Chapter 3
~Chanyeol's POV~
Sudah 1 bulan aku berlatih sihir dengan ayahku. Dia menyuruhku untuk tidak memberitahu ibu dan kakak. Aku sekarang bisa menggerakkan beberapa benda, ya bisa mengangkatnya sesekali. Atau menguasai beberapa elemen. Selama itu, bayangan Baekhyun hanya datang sekali saat hujan. Sementara ini sudah memasuki akhir musim penghujan, dia hanya muncul sekali setelah kita bertemu waktu itu di sekolah.
Dia menceritakan banyak hal padaku tapi tidak pernah menyinggung masalahnya dengan keluarganya. Dia ceria seperti biasanya. Dia sangat manis. Aku membayangkan suatu saat aku bangun pagi dan melihatnya ada di sampingku, membicarakan hal-hal tentang kita berdua. Aku tak tahu bagaimana perasaannya kepadaku, yang aku tahu aku sangat menyukainya.
~Baekhyun's POV~
Aku menggesekkan kedua tanganku dan menggunakan jaket untuk mencari kehangatan. Aku menatap tangan kananku, membuka perban yang terpasang dan menggantinya dengan yang baru. tanganku terluka karena pria itu menyiramkan air panas ke arahku, aku melindungi mukaku agar tak terkena. Aku meringis kesakitan saat menyentuh bagian yang terluka. Aku sering berlatih sihir belakangan ini. Aku bisa mengirim bayanganku ke dimensi manusia, ya baru itu yang bisa ku lakukan.
Chanyeol pasti mengkhawatirkanku sekarang, karena sudah dua minggu ini aku tidak bertemu dengannya. Aku tersenyum mengingat wajahnya, tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Aku butuh tidur sekarang, jadi aku bisa sembuh lebih cepat. Saat aku mulai mengantuk aku dikagetkan oleh suara sesuatu yang dibanting. Aku mendengar dua orang bertengkar, ya, mereka orang tua angkatku. Lalu kemudian aku mendengar sesuatu pecah, ku rasa itu gelas atau piring. Aku memastikan kamarku sudah ku kunci. Aku mencoba mengabaikannya dan menutup telingaku dengan bantal.
Aku berbaring dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Menatap dinding yang kosong. Kamar ini sudah cukup gelap, hanya lampu tidur yang menjadi sumber cahaya. Aku terkejut bukan main saat ayah angkatku menggedor pintu kamarku dengan keras. Menyuruhku untuk membukanya. Tentu saja tidak akan ku buka.
"Heh! Dasar anak tak tau diuntung! Buka pintunya! Sialan!" teriaknya.
Aku menutup mataku dan air mata mengalir keluar. Aku memeluk surat terakhir dari Chanyeol dan terisak sampai aku tertidur.
Chanyeol...tolong aku...
~Chanyeol's POV~
Hari ini temanku mengajakku keluar untuk bertemu keluarganya. Buat apa dia mengajakku untuk bertemu keluarganya? Aneh sekali. Aku mengiyakan, dan sekarang kami dalam perjalanan.
"Mau kemana kita Sehun?" tanyaku. "Kita akan bertemu dengan keluargaku." Dia menjawab singkat dan fokus menyetir kembali. Kami menuju sebuah tempat karaoke.
"Hey! Kenapa kau mengajakku ke sini? Cepat antar aku pulang sekarang!" kataku,
"Tenanglah, kau akan menyukai mereka."
Tak berapa lama kami masuk dan bertemu dengan keluarga Sehun, ada Luhan, Kyungsoo, dan Jongin. Mereka adalah saudara Sehun. Keluarganya sangat menyenangkan, dan kami mengobrol sampai larut malam.
"Ayo Chanyeol, aku akan mengantarmu pulang. Orang tuamu pasti khawatir." Kata Sehun, dan aku mengangguk. Aku merasa agak pusing karena aku meminum beberapa gelas soju.
Tak berapa lama kami sampai di rumahku, aku keluar dari mobil dan berterimakasih pada Sehun. Setelah melihatnya pergi aku segera masuk ke rumah. saat aku membuka pintu aku merasakan kepalaku sakit sekali hingga aku terjatuh ke lantai. Samar samar aku melihat Baekhyun, dia meminta tolong padaku. Mukanya memar, pelipis dan bahunya berdarah, dia terbaring lemah di tanah. Tubuhnya gemetar.
"..ugh..Chan-yeol, t-tolong..ah.." katanya. Kemudian pandanganku menjadi gelap.
Saat aku terbangun aku sudah berada di dalam kamarku. Ayah, ibu dan kakakku juga di sana. Mereka terlihat sangat khawatir. "Ayah, tadi aku melihat Baekhyun." Kataku. Ayahku mengangguk paham dan menyuruh kakak dan ibuku untuk keluar.
"Di mana kau melihatnya? Hari ini kan tidak hujan Chanyeol." Tanyanya.
"Entahlah, dia seperti berada di suatu tempat yang gelap. Dia berlumuran darah. Ayah ayo kita menyeberang sekarang." Aku memohon padanya.
"Tidak Chanyeol, yang kau lihat itu kemungkinan masa depan. Mungkin peristiwa itu akan terjadi esok hari. Ku rasa dia baik-baik saja sekarang. Tenanglah.." katanya.
