Chapter 8

Author's POV

Pagi harinya, Chanyeol terbangun karena sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela apartemennya. Dia mengusap matanya, sepertinya dia tidur terlalu larut. Saat dia keluar kamar dia melihat Baekhyun masih tertidur di ruang tamu dengan kepala di atas meja . 'Kenapa Baek tidak masuk ke kamar?' pikirnya.

"Baek.." katanya dengan mengusap bahu Baekhyun untuk membangunkannya. Baekhyun yang terkejut spontan berdiri. "Ah! Maaf aku tertidur ibu." katanya masih belum sadar sepenuhnya. Dia mengira ibu angkatnya yang membangunkannya. Saat dia benar-benar bangun, Chanyeol memandanginya dengan tatapan heran.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa langsung berdiri seperti itu?" tanya Chanyeol.

"Hehe..aku tadi bermimpi. Maaf Yeolie.." katanya cengengesan. "Apa kau lapar? Huh? Aku akan masakkan sesuatu untukmu." Imbuhnya seolah ia tidak ingin Chanyeol membahas tindakan yang dia lakukan barusan dan langsung pergi ke dapur. Itu adalah kebiasaan, saat Baekhyun tertidur karena lelah melakukan pekerjaan rumah, ibu angkatnya langsung memarahinya.

"Baek.." Baekhyun hampir melompat ke atap karena Chanyeol tiba-tiba menepuk pundaknya. "Hemmm?" Baekhyun menoleh.

"Jangan lupa cuci tangan dan mukamu dulu sebelum memasak." Kata Chanyeol. "Oh! Tentu saja ahahah..hahah..hah..ha." Baekhyun tertawa garing dan perlahan mulai pelan karena Chanyeol tidak ikut tertawa bersamanya. Dia segera melanjutkan langkahnya ke dapur, Chanyeol masuk lagi ke kamar.

"Aku akan keluar, ada urusan sebentar, kau baik-baik ya..jangan bakar apartemen ini." Kata Chanyeol mengusap kepala Baekhyun untuk menggodanya. Sebelum Baekhyun sempat menjawab, Chanyeol buru-buru pergi.

Baekhyun's POV

Hari sudah mulai gelap, tapi dimana Chanyeol? Katanya hanya pergi sebentar. Makanan yang kubuat tadi pagi benar-benar sudah dingin. Aku pikir kita akan bermain seharian, tapi dia malah pergi. Tiduran di sofa dan nonton televisi seharian membuatku bosan.

Aku melihat ada pesan masuk, dari Daemin. Dia mengajakku untuk pergi main malam ini. Tentu saja aku menyanggupinya dan segera ganti baju. Aku mengambil mantel kemudian pergi. Daemin sudah menungguku di bawah. Bagaimana dia bisa tahu apartemen Chanyeol? Apa aku yang memberitahunya?

"Hai Daemin, apa kau sudah lama menungguku?" tanyaku saat melihat sosok pria itu.

"Ah, belum Baek, aku disini saat aku mengajakmu tadi. Jadi mau kemana kita?" katanya.

"A-"

"Kita ketaman yuk." Katanya, dia crewet sekali, tapi aku setuju dengannya. Kami akhirnya berjalan menuju taman. Di perjalanan dia berbicara banyak hal. Dia lebih energik dariku, hiperaktif lebih tepatnya.

Sesampainya di taman dia langsung bermain ayunan. Kami berdua terlihat seperti anak kecil, tapi aku menikmatinya. Dia mendorong ayunanku, cepat sekali.

"D-daemin, hentikan! Hentikan! Ini tinggi sekali..ahahahahah." Aku takut, tapi ini seru. Cukup lama kami bermain, hingga lelah.

"Baek, apa kau haus?" tanyanya, aku mengangguk. "Baiklah aku ke supermarket sebentar. Tunggu ya, tunggu." Katanya sambil berlari. Aku hanya tersenyum melihatnya, dia sangat baik.

