Neko-chan : Haruno Sakura
.
.
.
.
.
.
Sasuke Uchiha, Sakura Haruno
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
.
DILARANG COPAS dalam BENTUK APAPUN!
DLDR! Selamat Membaca!
oOo Neko-chan oOo
"Sa-Sasuke-sama?!" Sakura membelalakan matanya. Dia terkejut ketika Sasuke memegang tangannya dengan erat dan membuka matanya. Dia tidak menyangka jika Sasuke akan menyadarinya secepat ini.
"Aku sudah menduga jika ada sesuatu yang aneh disini. Dan aku tidak menyangka jika semua itu datang darimu." Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk. "Sekarang, jelaskan padaku apa yang terjadi."
Sakura meneguk ludahnya.
"A-aku-"
"Sakura! Jelaskan padaku!" intonasi suara Sasuke meninggi.
Sakura meneguk ludahnya dengan susah payah. Dia menundukan kepalanya, mencoba mengatur nafasnya yang terasa sesak. Bagaimana caranya menceritakan yang sebenarnya?
"Aku-" pipi Sakura merona merah. "Lapar."
Sasuke menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya.
"Hah?"
"Aku janji akan menceritakan semuanya, Sasuke-sama. Tetapi aku sangat lapar sekarang." Sakura menunjukan cengirannya.
"Kau ini." Sasuke bangkit dari duduknya. "Aku akan mengambilkanmu makanan, tetapi kamu harus menceritakan semuanya."
Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. Sasuke menarik nafas panjang dan keluar dari kamarnya. Menuju dapur, Sasuke mengambil nampan dan mengisinya dengan jus jeruk juga beberapa kue yang ada di meja. Saat akan menuju kamarnya, dia tidak sengaja berpas-pasan dengan Itachi.
"Sasuke, kenapa membawa makanan sebanyak itu?" tanya Itachi.
"Hn. Aku lapar." Sasuke menjawab sekenanya.
Itachi mengangkat alisnya. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya.
"Lalu, kenapa gelasnya ada dua?"
"Itu untukku. Sudah nii-san, aku mau ke kamar dulu."
Itachi memandang Sasuke dengan pandangan tidak mengerti. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sasuke. Adiknya itu bertingkah aneh.
"Jangan-jangan, Sasuke menyembunyikan kekasihnya?"
Itachi menarik nafas panjang. Selama mereka tidak berbuat mesum, baginya tidak apa-apa.
.
Sakura terpekik ketika Sasuke membawakan makanan untuknya. Tangannya segera mencomot kue yang dibawa majikannya dan memakannya dalam sekali lahap, dia juga langsung menghabiskan jus jeruknya.
"Huaaa! Ini enak sekali!" Sakura tersenyum. "Aku selalu melihat isi kulkas Sasuke-sama, aku tidak menyangka jika jus jeruk rasanya enak sekali."
Sasuke mendudukan dirinya di kursi belajarnya. Memandang Sakura dengan pandangan intens.
"Sekarang, ceritakan padaku tentang semua keanehan ini."
Sakura menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Aku diciptakan menjadi seorang kucing dan Sasuke-sama merawatku sejak aku ditemukan diatas pohon itu. Aku sangat bersyukur dan meminta kepada Tuhan diatas sana agar aku bisa menjaga Sasuke-sama, membalas semua kebaikan yang dilakukan Sasuke-sama. Dan akhirnya Tuhan diatas sana mengirimku dalam wujud ini."
Sasuke memandang gadis dihadapannya dari atas ke bawah. Dia baru menyadari jika Sakura itu gadis yang cantik. Mungkin karena di sekolah Sakura selalu menyendiri, makanya dia tidak memperhatikan gadis secantik Sakura.
"Tapi ada syaratnya."
Sasuke memandang emerald milik Sakura. Cukup penasaran dengan kata-kata Sakura.
"Syarat?"
Sakura menganggukan kepalanya.
