Chapter 16

"Kau merindukanku?" Kata Daemin yang berdiri di ambang pintu.

Baekhyun geram, dia mengumpulkan cakra di tangannya (sama seperti rasengan, tapi warnanya merah). "Keluarlah Daemin!" Kata Baekhyun mengancam.

"Hahahahha, kau mengancamku? KA-U ME-NGAN-CAM-KU?" Daemin mengeja kalimat itu, seolah meremehkan ancaman Baekhyun. Dia berjalan mendekati Baekhyun membuat Baekhyun waspada dan berjalan mundur.

"Berhenti disitu!" Baekhyun melantangkan suaranya. Dia tersudut di pojokan, tidak ada cara untuk menghindar kecuali menyerang. Beruntung Baekhyun pernah diajari bela diri oleh Chanyeol.

Dia berpikir cepat dan melempar bola cakra tadi. Daemin berhasil menghindar. "Kau melese-" *Bugh* Baekhyun menendang wajah Daemin dengan kaki kanannya hingga Daemin tersungkur.

Daemin mengusap bibirnya yang berdarah. "Kau ini, beraninya kau." Saat Daemin bangkit Baekhyun dengan cepat berlari keluar. Tapi sayang Daemin melemparkan bola angin dan membuat Baekhyun terpental ke tembok di dekat jendela.

Baekhyun berusaha bangkit, tapi dia tidak bisa melakukannya karena Daemin menekannya di tembok. Dia terkesiap karena tiba-tiba Daemin mencengkram lehernya dengan satu tangan kemudian mengangkatnya . Baekhyun merasakan kakinya tak lagi menyentuh lantai.

"Kau pikir kau kuat huh?" suara Daemin berubah, dia terdengar sangat marah.

Baekhyun terbatuk kehabisan udara tapi Daemin tidak mempedulikannya, dia semakin mengencangkan cekikannya. Tangan Baekhyun mencengkram pergelangan tangan Daemin, menunjukkan Baekhyun benar-benar kehabisan udara.

Dia merasa dia akan mati, pandangannya kabur, batuknya tadi berubah menjadi sengalan. Dia tidak bisa bernafas, air matanya mengalir keluar tanpa dia sadari. Daemin tidak bergeming dan tetap mencekik Baekhyun.

Saat mata Baekhyun hampir menutup dan nafasnya hampir berhenti, Daemin melepaskan cekikannya, Baekhyun terjatuh di lantai dan dia meraup udara sebanyak-banyaknya. Perlahan dia menyentuh lehernya, rasanya sakit sekali.

Daemin membiarkan Baekhyun menghirup udara sebanyak yang dia mau, kemudian dia berjongkok dan mengangkat dagu Baekhyun, memperlihatkan bekas kemerahan berbentuk tangan. "Kau terlihat lebih indah dengan tanda ini. Hahahaha, jangan khawatir ini akan hilang dalam beberapa hari." Daemin berkata, Baekhyun menatapnya tajam, dia masih mengatur nafasnya.

Tiba-tiba Daemin menarik lengan atas Baekhyun dan menyuruhnya berdiri. Pandangan Baekhyun masih kabur tapi dia bisa merasakan bibir Daemin di lehernya. Lengan Daemin mengelus punggung Baekhyun naik turun sementara dia menghirup aroma tubuhnya. Baekhyun sangat menggairahkan, tak heran Chanyeol tertarik padanya. Pikir Daemin.

Sebuah ide muncul di pikirannya, dia tersenyum sinis di leher Baekhyun memperlihatkan betapa hebat idenya ini.

Daemin membanting Baekhyun di atas sofa, dan menindihnya. Baekhyun ketakutan, apa yang akan dilakukan Daemin? Dia terkejut saat tangan Daemin meraba perutnya, bergerak ke dadanya, seolah merayu Baekhyun.

"Ayo kita buat kesepakatan." Daemin mulai berbicara. "Kau memilih aku membunuhmu sekarang.." tangannya bergerak ke leher Baekhyun dan mengelus bekas cekikannya tadi.