*Selang 10 menit*

Kenapa Daemin belum kembali? Aku merasa ada yang memperhatikanku. Daemin, cepatlah kembali. Suasana semakin horor. Aku ingin pergi, tapi bagaimana kalau Daemin kesini dan aku tidak ada. Dia pasti bingung. Menunggu memang membosankan.

Tiba-tiba 2 orang pria tinggi besar mendatangiku. Sepertinya mereka guardian, mereka punya tato yang menandakan bahwa mereka memang guardian. Tapi tato itu sudah dirusak dengan bekas luka. Apa mereka penghianat? Tubuhku mulai gemetar, mereka termasuk para penghianat yang menyerangku bulan lalu.

"Hey hey,,ada penyihir cantik disini." Kata salah satu dari mereka, aku bersiap mengeluarkan bola cakra. "wohoho...dia ganas sekali."

Aku berjalan mundur, tanpa sadar aku tersandung pagar. Ah Sial! Aku ceroboh sekali. Telapak tanganku berdarah. "Ahahaahha, dia terjatuh."

Salah satunya menjambak rambutku supaya aku berdiri.

"A-ah.." sial, tangannya kuat sekali, aku tidak bisa melepasnya. Yang satunya mendekatiku dan membelai pipiku. Kemudian dia mengeluarkan api dari tangannya. Apa yang akan dia lakukan? Aku merasakan panas api itu semakin mendekat ke wajahku.

"Ya! Apa yang kalian lakukan pada Baekhyun?" Aku menoleh ke arah suara itu. Daemin! Syukurlah..

Mereka kemudian melepaskanku dan berlari menjauh. "Apa kau baik-baik saja Baek? Maaf, aku pergi terlalu lama." Katanya.

"Ya, aku tidak apa-apa, hanya terluka karena aku jatuh tadi. Kkkkkkkk. Bukankah tadi kau pergi ke minuman? Kemana minumannya Daemin?"

"Ah, aku lupa hehehheheh. Apa kau mau pulang sekarang?" tanyanya. "Ya, aku ingin pulang. Siapa tau Chanyeol sudah pulang juga." Raut muka Daemin tiba-tiba berubah saat aku menyebut nama Chanyeol, tapi aku tidak begitu peduli.

Saat kami berjalan aku merasa ada yang mengikuti kami. Kenapa dari tadi aku merasa ada yang mengikuti.

"Ada apa Baek, kenapa kau terlihat khawatir?" tanyanya, dia menyadarinya.

"Aku merasa ada yang mengikuti kita Dae.."

"Eh? Benarkah?" katanya dan menengok ke belakang, tidak ada siapapun disana. Dia mengerutkan alisnya. "Apa kau masih merasa takut dengan kejadian tadi?"

"Entah, mungkin hanya perasaanku saja." Kataku dan terus berjalan. Aku ingin segera sampai apartemen. Chanyeol, aku merasa takut sekali..eh? kenapa aku memikirkannya di saat seperti ini (?)

Daemin mengantarku sampai apartemen, setelah berterimakasih padanya aku segera naik ke atas. Apa Chanyeol sudah pulang...

"Yeolie?" kataku saat masuk ke ruang tamu. Saat aku pergi ke dapur aku melihat Chanyeol sedang memanaskan sarapannya tadi.

"Dari mana saja kau?" tanyanya. "Cuma keluar sebentar. Kau tadi kemana? Kenapa lama sekali?" aku balik bertanya.

"Maaf Baek, tadi ayah mengajakku pergi." Katanya dan mengelus rambutku. "Jangan lakukan itu Yeol, aku ini lebih tua darimu." Kataku dan mendorongnya menjauh. Aku melihat ada darah di kemejanya.

"Chanyeol..Kau terluka?" Aku bertanya padanya. "Ha? Tapi aku tidak berkelahi atau semacamnya." Katanya dan melihat kemejanya. Dia terkejut dan memegang tanganku.

"Kau yang terluka Baek, lihatlah. Apa yang terjadi?" katanya lagi dan mengambil kotak P3K. Dia membersihkan lukanya dengan NaCl. Dia terlihat serius sekali. Aku baru sadar kalau telapak tangan kiriku tergores pagar tadi.