"Jika aku ketahuan Sasuke-sama, maka aku akan bisa berubah menjadi manusia sesuai keinginan syarat, aku maupun Sasuke-sama tidak boleh saling jatuh cinta. Jika aku jatuh cinta pada Sasuke-sama atau sebaliknya, maka aku akan mati."
Sasuke memandang Sakura dengan seksama.
Tidak jatuh cinta pada Sakura? Sepertinya rasanya sulit.
.
.
Sasuke membuka matanya ketika cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Menolehkan kepalanya, Sasuke memandang Sakura yang tertidur di sampingnya. Onyxnya menelusuri wajah Sakura yang terlihat begitu damai saat tidur.
Dia masih tidak menyangka jika gadis cantik yang tidur di sebelahnya adalah seekor kucing jelmaan. Jika gadis itu bukan jelmaan manusia, mungkin dia akan melakukan sesuatu yang berbau dewasa di kamarnya.
Sasuke menggelengkan kepalanya ketika sekelebat pikiran mesum muncul di pikirannya. Bangkit dari tidurnya, Sasuke berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat keluar dari kamar mandi, dirinya tidak menemukan Sakura di kamarnya. Memakai seragamnya, pemuda itu segera keluar dari kamarnya dan memandang Sakura dalam bentuk kucing yang sedang bermanja-manja dengan Itachi. Kakaknya sedang mengelus-elus kepala Sakura dengan lembut.
"Ah- Sasuke." Ibunya tersenyum lembut. "Ayo segeralah sarapan dan berangkat ke sekolah."
Sasuke menganggukan kepalanya dan duduk di kursi. Itachi sedikit tertawa kecil ketika Sakura memainkan jari tangan kakaknya atau Sakura yang mendengkur kecil ketika Itachi mengelus dagunya.
Onyxnya melirik Sakura yang memejamkan matanya. Sepertinya Sakura begitu suka dengan kakaknya.
"Aku sudah selesai." Sasuke bangkit dari duduknya. "Aku berangkat."
"Hati-hati, Sasuke-kun."
.
.
.
Sasuke melirik Sakura yang duduk di bangkunya. Sejak kapan gadis itu duduk disana? Dia bahkan tidak menyadari kedatangan gadis itu.
"Sasuke-kun, apa murid baru itu lebih menarik?" tanya Kurenai.
Sasuke menolehkan kepalanya dan memandang Kurenai yang berdiri di sampingnya.
"Sasuke-kun, perhatikan pelajaranku."
"Hn."
Kurenai kembali menjelaskan tentang rumus-rumus triginometri. Menarik nafas panjang, Sasuke kembali fokus pada bukunya. Bagaimana bisa, dirinya begitu intens memperhatikan Sakura?
"Oi, Teme."
Sasuke menolehkan kepalanya dan memandang Naruto yang memanggilnya.
"Kau menyukai Sakura-chan, teme?"
Sasuke memutar bola matanya dan memfokuskan dirinya pada pelajaran. Meski otaknya terus memikirkan sosok Sakura.
.
.
"Teme, kamu mau ke kantin tidak?" tanya Naruto bangkit dari duduknya.
"Aku akan menyusulmu nanti."
Sasuke melirik Sakura yang duduk di bangkunya. Bangkit dari posisi duduknya, segera saja dirinya menghampiri Sakura.
"Ayo."
Sakura memandang majikannya yang mengulurkan tangan di hadapannya. Dia tidak mengerti mengapa majikannya mengulurkan tangannya.
"Ayo kita ke kantin."
Sakura tidak bisa menahan senyum harunya. Dia menerima uluran tangan Sasuke. Dia sungguh tidak menyangka jika Sasuke mengajaknya ke kantin, rasa hangat menjalar di hatinya.
"Sasuke-sama?"
"Panggil aku dengan Sasuke-kun, jika kamu dalam wujud manusia kamu bukan kucingku."
Sakura tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dia benar-benar bersyukur bahwa Sasuke yang menjadi majikannya. Sakura memandang tangannya yang sekarang sedang digenggam oleh tangan besar majikannya itu.
