa yang dilihatnya tak salah, arah jam 12, seorang perempuan yang berdiri di atas panggung yang sedang memainkan gitar bass itu memang dia, Naruto tak meragukan sedikitpun, perempuan cantik, memiliki alis lebat, mata indah, bulat dan besar yang dibingkai bulu mata yang panjang dan lentik, serta mata bewarna hijau. Dan jangan lupa warna rambutnya yang tak biasa, warna pink, cuma Sakura yang memilikinya.

Meskipun cahaya kafe terlihat minim, tak membuat Naruto salah mengenali saudaranya sendiri. Ia memfokuskan kemampuan visualnya untuk melihat objek yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya duduk bersama teman-temannya. Sudah berapa lama ia tidak bertemu gadis itu, satu hari, dua hari, tiga hari, seminggu, setelah pengakuannya beberapa malam yang lalu, membuatnya di dera rasa rindu yang tak tertahankan. Gadis itu terakhir kali marah kepadanya, menampar pipinya dan pergi begitu saja tanpa ada penjelasan apa-apa. Naruto kira setelah pengakuannya itu ia akan disambut dengan anggukan, tapi ternyata ia salah, Sakura justru marah padanya. Kini mata itu membalas tatapannya, namun hanya seperkian detik ketika gadis itu menundukkan kepalanya kembali dan berkonsentrasi dengan bass yang dimainkannya.

Rahang Naruto mengeras, kedua tangannya diatas meja tampak mengepal erat, giginya bergemeletuk marah melihat keacuhan perempuan itu. Apa perempuan itu sudah tidak mencintainya lagi.

"Kau kenapa, Naruto?" Tepukan pelan dibahunya membuat Naruto tersentak, amarahnya masih meluap, membuat heran sahabat-sahabatnya yang sedari tadi tampak menikmati setiap nyanyian yang keluar dari mulut sang vokalis yang berjenis kelamin perempuan itu.

"Tatapanmu bikin takut aja." Lee nyengir lebar kepada Naruto, yang sedari tadi tak pernah berhenti melototi band yang sedang perform di atas panggung. Band yang diberi nama The Girls itu terdiri dari empat cewek cantik, dimulai dari sang vokalis, bernama Temari, cantik, seksi, tomboy, rambut pirang, semua orang mengakui suaranya merdu, serak, dan unik. Dibagian gitaris ada si baby face Shion, berambut pirang dan cantik, Tenten di drum, berambut hitam indah dan menawan. Dan yang terakhir ada Sakura di bass, si boneka porseline yang sempurna.

"Aku tahu, kau pasti terpesona dengan bass baru itu kan? Ya ampun man, kemana saja kau selama ini, dari kemarin dia bikin heboh pengunjung kafe, benar nggak? Cantik, bertubuh indah, pokoknya super hot deh, hahahaha..." Suara tawa menggelegar sekitar cafe menimpali ucapan Lee, membuat suasana cafe yang tadinya hanya terdengar suara musik kini menjadi berisik akibat tawa mereka yang nyaring. Ingin sekali rasanya Naruto mencongkel mata teman-temannya, ia tak rela jika wanitanya menjadi tatapan cabul mereka.

Mereka tidak tahu bahwa perempuan yang memainkan bass itu adalah kakaknya Naruto, karena mereka memang belum pernah bertemu dengan Sakura dan Naruto juga tidak pernah menceritakan kalau pemuda itu memiliki seorang kakak yang cantik, hot, dan sangat sempurna itu.

Singkat kata, malam ini Rock Lee atau yang biasa dipanggil Lee oleh teman-temannya, mengajak Naruto dan sahabatnya yang lain; Pain, Nagato, Shikamaru, Sasuke, untuk ke kafe ayahnya yang diberi nama Akatsuki Caffe. Akatsuki Caffe adalah jenis kafe yang biasa di datangi oleh para kawula muda dan interiornya yang di desain minimalis dengan sentuhan retro. Tempat biasa dimana mereka berkumpul atau sesekali nge-jam bareng jika diminta ayahnya Lee.

Tadinya Naruto sempat menolak ajakan si pecinta Bruce Lee itu, tapi setelah dibujuk-bujuk dan bilang akan ada cewek cantik yang akan nge-jam, alhasil Naruto pun ikut. Siapa tahu dengan ke kafe bisa menghilangkan sedikit stress di otaknya akibat memikirkan Sakura yang menjahuinya seminggu ini.