"Atau..." tangannya bergerak dari leher turun menggerayangi perut bagian bawah Baekhyun. "Kau bisa membiarkanku menggagahimu malam ini, dan aku akan menghilang dari hidupmu selamanya." Baekhyun menutup erat matanya, dia merasa tidak nyaman dengan sentuhan Daemin. "Bagaimana? Ini pilihan yang mudah bukan?"

0o0

Di dalam mobil, perjalanan menuju pusat kota.

Chanyeol bersama Pak Kim di dalam mobil, dia menjelaskan pada Chanyeol mengenai strategi yang telah dibuat oleh Tuan Park.

"Lihat ini," Pak kim menunjukkan sekotak peluru, dan ada beberapa kotak yang lain. "Ini adalah peluru bius, saat terkena ini target akan tidak sadarkan diri selama 3 hari. Cukup untuk membereskan mereka semua."

"Kira-kira berapa jumlah mereka?" Chanyeol bertanya dan mengambil senapannya.

"235, sejauh ini kami sudah melumpuhkan setengahnya. Kita akan melumpuhkan daerah pusat kota." Pak Kim menjelaskan dan Chanyeol mengangguk paham kemudian mengisi senapannya dengan peluru bius, dia mengantongi beberapa slot peluru lagi.

"Berhenti!" Chanyeol berkata saat melihat Jongin dan Kyungsoo berkelahi dengan lima musuh.

Chanyeol segera berlari keluar dan menembakkan peluru bius ke arah dua musuh sekaligus. Saat melihat rekannya jatuh, mereka menengok ke arah Chanyeol. "How dare you messing up with my friends!" Chanyeol mengeram dan menghentakkan kakinya ke aspal membuat tanah bergelombang dan melemparkan tiga orang musuh itu 5 meter ke atas.

Chanyeol menekan pelatuk senapannya, melumpuhkan tiga musuh sekaligus. Mereka terjatuh ke tanah tidak sadarkan diri.

"Kalian tidak apa-apa?" Chanyeol bertanya,

Jongin mengangguk, "Tapi lengan Kyungsoo berdarah karena pisau es tadi." Dia melihat ke arah Kyungsoo yang memegangi tangan kanannya dengan wajah kesakitan.

"Cepat, bawa dia ke rumahku, disana ada Luhan san Sehun. Untuk saat ini rumah sakit tidak begitu aman." Kata Chanyeol menepuk bahu Jongin.

"Dimana Baekhyun?" tanya Kyungsoo.

"Dia ada di apartemenku, sudah ada guardian yang menjaganya." Chanyeol berkata dan mengecek berapa peluru bius yang tersisa di senapannya. "Aku pergi dulu, kalian segera ke rumahku oke."

Chanyeol dan Pak Kim berlari ke pusat kota.

0o0

Kediaman Park.

"Pak Jung." Orang yang merasa memiliki nama itu bergegas masuk ke dalam ruangan.

"Iya Tuan?" Kata orang itu dan membungkuk ke ayah Chanyeol.

"Perasaanku tidak enak, bisakah kau mencari dimana Baekhyun?"

"Ah, Baekhyun ada di apartemen Chanyeol, tuan." –Pak Jung.

"Pergilah ke sana dan jemput dia."

"Baik tuan." Pak Jung membungkuk dan pergi.

0o0

Apartemen Chanyeol.

"Atau kau bisa membiarkanku menggagahimu malam ini, dan aku akan menghilang dari hidupmu selamanya." Baekhyun menutup erat matanya, dia merasa tidak nyaman dengan sentuhan Daemin. "Bagaimana? Ini pilihan yang mudah bukan?"

Pupil Baekhyun membesar saat melihat Daemin yang berada di atasnya. Sedangkan Daemin menyeringai memperlihatkan giginya pada pria ketakutan itu. Tenggorokan Baekhyun kering, tangannya gemetar. Daemin memberinya pilihan. Mati atau menyerahkan harga dirinya. Kedua pilihan itu terdengar buruk bagi Baekhyun.

