Chapter 15
Author's POV
Beberapa hari setelah Chanyeol memberitahu ayahnya tentang penglihatannya waktu festival kembang api, penjagaan di dimensi sihir diperketat.
Malam ini Chanyeol bersama dengan Baekhyun, mereka berjalan menuju apartemen Chanyeol.
"Hey Chanyeol, aku ingin ke suatu tempat." Kata Baekhyun.
"Huh? Tapi ini sudah hampir gelap Baek." Chanyeol berkata dan menengok ke arah Baekhyun. Mereka berhenti berjalan.
"Kumohon, sebentar saja.." Baekhyun memohon dengan puppy eyesnya. Chanyeol menghela nafas, dia tidak bisa menolak permintaan Baekhyun saat memasang mata itu.
"Baiklah, kau mau kemana?" –Chanyeol
"Aku ingin pergi ke pinggir sungai dimana aku sering pergi saat aku masih kecil." –Baekhyun,
Mereka berdua berjalan menuju tempat yang dimaksud. Letaknya tidak begitu jauh dari apartemen Chanyeol sekarang yang berada di pinggir kota. Pukul 7 malam, mereka masih berjalan. Sudah hampir gelap, bintang dan bulan mulai terlihat. Lampu jalan dinyalaka berpadu dengan langit lembayung senja.
Banyak toko-toko sepanjang jalan yang mereka lewati juga menyalakan lampunya, berwarna-warni. Mobil lalu lalang, tidak terlalu padat, tapi cukup untuk membuat suasana menjadi bising karena mereka tidak sabar untuk bergegas pulang menemui keluarganya, atau berkumpul dengan teman-temannya.
Setelah 5 menit jalan kaki, akhirnya mereka sampai. Tempat itu sangat indah, di pinggir sungai yang tidak terlalu besar (bayangkan seperti pinggir sungai dimana Nobita sering bermain). Tidak ada rumah atau bangunan di sekitar tempat itu, sangat tenang, karena memang berada di pinggir kota. Satu-satunya suara yang jelas terdengar adalah gemercik air yang mengalir dan suara burung yang mencari tempat untuk beristirahat.
Karena dangkal, kalian bisa melihat ikan koi yang berenang keatas dan kebawah ada juga kecebong, seolah menunjukkan betapa jernih air sungai itu. Chanyeol duduk di atas rumput melihat ke arah langit senja yang sekarang mulai kehilangan sinarnya digantikan bulan purnama kemerahan di ufuk timur.
Sementara Baekhyun berjalan mendekati pinggir sungai dan berjongkok melihat ikan koi dan berudu yang menari di dalam air. Tak berapa lama langit menjadi gelap dan bintang bermunculan. Rumput yang Chanyeol dudukki bergoyang oleh hembusan angin. Sangat sempurna, Baekhyun dan Chanyeol tidak ingin beranjak dari tempat itu. Tiba-tiba Baekhyun mendengar suara yang berasal dari semak-semak. Chanyeol yang juga mendengar suara itu segera berdiri dan menghampiri Baekhyun. Dia bersiap kalau-kalau ada musuh menyerang. Mereka melihat lebih cermat saat suara itu semakin jelas. Dan, muncullah seekor anak kucing lucu. Anak kucing itu mengeong dan mendekati mereka berdua. Chanyeol segera berlutut dan mengelus tubuh kucing itu.
Dia mendengkur dan menggesek-gesekkan kepalanya ke tangan Chanyeol. Kemudian kucing itu mendekati Baekhyun yang juga berlutut tapi belum mau menyentuh kucing itu. Kucing itu seolah menunjukkan kalau dia tidak akan menyakiti Baekhyun. "Awwwwwww..." Baekhyun berawwria dan mengelus kepala kucing tadi.
"Dia terlihat sangat lucu Yeolie." –Baekhyun. Chanyeol tidak menjawab, membuat Baekhyun penasaran kenapa dia tidak menjawab kemudian menengok ke arah Chanyeol.
Sedari tadi Chanyeol mengagumi dua makhluk imut nan lucu yang ada di hadapannya. "Chanyeol, jangan melihat ke arahku seperti itu." –Baekhyun berkata dan pipinya memerah.
