Chapter 17

Saat Chanyeol masuk, suasana kamar gelap, hanya dua lampu di samping tempat tidur yang menyala. Dia mendekati Baekhyun dan duduk di samping namja mungilnya itu tidur. Dia merasa lega saat melihat Baekhyun tertidur pulas. Dia bisa tenang sekarang, kekasihnya tidak apa-apa.

Kemudian dia meletakkan tangannya di dahi Baekhyun, mengecek suhu tubuh Baekhyun. Suhunya normal. Chanyeol tersenyum, dia membelai rambut namja yang tertidur pulas di ranjangnya.

Dia bersyukur, karena bisa segera kembali. Chanyeol yakin ayahnya sudah mengurus para penghianat itu. Chanyeol masih belum mengerti kenapa tim keamanan yang dibentuk tidak bisa mengamankan pusat kota. Seharusnya mereka bisa meminimalkan adanya korban. Tapi sejauh yang Chanyeol lihat tadi, cukup banyak korban yang berjatuhan. Meski kebanyakan dari mereka adalah para penghianat itu. Serangan hari ini tidak boleh terulang lagi. Chanyeol tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi. Dia tidak ingin ada penghianat lagi.

Chanyeol menghela nafas saat melihat wajah pulas Baekhyun. Dia seharusnya tidak memikirkan hal itu. Sekarang, yang jadi tujuan utama Chanyeol adalah menjaga dan memastikan Baekhyun tetap aman. Dia menarik selimut Baekhyun lebih ke atas, supaya kekasihnya tidak merasa dingin.

Saat itu dia menyadari ada lebam di leher Baekhyun, tidak bagitu terlihat karena Baekhyun mengenakan turtle neck, tapi cukup jelas untuk membuat Chanyeol menurunkan turtle neck Baekhyun dengan hati-hati.

Mata Chanyeol terbelalak seolah dia melihat kejadian horor di depannya. Dia menatapnya dan mulai merasakan kemarahan dalam dirinya. Dia melihat luka lebam berbentuk tangan yang cukup besar menutupi lebih dari setengah leher Baekhyun. Siapapun bisa menebak, orang yang melakukan ini tentunya sangat bernafsu untuk membunuh Baekhyun.

Dalam sekejap dia menyadari siapa yang melakukan ini. Orang itu pasti akan menerima balasan dari Chanyeol.

Baekhyun membuat suara rengekan dan mengerutkan alisnya. Tangannya spontan menarik selimut sampai ke lehernya, menutupi lebam di lehernya. Chanyeol membiarkannya dan melepaskan turtle neck Baekhyun yang dia tarik tadi.

Tangan Chanyeol mengepal saat mengingat lebam di leher Baekhyun. Tidak ada kata-kata yang mempu menjelaskan kemarahannya. Daemin. Chanyeol ingin membunuhnya.

Chanyeol mencium dahi Baekhyun, kemudian dia pergi keluar. Menutup pintu dengan hati-hati, dan bergegas turun ke dapur. Mencari jus atau apapun untuk bisa mengembalikan energinya. Berlarian dan berkelahi dengan para penghianat tadi cukup menguras energi.

Kyungsoo dan Jongin melihat bingung ke arahnya. Mereka yang sedari tadi di dapur tidak berani berkata apapun. Chanyeol mengambil sekotak jus dan meneguknya sampai habis.

Saat Chanyeol akan pergi, "C-chanyeol, kau mau kemana?" tanya Jongin. Dia benar-benar takut akan membuat Chanyeol semakin marah. Tapi dia harus menanyakan hal itu.

Kyungsoo paham dengan apa yang terjadi. Chanyeol pasti sudah mengetahui luka lebam itu. Dia kemudian menarik lengan Jongin untuk tetap duduk dan membiarkan Chanyeol pergi. Sebenarnya Kyungsoo juga ingin ikut dan menghajar orang itu, tapi itu tidak mungkin dengan kondisi lengan seperti ini.

Saat Chanyeol melewati ruang tamu. Sehun dan Luhan juga paham dengan apa yang akan dilakukan Chanyeol.

