Chapter 13

Chanyeol's POV

"Chan..yeol . Lepaskan tanganku!" Dia berkata.

"Tidak! Tidak akan!" Aku berteriak.

Tinggal 15 detik lagi lubangnya menutup.

'Maaf ... Baek'

Aku memegang tangannya lebih erat. Tanpa pikir panjang aku melompat ke dalam lubang yang gelap itu, membawa Baekhyun bersamaku saat diameter lubang tinggal 2 meter. Kami jatuh ke dalam kemudian lubang itu tertutup. Membuat semuanya menjadi gelap, benar-benar gelap.

Aku mendekap Baekhyun. Kami terus jatuh, seolah angin berhembus dari bawah.

"Kau tidak harus melakukannya Chanyeol ..." Kata Baekhyun, dia membenamkan wajahnya di dadaku.

"Aku harus...kalau tidak aku akan kehilanganmu." Aku berbisik ke arahnya.

Lubang ini benar-benar dalam, kami belum juga sampai ke dasarnya. Aku berada di bawah, untuk melindungi Baekhyun saat kami sampai di dasar.

Aku mencium kepalanya. Aku merasa akan menyentuh tanah segera, tapi ternyata terjatuh ke dalam air yang dingin.

*Byur*

Kami berdua jatuh ke dalam air dingin. Punggungku menyentuh air lebih dulu. Kami terkejut karena dasar dari lubang bukanlah tanah.

Aku dan Baekhyun masuk ke dalam air. Mata kami bertemu, aku mengisyaratkan untuk berenang ke permukaan. Aku tidak pernah melepaskan tangan Baekhyun. Saat sampai ke permukaan aku tidak bisa benar-benar mecapai permukaan. Entah dari mana tiba-tiba ada lapisan es yang cukup tebal. Aku mendorong dan memukulnya tapi tidak bisa. Apa aku berhalusinasi?

Aku menarik tangan Baekhyun, dia juga menemukan lapisan es. Kemudian dia mulai memukul lapisan itu. Tapi hasilnya sama, tetap tidak bisa. Dia terlihat frustasi dan memukul lebih keras. Aku menghentikannya, menatapnya seolah mengatakan 'Jangan sakiti dirimu' (Mereka tidak bisa bicara karena masih menahan nafas di dalam air).

Aku memeluknya, sambil melihat ke sekeliling. Ah! Ada gua, 10 meter ke arah depan. Aku bisa melihat karena lapisan es tadi memancarkan cahaya berwarna biru. Aku melepaskan pelukannya dan menunjuk ke arah gua, dia mengangguk.

Aku melepaskan tangannya dan mulai berenang. Butuh waktu sekitar 40 detik untuk sampai ke sana. Saat kami sampai mulut, gua itu terlihat seperti gua beruang, cukup besar. Aku berharap semoga beruang tidak tinggal di bawah air.

Aku memegang tangan Baekhyun, dia terkejut. Dan menggumamkan sesuatu. Aku tersenyum.

Kami berenang bersamaan masuk ke dalam gua, semuanya menjadi gelap lagi. Tiba-tiba Baekhyun mencengkeram bahuku. Aku melihat ke arahnya, dia menunjuk ke atas. Aku melihat ke atas dan ada cahaya. Sepertinya lubang untuk keluar, tidak terlalu besar. Tapi jaraknya cukup jauh.

Kami bertatapan dan tersenyum. Dia melepaskan cengkramannya dari bahuku dan mulai berenang ke atas. Aku mengikutinya.

Sudah 3 menit kami menahan nafas di dalam air. Aku bisa menahannya lebih lama, tapi sepertinya Baekhyun tidak, saat sampai di permukaan dia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia benar-benar terengah engah.

Aku biasa berlatih renang, sehingga bisa menahan nafasku cukup lama. Aku melihat ke arahnya, matanya tertutup, mulutnya terbuka, suara nafasnya terdengar berat. Rambut poni melekat di dahinya. Dia terlihat, mengagumkan.

Aku merasa pipiku memanas, mendengar suara nafasnya. Baekhyun membuka matanya, dia melihat ke arahku sejenak.

