A Naruto fanfiction,

Pulangkan Saja! ©2016 Munya munya

Rated: T (+)

Genre: Romance, drama.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Canon! Maybe miss typos, ooc, Don't like don't read!

Hal yang gak baik, jangan ditiru!


"Cerita selanjutnya dari.. Sai!"

Sebuah nama sudah terucap dari bibir sang Hokage. Si empunya nama samaran yang pada akhirnya menjadi nama permanen itu pun melongo. Mata yang terbuka setengah karena efek alkohol yang mulai mempengaruhi kesadarannya itu menatap teman-temannya yang kini terkekeh bahagia melihat Sai yang akan mengambil giliran sebagai korban selanjutnya dalam mengumbar aib rumah tangganya.

"Cepat Sai jangan diam saja, aku sudah mulai mengantuk!" seru Shikamaru dengan nada melanturnya.

"Iya Sai.. hng.. aku ingin tahu bagaiamana kelakuan Ino setelah menikah!" Chouji yang teler pun menunjukkan rasa penasarannya akan sahabat perempuan sejak kecilnya itu.

Memang selama masih lajang ketiga sahabat itu, Shikamaru, Chouji dan Ino sangat dekat sampai tahu jelas tentang kehidupan masing-masing. Namun setelah menikah, semuanya jelas berbeda. Bukan lagi satu paket Ino, Shikamaru dan Chouji, akan tetapi kini menjadi: Ino dan Sai, Shikamaru dan Temari serta Chouji dan Karui. Terkadang, Chouji rindu hari-hari mereka saat masih bertiga kemanapun mereka pergi.

Sai terdiam cukup lama karena sibuk dengan pergolatan dalam otaknya. Alam kesadarannya seakan didesak oleh dua kubu yang berlawanan. Logikanya memikirkan bagaimana reaksi Ino bila tahu aib nya terungkap di telinga para kawan lelakinya ini. Sementara kesadarannya yang mulai menurun menggoda dirinya untuk bicara gamblang dan jujur seperti tabiatnya dulu. Yah syukurlah berkat pernikahan mereka sifat-sifat buruk yang kurang manusiawi dari Sai sedikit demi sedikit menghilang.

Sementara itu di pojokan, Kiba sudah bersorak licik tidak sabar ingin mendengar bagaimana Ratu Gosip Konoha yang cerewet dan bossy itu dinistakan.

"Sai!" Desak Naruto yang mulai tidak sabar.

"Baiklah.. baiklah.. Hm, Ino marah sampai ingin pulang ke rumah ibunya ya? Pernah. Ini ketika kami baru menikah dan belum ada Inojin,"


FLASHBACK

Wanita muda itu melepas ikat rambutnya dengan gusar. Kesepuluh jari-jari lentiknya mencengkram kepalanya frustasi. Belum habis masalah pekerjaannya di Kantor Inteligensi Konoha, kini kinerja shift pendeknya di Rumah Sakit Konoha pun dikritik oleh atasannya.

Masih jelas di kepala Ino saat berkas laporannya ditolak mentah-mentah oleh Kapten Ibiki. Ia tidak tahu mengapa berkas yang disusunnya sendiri melalui berbagai rangkaian penelitian panjang dinilai kurang baik oleh Ibiki, tidak seperti biasanya. Memang apa yang salah pada dirinya?

Yamanaka Ino mendesah lelah untuk yang kesekian kalinya hari ini. 'Bad day ever' mungkin menjadi ungkapan yang tepat bagi seorang Ino yang terbiasa memegang teguh perfeksionisme dalam pekerjaannya. Bukan karena tertular Sai semenjak pernikahan mereka beberapa bulan lalu, tapi sebenarnya sifat ini telah dimiliki Ino sejak lahir. Walaupun, berbeda dengan suaminya itu, Ino sering mengeluh di sela-sela aktivitasnya.

Di meja kerjanya dalam ruangan ninja medis yang sepi, Ino menumpukan kepala di atas meja kayu sintetis. Kedua tangannya terjulur bebas di samping kepalanya. Raut wajahnya kacau, perasaan sedih, lelah, frustasi dan tertekan bercampur jadi satu dan berhasil menurunkan kadar kecantikan Ino hari ini.

Ino merasa dikhianati oleh usahanya sendiri. Mungkin, tubuhnya berada pada titik jenuhnya sehingga apa yang dianggapnya ia kerjakan dengan maksimal nyatanya meraih hasil yang tak sejalan. Perasaan terkhianati itu seakan ditimpa beban yang semakin membuatnya tak bisa bangun, saat kalimat kritikan pedas layaknya omelan ibu tiri itu banyak diterimanya hari ini. Bahkan Shizune pun menegur kesalahannya di rumah sakit beberapa saat lalu!

Karena berbagai tekanan itu Ino merasa terpuruk. Ia tidak ingin memiliki rapor merah dalam pekerjaannya tapi usaha yang ia lakukan rasanya tetap saja dipandang negatif oleh atasan maupun rekan kerjanya. Serba salah. Segala keluh kesah ini ingin ia tumpahkan segera. Ino butuh sandaran. Di saat seperti ini, di titik terendahnya, ia butuh Sai!

Dadanya sesak sampai ingin menangis rasanya. Sungguh, ia hanya butuh Sai di sisinya!

