Chapter 9

Author's POV

Mari kita flash back sebentar. Satu bulan yang lalu saat Baekhyun diculik dan Chanyeol menolongnya.

'Para penghianat itu semakin terang-terangan menculik para penyihir, bahkan tak segan-segan membunuh mereka'. Pikir ayah Chanyeol yang sedang menunggu bantuan yang ia panggil lima menit yang lalu. Bukan bantuan sebenarnya, karena dia sudah membereskan semua penghianat itu. Hanya tinggal satu yang sekarang sedang dikejar oleh Chanyeol.

Tiga puluh menit kemudian mereka datang.

"Tuan Park, apa kau tidak apa-apa?" tanya guardian yang tiba pertama kali, dia memang orang kepercayaan ayah Chanyeol.

"Ya, aku tidak apa-apa. Ayo kita susul Chanyeol." -Tuan Park.

Mereka semua menuju ke arah Chanyeol tadi pergi. Tak berapa lama mereka menemukan Chanyeol dan Baekhyun. Dia sedang memeluk Baekhyun yang berlumuran darah.

Ayah Chanyeol melihat ke arah penghianat tadi yang sekarang sudah tak bergerak. 'Kekuatannya sangat mengerikan. Setahuku dia tidak pernah melukai seseorang sampai seperti ini. Apa karena penghianat ini melukai Baekhyun?' Pikirnya saat melihat kondisi penghianat tadi. Lehernya dan rahangnya patah, dari telinga dan hidungnya keluar darah. Lebih dari itu, sepertinya semua tulang besar di tubuhnya patah.

"Chanyeol, ayah ingin bicara padamu." -Tuan Park

"Baik ayah, tapi bisa kita bicara nanti? Aku ingin mengantar Baekhyun sampai rumah sakit." -Chanyeol.

*Setelah mereka berdua memiliki waktu untuk berbicara, ayah Chanyeol memutuskan untuk menjaga Baekhyun diam-diam. Supaya tidak ada yang menyakiti Baekhyun hingga memicu kemarahan Chanyeol.

Dia menunjuk Tuan Jung sebagai ketua regu penjaga. Apakah itu berlebihan? Ku rasa tidak, karena Chanyeol belum bisa mengontrol kekuatannya dengan baik. Jika ada yang melukai Baekhyun, dia bisa membunuhnya dengan cara yang sadis.

Sudah cukup flash backnya, lanjut ke cerita yuk..

Chanyeol's POV

Sekarang hari Jumat, aku menunggu Baekhyun selesai bekerja. Raut mukanya terlihat berbeda hari ini. Dia melayani pelanggan dengan muka datar, biasanya dia tersenyum.

Pukul 22.00 cafe sudah tutup dan semua karyawan beres-beres. Aku membantu mengangkat kursi. Baekhyun mencuci peralatan dapur yang digunakan, dan yang lain menghitung pendapatan hari ini. Dimana Daemin?

"Sampai jumpa Baek.." kata salah satu karyawan cantik sambil melangkah pergi bersama yang lain. Baekhyun mengunci pintu cafe dan berjalan pulang. Dia membawa tas, aku yakin itu berisi baju. Aku sudah bilang padanya untuk membawa baju. Weekend ini pasti akan menyenangkan.

"Baek, aku bawakan tasmu." Kataku sambil merebut tas yang dibawa Baekhyun.

"Tidak perlu." Katanya dan merebut tas itu lagi. Ada apa dengannya?

Baekhyun berjalan sangat cepat, sesekali aku harus berlari kecil untuk mengikuti langkahnya. Sepanjang perjalanan ke apartemen kami dia hanya diam saja.

"Baek, apa kau mau beli makanan?" aku bertanya saat kami akan melewati supermarket.

"Tidak sekarang Chanyeol, aku lelah sekali." Dia berkata dengan ekspresi datar. Aku tahu dia lelah, tapi tidak mungkin kalau dia tidak lapar bukan?

"Baiklah, kau pulang duluan. Aku akan mampir supermarket untuk membeli bahan makanan." Aku berkata, dia mengangguk tanpa menoleh ke arahku dan terus berjalan pulang. Dia tahu password apartemenku, jadi tidak masalah kalau dia pulang lebih dulu.

Aku masuk ke supermarket mengambil lima ramen instan, buah, telur, sosis, dan sedikit snack kemudian membayarnya di kasir. Butuh waktu 10 menit sampai aku kembali ke apartemen.

