Disclaimer : Masashi Kishimoto
Story by : Aeon Nyx
Warning : Ooc, many typo, alur gaje
Don't like, Don't read
Chapter 1
~*Make It Be Neverland*~
Chapter 1: Pertemuan YangMenentukan Segalanya
Sore yang indah di kota Uzushio.
Segerombolan anak kecil yang tengah asyik bermain ditaman, sepasang muda mudi yang sedang bermesraan dibawah rindangnya pohon, dan ada pula sebuah keluarga yang melakukan piknik. Sungguh pemandangan yang indah dan harmonis.
Tapi tidak bagi satu anak adam ini.
Dengan wajah lesu dan peluh bercucuran dari pelipisnya, dia berjalan beriringan dengan motornya.
"Ck, kenapa harus bocor segala sih!" Gerutunya sambil sesekali menghela nafas frustasi.
Kenapa ban motornya bisa bocor? Coba kita mundur ke beberapa waktu yang lalu,
Flashback
Dengan perasaan yang masih sangat teramat jengkel, Naruto kembali kemotornya.
"Andai aku bisa meledakkan tempat itu sekarang," ucapnya sambil menoleh kearah pangkalan militer. Tapi dia juga sadar bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin dilakukannya. Orang itu benar, dia bukan siapa-siapa.
"Haaahh.."
Entah sudah yang keberapa kalinya ia menghela nafas. Dan dengan keputus asaannya, diapun memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu.
BRUUMMM
Naruto mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, kalau saja sekarang ada polisi lalu lintas yang sedang patroli, dia pasti sudah kena tilang.
"Dasar penjahat, bedebah, perebut hak orang, semua orang dewasa memang selalu egois. Aarkkh… menyebalkan!" sumpah serapah dan gerutuanpun meluncur mulus dari mulutnya. Masih dengan perasaan amburadulnya, Naruto semakin menambah laju motornya. Dia sangat tidak fokus saat ini, sampai-sampai dia tidak menyadari ada seekor kucing yang sedang menyebrang jalan.
"Eh?! Uwaahhh! Awas!"
CKIIIIIIT!
Dengan reflek Naruto menekan remnya hingga menimbulkan suara berdecit yang tercipta berkat gesekkan ban dan aspal. Tapi kelihatannya itu tidak berpengaruh banyak. Motornya masih melaju kencang, memang kelihatannya mustahil untuk membuatnya berhenti dengan jarak kurang dari 2 meter!
Dengan keadaan panik, Naruto akhirnya membuat satu keputusan. Dia tidak mungkin merenggut nyawa seekor kucing yang tidak berdosa itu.
CKIIITTTT
Dan dengan satu sentakkan, Naruto membanting kemudi motornya kearah kiri, 'Sedikit benturan sepertinya bukan masalah besar bagiku, daripada aku harus mencabut nyawa kucing itu,' batinnya.
Tapi naas, dia terlalu naïf.
Di depan sana terlihat segundukan batu yang cukup tinggi dan runcing. Wajah Naruto berubah menjadi pucat pasi dengan mata terbelalak.
"Aku akan mati," ucapnya pasrah. Dan-
BRAAKK!
Benturanpun tak terelakkan.
Naruto dan motornya bertahan beberapa saat di udara sebelum akhirnya kembali mengikuti hukum gravitasi 'jatuh'.
BRAAKKK
BRUUK SRAK SRAK SRAK
"ARRGGHH!" jerit Naruto saat dirinya berbenturan dengan daratan,
"Arghh… aduduh sakit sekali…. Are? Eh? A-aku masih hidup?" tanyanya pada diri sendiri. Beruntung nasib Naruto lebih baik ketimbang motornya yang harus bertubrukkan dengan aspal, dia jatuh kesemak-semak yang pastinya beralaskan tanah.