Tapi alih-alih menghilangkan stress, yang ada justru memicu kemarahannya keluar. Sebelum semua berubah kacau, Naruto pun berjalan keluar kafe setelah sebelumnya mengirim pesan singkat ke Sakura, dan tak memperdulikan teriakan Lee yang nyaring memanggilnya.

.

Cinta Yang Salah

Naruto © Masashi Khisimoto

Rate : M

Pairing : NaruSaku, SakuSaso.

.

Riuh tepuk tangan dari penjuru kafe menandakan pertunjukan The Girls telah selesai dan cukup sukses besar. Malah ada yang meminta encore tapi Temari gadis tomboy bertubuh seksi itu menolak dengan alasan Sakura, si boneka porselen harus diistirahatkan dan disimpan dalam lemari kaca. Karena takut dipelototi buaya sedari tadi.

Para penonton yang kebanyakan laki-laki tampak kecewa namun mendengar lelucon Temari mereka tertawa dan berharap minggu depan masih bisa menyaksikan mereka kembali atau lebih tepatnya menyaksikan si boneka porselen yang memiliki body yang sangat yahut.

Sakura, Temari, Shion, dan Ino datang ke meja yang telah disediakan pihak kafe untuk mereka beristirahat, tak jauh dari meja teman-temannya Naruto. Masing-masing dari mereka membawa minuman dingin untuk melepaskan dahaga setelah lelah memberikan hiburan kepada pengunjung.

Malam ini, Shion selaku leader The Girls mengajak para personilnya untuk perform kembali di Akatsuki Caffe karena diminta sama pemilik kafe tersebut. Dan Sakura yang sudah dari kemarin menemani mereka terpaksa tampil lagi. Padahal niatnya malam ini hanya untuk menonton teman-teman SMAnya nge-jam, tapi berhubung salah satu personil mereka berhalangan hadir, alhasil Sakura pun terpaksa menggantikan. HItung-hitung mengasah kembali kemampuannya dalam bermain alat musik karena memang sudah lama Sakura tak pernah memainkan gitar bass, dan hasilnya tidak buruk juga.

"Hei boleh kenalan?" Tiba-tiba saja Lee dengan penuh percaya diri datang menghampiri mereka, membuat teman-temannya bersorak-sorak menyemangati. Ke empat cewek itu terdiam sejenak dan saling berpandangan satu sama lain, lalu sang vokalis mendengus kasar sedangkan yang lain hanya tersenyum.

"Mau apa kau Bruce Lee jadi-jadian." Ino, Sakura dan Shion tertawa ketika mendengar ucapan Temari. Siapapun yang melihat tampilan Lee, mereka tahu bahwa pemuda itu mengidolakan aktor bela diri dari hongkong itu.

"Beginilah jika kau sedari kecil sangat mengidolakan seseorang, sehingga tampilannya pun kau ikuti. Dan bukannya menjadi bagus malah menjadi aneh." Lee cuma senyum-senyum sendiri ketika mendengar sindiran si boneka porselen, seolah Sakura sedari tadi memujinya yang berpenampilan unik.

"Siapa namamu cantik?" Lee mengulurkan tangannya yang kurus di depan Sakura plus dengan senyuman yang lebar, menampilkan sederet giginya yang putih berkilau seperti dokter ramzi, dokter gigi dari film animasi malaysia, upin dan ipin. Sakura sendiri tak menyambut uluran tangan Lee.

"Kau sendiri siapa?"

Tangan Lee tetap dengan posisi menjulur, tak peduli Sakura mau bersalaman atau tidak. "Rock Lee."

"Oh, kukira namamu Bruce Lee, karena kau sangat mengidolakan aktor bela diri itu sehingga kau juga mengganti namamu seperti dia. Dan tutup mulutmu wahai kau yang tak biasa, mataku silau karena pantulan sinar dari gigi-gigimu itu." Ino tergelak sambil memukul-mukul belakang Temari mendengar obrolan Sakura dan Lee.

"Bagaimana menurutmu pertunjukkan kita tadi, Lee?" Tanya Shion, tak memperdulikan tawa teman-temannya. Ia tahu di sampingnya adalah anak pemilik Akatsuki Caffe, ia ingin menyelamatkan rasa malu pemuda itu.

"It was great, kalian sangat hebat malam ini, tak rugi ayahku menyewa jasa kalian." Lee mengacungkan jempolnya ke depan mereka, mengakui dengan tulus. Shion tersenyum lebar lalu menarik tangan pemuda itu untuk duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Sontak aksinya itu mengundang teriakan para laki-laki disekeliling mereka.

