Last Chapter
A/N: Ini adalah chapter terakhir. Aku sudah memikirkannya berulang kali, apa aku harus membuat ini menjadi mpreg (male pregnant). Karena kalau tidak, maka Chanyeol tidak bisa mewariskan tahtanya. Jadi aku memutuskan untuk membuat Baekhyun hamil (karena penyihir pria bisa hamil/ hanya kaum penyihir saja/ bukan manusia biasa). Kalau reader-nim tidak menyukainya, tidak perlu repot-repot membaca sampai akhir.
WARNING! Ada beberapa smut di chapter ini.
Lima tahun kemudian.
Chanyeol buru-buru kembali ke rumahnya setelah rapat dengan kepala kedua kelompok yang berseteru di distrik Busan karena masalah wilayah tanam. Baru kemarin dia menikah, hari ini sudah disibukkan dengan pertemuan-pertemuan yang sebenarnya memang penting karena sudah diagendakan jauh-jauh hari.
Ya, Chanyeol akhirnya menikah dengan Baekhyun. Ayah Chanyeol memutuskan untuk segera mewariskan tahta pada anaknya itu. Ini membuat Chanyeol cukup sibuk.
"Selamat malam tuan." Sapa salah seorang penjaga yang membukakan pintu untuk raja muda itu.
"Selamat malam Pak Lee, dimana Baekhyun?" Sapa Chanyeol ramah.
"Di kamar, tuan."
"Baiklah, terimakasih Pak Lee." Kata Chanyeol dan bergegas menuju kamarnya. Pak Lee menunduk dan tersenyum melihat Chanyeol yang sumringah.
Chanyeol cukup lelah setelah perjalanan jauh. Tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa senang yang menyelimuti hatinya. Saat Chanyeol masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya, matanya langsung tertuju pada Baekhyun yang sedang merapikan tempat tidur mereka.
Mereka baru saja pindah kamar, karena kamar Chanyeol yang sebelumnya dirasa kurang besar untuk berdua. Baekhyun seharian memberesi kamar itu bersama dengan beberapa orang pelayan.
Hari ini adalah hari dimana akhirnya mereka berdua bisa melakukan sex... Ayah Chanyeol tidak mengijinkan anaknya berhubungan sex sampai mereka menikah. Tentu saja Chanyeol sering berciuman, mandi bersama, dan meninggalkan beberapa bekas kemerahan di leher Baekhyun, tapi mereka tidak pernah melakukan sesuatu 'dibawah sana'.
Oleh karenanya, Chanyeol sangat gembira kali ini untuk 'menyenangkan' Baekhyun dan dirinya sendiri.
Baekhyun berusaha untuk tersenyum, walaupun sebenarnya dia merasa sangat grogi. Seolah perutnya dikocok naik-turun. Dia menginginkan ini, juga untuk menyenangkan Chanyeol, tapi rasanya sangat nervous. Chanyeol menyadari perubahan aura Baekhyun itu.
Chanyeol melepas jas yang ia kenakan dan menaruhnya di atas meja kecil. Kemudian dia menghampiri Baekhyun yang berdiri di pinggir tempat tidur, menatap dengan senyuman.
"Kau kembali lebih awal.." Kata Baekhyun. Chanyeol hanya mengiyakan kemudian memeluk Baekhyun erat, menghirup aroma tubuhnya yang manis. Dia mengisap beberapa titik di leher Baekhyun, membuat Baekhyun menutup matanya dan mendesah pelan. "Bagaimana keputusannya Yeol..mmnnh?" Baekhyun bertanya di sela desahannya.
Chanyeol mempererat pelukannya di sekitar pinggul Baekhyun dan perlahan mendorongnya untuk berbaring di ranjang. Dia berhenti melakukan kiss mark di leher Baekhyun dan berkata "Mereka harus mau berbagi. Kalau tidak aku akan memberikan wilayah itu ke kelompok lain."
Baekhyun mengangguk. "Ku rasa itu juga keputusan yang tepat." Dia baru sadar kalau Chanyeol sudah berada di atasnya (hovering). Kemudian saat Chanyeol hampir melanjutkan aktivitas di lehernya lagi, Baekhyun menahan dada Chanyeol dengan tangannya. Baekhyun memalingkan wajahnya, dia terlihat malu, ada semburat pink di pipinya. "T-tidakkah sebaiknya kita makan dulu Yeollie?"
Chanyeol mengedipkan kedua matanya dua kali, kemudian dia menggeleng, senyum terlukis di bibirnya. Dia menyisir rambut Baekhyun yang lembut dengan jari tangan kananya. "Sebaiknya kita makan setelah ini. Aku tidak ingin besok pagi kau muntah Baek..." Chanyeol mengecup dahi Baekhyun. "Kau akan baik-baik saja, aku janji akan mencoba pelan-pelan."
"Baiklah-" Kata Baekhyun memandangi sosok namja di atasnya. Wajahnya bersemu kemerahan membayangkan apa yang akan mereka lakukan saat ini. Chanyeol menyentuh paha Baekhyun pelan, membuat Baekhyun merinding karena sentuhan lembut itu.
"I love you so much.." Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun, dan mengecup lehernya. Dia melakukannya dengan sangat pelan, seolah menikmati setiap inchi kulit leher Baekhyun. Sebenarnya Chanyeol ingin langsung menelanjangi Baekhyun, tapi ini masih pertama kali, jadi harus pelan-pelan.
Baekhyun menutup matanya, merasakan setiap kecupan lembut Chanyeol di lehernya sambil berkata "I love you too..."
Chanyeol tersenyum dan meraup bibir Baekhyun dalam kecupan. Ini memang bukan hal baru bagi mereka. Awalnya hanya ciuman biasa sampai Baekhyun membuka mulutnya dan Chanyeol menjadi agak 'liar'. Baekhyun mendesah pelan dan merangkulkan tangannya di leher Chanyeol, membawanya menyelam lebih jauh di dalam ciuman itu. Chanyeol mengerang pelan, ingin mendominasi, membuat ciuman itu kini berubah menjadi panas dan penuh nafsu. Tangannya menjelajahi setiap jengkal kulit Baekhyun yang bisa dia temukan.
Mereka melepas ciuman itu untuk bernafas. Baekhyun sudah terengah-engah, pikirannya melayang saat Chanyeol menggerayangi tubuhnya dengan cinta. "Buka kakimu Baek.." Chanyeol berkata cukup keras di telinga Baekhyun saat melihat reaksi Baekhyun tadi.