Dengan perlahan tapi pasti, dia mulai berdiri. Sejenak dia menoleh kearah kanan guna melihat keadaan kucing tadi, tapi kucing itu sudah tidak ada disana. 'mungkin sudah lari ketakutan,' pikirnya. Pandangannya sekarang beralih ke direksi motornya, dan seketika itu juga urat wajahnya kembali menegang. Berjalan tertatih kearah motornya yang malang. Penyok dimana-dimana dan ban yang bocor akibat benturan dengan batu tadi.
"Oh tidak! Motorku!"
Flashback end
"Haah.."
Kini Naruto telah sampai dirumahnya. Memarkirkan motornya digarasi, mengambil skyboardnya lalu masuk kedalam rumah.
"Tadaima,"
"Oho, okae- eh? Ada apa dengan penampilanmu? Apa yang sudah terjadi?" tanya seorang pria berambut putih dan memiliki garis merah diwajahnya yang merupakan kakek dari Naruto a.k.a Jiraiya.
"Ceritanya panjang ero-jiji, dan aku sedang tidak mood untuk menceritakannya." jawab Naruto dengan nada malas,
"Sudah kubilang berapa kali, jangan panggil aku mesum! Aku hanya sedang melakukan penelitian untuk novel terbaruku tahu!"
"Bukankah itu lebih parah?" jawab Naruto sarkastik, mengingat betapa kelewat mesumnya sang kakek yang selalu mengintip para wanita yang sedang mandi di pemandian umum setiap kali dia ingin menulis novel baru.
"Ahh.. sudah lupakan saja. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi aku tahu sesuatu yang bisa membuatmu kembali ceria hehem," ucap Jiraiya dengan gaya noraknnya.
"Aku tidak perduli." Ujar Naruto dan melanjutkan perjalanannya menuju lantai 2 dimana kamarnya berada,
"Hehe.. kau boleh bilang begitu, tapi tidak setelah….. JENG JENG! Lihat ini, mie ramen special and limited edition!" ucapnya lantang bak seorang spg yang sedang promosi.
Walaupun norak, tapi sepertinya itu berhasil menyita perhatian Naruto.
"Hahaha.. bagaimana? Kau tertarik bukan? Ini kudapat setelah berdesak-desakkan selama dua jam! Tapi, seperti yang kau lihat, aku berhasil, mendapatkannya," jelas Jiraiya dengan bangga,
Sedangkan Naruto?
Dia dari tadi masih setia menatapi bungkus ramen itu, di satu sisi dia sangat menginginkannya. Siapa yang tidak tergiur oleh ramen yang hanya diproduksi setiap satu darsawasa sekali dan hanya diproduksi 100 bungkus? Dan konon rasanya akan tetap terasa dilidah sampai 3 hari! Oke, itu berlebihan. Tapi memang begitulah kenyataannya. Soal rasa? Jangan ditanya lagi, kau akan kecanduan hanya dengan mencicipi satu sendok kuahnya saja. Benar-benar ramen yang sangat epic baddas!
Tapi, disisi lain, ego ABG Naruto melarang keras. Masa dari tadi cemberut, sok-sok dingin langsung berubah ceria karena ramen super dahsyat itu. Mau ditaruh dimana harga dirinya?
'Ambil, jangan, ambil, jangan, ambil, jangan, ambil….. arghh! Aku benci dilemma!' batin Naruto berkecambuk.
"Bagaimana? Ayolah ambil saja, tidak perlu malu-malu. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa selain rasa lapar dan penyesalan jika kau gengsi begitu," cibir Jiraiya
Twice!
Perempatan siku-siku muncul didahi Naruto, merasa kesal dengan cibiran Jiraiya. Tangannya mengepal siap untuk mendaratkan satu sampai tiga pukulan di wajah mesum kakeknya itu, kalau saja dia sedang tidak memasang image acuhnya saat ini.
"Sudah kubilang aku tidak perduli! Aku sedang tidak mood untuk segala hal saat ini!" ucap Naruto (baca: bentak) dan langsung berlari menuju kamar.
"Are?" Jiraiya speechless sendiri mendengar penuturan Naruto barusan.
