Naruto © Masashi Kishimoto

Give What You Like dipopulerkan Avril Lavigne

.

.

.

"Kau tampak kelelahan, Hinata," tegur si manis berambut pink itu. Setelah sehari ia tak bertemu dengan sahabat karibnya itu; sejak Hinata pindah ke apartemen Sasuke, gurat wajah gadis bermata bulan itu nampak lelah. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Apa ini ada hubungannya dengan Sasuke? Bukankah Sasuke sedang kesal dengan Hinata? Rasanya tidak mungkin semua itu disebabkan oleh paman itu.

"Rasanya aku ingin kembali ke tempat bobrok itu, Sakura," keluh Hinata. Ia menghembuskan napasnya yang berat. Ia lelah, dan ia juga malas ketika harus pulang ke apartemennya. Karena ada sosok itu yang pasti sudah ada di sana, menunggunya pulang.

"Memangnya apa yang terjadi? Apa kau harus membersihkan seluruh apartemen paman itu? Kejam sekali dia," gerutu Sakura.

"Bukan. Aku—kau tahu apa yang aku maksud."

"Ha?! Bukannya kau bilang dia sedang marah dengannmu?" pekik Haruno Sakura tidak percaya. Jadi sebelum pergi kuliah, dia harus melayani om-om itu? Gila!

"Pelankan suaramu, Sakura-chan! Kita ada di tempat umum," cicit Hinata malu karena semua mata sedang tertuju pada mereka berdua.

"Ups, maaf." Sakura menyengir.

Sebenarnya, om-om itu maniak seks atau bagaimana?

"Dia tiba-tiba sudah ada di hadapanku ketika aku bangun. Kau tahu, aku bahkan harus melayani dua kali."

"Aku pikir paman itu memang maniak seks, Hinata. Kurasa kau harus segera mencari target baru."

Mencari target baru? Terdengar seperti ide yang sangat bagus. Namun, apa Hinata yakin Sasuke akan begitu saja melepaskannya? Dia itu posesif. Ingat, posesif. Ia tak akan begitu saja melepaskan Hinata, meski Hinata yakin banyak wanita diluar sana—selain Hinata—yang menghangatkan ranjang pria dewasa itu.

Ngomong-ngomong tentang menghangatkan ranjang Sasuke, meski baru dua bulan mengenal pemuda itu, ia bahkan tak tahu siapa Sasuke sebenarnya. Dia bekerja di mana, sebagai apa, dan apa dia sudah punya istri dan anak, dan lainnya. Terkutuklah dia jika ia sudah punya istri dan anak dan masih bermain dengan wanita lain.

Hinata memang bukan kekasihnya, ia hanya seorang pelacur—kasarnya. Namun ia tetaplah seorang wanita, jika ia mempunyai suami, ia pasti akan terluka jika ia tahu suaminya mencari kehangatan di tempat lain. Ia bisa saja langsung menceraikan suaminya jika ia mengeahuinya. Tak ada maaf bagi seorang pengkhianat.

Sebenarnya pernah terbesit di pikiran Hinata jika Sasuke telah beristri, namun sekali lagi melihat kelakuan Sasuke, yang kau tahu lah itu, ia menjadi ragu sendiri. Well, Sasuke adalah seorang pria yang berumur, jadi bukan hal yang aneh ketika ia sudah mempunyai istri dan anak. Namun sekali lagi, Hinata tak bisa memastikan itu. Pernah sekali ia mencoba bertanya tentang lelaki itu, namun tidak ada yang bisa ia dapatkan. Yang ia tahu, pria itu bernama Sasuke, dan ia orang kaya. Ia adalah pria yang selalu memenuhi kebutuhannya.

Tunggu…

jangan bilang Sasuke jatuh cinta padanya!

Tidak. Itu mustahil. Itu adalah sebuah kemusahilan yang bakal terjadi. Hei, Sasuke sudah tua, kau tahu, dan ia yakin Hinata yang masih belia ini bukanlah sosok idamannya. Lagi pula, Sasuke juga terlalu tua untuknya, meski ia tahu, Sasuke mempunyai pesona yang sulit untuk ia tolak. Dia sungguh seksi. Ukh! Dengan dadanya yang kotak-kotak, dan ototnya yang wow itu, sangat sulit bagi Hinata untuk melewatkan bagian itu. Meski Hinata akui, ia lebih menyukai onyx kelam pria itu.