"Chanyeol, biarkan aku ikut." Celetuk Sehun. Chanyeol berhenti dan menatapnya.

"Tidak." Katanya. "Aku akan membunuhnya sendiri."

Mendengar itu Sehun dan Luhan bergidik. Chanyeol sangat mengerikan saat marah. Kemudian Chanyeol keluar dan pergi menggunakan mobilnya. Suara mesin dipacu terdengar sangat jelas saat Park muda itu keluar dari kediamannya. Menembus udara malam yang sangat dingin.

0o0

Apartemen Chanyeol

Daemin menatap ke luar jendela, salju masih turun di luar. Dia tidak bisa menggerakkan tangannya, rasanya seperti kebas karena tulang tangannya yang patah tadi dan hawa dingin yang masuk dari kaca jendela yang dipecahkan Pak Jung. Dia menghela nafas dan mencoba untuk memecahkan jeruji es dengan kakinya, tapi itu sia-sia. Pada akhirnya dia hanya duduk bersandar di tembok. Daemin menutup matanya sebentar, seharusnya dia tidur. Walaupun dia tahu tidak ada yang akan datang menjemputnya atau mengobati tulang tangannya yang patah.

Tiba-tiba dia merasakan sebuah bola angin dengan kekuatan besar dilempar ke arahnya, kaca jendela di belakangnya pecah karena bola angin itu dan serpihan jeruji es melayang cepat dan menghantam tubuhnya. Dia tersungkur ke lantai.

"Harusnya kau jadi anak baik dan tidur dirumah!"

Dia merasakan darah segar mengalir dari dada dan wajahnya karena serpihan jeruji es tadi. Perlahan dia menengok ke atas mencoba mencari dimana Chanyeol, dia memejamkan satu matanya karena sakit yang dia rasakan. Rasa sakitnya bertambah saat kaki Chanyeol menekan wajahnya ke lantai.

"Sepertinya kau senang menyakiti milikku..."

Daemin tidak berkata apapun, dia tahu bahwa Chanyeol tahu yang dilakukannya pada Baekhyun. Luka lebam di leher Baekhyun tentunya masih membekas, dan sangat mudah untuk dilihat.

Daemin mematung saat merasakan pedang dingin di lehernya (pedang katana es), pedang itu ditekan ke kulit leher Daemin.

"Kau sepertinya sangat menikmati saat mencekik leher kekasihku dengan tanganmu, bukan begitu Jong Daemin?"

Daemin meringis saat pedang itu menggores kulit lehernya yang sensitif hingga berdarah. Perlahan Daemin tersenyum, lagi pula dia akan mati. Lebih baik bersenang-senang selagi dia bisa.

"Ya, aku benar-benar menikmati mencengkram lehernya yang mulus." Daemin berkata dan tersenyum palsu.

Chanyeol agak terkejut dengan ucapan Daemin. Dia menekan kakinya lebih kuat, membuat wajah Daemin terhimpit dia antara kakinya dan lantai yang dingin. Chanyeol tidak ingin Daemin berkata apapun. Dia hanya ingin Daemin mati.

"Aku suka pada saat dia hampir berhenti bernafas."

Dalam waktu sepersekian detik Chanyeol menendang tubuh Daemin, shingga Daemin sekarang dalam posisi terlentang. Katana es tetap berada di lehernya. Dia bisa melihat wajah namja itu penuh kemarahan. Chanyeol menekan kakinya ke lengan Daemin yang patah.

"Kalau kau berani berbicara pada Baekhyunku, aku akan-"

"Membunuhku?" Daemin memotong perkataan Chanyeol dan tersenyum palsu. "Harusnya kau sudah melakukannya, tapi kau terlalu pengecut untuk melakukan it-"

Belum selesai Daemin berkata Chanyeol menginjak lengan Daemin yang patah tadi sekuat tenaga. Daemin menjerit kesakitan. Dia belum pernah merasakan sakit yang seperti ini seumur hidupnya. Seluruh tubuhnya sakit, tulang lengannya yang patah tadi seolah menjerit meminta untuk segera diobati.