"Ada apa dengan anak itu? Ini benar-benar kejadian yang sangat langka. Pasti ada sesuatu yang membuatnya menjadi sangat jengkel," tutur Jiraiya sambil memasang pose layaknya orang berfikir.
"Lalu apa yang harus kulakukan dengan ramen ini ya?" tanya Jiraiya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku taruh saja didalam lemari makan lah, nanti kalau dia sudah adem juga pasti akan dimakan." Ucap Jiraiya sambil berjalan menuju lemari makanan dan menaruh mie ramen itu didalamnya.
BLAMMM!
"Mungkin dia sedang pms?" pertanyaan bodoh pun keluar dari mulut Jiraiya saat mendengar suara debaman pintu dari kamar Naruto. Mana mungkin laki-laki pms?
"Cih, dasar orang tua menyebalkan," rutuk Naruto sembari menghempaskan tubuhnya keatas kasur. Dan memandangi skyboardnya yang berada di tangannya.
"Bagaimana ini? Sekarang satu-satunya tempat latihankku telah diambil alih oleh para keparat itu. Hilang sudah semua hal menyenangkan dalam hidupku," Naruto kemudian bangun dari posisi tidurnya, berjalan kemeja belajar dan menaruh skyboard itu ketempat semula ia mengambilnya.
Berjalan gontai kearah kasur dan langsung menjatuhkan diri diatasnya.
"Mungkin tidur akan membuatku lebih baik," ujarnya, hari ini ia benar-benar merasa lelah. Dan perlahan-lahan kelopak mata itu mulai sayu sampai akhirnya kesadarannyapun hilang. Dia tertidur.
"Jadi seperti yang kita semua ketahui bahwa- "
Saat ini Naruto sedang berada dikelas dan mendengarkan ceramah gurunya yang dianggapnya sangat membosankan. Alih-alih mendengarkan, ia malah menopang kepalanya dengan satu tangan dan melihat segerombolan awan diluar jendela.
"Sejarah asal muasal Chakra. Seperti yang kalian ketahui, 20 tahun yang lalu, 4 asteroid menghujam bumi dari 4 penjuru mata angin. Tapi karena terkikis oleh atmosfer, maka asteroid itupun terpecah dan pecahannya menyebar keseluruh bumi. Dan pecahan terbesar jatuh dikota Uzushio kita ini. Para peneliti dan ahli fisika terus mempelajari tentang asteroid tersebut. Sampai setengah tahun melakukan penelitian yang tidak membuahkan hasil, orang-orang kita dikejutkan oleh sebuah fenomena yang terjadi ditempat jatuhnya asteroid itu. Sebuah pohon besar tumbuh menjulang kelangit yang kita kenal sebagai 'pohon inti'. Dan sejak saat itu, berita-berita tentang kemunculan pohon inti pun terus terdengar dari seluruh penjuru dunia. Para pemerintah akhirnya menetapkan area disekitar pohon inti berbahaya dan harus terisolasi dari masyarakat. Tapi, setahun kemudian seorang genius lulusan terbaik militer bernama Namikaze Minato, menemukan potensi dari pohon inti yang dia deklarasikan dalam rapat pemerintah.
'Menurut apa yang saya pelajari, pohon inti mempunyai semacam serbuk bunga yang terurai di udara akibat hembusan angin. Dan dengan seiring berjalannya waktu, serbuk ini mencoba beradaptasi dengan oksigen yang biasa kita hirup sehingga menimbulkan sebuah perpaduan magnetic dan menciptakan atmosfernya sendiri, yang saya namai dengan 'chakra'. Dan si chakra inilah yang bisa kita jadikan sebagai sumberdaya baru. Coba bayangkan sebuah bahan bakar yang tidak merusak lingkungan dengan sumber yang bahkan tidak terbatas. Pasti ini akan menjadi alternative yang paling sempurna untuk masa depan kita semua.'