A/N: HARDCORE YAOI. Kalau kalian tidak suka, jangan dibaca ya..WARNING!
Baekhyun mematuhi perintah pasangannya itu, dan Chanyeol menempatkan tubuhnya diantara kaki Baekhyun. Dia mendesah saat Chanyeol mengisap lehernya seolah ingin membuat darah keluar dari pori-pori kulit Baekhyun, kiss mark ini tentunya akan bertahan beberapa hari kedepan.
"C-chan..." Baekhyun khawatir kalau lehernya akan berdarah karena saking kuatnya isapan Chanyeol.
"Dont worry..I wouldn't dare to hurt you my dear little puppy." Dia menyisir rambut Baekhyun dengan jari tangannya. Baekhyun merasa dirinya tersinggung, "Aku sudah memberi tahumu untuk tidak memanggilku seperti itu."
Chanyeol mengangkat alisnya dan memutuskan untuk menggoda Baekhyun. "Bagaimana kalau my adorable puppy?" Katanya dan memasukkan tangannya di dalam baju Baekhyun. Wajah Baekhyun memerah saat Chanyeol melepaskan bajunya dan membuang baju itu ke lantai, membuat Baekhyun setengah telanjang.
Chanyeol menggigit bibirnya pelan saat melihat tubuh Baekhyun. Cara Baekhyun memalingkan wajahnya karena malu. Cara tubuhnya gemetar dibawah Chanyeol. Chanyeol sangat ingin merasakan tubuh itu. Dia tidak akan membiarkan siapapun melakukan hal ini pada Baekhyun.
Chanyeol membuka kancing kemejanya pelan-pelan, kemudian dia melepas celana Baekhyun dan celananya. Chanyeol sangat menginginkan Baekhyun, dan Baekhyun pun sangat menginginkan Chanyeol.
Wajah Baekhyun tidak bisa menahan untuk tersipu malu. Dia telanjang berbaring dibawah tubuh Chanyeol yang juga tidak mengenakan sehelai pakaian pun. Mereka belum pernah melakukan ini, tapi Chanyeol tahu apa yang harus dilakukan. Chanyeol sudah berulang kali melihat tubuh telanjang Baekhyun, dan begitu pula sebaliknya. Tapi entah kenapa Baekhyun sangat malu saat ini.
Chanyeol sudah melumuri Baekhyun dan mereka siap melakukannya. Chanyeol meletakkan kaki Baekhyun di pinggangnya dan melihat Baekhyun yang mengangguk, mengijinkan Chanyeol untuk melakukannya.
Baekhyun bergerenyit saat dia merasakan ujung organ Chanyeol memasukkinya. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, dan menguncinya di atas kepala Baekhyun. Tidak ada kesempatan untuk mundur sekarang.
Baekhyun tidak menduga air matanya mengalir keluar saat merasakan Chanyeol masuk dalam satu kali hentakkan. "-shit!" dia mendengar Chanyeol mendengus seolah terkejut sekaligus senang. "Shit, I am sorry bae." Chanyeol mencium dagu Baekhyun saat Baekhyun berusaha menahan agar air matanya tidak mengalir keluar lagi. Baekhyun merasa 'penuh' dan juga sakit karena organ besar nan panas yang memasukinya.
Nafas Chanyeol semakin kuat saat dia berusaha masuk ke dalam tubuh Baekhyun yang notabene jauh lebih kecil. Besok pagi dijamin Baekhyun tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu. Baekhyun terlalu ketat, meremas penis Chanyeol di bagian yang tepat. Dinding Baekhyun yang panas mengelilingi organnya, membuatnya mengerang cukup keras.
Setelah beberapa saat, Baekhyun mengangguk, memberikan sinyal pada Chanyeol untuk lanjut seraya menggigit bibirnya bersiap untuk rasa sakit yang akan muncul lagi. Chanyeol menarik keluar sedikit dan mulai memasukkannya lagi. Dia mendengus lebih saat merasakan betapa ketatnya lubang Baekhyun. Baekhyun mengerang pada setiap dorongan masuk, tapi lama kelamaan dia terbiasa dengan invasi benda asing yang cukup besar itu.
"Shit-" Chanyeol mengerang saat merasakan keketatan di sekitar organnya, membuatnya masuk lebih dalam ke lubang yang basah itu. Kaki Baekhyun menekan kuat pinggang Chanyeol saat organ besar itu menyakiti lubangnya yang ketat. "C-chan!" Baekhyun menjerit, sementara Chanyeol terus memaksa masuk.
"Baek- fuck!" Chanyeol mengerang saat dia dengan kasar memaksa untuk terus masuk ke dalam tubuh namja mungil itu.
"Ngggghhhh you're too deep Yeol-ahh." Baekhyun merengek karena Chanyeol terus saja masuk ke lubang itu. Dia menyukai suara erotis yang Baekhyun ciptakan.
Chanyeol berhenti dan keluar dari lubang itu. Mendengarkan suara nafas Baekhyun yang lega saat organ itu ditarik keluar. Dia melebarkan kaki Baekhyun dengan pinggangnya dan mengambil lube yang berada di sampingnya. Kemudia mengeluarkan sebagian isinya dan mengoleskannya ke lubang Baekhyun dan penisnya.
Chanyeol memutuskan untuk menggoda Baekhyun lagi.
"Katakan.." Chanyeol menampar pantat Baekhyun dan meninggalkan bekas kemerahan di sana, Baekhyun melepaskan erangan. Organnya yang sudah ereksi mengelus paha dalam Baekhyun dan membuat Baekhyun mendesah saat ujung organ itu meraba pelan di gerbang lubang Baekhyun.
"Katakan seberapa besar kau menginginkanku masuk."
Baekhyun mengerang lagi dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Chanyeol, tapi itu percuma. "P-please.." Baekhyun merengek, dia menginginkan untuk segera dimasuki lagi.
Chanyeol tersenyum dan menampar pantat Baekhyun lagi. Sebenarnya Chanyeol sudah dalam batasnya. "Please apa Baek? Bisakah lebih spesifik?"
Baekhyun merasakan air matanya mulai mengalir lagi. Dia tidak pernah mengira rasanya akan memuaskan saat organ Chanyeol berada di dalamnya. "Please..I want your cock deep inside of me!"