Saat otaknya tiba-tiba mengingat Sai, Ino mengangkat kepalanya dan duduk tegak. Telapak tangannya mengusap wajah putih itu perlahan sambil menarik napas panjang. Tetapi semangat yang dicarinya tak kunjung nampak pada jiwanya. Maka Ino menolehkan kepala ke jendela besar di seberang kursinya duduk, perlahan namun pasti wanita berambut pirang panjang itu berjalan mendekati jendela rumah sakit yang berembun.

Mata aquamarine nya menatap lurus kaca jendela yang menghadap jalan besar di luar. Seakan-akan pandangannya bisa memanggil orang yang ditunggunya ke sini. Sekarang Sai sedang dalam misi dan hari ini direncanakan pulang. Ino berharap besar apapun yang terjadi, Sai harus pulang hari ini. Ia tidak tahu dirinya akan hancur seperti apa lagi bila tidak bertemu pemilik hatinya itu malam ini.

Malam musim dingin ini sudah beranjak larut dan shift Ino sudah berakhir setengah jam yang lalu namun wanita cantik itu memutuskan untuk menunggu Sai menjemputnya. Memang, Sai tidak berkata seperti itu sebelum kepergiannya tiga hari lalu. Namun hal ini seakan sudah menjadi kebiasaan atau bahkan telah menjadi sebuah peraturan tidak tertulis dalam keluarga Sai dan Ino. Maka, Ino menunda pulang. Rumah yang sepi ditambah cuaca dingin ini akan memperburuk suasana hatinya bila tanpa Sai.

Kunoichi persepsi keturunan Yamanaka itu membunuh waktu dengan duduk di depan jendela sambil mengintrospeksi kesalahannya hari ini. Ia bertekad malam ini juga akan menyelesaikan tugasnya sebaik-baiknya sekaligus memperbaiki kesalahan laporannya. Ya, harus! Seorang Yamanaka Ino tidak boleh mendapat rapor merah dalam kariernya!

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak sampai lelah menunggu, siluet Sai yang sedang berjalan menuju Rumah Sakit Konoha terlihat oleh mata hijau kebiruan Ino. Wanita itu langsung mengangkat kepalanya dan seakan mendapat energi yang membiusnya, Ino bergegas membereskan barang-barangnya dan dengan cepat turun dari lantai tiga rumah sakit menuju pintu utama.

Ino telah berada di pintu utama rumah sakit sebelum Sai tiba. Pria yang masih memakai setelan ninjanya itu otomatis melihat Ino seperti sudah menunggunya. Lantas ia pun menghampiri istri cantiknya itu dengan sedikit rasa bersalah lengkap dengan senyum khas dirinya.

"Sudah lama menunggu, Nona cantik?"

Wajah Ino langsung berseri-seri mendengar Sai menyapanya. Walapun mereka sudah menikah, rasanya masih saja seperti pasangan kekasih baru. Bentuk perhatian kecil Sai ini cukup membuat hati Ino penuh bunga yang bersemi.

"Percaya diri sekali, belum tentu 'kan yang kutunggu itu kau." Jawab Ino sambil mengamit tangan Sai. Keduanya tersenyum geli. Namun, Sai tidak dapat menangkap tawa ceria Ino di sela candaan itu. Rangkulan tangannya juga sangat erat, seakan-akan Ino rapuh dan butuh penopang. Ini aneh, tidak seperti biasanya, pikir Sai.

Mereka mulai berjalan pulang beriringan. Menapaki jalanan malam Konoha. Sepanjang jalan, Ino mulai menginterogasi Sai tentang misinya kemarin. Bukan, bukan interogasi ninja profesional. Maksud interogasi di sini hanyalah pertanyaan posesif seorang istri sampai pertanyaan menyelidik apakah ada luka di tubuh Sai. Ino memang cerewet bila menyangkut urusan seperti ini, Sai akui itu.

Tetapi setelah mereka sampai di dalam rumah, Ino tiba-tiba memeluk Sai dengan pandangan sendu, menenggelamkan kepalanya di dada Sai. Mereka masih berada di ruang tamu yang terasa hening cukup lama karena pria berkulit putih pucat itu heran tiba-tiba istrinya seperti ini.

Di samping itu, Sai menerka Ino sedang membutuhkan dirinya. Jadi, pria itu tidak banyak bertanya dan memberi Ino waktu lebih lama dalam pelukannya. Sai menarik Ino semakin dalam. Ia mengusap rambut panjang Ino lembut berulang-ulang, sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan yang sejak tadi ia tahan. "Ada apa Ino? Kau tidak seperti biasanya, hm?"

"Tidak apa-apa, Sai. Aku.. aku hanya butuh dirimu. Aku senang kau pulang tepat waktu." Ino memisahkan diri dari tubuh suaminya namun kedua tangannya tetap setia melingkar di punggung tegap Sai, wanita itu tersenyum sedikit lalu kepalanya ia tengadahkan menatap langsung wajah Sai.

Sai membalas senyum Ino demi menyenangkan hati perempuannya itu. Walaupun ia tahu, senyum Ino palsu..

Oleh karena itu Sai mendekap Ino lagi. Wanita itu menutup matanya merasakan kenyamanan dalam pelukan Sai. Dinginnya udara awal Desember seakan ditepis oleh hangat dalam dekap tubuh sang ninja seniman itu.

