Chapter 7

"Baekhyun.." Chanyeol memanggilnya, dan Baekhyun melihat ke arahnya. Chanyeol tersenyum dan pipinya memerah, malu dengan apa yang akan dia tanyakan sekarang. "Kau menciumku balik.." Tanya Chanyeol dan menatap mata Baekhyun. "Apa itu artinya kau menyukaiku?"

Suasana menjadi hening setelah Chanyeol bertanya seperti itu. Baekhyun menatap ke arah Chanyeol, sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Memang mereka berciuman, tapi apakah ada rasa saling suka diantara mereka? Namun, Baekhyun harus mengakui kalau dia memang menikmati ciuman itu.

"Aku..." Baekhyun memalingkan pandangannya dari Chanyeol dan wajahnya terlihat memerah. Dia berpikir untuk beberapa saat, membuat Chanyeol menjadi penasaran.

"Tidak tahu.." dengan jujur Baekhyun menjawab. Ciuman itu cukup mengejutkan untuknya, untuk sekarang lebih baik mereka tetap menjadi teman.

Chanyeol berdiri dan duduk di ruang tamu. Dia tidak banyak berharap Baekhyun akan mengatakan "iya" karena mereka berdua adalah laki-laki.

Mereka berdua duduk dalam diam selama beberapa saat. Sampai akhirnya Baekhyun memutuskan untuk mandi. "Aku akan mandi duluan." Kemudian Baekhyun berdiri menuju kamar mandi, Chanyeol hanya menatapnya.

"Apa kau bawa baju ganti Baek?" pertanyaan Chanyeol itu membuatnya tersadar. "Huft...kau boleh pakai punyaku. Pilihlah sesukamu di dalam lemari itu." kata Chanyeol dan menunjuk sebuah lemari yang tidak terlalu besar.

"Tenanglah, semua yang di sana masih baru, tapi mungkin ukurannya kebesaran untukmu." Imbuh Chanyeol. Baekhyun mengangguk, dia membuka almari dan mengambil kaos berwarna gelap, celana pendek, dan celana dalam. Kemudian dia segera masuk ke kamar mandi.

Chanyeol mendengar shower dinyalakan. Dia merasa ingin mandi bersama Baekhyun. Dia tersadar dan menepis jauh-jauh keinginan itu. Karena merasa bosan Chanyeol hanya tiduran di sofa dan membaca majalah, penyihir di sini cantik-cantik, pikirnya setelah melihat sebuah iklan baju di majalah tersebut yang menggunakan model beberapa orang penyihir wanita. Kebanyakan penyihir adalah perempuan, hanya ada beberapa laki-laki. Walaupun laki-laki, tapi mereka cantik-cantik seperti halnya Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan.

Saat Baekhyun keluar dari kamar mandi, dia melihat Chanyeol berbaring di sofa dan membaca majalah. Chanyeol tidak melihat ke arah Baekhyun, dia masih sibuk melihat-lihat majalah. Karena merasa tidak diperhatikan kemudian dia bertanya.

"Apa kau mau mandi sekarang?" tanyanya. Kemudian Chanyeol melihat ke arahnya, tapi dengan cepat Chanyeol memalingkan wajahnya. Baekhyun yang menyadari hal itu langsung bertanya.

"Ada apa denganmu Yeolie?" tapi Chanyeol tidak menjawabnya. Dia tetap memalingkan pandangannya dari Baekhyun, mengambil baju, dan kemudian masuk ke kamar mandi.

Di dalam kamar mandi Chanyeol menggumam pelan. "Kenapa dia terlihat imut sekali dengan pakaian yang kebesaran seperti itu, jika aku melihat lebih lama entah apa yang akan terjadi." Kemudian dia menyalakan kran.

"Kenapa dia seperti itu, apa penampilanku aneh?" gumam Baekhyun dan melihat penampilannya. Dia merasa tidak ada yang aneh, tapi kenapa Chanyeol bersikap seperti itu, pikirnya. Kemudian Baekhyun membaringkan dirinya di sofa. Dia merasa penat dan bosan karena dari kemarin dia sekolah kemudian part time.