"Memangnya kenapa? Kau sangat mengagumkan untuk dilihat." –Chanyeol berkata membuat pipi Baekhyun semakin memerah.
Baekhyun menggendong kucing tadi dan menempelkannya di dada. "Lihatlah, pria itu menatap kita. Apa kau merasa kurang nyaman sama sepertiku?" Baekhyun berkata pada kucing itu dan menunjuk Chanyeol. Kucing itu melihat ke arahnya membuat Chanyeol tersenyum.
Saat melihat senyuman Chanyeol, kucing itu melompat dari dekapan Baekhyun dan berlari ke semak-semak. "Pft, hahahahhahhaahaha, apa kucing itu takut pada senyumanmu Yeolie?"
"Enak saja, dia pergi karena tidak tahan melihat senyumanku yang terlalu menawan ini." –Chanyeol
Baekhyun berbaring di samping Chanyeol. Mereka berdua menatap ke langit, bintang malam bersinar jernih. Ada beberapa kunang-kunang yang terbang mendekat. Walaupun malam, mereka masih bisa melihat karena cahaya bulan purnama.
'Kau terlihat indah berpadu dengan cahaya bulan Baek.' Pikir Chanyeol. Dia kemudian berbaring di samping Baekhyun. "Hey Baek."
"Hemm?" Baekhyun menengok ke arah Chanyeol. Pandangan mereka bertemu, perlahan Chanyeol mencium kening Baekhyun.
"I love you.." –Chanyeol tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke langit lagi.
"I love you too.." –Baekhyun memeluk dada Chanyeol yang ada di sampingnya. Baekhyun berbaring beralaskan lengan Chanyeol. Rasa kantuk mulai menyerangnya, dia tidak dapat melawan dan menutup matanya.
Chanyeol's POV
Sudah 10 menit berlalu, tapi kenapa Baekhyun diam saja. Aku menengok ke arahnya. Eh, dia tertidur. Aku tidak tega membangunkannya, tapi kami harus pulang. Aku memutuskan untuk menggendongnya kembali ke apartemen. Lagi pula dia tidak berat.
Sesampainya di apartemen aku membaringkannya di tempat tidur dan pergi mandi.
Beberapa bulan kemudian. Musim dingin.
Author's POV
Belakangan ini sering terjadi Open Warp (menyatunya dua dimensi secara tiba-tiba kemudian menghilang kembali/seperti yang dialami Chanyeol dan Baekhyun di Chapter 12,13) di banyak tempat di dimensi sihir dan manusia.
Ayah Chanyeol mencari cara untuk memperkuat segel. Chanyeol membantunya, dia pergi setiap malam ke perpustakaan, membaca setiap buku tua yang ada di sana. Baekhyun selalu menemaninya saat dia libur part time, dan hari ini dia libur, yey.
"Chanyeol, lihat ini." Kata Baekhyun memberikan sebuah buku tua nan usang pada Chanyeol.
"Disini tertulis kalau setetes pengorbanan raja akan memperkuat segel." Baekhyun membacakan kalimat yang tertulis di dalam buku.
"Pengorbanan?" Chanyeol melihat ke arah Baekhyun. Baekhyun membuka halaman berikutnya. Alisnya mengkerut.
"Apa kau mengerti tulisan ini Yeol?" Baeknyun menunjuk huruf-huruf tidak jelas (bayangkan seperti tulisan alien).
"Ini tata cara ritual Baek. Akhirnya kita bisa menemukannya." Chanyeol memeluknya. "Ayo kita beritahu ayahku." Chanyeol berdiri dan mengajak Baekhyun ke kediaman Park (mirip seperti istana). Mereka mengendarai mobil, karena kediaman Park cukup jauh dari kota dan berada di puncak bukit.
Setelah hampir 10 menit, mereka sampai.
Baekhyun yang baru pertama kali berkunjung ke mansion itu tentunya terbelalak kagum. Kediaman Park sangatlah besar, dan terlihat elegan. Chanyeol berlari kedalam disambut dengan para penjaga. "Dimana ayahku?" tanya Chanyeol saat masuk ke aula dan bertanya pada penjaga.