"Aku suka saat mendengar jeritanmu, seolah kau memohon untuk kematianmu." Chanyeol berkata, dia bisa membalas rasa sakit yang dialami Baekhyun.

Daemin menatap marah ke arah Chanyeol dan duduk, dia mencengkram baju Chanyeol pada bagian pinggang dengan tangan kirinya. "Aku harap kekasihmu itu mati.."

Daemin tidak sempat menjerit saat Chanyeol mengangkat lutut dengan cepat dan menghantam dagu Daemin. Membuat tulang rahangnya patah dan darah keluar dari mulutnya.

"Aku sudah muak mendengar omong kosongmu.."

Daemin mendengar Chanyeol berbisik, dan saat itu dia merasakan lagi katana dingin di lehernya. Dia melihat mendongak dan bisa melihat mata Chanyeol penuh dengan aura membunuh.

Chanyeol hampir menarik katananya dan membuat pembuluh arteri di leher Daemin putus saat seseorang masuk ke apartemennya.

"CHANYEOL HENTIKAN!"

Merasa aksinya untuk membunuh Daemin diganggu, Chanyeol menengok ke arah orang yang menyela itu. Tuan Park agak bergidik saat melihat anaknya memiliki aura membunuh sekuat ini.

"Cukup nak, dia sudah merasakan rasa sakit yang Baekhyun rasakan."

Chanyeol menurunkan katananya.

"Jangan membunuh seseorang, jangan sampai kau menyesal suatu saat nanti. Dia akan mendapatkan hukuman atas tindakannya."

Chanyeol menarik nafas dalam, dia menenangkan dirinya. Apa yang dikatakan ayahnya memang benar, dia adalah pewaris selanjutnya, dia harus belajar bersikap tenang dan adil.

"Aku mengerti ayah." Setelah mengatakan itu, katana Chanyeol meleleh berubah menjadi air lagi. Tak lama beberapa orang termasuk Sehun datang. Dia mengajak Chanyeol untuk pulang ke rumah. sementara Daemin dibawa ke penjara untuk menerima hukumannya.

0o0

Pagi harinya, Baekhyun merasa dirinya dalam dekapan seseorang. Saat dia membuka matanya dia melihat Chanyeol yang mendekapnya. Dia tidak tahu sejak kapan Chanyeol tidur di sampingnya. Dia melihat wajah Chanyeol dengan cermat. Dia merasa nyaman saat melihat wajah Chanyeol yang tertidur.

"Kau sudah bangun.." Kata Chanyeol dan membuka matanya, sepertinya Chanyeol tidak tidur.

"Emm..." gumam Baekhyun.

Chanyeol menarik turtel neck Baekhyun ke bawah, memperlihatkan bekas cekikan Daemin. Dia mengelus-elus leher Baekhyun.

"Aku tahu, ini pasti sangat sakit." Chanyeol berkata dan masih mengelus luka lebam itu.

"Tidak.."

"Jangan bohong padaku Baek.." Chanyeol melepaskan dekapannya dan mengecup leher Baekhyun. "I know it hurts alot."

"I'm sorry.."

"Kenapa kau minta maaf Yeolie?"

"Aku tidak bisa menjagamu." Kata Chanyeol. Baekhyun melihat air mata Chanyeol mengalir.

"Tidak, tidak, tidak...jangan menangis Yeolie." Baekhyun mengusap air mata Chanyeol dengan jemarinya yang mungil. "Ini bukan salahmu, lagi pula sekarang aku baik-baik saja." Baekhyun tersenyum manis.

"I love you.." Katanya dan mengecup bibir Baekhyun.

"I love you too.." Baekhyun balik mengecup bibi Chanyeol. Kemudian dia bangun dari tempat tidur.

"Kau mau makan sesuatu?" Dia berjalan ke pintu dan membukanya.

"Emmm..." Baekhyun bangun mengikuti Chanyeol keluar.

~To be continue~

Short chapter before Last chapter, are you excited reader-nim? kkkkkkk,