"Tidak sulit kan mengatakan hal itu? Kau tinggal bilang apa yang kau mau, dan aku akan memberikannya."Chanyeol memegangi pangkal organnya dengan satu tangan dan tangan yang lain membuka jalan masih ke lubang Baekhyun.
Baekhyun menggigit bibirnya dan mendesah saat Chanyeol benar-benar masuk. Spontan otot dinding Baekhyun mengencang, dan meremas organ Chanyeol, membuat Chanyeol mendesah. Chanyeol menarik sedikit dan memasukkannya lagi lebih cepat dan kuat. Saat Chanyeol tepat mengenai prostatnya, tubuh Baekhyun melengkung kesenangan.
"Ngghhhhh Chanyeol!" Baekhyun terus mengerang saat Chanyeol terus menyakiti lubang kecilnya dengan sesuatu yang besar tanpa ampun. Penis Baekhyun yang hampir ereksi bergerak maju mundur seirama dengan gerakan yang menarik perhatian Chanyeol. Kemudian Chanyeol meremas penis Baekhyun dan merasakan organ itu akan segera orgasme.
Untuk pertama kalinya, malam itu Baekhyun menjerit karena kenikmatan yang dirasakannya. Chanyeol terus menyerangnya dengan tumbukan tanpa ampun, dan caranya meremas organ namja itu membuat Baekhyun berada di puncaknya. "Chanyeol! I am c-clo-"
Baekhyun mendesah lagi saat Chanyeol mempercepat tumbukkannya di titik yang sama seperti tadi. "Shit, I am close too.." Chanyeol mendengus saat dia juga merasakan fase orgasmenya dimulai.
"Chanyeol! Ughhh! Aku tidak bisa menahannya lagi!" Baekhyun mengerang saat mencapai pucak fase itu, penisnya mengeluarkan cairan putih kental di tangan Chanyeol, membuat Chanyeol melambat tapi tidak berhenti.
"Enngggghhh.." Chanyeol mendesah pelan ketika melihat pemandangan erotis itu. Beberapa saat kemudian Chanyeol mengerang keras saat melakukan tumbukan terakhir dan mengeluarkan spermanya di dalam lubang Baekhyun, membuat Baekhyun mendesah pelan saat cairan panas itu menyebar di dalamnya.
Chanyeol terengah-engah seraya menarik keluar organnya dari Baekhyun. Spermanya yang berlebih ikut mengalir keluar dan membasahi sprei dibawahnya. Dia berbaring di samping Baekhyun dan memeluknya.
"I-I Lo-ve y-ou.."
"I L-love you t-too.."
Nafas Baekhyun terengah, matanya tertutup, karena dia merasakan lelah setelah orgasme tadi, lubangnya terasa sangat sakit, dan rasanya seperti Chanyeol masih menumbuknya. Baekhyun merasa ngantuk, kelopak matanya mulai meutup "Shhhh..." Chanyeol berdesis dan mengelus rambut Baekhyun pelan. Kemudian Chanyeol berkata.
"Tidurlah.."
.
.
0o0
.
.
Beberapa minggu kemudian.
Baekhyun terbangun karena merasakan mual, dia melihat jam, masih pukul 5 pagi. Rasa mual yang dialami Baekhyun selalu terjadi sekitar pukul 5 atau 6 pagi. Baekhyun merasa sangat terganggu karena dia tidak akan bisa melakukan hal lain seperti melanjutkan tidur atau bersiap untuk pergi kerja.
Baekhyun bangun dan pergi ke kamar mandi, dia menutup mulutnya untuk menekan rasa mual. Dia berhasil sampai di dalam toilet dan memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Suara yang dibuat Baekhyun karena muntah dan batuk membuat Chanyeol bangun. Sesaat setelah muntah Baekhyun melihat Chanyeol sudah berdiri di ambang pintu toilet. Namja itu terlihat lelah sekaligus khawatir. Chanyeol menghela nafas.
"Baekhyun, ku rasa lebih baik kita ke dokter. Ini sudah berlangsung selama satu minggu." Baekhyun muntah lagi kemudian merebahkan dahinya di pinggir closet duduk. Chanyeol berlutut di sampingnya dan mengelus punggung Baekhyun, dia berharap bisa membuat Baekhyun merasa lebih nyaman.
Baekhyun selesai kemudian berkumur, dia kembali ke kamar. Chanyeol memeluk Baekhyun dari belakang, dia menciumi kepala Baekhyun. "Ayolah, kita ke dokter ya. Aku sangat khawatir Baek. Atau kita ke tempat Luhan hyung ya.."
"Aku tidak mau Chan, aku yakin akan baik-baik saja." Baekhyun menyandahkan kepalanya di bahu Chanyeol.
Chanyeol mulai gemas dengan Baekhyun yang selalu menolak untuk cek kesehatan. "Kalau besok kau masih muntah seperti ini. Aku akan memanggil Luhan kemari."
"Baiklah." Setelah mengatakan itu, Baekhyun dan Chanyeol tidur lagi untuk beberapa saat sebelum mereka memulai aktivitas hari itu.
.
.
0o0
.
.
A/N: WARNING! M-Preg!
Chanyeol pergi untuk rapat dengan kepala klan. Baekhyun pergi untuk bertemu dengan karyawannya, membicarakan menu baru yang akan ditambah di restoran miliknya dan Kyungsoo. Saat perjalan pulang ke rumah dia mampir ke swalayan untuk membeli beberapa snack atau ice cream. Dia berhenti saat melihat pregnancy test. Dia tahu kalau penyihir pria juga bisa hamil. Ini adalah keistimewaan yang dimiliki kaum penyihir.
"Kurasa aku akan mencobanya." Gumam Baekhyun pada dirinya sendiri. Dia mengambil satu dan segera membayar di kasir.
Sesampainya di rumah, Baekhyun mengambil pregnancy test yang dibelinya tadi dan pergi ke kamar mandi.
.
.
0o0
.
.
"Baekhyun, aku pulang.." Kata Chanyeol saat dia membuka pintu, berharap Baekhyun ada di rumah. Saat melihat Pak Lee, kepala penjaga di kediaman Park lewat. "Pak Lee, apa Baekhyun sudah pulang?"
"Ya tuan, tuan Baekhyun ada di kamar."