"Lain kali berhati-hatilah, kau selalu ceroboh." Katanya dan mencium keningku. Apa? Aku merasa wajahku memanas. Ku rasa pipiku memerah sekarang.

"Oh iya, minggu depan kau bawalah pakaianmu." Katanya. Aku mengangguk.

Author's POV

Empat hari berlalu sejak Baekhyun menginap di apartemen Chanyeol. Hari ini cafe tempat Baekhyun bekerja sangat ramai. Mereka menghitung keuangan hari ini.

"Kau terlihat sangat lelah Baek." Kata Daemin seraya menutup dan mengunci pintu cafe.

"Yeah yeah." Jawab Baekhyun sambil menguap. Baekhyun mengabaikan ocehan Daemin selama perjalanan. Dia memang tidak sedang dalam mood untuk menanggapi ocehan itu. Satu-satunya hal yang membuat Baekhyun senang adalah karena besok hari Jumat, dan Chanyeol akan datang.

Saat berjalan beberapa lama, dia tersadar kalau Daemin tidak berbelok ke arah rumahnya.

Baekhyun mengerutkan alisnya. "Kau mau kemana Dae?"

"Cuma mengantarmu pulang." Katanya.

"Kau tidak perlu melakukan itu. Lagi pula aku tinggal berjalan lima menit." Jawab Baekhyun.

"Kalau begitu aku akan berjalan lima menit bersamamu." Kata Daemin, Baekhyun merasa tidak senang dengan apa yang dilakukan Daemin, dia terlalu berlebihan. Kemudian mereka diam, tidak berbicara satu sama lain. Baekhyun hanya melihat kearah toko-toko pakaian yang mereka lewati dan Daenim melihat lurus ke depan.

Akhirnya mereka sampai di apartemen Baekhyun. "Daemin, terimakasih sudah mengantarku pulang." Kata Baekhyun menunggu sampai Daemin pergi, tapi dia tak kunjung pergi.

Baekhyun berdeham. "Aku bilang, terimakasih sudah mengantarku pulang Daemin.." Baekhyun berkata lagi tapi daenim tetap berdiam disana.

"Daemin, ini saat dimana kau harus pergi." Baekhyun berkata dengan sopan. "Apa kau tidak akan memyuruhku mampir Baek?" tanya Daemin.

Baekhyun menghela nafas, orang tua angkatnya tidak pernah mengijinkannya membawa teman ke rumah. Tapi malam ini mereka tidak akan pulang. Jadi mungkin Daenim bisa mampir sebentar. Pikir Baekhyun.

"Baiklah, tapi ini sudah larut. Jadi jangan lama-lama Dae, nanti orang tuamu khawatir." Kata Baekhyun dan berjalan ke tangga, menuju lantai apartemennya. Lagi-lagi Baekhyun merasa ada yang memperhatikannya. Dia merasa tidak nyaman dan mempercepat langkahnya.

Baekhyun membuka pintu dan menyalakan lampu. Dia melepas sepatunya, dan Daemin menutup pintu, dia menguncinya.

"Dae, kau bisa menaruh sepatumu dis-"

Sebelum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, dia didorong menghantam dinding, bahu kanannya terasa sakit saat Daemin menekannya. Dia juga membungkam mulut Bekhyun supaya tidak bisa berteriak.

Baekhyun mendongak melihat ke wajah Daemin yang notabene 15 cm lebih tinggi darinya. Dia terkejut, raut mukanya jauh berbeda dengan Daenim yang selama ini dia kenal.

"Byun Baekhyun.." Suaranya benar -benar berbeda.

Baekhyun merasakan bibir Daemin menempel di lehernya. Dia berusaha keras untuk menghindar, memukul dada Daemin sekuat-kuatnya. Tapi dia tidak menghiraukannya, pukulan Baekhyun terasa seperti pijatan.

"Kau tidak mendengarkanku saat aku berbicara tadi bukan?" Daemin berkata di leher Baekhyun, hembusan nafasnya membuat Baekhyun mrinding ketakutan.