Mereka tak sudi empat bidadari itu harus dinodai kehadiran si poni mangkok. Tapi Lee tidak perduli, yang penting malam ini ia ingin menikmati keberuntungannya karena bisa duduk dengan empat cewek cantik yang menjadi objek pecabulan otaknya tadi.

"Kenapa kau berpakaian seperti ini, Lee? Aku lihat rasanya kurang nyaman?" ucap Shion, sambil memperhatikan penampilan Lee dari atas hingga ke bawah. Kalau Bruce Lee memakai jumpsuit warna kuning, nah kalau Lee memakai jumpsuit berwarna hijau tua, memperlihatkan selangkangannya yang menggembung karena baju itu terlalu ketat.

Lee mengangguk malu. "Memang tidak. Tapi aku ingin terlihat keren seperti aktor favoritku."

Temari mendengus jijik. "Cih, bermimpilah terus Tuan. Sampai kau operasi 100 kali pun tak akan pernah mirip Bruce Lee" Cibirnya.

"Jangan dengarkan dia, Lee, bagiku kau terlihat tampan kok," Muka Lee memerah bagaikan tomat masak ketika mendengar pujian Shion dan ketiganya sontak koor nyaring.

"Whoooooooo." Kentara sekali mereka meledek.

"Biasa di bilang, aduh Lee wajahmu kok jelek banget sih, pas dibilang tampan langsung kena setrok dia."

Bwahahahahahahahaahahahahahahaha...

Shion dan Ino tak tahan mendengar komentar Temari, mereka berdua tertawa terbahak-bahak, mengagetkan pengunjung kafe dengan tawa kencang mereka.

Sakura memandang ponsel genggamnya, tak peduli dengan suara berisik ketiga temannya, ia melihat ada 12 pesan yang masuk ke handphonenya dari nomor yang sama.


You have 1 new message


From: Ruru Fox.

'Aku tunggu diluar.'


.

Mereka terpisah hanya jarak dua meter, dilapangan parkir yang ramai, Naruto besandar pada badan mobilnya sedangkan Sakura disebrangnya. Keduanya tak memperdulikan orang yang lalu lalang disekitar mereka, Naruto menatap Sakura dengan sorot mata yang tajam dan dingin, sedangkan Sakura membalasnya dengan sorot rasa bersalah serta kerinduan yang menyesakkan.

Naruto mengepalkan kedua tangannya yang tersembunyi di kantong celananya, sebisa mungkin menahan keinginannya untuk tak menghampiri Sakura agar bisa memeluk tubuh wanita yang dicintainya itu.

Sungguh rasanya sulit sekali untuk menahan kakinya di tempatnya berdiri, tapi untunglah ego mengusai batin Naruto, sehingga ia bisa menahannya untuk tak memeluk Sakura sekarang. Naruto benar-benar kacau, otaknya beku karena rindu yang teramat besar, seminggu ini ia sibuk memikirkan Sakura yang terus menghindarinya, mengabaikannya di rumah, bahkan sms atau telfonnya tak satupun dapat balasan.

Dan itu dia si pengacau hidupnya, berdiri tak jauh di dekatnya, tapi tak cukup dekat untuk disentunya.

Lama keduanya terdiam, sebelum akhirnya Naruto membuka suaranya.

"Ngapain kamu disini?" Nada suaranya terdengar tak bersahabat dan nyaris membentak, Sakura merinding.

"Bukan urusanmu."

Naruto mendengus. "Tentu, terserah kau, tapi kenapa kau menghindariku selama seminggu ini."

Sakura tak menjawab.

"Kau bahkan tidak menjawab telfon atau membalas pesanku. Apa karena ucapanku malam itu?" Naruto memotong ucapan Sakura, mata pemuda itu menyorot tajam tepat di kedua matanya. Sakura tak sanggup menatap mata tajam itu, ada yang menyesak di dalam dadanya ketika melihat kedua manik biru laut tersebut, dan itu sakit.

"Tidak."

"Benarkah? Aku rasa justru sebaliknya. Kau jelas-jelas menghindariku setelah kau menamparku."

Mereka terdiam, jawaban Sakura jelas bohong, dan Naruto tahu itu, cuma ia ingin agar Sakura mengakuinya sendiri. Lalu Kedua mata Naruto menelusuri tubuh Sakura.