Baru dua menit berlalu dan Baekhyun merasa itu sudah lama, dia melihat ke arah dapur yang terletak di sebelah kanan ruang tamu, dan kamar mandi berada di sebelahnya. Dan dua buah kamar tidur di sebelah kiri ruang tamu. Baekhyun bangun dan pergi ke dapur melihat apa yang mereka beli di supermarket tadi. Dia membuka tas belanjaannya, mereka tadi membeli melon kuning.

Kemudian dia mengeluarkan melon itu dan sebuah pisau. Tiba-tiba dia memiliki sebuah ide. 'Haruskah ku lakukan?' tanyanya dalam hati. 'Tentu saja harus..kkkkkkkk'. Baekhyun mengambil tas belanjaan tadi dan mengeluarkan bawang merah dan saus tomat. Dia menaruh barang-barang itu di atas meja dan berpikir sejenak. Dia akan mengetes seberapa besar Chanyeol peduli padanya. Tapi mungkin Chanyeol akan marah kalau dia membuat lelucon padanya.

Baekhyun mengiris melon tersebut menjadi dua, kemudian membagi setengah bagian tadi menjadi empat. Baekhyun menelan air liurnya saat melihat melon itu, 'pasti ini enak sekali' dia terkikik dengan lelucon yang akan dia lakukan.

Dengan cepat dia mengiris bawang merah dan mendekatkannya ke matanya. Air matanya mengalir karena bawang merah itu. Kemudian dia mulai menangis diam-diam. Selanjutnya adalah saus tomat. Baekhyun menuangkan sedikit saus tomat ke piring, mengencerkannya dengan air, dan mengubah warnanya sedikit menjadi merah seperti darah segar. Ingat, Baekhyun adalah penyihir, kkkkkkkkkkk.

Dia mengoleskannya ke jari telunjuk kirinya, ke mata pisau, dan sedikit ke salah satu potongan melon tadi. 'Oke, sudah siap' kata Baekhyun dalam hati dengan air mata masih mengalir akibat dari bawang merah tadi. Kemudian dia menyembunyikan saus tomat dan darah palsu yang masih tersisa di piring tadi. Dia mendekatkan bawang merah lagi ke matanya untuk membuat air matanya keluar lebih banyak dan kemudian membuangnya. Rasa bosan membuatnya memiliki ide ini.

Baekhyun menarik nafas panjang dan melihat ke arah meja, dimana ada melon dan darah palsu tadi. Darah palsu tadi kelihatan seperti asli, yah, setidaknya kelihatan asli untuk Baekhyun. Kemudian dia menjatuhkan pisau agar terdengar suara sesuatu yang jatuh darah palsu tadi menyiprat karena Baekhyun mengoleskan agak banyak ke pisaunya. Tiba-tiba dia tak sengaja terpeleset oleh darah palsu tadi dan terjatuh ke lantai.

Baekhyun mengumpat dalam hati, tapi ini membuat situasinya terlihat lebih nyata. Tanpa buang waktu dia berteriak dan mengerang kesakitan sambil memegangi tangannya yang diolesi darah palsu tadi. Kemudian dia menangis lebih keras.

Baekhyun adalah aktor yang hebat bukan?

Saat Baekhyun menangis, dia mendengar keran dimatikan dan pintu kamar mandi terbuka. Baekhyun menutup mata dan membuat wajahnya terlihat tegang, mendekatkan kedua tangannya ke dadanya yang membuatnya terlihat begitu kesakitan.

Saat Chanyeol mendengar teriakan, dia cepat cepat mematikan kran, mengenakan handuk putih panjang, kemudian keluar dari kamar mandi.

"Baekhyu-" Chanyeol merasa jantungnya melompat ke tenggorokan saat dia melihat darah di pisau dan jari tangan Baekhyun. "Sial!" Chanyeol buru-buru mendekati Baekhyun dan berlutut sejajar dengan Baekhyun yang terjatuh di lantai. Baekhyun menangis (karena bawang merah tadi, tapi Chanyeol tidak tahu) sambil memegang tangan kirinya.