"Aku akan mengulangi perkataanku tadi. Baek..aku sangat benci padamu. Kau adalah penyihir yang dipasangkan dengan pria itu. Aku akan menganggapmu sebagai pengganti penyihirku yang telah mati" Katanya. 'Mati?' Baekhyun bertanya dalam hati.

"Dia sudah meninggal satu bulan yang lalu. Karena ayah dari pria itu membunuhnya saat dia menculikmu." Kata Daemin. Baekhyun tersadar 'Jadi Daemin termasuk anggota penghianat?'

"Aku menyuruh anak buahku untuk mengganggumu di taman waktu itu." Mata sipit Baekhyun melebar karena terkejut saat dia mendengar ucapan itu.

Daemin menciumi leher Baekhyun, menjilatnya dengan kasar. Baekhyun menahan nafasnya, dia benar-benar tidak menyukai semua ini. Lidah Daemin bergerak ke atas dan berhenti di mulut Baekhyun, kemudian dia melumatnya. Baekhyun tidak menyangka semua ini akan terjadi. Harusnya Chanyeol yang melakukannya. Dia menginginkan Chanyeol, hanya Chanyeol yang boleh melakukan ini. Air mata Baekhyun mulai mengalir.

Tiba-tiba Daemin berhenti. "Sial! Kenapa dia harus datang sekarang." Dia berkata dan melepaskan Baekhyun. Dia mengangkat dagu Baekhyun memaksa melihat ke matanya, dan memberikan peringatan.

"Kau beruntung Baek, kau punya penjaga." Daemin mendengus. "Aku tidak ingin berurusan dengan mereka sekarang." Daemin melepaskan tangannya dari dagu Baekhyun dan meninggalkan apartemennya. Meninggalkan Baekhyun yang masih ketakutan.

Tak disangka orang tua angkat Baekhyun masuk dan mendapati Baekhyun ketakutan lagi bingung.

"Ya! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya ayahnya. Dia menggenggam krah baju Baekhyun dan menyeretnya ke ruang tamu. "Aku bertanya padamu apa yang kau lakukan? Apa kau tidak mendengarkanku?"

Baekhyun masih belum menanggapinya, dia masih tidak percaya Daemin yang selama ini dianggapnya baik, ternyata berniat seperti itu. Kemudian Baekhyun merasakan pukulan keras di perutnya.

"Ugghh..." Hal itu membuatnya sadar. "Ah..ma-maaf ayah, tadi a-"

Belum sempat Baekhyun menjelaskan, orang itu memukulnya dengan rotan. Dia menyabetkan benda itu bertubi-tubi. "Buka bajumu!" Suruh orang itu.

"T-tidak, jangan ayah, kumohon.."

"Buka ku bilang!" dia berkata lebih keras. Baekhyun tidak punya pilihan dan menuruti perintahnya. Tubuhnya gemetar, dia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.

Sementara itu, setelah Daemin keluar. Dia mendapati seorang pria menghadangnya.

"Kau pikir aku akan melepaskanmu setelah kau melakukan itu pada penyihir tuan kami?" Suara pria itu terdengar marah sekali.

Daemin berjalan mundur sampai dia menubruk pohon. "T-tuan Jung, aku tidak bermaksud melakukannya." Dia gugup karena pria besar dan berotot di depannya. Mereka masih belum mengetahui kalau Daemin adalah anggota penghianat.

Tuan Jung adalah penjaga Baekhyun, dia diminta untuk mengawasi dan menjaga Baekhyun. Oleh siapa? Tentu saja ayah Chanyeol. "Sebaiknya kau menyesali yang sudah kau lakukan!" katanya seraya mencekik Daemin. Kemudian melepasnya, membiarkan Daemin pergi.

~To be continue~

A/N: Chapter yang membosankan ya? Author mencari alur yang tepat buat menceritakan sisi buruk Daemin. Apa kalian kecewa karena Daemin bukan orang yang baik? kkkkkkk