"Oi, Teme!"
Sasuke memandang kearah teman-temannya yang sedang duduk di salah satu bangku di ujung ruangan. Masih dengan menggenggam tangan Sakura, dirinya menghampiri teman-temannya.
"Tidak biasanya." Neji melirik Sasuke.
Sasuke menghiraukan perkataan Neji dan membawa Sakura duduk. Naruto dan Kiba bersiul dengan keras, dari awal mereka sudah mencoba menggoda pangeran es itu. Karena tidak biasanya, Sasuke mau menggandeng seorang gadis. Apalagi jika gadis itu secantik Sakura.
"Mau makan apa?"
Mendengar pertanyaan Sasuke membuat siulan menjadi terdengar semakin keras. Bahkan mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"Kau bajingan brengsek, Sasuke," umpat Kiba.
"Berisik."
"Hei, Sakura-chan. Hati-hati saja terhadap bajingan tengil satu itu ya."
"Urussai!"
Sakura hanya tersipu malu ketika beberapa teman-temannya menggodanya. Sedangkan Sasuke sudah terlibat adu mulut dengan Naruto.
.
.
"Teman-temanmu lucu sekali, Sasuke-sama."
Mereka berjalan pulang bersama-sama. Langit senja mulai tenggelam di ufuk barat, tergantikan dengan bulan dan bintang yang akan menemani malam.
"Hn." Sasuke melirik Sakura yang tersenyum bahagia. Pipi gembil itu merona merah dan membuatnya terlihat menggemaskan.
"Terimakasih, Sasuke-sama. Aku bersyukur kamu mau menjadi majikanku yang merawatku selama ini."
Sasuke tersenyum tipis dan mengelus rambut Sakura dengan lembut.
"Hn."
.
.
Sasuke keluar dari kamar mandi dengan piyamanya dan menemukan Sakura duduk di pinggir ranjangnya dengan mengenakan terusan berwarna putih. Baginya, Sakura terlihat seperti malaikat.
"Sakura, sebenarnya kamu ini apa?" tanya Sasuke.
"Hah?" Sakura memandang majikannya sebelum tertawa.
"Jangan tertawa." Sasuke mendenguskan wajahnya. "Kamu bilang Tuhan mengutusmu untuk membalas kebaikanku, lalu kamu ini apa?"
Sakura terlihat sedikit berfikir sebelum menjawab.
"Mungkin, Malaikat?"
Malaikat? Sasuke tersenyum tipis. Dalam hati dia bertanya-tanya, apakah semua Malaikat secantik Sakura?
"Mungkin, aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menjagamu." Sakura menerawang jauh.
"Jika aku tidak jatuh cinta padamu dan kamu tidak jatuh cinta padaku, apa kamu akan tetap disini?" tanya Sasuke.
"Aku tidak tahu." Sakura tersenyum memandang majikannya. "Tetapi, bukankah semua makhluk hidup akan berpulang kepadaNYA? Tidak ada yang kekal abadi selainNYA, Sasuke-sama. Suatu saat nanti, kamu akan tahu rasanya kehilangan seseorang yang berharga."
Sesuatu menohok hatinya. Jangan katakan jika Sakura akan pergi meninggalkannya suatu saat nanti. Sakura tersenyum kearahnya.
"Tetapi, ketika kamu kehilangan sesuatu yang berharga. Saat itulah Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih berharga yang harus kamu jaga."
Sasuke tertegun. Mencoba mencerna seluruh perkataan Sakura.
oOo Neko-chan oOo
"Ohayou."
Sasuke terbangun dari tidurnya dan melihat Sakura yang tersenyum kearahnya. Gadis itu sudah lebih dulu bangun darinya ternyata.
"Jam berapa ini, Sakura?" tanya Sasuke.
"Jam delapan pagi. Habisnya Sasuke-sama terlihat begitu lelap, jadi aku tidak membangunkan Sasuke-sama."