"Kurasa aku harus pulang, Sakura. Nanti aku akan menelponmu," ucap Hinata ketika ia merasakan getaran di saku celananya. Ia yakin itu Sasuke yang sedang menelpon.

"He? Kau sudah mau pulang? Bagaimana dengan ideku?"

"Aku akan memikirkannya."

.

.

.

Ketika Hinata sampai di apartemen Sasuke, ia melihat Sasuke yang tengah tertidur di sofa di depan televisi. Suara seorang wanita yang memberitahu bahwa sempat terjadi kecelakaan di daerah Kyoto menggema ke seluruh ruangan. Hinata mencari remot dan mematikan benda yang sedang menonton seorang pria yang tengah terlelap itu. Lalu ia membalikkan badan dan melihat sosok paman yang sebulan ini berhubungan dengannya—lebih tepatnya berhubungan ranjang dengannya. Garis tegas wajah Sasuke memudar ketika ia terlelap, namun bukan berarti pesonanya menghilang. Pesona itu tak akan pernah termakan oleh umur.

Tanpa Hinata sadari, ia tersenyum kecil.

"Aku bukan badut yang harus kau tertawakan Hinata."

Ah, si paman sudah bangun ternyata.

"Tadaima," ucap Hinata lalu mengecup bibir merah Sasuke.

"Kau lama." Hinata terkikik. Kelakuan lelaki ini mirip seorang kekasih yang kesal dengan pacarnya.

"Maaf, aku ada urusan sebentar dengan Sakura. Kau ingat, gadis berambut pink itu?"

Tentu saja ia ingat. Ia bahkan masih ingat wajah gadis itu saat pertama kali melihatnya.

"Hn."

Ssuke dengan jelas memperhatikan gerakan Hinata yang melepaskan jaket ungunya itu. Oh tidak, dia terlihat sangat menggoda sekarang. Ia bangkit lalu memeluk pinggang gadis belia itu. Hinata terkaget dengan tindakan Sasuke. Pria itu menyingkirkan rambut Hinata kesamping dan menciumi bahunya. Pelukan di pinggangnya juga terasa lebih kencang. Gadis itu diam saja dan menikmati sentuhan-sentuhan orang itu.

Tanpa menunggu waktu yang lama, pria itu menariknya dan membawanya ke sofa di belakang mereka. Hinata mengerang ketika bibir Sasuke menggigit lehernya. Sakit namun ia menyukainya. Pria itu juga mencoba untuk meraih pengait bra yang ada dibalik kaosnya. Ia mengusap-usap punggung Hinata sebelum melepas pengait bra gadis dibawahnya. Ia remas dada Hinata yang membuat gadis itu mendesah. Suaranya terdengar seksi dan menggoda. Sasuke menghentikan gerakan tangannya dan menatap Hinata. Ia lalu berbisik mesra, "kau mau di sofa ini atau di ranjang?"

Hinata tak menjawab pertanyaan Sasuke, sebaliknya, ia mencium lelaki itu. Sepertinya bercinta di sofa bukan hal yang buruk.

.

.

.

"Apa kau punya istri, Sasuke?" Hinata bertanya pada pria yang tidur di sebelahnya. Entah sejak kapan ia sudah berada di ranjang pria seksi ini.

"Apa aku terlihat seperti pria yang beristri?"

Aku berpikir bahwa kau tak layak mempunyai istri. Kasihan istrimu.

"Yah, di usiamu yang sudah matang ini, aku tak heran kalau kau mempunyai istri."

Saskue bangun dari ranjangnya dan mencoba mengubah posisinya untuk duduk. Lalu, ia mencari rokok dan pematik di meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia lalu menyalakan rokoknya.

"Kau mau?" tawarnya pada Hinata. Gadis itu mengambil rokok pemberian Sasuke dan mulai menghisapnya. Ia lalu mengikuti gerak Sasuke dan duduk di samping pria itu. Sasuke menghisap rokok menghembuskan napasnya yang bercampur dengan asap khas rokok itu dan menatap Hinata yang melakukan hal yang sama. Ia lalu mencium bibir gadis itu. Rasanya pahit.

"Apa kau mau menikah denganku, Hinata?"

.

.

.

Inspirasi tiba-tiba saja datang, dan akhirnya aku putuskan buat apdet cepet :D terima kasih untuk yang telah meninggalkan jejaknya di kolom review. Maaf belum bisa membalas satu persatu u.u

Berkenan meninggalkan jejak?

Bunga Teratai

02 Juni 2015