"Di ruangannya, tuan." Jawab penjaga itu. Chanyeol berjalan cepat menuju ruangan ayahnya.
"Ayah, kami menemukannya." Kata Chanyeol sambil membuka pintu. Tuan Park sedang meneliti dokumen segera berdiri dan meminta Chanyeol untuk mendekat.
Chanyeol menunjukkan apa yang dia dan Baekhyun temukan tadi. "Tapi kami masih kurang paham dengan apa yang dimaksud pengorbanan." Kata Chanyeol.
"Setetes? Apa ini maksudnya cairan seperti darah?" –Baekhyun
"Hemmm...ada kemungkinan, karena beberapa ritual yang menggunakan darah." –Tuan Park. "Kalian istirahat dulu, aku akan meminta Tuan Jung untuk menyiapkan prosesinya."
"Kami boleh ikut?" tanya Chanyeol.
"Tentu saja kalian harus ikut. Chanyeol, ajak Baekhyun beristirahat di kamarmu." –Tuan Park.
Chanyeol tersenyum dan menggandeng tangan Baekhyun ke kamarnya. "Ayo Baek.."
Untuk menuju kamar Chanyeol, harus melewati beberapa lorong. Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar yang besar berwarna putih. Chanyeol membuka pintu itu, dari sana kalian bisa melihat king size bed putih bersih. Hampir semua perabotan, dinding, dan gorden berwarna putih.
"Kau mandi duluan Baek, akan ku carikan kimono." –Chanyeol
Baekhyun masuk ke kamar mandi, dia memutuskan untuk berendam sebentar karena cuaca sangat dingin.
15 menit kemudian.
"Baek, ini bajumu. Ku letakkan di depan sini ya." –Chanyeol
"..."
"Baek?"
"..."
Saat tidak mendengar jawaban apapun Chanyeol mendobrak pintu. "Baekhyun!"
Melihat Baekhyun tertidur di dalam bak Chanyeol segera mengangkat tubuhnya. "Ya! Baekhyun!" Dia menjaga agar kepala Baekhyun tetap di atas air sambil membangunkannya.
Baekhyun membuka mata, pipinya merah karena air di dalam bak cukup panas. "Huh? C-chanyeol."
Chanyeol melihat ke tubuh Baekhyun dan baru tersadar kalau Baekhyun telanjang. Sebenarnya Baekhyun tidak masalah dengan hal itu, tapi Chanyeol, wajahnya merah tomat, jantungnya berdegup cepat. "J-jangan pernah tidur di dalam bak lagi." Suara Chanyeol gemetar.
Baekhyun tersenyum, kemudian berdiri tiba-tiba membuat Chanyeol terjengkang kaget dan menutupi hidungnya seolah mimisan.
"Dimana bajuku Yeolie?"
"D-d-d-i situ.." –Chanyeol menunjuk ruangan di sebelah kamar mandi.
"Hahahhahahaha, kau ini kenapa?" Baekhyun terkekeh dan berjalan dengan tenang ke tempat bajunya berada. Sementara Chanyeol masih terpaku di lantai.
(Skip ritualnya ya, bayangin aja kayak ritual yang ada di Naruto (Episode Kushina & Minato death). Hanya saja ga ada yang mati, cuma butuh setetes darah ayah Chanyeol)
Satu minggu kemudian.
Pukul 17.00, Chanyeol dan Baekhyun berada di dalam apartemen, mereka menonton acara televisi yang cukup membosankan. "Apa kau mau coklat hangat?" Tanya Chanyeol. Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu ayo kita keluar." Kata Chanyeol yang kemudian berdiri mengambil mantel untuk Baekhyun.
Chanyeol memakai sweater abu-abu dengan dua garis putih di bagian dada, dan kaos turtle neck hitam. Sementara Baekhyun mengenakan kaos turtle neck hitam dan sebuah mantel berwarna coklat muda, celana jeans biru navy serta sepatu ket.
"Bisakah kau berhenti menatapku?" kata Baekhyun saat Chanyeol menatap dirinya. Seolah mengamati setiap detail tubuh Baekhyun (bukan setiap detail sih, soalnya Baekhyun duduk. Cuma bagian dada ke atas).