"Ah, terimakasih.." Kata Chanyeol dan berjalan menuju kamarnya. Dia membuka pintu dan mendengar isakkan dari dalam kamar mandi.
"Baekhyun? Kau baik-baik saja sayang?" Chanyeol mengetuk pintu kamar mandi. Tidak mendengar jawaban, Chanyeol membuka pintunya yang ternyata tidak dikunci. Dia melihat pipi Baekhyun basah oleh air mata. "Baekhyun, honey, what's wrong?" Chanyeol berlutut di depan kekasihnya itu, kemudian mengelus poni Baekhyun yang menutupi dahinya.
"Chanyeol, aku tahu kenapa aku selalu muntah akhir-akhir ini." Baekhyun tersenyum dan akhirnya memandang wajah suaminya yang terlihat bingung.
"What is it then?" Chanyeol mengamati Baekhyun dengan seksama, menanti apa yang akan diucapkan namja di hadapannya.
"Park Chanyeol, I-I'm pregnant." Baekhyun berhasil mengatakannya walaupun dia masih terisak.
Apa yang baru saja dikatakan Baekhyun langsung membuat Chanyeol terkejut sekaligus senang. Dia tersenyum dan memeluk erat sosok namja di depannya.
"That's great honey. Aku sangat senang, thank you, thank you so much." Chanyeol terus menghujani Baekhyun dengan ciuman. "I love you.."
Baekhyun tersenyum senang dengan reaksi Chanyeol. "I love you too."
"Kita akan ke tempat Luhan besok pagi oke.." Kata Chanyeol dan Baekhyun mengangguk. Chanyeol memeluknya untuk terakhir kali sebelum mereka ke dapur untuk membuat makan malam.
.
.
0o0
.
.
Trimester Awal
"Mnnnhh...Chanyeol."
"That feel good?" Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun. Baekhyun mengangguk, merasakan kenyamanan yang diberikan Chanyeol. "Ada hal lain yang kau inginkan?" Chanyeol berkata dan mencium leher Baekhyun.
"Lakukan itu terus.." Jawab Baekhyun.
"As you wish my dear husband." Chanyeol melanjutkan apa yang dia lakukan tadi, mengusapkan tangannya di perut Baekhyun yang berbaring di tepi tempat tidur.
Sejak mengetahui kehamilannya, Baekhyun sering merasakan kram perut. Awalnya ini membuat Chanyeol khawatir, tapi setelah Baekhyun bertanya pada Luhan, dan Luhan mengatakan kalau hal itu wajar di bulan pertama, Chanyeol merasa lega. Baekhyun tidak diijinkan meminum obat apapun untuk menghilangkan rasa nyeri yang dia alami. Chanyeol merasa kasihan pada Baekhyun, karena harus tetap berbaring dalam posisi tertentu untuk membuatnya nyaman, sakit kepala yang membuat Baekhyun memijat pelipisnya, dan rasa mual yang masih mengganggunya. Lalu terkadang kelelahan yang membuat Chanyeol khawatir.
Baru saja kemarin, Baekhyun pingsan saat membantu Kyungsoo untuk pindah rumah (Karena Kyungsoo dan Jongin baru menikah, kemudian mereka pindah di apartemen mereka sendiri). Beruntung Kyungsoo sigap dan menahan Baekhyun agar tidak ambruk ke lantai. Kyungsoo langsung meminta Baekhyun untuk istirahat dan tidak melakukan aktivitas apapun saat Baekhyun siuman.
Mood swing karena perubahan hormon juga dialami Baekhyun. Dia bisa tiba-tiba kesal tanpa alasan yang jelas, atau mudah marah pada Chanyeol, hanya pada Chanyeol, tapi dalam seketika dia menjadi manja, atau sebaliknya. Bahkan dia bisa menjadi sangat sensitif dan menangis. Saat itu terjadi Chanyeol tetap tenang dan bersabar, dia mengerti apa yang harus dan tidak dilakukan.
Saat Chanyeol ada di rumah, dia akan menyuruh Baekhyun untuk tidur siang, hal ini membuat Baekhyun pouting dan terus melakukan apa yang dia kerjakan, seperti membaca buku, atau memikirkan inovasi baru untuk restorannya. Segera saat Chanyeol menyadari Baekhyun sering menguap dan menempelkan kepalanya di meja, dia akan menggendong Baekhyun dan membaringkannya di tempat tidur, dia terus disana sampai Baekhyun tidur.
Tapi saat Chanyeol tidak ada di rumah, dia akan meminta Pak Lee untuk mengingatkan Baekhyun tidur siang. Jika Baekhyun sedang berada di restorannya, tanpa diminta, Kyungsoo akan mengingatkan Baekhyun.
Terkadang Baekhyun mengeluh tentang celananya yang semakin sempit, atau kaki dan punggungnya sakit. Sesekali Chanyeol menggodanya dengan mengatakan bahwa Baekhyun berubah menjadi drama queen. Baekhyun akan kesal dan tidak ingin berbicara dengan Chanyeol untuk beberapa saat.
"Chanyeol.."
"Hemm?"
"Aku lapar." Apa yang dikatakan Baekhyun membuat Chanyeol tersenyum dan mencium kening namja itu.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke dapur." Kata Chanyeol, Baekhyun mendengus karena harus beranjak dari posisi nyamannya ini. Chanyeol mengiris beberapa macam buah dan coklat pasta kali ini. Terkadang dia menyiapkan tuna rebus, atau makanan lainnya. Luhan menyarankan untuk makan sedikit tapi sering, lebih bervariasi, dan bergizi.
.
.
0o0
.
.
Trimester Dua
Chanyeol sering kali mengajak Baekhyun untuk berjalan ke taman, mereka harus berhenti dan istirahat karena Baekhyun mudah lelah dan kehabisan nafas. Beruntung mood swing Baekhyun sudah berkurang, dan nafsu makannya juga bertambah. Dia merasa lebih nyaman karena morning sickness nya sudah hilang. Walaupun terkadang dia masih mengeluhkan rasa nyeri di pinggang dan kakinya.
Chanyeol juga mendatangkan pelatih yoga khusus untuk Baekhyun di rumah, meski harus dengan pengawasan yang ketat.