"Kau tahu ini sudah jam berapa? Kau itu seorang perempuan, dan pakaian apa yang kau pakai itu? kenapa kau berpakaian seperti pelacur?"

"A-apa?" Sakura syok, wajahnya mengeras, ia tak percaya Naruto akan berkata seperti itu padanya. Tiba-tiba saja perasaan marah hadir dibenaknya. "Apa yang kupakai bukan urusanmu," ucapnya ketus, ia marah, marah kepada pemuda di depannya karena ia disamakan dengan pelacur. Memang apa yang salah dengan penampilannya malam ini. Ia rasa penampilannya masih dalam batas wajar-wajar saja, setidaknya Ia tidak setengah telanjang seperti pelacur di club malam.

Itu pendapat Sakura, tapi dalam sudut pandangan Naruto tentu saja berbeda. Malam ini gadis itu memakai mini dress berwarna biru ketat dan dilapaisi coat putih sebatas lutut. Dan coat yang dipakai Sakura itu terbuka, memberikannya pemandangan yang membuat air liur terbit saat itu juga, tak heran jika di dalam cafe tadi semua laki-laki memandangnya tak berkedip, termasuk Naruto salah satunya.

Lihat saja leher jenjangnya yang terekspos sempurna, mulus tanpa cacat sedikitpun, turun ke dadanya yang entah kenapa tampak berukuran sedikit lebih besar dari terakhir yang Naruto ingat. Perutnya yang rata, dan yang terakhir adalah bagian bawahnya, pahanya yang mulus, padat dan tungkai yang menggiurkan yang sangat pas ketika mengapit pinggangnya erat saat wanita itu tengah mendapatkan orgasmenya.

Fuck.

Naruto langsung mengumpat ketika merasakan kejantanannya mengeras di dalam celananya. Damn! Ini pertama kalinya si burung bangkit dari tidurnya setelah tiga tahun mati. Awal-awal kepergian Sakura, Naruto pernah mencoba mencari pelampiasan kepada perempuan-perempuan lain, tapi nyatanya memang tidak bisa, si burung tiba-tiba saja terkena imponten, tak terpengaruh oleh apapun, meski di depannya ada seorang perempuan seksi berdada besar yang siap ditiduri, si burung tetap tak terpengaruh. Ia telah berubah menjadi Monogamis. Setia pada satu wanita.

Dan wanita itu ada didepannya sekarang, yang membuat si bos kecilnya langsung berdiri dengan keras seperti kayu.

Dasar perempuan sialan.

"Tentu saja bukan urusanku, tapi setidaknya aku pernah ada di dalammu, Sakura, mencicipimu sampai kau berteriak terus menerus hingga kehabisan suara karena tak berhenti menyebut namaku dan meminta lagi, lagi dan lagi. "

"Dasar bajingan! Are you drunk?"

Naruto tertawa. "Mungkin, kau yang membuatku mabuk. Kau canduku Sakura, setiap berada didekatmu membuatku tidak tahan untuk tak menyentuhmu, memasukimu." Seakan menegaskan ucapannya, Naruto sengaja menjilat bibir bawahnya dengan gerakan sensual.

"Kau gila. Itu sudah menjadi masa lalu, jadi lupakan semuanya, lupakan aku, lupakan kalau kita pernah bersama." Wanita itu berbalik, meninggalkan Naruto, namun pada langkah ke tiga, langkahnya terhenti, lengannya terasa sakit ketika dipaksa berbalik menghadap pemuda itu. Wajah Naruto mengeras, mereka berdiri berhadap-hadapan dengan Naruto yang terlihat marah.

"Kau menyuruh aku untuk melupakanmu? Kau pikir itu mudah?"

"Aku bisa melupakanmu."

"Kau tidak pandai berbohong, Sakura."

"Aku tidak bohong. Waktu yang membuatku mudah melupakanmu."

Naruto tertawa sinis. "Benarkah? Kau tahu, justru waktu yang hampir membunuhku. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu Sakura, ketika kau memutuskan hubungan kita secara sepihak, memintaku untuk melupakanmu dan meninggalkanku begitu saja seperti orang tolol, kau bukan hanya menghancurkan hatiku tapi juga mengacaukan hidupku. Dan tiga tahun tidaklah cukup untuk memperbaiki semuanya, butuh waktu seumur hidupku untuk menyatukannya kembali." Ia meludahkan semua kata-katanya dengan tajam dan melukai.