"Huh? Apa kau demam Chanyeol?" dia bertanya.

"T-tidak." Jawabku. Kami melangkah keluar dari air, dan merebahkan tubuh di rumput sambil melihat ke langit yang biru.

Tunggu- rumput dan langit?

Aku duduk dan melihat ke sekeliling. Aku tersadar akan sesuatu.

"Chanyeol? Ada apa?" dia bertanya lagi.

"Baekhyun..Apa yang kau lihat saat kita berada di dalam gua tadi?" aku balik bertanya.

"Tentu saja hanya batu." Dia menjawab

"Lalu kenapa sekarang ada padang rumput dan langit." Aku berkata

"Tidak ada rum- " Dia berhenti dan melihat sekeliling kemudian ke atas.

"OMO!" dia berteriak.

Aku menengok ke samping. Melihat permukaan air tadi perlahan menghilang. Kemudian hilang, seolah tidak pernah ada apapun di sana. Hanya ada padang rumput yang tadi.

Kami berjalan kembali ke villa. Masih mencerna kejadian yang baru saja kami alami. Saat sampai di sana Kyungsoo dan Jongin sudah kembali. Mereka terlihat khawatir karena kami tidak ada di villa dan melihat kamar mandi yang rusak parah.

"Hey, apa yang terjadi?" tanya Kyungsoo.

"Aku tidak tahu, tapi aku akan menelfon ayahku sebentar." Aku masuk ke dalam dan mengambil hanphoneku.

Aku menceritakan semua kejadian itu pada ayahku. Dia mengatakan kalau belakangan ini hal itu sering terjadi, karena batas antara dimensi sihir dan dimensi manusia semakin menghilang. Aku bertanya, apa yang akan terjadi kalau batas itu benar-benar hilang dan kedua dimensi bertemu. Dia masih belum tahu. Tapi dia mengatakan kalau ini adalah ulah dari para penghianat. Ayah sedang mencari cara untuk menormalkan semuanya kembali.

Author's POV

Sementara Chanyeol menelfon ayahnya.

"Jadi apa yang terjadi pada kamar mandinya?" tanya Kyungsoo.

"Tadi ada kecoa terbang Kyung..Chanyeol mencoba membunuhnya, tapi gagal, dan berakhir seperti itu." –Baekhyun

"Hahahahahahhahah" –Jongin tertawa lepas. "Kecoa terbang bisa meruntuhkan kamar mandi. Hahahah."

Kyungsoo melihat ke arah Jongin dengan tatapan mematikan. Jongin yang menyadari hal itu langsung menghentikan tawanya.

"Lalu apa yang kalian lakukan di luar?" tanya Kyungsoo lagi.

"Entahlah, tadi ada lubang besar yang menelan kami. Untungnya kami berhasil keluar." –Baekhyun

Chanyeol mendekati Baekhyun setelah selesai menelfon. Mencium keningnya. "Kenapa kau belum ganti baju Baek?" –Chanyeol

"Eh, aku lupa." Kata Baekhyun mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi yang lain. Untungnya ada dua kamar mandi.

Sekarang giliran Chanyeol yang disidang oleh Kyungsoo.

"Apa ini benar-benar ulah para penghianat?" tanya Jongin setelah Chanyeol menceritakan apa yang dikatakan ayahnya di telfon tadi.

"Masih belum pasti Jong, tp kemungkinan besar iya. Mereka menemukan cara untuk menghilangkan dimensi sihir." –Chanyeol. Terdengar pintu depan dibuka. Sehun dan Luhan masuk.

"Dimana Kyungsoo dan Baekhyun?" tanya Luhan sambil meletakkan tasnya di ruang tamu.

"Di dapur ku rasa." Jawab Jongin. Luhan berjalan ke dapur, sementara Sehun bergabung dengan Chanyeol dan Jongin.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Sehun.

Chanyeol menjelaskan semuanya dari awal. Sehun bertanya hal yang sama dengan Jongin tadi. Tanpa lelah Chanyeol menjelaskan hal yang sama pula.