Aku masuk ke apartemenku, kurasa Baekhyun sudah tidur. Aku meletakkan tas belanja di atas meja dapur dan menuju ke kamar Baekhyun. Dia tidak menutup pintu kamarnya, kurasa dia baru selesai mandi. Dia mengganti bajunya dengan kaos, membelakangiku sehingga dia tidak tahu kalau aku sudah pulang.

Satu hal yang membuatku terkejut. Punggungnya penuh dengan luka sabetan, kebanyakan dari luka itu cukup dalam hingga membuat kulitnya terbuka. Aku yakin luka itu tadinya berdarah. Aku tidak butuh penjelasan Baekhyun dari mana dia mendapatkan luka itu. Kurasa itu karena ulah orang tua angkatnya.

'Laki-laki itu, berani-beraninya dia melakukan itu pada Baekhyun-ku!' Aku mendengus pelan. Aku memperhatikannya terus, dia belum menyadari kehadiranku.

Baekhyun's POV

Aku cepat-cepat mengganti bajuku dan pergi tidur, walaupun aku tidak akan bisa tidur terlentang. Tapi paling tidak aku mengistirahatkan tubuhku.

Saat aku selesai mengenakan piyamaku, aku terkejut ada suara dengusan di belakangku . "Chanyeol?". Matanya berkaca-kaca saat menatapku.

"Baekhyun.." Chanyeol terlihat sedih, bingung, dan marah.

"Chanyeol..sudah berapa lama kau berdiri di sana?" tanyaku panik. Aku tidak ingin siapapun melihatku dalam keadaan seperti ini, terutama Chanyeol. Aku tidak ingin melihatnya sedih atau khawatir. Apa yang dipikirkan Chanyeol mengenaiku seka- dia tiba-tiba memelukku. Wajahku tepat berada di dadanya. Awalnya aku benar-benar terkejut. Tapi setelah beberapa saat aku melingkarkan tanganku di punggungnya dan air mataku mulai mengalir.

Chanyeol's POV

Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya dadaku sesak sekali, bukan karena pelukan Baekhyun, tapi karena air matanya membasahi kaosku. Kenapa dia menangis? Kenapa dia menyimpan semuanya sendirian? Aku bisa gila karenanya.

Aku terus memeluknya, seakan-akan dia bisa menghilang kapanpun, aku tidak ingin itu terjadi. Sampai aku mendengar dia memekik. Kurasa karena aku terlalu kuat memeluknya, sehinga menekan lukanya.

Aku buru-buru melepas pelukanku, dan mengangkat bajunya untuk melihat kondisi luka itu lebih jelas.

Ini benar-benar luka sabetan. Satu hal yang membuatku berpikir, kanapa air mataku mengalir, sejak kapan dia keluar? Bahkan lebih banyak dari punya Baekhyun. "Kenapa?"

Baekhyun tetap diam, ku rasa dia melihatku menangis. Aku menatap matanya. "Aku bilang kenapa?! Kenapa kau tidak menceritakannya padaku Baek?!"

Baekhyun's POV

Aku tersadar oleh apa yang Chanyeol katakan, atau teriakkan. Apa dia benar-benar peduli padaku? Atau dia hanya merasa kasihan pada kondisiku?

"Aku tidak mau kau kasihan padaku Chanyeol!" kataku setengah berteriak. "Jangan pura-pura khawatir!"

Dia terkejut setelah mendengarku berkata seperti itu. "Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku hanya kasihan padamu Baek?" Tanya Chanyeol. "Aku tidak pura-pura khawatir atau kasihan. JANGAN PERNAH BERPIKIR SEPERTI ITU!" dia meninggikan suaranya pada kalimat terakhir.

"Aku yakin kau belum mengobati luka ini." Aku menggelengkan kepalaku.

Kemudian dia menggendongku (bridal style) dan membawaku keluar apartemen. Aku menyadari beberapa hal.

1. Ini sudah larut malam

2. Air matanya menetes ke dadaku

3. Aku tidak tahu kemana dia akan membawaku

"Chanyeol, kita mau kemana?" Aku bertanya padanya. "Luhan, dia dokter. Kau kenal dia bukan?" katanya.

Sesampainya di tempat Luhan, Chanyeol mengetuk pintu. Cukup lama sampai Luhan membuka pintu sambil mengusap matanya. "Apa yang kau inginkan Chanyeol?" tanyanya, dia terdengar lelah.

"Aku sudah tidur..." dia melihat ke arahku. "Baekhyun?!"