Kali ini Chanyeol mengajak Baekhyun ke cafe di dekat apartemennya. Mereka memesan dua cangkir coklat panas untuk menghangatkan badan.
"Tidak" –Chanyeol .
"Apa maksudmu 'tidak'?" –Baekhyun
Chanyeol yang duduk di hadapan Baekhyun mendekatkan tubuhnya ke meja sehinggal lebih dekat ke Baekhyun. "Aku satu-satunya orang yang bisa menatapmu seperti itu." Chanyeol melihat tepat ke mata Baekhyun. "Karena aku, pacarmu."
Baekhyun merasa pipinya terbakar karena malu, dan dengan cepat menunduk menghindari tatapan Chanyeol. Kemudian dia ingat kejadian satu minggu lalu.
"Pacar? Melihatku tanpa busana saja kau tidak kuat Yeol. Kkkkkkkkkk." Kata Baekhyun.
"Itu karena tubuhmu adalah hal terindah yang pernah ku lihat, tapi aku harus bisa menahan untuk tidak menikmatinya sampai kita menikah nanti." –Chanyeol. Sekarang telinga Baekhyun mulai terbakar.
"Apa nantinya kau mau menikah denganku Baek?" Tanya Chanyeol dan memegang tangan Baekhyun.
"emh...Ten-" Belum selesai Baekhyun menjawab, tiba-tiba terdengar ledakan dari kejauhan. Seolah waktu waktu terhenti. Suasana menjadi sangat sunyi, terlalu sunyi, karena semua orang yang ada di dalam cafe berhenti bicara seolah mematung, termasuk Baekhyun dan Chanyeol.
Terdengar teriakan mengerikan dari luar cafe disertai dengan tangisan ketakutan. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun erat-erat. Chanyeol tahu ini akan terjadi, dia sudah waspada. (/Kenapa ga dicegah? Chanyeol kan sudah tahu./ Karena dia tidak bisa merubah hal yang memang seharusnya terjadi, itu namanya takdir. Tapi dengan adanya kemampuan Chanyeol melihat masa depan, kita bisa mengantisipasi/bersiap sehingga meminimalkan dampak yang ditimbulkan./Oke, ga penting ya?/ Lanjut..)
"MEREKA MENYERANG! PARA PENGHIANAT ITU MENYERANG!"
Segera setelah kalimat itu terdengar, semua orang di dalam cafe berteriak dan panik. Baekhyun ikut panik saat ada tubuh melayang masuk memecahkan jendela cafe. Darah mengalir dari kepalanya.
Semua orang berhenti bergerak dan tetap diam di dalam cafe karena shock. Suara tangisan bayi terdengar dari luar saat sesosok pria berjubah hitam dengan tato penghianat di lehernya (Anggap saja seperti tato Death Eater yang ada di Harry Potter, cuma letaknya di leher dan bisa disembunyikan)
Teriakan dari luar cafe terdengar semakin keras. Chanyeol segera menggendong Baekhyun (bridal style). Dia tahu ini akan terjadi, tapi kemana semua guardian yang disiagakan? Mereka harusnya bisa meminimalkan adanya korban.
"Chanyeol?!" Baekhyun berteriak ketakutan, wajahnya tepat berada di dada Chanyeol. 'Ya Tuhan! Ya Tuhan!' adalah satu-satunya hal yang didengungkan oleh pikiran Baekhyun sekarang. Apa dia baru saja melihat pembunuhan orang tak bersalah tepat di depan matanya saat dia masih berusia 17 tahun, sekarang, saat dia dan bersama Chanyeol? Ya, dia melihatnya, dan merasa ketakutan luar biasa.
Orang-orang mulai berteriak lagi di dalam cafe, mencari tempat untuk bersembunyi. Meja dan kursi sekarang berantakan, makanan dan minuman tumpah ruah di lantai, gambar dan lukisan yang tergantung di dinding sekarang jatuh berserakan. Suasananya benar-benar mencekam.
Chanyeol berlari ke masuk ke dapur kurang dari 2 detik. (Ingat, pewaris Park bisa memanipulasi waktu, sehingga seolah bergerak lebih cepat). Baekhyun merangkulkan tangannya ke leher Chanyeol, berusaha untuk tidak jatuh. Meskipun dia jatuh, Chanyeol tidak akan membiarkan itu terjadi.