Hari ini Baekhyun dan Chanyeol menemui Luhan yang memang dokter obsgen, mereka ingin melihat sejauh mana perkembangan janinnya. Luhan langsung menyambut Chanyeol dan Baekhyun. Dia meminta Baekhyun untuk berbaring dan mengangkat bajunya. Chanyeol tetap berada di sampingnya.
Asiten Luhan mengoleskan lubricant di perut Baekhyun, kemudian memasang alat USGnya. Chanyeol terbelalak saat mendengar sesuatu.
"Itu adalah suara detak jantungnya." Kata Luhan dan tersenyum ke arah Chanyeol.
"That's amazing.." Kata Chanyeol dan langung mengecup dahi Baekhyun. Ini hal baru bagi mereka, dan mereka sangat senang. Setelah selesai, mereka berdua berterimakasih. Tidak lupa mereka meminta foto USGnya.
Bulan ke lima.
Baekhyun, Kyungsoo, dan Luhan sedang melihat suami mereka berlatih. Sehun dan Jongin melawan Chanyeol.
Luhan dan Kyungsoo tertawa saat Jongin tidak sengaja melempar bola angin ke arah yang lain, membuat dedaunan di pohon itu rontok. Sementara Baekhyun meletakkan tangannya di perutnya yang mulai membesar, dia berpikir, apa yang akan terjadi saat bayi mereka lahir. Baekhyun mendengar pengalaman dari beberapa orang bahwa mereka tidak akan bisa tidur nyenyak beberapa bulan. Dia juga berpikir apa jenis kelamin dari anaknya, walaupun kebanyakan penyihir pria yang hamil memiliki anak laki-laki, tapi bukan tidak mungkin kalau Baekhyun bisa memiliki anak perempuan.
Khayalannya terganggu oleh rasa tidak nyaman di perutnya. Rasa sakit mulai terasa lebih intens dan Baekhyun tidak bisa menahannya sehingga dia meringis kesakitan. Kyungsoo dan Luhan yang menyadari hal itu langsung melihat keadaan Baekhyun. Menarik perhatian Chanyeol, Sehun, dan Kyungsoo untuk buru-buru mendekat.
Chanyeol berlutut di depan Baekhyun. "Baek, what's happening? Tell me what's wrong." Chanyeol berusaha untuk tenang, sementara Luhan mengecek apa ada tanda-tanda kontraksi, tapi dia tidak menemukannya.
"Aku tidak tahu, tapi ini sakit sekali." Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol kuat-kuat, berusaha untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Hey, tenanglah." Kata Chanyeol dan mengelus tangan kekasihnya itu. "Luhan?"
"Ku rasa ini bukan kontraksi." Luhan meraba perut Baekhyun.
Baekhyun terus menggenggam tangan Chanyeol lebih kuat lagi, air matanya mulai mengalir. Dan tiba-tiba rasa sakit itu hilang. Baekhyun sangat khawatir sesuatu terjadi pada bayinya. Luhan terkejut kemudian tersenyum.
"Luhan, apa yang terjadi?" Tanya Chanyeol, Baekhyun yang sedari tadi memeganggi perutnya merasakan sesuatu yang aneh.
"Kemarikan tanganmu." Kata Luhan dan menempatkan tangan Chanyeol di sisi yang sama dengan yang dia pegang tadi. Sesuatu menendang telapak tangan Chanyeol. Chanyeol tidak percaya dengan yang dirasakannya dan melihat ke Baekhyun, Chanyeol tertawa kecil. Sehun, Jongin, dan Kyungsoo bingung dengan reaksi Chanyeol.
"The baby just kick my hand." Kata Chanyeol, dia berusaha untuk tidak terlalu emosional. Baekhyun tersenyum, walaupun setiap kali bayi itu menendang dia merasakan sakit, tapi dia akan terbiasa.
Sehun, Jongin, dan Kyungsoo bergantian merasakannya.
"Aku senang kau mulai aktif, baby Park." Kata Kyungsoo. Chanyeol, Sehun, dan Jongin kembali berlatih.
.
.
0o0
.
.
Trimester Akhir
Bulan ke delapan.
Baekhyun dan Chanyeol sedang libur hari ini. Baekhyun memilih beberapa perlengkapan bayi secara online, dan Chanyeol sibuk membaca beberapa dokumen. Baekhyun merasakan tendangan di perutnya kemudian dia meletakkan tangannya di sana. Chanyeol menyadari hal itu dan tersenyum, dia mendekati kekasihnya dan meletakkan tangannya yang besar kemudian mencium perut Baekhyun.
"Hey baby boy, kau berhasil membuat ibumu merengek lagi." Chanyeol berbicara pada anaknya yang masih di dalam kandungan.
"Jangan ajari mereka memanggilku ibu Chanie...Kenapa kau memuji mereka saat menendang? Ini sa-"
"Sakit, aku tahu." Chanyeol menyela sebelum Baekhyun menyelesaikan kalimatnya. "Maaf ya sayang.." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun.
"I love you Park Chanyeol.."
"I love you too Byun Baekhyun."
Tiba-tiba Baekhyun merasakan rasa sakit yang tidak biasanya, perutnya seolah menegang, dan itu sakit sekali.
"Baekhyun? Are you alright?"
"Chanyeol, kurasa ini saatnya." Baekhyun merasakan rasa sakitnya meningkat dua kali lipat. Dia mengambil nafas dalam dan mencoba untuk tetap tenang, tapi sebenarnya dia panik.
"W-what?! Oke oke..Aku akan memanggil Luhan."
"PARK CHANYEOL! TIDAK ADA WAKTU LAGI. KITA HARUS PERGI SEKARANG!" Baekhyun berteriak saking sakitnya, membuat Chanyeol panik dan meminta bantuan Pak Lee serta penjaga yang lain.
Mereka berhasil membawa Baekhyun ke rumah sakit. Chanyeol menunggu dengan cemas, dia menelfon Luhan dan memberitahunya. Apa yang akan terjadi? Apakah bayinya dan Baekhyun akan baik-baik saja? Kenapa sunyi sekali.
Sampai seorang perawat keluar dan membungkuk pada Chanyeol. "Tuan.."
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Chanyeol, sangat jelas terdengar dia panik. Para penjaga yang sedari tadi ikut menunggu pun ikut cemas.
"Ya tuan, semuanya baik-baik saja. Dokter mengatakan itu hanya kontraksi palsu." Kata perawat itu.
"Bisakah aku masuk?" Tanya Chanyeol, dan perawat itu mempersilakannya.