Sekilas saja, Sai yang biasanya tidak peka dengan perasaan seseorang sudah tahu Ino sedang sangat rapuh dari pelukannya. Maka ia bertekad akan memberikan Ino kekuatan dan dukungan.

Ah, ada gunanya juga buku-buku tentang hubungan pernikahan yang Sai baca.

"Tampaknya kau lelah sekali, bagaimana kalau kita makan lalu tidur?"

Ino merasa kalimat suaminya itu juga berlaku untuk Sai sendiri. Dan karena pengertian yang Sai berikan bahkan tanpa Ino minta, wanita itu merasa sangat bersyukur sudah memiliki si seniman Konoha. Maka daripada berucap banyak kata, Ino lebih memilih merangkum semua rasa syukurnya dalam satu kalimat.

"Aku mencintaimu, Anata. Ayo!"

"Hng?" Sai terheran-heran dengan respon mendadak Ino. Tapi tidak apa, selama Ino sudah kembali menemukan semangat dirinya.

Hah, ingatkan Sai untuk membeli buku baru tentang ini.

.

.

.

Makan malam pasangan baru keluarga Yamanaka ini sepertinya lebih pantas disebut makan malam Sai saja. Karena sang istri hanya menghabiskan satu buah pir dan satu gelas susu hangat. Sai sudah menyuruhnya makan berulang kali, namun Ino berdalih tidak nafsu makan. Sai semakin curiga sebenarnya masalah apa yang sedang menimpa istrinya. Ia ingin bertanya namun lagi-lagi ia urungkan karena tidak ingin merusak suasana hati Ino.


"Belum mau tidur?"

Pintu kamar terbuka diikuti pertanyaan Sai yang tertuju pada satu-satunya orang di ruangan itu.

Sai yang hendak berbaring di tempat tidur mengurungkan niatnya kala melihat Ino masih sibuk berkutat dengan gulungan-gulungan pekerjaan di meja kerjanya di pojok kamar mereka. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

"Kau duluan saja, Sai. Pasti lelah 'kan setelah misi?"

Ino berujar tanpa menoleh ke arah Sai sedikitpun, konsentrasinya tertuju pada tangan yang sedang menulis ulang laporan Divisi Intelijensi.

Laki-laki berambut hitam lurus itu mendekati meja Ino. Meja itu tampak begitu penuh dengan banyaknya gulungan dan buku-buku tebal arsip Divisi Inteligensi yang harus Ino kaji keseluruhan isinya. Belum lagi kertas-kertas data Rumah Sakit Konoha(termasuk di dalamnya berkas Klinik Kesehatan Mental Anak) yang juga menumpuk, mengantre minta dikerjakan.

Sai prihatin dengan banyaknya pekerjaan yang harus Ino selesaikan. Melihat kondisi psikis Ino tadi yang tidak begitu baik membuat Sai khawatir. Ia pun mengangkat tangannya dan mengelus rambut pirang pucat Ino penuh sayang.

"Tapi tidurku terasa hampa jika tidak memelukmu, Ino-chan." Ujar Sai rendah sambil menunduk menyejajarkan kepalanya dengan kepala Ino yang sedang duduk.

Hal itu lantas membuat Ino menoleh, wajahnya memerah padam membuat Sai tersenyum geli. Ino yang salah tingkah menyikut pelan pinggang Sai. "Su-sudahlah Sai jangan gombal di saat seperti ini.. Kau butuh istirahat, segeralah tidur! Aku akan menyusul setelah ini selesai,"

Bukannya pergi tidur, Sai malah menarik bangku lain dan duduk di samping Ino dengan ekspresi datarnya. "Aku akan menemanimu sampai selesai."


"Haaah, dasar modus!" Celetuk Kiba sambil menuang lagi sake ke cawannya.

"Sok baik! Bilang saja sebenarnya kau ingin.."

"Ada udang di balik batu 'kan? Che." Ujar Shikamaru remeh memotong ucapan penuh tuduhan Naruto sebelumnya.

"Seperti kau tidak begitu saja, Shikamaru, Naruto!" Tunjuk Chouji yang sama sekali tidak mengindahkan sopan santun pada Sang Hokage. Mau dikata apa lagi saat kesadarannya sudah dikuasai sake. Kepalanya yang berat itu bahkan sudah jatuh menyandar ke Kiba yang duduk di sebelahnya. Namun, agaknya Sang Hokage pun tak peduli selama mereka bersenang-senang. Pokoknya malam ini tidak ada formalitas atau apapun itu.

"Tidak, tidak, aku akan terus terang mengatakannya jika memang ingin. Tapi waktu itu kondisinya tidak memungkinkan, jadi yah.." Konfirmasi Sai dengan senyum yang menyebalkan di mata mereka.

"Sial, kau begitu jujur Sai. Lanjutkan ceritamu." Timpal Shino di luar dugaan. Apa pecinta serangga itu mabuk?

Sasuke menatap malas teman-temannya yang sudah mabuk ke tahap yang lebih jauh dari sebelumnya. Walaupun belum 'benar-benar mabuk'. Pria tampan itu kembali memasang telinganya baik-baik saat Sai akan melanjutkan ceritanya.


FLASHBACK

"Ini akan lama, tidurlah Sai!"

"Aku akan memenuhi apapun kebutuhanmu, atau mungkin aku bisa membantu?"