Jantungnya berdegup cepat, sangat cepat. Rasanya seperti mau melompat keluar dan Chanyeol bisa merasakannya. Chanyeol tahu, tidak ada waktu untuk menenangkan Baekhyun sekarang. Satu-satunya hal yang harus dia lakukan adalah membawanya ke tempat yang aman.
"Pegangan sebentar Baek." Chanyeo berkata, Baekhyun mempererat rangkulannya ke tengkuk Chanyeol. Kemudian dengan tangan kanannya yang sekarang sudah tidak memegang punggung Baekhyun untuk sementara, dia membuat bola angin dan melemparkannya ke pintu, membuat pintu itu terlempar keluar. Tangannya kembali menahan punggung Baekhyun.
Suara teriakan terdengar lebih keras di luar. Chanyeol bisa mendengar jendela cafe dipecahkan lagi dan semua orang disana berteriak histeris. Baekhyun masih berpegangan ketika Chanyeol berlari dengan cepat. Mata Baekhyun tertutup dan dia berdoa agar semuanya bisa selamat. Dia ingin menutup telinganya, sehingga tidak terdengar lagi suara teriakan-teriakan ketakutan itu, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya.
Kenapa mereka harus menyerang. Baekhyun hanya ingin duduk di cafe, tidak ada teriakan atau pembunuhan.
Teriakan mengerikan terdengar lagi.
Chanyeol mengelus punggung Baekhyun, seolah ingin mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Akankah?. Baekhyun merasakan sentuhan Chanyeol, tapi itu tidak membantu sama sekali. Teriakan terdengar semakin keras.
Baekhyun melihat ke belakang. "C-chanyeol!" Baekhyun berteriak saat melihat ada musuh di belakang, dan hanya berjarak 6 meter. Chanyeol berhenti dan menghentakkan kakinya ke aspal. Muncul sebuah beteng di belakang mereka untuk menghalangi musuh itu sebentar. Chanyeol menurunkan Baekhyun.
"Tetap di sini. Jangan jauh-jauh oke?" Kata Chanyeol. Baekhyun mengangguk.
Kemudian benteng tadi dihancurkan oleh pria itu. Chanyeol menglemparkan bola angin ke arahnya hingga dia terpental ke belakang. Orang itu melemparkan bola api ke arah Chanyeol, dengan cepat Chanyeol menghindar dan mendekat. Dia melayangkan pukulan telak ke dagu pria itu, dia terjatuh dan memegangi dagunya kesakitan, darah bercucuran dari mulutnya. Menandakan ada tulang rahang yang patah.
"Don't fuck up with me!" –Chanyeol berkata dan menghentakkan kakinya lagi, sebuah lubang muncul di bawah orang itu berdiri membuat orang itu terjatuh ke dalamnya. Lubang itu menutup dan hanya kepala orang itu yang terlihat di permukaan tanah.
Chanyeol menggendong Baekhyun lagi dan pergi. Mereka menuju ke apartemen Chanyeol.
Sesampainya di dalam Chanyeol menurunkan Baekhyun. Menekan pundak Baekhyun membuatnya terduduk di sofa. Dia mendongak melihat ke arah Chanyeol dengan tatapan putus asa.
Chanyeol mendekat dan duduk di samping Baekhyun. Dia masih terengah-engah setelah berlari jauh. Tanpa meminta ijin, Chanyeol mencium bibir Baekhyun.
Baekhyun terkejut, tapi dia menerima ciuman itu dan membalasnya. Tidak butuh waktu lama, ciuman itu menjadi lebih intim. Chanyeol berhenti, dia menginginkan lebih. Tapi ini bukan saat yang tepat.
"Kenapa mereka menyerang?" Baekhyun berbisik dan menjilat bibirnya yang masih basah setelah ciuman tadi.
"Kita harus pergi ke rumahku." Kata Chanyeol, "Kita akan mencari jawabannya di sana. Tapi mereka sudah tahu ini akan terjadi."