Chanyeol melihat Baekhyun tiduran di bed dan seorang dokter berbicara dengannya.
"Tuan Park, saya baru saja memberi tahu suami Anda tentang apa yang terjadi." Dokter itu membungkuk dan tersenyum.
"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol.
"Singkatnya itu hanya kontraksi palsu Tuan, putra Anda sehat, dan tuan Baekhyun juga sehat. Tapi saya menyarankan agar tuan Baekhyun tidak banyak bergerak sampai saat melahirkan tiba."
"Jadi maksud Anda saya harus bed rest?" tanya Baekhyun, dia terlihat sangat kelelahan.
"Ya tuan.." Dokter itu berbicara beberapa hal sebelum Chanyeol dan Baekhyun pergi.
Sesampainya di rumah Chanyeol membawa Baekhyun ke kamarnya untuk ganti baju dan istirahat. Dia menyelimuti Baekhyun dan mengusap perutnya. Janinnya menendang sebagai respon balasan untuk Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas. "Ku rasa aku harus menyiapkan semuanya dirumah saja, supaya kita tidak panik lagi seperti ini."
Baekhyun mengangguk, "Aku juga akan meminta Luhan dan Kyungsoo untuk menemanimu di rumah."
"Baiklah.." Kata Baekhyun.
"Sekarang tidurlah, kau membutuhkannya." Chanyeol mengecup kening Baekhyun. Baekhyun tersenyum, beberapa saat kemudian dia tertidur.
.
.
0o0
.
.
Labor
Ini adalah akhir tahun, dan salju turun cukup lebat. Udara sangat dingin. Saat kandungan Baekhyun memasuki bulan ke 9, Chanyeol meminta Luhan untuk cuti dan 'memboyong' semua peralatan beserta pekerjanya ke kediaman Park. Kyungsoo, Jongin, dan Sehun juga diminta untuk tinggal di rumahnya sampai Baekhyun melahirkan.
Sehun dan Chanyeol harus pergi ke luar kota untuk melakukan negosiasi penting. Dia terpaksa harus pergi, walaupun dia tidak menginginkannya. Sementara Jongin berada di ruang tamu, dia sedang mengurusi masalah keamanan sementara Chanyeol pergi. Sehun dan Jongin adalah orang kepercayaan Chanyeol. Luhan berada di ruangannya, Kyungsoo dan Baekhyun berada di dapur membuat makanan.
"Apa aku terlihat seperti badut, Soo?" Tanya Baekhyun sambil mengelus perutnya. Dia sudah kesulitan untuk berjalan, pinggang dan tungkainya sangat sakit. Kadang Baekhyun merendam kakinya dengan air hangat.
"Tentu saja tidak, kau terlihat mengagumkan." Kata Kyungsoo sambil terus memotong daging. Kali ini dia akan memasak bulgogi.
"kkkkkk, Chanyeol selalu mengatakan itu." Baekhyun terkekeh. "Kau juga akan mengalami semua ini Soo.."
Kyungsoo tersenyum. "Sebenarnya Baek.." Kyungsoo memelankan suaranya, dan Baekhyun memasang telinga. "Aku hamil."
"Wa! Benarkah? Selamat Soo.." Baekhyun berdiri dan perlahan mendekati sahabatnya, dia memeluknya, walaupun agak sesulitan karena perutnya menghalangi. "Tapi aku tidak melihatmu mual, atau hal-hal seperti aku dulu."
Kyungsoo tertawa "Aku juga tidak tahu, morning sickness ku tidak terlalu mengganggu, dan badanku nyaman-nyaman saja. Sepertinya setiap orang berbeda."
"Hemm...mungkin kau benar. Tapi tenanglah, aku akan membantumu melewati semua ini. Kkkkkk-" Baekhyun tiba-tiba berhenti dan berpegangan pada meja dapur dia merasakan kontraksi yang sangat kuat. Kyungsoo melihatnya dan buru-buru memegang pundak Baekhyun, mencegahnya supaya tidak terjatuh.
Baekhyun menahan rasa sakitnya dan berusaha tenang, tapi rasa sakit itu semakin kuat, berlipat-lipat kali lebih sakit dari yang pernah dia alami. Dia tidak bisa menahan untuk tidak mengerang kesakitan.
"Baekhyun..Tenanglah, sebentar, JONGIN! LUHAN!" Kyungsoo berteriak, dalam waktu beberapa detik saja Jongin sudah ada di dapur dan segera membantu Kyungsoo membawa Baekhyun ke ruangan kerja Luhan, dimana semua sudah dipersiapkan.
"J-jangan khawatir, kita hampir sampai." Kyungsoo berkata, Baekhyun terus menarik nafas dalam.
Luhan yang mendengar teriakan Kyungsoo langsung membuka pintu, saat itu dia melihat Baekhyun dipapah oleh Jongin dan Kyungsoo. Baekhyun terlihat sangat kesakitan.
Luhan meminta mereka untuk membaringkan Baekhyun di bed. Dan semua perawat sibuk mempersiapkan alat yang diperlukan.
"Tenang, tenang, jangan mengejan sebelum aku menyuruhmu oke." Kata Luhan, Baekhyun mengangguk sambil terus mengatur nafasnya. Kemudian perawat membantu Baekhyun untuk mengganti pakaiannya. Luhan mencuci tangan dan mengenakan sarung tangan steril, kemudian dia mengecek seberapa jauh pembukaannya. Dia terbelalak kaget karena itu sudah pembukaan 10, tapi ketubannya belum pecah.
.
0o0
.
Chanyeol's POV
Aku mengetukkan pena saat para kepala suku mengutarakan apa yang berhasil diraih masih-masing sukunya.
Aku sangat tidak senang dengan rapat kali ini, mereka selalu berdebat kekurangan ini itu, sementara kalau mereka mau berbagi, tentunya semuanya akan tercukupi. Baekhyunku sedang hamil besar, dan dia bisa melahirkan sewaktu-waktu. Walaupun aku sudah meminta Jongin dan semuanya untuk berjaga, tapi aku ingin ada di sampingnya saat dia melahirkan. Memegang tangannya, atau melakukan apapun untuk membuatnya tenang. Aku tahu kalau melahirkan itu sangat sakit.
"Tuan..Tuan Park.." Salah satu kepala suku memanggil namaku.