"Kalau begitu bantu aku meningkatkan konsentrasiku dengan pergi tidur dan berhenti menggangguku!"

"Dengar Ino, aku bisa menjadi pengawasmu dalam bekerja."

"Sai!"

"Tapi, benar juga. Baiklah pertama-tama aku akan memastikan kau tidak lalai mengerjakan tugas-tugasmu dan dapat selesai tepat waktu, setuju?"

Waktu berdetak detik demi detik membiarkan wanita pirang itu berpikir. Ino menghentikan gerakan tangannya yang sedang menulis, menimbang-nimbang penawaran suaminya.

"Baiklah. Bangunkan aku kalau tertidur ya?" ujar Ino setelah helaan napasnya.

Akhirnya Nyonya Yamanaka itu menyerah. Toh, dengan begini Sai tidak lagi ribut dan mengganggu konsentrasinya. Lagipula, ia bisa jadi lebih disiplin.

Sai mengangguk dan tersenyum lebar mendengar jawaban Ino. Tapi, di luar ekspektasi Ino yang menyangka suaminya itu akan duduk manis di sampingnya, Sai justru menarik diri dari bangku tempatnya duduk dan keluar kamar begitu saja.

Tidak mau ambil pusing, putri dari Yamanaka Inoichi itu pun melanjutkan tulisannya dengan salah satu tangan menumpu kepalanya yang terasa berat.


"Huuh.. akhirnya analisa data Informasi Shinobi Jounin selesai! Tinggal bagian akhir laporan, eh, tapi sebelum itu.. sebaiknya kukerjakan tugas rumah sakit dulu saja!" Jari tangan lentik itu dikibas-kibaskan pemiliknya sambil bermonolog ria guna meredakan jenuh yang melanda.

Rasanya tangan Ino hampir copot menulis di gulungan setebal itu. Ditambah lagi penggunaan jurus pengunci informasi setelahnya. Tenaga, chakra dan pikiran Ino jelas terkuras. Namun, wanita cantik itu belum bisa bernapas lega. Karena ia masih harus membaca dan menyimpulkan beberapa rekam medis pasien Rumah Sakit, memeriksa berkas yang berkaitan dengan pekerjaannya di Klinik Kesehatan Mental Anak (yang dicetuskan sahabatnya Sakura, namun ia turut ikut andil dalam salah satu divisi di klinik itu) dan jangan lupa, laporan Divisi Inteligensi nya belum lengkap.

Sejenak mengistirahatkan jarinya sambil mengistirahatkan punggungnya yang kaku pada sandaran kursi, Ino memilih membaca rekam medis dari rumah sakit saat pintu kamarnya terbuka lagi.

Wanita karier itu menahan matanya untuk tidak sekadar melirik Sai tetapi pria itu justru datang dengan membawa sepiring makanan lalu menyodorkan sesuap pada Ino.

"Ino-chan, kau harus makan supaya tubuhmu cukup energi. Jadi tidak ada gangguan pada proses berpikir atau mekanisme kerja tubuhmu. Aaa..."

Sai dan semua alasan logisnya.

"Tidak sekarang, Sai.."

Ino menghela napas lelah saat atensinya dari tumpukan rekam medis di tangan wanita itu harus direnggut kembali.

"Ayolah sedikit saja. Ini demi kelancaran kerja mu!"

"Ino~"

"Cantik, ayo aaa.."

"Aku tidak lapar, Sai! bisakah kau diam dengan begitu pekerjaanku akan cepat selesai dan aku bisa makan atau apapun itu setelahnya. Lagipula, bukankah tugasmu cukup dengan mengawasiku?!"

Kalau saja kalimat bujukan Sai tidak berulang-ulang diucap, maka Ino tidak akan naik pitam tahap pertama seperti ini. Jelas saja, itu sangat memecah konsentrasinya. Ketelitian sangat dibutuhkan dalam membaca dan memahami rekam medis seorang pasien, bukan?

Suara denting sumpit yang diletakkan kembali ke dasar mangkok menandai Sai telah menyerah. Wanita yang telah menjadi istrinya selama beberapa bulan belakangan itu memang keras kepala. Namun, pemuda tampan berkulit pucat itu tetap tersenyum. Senyum default andalannya.

"Baiklah."

Ino mendengus sambil menggaruk kepalanya kasar. Dengan wajah tertekuk ia kembali menekuni pekerjaannya. Sai tetap duduk manis di kursinya tidak jauh dari meja kerja Ino. Senyum palsu yang setia bertengger di wajah pucatnya itu terasa menyebalkan bagi Ino. Tapi wanita itu tidak menggubrisnya, sampai tak terasa, waktu telah bergulir lama. Tumpukan pekerjaan Ino pun mulai berkurang namun belum berarti pekerjaannya rampung.

Larutnya malam seakan meniupkan rasa kantuk pada Ino. Rasa lelah setelah bekerja seharian dan beban pikiran yang bertumpuk semakin memberatkan kepalanya. Matanya pun terasa lelah ingin segera menutup sejenak. Namun tekad Ino tidak akan kalah dengan semua itu. Ia bersusah payah melawan kantuk dan lelah. Ino membuka kelopak matanya lebar-lebar dan menumpu kepalanya lebih kuat agar tidak jatuh tertidur.