"Begitulah isi deklarasinya. Dan sejak saat itu perkembangan teknologi berkembang sangat pesat. Mulai dari pesawat bertenaga chakra, mobil, motor, dan kendaraan lain yang berbahan bakar chakra. Dan karena hal itu, Namikaze Minato dikenal dengan sebutan Pahlawan. Dan kebetulan sekali, anak dari sang pahlawan adalah salah satu teman sekelas kita yaitu Namikaze Naruto.
Semua mata sontak beralih kearah Naruto, sedangkan dia yang merasa namanya disebut hanya bisa tersenyum lima jari andalannya sambil menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal.
"Nah Naruto, sensei harap kamu bisa menjadi seperti ayahmu," ucap sang sensei yang hanya di balas dengan tawa ringan dari Naruto.
'Dasar, seenaknya saja dia memutuskan,' gerutunya dalam hati.
"Akan tetapi, sebuah tragedi merenggut nyawanya. Tragedi yang kita kenang dengan nama 'Scary Day' telah merenggut sebagian nyawa penduduk kota Uzushio hanya dalam waktu satu malam. Tragedi itu terjadi 8 tahhun setelah deklarasinya, yang disebabkan oleh suatu mahluk. Mereka, Vandale. Monster yang tiba-tiba saja bermunculan keluar dari pohon inti dan merusak semua yang ada dihadapannya termasuk tempat penelitian Namikaze Minato yang berada paling dekat dengan pohon inti. Butuh waktu 8 jam bagi pasukan militer untuk membasmi mereka semua dengan kerugian nyawa yang tidak sedikit. Setelah militer berhasil membasmi mereka semua, evakuasi korban tragedipun dilakukan, termasuk pencarian sang pahlawan. Tapi nihil, walaupun sudah dicari keseluruh area, Namikaze Minato tak kunjung ditemukan. Dan dengan begitu Namikaze Minatopun dinyatakan menjadi salah satu korban meninggal tragedy scary day." Jelas sang sensei dengan nada lirih kemudian melihat kearah Naruto yang ternyata sedang tertunduk sedih.
"E-eh? etto, Maaf Naruto, bukan bermaksud membuka luka lama. Tapi, ini demi kalian semua. Kalian harus tahu asal muasal dari pohon inti dan juga potensi positif dan negatifnya." Buru-buru sang sensei menambahkan penjelasannya agar tidak membuat kesalahpahaman dengan Naruto.
Naruto yang mendengar penjelasan yang diberikan senseinya hanya menggeleng pelan, "Tidak apa-apa sensei, mungkin itu memang sudah takdir," jawabnya dengan nada yang sedikit lirih.
KRIIIINGGG!
Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, dan semua murid segera membereskan buku dan peralatan tulisnya kedalam tas kecuali Naruto, karena dia tidak membawa satupun dari keduanya.
"Baiklah anak-anak pelajaran hari ini selesai, dan kalian boleh pulang." Ucap sang sensei sembari merapikan buku yang akan dibawanya.
Sama dengan murid lainnya, Naruto mengambil tasnya dan langsung melesat keluar.
-Make it Be Neverland-
"Huh, dasar guru menyebalkan!" rutuk Naruto. Sekarang dia sedang berjalan tanpa tujuan. Tadinya ia ingin langsung pulang, tapi karena masih kesal dengan kakeknya diapun membatalkan niatnya itu.
"Eh? Dimana ini?" tanya Naruto sambil celingukan menemukan dirinya sudah berada diantara pepohonan rindang tepatnya hutan disekitar pohon inti.
"Ah masa bodohlah, setidaknya tempat ini tenang dan nyaman," ujarnya dan mengambil tempat di sebuah pohon, bersandar disana untuk mengistirahatkan diri. Sampai tiba-tiba-
KRRYUUUKKK!
Suara yang berasal dari perut Naruto yang menagih haknya untuk segera diisi.
