Naruto © Masashi Kishimoto

Give What You Like dipopulerkan Avril Lavigne

.

.

.

"Sudah kukatakan padamu, bukan? Kau yang tak pernah mendengarkanku, Hinata." Sakura berceramah—lagi. Ini sudah seperti hobi barunya, menceramahiku. Apa yang kukeluh kesahkan ketika aku bersama dengan Sasuke selalu saja dari mulutnya keluar sebuah komentaran. Aku hanya ingin mengeluarkan semua yang ada di kepalaku, aku tidak butuh kritik, penilaian, yang aku butuhkan hanya orang yang mendengarkanku dengan baik tanpa harus berkata-kata yang membuat hatiku terasa panas.

"Sakura-chan, bisa kau diam? Aku sedang tidak ingin mendengarkan ceramahanmu. Aku tegaskan lagi padamu," aku mengumpulkan napasku sebentar, "aku tidak akan menikahi Sasuke. Tidakkah kau berpikir jika aku sinting seandainya aku menikahi Sasuke? Aku pasti sudah kehilangan nalarku!" Aku meledak. Aku sudah cukup letih dengan situasiku dengan Sasuke, ditambah ceramahan dari Sakura membuatku meluapkan segala emosi yang tertimbun di hatinya.

"Oke. Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud untuk menceramahimu. Aku minta maaf. Kau mau kopi? Atau barangkali teh? Aku akan membuatkannya untukkmu. Barangkali dengan minum bisa membuatmu menjadi lebih tenang."

Aku menghela napasku, sedikit merasa berasa bersalah karena membentak Sakura. "Maafkan aku, Sakura-chan."

Sakura menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum dan berkata ia akan membuatkanku teh. Mungkin benar, secangkir teh akan membantuku untuk lebih tenang. Namun tetap saja aku tidak bisa menghilangkan pikiranku tentang lamaran Sasuke semalam. Ia tiba-tiba menjadi serius ... dan sejujurnya aku menjadi kurang nyaman. Aku takut.

Karena kupikir, Sasuke bukan tipe orang yang suka bercanda dengan hal-hal yang seperti itu. Aku beranggapan bahwa ia benar-benar serius melamarku meski pada akhirnya ia hanya bilang bercanda.

Ya, dia hanya bercanda.

.

.

.

"Apa kau mau menikah denganku, Hinata?"

Aku menatap sorot mata Sasuke yang menatapku dengan serius. Selama aku berhubungan dengan pria ini, belum pernah sekali aku melihat tatapan matanya yang langsung memandangku seperti ini.

"Sasuke-" aku kehilangan kata-kataku. Dipandang seperti ini oleh Sasuke membuatku tak bisa berpikir dengan jernih.

Pria yang pantas menjadi pamanku ini masih menatapku. Ia sepertinya masih menungguku untuk memberikan jawaban atas lamarannya.

Astaga! Apa ini sebuah lamaran? Ini pertama kalinya dalam hidupku seseorang melamarku. Pipiku memerah, jantungku berdegup dengan kencang, aku ingin berbicara namun lidahku kelu. Apa yang harus aku lakukan?

"Aku hanya bercanda, Hinata. Mengapa kau menjadi serius seperti itu? Matikan rokokmu. Kita tidur. Besok kau ada kuliah pagi, kan? Aku tak ingin kau terlambat."

Sasuke mengambil rokok yang masih terselip di tanganku. Sementara aku masih mematung dengan ucapannya yang baru saja ia lontarkan padaku. Ia sedang bercanda! Seharusnya aku tahu itu. Tapi entah mengapa rasanya menjadi sedikit menyakitkan. Seperti ada luka yang tersayat di dalam hatiku.

"Harusnya aku tahu kau akan berkata seperti itu, paman. Kau membuatku takut dengan candaanmu. Aku pikir kau serius dengan ucapanmu. Kau hampir membuatku terkena serangan jantung, tahu!" aku merengut sebal, namun tak ada respon yang diberikan oleh pria yang berbaring di sampingku ini. Alih-alih memberikanku sepatah dua patah kata, ia malah mengambil ponsel yang tergeletak di meja di samping ranjangku. Mengecek jikalau ada pesan yang masuk di ponselnya.