Cara membacanya pun sudah terkesan dipaksakan, apalagi tulisan tangannya yang sudah mulai memburuk karena kantuk. Sai yang sedari tadi mengawasi istrinya pun menyadari hal ini. Melihat Ino yang mulai kehilangan fokus kerjanya, Sai berinisiaif menghilangkan rasa kantuk Ino dengan caranya.

"Ino-chan!" Seru Sai keras cukup mengagetkan Ino yang hampir kalah oleh kantuknya.

Bahu wanita itupun berkedut naik dan perlahan Ino menegakkan tubuhnya yang mulai merosot.

"Jangan sampai tertidur," lanjut pria itu dengan senyumnya.

Ino kembali fokus dengan pekerjaannya dan merasa tertolong oleh tindakan Sai. Diam-diam ia bersyukur namun tak sampai lima menit, ia menarik kata-katanya karena Sai kembali bertingkah menjengkelkan.

"Tapi walaupun kamu tidur, walau mata manusia bisa tertidur, hatiku tidak akan tertidur untuk mencintaimu kok. " gombalnya sambil memainkan helai-helai pirang Ino.

Wanita itu hanya memutar bola mata aquamarinenya. Mencoba bersabar sekeras hati. Sudah biasa.

Sumpah, mata Ino mungkin hanya tinggal 5 Watt dayanya jika disamakan dengan lampu rumah. Berkali-kali tertutup dan terbuka lambat. Kepalanya beberapa kali gagal bertahan dan hampir jatuh ke meja kalau saja tangannya tak kembali menahan.

Tapi celotehan Sai yang penuh gombal ditambah tangan jahil pria di sebelahnya yang mencubiti atau sekadar mencolek pipi Ino, di tengah-tengah usaha kerasnya dalam menyelesaikan dokumen pekerjaan membuat api mendadak menyala dalam matanya. Memang, lonjakan emosi ini menarik Ino sejenak dari rasa kantuknya tapi sungguh ini sangat menjengkelkan!

"Ino, kamu tahu? kita ini ibarat sumpit. Sumpit yang selalu sepasang."

Ino mendelik. Empat siku-siku muncul di dahinya berbarengan dengan tangannya yang mengambil lembar dokumen baru dengan gerakan cepat.

"Karena kalau tidak berdua tidak ada gunanya."

BRAK

"SAI!"

Ino menggebrak meja dengan keras. Saking kerasnya sampai-sampai jika Ino tingkatkan kekuatannya sedikit saja tadi, mungkin meja kayu itu akan terbelah.

Bibir Sai memebentuk huruf 'O' kecil, tubuhnya sedikit berjengit menjauh dari meja, itu pun gerakan refleks. Selepas itu sang pria pucat masih datar tanpa emosi.

Ino tidak punya waktu lagi untuk marah-marah. Tapi gombalan Sai yang sebenarnya romantis malah menampar Ino keras-keras. Tidak ada gunanya, katanya?

Seorang Ino Yamanaka tidak berguna jika hanya seorang diri. Sangat tidak berguna sampai ia harus mengulang pekerjaannya sekarang. Hingga tidak ada yang mengandalkan dirinya. Hanya kritikan pedas yang ia terima dari orang-orang.

Ino tahu diri, tapi apakah suaminya yang bermulut tajam ini begitu tidak peka sampai-sampai hal yang ia anggap aib itu harus diperjelas dengan kata-kata?

Napas Ino terengah-engah lantaran dirinya sudah terlalu panas dengan emosi. Kekesalannya yang sempat ia pendam dalam-dalam demi memperbaiki pekerjaannya kini sudah berada di puncaknya. Bagaikan lava yang disimpan dalam perut bumi, amarah Ino telah meledak. Mukanya juga memerah bukan karena termakan rayuan gombal, justru hatinya tersinggung begitu dalam.

Sempat memelototi sang suami yang tak bergeming, Ino membuang muka dan lagi-lagi kembali ke pekerjaannya. Ia mencengkram kertas dan pena di tangannya berharap bisa meredam kekesalannya.

Namun sungguh seratus delapan puluh derajat, Sai tersenyum lagi. Ia justru merasa berhasil karena Ino menjadi lupa dengan rasa kantuknya. Lihat, kini Ino sibuk membolak-balik dokumen. Tampak serius, dan..

Tunggu.

"H-hiks.."

Posisi Sai yang kini berada di kiri Ino, agak kebelakang, membuatnya sulit mengamati ekspresi wanitanya. Tapi kalau ia tidak salah lihat, yang tiba-tiba terjatuh dari mata Ino... air mata?

Sai otomatis mencondongkan tubuhnya ke arah Ino. Ia sempat gelagapan. Yang benar saja, membuat wanita menangis apalagi istinya sendiri? Sungguh bukan keahliannya untuk mereda ini.

"Ino, kau kenapa?"

Bahu yang kini dipegang Sai itu bergetar. Isakan Ino tak bisa lagi disembunyikan. Wajah sembab yang lelah dan marah itu menyayat hati Sai yang melihatnya.

Pria yang kebingungan itu hanya bisa mendekatkan kepalanya dan menyeka air mata Ino. Sayangnya, kunoichi tercantik versi Sai itu menepis suaminya. Gerakannya penuh keputusasaan.