"Kita harus waspada sekarang. Mereka bisa menyerang kapanpun." –Chanyeol.

"Apa? Jadi mereka berani untuk melakukan kudeta?" tanya Sehun.

"Kemungkinan, karena jumlah mereka yang semakin bertambah." –Chanyeol.

"Hey, apa yang kalian bicarakan? Kenapa serius sekali?" tanya Luhan saat keluar dari dapur dan membawa salad buah buatan Kyungsoo dan Baekhyun. Dia meletakkannya di atas meja dan duduk di sebelah Sehun. Sehun spontan memeluk dan menciumnya.

"Nothing babe.." –Sehun

Luhan mendorong Sehun menjauh, tapi wajahnya terlihat memerah. Dia mengeluarkan HP nya dan bermain Flappy Bird (Game jaman kapan itu? kkkkkk). Sehun menengok ke arahnya.

"Apa yang kau mainkan?" Tanya Sehun.

"Ah..aku bermain Flappy Bird. Apa kau mau mencobanya?" Luhan balik bertanya.

"Tidak, kau saja yang main, aku tidak pernah main seperti itu." –Sehun

"Ayo, mainlah. Seperti ini caranya." Kata Luhan dan menunjukkan cara memainkan game itu. Sehun mengangguk dan mulai bermain. Luhan kembali ke dapur. Sebenarnya apa yang dilakukan Kyungsoo dan Baekhyun di dapur?

"Apa yang akan kita lakukan nanti malam?" tanya Kyungsoo.

"Entah, mungkin kita bisa ke pasar malam. Lagi pula Luhan sudah disini, dan Sehun tidak akan kesepian lagi. Kkkkkkkkk." Baekhyun terkekeh.

"Baiklah nanti kita bicarakan dengan yang lain." –Kyungsoo.

Luhan masuk ke dapur. "Apa yang kalian lakukan?"

"Ah..kami cuma ngobrol." –Kyungsoo

"Eh, ada apa dengan kamar mandinya?" tanya Luhan saat masuk ke kamar mandi dapur.

"hahahhhaha, itu ulah Chanyeol. Dia berusaha menangkap kecoa." Kyungsoo tertawa, diikuti Baekhyun. Luhan tercengang, dia masih mencerna informasi yang didapatnya.

"Kecoa? Pftt, hahahahahah." Akhirnya dia tertawa.

Chanyeol masuk ke dapur, dia mendekati Baekhyun. Memeluknya dari belakang.

"Chanyeol, kenapa kau tidak meminta seseorang untuk memperbaiki kamar mandinya?" Tanya Luhan.

"Ya, aku sudah menelfon ayahku tadi. Dia bilang akan segera diurus." –Chanyeol

Jongin masuk membawa mangkuk salad tadi. Menaruhnya di bak cuci piring. "Ayo kita pergi ke pasar malam, aku ingin bermain wahana." Kata Jongin dan memeluk Kyungsoo.

"Ya, aku setuju." –Chanyeol

"Kami tadi juga berencana ke sana." –Baekhyun

Sehun masuk dan menyerahkan HP Luhan. "Ini hyung, aku bosan. Aku tidak bisa memainkannya."

Luhan melihat ke layar HP nya. HIGH SCORE. Mata Luhan terbelalak saat melihat skor yang didapatkan Sehun. "Sehun? Kau bilang kau tidak bisa memainkannya, tapi nilaimu luar biasa sekali. Aku tidak pernah mencapai skor ini."

"Benarkah? Itu hanya kebetulan." –Sehun.

"Kau menyebalkan! Sekarang aku harus mengalahkan skormu." Luhan berkata dan fokus ke HP nya.

"Kenapa kau tidak mau kalah dariku, huh?" tanya Sehun. Luhan mengabaikannya.

Waktu berlalu, hari sudah semakin gelap. Sehun mendekati Luhan yang sedari tadi masih berkutat dengan HP nya. Dia memberikan kecupan kecil di pelipis Luhan.

"Jangan ganggu aku." Kata Luhan.

"Tapi hyung, kau sudah memainkan itu dari tadi." Sehun mulai tantrum.

