Chapter 6
Tiga minggu setelah kejadian itu.
Baekhyun's POV
Pagi ini sebelum berangkat sekolah aku mengganti perban di bahu kananku. Lukanya masih belum sembuh, mungkin karena terlalu dalam. Perlahan aku membuka perbannya, yah, aku sudah biasa mengganti perbanku sendiri. Syukurlah lukanya tidak infeksi, aku mengambil NaCl untuk membersihkan lukaku, menutupnya dengan modern dressing yang dibelikan Kyungsoo kemarin. Modern dressing lebih praktis dan mudah untuk dilakukan, selain itu penyembuhan lukanya pun bisa lebih cepat.
"Baekhyun!" Aku terkejut mendengar ibu angkatku memanggil. "Kenapa kau belum membuat sarapan?" katanya. Aku segera menutup dressingnya dengan perban dan pergi ke dapur. Kembali tinggal bersama kedua orang ini memang menyebalkan. Mereka masih memperlakukanku seperti pembantu, bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun saat meninggalkanku sendirian waktu itu. Aku mengambil tiga buah telur, dan memanaskan panci. Sambil menunggu pancinya panas, aku memasukkan 6 buah roti ke dalam panggangan. Aku membuat telur mata sapi dan roti panggang, itu yang paling mudah dan tidak makan waktu lama. Karena aku juga harus pergi ke sekolah.
Aku melihat Ibu angkatku keluar dari kamar bersama suaminya yang mau berangkat kerja. Lelaki itu bekerja di unit keamanan tingkat 1 (setara kecamatan). Mereka berjalan kesini.
"Kau! Tidak dapat jatah sarapan pagi ini!" Kata wanita itu. "T-tapi kenapa?" tanyaku, ini tidak adil.
"Karena kau telat membuat sarapan." Katanya dan menempeleng kepalaku. Dia menghadap suaminya dan berkata "Lebih baik ini kau bawa sayang, untuk bekalmu hari ini.." dia berkata dengan nada manja, menjijikkan!
"Tapi aku tadi mengganti perbanku dulu." Kataku protes.
"Kenapa kau tidak bangun lebih pagi? Huh! Dasar anak malas." Katanya dengan ekspresi muka yang ingin sekali ku pukul. "Jangan membuat alasan lagi, sekarang kau pergi sekolah sana! Biar otakmu itu bisa digunakan!" imbuhnya. Aku tidak ingin berdebat dengannya, toh aku akan kalah. Aku pergi ke kamar mengambil tas dan sepatu, kemudian pergi.
Sekarang kami tinggal di apartemen, karena rumah yang sebelumnya sudah hancur. Saat aku menuruni tangga, aku melihat ada seorang pemuda, dia tinggi. Sepertinya dia guardian. Kemudian dia melihat ke arahku, tatapannya dingin sekali. Aku merasa kurang nyaman karena diperhatikan, dan aku buru-buru pergi.
Sesampainya di sekolah.
"Baekhyun! Tunggu!" Teriak Kyungsoo. Dia sangat baik padaku, terkadang dia membelikanku makanan, atau membantu saat aku part time. Entah kenapa dia selalu ada saat aku membutuhkannya.
"Apa kau sudah makan Baek? Hari ini aku membawa dua bekal." Katanya, dia memang senang memasak. Apa lagi untuk guardiannya itu (Jongin). "Apa kau mau roti?" tanyanya lagi.
"Tentu, pagi ini aku tidak sempat sarapan." Kataku. Raut mukanya tiba-tiba berubah "Apa orang tuamu itu tidak mengijinkanmu makan lagi?" Dia sangat menyeramkan kalau marah.
"..eh..t-tidak, aku bangun kesiangan. Jadi ga sempat makan." Kataku cengengesan. Dia mengerutkan alisnya dan melihat cermat ke wajahku. "A-Apa yang kau lihat.." Aku merasa canggung dilihat seperti itu.
"emmmm...baiklah aku percaya padamu." Katanya dan memberikan roti padaku. "Tapi kau harus cerita padaku kalau mereka memperlakukanmu dengan tidak baik lagi." Imbuhnya. Aku hanya mengangguk.