"Aku lelah Sai! Bisakah kau berhenti bersikap seperti ini?!" Bentak Ino disertai sungai air mata di pipi putihnya.

Tatapan nanar itu beradu pada mata hitam legam di hadapannya. Berharap dalamnya hijau iris Ino bisa menarik empati lelaki itu, agar ia bisa memahaminya lebih jauh lagi. Selama ini Ino sudah cukup sabar mengajari Sai tentang emosi dan sebagainya, apakah belum cukup?

Badannya yang sudah remuk dipaksakan untuk bekerja, otak yang buntu oleh banyaknya beban pikiran diforsir untuk berpikir lebih keras. Semua itu Ino abaikan demi karirnya. Tapi siapa yang merusak semua pengorbanan itu?

Lihat jam berapa ini? Sudah lewat tengah malam dan apa Sai pikir pekerjaan Ino sudah selesai? Tentu saja belum! Jam saja sampai menertawainya!

"Maaf."

Sedetik setelah Ino menyerah dan memutus kontak mata mereka untuk mencengkeram masing-masing pelipisnya dengan tangan yang tertumpu siku di permukaan kayu meja, menangis membelakangi Sai, satu kata meluncur pelan dari bibir suaminya diiringi belaian singkat di rambut pirangnya. Wajah Ino tertunduk dalam-dalam saat samar ia dengar suara langkah kaki yang hengkang dan pintu yang berdebam tertutup.

"Hiks.. hiks..hiks.. "

Tangisan Ino makin terdengar menyedihkan menyadari kepergian suaminya. Ini salahnya membuat Sai menjadi semakin jauh. Padahal, sebenarnya ia rindu terpisah tiga hari karena misi yang diemban suaminya.

Maklumilah, pengantin baru namanya. Jika bukan, tentunya tiga hari merupakan waktu yang singkat dan wajar bagi seorang ninja untuk melakukan misi. Apalagi, Sai adalah ninja elit yang ditugaskan pada misi-misi sulit.

Andai Sai tahu, sebenarnya malam ini Ino sangat ingin melepas rindu dan bermanja-manja. Namun ninja profesional tidak bisa begitu. Ino merelakan kehidupan pribadinya demi pekerjaan yang menuntut.

Ino merindukan Sai, tapi ia menyukai pekerjaannya dan memperjuangkan yang terbaik untuk itu. Bagai dua sisi mata uang yang membebani Ino di tengah banyaknya tekanan menerpa.

"Sai.. hiks.."

Aku.. benar-benar tersiksa dengan semua ini.. bisik Ino pilu.


Sai mulai merasa tidak nyaman setelah menceritakan bagian ini.

Pandangan dari teman-teman di sekitarnya sudah melabelinya dengan 'pria jahat' terlebih oleh dua sahabat sehidup semati Ino. Rekan satu tim yang tak pernah bubar meski tugas sudah berbeda-beda, dua pria yang seperti saudara kembar Ino saking dekatnya, siapa lagi kalau bukan Chouji dan Shikamaru.

"Parah.. parah juga kau, Sai!" Chouji sudah melontarkan kata-kata protesnya sambil melempari pria itu dengan keripik kentangnya. Oh, Chouji pasti sudah mabuk.

"Penggombal sialan! Kelakuanmu itu pasti sangat merepotkan Ino!" cerca Shikamaru yang berada persis di sebelah kiri Sai. Matanya menatap sinis suami sahabatnya itu.

Sai hanya menggaruk belakang kepalanya asal. Menengok ke arah Naruto di kanannya meminta dukungan moral yang hanya dijawab Hokage Ketujuh itu dengan kode untuk melanjutkan ceritanya lagi.


FLASHBACK

Saat Sai masuk kembali satu jam kemudian, pria berkulit seputih kanvas itu menemukan Ino sudah terlelap. Kepala dan pundaknya terbaring lemah di atas meja, sedikit menindih dokumen-dokumen pekerjaannya.

Sebenarnya Sai meninggalkan Ino tadi bukan karena dirinya tidak berperasaan atau marah. Ia memang tidak mempunyai perasaan dulu, namun kini emosi dan rasa sudah terbangun di hatinya sedikit demi sedikit.

Ia hanya membiarkan Ino tenang karena menurut buku yang dibacanya, wanita akan kebal dengan kata atau perlakuan apapun jika sudah marah dan menangis. Berlaku manis dan memeluk Ino pun bukan pilihan yang tepat bagi Sai karena wanita itu sedang murka padanya—bukan sekedar bersedih. Jadi, kembali saat Ino sudah berkepala dingin menjadi cara yang dipilihnya.

Lagipula, tadi Ino meminta konsentrasi untuk bekerja kan? Bicara soal pekerjaan, sepertinya wanita pirang itu belum menyelesaikannya dan Sai telah berucap dengan bibirnya sendiri bahwa tugasnya adalah mengawasi Ino agar tidak tertidur sebelum pekerjaannya rampung.

Sai berjalan mendekat dan menyentuh ubun-ubun Ino. Wanita itu tidak bergeming. Hal itu membuat Sai yakin Ino benar-benar lelap dan ia tidak tega untuk membangunkannya. Walaupun itu berarti ia melanggar kata-katanya.