Penyihir memang memiliki harga diri yang tinggi. Jika orang-orang tahu kalau Daemin menggagahinya padahal dia diberi pilihan, mereka tentu saja tidak ingin menjadi teman/berhubungan dengan Baekhyun lagi. Dan bagaimana kalau Chanyeol mengacuhkannya karena dia tidak bisa menjaga harga dirinya? Memilih itu sangat tidak mungkin bagi Baekhyun.

Tapi Baekhyun tidak ingin mati, Chanyeol dan teman-temannya yang lain menunggunya. Dia tidak boleh mati disini!

"Baekhyun..." Daemin menyebut nama pria yang ditindihnya dengan nada merayu. "Aku tidak suka menunggu."

Baekhyun menelan ludah, dia benar-benar tidak bisa memilih.

Daemin tersenyum, "Baiklah, akan ku pilihkan.." Setelah mengatakannya, Daemin memegang pinggang Baekhyun mencoba untuk membuka celananya. Baekhyun spontan menendang Daemin tepat di perut dengan lututnya. Tendangan itu cukup keras hingga Daemin terguling kesakitan.

Baekhyun berusaha berdiri, tapi reaksi Daemin terlalu cepat. Dia mengekang Baekhyun lagi, kali ini kedua tangan Baekhyun dicengkram di atas kepala Baekhyun, dan kaki Daemin menekan kaki Baekhyun, membuatnya tidak bisa bergerak.

"KALAU KAU BERANI MELAKUKAN ITU LAGI, AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU!" Daemin berkata sambil mencekik Baekhyun lagi.

Nafas Baekhyun tersengal, lehernya benar-benar sakit. Daemin mencekik seolah ingin mematahkan leher Baekhyun. Hampir satu menit Daemin mencekiknya hingga nafas Baekhyun hampir berhenti. Daemin tersenyum melihat Baekhyun hampir meregang nyawanya. Dia akan senang kalau Baekhyun mati dan Chanyeol akan merasakan apa yang dia rasakan selama ini. Tapi bukan itu yang dia inginkan. Dia ingin merampas harga diri Baekhyun sehingga membuat Chanyeol lebih menderita darinya.

Daemin melepaskan cekikannya, Baekhyun spontan menghirup udara sebanyak-banyaknya lagi. Belum selesai Baekhyun menenangkan dirinya, Daemin dengan ganas menciumi lehernya. Baekhyun tidak bisa berbuat apapun, tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan. Hanya air matanya yang keluar, menunjukkan bahwa Baekhyun tidak menginginkan ini.

"C-chanyeol...Ahhh!...Tolong..."

Sejurus kemudian Daemin sudah tidak berada di atasnya. Baekhyun bingung dengan apa yang terjadi. Dia melihat di depan pintu berdiri sesosok pria tinggi besar. Sedangkan Daemin terlempar ke rak buku.

"AKU SUDAH MEMPERINGATKANMU UNTUK TIDAK MENGGANGGU BAEKHYUN!" Pria itu berkata dengan suara lantang.

Daemin mengerang kesakitan, dia rasa ada tulang rusuk yang patah. Kemudian pria tinggi besar itu berjalan mendekati Daemin. Baekhyun mengenal pria itu, dia adalah asisten pribadi Tuan Park. Dia juga pria yang sering dilihat Baekhyun di apartemennya.

"M-maafkan aku Pak Jung..." Suara Daemin terdengar ketakutan. Pria yang bernama Jung itu memegangi tangan Daemin.

*Plethak* "AAAARRRRGGGGHHHHH!" terdengar seperti sesuatu yang dipatahkan disusul oleh teriakan Daemin. Benar saja, Pak Jung mematahkan tulang tangan Daemin. Daemin berpikir dia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya lagi.

(A/N: Kalau seorang guardian tangannya patah, maka kemungkinan besar dia tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi dan menjadi manusia biasa.)