"Huh? Maksudnya?" –Baekhyun
"Mereka sudah tahu, dan akhir-akhir ini meningkatkan sistem keamanan. Tapi aku masih tidak tahu, seharusnya ada guardian yang berjaga di luar untuk meminimalkan adanya korban." –Chanyeol
Chanyeol memeluk Baekhyun, "Tenanglah, semua akan baik-baik saja."
Dia mengelus rambut Baekhyun. Tiba-tiba ada yang megetuk pintu. Chanyeol mennggeram, Baekhyun agak kaget mendengarnya.
Chanyeol kemudian berjalan ke pintu dan melihat siapa yang mengganggu waktunya dengan Baekhyun. Itu adalah Pak Kim, tangan kanan ayahnya.
Chanyeol membuka pintu untuknya. "Chanyeol, kau harus ikut kami. Ayahmu menyuruhku untuk memintamu membereskan mereka."
"Tapi bagaimana dengan Baekhyun?" Chanyeol bertanya.
"Dia akan baik-baik saja di sini, ada guardian di bawah yang akan menjaganya." –Pak Kim.
"Oke.." Chanyeol berkata dan kembali ke Baekhyun. "Baek, aku akan membantu ayahku mengatasi mereka. Ada guardian di bawah yang akan menjagamu."
Sebenarnya Baekhyun ingin menangis saking takutnya, dia tidak ingin Chanyeol pergi. Dia tidak ingin ditinggal sendirian. Tapi dia tahu, Chanyeol adalah pewaris selanjutnya. Dia berusaha untuk tegar.
"Yeolie...aku takut.." Kata Baekhyun.
"Tenang kau aman disini. Aku akan membantu yang lain." –Kata Chanyeol dan mengecup kening Baekhyun.
"Kapan kau akan kembali?" –Baekhyun
"Besok, aku akan kembali ke sini. Aku tidak tahu jam berapa, tapi aku kembali besok." Kata Chanyeol tersenyum. Baekhyun mengecup bibir Chanyeol.
"Baiklah, hati-hati Yeolie.." –Baekhyun
"Love you Baek.." –Chanyeol
"Love you more...Kembalilah hidup-hidup." –Baekhyun
"Tentu saja." Kata Chanyeol mengecup kening Baekhyun lagi dan pergi.
Tinggallah Baekhyun sendiri di dalam apartemen.
Baekhyun berbaring di atas sofa, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Entah kenapa dia merasa lelah. Mungkin karena adrenalinnya terpacu berlebihan.
Baekhyun pergi ke dapur dan membuat ramen, dia lapar. Karena hanya minum coklat di cafe tadi. Baekhyun menuang air panas ke dalam cup. Dia mendengar suara langkah kaki di lorong apartemen.
Baekhyun cepat-cepat mengunci pintu. Dia lupa menguncinya tadi. Kemudian dia bersembunyi di dalam kamar dan mengunci pintunya.
Tiba-tiba pintu didobrak dari luar, Baekhyun menutup rapat mulutnya supaya dia tidak menjerit. Sial, apakah dia akan mati disini? Pikirnya.
"Hey Baekyun-, aku tahu kau disini." Baekhyun mendengar suara itu setelah pintu didobrak tadi. Dia mengenali suara ini.
Baekhyun berbalik, dia ingin bersembunyi di dalam kamar mandi. Tapi sayang dia menginjak tali sepatunya dan jatuh dengan suara yang cukup keras. Orang itu pasti mendengarnya.
Baekhyun mendengar suara tawa. "Oh.. Baekhyun..Jangan pikir kau bisa bersembunyi dariku.
Terdengar suara hembusan angin cukup keras dan pintu kamar lepas dari gawangnya, melayang dan jatuh tepat di samping Baekhyun.
Baekhyun berdiri, tidak peduli kakinya yang sakit karena terjatuh tadi. Dia bersiap mengeluarkan bola cakra saat dia melihat sosok seseorang berdiri di depan pintu.
Orang itu menyeringai dan memasuki kamar. Dia merasa sangat senang saat melihat mata Baekhyun penuh ketakutan. Dia berkata.
"Kau merindukanku?"
~To be continue~
A/N: Tinggal beberapa Chapter lagi nih.