Tapi biarlah, apalah artinya itu semua dibanding kesehatan Ino? Sai bisa merasakan Ino sangat lelah saat ia mengangkat tubuh ramping itu dan menggendongnya ke ranjang. Pria manis berponi itu meletakkan istrinya dengan hati-hati seakan tulangnya akan remuk bila ia terlalu kasar. Perlahan ia menutup tubuh Ino yang hanya terbalut gaun tidur tipis dengan selimut. Menghalau hawa dingin yang mengganggu kulit putih mulus wanita itu. Sai ikut berbaring di samping Ino, membiarkan mereka beristirahat bersama setelah hari yang begitu melelahkan ini.


Sinar matahari menembus celah tirai kamar pasangan muda itu. Ino tidak berpikir akan bangun pagi dengan segar dan nyaman di kasur empuknya ini kala semalam Ia terus berkutat dengan pekerjaan yang tak mengharapkan waktu tidur. Tapi, tunggu, pekerjaan? Kalau ia terbangun seperti ini bagaimana dengan pe—

"Selamat pagi, Ino."

Sapaan hangat Sai adalah yang pertama didengar Ino sekaligus mengonfirmasi dugaan buruknya. Lantas Ino loncat dari tempat tidur dan menolehkan kepalanya ke berbagai arah mencari letak pekerjaannya tertumpuk.

Ino menatap horror meja kerjanya yang masih berantakan dan itu berarti pekerjaanya masih benar-benar bersisa.

"SAI KENAPA KAU TIDAK MEMBANGUNKANKU?!"

Ino marah besar pada suaminya. Benar-benar Sai ini, sudah jelas ia mewanti-wanti betapa pekerjaan jamaknya ini penting dan jika ia tertidur, bangunkan!

Sai beranjak bangun saat disemprot habis-habisan oleh Ino dengan rentetan kalimat protes dari wanita itu. Tapi kalimat terakhir yang didengarnya cukup membuat Sai merasa bersalah.

"Asal kau tahu Sai! kalau laporan ini gagal aku bisa dipecat dari Divisi Inteligensi! Padahal dulu ini adalah divisi pimpinan ayahku.. Aku tidak mau gagal meneruskan ayah! Apa kata orang-orang kalau putri Yamanaka Inoichi.. ah.. sudahlah.. kau tidak akan mengerti," lirihnya di akhir kalimat, padahal awal membuka omelan, Ino sudah meledak-ledak.

Ino menarik napas dalam-dalam, membuang tatapannya ke lantai. Mata hijau kebiruannya kembali berkaca-kaca. Ia benar-benar frustasi dan tidak tahu harus bagaimana lagi. Di sisi lain, ia teringat mendiang ayahnya yang memercayakan tekad padanya.

Tapi renungannya terpecah saat kata-kata bernada lembut Sai meluncur pedas sehabis kemarahan besarnya itu.

"Tidak apa-apa kalau kau dipecat. Kau bisa menjadi Ibu rumah tangga yang mengurus anak-anak kita dengan baik nanti."

Kalem dan lugas.

Jangan lupakan bonus senyum andalan Sai.

Wajah datarnya, yang semakin membuat Ino ingin melancarkan Shintenshin no jutsu pada Sai dan mengunakan tubuh itu untuk loncat bebas dari lantai dua rumah mereka. Saat itu juga.

Tapi daripada itu, Ino melakukan hal lebih 'logis' yaitu membanting barang-barang di kamar mereka dan beberapa dilemparkannya ke arah Sai. Pria itu cukup kewalahan menepis serangan Ino.

"Kau tidak sayang padaku Sai! Kau tidak mengerti!" ujarnya dengan nada tinggi sambil berlalu pergi keluar kamar. Bantingan keras pada pintu turut serta memeriahkan kemarahan Ino.

Salah satu kelopak mata Sai tertutup erat. Si pria pucat terpaku beberapa detik memandangi rambut pirang yang menjuntai itu menjauh, hilang di balik pintu. Lalu secepat kilat Sai mengejar Ino yang menangis tersedu sampai ke pintu depan rumah mereka.

"Ino!"

Iya, Sai tahu Ino memang drama queen. Wanita yang dipelajarinya dengan susah payah itu, kini tidak benar-benar emosi dan hanya menangis bombay karena frustasi. Buktinya? Ino berhenti berlari dan melangkah terseok-seok di halaman rumahnya.

Saat sampai di pintu gerbang, Ino benar-benar berhenti dan berbalik menatap Sai nyalang. Masih terisak dengan bahu naik-turun. Sai otomatis menghentikan langkahnya. Ia sedikit terkejut dan iba melihat penampilan Ino yang kacau. Rambut berantakan, mata sembab, hidung berair lengkap dalam wajah khas bangun tidur tanpa satupun basuhan air pencuci muka. Jangan lupakan mereka sedang berada di luar rumah dan pakaian Ino masih sama seperti tadi malam.

"Aku lelah kalau kau begini terus. Aku mau pulang saja ke rumah ibuku! Sai aku benci kau! Jangan temui aku lagi! Huhuhu Ayaaah.." ujar Ino kejam sambil berlari pergi.

Sai bingung harus mengambil langkah apa. Ia memang refleks mengejar Ino beberapa langkah sampai di gerbang depan rumahnya, kemudian terdiam. Ia berpikir keras walau matanya menatap kosong jalanan yang ditinggali jejak kaki Ino.