"Ku rasa Tuan Chanyeol sendiri yang akan mengurusmu." Kemudia Pak Jung membekukan air dan membuatnya seperti jeruji berdiameter 10 cm untuk mengurung Daemin. Setelah itu dia membuat bola angin dan melemparkannya ke jendela. Udara dingin dari luar masuk ke dalam, ini akan mencegah jeruji es itu meleleh.

Baekhyun sedari tadi hanya memperhatikan, dia merasa ngeri saat mendengar bunyi patahan tadi. Udara dingin yang tiba-tiba masuk membuat leher Baekhyun nyeri.

"Kau tidak apa-apa Baekhyun?"

Baekhyun mengangguk, "Owww..." tanpa sadar dia membuat lehernya semakin sakit. Pak Jung dengan cepat memeriksa keadaan Baekhyun. Matanya melebar saat melihat bekas cekikan di leher Baekhyun yang mulai menghitam sangat kontras dengan kulit aslinya. Daemin benar-benar serius ingin membunuh Baekhyun.

"Aku harus segera membawamu pulang." Kata Pak Jung.

"T-tapi-"

"Orang itu akan menerima hukumannya nanti." Pak Jung membantu Baekhyun untuk berdiri, dia berhati-hati agar tidak menyakiti pasangan tuan mudanya itu.

"T-tapi Chanyeol-"

"Tidak apa-apa, kami akan memberi tahu Tuan Chanyeol." Kata Pak Jung sambil memapah Baekhyun keluar apartemen menuju mobil yang diparkir di bawah.

0o0

Chanyeol sudah hampir selesai, dia tinggal memiliki 12 peluru bius lagi. Tersisa sekitar 10 musuh lagi yang harus dilumpuhkan. Banyak korban berjatuhan, baik itu penyihir atau guardian terutama yang tidak mendapatkan pelatihan. Ini akan menjadi sejarah.

Chanyeol tiba-tiba berhenti berlari. Dia melihat ada 3 musuh di depannya. Segera dia menyiapkan senjatanya. Mereka menyerang dengan melempar bola api, Chanyeol berhasil menghindar. Dengan sigap dia membalas serangan itu dengan elemen angin. Saat itu juga Pak Kim menembak mereka dengan peluru bius.

Kemudian mereka berlari lagi. 'Baekhyun, tunggulah aku akan segera kembali.' Pikir Chanyeol dan menembak 2 orang musuh lagi.

0o0

Sehun & Luhan, kediaman Park.

"Hyung. Lihat itu Jongin dan Kyungsoo." Kata Sehun saat melihat mereka masuk ke dalam ruang kesehatan. "Huh? Ada apa dengan Kyungsoo?"

Naluri dokter Luhan spontan mendekati mereka. "Apa yang teradi padanya?" tanya Luhan panik.

"Pisau es." Kata Jongin singkat dan menurunkan Kyungsoo dari gendongannya. Sehun mengambilkan peralatan yang diperlukan untuk merawat luka Kyungsoo.

"Kyungsoo, tahan oke. Aku akan membersihkan lukanya dulu." Luhan berkata. Kyungsoo mengangguk, Jongin mengusap tangan Kyungsoo yang tak terluka untuk menenangkannya. Saat kasa yang Luhan gunakan menyentuh lukanya, Kyungsoo menyeringai kesakitan.

"P-pelan-pelan Hyung." Kata Jongin, dia tidak tega melihat Kyungsoo seperti ini. Saat sudah selesai, Luhan mengoleskan bius lokal di sekitar lukanya. Dia mengambil jarum dan benang untuk menjahit luka.

"Jongin, pegangi Kyungsoo. Ini bius lokal, jadi kemungkinan masih terasa."

Jongin memeluk Kyungsoo agar dia tidak melihat apa yang dilakukan Luhan, sehingga dia tidak fokus pada lukanya. "Kyungsoo, lihat ke arahku." Kata Jongin, dan pria yang di peluknya itu melihat ke arahnya.