"Ada apa?" Aku tersadar dari lamunanku. Sehun menatap ke arahku. Dia tahu aku sedang khawatir.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu Tuan?" Dia bertanya lagi.
"Tidak, aku hanya kurang fokus. Lanjutkan." Aku berkata, dan mereka melanjutkan pembicaraanya. Aku berusaha mendengarkan.
Beberapa menit berlalu, mereka masih debat dan aku sudah merasa gemas. "Ahm.." Aku berdeham, mereka diam dan melihat ke arahku. "Begini, masing-masing suku menghasilkan kebutuhan yang berbeda-beda bukan? Dan kalian membutuhkan hasil dari masing-masing. Berdebat dan mementingkan gengsi bukanlah hal yang baik. Kita ini satu kesatuan, suplai kebutuhan satu sama lain. Itu keputusanku."
Semuanya masih terdiam, "B-baiklah Tuan." Kata salah satu dari mereka dan diikuti yang lain.
"Bagus, aku anak pergi sekarang. Aku percaya pada kalian, kalian pasti bisa." Kataku berdiri dan pergi keluar. Sehun mengikutiku.
Aku keluar menuju loby. Rumahku 2 jam perjalanan jauhnya dari sini. Tiba-tiba Sehun berkata.
"Chanyeol, aku baru saja mendapat telfon dari Jongin, bahwa Baekhyun siap melahirkan sekarang."
Mataku terbelalak, Baekhyun melahirkan? "Sekarang?" aku mengulang perkataannya.
"Ya SEKARANG!" Katanya dan buru-buru memanggil Pak Nam, menyuruhnya untuk segera menyiapkan mobil.
Beberapa menit kemudian Pak Nam datang, kami bergegas masuk. Sehun menelfon Jongin lagi. "Jongin? Bagaimana Baekhyun sekarang?" aku bertanya saat Sehun memberikan telfonnya kepadaku.
"Dia masih di dalam, dia baik baik saja. Tapi tadi dia sangat kesakitan. Luhan sedang menolongnya sekarang." Suara Jongin gemetar.
"Chanyeol, ku rasa kita tidak akan sampai tepat waktu. Maafkan aku." Sehun berkata.
Aku menghela nafas pelan, "Ini bukan salahmu." Aku berusaha untuk tenang. "Pak Nam, bisakah kau lebih cepat?"
"Tentu saja Tuan."
Tunggulah Baek, aku akan segera pulang.
.
0o0
.
Author's POV
"AAHHHHHH" Baekhyun mengerang kesakitan, dia tidak bisa menahannya lagi. Luhan belum menyuruhnya untuk mengejan. Sangat sulit untuk menahannya.
"Baekhyun.." Luhan terus mengecek monitor kontraksi, sedikit lagi ini akan siap.
"Aku tidak mengejan. Aku tidak mengejan. Aku ti- LUHAAAANNNN!"
Saat mengecek monitor dan menunjukkan kontraksi penuh, Luhan memecah ketuban Baekhyun "Oke Baekhyun, PUSH!"
Seketika itu juga Baekhyun mengejan bersamaan dengan kontraksi penuh. "Oke, tarik nafas..pelan pelan. Kita mulai lagi. PUSH!"
Baekhyun sudah belajar cara mengejan yang benar, dan dia melakukannya dengan baik. "Sedikit lagi, tarik nafas...PUSH BAEK!"
Kepala bayi itu sudah keluar, "You're great! Sekarang atur nafasmu pelan." Luhan membiarkannya rotasi eksternal, itu artinya bahu bayi sudah turun. Kemudian, perlahan Luhan memeganggi kepala dan bahu, melakukan ekspulsi (kepala dan bahu diangkat ke atas tulang pubis, tubuh bayi dilahirkan dengan gerakan fleksi lateral searah simphisis pubis) dan menyelusuri punggu bayi. Akhirnya bayi dilahirkan dengan sempurna.
Luhan melakukan suction di hidung bayi, seketika bayi itu menangis. Baekhyun meneteskan air mata, dia tidak percaya dia benar-benar memiliki seorang anak. Perawat memnyelimuti bayi itu dan mengeringkan amnion yang masih tersisa, Luhan menjepit tali pusatnya, kemudian memotongnya.
Perawat itu memberikan bayi laki-laki itu pada Baekhyun, "Aww..my baby." Katanya dan tersenyum senang. Sementara Luhan mengeluarkan plasenta. Dia mengecek tidak ada plasenta yang tertinggal, karena semua kotiledonnya tetap utuh. Kemudian perawatnya membantu membersihkan area persalinan.
.
0o0
.
Satu jam kemudian.
Luhan's POV
"Chanyeol belum datang?" Aku tidak percaya, dia tidak disini saat suaminya melahirkan. Aku harus menghukumnya. Walaupun dia ada urusan penting, tapi dia tidak disini saat Baekhyun melahirkan.
Aku masuk ke dalam ruanganku dan melihat keadaan Baekhyun. Keadaannya stabil, dan bayinya sangat menggemaskan. "Tolong pindahkan Baekhyun ke kamarku." Aku meminta mereka untuk membantuku memindahkan Baekhyun.
"Eh? Kenapa? Kita harus menunggu Chanyeol, hyung." Baekhyun protes.
"Tidak, aku memutuskan untuk melarangnya bertemu denganmu, atau bayimu sampai besok pagi."
"Tapi kenapa? Tidak masalah bagiku Chanyeol ada disini atau tidak."
"Dia harus dihukum sedikit, karena tidak ada bersamamu."
"Tapi hyung.."
"Sudahlah, jangan khawatir."
Aku berkata agak memaksa, dan dia mengangguk pasrah.
.
0o0
.
Author's POV
Akhirnya setetah 3 jam perjalanan Chanyeol sampai di rumahnya. Ini karena salju, membuat Pak Nam lebih berhati-hati dalam berkendara.
Chanyeol dan Sehun buru-buru masuk ke dalam, disana dia melihat Luhan, Kyungsoo, dan Jongin duduk di ruang tamu. Luhan meneguk teh dengan tenang.
Chanyeol's POV
"Jadi, dimana Baekhyun? Apa dia baik-baik saja? Bisa kau mengantarkanku kepadanya? Bagaimana anakku? Aku ingin bertemu dengannya. Apa dia di ruang-"
"Diamlah!" Luhan berteriak. Aku bergidik, Luhan sangat mengerikan kalau marah. Walaupun aku lebih kuat darinya, tapi aku tidak ingin membuatnya marah.