Kami masuk ke ruang kelas tepat saat bel berbunyi. Suasananya sangat riuh sekali, lelaki ada yang duduk di atas meja, para wanita berkerumun asik membicarakan sesuatu. Aku dan Kyungsoo segera menuju tempat duduk kami. Tak berapa lama guru Lau masuk dan membagikan hasil ulangan kemarin. Seperti yang ku duga, nilaiku tidak memuaskan. Aku tidak seperti Chanyeol, dia selalu mendapat nilai yang terbaik di sekolahnya. Yeollie...aku rindu padanya.
Sepulang sekolah aku pergi untuk melihat tempat part timeku yang baru. Lokasinya tidak begitu jauh dari apartemen. Itu adalah sebuah cafe yang sangat nyaman, kursi dan mejanya terbuat dari kayu, dindingnya tanpa diplester ( . /cms/ec/dd/87/1c/35578/ecdd871c35578_600x450_fillbg_ ).
"Hai, kau pasti Baekhyun kan?" tanya seorang pegawai disana, aku mengiyakan. Di baju seragamnya tertera sebuah nama "Taeyeon". Sepertinya dia seorang penyihir, ada semburat hijau disekitar matanya. "Ikutlah, aku akan menunjukkan tempat ini." Katanya lagi.
Dia kemudian menunjukkan ruangan-ruangan yang ada dan bagaimana pekerjaan yang akan aku lakukan. Aku mulai bekerja besok, pukul 3 sore sampai 9 malam, hanya 6 jam namanya juga part time. Yang kukerjakan cukup mudah, hanya mencatat pesanan, mengantarnya, dan membersihkan. Hari ini aku berlatih dan membantu pekerjaan pegawai yang lain.
Sesampainya aku di depan apartemen sudah pukul setengah 10 malam. Saat aku menaiki tangga, pemuda tadi pagi, turun dan berpapasan denganku. Aku merasa takut untuk menatap matanya dan buru-buru masuk. Ku rasa ibu dan ayah angkatku sudah tidur. Rasanya lelah sekali, tapi aku harus mengganti perbanku dahulu.
Hari berikutnya.
Baekhyun's POV
Ini adalah hari pertamaku bekerja, cukup mudah karena pegawai yang lain bersedia membimbingku. Kami sudah tutup, dan menghitung pendapatan hari ini.
"Jadi, Baekhyun, arah pulang kita searahkan? Kita bisa pulang bersama." Kata salah seorang pegawai laki-laki yang kurasa dia guardian, namanya Jong Daemin. Aku mengangguk, itu lebih baik dari pada aku pulang sendiri.
Author's POV
Dua minggu lagi telah berlalu, luka di bahu kanan Baekhyun sudah sembuh. Dia juga merasa senang bekerja di cafe itu. Dia selalu pulang bersama Daemin. Bagi Baekhyun Daemin adalah orang yang baik. Terkadang, Kyungsoo datang ke cafenya untuk membantu atau sekedar berkumpul mengerjakan tugas bersama Baekhyun.
Chanyeol's POV
Hari ini weekend dan aku akan mengunjungi Baekhyun. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Ayahku membelikanku apartemen di dimensi sihir, sehingga aku bisa menginap disana. Tidak jauh dari apartemen Baekhyun sekarang. Segera aku menyeberang ke dimensi sihir, aku sudah janji pada Baekhyun untuk menemuinya di cafe tempatnya bekerja. Tentu saja kami masih surat-suratan.
Aku melihat Baekhyun sedang bekerja. Terkadang aku tak tega dia melakukan itu. Tubuhnya mungil, dia terlihat rapuh. Aku benar-benar ingin melindunginya. My precious little one. Aku menemuinya dan menunggunya selesai bekerja. Kami akan menginap di apartemenku.
Aku melihat ada seorang laki-laki yang terlihat mencurigakan, dia adalah guardian. Tapi entah mengapa aku tidak menyukainya. Baekhyun sering menyebutnya, Daemin, dia suka pulang bersama Baekhyun. Senyumnya itu tidak menyenangkan bagiku.
"Kau sudah selesai Baek? Mau pulang sekarang?" Tanyaku. Dia merangkul tanganku "Ayo pulang..." dia selalu terlihat ceria. Aku merasa pipiku memerah.