"Benar juga, aku belum makan apapun dari kemarin," gumam Naruto sambil mengelus-elus perutnya yang kelaparan. Naruto Mulai berdri bermaksud mencari sesuatu untuk dimakan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukannnya. Diatas sana, tepatnya didalam salah satu lubang pohon, terdapat satu buah yang bentuknya mirip seperti melon tapi berwarna orange dan memiliki corak hitam. Tanpa babibu Naruto mulai memanjat dan bingo! Satu buah melon anehpun ia dapatkan.
"Buah yang aneh, apa ini bisa dimakan? Atau jangan-jangan ini salah satu buah beracun!" racau Naruto sambil membolak-balik dan mengocok buah itu.
KRYUUKKKKK!
Suara perutnya semakin terdengar kencang, dengan alis berkedut, Naruto membenturkan buah itu kebatang pohon dan buah itu berhasil terbelah menjadi dua.
"Persetan dengan beracun, makan dulu, efeknya dipikirkan belakangan saja!" dan diapun mulai melahap buah itu bak gelandangan yang tidak pernah makan selama sebulan.
"Fyuuh… rasanya tidak terlalu buruk. Dan yang lebih penting aku sudah kenyang sekarang," ucap Naruto sambil membuang kulit buah yang sudah tandas isinya kesembarang arah.
Karena kekenyangan, rasa kantuk mulai membelai Naruto seakan merayunya untuk menutup kelopak matanya.
"Uwooaahh… mungkin tidur sebentar juga tidak buruk," ujarnya dan bersiap memejamkan matanya sampai-
ROAAARRRR!
Sebuah suara raungan berhasil menarik kesadaran Naruto kembali. Dan betapa terkejutnya dia kala matanya mendapati sebuah mahluk atau tepatnya monster setinggi 3 meter berada tepat didepannya.
"H-hei, i-ini tidak nyata, 'kan?" tanyanya pada diri sendiri dengan nada bergetar.
'Yang benar saja, kenapa aku harus bertemu dengan Vandale disaat seperti ini!'
Sesosok vandale yang berbentuk menyerupai beruang dengan cakar yang besar dan tajam, dipunggungnya juga terdapat duri runcing seperti kaktus yang mengandung bakteri mematikan.
Bukannya lari, Naruto malah diam membatu dengan tubuh yang bergetar hebat,
"K-kenapa.. tubuhku.. tak bisa dige-rakkan?" ucapnya terbata-bata,
Matanya semakin mambola kala cakar monster itu terangkat dan siap diayunkan kapan saja.
"Aku akan mati," ujarnya pasrah. Dan monster itupun mengayunkan cakarnya.
Beberapa waktu sebelumnya disuatu tempat.
"Vandale terdeteksi di area pohon inti. Titik poin tempat itu adalah Z000301,"
"Apa?! Tapi bukankah militer sudah melenyapkan semua vandale yang berada ditempat itu kemarin?" tanya seorang dengan masker yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kelihatannya ada sesuatu yang memicu kemunculan monster itu, pak,"
"Memicu? Tunggu. Shizune, dimana 'dia' ? aku tak melihatnya dari tadi," tanya lelaki bermasker itu kepada wanita yang duduk disampingnya.
"Leader, ini gawat. Seseorang telah membuka pintu hangar 3 dan bersiap meluncurkan pesawat QX350!"
"Nani?!" ucap sang leader dan berjalan tergesa-gesa kearah laki-laki yang tadi berbicara.
"Sambungkan aku dengan QX350,"
"Baik."
Sedangkan didalam pesawat, terlihat sesosok perempuan dengan surai merah mudanya sedang mengoperasikan sistem pesawat, jemari lentiknya terus menari dengan tombol dan tuas yang terpasang disana.
"QX350, QX350 apa kau mendengarku?" sebuah tanya terdengar dari sebuah headphone yang tergantung di leher jenjangnya.
"Sangat jelas, Kakashi."