Sepertinya ada pesan penting. Sasuke terlihat serius memandangi ponsel pintarnya. Tak berselang lama ia bangkit dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali.

"Kau mau kemana, paman?" setelah membuatku dongkol dia malah mau pergi begitu saja, huh? Dasar brengsek!

Sasuke kembali mengacuhkanku. Ia terlalu fokus memakai pakaiannya yang tergeletak di lantai. Setelah memakai pakaian lengkapnya pun ia masih diam membisu hingga membuaku malas untuk meladeninya.

Aku menarik selimutku dan berniat untuk tidur. Aku mendengar suara pintu yang dibuka dan suara Sasuke untuk yang pertama kali sedari tadi.

"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan paman lagi, Hinata."

Dan blam! Suara pintu kamar yang ditutup paksa oleh om-om yang bernama Sasuke. Mengapa dia marah? Harusnya aku kan yang marah di sini.

.

.

.

Aku terbangun dari tidurku. Menguap sebentar sebelum mencari ponselku. Sudah berapa jam aku tertidur di apartemen Sakura? Lalu di mana Sakura? Sepertinya hanya ada aku di sini. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sini.

Aku terperanjat begitu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah tertidur selama lima jam ternyata. Memandangi apartemen Sakura yang sempit ini membuatku sedikit merasa nostalgia. Aku mungkin masih tinggal di sini jika Sasuke tidak memberikanku tempat tinggal di apartemen mewahnya.

Ngomong-ngomong soal Sasuke, tidak ada pesan masuk darinya. Bukan berarti aku mengharapkan pesan darinya. Hanya saja seharian ini aku tidak mendapatkan pesan darinya. Sejak kami tinggal bersama—kalau bisa disebut begitu—pria itu memang tak pernah memberiku pesan. Ah, sebelumnya kami juga tidak pernah berkirim pesan juga sih, kecuali jika Sasuke ingin bertemu denganku.

Ada apa sih dengan otakku ini?

Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Pulang? Ke apartemen Sasuke? Entah mengapa aku menjadi sedikit malas untuk pulang ke sana. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Sakura dan menanyakan keberadaannya yang lenyap dari apartemennya.

"Aku di tempat Naruto, sayang. Maaf meninggalkanmu sendirian."

"Tak masalah. Aku hanya bingung karena kau sudah tak ada di sini. Dan ... selamat bersenang-senang!" aku menutup teleponku.

Naruto adalah pria yang akhir-akhir ini berkencan dengan Sakura. Ia seksi, tentu saja. Mana mungkin Sakura mau dengan pria gendut dengan lemak yang tumbuh di mana-mana itu menggerayangi tubuh cantiknya. Ia butuh uang namun ia juga pilih-pilih dengan orang yang akan berkencan dengannya. Aku juga sama sih dengannya. Aku malas berhubungan dengan om-om gendut dengan lemak yang sama sekali tidak menarik meskipun kantongnya sangat tebal. Yang entah isinya lembaran uang atau lembaran kertas tagihan. Ya tak heran itu membuat kami sedikit mengalami kendala dalam keuangan kami.

Sepertinya aku harus pulang meski aku enggan. Aku membuka pintu apartemen bobrok Sakura dan hampir saja menjerit ketika melihat sosok pria berambut merah dengan tato ai berdiri di depan pintu. Senyum tipis tercetak di wajah tampannya.

"Gaara?"

"Kau free malam ini, Hinata?"

"Ya... dan bagaimana kau bisa tahu aku di sini?"

"Sakura yang memberitahuku."

Mengejutkan sekali pria berambut merah ini ada di apartemen Sakura. Gaara, pria berumur dua puluh tujuh tahun ini adalah salah satu dari pria yang pernah berkencan denganku.

Kebetulan sekali ia ada di sini. Aku bisa pergi ke luar, dan bukan pulang ke apartemen Sasuke.

"Ayo kita pergi dari sini, Gaara."

.

.

.

Tbc

.

.

.

Terima kasih untuk semua respon yang ditinggalkan. Maaf belum bisa membalasnya dan untuk update yang sangat lelet ini.