Chapter 4
Hari berikutnya.
~Baekhyun POV~
Hari ini aku merasa lelah sekali, mereka menyuruhku untuk mengepel dan mencuci pakaian sebelum aku berangkat sekolah. Karena itu aku selalu terlambat. Aku menaruh tasku di atas tempat tidur.
"Baekhyun! Kemarilah, cuci semua piring ini!" kata wanita itu, atau disebut juga ibu angkatku. Wanita ini adalah penyihir sama sepertiku, dan suaminya. Dia adalah guardian. Tapi ku rasa dia itu sangat bodoh. Aku sangat tidak menyukainya, orang tua angkatku itu selalu memperlakukanku seperti pembantu.
Aku segera datang dan mengerjakan apa yang dia -tiba ayah angkatku datang dan memukuliku.
"Heh! Anak tak tahu diuntung, apa yang kau katakan pada teman-temanmu hah? Aku dipanggil oleh wali kelasmu hari ini." Katanya
"A-aku tidak mengatakan apapun pada mereka."
Saat dia mau berbicara, tiba-tiba jendela kaca sebelahku pecah. Aku segera menunduk, dan benda-benda di atas rak pecah terkena tembakan cakra yang beruntun. Apa yang terjadi? Aku melihat ayah angkatku itu pergi bersama istrinya. Dasar sialan! Mereka membiarkanku disini.
Aku takut sekali, aku hanya bisa menunduk. Aku mendengar ada yang masuk paksa lewat pintu belakang dan depan. Mereka melempar gas tidur. Sial! Rumah ini penuh dengan asap sekarang, aku tidak boleh menghirupnya. Aku menahan nafasku, aku merasa pusing, ah SIAL! Aku terlambat menutup hidungku, aku ingin berlari tapi kakiku terasa lemas. Aku ingin melawan, tapi tidak ada gunanya. Aku merasa kepalaku semakin pening, pandanganku kabur, dan aku pingsan.
~Chanyeol's POV~
Aku hampir sampai di rumah Baekhyun. Saat kami sampai di halaman depan, rumah itu sudah hancur. Apa? Apa yang terjadi, aku ingin berlari masuk. Tapi ayah mencegahku.
"Tunggu Chanyeol, kita tidak tahu apa masih ada musuh di sana." Katanya.
"Musuh? Siapa?"
"Orang-orang yang menculik para penyihir dan memanfaatkan mereka." Kata ayahku dan menghentakkan kakinya ke tanah, seketika itu kayu-kayu beterbangan dan tertata rapi di samping rumah. Bangunan itu sekarang tidak ada, tinggal pondasi dan perabotan, tanpa ada tembok. Tidak ada orang di dalam rumah itu. kemana mereka?
"Ku rasa mereka belum jauh." Kata ayahku dan dia berlari ke arah hutan. Aku berlari mengikutinya. Tak berapa lama kami berlari, akhirnya kami bisa mengejar para penjahat itu. Aku melihat Baekhyun dibawa oleh salah satu dari mereka, dia tidak sadarkan diri. "Baekhyun!" aku berteriak.
Ayahku mengucapkan mantra dan menggerakkan tangannya, dia membuat tanah di depan para penjahat itu terangkat menjadi dinding. Mereka mulai membalas dengan mengarahkan tembakan senjata cakra ke arah kami. Aku menghindar sebisa mungkin. Aku berkelahi dengan beberapa dari mereka. Mereka adalah penyihir. Bola-bola cakra dilempar ke arahku. Aku menggunakan tanah untuk berlindung. Aku mendorong tanah itu hingga menghimpit mereka. Aku menarik air dari dalam tanah, menyemprotkannya ke arah mereka dan membekukannya hingga mereka tidak bisa bergerak.
Ayahku, dia berhasih menangani 7 dari 10 orang. Ya yang 3 orang sudah ku tangani. Ayahku memang hebat. Aku kembali teringat pada Baekhyun.
"Chanyeol, ku rasa tinggal satu orang lagi, dia yang membawa Baekhyun. Dia sudah kabur duluan. Bisakah kau mengejarnya? Aku akan memanggil guardian yang lain." Katanya.
Aku mengguk dan segera berlari mengejar mereka, hari sudah mulai gelap. Aku mengeluarkan api dari tanganku untuk menerangi jalan. Baekhyun, tunggu aku. Aku akan menolongmu.
~Baekhyun POV~
Aku merasa aku sedang bergerak, ku rasa ada yang menggendongku. Saat aku tersadar, orang itu berhenti berlari. Aku merasakan tubuhku terpelanting ke tanah. Kepalaku sakit, terantuk batu. Ah! Sial, sakit sekali aku merasakan darah mengalir keluar. Dia kemudian menghajarku habis-habisan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, asap yang ku hirup tadi bukan hanya membuatku tertidur, tapi melemahkan anggota gerakku. Belum pulih sepenuhnya.
Aku mencoba berdiri dan dia mengeluarkan cakra, siap untuk menyerangku. Apa laki-laki ini berniat membunuhku? Aku merasa tubuhku lemas, dia menyerangku dengan bola cakranya. Cakra itu tepat mengenai bahu kananku,tembus hingga ke belakang. UGGHHHHH! Darah segar mengalir keluar, aku tersungkur ke tanah. Tubuhku gemetar karena sakitnya. Apa yang harus ku lakukan, efek asap tadi belum hilang.
Samar samar aku melihat cahaya. Ku rasa itu api, semakin mendekat. Aku bisa melihat Chanyeol berlari ke arahku membawa api itu. Chanyeol?
"..ugh..Chan-yeol, t-tolong..ah.." kataku agak berteriak. Aku merasa lelaki jahat ini mengeluarkan cakranya lagi, dia ingin menyerangku untuk kedua kalinya. SIAL! Aku tidak bisa bergerak sama sekali.
~To be continue~