"Salahmu membuat skor setinggi ini." Luhan berkata ketus.

Sehun pergi meninggalkan Luhan dan bergabung bersama yang lain di dapur (lagi) memasak makan malam.

Satu jam kemudian, waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tapi belum gelap karena ini musim panas. Semua sudah selesai makan, kecuali Luhan. Dia menolak untuk makan karena masih sibuk.

Lima belas menit kemudian Luhan mendekati Sehun. "Aku berhasil mengalahkan skormu..." Katanya dan bersandar di bahu Sehun. Sehun masih marah dan mengacuhkan Luhan. Dia masuk ke kamar dan membanting pintu.

Luhan merasa bersalah. "Hey, Sehunie...Buka pintunya. Maafkan aku.." –Luhan memohon sambil mengetuk pintu.

"Sehunie...Kumohon buka pintunya." Kali ini Luhan menggedor pintunya.

"Pintunya tidak dikunci." Sehun menjawab dari dalam.

"Ah.." Luhan menyesal tidak langsung membuka pintu tadi. Kemudian dia masuk, tapi suasananya gelap.

"Sehun?" –Luhan.

Tiba-tiba dia mendengar pintu dikunci. Dan ada sosok yang memeluknya dari belakang.

"Jangan acuhkan aku lagi hyung.." Sehun berkata dan mempererat pelukannya.

"Maafkan aku Sehunie..Aku berjanji tidak akan mengacuhkanmu lagi." –Luhan balik badan menghadap Sehun.

"I miss you.." Luhan berkata dan mengecup bibir Sehun dengan lembut.

"Now we've meet, did you still missing me?" –Sehun. (Author ga tahu kenapa, tapi menurut author adegan romantis akan menjadi lebih romantis kalau pakai bahasa Inggris. Biar kesannya ga terlalu gombal. Kkkkkk)

Luhan mengangguk, dia hanya menatap wajah kekasihnya itu. Mereka saling menatap, mengagumi keindahan masing-masing. Mereka tidak ingin melakukan hal lebih dari ciuman dan pelukan sebelum menikah. (awwwwwww)

"Hey! Apa yang kalian berdua lakukan di dalam?" Suara Jongin terdengar dari luar.

Sehun dan Luhan tersenyum. "Sepertinya kita harus keluar sekarang." –Luhan

Sehun mengangguk dan membuka pintu. Mereka keluar dengan bergandengan tangan.

"Apa yang kalian lakukan? Hayoo..hayoo.." Tanya Jongin agak menggoda.

"Kami tidak melakukan apapun." –Sehun

"Hemmmm..." Jongin berpikir keras, seakan tidak percaya kalau mereka tidak melakukan apapun.

"Hey, segera bersiap, kita akan segera pergi." –Chanyeol

"Apa kau membawa baju tradisional hyung?" Tanya Kyungsoo. Luhan mengangguk dan mengambil baju di dalam tasnya.

Kali ini mereka mengenakan baju tradisional Korea.

Sesampainya di pasar malam. Banyak sekali wahana. Kalian bisa membayangkan pasar malam seperti di film-film/drama korea.

"Apa yang akan kita lakukan?" –Sehun

"Aku mau main itu." Baekhyun menunjuk ke arah roller coaster.

"Kau yakin Baek?" tanya Chanyeol. "Ya, tentu saja." Jawab Baekhyun.

"Baiklah, satu jam lagi kita akan bertemu di sini. Oke?" tanya Chanyeol pada yang lain. Mereka semua mengangguk dan pergi dengan pasangan masing –masing.

Karena ini ff tentang Chanbaek, jadi cerita dari sisi Chanbaek dulu baru nanti ke yang lain.

*Chanyeol & Baekhyun*

Baekhyun menarik lengan Chanyeol ke tempat pembelian tiket.

"Selamat malam Tuan Park, berapa tiket yang Anda inginkan?" tanya wanita penjual tiket.

"Dua tiket." –Chanyeol menyerahkan uang. Kemudian wanita itu mencetak dua tiket dan memberikannya pada Chanyeol. Mereka berdua masuk ke dalam, petugas penjaga mengarahkan mereka ke tempat duduk.