"Tidak ayah! Aku ingin bertemu dengannya sekarang!" aku meminta dengan nada memaksa. Aku ingin cepat-cepat menolong Baekhyun.
"Baiklah, kita akan menyeberang sekarang." Katanya.
"Tapi, bukankah kita hanya bisa menyeberang hanya jika hujan? Lagi pula jika kita pergi sekarang ibu akan khawatir" tanyaku
"Itu tidak berlaku pada guardian Chanyeol. Dan, kita bisa mengatur waktu. Kita bisa berada di sana selama 2 hari dan di sini hanya 2 menit saja. Jadi kalaupun kita harus pergi ke sana 5 hari, kita hanya menghilang dari sini selama 5 menit." Katanya dengan senyuman di bibirnya. Aku mengangguk paham. Dia kemudian berdiri, mengucapkan mantra lagi. Tiba-tiba muncul portal yang menghubungkan dua dimensi. Ayahku memintaku untuk berdiri dan mengikutinya.
Aku berjalan tepat di belakangnya. Saat aku melewati portal itu aku merasakan hawanya dingin sekali. Hanya 3 langkah saja kami berjalan, kami sudah masuk ke dimensi sihir. Dimensi itu jauh berbeda dengan yang ku kira. Suasananya begitu modern. Seperti kota milenium di masa depan. Tempatnya seperti stasiun, putih bersih. Banyak orang lalu lalang, menembus tembok. Wooaahhhhh! Aku terheran-heran. Aku masih mengikuti ayahku, penjaga portal di depan tadi mengangguk hormat padanya. Banyak orang yang berpapasan dengannya pun mengangguk hormat. Sebenarnya apa pekerjaan ayahku ini?
"Selamat datang ketua!" kata salah satu orang yang langsung berdiri tegap menyambut ayahku.
"Chanyeol, kau disini dulu. Sepertinya kau masih kagum bukan? Mintalah teman-temanmu untuk mengajakmu berkeliling. Ayah akan mengurus sesuatu sebentar." Katanya. Teman-temanku? Apa yang dia maksudkan?
"Hey! Chanyeol..!" kata seseorang dari arah belakang, sepertinya aku kenal suara itu. Saat aku menengok, ternyata Sehun.
"Ah! Sehun! Kau ada di sini.." kataku. Aku melihatnya bersama Luhan. "Jadi, apakah kalian juga guardian?" tanyaku.
"Tidak, aku guardian, dan Luhan adalah penyihir." Katanya menjelaskan. Dia juga menyebut bahwa Jongin dan Kyungsoo adalah pasangan seperti dia dan Luhan. "Penyihir dan Guardian adalah saling membutuhkan. Jadi setiap guardian pasti memiliki pasangan penyihir, mereka bekerja sama untuk melawan orang-orang yang berusaha menghancurkan kedua dimensi. Para penyihir memiliki kekuatan sejenis cakra yang bisa digunakan sebagai senjata, membuat duplikasi dirinya, menyamar dan masih banyak lagi. Sedangkan guardian memiliki kekuatan untuk mengontrol benda atau elemen dan menggunakan mantra-mantra dengan membuat suatu perjanjian. Jadi intinya, penyihir memiliki kekuatan alami, dan guardian dapat dilatih. Tanpa pasangan guardiannya para penyihir tidak bisa melewati portal dimensi. Setiap penyihir sudah ditakdirkan siapa yang akan menjadi guardiannya. Penyihir memiliki ciri guratan warna si disekitar matanya." Katanya lagi. Guratan warna? Ku rasa Baekhyun memilikinya, warnanya merah.
"Luhan memiliki warna biru muda di sekitar matanya, lihatlah. Setiap penyihir memiliki warna yang berbeda, sesuai dengan warna cakranya." Sehun berkata lagi, aku hanya mengagguk paham. Selang 30 menit aku melihat ayahku kembali bersama seorang laki-laki. Mereka berbincang-bincang, laki-laki itu berbicara sangat sopan dengan ayahku. Siapa dia?
"Chanyeol, kenalkan ini adalah mentri perlindungan penyihir. Dia adalah mentri yang bertanggung jawab untuk mengawasi setiap penyihir, jika penyihir itu terancam nyawanya dia akan segera menolong atau memberitahu pasangan guardiannya." Kata ayahku.
"Tapi ayah, bukankah Baekhyun selalu dianiaya? Apakah tidak ada yang bisa membantunya?" tanyaku
"Tidak, selama nyawanya tidak terancam kami tidak bisa melakukan apapun. Hanya guardiannya yang bisa membantunya." Kata mentri itu. Siapa sebenarnya guardian Baekhyun? Kenapa dia tidak menolongnya?
"Ayah, tentang penglihatanku itu bagaimana?" tanyaku.
"Untuk itu, ayo kita segera ke tempat orang tua angkat Baekhyun. Tapi rumahnya ternyata sangat jauh, membutuhkan waktu satu hari untuk bisa sampai ke sana, itupun menggunakan kereta cepat." Katanya. Apa? Tapi kejadian yang aku lihat akan terjadi besok. Aku meninta pada ayahku untuk segera berangkat. Kami pun segera naik kereta menuju rumah Baekhyun, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
~To be continue~