"Hn."
Sasuke bisa melihat hidung Sakura kembang kempis, seperti mengendus sesuatu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Apakah Sasuke-sama mencium baunya? Bau kare."
Sakura mencium dalam-dalam aroma Kare yang di masak ibu Sasuke. Menjilat-jilat bibirnya, sepertinya kare masakan ibu Sasuke terasa enak.
"Sasuke-sama, aku ingin kare," ucap Sakura.
"Jika kamu ingin Kare, temui aku di gang depan rumah."
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya, tidak paham dengan apa yang dikatakan majikannya.
.
.
Sasuke muncul dengan pakaian rumahannya dan memandang Sakura yang berdiri di depan gang rumahnya. Tersenyum, Sasuke segera menarik tangan Sakura masuk ke dalam rumahnya.
"Eh? Sasuke-sama?"
"Kamu ingin makan kare, bukan?"
Sakura hanya bisa gugup ketika Sasuke membawanya masuk ke dalam rumahnya. Mikoto bahkan sampai terkejut melihat Sasuke yang menggandeng masuk seorang gadis ke dalam rumah.
"Sa-Sasuke-kun?!" Mikoto terpekik kaget. "Fugaku! Itachi! Lihat siapa yang datang!"
Fugaku dan Itachi muncul dan sama terkejutnya dengan Mikoto. Dan di minggu pagi yang seharusnya damai itu, menjadi heboh ketika melihat Sakura muncul bersama Sasuke.
.
.
"Ayo, makanlah."
Mikoto tidak bisa menahan senyumnya ketika melihat gadis secantik Sakura muncul bersama putra bungsunya. Sedangkan Sakura, tidak bisa menahan air liurnya.
"Aku makan, ya?" Sakura mengambil sendoknya. "Ittadakimassu!"
Mikoto mencubit lengan Sasuke dengan gemas.
"Ittai! Apa yang ibu lakukan?!" Sasuke memandang ibunya dengan kesal.
"Dimana kamu menemukan gadis secantik dia? Dia cantik sekali."
Dimana? Memangnya Sakura ini sampah? Sasuke menarik nafas panjang ketika kakaknya mengajak Sakura ngobrol.
"Namanya Haruno Sakura, dia teman satu kelasku."
"Haruno Sakura?" Itachi memandang Sakura.
"Hai'! Itu namaku," ucap Sakura dengan semangat.
"Namamu seperti nama kucing peliharaan Sasuke." Itachi tersenyum. "Ngomong-ngomong dimana Sakura? Aku belum melihatnya sedari pagi."
Sasuke melirik Sakura sebelum menjawab.
"Mungkin dia sedang bermain sekarang."
.
"Terimakasih untuk sarapannya!" Sakura membungkukan badannya dan berjalan menjauh.
Mikoto tersenyum dan menepuk bahu Sasuke dengan lembut.
"Kau harus menjadikannya pacarmu, Sasuke-kun!"
Sasuke memutar bola matanya. Dan masuk ke dalam kamarnya. Jika Sakura itu manusia sungguhan, dia pasti akan langsung menjadikan gadis itu sebagai miliknya. Sayangnya, dia Malaikat yang diutus oleh Tuhan.
Mendudukan dirinya di ranjangnya, Sakura muncul dalam wujud kucing dari jendela dan segera berubah wujud menjadi manusia. Dengan senyum lebarnya, Sakura mendudukan diri di sebelah Sasuke.
"Terimakasih, Sasuke-sama!" ucap Sakura.
Sasuke tersenyum tipis dan mengusap rambut Sakura dengan lembut.
"Apa tidak apa-apa, aku mengenalkanmu pada keluargamu?"
Sakura terlihat berfikir sebentar.
"Aku rasa, tidak apa-apa. Karena jika aku mati nanti, semua orang pasti akan melupakanku."
"Apa itu berlaku untukku?" tanya Sasuke.
"Aku tidak tahu." Sakura tertawa. "Sasuke-sama terlihat lebih hidup. Maksudku, Sasuke-sama terlihat lebih bahagia."