"Baekhyun, kau yakin?" –Chanyeol bertanya memastikan.

"Ya, Mr Park. Lagi pula ini terlalu mudah." –Baekhyun berkata sambil menjentikkan jarinya.

"Apa kau pernah naik ini sebelumnya?" –Chanyeol

"Belum. Tapi tidak akan terlalu buruk bukan? Mungkin rasanya seperti naik naga terbang." –Baekhyun

Chanyeol mengangguk, 'Dia pasti akan ketakutan' pikir Chanyeol.

Petugas mengencangkan alat pengaman mereka. Setelah semua siap, petugas yang lain segera menyalakan mesin dan permainan bergerak perlahan. Baekhyun terlihat gembira, dia sangat bersemangat. Kereta mulai naik, sampai puncak. Ekspresi Baekhyun agak berubah, dia diam saja dengan muka datar. 'Kenapa ini tinggi sekali' Pikir Baekhyun.

"Kau bisa pegang tanganku kalau kau takut Baek." Chanyeol berkata dan mengarahkan kirinya ke Baekhyun.

"Tidak, aku tidak takut." –Baekhyun masih bersikeras.

Chanyeol tersenyum, "Kalau itu maumu terserah saja. Tapi kau boleh pegang kapanpun kau mau."

Kereta sudah sampai puncak, dan mulai bergerak turun seakan lepas dari lintasannya. Baekhyun berteriak dan udara dengan cepat menerpa wajahnya. Adrenalinnya terpacu, dia ingin memeluk Chanyeol, tapi karena ada alat pengaman dia tidak bisa melakukannya. Akhirnya Baekhyun memegang tangan Chanyeol.

Chanyeol tertawa puas melihat ekspresi Baekhyun. Baekhyun menutup matanya. 'Permainan macam apa ini.' Pikirnya. Kereta turun dengan cepat dan berbelok tajam ke kiri. Baekhyun tidak tahan lagi.

"Ch-chan...yeoolll..ahh, hen..tikan cuu-kupp." Baekhyun berkata terbata.

"Tidak, aku tidak bisa menghentikannya Baek, permainan ini punya aturan main sendiri." –Chanyeol, dia tidak takut sama sekali.

Kereta kembali naik dengan cepat, kemudian melingkar, berbelok lagi ke kanan. Baekhyun merasa tubuhnya lemas, satu-satunya hal yang membuat Baekhyun menyadari kalau dirinya masih hidup adalah pegangan tangan Chanyeol. Adrenalinnya mengalir setiap ada turunan.

Baekhyun memberanikan diri membuka matanya dan melihat masih ada tanjakan berbelok dan turunan satu kali lagi. 'Tinggal sebentar, bertahanlah. Sebentar lagi.' Pikir Baekhyun.

Chanyeol mengelus tangan baekhyun. "Tenanglah, aku di sini. Tadi kau bilang tidak takut."

Baekhyun tidak mempedulikan omongan Chanyeol, dia masih memejamkan matanya dan memegang tangan Chanyeol lebih erat.

Kereta mulai melambat kemudian berhenti. Alat pengaman dinaikkan, sekarang mereka bisa berdiri. Tapi Baekhyun masih memejamkan matanya dan memegang tangan Chanyeol.

Chanyeol mengecup kening Baekhyun. "Bukalah matamu. Permainannya sudah selesai."

Baekhyun membuka matanya perlahan. Dia menghela nafas lega saat mengetahui kalau permainan memang benar-benar selesai. Chanyeol turun, Baekhyun mengikutinya, tapi sayang kakinya terlalu lemas untuk bergerak. Dia masih ketakutan.

"C-chanyeol, kakiku tidak kuat bergerak." –Baekhyun. Chanyeol tertawa terbahak.

"Ya! Mr Park, bantu aku! Jangan tertawa!" –Baekhyun berteriak pada Chanyeol. Tapi Chanyeol tetap tertawa seraya membantu Baekhyun turun. Dia menggendong Baekhyun lagi dan berjalan ke tempat duduk di sebelah tempat pembelian tiket tadi.