"Apa yang kau lakukan disana? Cepat kembali kesini,"
"Ada sesuatu yang harus kulakukan. Aku akan segera kembali saat sudah selesai." Jawab sang gadis tanpa mengalihkan fokusnya.
"Kau mau menuju ke lokasi itu, 'kan?"
"Ya," jawabnya singkat.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi aku harus benar-benar pergi ketempat itu,"
"Huhh.. kau selalu saja seenaknya sendiri. Baiklah, aku izinkan. Tapi, kembalilah dengan selamat, oke?" jawab pria yang dipanggil Kakashi itu pasrah. Pasalnya jika perempuan itu sudah bilang A ya A, tidak bisa diubah menjadi B, C, atau abjad yang lain. Tipe yang keras kepala
"Roger,"
SSIIINGGGG!
"Semua mesin normal, semua tombol navigasi berfungsi, pengecekkan body pesawat semua dalam keadaan baik, all green. QX350 siap meluncur."
"Hati-hati, Sakura." Ucap Kakashi sebelum akhirnya memutuskan kontak suara.
"Disini Sakura, QX350 lepas landas."
SWIIINGGG… WUUUSSHHH!
Dan gadis yang bernama Sakura akhirnya terbang meninggalkan hangar.
Kembali ke Naruto
"Aku akan mati," ujarnya pasrah. Dan monster itupun mengayunkan cakarnya.
Naruto memejamkan matanya, bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
WUUSSHH
BRAAKKKK!
"AAAAAAAGGHHH….. SAKIIIITTT!" jerit Naruto,
"Eh? Kenapa tidak sakit?" Naruto meraba-raba tubuhnya untuk mengecek barangkali saja ada bagian yang hilang. Tapi tidak ada yang kurang satupun dari tubuhnya.
Perlahan ia memberanikan untuk membuka matanya, dan hal pertama yang menyita atensinya adalah helaian surai merah muda sebahu yang yang menari mengikuti hembusan angin. Karena merasa dirinya sedang dipandangi, sosok itupun mulai berbalik menghadap Naruto.
"Ne, apa kau terluka?" tanya sosok yang ternyata itu tidak lain dan tidak bukan adalah sakura, yang hanya dibalas gelengan kaku dari Naruto.
Naruto terlalu sulit untuk berkata-kata, lidahnya serasa kelu. padahal ada banyak hal yang ia ingin tanyakan. Matanya tak berkedip seakan tidak mau melewatkan seperempat detikpun untuk memandangi wajah Sakura. Dari sepasang mata dengan pijar laksana bongkahan emerald itu, dihiasi dengan bulu mata yang lentik, dan keningnya yang sedikit lebar baru saja menjadi bagian favorit naruto setelah rambut dan mata Sakura.
'Apa dia malaikat mautku?' batin Naruto karena dia berfikir dia sudah di batas penyebrangan dan dengan seorang malaikat maut yang mempesona.
Hanya ada satu kata dalam benak Naruto yang bisa ia simpulkan dari apa yang tengah ia lihat saat ini.
"Cantik,"
To be continue
Yo minna.. apa kabar^_^)/
Ketemu lagi dengan saya di capter 1 ini:D
Umm.. gimana chapter 1 ini?
Yaya saya tau, pasti sangat mengecewakan ya?L
Tapi, beginilah hasil yang bisa saya buat di chapter satu ini.
Jujur, tadinya saya yakin fic ini akan terabaikan, soalnya jelas, kan? Mana mungkin ada yang mau baca cerita yang sangat amat tidak berkualitas, sedangkan masih ada cerita yang jauh jauuuhhh lebih greget, lebih seru, lebih dramatis, lebih rapih bahasa dan penulisannya. Tapi, saya ngga nyangka ada yang rela membuang-buang waktunya hanya untuk me-review fic aneh ini.
Pokonya saya sangat berterima kasih untuk yang sudah review dan memberi dukungan agar saya tetap semangat menulis fic ini^_^7
Yosh kalo gitu sampe ketemu di chapter selanjutnya:D
Jaa~