"CHANYEOL! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BAEKHYUN?" tanyanya terkejut.

Chanyeol menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir lagi. "A-aku tidak tahu dari mana dia mendapatkannya. Tapi kurasa ayahnya yang memberikan luka ini." Chanyeol melihat ke arahku seolah menanyakan apa itu benar. Aku mengangguk.

Luhan membiarkan kami masuk. Chanyeol merebahkanku di tempat tidur, ruangan ini terlihat seperti tempat prakteknya. Aku kenal Luhan, dia teman baik Kyungsoo. Aku cukup sering bertemu dengannya.

Dia mendekatiku dan melepas bajuku, membuatku agak malu.

"Baekhyun. Apa ayahmu cukup sering memukulmu? Aku melihat banyak luka lebam di tubuhmu." Katanya. Chanyeol hanya melihat ke arahku, auranya mengerikan.

"I-iya..." aku berkata dan Chanyeol pergi keluar menutup pintu dengan keras. *Bang*sepertinya dia sangat marah.

Luhan kaget, tapi dia membiarkannya dan mengambil peralatannya. Membersihkan lukaku, kemudian mengoleskan cairan dingin di area luka yang dalam, ku rasa itu anestesi lokal. Dia menjahit luka itu dan menutupnya dengan perban.

Chanyeol's POV

Memang biadap orang itu. "Halo? Ayah? Apa Baekhyun masih harus tinggal bersama mereka? Mereka benar-benar keterlaluan. Kumohon lakukan sesuatu ayah.." kataku saat telfon yang ku tujukan ke meja kantor ayahku diangkat.

"Tuan muda.." Eh? "Maaf, Tuan Park tidak di dikantor sekarang."

"Tuan Jung? Kemana ayahku?" tanyaku. Ternyata yang menjawab telfonku tadi bukan ayahku.

"Dia sedang rapat dengan guardian yang lain." Jawabnya. Rapat? Tengah malam begini?

"Baiklah, aku akan kesana nanti." Kataku dan menutup telfonnya.

Sudah berapa menit ini, kenapa mereka lama sekali. Apa aku boleh masuk lagi? Kemudian aku menempelkan telingaku ke pintu untuk mendengar apa yang mereka bicarakan (kenapa aku melakukannya?)

Baekhyun's POV

Sepuluh menit berlalu, dia sudah selesai dan membereskan peralatannya. Dia berjalan menuju rak obat dan mengambil salah satunya.

"Minum ini, ini antibiotik, supaya tidak infeksi karena kau tidak segera merawat lukamu kemarin." Katanya dan memberikanku pil serta air putih.

"Jadi, bagaimana perasaanmu terhadap Chanyeol?" aku tersedak saat dia bertanya seperti itu. Bagaimana perasaanku terhadap Chanyeol? Dia adalah guardianku. Ayahku pernah berkata kalau Chanyeol bisa menolongku. Dan biasanya penyihir dan guardiannya memang ditakdirkan untuk bersama. Apa itu maksudnya juga saling mencintai? Dia selalu ada untukku, dia membawaku kesini. Kita berciuman. Aku tahu aku menyukainya...tapi ku rasa itu lebih dari itu.

"Kurasa, a-aku-u..me-mencintainya.." Dia tersenyum saat aku mengatakannya. "Tapi jangan pernah memberitahunya!" aku buru-buru memperingatkannya, walaupun dia lebih tua dariku. Aku merasa seperti remaja yang sedang menceritakan orang yang dia sukai.

Kemudian pintu kamar dibuka oleh Chanyeol. "Apa sudah selesai?" tanyanya, kemudian ia berjalan cepat ke arahku dan mendaratkan bibirnya di bibirku. Aku semakin terkejut, tapi kemudian aku membalas ciumannya.

"Well, aku akan memberikan privasi untuk kalian." Kata Luhan, pipinya memerah. Kemudian berjalan keluar dan menutup pintu.

Luhan's POV

"Sehun ah...i miss you."

Baekhyun's POV

Kami cukup lama berciuman. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku suka saat dia menyentuhku seperti ini. "Apa kau mendengar yang aku katakan tadi Chanyeol?" tanyaku, dia mengangguk. Aku menunduk karena malu. Dia mengangkat daguku.

"Aku juga mencintaimu Byun Baekhyun." Katanya tersenyum. Dia sangat tampan saat tersenyum, aku tersenyum balik padanya. Kali ini aku merasa lega ada orang yang benar-benar peduli dan mencintaiku.

~To be continue~