"Bagaimana pengalaman pertamamu naik naga terbang?" –Chanyeol bertanya menggoda Baekhyun

"Aku tidak suka naga itu. Kenapa ada permainan gila semacam itu?" –Baekhyun, masih terbawa emosi.

"Kau sendiri yang sudah memilih permainan itu." –Chanyeol

"Kenapa kau tidak bilang kalau permainan itu mengerikan?" –Baekhyun

"Baiklah, maafkan aku. Tapi setidaknya kau sudah punya pengalaman naik itu." –Chanyeol berkata dan mengelus rambut Baekhyun.

*Kyungsoo & Jongin*

Mereka memilih permainan komedi putar.

"Tidakkah kita seperti anak kecil Jongin?" tanya Kyungsoo saat Jongin mengantri tiket untuk naik komedi putar.

"Biarkan saja. Aku ingin naik ini. Lagi pula ini tidak berbahaya seperti yang lain." –Jongin

"Tapi lihatlah, yang mengantri semuanya anak-anak." –Kyungsoo melihat sekeliling.

"Ayolah hyung..aku ingin naik itu." Jongin menciutkan bibirnya seperti anak kecil. Kyungsoo tidak tahan melihatnya.

"Baiklah adik kecil, aku akan menemanimu. Sejak kapan kau menjadi imut begini.." Kyungsoo berkata dan mencubit gemas pipi Jongin. Jongin tersenyum lebar.

Selama mereka naik komedi putar, anak-anak melihat ke arah mereka. Kyungsoo hanya diam saja dan Jongin berulah dengan bermain bersama anak lain di atas komedi putar.

Selesai permainan mereka duduk di kursi yang ada di bawah pohon, agak jauh dari keramaian.

"Jongin, aku haus, bisa kau belikan aku minum?" pinta Kyungsoo.

"Tentu saja sayang, apapun untukmu." Jawab jongin, mengecup bibir Kyungsoo dan pergi mencari air minum.

Sudah lima belas menit tapi Jongin tidak kembali. 'Kemana dia? Kenapa beli minum lama sekali'

Kyungsoo memutuskan untuk mencari Jongin. Cukup lama dia mencari, sampai dia menemukan Jongin berada di depan toko sedang berbicara dengan wanita.

Dia melihat jongin tertawa bersama dengan wanita itu. 'Siapa wanita itu, dia sok akrab dengan Jongin-ku'. Kyungsoo berjalan mendekat.

"Benarkah? Sekarang kau tinggal dimana?" tanya Jongin, Kyungsoo mendengarnya saat dia berjarak 5 meter dari mereka.

"Ehem.." Kyungsoo berdeham. Membuat Jongin dan wanita itu menoleh ke arahnya.

"Ah, hyung. Maaf lama, aku bertemu deng-"

"Aku Do, pacar Jongin. Siapa kau?" Kyungsoo menyela omongan Jongin dan menjabat tangan wanita itu. Wanita itu hanya tertawa.

"Ooopps, maafkan aku tuan Do. Bukan maksudku mengganggu acara kencan kalian. Kalau begitu aku pergi duluan ya. Sampai jumpa." Wanita itu melambaikan tangannya dan berjalan pergi.

"Hey...kenapa kau menyela omonganku hyung?" Tanya Jongin.

"Kenapa kau lama sekali? Aku lelah menunggumu di sana, jadi aku mencarimu. Ternyata kau malah asyik berbicara dengan wanita itu." Kyungsoo mengerutkan alisnya.

"Apa kau cemburu? Hahahhahahahahaha." Jongin tertawa. "Dia adalah istri kakak sepupuku hyung."

O.O "Whatt?" Mata Kyungsoo terbelalak mendengar apa yang dikatakan Jongin. Dia cemburu pada istri sepupu Jongin?

Wajah Kyungsoo memerah. "M-maaf Jongin, aku pikir dia mantanmu. Atau semacamnya."

"Tidak mungkin aku memiliki mantan hyung. Cintaku hanya untukmu." –Jongin. Pipi Kyungsoo semakin memerah. Jongin mengecup pipi Kyungsoo. "Wajahmu jadi seperti tomat hyung, aku ingin memakannya."