"Kenapa aku harus melihat ke arah-" Belum selesai Kyungsoo bicara Jongin sudah melahap mulutnya.

Luhan dan Sehun kaget dengan apa yang dilakukan Jongin. Mereka hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan apa yang mereka kerjakan. Setelah membuat 3 jahitan di luka Kyungsoo, Luhan segera menutupnya dengan perban.

"Kalian berdua, hentikan, sudah selesai." Kata Luhan sambil melepas sarung tangannya. Dua sejoli yang asik bercumbu tadi menghentikan aksinya. Mereka cengengesan.

"Hyung..." Kata Sehun, dia menyentuh lengan Luhan berulang kali dengan jari telunjuknya. Saat Luhan menengok ke arahnya, Sehun memasang muka melas.

"Apa yang kau inginkan adik kecil.." Goda Luhan. Sehun memanyunkan bibirnya, dia tidak suka dipanggil 'adik kecil' oleh Luhan.

"Aww..kau lucu sekali." Kata Luhan dan mencium bibir Sehun. "Apa itu yang kau inginkan?"

Sehun mengangguk senang, kemudian dia menunjuk bibirnya. Tandanya dia mau lagi. Tanpa ragu Luhan mencium bibirnya lagi. Kali ini Sehun tidak membiarkan ciuman itu hanya sebentar, dia meraih pinggah Luhan ke dekapannya. Kemudian menghisap bibir Luhan seolah itu adalah permen. Luhan yang tidak bisa bergerak menjauh hanya pasrah dan larut dalam ciuman itu.

"Apa kita harus melakukannya lagi chagi?" Tanya Jongin pada Kyungsoo.

"Jangan sekarang, nanti ruangan ini berubah menjadi tempat bercinta." Kata Kyungsoo dan tertawa, Jongin juga ikut tertawa.

Setelah Sehun dan Luhan selesai, Jongin menceritakan apa yang mereka alami. Tak berapa lama pintu dibuka oleh pelayan dan masuklah Baekhyun yang dipapah oleh Pak Jung.

"Baekhyun!" Mereka berempat sepakat memanggil namanya bersamaan. Pak Jung membaringkan Baekhyun di tempat tidur.

"Apa yang terjadi padamu?" Tanya Kyungsoo sambil memegangi tangannya dan mendekati Baekhyun.

"Tadi aku terpeleset saat menghindar. Kakiku sedikit memar." Baekhyun berkata dan menunjukkan kakinya yang memar.

"Ah, kurasa ini tidak apa-apa." Kata Luhan. "Ini akan hilang dalam 3 hari."

Baekhyun tersenyum dan mengangguk. "Owwww.." Teriak Baekhyun kesakitan. Dia lupa dengan lehernya tadi.

"Huh?" Luhan bingung dengan reaksi Baekhyun. "Biar ku lihat lehermu." Kata Luhan dan menurunkan turtle neck yang dikenakan Baekhyun.

"Astagah!" Kyungsoo berterik saat melihat bekas tangan yang ada di leher Baekhyun. Itu terlihat sangat menyakitkan.

"Apa ini sangat sakit?" Tanya Luhan lagi.

"I-iya..." Kata Baekhyun, dia malu mengatakan itu. Tapi lehernya benar-benar sakit.

"Siapa yang berani melakukan ini padamu?" Tanya Kyungsoo, dia tidak terima sahabatnya terluka seperti ini. Orang ini jelas-jelas ingin membunuh Baekhyun dengan sengaja.

"Daemin, salah satu anggota penghianat." Kata Pak Jung, dia masih disana memastikan bahwa Baekhyun akan baik-baik saja.

"Kejam sekali..." Sahut Jongin.

"Bekas ini biasanya hilang dalam 2 minggu." Kata Luhan, dia merasa kasihan dengan Baekhyun. "Aku berikan obat pengurang sakit oke..."

Kata Luhan, dan mengambil pain killer di rak obatnya.

"Kau harus beristirahat Baek." Kata Luhan. "Kami akan mengantarmu ke kamar."