"Ini semua karenamu."
Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sakura dengan lembut. Meski hanya seminggu Sakura menemaninya, tetapi gadis itu telah membuat dadanya berdesir. Ada sesuatu yang merasuk dalam hatinya dan membuatnya selalu memikirkan gadis itu.
"Sa-Sasuke-sama?!" Sakura terkejut atas perlakuan majikannya itu.
"Sakura, aku... aku.."
Tiba-tiba saja tubuh gadis itu berubah menjadi wujud kucing dan berlari keluar kamar majikannya.
"Sakura?!"
Dengan susah payah Sasuke mengejar kucingnya yang berlar gesit. Langit yang tadinya cerah menjadi mendung dan memuntahkan tangisannya. Sasuke tidak memperdulikan hujan yang mengguyur tubuhnya, dia tetap mengejar Sakura yang berlari dengan kencang.
"Sakura!"
Ckit! Brak!
Tubuh Sasuke terpental beberapa meter setelah sebuah mobil menabraknya. Sebelum kesadarannya hilang, dia bisa mendengar sebuah suara.
Terimakasih karena telah merawatku selama ini, Sasuke-sama. Sesuai perjanjian, jika Sasuke-sama mencintaiku maka aku akan meninggalkan Sasuke-sama. Tetapi Sasuke-sama tenang saja, semua pasti akan ada hikmahnya. Apa yang hilang pasti akan tergantikan dengan yang lebih baik.
Dan setelah itu, kesadaran Sasuke menghilang.
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana kondisinya, dokter?"
"Untung saja lukanya tidak parah meski dirinya terpental cukup jauh dari lokasi tabrakan."
"Syukurlah. Aku menemukannya tergeletak begitu saja. Aku langsung menghubungi rumah sakit."
"Tidak apa-apa, tindakan yang anda lakukan sudah bagus."
Sasuke membuka matanya, kepalanya terasa pusing sekali. Dimana dia? Apakah dia berada di surga?
"Oh- anda sudah bangun."
Sasuke menolehkan kepalanya dan melihat seorang pria tersenyum kearahnya. Dengan jas yang membalut tubuh pria itu, dirinya yakin jika pria dihadapannya ini seorang dokter.
"Ini, dimana?" tanyanya.
"Anda berada di rumah sakit. Anda mengalami kecelakaan dan langsung dibawa kerumah sakit."
Sasuke menganggukan kepalanya. Dan teringat alasannya berada di rumah sakit ini. Lalu, bagaimana kondisi Sakura sekarang? Apa dia baik-baik saja? Atau sekarang berada di surga?
"Anoo.. apa kamu tidak apa-apa?"
Sasuke membulatkan matanya ketika melihat siapa yang bertanya. Rambut pink, kulit putih susu, mata emerald dan senyuman itu. Dia-
"Haruno Sakura?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OWARI
Endingnya gantung? Iya! Tapi tenang aja, bakal ada sekuelnya :3 Buat fict Bakery juga ada sekuelnya, tunggu aja ya.
Oke, Saku gak nerima flame atau protes dari reader. Kalau mau protes bilang kecepetan alurnya atau gimana itu nanti udah ada sekuelnya, jadi jangan protes. -_- kalau belum puas sama fict ini, nanti bakal ada sekuelnya -_- udah berapa kali bilang coba :3
Buat "Bang Kise Ganteng" maafkan keterlambatan fict ini :3 Ujian praktek tinggal pelajaran yang gak pake mikir, jadi langsung ngebut bikin ini fict.. hehehe.. :3 semoga kamu suka yaaaa...
Special's Thanks to :
Uchiha Javaraz, Bang Kise Ganteng, Kiki Kim, Aishamath Shinobu, Mantika Mochi, Afisa UchiharunoSS, Ice, Someandmany, T-chan, Guest, Cha2LoveKorean, 69CoolAndCold69,
-Aomine Sakura-