"Baekhyun, tunjukkan jarimu yang terluka!" Kata Chanyeol panik, tangan kanannya mengelus punggung Baekhyun untuk membuatnya lebih tenang dan tangan kirinya mengusap air mata Baekhyun.

Baekhyun menatap Chanyeol yang terlihat sangat khawatir dan takut, dia langsung merasa bersalah. 'Sial, kenapa kebosanan selalu memberiku ide yang buruk' pikirnya.

"Chanyeolie...aku baik-baik saja, aku-"

"Apa? Baik-baik saja kau bilang?" Kata Chanyeol sedikit berteriak. "Kau menangis dan ada banyak darah di jarimu, kau masih bilang kau baik-baik saja?" Chanyeol terlihat semakin panik. Baekhyun berpikir betapa ini terlihat nyata untuk Chanyeol.

"Aku akan menelfon ambulance sekarang, tenanglah sebentar." Kata Chanyeol dan mengambil handphonenya. Baekhyun panik dan tak sengaja menyentuh jari tangannya yang "terluka" untuk menghentikan Chanyeol.

"Ini tipuan, tipuan Chanyeol! Aku tidak butuh ambulance!" Baekhyun berteriak ke arah Cahnyeol. Dia langsung melihat ke arah Baekhyun.

Suasana menjadi hening. Selama beberapa saat mereka hanya saling pandang.

"Tipuan?..." Chanyeol mengulanginya pelan. Kemudian dia memegang tangan kiri Baekhyun yang terluka hanya untuk melihat apa itu memang tipuan. Chanyeol mencium bau saus tomat.

"Ini tipuan! Sampai kapan aku harus mengulanginya." Kata Baekhyun dan melepaskan tangan Chanyeol.

"Tipuan..." Chanyeol mengumpat dan membalikkan badannya. "Arrgggghh..Tipuan sialan!" Chanyeol mengumpat lebih keras.

Chanyeol melihat Baekhyun mengelap darah palsu itu dengan tisu yang ada di atas meja. Chanyeol tidak pernah suka dengan tipuan, dia selalu menganggapnya serius. Chanyeol tahu, jika yang ditipu Baekhyun adalah orang lain, mereka akan langsung terawa.

Baekhyun melihat ke arah Chanyeol dengan rasa bersalah. "Maafkan aku Yeollie, aku hanya merasa bosan." Katanya dan mendekati Chanyeol yang masih mengenakan handuk. "Jangan pernah lakukan itu lagi!" Kata Chanyeol yang kemudian masuk ke kamar mandi lagi untuk mengenakan pakaian. 'Dia terdengar marah sekali ' pikir Baekhyun.

Baekhyun mengiris melon tadi menjadi potongan yang lebih kecil, menaruhnya dalam mangkuk, dan menyuguhkannya pada Chanyeol yang duduk sambil membaca majalah di ruang tamu.

"Apa kau masih marah?" tanya Baekhyun. Chanyeol melirik ke arahnya. "Apa aku terlihat marah?" Chanyeol balik bertanya. Baekhyun mengangguk. "Tidurlah sana! Ini sudah larut malam." Kata Chanyeol dan melihat ke arah jam dinding. Benar, ini memang sudah setegah dua belas malam.

"Jangan marah lagi ya Yeolie.." kata Baekhyun, dia benar-benar merada bersalah.

"Tidak, aku tidak marah. Tapi jangan pernah lakukan itu lagi." Kata Chanyeol sambil mengusap rambut Baekhyun. "Istirahatlah Baek, kau pasti sudah lelah." Imbuhnya.

Wajah Baekhyun kembali ceria. "Tidak, aku mau makan melon ini dulu. Aku sudah menginginkannya dari tadi." Katanya dan menusuk potongan melon dengan garpu dan memakannya. Chanyeol hanya menatapnya, terkadang dia kagum dengan Baekhyun yang selalu ceria walaupun dia tidak dalam keadaan yang baik. Itulah mengapa Chanyeol tadi sempat salah tafsir ketika Baekhyun mengatakan kalau dia baik-baik saja.

~To be continue~