Mereka berempat mengantar Baekhyun ke kamar Chanyeol. Pak Jung melaporkan keadaan Baekhyun pada Tuan Park.

Baekhyun berbaring. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dia alami hari ini. Dia hampir mati dan hampir saja diperkosa. Dia sangat bersyukur bisa selamat.

Saat hampir terpejam tiba-tiba pintu kamarnya dibuka. Tuan Park masuk, "Tuan Park." Baekhyun berusaha duduk, tanpa sadar dia menyakiti lehernya lagi. "Owwww..."

"Tidak usah duduk Baekhyun. Aku hanya ingin mengecek keadaanmu saja."

"Apakah Anda sudah memberi tahu Chanyeol? Aku takut dia khawatir saat aku tidak ada di apartemennya." Kata Baekhyun masih berusaha untuk duduk, kali ini dia melakukannya dengan hati-hati.

"Dia akan tahu. Kau istirahatlah dulu." Kata Tuan Park mengelus lengan Baekhyun dan berjalan keluar.

0o0

Di pusat kota. Tengah malam.

"Itu yang terakhir." Kata Chanyeol setelah berhasil menembak dua musuh lagi. Dia mendekati Pak Kim.

"Pak Kim, tolong panggil yang lain untuk mengangkut mereka ke penjara. Aku akan menjemput Baekhyun." Katanya dan menyerahkan senjata ke Pak Kim.

"Baik Tuan."

Chanyeol segera masuk mobil dan bergegas ke apartemennya. Saat sampai, dia melihat guardian yang ditugaskan menjaga Baekhyun tadi tergeletak tak bernyawa di samping pintu lift. Chanyeol panik, dia segera naik ke apartemennya.

Saat melihat pintu apartemennya rusak. Jantungnya berdebar kencang. Dia membayangkan hal buruk menimpa Baekhyun. Dia masuk dan melihat Daemin berada di dalam jeruji es.

"Dimana Baekhyun?" Chanyeol bertanya tegas.

Daemin hanya tersenyum sinis. "Jawab aku, bodoh!" Bentak Chanyeol.

Daemin tetap tidak mau menjawab. Chanyeol marah dan menghancurkan jeruji es itu. Serpihannya sempat menyayat pipi Daemin. Chanyeol mencengkram leher Daemin, sama seperti yang dilakukan Daemin pada Baekhyun tadi.

"P-pak Jung." Kata Daemin terbata. Chanyeol segera melemparnya ke rak lagi. Dan mengurungnya dengan jeruji es lagi.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Baekhyun. Tapi kalau aku tahu Baekhyun terluka walaupun hanya sehelai rambutpun. Aku akan kembali dan membuat perhitungan denganmu." Kata Chanyeol geram. Dia masih berpikir apa yang Daemin lakukan pada Baekhyun sampai apartemennya berantakan seperti ini.

Chanyeol bergegas kembali ke kediaman Park. Sesampainya disana dia memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu. Melihat ekspresi Chanyeol pelayan buuru-buru membukakan pintu untuknya.

Sehun dan Luhan ada di ruang tamu. "Sehun, dimana Baekhyun?" Chanyeol dengan tegas bertanya. Sehun agak kaget mendengarnya. Dia belum pernah melihat Chanyeol seperti ini.

"D-dikamarmu," Jawab Sehun, dia masih ngeri dengan ekspresi Chanyeol. Chanyeol berjalan cepat menuju kamarnya. Luhan dan Sehun mengikuti sambil sesekali menenangkan Chanyeol.

"Chanyeol, tenanglah, dia sedang istirahat..." Luhan berkata, dia agak kesulitan mengimbangi langkah Chanyeol.

"Pelan-pelan...aku tidak ingin dia terganggu." Luhan berkata lagi. Dan itu berhasil, Chanyeol berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Dia mengikuti saran Luhan, dengan hati-hati dia membuka pintu, berusaha untuk tidak membuat suara apapun. Kemudian dia menutupnya lagi.

~To be continue~