Setelah berpikir bijak (menurut Sai) dengan gejolak dalam otaknya antara buku-buku dan pengalamannya menghadapi wanita bernama Ino, Sai memilih tidak melanggar kata-kata Ino lagi dan membiarkannya pergi. Atau Sai lebih suka menyebutnya membiarkannya tenang dahulu.

Jadi di sinilah ia, terpaku membeku di depan gerbang menatap Ino yang menjauh dengan tampang bodoh.

Di lain pihak, si wanita tidak mendengar langkah kaki di belakangnya sama sekali. Merasa tidak dikejar, Ino membalikkan badannya dan mendapati Sai masih berada lurus di belakangnya. Terdiam di depan gerbang kayu kediaman mereka. Sisi wanita yang selalu benar pun aktif dalam diri Ino.

Dengan muka merah mengepulkan asap imajiner, pipi menggembung kesal dan kaki yang menghentak bumi geram, teriakan Ino menggema di jalan itu.

"SAI! KENAPA TIDAK MENGEJARKUUU?"

.

.

(end of flashback)


"Hah? Wahahahahah! Apa-apaan si Ino itu." Naruto tertawa puas mendengar akhir cerita Sai. Sungguh, keputusannya membuat permainan ini begitu tepat karena ini berhasil menghiburnya. Tertawa-tawa lepas begitu membuatnya terlihat seperti mabuk betulan.

"Kau seperti orang bodoh saja, Sai." Ujar Kiba terengah-engah lelah tertawa.

Shino mengalihkan keinginannya tertawa dengan minum. Namun sialnya, ia salah mengambil air putih dan malah terlanjur menenggak sake banyak-banyak. Alhasil ia tersedak sake dan itu rasanya... uh sangat tidak enak.

Sai tersenyum mengejek dilatari Kiba dan Naruto yang makin terbahak-bahak melihat Shino. Sasuke hanya mendengus dengan garis bibir yang sedikit miring. Lucu juga. Akhirnya ia puas mendengar orang lain sudah dinistakan setelah dirinya.

"Hah, Ino.. Ino.." Sementara Shikamaru selaku sahabat sehidup semati Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar tingkah sahabat merepotkannya itu. Tangannya memegang dahi dengan kepala menunduk menunjukkan gestur pusing. Chouji pun tak jauh berbeda. Ia yang sudah paham tabiat Ino hanya menatap Sai(antara iba tapi mengejek jahil) dengan mata sipitnya yang semakin sayu karena pengaruh alkohol. "Dasar.. Ino.. hik!"

Sebenarnya Sai sudah mabuk jadi semakin lama ceritanya makin jujur. Ia tak kuasa merespon apa-apa terhadap tawa' bahagia' teman-teman. Hanya senyum dengan mata menyipit lah satu-satunya ekspresi andalan yang bisa ia pasang.

"Hei kalian jangan senang dulu, waktunya berganti giliran. Siapa selanjutnya?"

Kalimat Sai seakan menjadi melodi kematian yang membungkam semua suara di sana. Kalimat itu bertambah angker karena wajah Sai yang dihiasi senyum penuh misteri saat mengatakannya. Mendadak kedai itu menjadi hening dan perasaan tegang tak luput dari wajah golongan pria-pria yang belum.


TBC


A/N:

Pulangkan sajaa~ aku ke rumah ibuku.. (versi Ino)

Hiyaa pada nyanyi kaan? wkwkwkwk

Maaf banget updatenya lama! dan ini spesial buat yang request saiino! yaa! kalian banyak yang satu pikiran denganku yaa! fufufu #kode

Saya dapet semangat tiba-tiba mau nulis saiino chapter ini sehabis pulang nonton Boruto.(gak nyambung emang) tapi karena waktu itu mau uas, jadi baru kesampean sekarang nulisnya hehehe.

Maaf juga karena gabisa balesin review kalian satu-satu tapi saya berterimakasih banyak buat kalian yang selalu ngingetin buat update, yang request, semangatin, pokoknya aku seneng baca feedback kalian!

anyway, banyak juga ya yang mau daftar jadi istri shino di sini wkwkwk. silahkan.. silahkan..

Terus ada yang nanyain Neji juga. Neji kan udah gaada :(

Dan untuk menegaskan setting di sini. Tadinya aku bikin ini setting canon setelah chapter 700. Tapiii aku ganti setelah boruto aja karena kang mas ganteng aku tuh a.k.a Sasuke yang mengacaukan semua ini. Gara-gara dia ga pulang-pulang (baru pulang pas boruto movie, usia pernikahan mereka sekitar 12-13 tahun)

Okee aku rasa cukup aja cuap-cuapnya. mohon masukan dan saran di kotak review yaa! See ya in next chapter!

Then.. next chapter will be?


Special Thanks:

vee, naruhina kudo 123, KhofitaRenaZalfran, dianarndraha, hyuuga hana, , himawaarii nara, Guest, chanshasa , hiki0717, shika no tema, Tirai Kecil, Miuna, Guest, SHL7810, Uzumaki family, Evy Bestari Putri, .10, Khira-Ciut, laler, ariyanata, , Hanabi no Sakura, eve, hime-chan, D. Gee-eun, sjxjs, MrsHyuugaUzumaki, haruno sisi granger, Princess Savoki, Mr obsessive, Rei Malik.


Best regards,

Munya