"Kau pasti Chanyeol kan? Putra dari Tuan Park?" tanya Daemin. Aku mengangguk tak ingin menanggapinya. "Aku Jong Daemin." Katanya sambil mengulurkan tangan. Aku menatapnya dingin. Ku rasa dia paham dan menarik tangannya lagi.
Author's POV
Baekhyun dan Daenim asik mengobrol berdua, Chanyeol di belakang hanya memperhatikan.
"Ah, aku belok ke sini. Sampai besok Baekhyun, Chanyeol." Kata Daenim dan mau memeluk Baekhyun, Chanyeol hanya menatapnya seolah mengatakan 'kalau kau lakukan kau akan mati'. Daenim menangkap pesan itu dan mengurungkan niatnya untuk memeluk Baekhyun.
"Daa..." Katanya dan pergi.
Nah, disini author mau cerita. Jadi Chanyeol adalah keturunan Park yang notabene adalah keturunan guardian terkuat. Jadi tidak heran kalau guardian yang lain menghormati mereka. Kalau diibaratkan Park adalah klan penguasa, dan kekuasaannya itu diturunkan ke anaknya. Bukan klan banyak seperti yang lain, tapi hanya satu. Keturunan Park memang cerdas, tidak heran Chanyeol bisa menjadi yang terbaik di sekolahnya.
Mereka pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan sebelum pulang. Saat Baekhyun melepas sepatunya dengan kaki (dengan menginjak ujung belakang sepatunya) tak sengaja dia tersandung.
"Ya!" teriak Chanyeol dan menahan Baekhyun supaya tidak jatuh.
"Jangan pernah melepas sepatu menggunakan kaki lagi!" katanya dan mendudukkannya di kursi. Chanyeol berjongkok melepas sepatu Baekhyun perlahan. Wajah Baekhyun memerah, dia tidak pernah diperlakukan seperti itu. Setelah selesai melepas sepatu Baekhyun, dia mendongak ke atas. Mereka saling bertatapan. Chanyeol tidak dapat menahan dirinya, dia megecup bibir peach Baekhyun.
Baekhyun terkejut, mata sipitnya melebar, pipinya semakin merah. Chanyeol tidak pernah mengira semua ini akan terjadi padanya. Baekhyun menutup matanya dan tak sengaja membuka mulutnya, membiarkan lidah Chanyeol masuk. Chanyeol membuka matanya, dia menatap dekat pipi merah Baekhyun yang terlihat mengagumkan saat mereka berciuman.
Chanyeol akhirnya tahu bagaimana rasanya memiliki pasangan. Ingin tahu lebih jauh mengenai Baekhyun. Siapa yang berhubungan dengannya selama ini, atau siapa yang dekat dengannya.
Baekhyun membuka matanya, dia melihat Chanyeol yang menatapnya penuh tantangan. Dia merasa malu dan ingin tersenyum, tapi mulutnya sedang digunakan sekarang...wkwk. Dia mencium Chanyeo balik dan melingkarkan lengannya di tengkuk Chanyeol. Membuat suasana menjadi lebih intim.
Baekhyun tidak tahu kenapa dia mencium Chanyeol dan menjadi sedikit bernafsu. Mungkin karena dia melihat tantangan di mata Chanyeol. Ciuman itu menjadi semakin basah, air liur mengalir dari mulut mereka. Chanyeol meraba paha dalam Baekhyun. Hal itu menghentikan ciumnannya. Baekhyun menghentikan Chanyeol dan mengusap air liur di sekitar mulutnya. Mereka berdua terengah-engah.
"He-hentikan..ku rasa ini terlalu jauh Yeollie." Katanya. Cahnyeol mengangguk setuju, dia ingin memukul dirinya sendiri karena telah melakukannya. Dia kemudian mengusap air liurnya dan melihat ke arah Baekhyun yang masih mengatur nafasnya.
"Baekhyun.." Chanyeol memanggilnya, dan Baekhyun melihat ke arahnya. Chanyeol tersenyum dan pipinya memerah, malu dengan apa yang akan dia tanyakan sekarang. "Kau menciumku balik.." Tanya Chanyeol dan menatap mata Baekhyun. "Apa itu artinya kau menyukaiku?"
~To be continue~