*Sehun & Luhan*

Mereka berdua berjalan mencari kedai bubble tea. Dan akhirnya menemukan satu di sebelah stand permainan.

"Sehun aku mau boneka itu." Kata Luhan menunjuk boneka hello kitty saat keluar dari kedai bubble tea.

Sehun melihat kearah yang ditunjuk Luhan. Dia mendekati penjualnya. "Berapa harga boneka itu pak?" tanya Sehun.

"Itu tidak dijual. Kau harus bisa menembak ufo terbang yang itu." kata penjualnya sambil menunjuk ufo terbang yang paling kecil dan ada di belakang, tertutup oleh ufo yang lain.

"Kau hanya punya tiga kesempatan sekali bermain." Imbuh penjual tadi.

"Baiklah, aku mau bermain." Sehun berkata dan mengeluarkan koin. Penjual tadi memberikan pistol mainan berisikan tiga peluru plastik.

Kesempatan pertama, Sehun bersiap menembak, mengarahkan tepat di ufo paling kecil. Dia menarik pelatuknya dan gagal. Dia malah mengenai ufo di depannya.

"Aahhh...Coba lagi Sehunie, aku mau boneka itu." Luhan mendesak Sehun.

Sehun mulai konsentrasi lagi dan mengarahkan tembakannya ke ufo yang dimaksud. Dia menarik pelatuknya dan gagal lagi. Luhan semakin gemas, Sehun semakin frustasi.

"Tenanglah hyung, aku akan mendapatkannya untukmu." –Sehun

"Kesempatan terakhirmu nak." Kata penjual tadi.

Sehun melakukan nafas dalam supaya lebih tenang dan fokus. Dia mengarahkannya lagi. Dia menarik pelatuknya, waktu menjadi melambat, ceritanya slow motion, peluru plastik bergerak pelan melewati lima ufo di depan, tinggal satu ufo lagi yang harus dilewati untuk sampai ke ufo tujuan. Dan *clank* berhasil.

"Yehet...kita berhasil hyung." Sehun berkata dengan riang. Penjual tersenyum dan memberikan boneka hello kitty pada Luhan.

"Hey nak, jaga nona ini baik-baik. Dia sangat manis dan cantik." Kata penjual itu.

Luhan melihat penjual itu dengan death glare terbaiknya. "Aku ini pria Pak. P-R-I-A." Luhan mengeja kata terakhir itu.

"Eh? Benarkah? Kau terlihat seperti wanita dengan rambut pendek." –Penjual

"Potongan rambutku ini manly. Tidakkah bapak lihat aku juga mengenakan baju manly?" –Luhan masih membela diri.

"Dengan baju berwarna merah muda dan boneka hello kitty di tangan kau sebut manly?" –Penjual

"Aku manly! Aku manly kan Sehun?" –Luhan membalikkan badannya ke arah Sehun.

Sehun tersenyum. "Iya, kau manly hyung. Manly." Katanya mengiyakan.

"Tuh kan pak, aku man-(hemp)." Sehun membungkam mulut Luhan supaya dia tidak berkata manly lagi.

"Terimakasih pak. Selamat malam, kami permisi dulu." Kata Sehun sambil menggandeng Luhan untuk pergi.

Masing-masing dari mereka berjalan ke tempat pertemuan. Baekhyun membawa cutton candy, Kyungsoo membawa topi pinguin, dan Luhan memeluk boneka hello kitty. Para seme berjalan di samping uke masing-masing.

"Wow Baek, warna cutton candynya sama dengan warna rambutmu." –Kyungsoo

"Hahahaha, benarkah?" –Baekhyun

"Kita pulang sekarang?" tanya Chanyeol. "Ya!" semua menjawab bersamaan, dan mereka berjalan pulang.

A/N: Maaf ya updatenya lama dan juga Chapter ini agak membosankan (lagi). Tapi tunggu chapter selanjutnya ya, bakal ada beberapa kejutan (?). terimakasih sudah mau baca atau komen (^3^)