Sakura terdiam, matanya memerah, air matanya hampir tumpah, tapi ia menolak untuk menangis di depan pemuda itu. Ia tidak menyangka Naruto masih belum bisa melupakan kejadian itu, siapa yang tidak, ia pun juga tidak bisa melupakannya.

Tapi demi Tuhan, saat itu bukan keinginannya mengakhiri hubungan kisah cinta mereka yang sudah terjalin selama tiga tahun, ia tak ingin, tapi keadaanlah yang memaksa dan ia harus meninggalkan Naruto.

"Cobalah lebih keras lagi, Ruru, aku yakin kamu bisa melupakan perasaanmu padaku, seperti aku mampu melupakan perasaanku padamu." Sakura berbalik, memunggungi Naruto bersamaan dengan air mata yang jatuh tertumpah. Namun belum juga ia melangkah, suara tawa Naruto langsung menghentikannya. Tawa yang mengandung kesakitan itu secara tak kasat mata meremas hatinya.

"Hahahahaha, semudah itukah kau mengatakannya, menyuruhku untuk melupakanmu setelah apa yang kita lalui dulu? Memangnya kau siapa? Kau Tuhanku? Tidak! KAU CUMA WANITA SIALAN YANG MENGHANCURKAN HATIKU SELAMA TIGA TAHUN!" Naruto membentak, tubuh Sakura bergetar, ia berbalik cepat. Air mata sudah membasahi wajah cantiknya dan juga bajunya.

"Aku tidak mencintaimu lagi, Ruru. Itu sudah menjadi masa lalu, jadi tolong mengerti."

"DIAM."

"Mengertilah."

"DIAM!"

Tubuh Sakura melayang, ia kini berada di dalam gendongan Naruto. Tubuhnya dirapatkan ke badan mobil, punggungnya sakit, Sakura bahkan belum sempat mengaduhkesakitan ketika bibir Naruto melumat bibirnya tekelewat kasar dan brutal.

"Mmmm...mmmmmm..." Suara Sakura tertahan, tersumpal oleh mulut Naruto yang terus mencari. Kedua tangannya kini dipaku oleh salah satu tangan Naruto. Sakura bergerak-gerak mencoba melepaskan diri, tapi tak berarti banyak, tenaga Naruto sepuluh kali lipat darinya.

"Kalau kau memang tidak mencintaiku lagi, lalu untuk apa kau kembali? Untuk apa Sakura? Kenapa kau harus pulang ke rumah?" Bisik Naruto pelan di mulut wanita dicintainya itu.

"Ru... Ruru..."

"Kau tahukan kepulanganmu hanya akan membuatku semakin menderita. Kau pura-pura menjadi kakak yang baik di depanku, sedangkan aku tidak mengharapkan itu. Apa tidak cukup tiga tahun ini kau menghancurkan hatiku? Dan sekarang ditambah lagi dengan sikapmu yang menganggapku tidak ada. Kenapa? Kenapa Sakura? KENAPA KAU HARUS KEMBALI DAN MENYAKITIKU SEPERTI ORANG TOLOL!" Kata-kata Naruto berhamburan di depan wajah Sakura dengan intonasi yang semakin lama semakin tinggi.

"I'm sorry... I'm sorry..."

Naruto menurunkan wanita itu dari gendongannya dan membuat Sakura langsung lumpuh dalam tegaknya. Dibalik air matanya ia mencoba memberanikan diri menatap langsung wajah Naruto dan hatinya langsung teriris sakit ketika melihat tatapan pemuda itu, tatapan yang sama seperti tiga tahun yang lalu.

"Apa aku begitu bodoh sehingga kau tega mempermainkan perasaanku? Aku mencintaimu Sakura... Aku mencintaimu..." Naruto berteriak sambil memukul-mukul dadanya ketika mengucapkan kata-kata cinta itu, tangisan Sakura semakin menjadi.

Dengan tubuh begetar, ia memeluk pemuda itu erat. Sakura baru saja ditampar keras oleh sebuah fakta besar, bahwa ia telah menyakiti adiknya dengan amat begitu buruk.

"Aku mencintaimu, Sakura. Kau tahu aku mencintaimu. "

"Aku tahu. Ak-aku juga mencintaimu." Pada akhirnya Sakura tak bisa mengontrol emosinya. Sekuat apapun ia bertahan, sekeras apapun ia berusaha menyangkal perasaannya, nyatanya tidak akan pernah berhasil, Naruto sudah terlanjur menempel kuat di setiap sel tubuh dan darahnya. Sakura merasa tiga tahunnya hanya terbuang sia-sia. Ia disini sekarang, memeluk dan mengucapkan kata cinta pada pemuda yang seharusnya tidak ia cintai.