Dia menghela nafas. "Aku menghukummu untuk tidak bertemu dengan mereka sampai besok pagi. Kau paham?"
Mataku terbelalak, Sehun pun tidak bisa menahan untuk membuka lebar mulutnya.
"Tidak bisa! Kau tidak bisa melarangku untuk bertemu dengan suami dan anakku!" Aku berkata dengan nada tinggi. Yang lain terlihat ngeri mendengarnya, tapi Luhan tidak, dia meneguk tehnya lagi.
"Yeah, aku bisa melarangmu, karena kau tidak ada disampingnya. Selain itu dia berada di kamarku sekarang. Kau ingat terakhir kalinya kau masuk ke kamarku?" Kata Luhan.
Aku ingat waktu itu saat sedang mencari Sehun dan membuka kamar Luhan tanpa ijin. Aku tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Pelayan yang membersihkan kamarnya pun harus meminta ijin dulu.
"Tapi, karena kau ayahnya, aku akan memberitahumu sesuatu. Kau memiliki anak laki-laki yang sehat dan menggemaskan."
Tanpa sadar aku tersenyum. Aku sekarang menjadi seorang ayah.
"Kalau begitu biarkan aku bertemu Baekhyun."
"Tidak Chanyeol, kau akan bertemu dengan mereka besok pagi. Lagi pula, Baekhyun membutuhkan waktu sendiri dengan anaknya."
Aku mendengus. "Baiklah, besok pagi." Kataku dan pergi ke kamarku. Aku meneteskan air mata karena aku tidak bisa menemui mereka. Baekhyun, tunggulah..
.
0o0
.
Luhan masuk ke kamarnya dengan sebotol susu dan makanan untuk Baekhyun.
"Ini Baek, susu untuk little cutie baby boy.." Kata Luhan dan mengelus pipi bayi itu.
"Terimakasih hyung, bagaimana Chanyeol?"
"Dia bisa memahaminya. Baiklah, aku pergi dulu." Kata Luhan dan mengecek infus Baekhyun kemudian pergi.
Baekhyun masih tidak percaya Luhan mengijinkannya untuk tidur di kamarnya. Kemudian dia memberikan susu untuk anaknya. "Nama apa yang cocok ya?"
Beberapa jam berlalu. Chanyeol tidak bisa tidur, dia memutuskan untuk keluar dan menghampiri Baekhyun. Walaupun dia tidak akan berani membuka pintu, tapi setidaknya dia bisa memastikan kalau Baekhyun dan bayinya dalam keadaan baik.
Chanyeol diberi tahu bahwa Luhan tidur dengan Kyungsoo. Jongin dan Sehun tidur di ruang tamu.
Chanyeol mengetuk pintu kamar Luhan, dimana sekarang Baekhyun berada.
"Baekhyun.."
Dia menunggu beberapa saat sampai Baekhyun menjawabnya. "Ya sayang?" Kata Baekhyun, dia juga tidak bisa tidur.
"Bagaimana kedaanmu?" tanya Chanyeol.
"Aku baik-baik saja."
"Maafkan aku Baek, aku tidak bisa bersamamu tadi." Chanyeol semakin menempelkan dirinya ke pintu.
"Tidak apa Yeolie..Aku mengerti. Apa kau sudah mendapatkan nama untuk anak kita?" Tanya Baekhyun.
"Belum, tapi aku akan memberitahumu besok pagi saat kita bertemu. Bagaimana bayi kita?"
"Dia masih tertidur, sesekali aku harus membangunkannya untuk memberinya susu. Dia sangat imut Yeolie.."
"Benarkah? Aku tidak sabar bertemu dengannya."
"Bersabarlah, tingga beberapa jam lagi." Kata Baekhyun.
"Baiklah, kau istirahatlah Baek. I love you."
"I love you too.."
Setelah mendengarnya Chanyeol kembali ke kamarnya. Dia mulai memikirkan nama yang tepat.
.
0o0
.
Matahari menampakkan sinarnya, Chanyeol bergegas bangun, berganti baju dan pergi ke kamar Kyungsoo.
"Luhan hyung! Luhan!" Chanyeol mengetuk keras pintu berwarna putih itu.
Terdengar suara orang menggeram dan kunci kamar terbuka. "Chanyeol, ini masih sangat pagi." Luhan berkata masih menutup matanya.
"Tapi ini sudah pagi bukan? Ayo hyung!"
"Ah kau ini.." Luhan mengambil kunci kamarnya dan berjalan bersama Chanyeol menuju tempat dimana Baekhyun berada.
Dia memasukkan kunci dan memutarnya, pintu seketika terbuka. Chanyeol melihat sekeliling, pandangannya jatuh pada sosok pria mungil yang masih tertidur bersama anaknya.
Chanyeol terus menatapnya, mereka terlihat begitu tenang dan damai. Chanyeol mendekati mereka dan mengecup kening Baekhyun, membuat Baekhyun terbangun.
"Chanyeol?" Dia berucap senang. Chanyeol mencium bibirnya.
"Hey, i am here, chagi." Chanyeol berkata pelan, tapi tetap saja suara Chanyeol yang berat itu membangunkan bayi mungil itu.
Chanyeol melihat anaknya. Dia memiliki wajah Baekhyun. Tidak ada lingkaran cakra di matanya, itu berarti dia adalah seorang guardian.
"Baekhyun, anak kita sangat mengaumkan. Terimakasih, terimakasih..I love you." Kata Chanyeol dan mencium Baekhyun lagi.
"I love you too..bagaimana dengan namanya?" tanya Baekhyun.
Chanyeol menutup matanya, dia memikirkan sesuatu. Kemudian menggendong dan mengecup dahi bayi laki-laki itu.
"Aegi, ini ayahmu. Aku bisa merasakan kau akan jadi pemimpin yang hebat kelak. Kau juga harus sebaik appamu oke..we love you. PARK TAEHYUNG."
0o0...END...0o0
A/N: Seperti yang ku katakan di atas tadi. Ini adalah chapter terakhir. terimaksih buat semua reader-nim yang bersedia menunggu, mereview, atau hal yang lain. Maaf kalau endingnya kurang berkenan. Terimakasih lagi, I love you all..