Naruto melepaskan pelukannya, menghapus air mata Sakura, lalu meraih jemarinya dengan lembut dan menggandengnya. "Kita pulang"

Sakura mengangguk patuh. Ia membiarkan Naruto menuntunnya masuk ke dalam mobil lalu disusul olehnya tak lama. Sebelum benar-benar meninggalkan parkiran, dengan gerakan lembut, pemuda itu menarik Sakura kepadanya, membawa bibir mereka bersatu. Sakura mengerang ketika pria itu mengigit bibir bawahnya lalu melesakkan lidahnya yang basah masuk kedalam.

Tanpa melepaskan ciumannya Naruto manarik pinggang Sakura dan membawa gadis itu kepangkuannya, tepat diatas selangkangannya yang mengeras seperti batu. Permainan mereka semakin panas, bibir Naruto kini berada di leher Sakura mengecup dan mengigit dengan giginya, Sakura menjerit, menjambak rambut pria yang dicintainya itu dengan kuat.

Sakura benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, ia menarik tangan Naruto dan membawanya ke payudaranya, awalnya ramasan itu pelan, tapi berubah menjadi kasar ketika desahan Sakura yang semakin menjadi-jadi pertanda bahwa gadis itu menginginkan lebih. Geraman liar keluar dari tenggorokan Naruto membuat keadaan menjadi lebih gila lagi.

Bibir mereka bertemu kembali, tangan Naruto meremas payudara Sakura sedangkan tangannya yang lain dipinggang ramping gadis itu, membantu pinggul Sakura agar bergoyang dengan cepat diatas risletingnya yang mengembung.

Lalu...

Tok, tok, tok...

Sebuah ketukan di jendela mobil terdengar. Membuat dua anak adam dan hawa yang sedang panas-panasnya itu secepat kilat melepaskan diri. Sakura memperbaiki penampilannya yang berantakan sedangkan Naruto dengan tenang menurunkan kaca mobil.

"Jangan disini dek! Ada kamera!" Kata seorang pria berbadan besar berpakaian satpam yang tadinya mengetuk. Naruto menganguk mengerti.

"Maaf pak, cuma istri saya lagi horni, jadi pengen sekarang."

Blush. Kedua pipi Sakura sukses merah padam. Dasar kepala duren sialan,

Pria berseragam hitam itu tertawa canggung mendengar ucapan Naruto yang asal langsung tembak. Setelah berdehem dan mengangguk si satpam langsung pergi begitu saja.

"Apa?" Tanya Naruto ketika melihat mata Sakura yang melotot ke arahnya.

"Kau benar-benar gila. What are you talking about? Polisi tadi?"

"Bukan apa-apa, kiss?"

Sakura kembali memerah. "Mati saja kau!

Naruto tertawa, kemudian menghidupkan mesin mobil dan pergi dari sana.

"By the way, apa status kita sekarang, Rara?"

.

.

.

.

.

.

.

Tbc.

A.N: Ayo... Apa status mereka? Khekekekekeke

Maaf jika lemonnya belum ada, chap depan dijamin ada kok, karena aku akan membuat hubungan mereka manis sekaligus gila? Nah loh? wkwkwkwk #ciumbibirHarryStyle kyaaaaaaaaa!

Maaf untuk keterlambatan update, bukannya apa tapi dasar akunya yang pemalas, malas buka laptop, malas berpikir, malas ngetik, tapi yang bikin aku heran, aku tidak malas dalam bercinta. Meh! #lirikSuamiYangDudukDisamping #NyengirSendiri.

Berterimakasihlah pada pada adik saya yang cantik, Riela-nacan yang sudah mau repot-repot ngeluangkan waktunya untuk update fict-fict saya ditengah tugas kuliahnya yang menumpuk, tanpa dirinya mungkin saya tidak akan pernah update2 cerita lagi.

Dan saya juga mau ucapkan terimakasih banyak buat yang sudah riview dan kasih masukan sarannya untuk fict ini, dan aku sudah nentuin bagaimana dengan akhirannyaa. Yeaayyyy... Fict ini hanya 5 atau sampai 6 chapter tidak lebih, kecuali kalau gila saya lagi kumat, hehehehehe

Soooo... Ditunggu riviewnya :)

Salam hangat,

Cherry uzumaki.